Jumat, 04 Desember 2009

Streptococcus pneumoniae

Agen etiologi yang menyebabkan pneumonia (radang paru-paru) (pneumococcal pneumonia) dan dapat menyebabkan meningitis. Lazimnya patogen oportunis. Ciri-ciri pneumonia yang disebabkan oleh pneumococcus ialah:
a) permulaan yang mendadak (abrupt)
b) sejuk(chills)
c) demam (fever)
d) sakit dada
e) batuk
Kokus Gram positif, terdapat dalam bentuk diplococcus atau rantai pendek; hanya strain berkapsul yang virulen; organisma normal saluran pernafasan manusia (30 - 70% populasi) dan hewan; menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan dan daerah sekitarnya; tidak ada kumpulan Lancefield karena tidak ada karbohidrat spesifik kumpulan.
Kokus berkapsul, anerob fakultatif; Gram positif pada fase eksponen tetapi menghasilkan reaksi Gram negatif semakin lama dikulturkan. Jika dieram lama jumlah sel hidup akan berkurangan karena berlaku autolisis. Fenomena ini boleh ditingkatkan oleh bahan-bahan seperti garam-garam empedu (bile salts) dan sodium deoxycholate. Ujian kelarutan empedu (bile solubility test) digunakan untuk mengenal pasti organisme ini. Kapsul boleh ditunjukkan dengan antibodi spesifik untuk penjenisan. Antibodi akan bergabung dengan polisakarida dan apabila diserap di bawah mikroskop boleh dilihat kapsul yang bengkak dan berkembang (reaksi quellung). Ini ialah kaedah paling berguna untuk mengetahui S. pneumoniae.
2.2 Struktur antigen:
Lebih dari 85 jenis serologi pneumococcus telah dibedakan berdasarkan polisakarida kapsul. Kumpulan ini tiada antigen kumpulan Lancefield. Kapsul polisakarida adalah faktor kevirulenan utama. Kapsul menjadikan bakteria ini resistan terhadap fagositosis dan membolehkannya sendiri, berganda dan menyebar ke berbagai tisu. Hanya strain-strain berkapsul saja yang menjadi patogen kepada manusia dan hewan. Pengimunan terhadap polisakarida kapsul menghasilkan keresistenan yang tinggi terhadap pneumococcus yang sama.
Selain itu 3 jenis antigen somatik juga telah dikenal seperti:
a) Antigen R: sejenis protein yang terdapat pada permukaan sel.
b) Bahan C: yang terdiri dari karbohidrat spesifik untuk spesies; komponen struktur dinding sel; hampir sama dengan antigen C pada Streptococcus yang hemolitik; membentuk sebahagian dari antigen Forsmann pneumococcus; ciri menarik: boleh diambilkan oleh satu galobulin dalam serum dengan adanya kalsium; protein ini disebut protein reaktif C (C reactive protein; CRP).
c) Antigen M: protein (antigen somatik) spesifik untuk jenis; protein yang serupa dengan antigen M pada Streptococcus hemolitik kumpulan A tetapi tidak mempunyai aktifitas anti-fagositosis yang tinggi, oleh itu keimunan terhadapnya tidak berlihat bertahan.
2.3 Epidemiologi:
Pneumonia yang disebabkan oleh pneumococcus merupakan bentuk pneumonia yang paling kerap berada di antara pneumonia akut yang disebabkan oleh bakteria. Organisme ini dalam bentuk nasofarinks pada yang sehat. Insidens penyakit meningkat jika terdapat infeksi lain yang mengarah kepada infeksi dan menyebarnya organisme tersebut.
2.4 Patogenesis:
Pneumonia yang disebabkan oleh pneumococcus sangat jarang merupakan infeksi primer tetapi lazimnya berlaku apabila pertahanan yang terdapat dalam saluran pernafasan terganggu. Faktor-faktor yang termasuk penyebab adalah dingin, anestesia, penggunaan obat (morfin, alkohol), infeksi virus pada saluran pernafasan atas. Antara 30 - 70% manusia membawa organisme ini dalam kerongkong tetapi insidens penyakit ini adalah rendah. Selain mekanisme pertahanan, antagonisme antara mikrob juga menghadirkan populasi pneumococcus dalam kerongkong. Faktor-faktor pertahanan pertama termasuk perlindungan epiglotis, mukus, refleks batuk, pergerakan silia, limfatik pada bronkus dan bronkiol dan makrofaj dalam alveolus. Jika pertahanan ini gagal infeksi mungkin berlangsung.
Faktor-faktor yang menyebabkan infeksi: Pneumonia yang disebabkan oleh pneumococcus biasanya berlaku apabila terdapat infeksi virus karena rembesan mukus yang banyak terhasil semasa infeksi tersebut meningkatkan kemungkinan rembesan itu masuk ke dalam bronkus dan ke paru-paru. Apabila melepasi epiglotis, organisme tertempat di dalam bronkus dan memulai infeksi. Apabila infeksi sudah terjadi ia akan menyebar. Serangan ke atas tisu alveolus menyebabkan cairan tisu keluar dan ini memudahkan pergandaan dan menyebarnya organisme ke alveolus lain. Selepas cairan tisu (edema fluid) keluar ini diikuti oleh sel-sel polimorfonukleus (PMN) dan sedikit sel darah merah. Ini menjadikan alveolus itu keras dan bengkak (consolidation) dan menganggu proses pernafasan. Apabila jumlah PMN tinggi, pneumococcus difagositosis dan dimusnahkan. Selepas itu makroba pula akan terdapat untuk menyempurnakan proses penyembuhan.
Jika infeksi alveolus melibatkan pleura, pleurisi akan terhasil di mana rongga pleural terinfeksi. Jika tidak ditangani dapath melibatkan abses pleura yang lebih luas yang disebut empyema. Perikardium yang berhampiran juga mungkin terlibat dan menyebabkan perikarditis. Komplikasi lain termasuk otitis media dan meningitis.
Tanda-tanda klinik: Permulaan yang tiba-tiba dengan demam dan menggigil, lazimnya beberapa hari sebelum itu penyakit menghadapi infeksi pada saluran pernafasan. Sakit dada lazimnya terdapat, pasien akan batuk dengan mukus yang mengandung sedikit darah. Jika tidak diobati penyakit sembuh dengan sendiri 5 - 10 hari kemudian dari infeksi dimulai..
Komplikasi yang paling kerap ialah pleurisi dan empyema. Selain itu perikarditis, endokarditis dan meningitis juga merupakan komplikasi yang serius dan boleh menyebabkan maut. Pneumococcus merupakan agen paling kerap menyebabkan meningitis dalam orang dewasa.
Prognosis: Angka kematian dalam kasus pneumonia yang tidak diobati ialah 30% dan berkurang 5% jika diobati. Kemungkinan sembuh bergantung kepada antibodi spesifik untuk jenis yang menginfeksi dan lazimnya dalam 5 - 6 hari dari infeksi dimulai. Serangan yang berulang-ulang biasanya disebabkan oleh strain yang berlainan.
2.5 Tes Diagnostik Laboratorium:
Darah diambil untuk biakan, dan dahak dikumpulkan untuk mencari pneumokokus dengan memeriksa sediaan apus dan biakan. Dahak dapat diperikasa dengan beberapa cara:
a. Sediaan yang diwarnai : pewarnaan Gram dari dahak yang merah-karat menunjukkan cirri-ciri khas organisme,banyak netrofil polimorfonuklir, dan banyak sel darah merah.
b. Tes pembengkakan simpai : dahak segar yang diemulisikan dicampur dengan antiserum sehingga mengakibatkan pembengkakan simapai (reaksi quallung) untuk identifikasi pneumokokus dan mungkin penentuan tipe.
c. Biakan : dahak dibiakan pada agar darah dan dieramkan dalam CO2.


Gambar 1. Koloni dari Streptococcus pneumoniae (Sumber :http://www.bakteriologieatlas.de/Bakterien.htm)
2.6 Pengobatan:
Penicillin G ialah antibiotik yang digunakan untuk infeksi pneumococcus. Dalam individu yang peka erythromycin atau clindamycin digunakan.
BAB III
KESIMPULAN
1. Bakteri Streptococcus pneumoniae adalah diplokokus gram positif dan berbentuk lanset atau rantai.
2. Bakteri S pneumonia dapat menyebabkan pneumonia, sinusitis, otitis, bronchitis, meningitis dan infeksi lain.
3. Serangan pneumonia pneumokokus biasanya mendadak, dengan demam, menggigil, dan nyeri pleura yang nyata.
4. Dahak dapat diperiksa dengan beberapa cara yaitu sediaan yang diwarnai, tes pembengkakan simpai, dan biakan.


DAFTAR PUSTAKA
____________, 2005. Streptococcus_pneumoniae. http://www.yahoo.com/**http://www.bakteriologieatlas.de/Bakterien/Streptococcus_pneumoniae.htm
___________,2006.http://images.google.co.id/images?hl=id&q=streptococcus+pneumoniae&btnG=Cari+Gambar&gbv=2
Adelberg, Melnick and Jawetz. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. EGC. Jakarta.
Pelezar, MJ. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi I. Universitas Indonesia Press. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar