Jumat, 04 Desember 2009

Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE)

Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) pada Sapi

Penyakit sapi gila merupakan penyakit syaraf pusat sapi yang berupa degenerasi sel syaraf sapi dewasa hingga jaringan otak mengalami perubahan mirip spons, tidak ditularkan dari seekor sapi ke sapi lainnya. Disebabkan oleh konsumsi bahan pakan yang mengandung bibit penyakit Prion yaitu molekul protein tubuh yang telah berubah konfigurainya, dan ditandai dengan perubahan tingkah laku mulai dari ketakutan hingga bentuk agresif, hilangnya koordinasi, tidak mampu bangun, dan diikuti dengan kematian. Sinonim BSE adalah Mad cow dan sapi gila (Maria, 2004).
Mad cow atau penyakit sapi gila baru muncul sekitar tahun 90-an. Penyebabnya juga belum jelas, apakah dari virus atau bukan. Para ahli menyebut prion, yakni seperti protein yang hidup. Jadi, bukan seperti virus, apalagi bakteri. Prion ini menyerang hewan ruminansia atau hewan yang mempunyai rumen (lambung yang besar, yang kalau dipotong menjadi babat). "Pokoknya, hewan yang mempunyai lambung ganda seperti kambing atau sapi," jelas Abadi. (Anonimus, 2004)
Penyakit Sapi Gila/Mad Cow atau Bovine Spongiform Encephalopathy/BSE adalah salah satu penyakit pada otak sapi yang tergolong dalam kelompok penyakit Transmissible Spongiform Encephalopathy (TSE). Penyakit ini disebabkan oleh suatu jenis protein (tanpa asam nukleat) yang bersifat infeksius yaitu PRION (Proteinaceous Infectious). (Anonimus, 2004)
Prion ini ada di banyak bagian tubuh sapi yang terkena, seperti di dalam daging, tulang, jeroan, hingga ke otak. "Padahal otak adalah bagian tubuh yang paling terlindungi, karena ada zat semacam brain barrier, tapi ternyata masih bisa terserang juga oleh prion," jelas Abadi.(Anonimus,2004)

Kejadian penyakit
Pada pertengahan 1980, ratusan ribu sapi mengalami BSE di berbagai Negara di eropa, antara lain di; Prancis, Portugal, Irlandia, dan swizelandia, sedangkan kejadian paling tiggi terdapat di Negara Inggris. Kejadian penyakit di Amerika Selatan, Oman, dan Jerman, Kanada, Italia, dan Denmark diyakini hanya diderita oleh sapi yang diimpor dari Inggris. Di Ingris diperkirakan 150.000 ekor sapi terserang oleh BSE; jumlah tersebut termasuk 33.500 ekor sapi karus dibunuh paksa dengan ditembak atau dibakar. Tindakan tersebut ditempuh untuk segera menghentikan wabah BSE di Negara tersebut (Anonimus, 2001).
Sebetulnya, jika kita simak mulai timbulnya penyakit sapi gila di Inggris adalah karena ulah manusia juga. Sekira tahun l980-an terjadi penyakit scrapie pada domba. Banyak domba yang mati. Satu kebiasaan di Eropa untuk menambah protein pada sapi diberikan makanan ground meat and bone meal yang berasal dari domba, yang waktu itu kemungkinan sudah tercemar scrapie. Akibatnya, timbul penyakit yang disebabkan daging dan menimbulkan BSE yang selanjutnya dimakan manusia (Anonimus, 2001).
Keadaan ini dapat juga kita lihat pada penyakit Kuru yang timbul di Papua dahulu, karena adanya suku Papua yang makan otak manusia dan gejalanya juga mirip dan termasuk satu kelompok. Rupanya penyakit ini akibat kanibalis. Demikian juga binatang sapi yang biasa makan rumput diberi makan daging yang tercemar scrapie, jadilah satu protein abnormal prion yang merusak jaringan saraf lainnya. (Anonimus, 2001)
Dengan ditemukannya penyakit sapi gila di negara bagian Washington yang katanya berasal dari Kanada akhir 2003 lalu. Namun, penelitian terbesar dan menelan korban banyak adalah di Inggris. Pada saat itu, tahun l980-an terdapat 180.000 ternak yang mengalami penyakit sapi gila di seluruh Eropa dan terpaksa harus dimatikan. Sampai tahun l990-an masih belum didapat adanya hubungan antara penyakit sapi gila dengan manusia. (Anonimus, 2001)
Baru pada tahun l994-l995 ditemukan adanya l0 kasus kematian orang dewasa dan muda yang gejalanya mirip CJ. Penelitian selanjutnya menemukan dugaan kuat ada hubungan kematian itu dengan penyakit sapi gila di tahun l980-an mengingat yang terkena adalah orang-orang dewasa muda (median umur 29 th) di daerah epidemi penyakit sapi gila. Selanjutnya dinamakan BSE karena pada otopsi didapatkan perlobangan pada jaringan otak mereka. (Anonimus, 2001)
Sejak zaman dahulu, sapi¬-sapi di Amerika mendapatkan pakan ternak yang sangat baik. "Segala kebutuhan gizinya sangat diperhatikan oleh para peternak sapi di Amerika. Misalnya, hormon dan proteinnya," kata Abadi. Untuk memenuhi kebutuhan protein pada pakan ternak, Amerika membuat makanan olahan yang hasilnya menjadi pakan sebagai sumber protein dosis tinggi bagi sapi. "Dulu, di Amerika, setelah memotong sapi atau biri-biri, jeroannya tidak dimakan, tapi juga tidak dibuang melainkan diolah, digiling lagi untuk menjadi pakan hewan sebagai sumber protein."
Hasil olahan itu ada yang namanya tepung darah, tepung hati, tepung tulang, dan sebagainya. Bagian-bagian tubuh sapi yang tidak dipasarkan dibuat menjadi tepung. "Nah, sumber protein itulah yang sejak tahun 90-an dianggap sebagai pemicu munculnya BSE,". (Anonimus, 2001)
Seiring berjalannya waktu, ada semacam mutasi gen dari virus. Yang tadinya tidak apa-apa, virus itu bisa berubah menjadi ganas, apalagi jika ditunggangi oleh virus lain. Virus lalu bermutasi menjadi semacam prion dalam kasus BSE ini.
Penyakit sapi gila mirip dengan gejala penyakit oleh prion yang terjadi pada berbagai spesies hewan, dan juga mirip penyakit oleh prion pada manusia yaituy penyakit Creutzfeld-Jacob (CJD) yang terdapat luas di berbagai Negara, dan penyakit kuru yang khusus yang dilaporkan terjadi di Papua Nugini (PNG) (Anonimus, 2001).
Pada saat ini BSE sudah tidak dapat diamati pada hewan hidup, kecuali mungkin distasiun percobaan ternak, hingga diagnose BSE hampir pasti dibuat stetelah hewan diotopsi dan memfokuskan pada pemeriksaan otak sapi yang bersangkutan.
Etiologi
Pada awalnya BSE diduga disebabkan oleh “slow virus agent”, dan pada tahun 1982 istilah prion (proteinaseous infectious particles). Sebelumnya, penyakit diduga disebabkan oleh pemberian pakan yang mengandung protein asal ternak. Dan karena penyakit ini belum diketahui penyebabnya, dinamai transmissible spongioform encephalopathy (TSE). Prion merupakan partikel protein infeksius, tidak mengandung asam nukleat, tahan terhadap faktor atau senyawa (zat) yang merusak asam nukleat, misalnya sinar ultraviolet, radiasi, dan enzim nuclease. Bandingkan dengan virus yang merupakan kompleks yang terdiri atas genom RNA atau DNA, terbungkus dalam protein kapsid, dengan atau tanpa selubung lipid. Setelah melalu ekstraksi dengan detergen, digesti oleh protease dan nuclease, dengan elektroforesis agarose gel, protein prion diketahui memiliki berat molekul 27-30 kilodalton (kD) dan dikodifikasi sebagai PrP 27-30 penyakit scrapie (PrPsc) 27-30 kD, PrPC9D 27-30 kD.PrPc, protein normal, peka terhadap protease; 33-35 kD. Dalam perbadingan uji lebih lanjut prion dengan berat molekul 27-30 kD ternyata memiliki sifat infeksius. Bila PrPsc bersentuhan dengan PrPc, yaitu protein gen normal tubuh, maka PrPc akan berubah konfigurasinya dan segera membentuk agregat. Bagaimana agregat tersebut berpengaruh terhadap terbentuknya degenerasi sel-sel syaraf belum diketahui secara pasti. Berbeda dengan PrPsc yang resisten terhadap enzim protease , dan mudah larut dalam pelarut yang kuat. PrPc (kode untuk protein sel normal, protein prio cellular) mudah dirusak oleh enzim protease dan gampang larut dalam pelarut protein yang ringan sekalipun. PrPc memiliki berat molekul 33-35 kD. Agen protein prion ditemukan dan dibuktikan oleh Stanley B Prusiner pada tahun 1982 (Subroto, 1991) .
Penyakit prion pada hewan yan telah ditemukan meliputi scarpie (domba), BSE (sapi), transmissible mink encephalopathy (mink), chronic wasting disease atau mad-elk disease (rusa besar atau mink dear dan elk), feline spongioform encephalopathy (kucing) dan exotic myalate encephalopathy (kuda, srigala dan oryx). Penyakit prion pada manusia meliputi kuru cruetzfeld Jordan Disease (CJD), penyakit gerstmann-straussler-sheinker, insomnial familial dan insomnia sporadik yang bersifat fatal.
Patogenesis
Agen BSE ayang menyerang pusat syaraf menyebabkan degenerasi sel syaraf, dan terbetuk vakuola-vakuola hingga terkesan seperti spons, selain jaringan otak jaringan lain yang dicurigai yang terserang meliputi sum-sum tulang belakang, tonsil, tymus, limpa dan usus, hingga jaringan tersebut dilarang untuk tidak dikonsumsi terutama pada waktu kejadian BSE di Inggris. Dari pemeriksaan pasca mati sakit yang dialami, yang sebelumnya memperlihatkan gejala klinis dan pembuktian secara bioassay pada mencit. Terbukti bahwa agen infeksi hanya ditemukan pada jaringan otak, sum-sum tulang belakang, belakang leher, ujung sum-sum tulang belakang (cauda equine) dan retina (Subroto, 1991).

Dengan adanya proses degenarasi sel-sel syaraf menyebabkan terjadinya inkoordinasi hingga sapi menunjukan gejala gila, lari kesana kemari dan bahkan pada gejala yang lebih berat sapi tidak sanggup untuk bangun (Subroto, 1991).
Gejala-gejala
Gejala sapi yang terkena BSE memang sangat khas, tapi baru terlihat setelah masa inkubasi 4 - 5 tahun. Hebatnya, prion ini tidak dapat mati meski daging sapi telah dipanaskan pada suhu 300 - 400 derajat Celsius. Penyakit ini menyebabkan otak sapi berubah menjadi seperti spon atau karet busa. Jika bentuk otak sudah seperti ini, otomatis tak dapat lagi berfungsi, lalu timbul gejala-gejala fisik seperti kegilaan pada sapi. Jalan sempoyongan, tidak nafsu makan, keluar air liur, matanya berair terus. (Anonimus,2004)
Inkubasi BSE memerlukan waktu panjang 2,5-8 tahun, dan praktis hanya sapi tua yang memperlihatkan gejala syaraf. Waktu inkubasi dan gejala yang terlihat tergantung pada dosis prion yang dikonsumsi. Hewan termuda yang tercatat memperlihatkan gejala sakit pada umur 5 bulan dan terbanyak pada umur 3-5 tahun, selanjutnya akan berakhir dengan kematian.
Penderita BSE memperlihatkan gejala ketakutan, curiga terhadap hewan sekitarnya dantremor pada seluruh tubuhnya, lalu melanjtu menjadi agresif. Sapi kehilangan koordinasi, ambruk dan mati. Sapi dalam masa produksi akan terjadi penurunan, penurunan berat badan akibat penurunan konsumsi pakan. Proses awal hingga timbulnya gejala awal berlangsung 1-2 minggu (Subroto, 1991).
Diagnosa
Sapi yang memperlihatkan gejala di atas, terutama di daerah yang pernah tertular atau didatangkan dari daerah tertular harus dicuriga menderita BSE. Diagnosis yang dapat ditegakkan antara lain berdasarkan temuan patologi-anatomi dari otak dan jaringan yang sudah disebutkan di atas. Pemeriksaan laboratorik secara bioassay dari berbagai cairan jaringan pada mencit dapat dapat dilakukan. Sebagai diagnose banding perlu diperhatikan penyakit-penyakit syaraf antara lain radang otak dan selaput otak, rabies dan bahkan penyakit surra di daerah endemik (Subroto, 1991).

Penularan
Penyakit sapi gila ditularkan kepada manusia melalui konsumsi daging sapi yang terinfeksi, atau berkontak dengan sapi-sapi yang terjangkit penyakit sapi gila.
Penyakit sapi gila ini, menyerang jaringan saraf otak manusia dalam bentuk varian Creutzfeldt. Jakob Disease (CJD) dan bersifat degenerative. Manusia yang terkena penyakit CJD akan kehilangan kekuatannya, pertumbuhan badannya praktis terhenti. Penyakit ini, cepat atau lambat merambat ke otak kemudian membuat otak manusia tidak lagi utuh, berubah seperti spons atau busa kursi yang bolong-bolong. Pada tahun 1998 ilmuwan juga menemukan bahwa agen penyakit itu tidak hanya berada di otak, tetapi juga di darah. Penyakit ini hingga sekarang belum ada vaksinnya, dan dilaporkan telah membunuh 92 orang (Departemen Pertanian AS/USDA), tetapi ada juga yang melaporkan hingga 129 (World Health Organization/WHO) dan 137 orang (Saroso, 2007).
Kejadian Penyakit pada hewan dan manusia
Dunia kesehatan selalu dihadapkan pada fenomena baru setiap kali ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil mengungkapkan sesuatu yang baru. Prion protein (PrP) atau biasa disebut prion adalah sejenis protein yang diperoleh dari jaringan otak binatang yang terkena penyakit radang otak yang tidak diketahui sebabnya yang disebut bovine spongiform encephalopathy. Prion bukan benda hidup yang lengkap layaknya bakteri, virus ataupun protozoa. Prion dapat dibedakan dari virus atau viroid karena tidak memiliki asam nukleat dan oleh karenanya dia tahan terhadap semua prosedur yang bertujuan mengubah atau menghidrolisa asam nukleat termasuk ensim protease ,sinar ultraviolet, radiasi dan berbagai zat kimia seperti deterjen, zat yang menimbulkan denaturasi protein seperti obat disinfektan atau pemanasan/perebusan. Namun yang mengherankan prion memiliki kemampuan memperbanyak diri melalui mekanisme yang hingga saat ini belum diketahui. Prion sampai sekarang dianggap sebagai benda yang bertanggung jawab terhadap kejadian ensefalopati pada penyakit sapi gila (BSE) kalo dimanusi Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD) Gerstmann-Straussler Syndrome dan penyakit Kuru sejenis penyakit kelumpuhan yang timbul pada keluarga tertentu . Semuanya memiliki gejala yang sama yaitu jaringan otaknya mengalami degenerasi menjadi benda yang berlubang.
Lubang kecil seperti layaknya karet busa atau spons dan oleh karena itu disebut sebagai spongiform encephalopathy, keadaan itu sejalan dengan gangguan pergerakan anggota tubuh/kelumpuhan yang terjadi yang semakin lama semakin berat dan akhirnya menimbulkan kematian (Saroso,20). Sebenarnya, struktur gene Prion telah ditemukan , dan diketahui pula bahwa pada binatang yang terinfeksi maupun pada percobaan inokulasi prion maka akan terjadi penumpukan prion pada jaringan otak . Prion diduga menyebar melalui dan di dalam jaringan saraf (Saroso, 2007).
Prion ini sangat tahan terhadap segala macam tingkat keasaman (pH), juga terhadap pendinginan atau pembekuan. Protein ini baru inaktif setelah dipanaskan dengan dengan otoklaf (alat pemanas dengan tekanan tinggi) pada suhu 134-138 derajat Celcius selama 18menit.

Creutzfeldt-Jakob Disease dan varian CJD
Gejala CJD diawali perlahan-lahan dengan munculnya kebingungan, kemudian timbul kepikunan yang progresif , lalu timbul kesulitan berjalan.serta gemetaran . Selanjutnya penyakit menyerang dengan cepat dan kematian biasanya terjadi dalam 3-12 bulan, dengan rata-rata 7 bulan. Penyakit CJD telah dilaporkan oleh berbagai negara di dunia, antara lain Amerika Serikat, Chili, Slovakia dan Israel. Tetapi pada pertengahan tahun 1999 telah dilaporkan lebih dari 40 kasus mirip CJD yang dikenal sebagai variant Creutzfeldt-Jakob Disease (vCJD) dan hampir semua kasus berasal dari Inggris. Negara dimana dalam 10 tahun sebelumnya terjadi wabah BSE yang menimpa ribuan sapi. Keprihatinan yang timbul disebabkan kemungkinan penularan CJD karena mengkonsumsi daging sapi yang terkena infeksi prion menyebabkan dilakukannya penelitian epidemiologi secara besar-besaran. Hasil penelitian sampai saat ini menyatakan bahwa varian baru CJD mungkin memang ada. Penyakit itu yang dikenal cebagai vCJD , dilaporkan muncul di Inggris dan beberapa negara Eropa. Akan tetapi sebenarnya CJD dan vCJD adalah dua hal yang berbeda, karena tidak seperti CJD yang menyerang orang-orang usia lanjut (60-80 tahun, dan lebih dari 99% menyerang umur lebih dari 35 tahun) , vCJD menyerang usia muda (20-30 tahun), di samping itu hasil pemeriksaan elektroensefalografipun berbeda, dan perjalanan penyakit vCJD lebih panjang daripada CJD. Varian CJD berlangsung 12-15 bulan sedangkan CJD hanya 3- 6 bulan. Dalam eksperimen pada otak tikus, ternyata otak sapi yang sakit dapat menularkan penyakit spongiform encephalopathy yang sama pada tikus. Meskipun demikian belum tentu BSE merupakan penyebab vCJD. Karena meskipun penyakit itu serupa namun banyak perbedaan yang jelas yang mendukung bahwa mungkin vCJD hanyalah suatu varian dari CJD yang ditemukan setelah dilakukan penelitian epidemiologi besar-besaran sehubungan dengan dugaan kemungkinan BSE sebagai penyebab CJD (latif. 2004).
Pencegahan dan pengobatan
Prion dikenal menyebabkan penyakit pada binatang yaitu penyakit sapi gila, scrapie pada domba dan kambing, serta ensefalopati yang ditularkan pada minks, dan pada kijang Empat prion diketahui menyebabkan penyakit neurodegeneratif yang ditularkan.(transmissible neuro degenerative disease) pada manusia yaitu CJD, Gertsmann-Scheinker Syndrome, penyakit Kuru dan fatal familial insomnia. Pada tahun 1999 suatu varian baru CJD (vCJD) muncul dan dikaitkan keberadaannya dengan penyakit sapi gila. Meskipun demikian sampai sekarang belum ada bukti yang terdokumentasi bahwa infeksi prion pada manusia terjadi akibat penularan prion dari binatang. Sampai sekarang hanya manusia yang diyakini sebagai reservoir Creutzfeldt-Jakob Disease. Dalam catatan kepustakaan, penularan CJD dari manusia ke manusia dapat terjadi pada penggunaan alat yang tidak steril dari prion, misalnya pernah dilaporkan pada operasi transplantasi kornea mata, dan penggunaan elektroda perak pada stereotaktik elektroensefalografi. Di dalam penelitian di laboratorium, jaringan otak, cairan otak dan sumsum tulang belakang yang mengandung prion akan terus menularkan penyakit tersebut apabila diberikan kepada primata dan hewan lainnya. Penularan prion yang terkait CJD sampai sekarang masih sulit dikontrol melalui sterilisasi karena sifatnya yang tahan terhadap cara-cara sterilisasi biasa termasuk merebus dalam air sampai mendidih, memberikan radiasi ultraviolet, radiasi pengion, alkohol 70%, dan formalin 10% (Saroso, 2007).
Kejadian Penyakit di Dunia dan Indonesia
Data perdagangan dunia menunjukkan, sejak 1986 sampai saat ini pakan MBM dari Eropa telah diekspor ke lebih dari 100 negara. Wilayah pengimpor dalam jumlah besar adalah Timur Dekat, Eropa Timur dan Asia. Inggris sendiri dilaporkan sejak Maret 1988 telah mengekspor 30 ribuan ton pakan ternak dari sapi yang berpotensi terinfeksi BSE ke negara berkembang. (Anonimus.2004)
Juli 1988, Pemerintah Inggris secara resmi melarang penggunaan MBM di seluruh negara dan baru seminggu sesudahnya mengingatkan bahaya MBM ke Uni Eropa. Namun baru delapan tahun kemudian-Maret 1996-resmi diberlakukan larangan ekspor MBM ke seluruh dunia. Karena itu tidak seorangpun yang tahu, berapa banyak sapi-sapi terutama di negara berkembang yang telah diberi makan MBM dan kemungkinan menginkubasi BSE (anonimus. 2004).
Dari 100 negara yang paling berisiko terhadap BSE, tercatat bahwa Mesir, Iran, Irak dan India adalah negara-negara yang mengimpor MBM dari Inggris selama tahun 1980-an dan memiliki industri ternak yang intensif. Awal tahun 2001 Organisasi Pangan Dunia (FAO) telah mengingatkan negara-negara di seluruh dunia, bukan hanya Eropa Barat, terhadap ancaman penyakit sapi gila dan risiko penularannya pada manusia. Semua negara yang pernah mengimpor sapi atau pakan MBM dari Eropa Barat terutama dari Inggris sejak tahun 1980-an berisiko terhadap BSE. FAO juga menyarankan agar tiap negara mengambil langkah pencegahan awal dengan melarang pemberian pakan MBM kepada ruminansia dan segala jenis hewan. (Anonimus.2004)
Juni 2001, pernyataan bersama yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan Dunia (FAO) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menegaskan mereka mendukung upaya bersama penanggulangan BSE maupun nvCJD. Semua negara diminta mengevaluasi potensi penularan melalui penilaian sistematis terhadap data perdagangan dan faktor-faktor resiko.
Penyakit sapi gila pertama kali diidentifikasi di Inggris pada November 1986 sebanyak 170.000 kasus. Kejadian sporadis terjadi juga di beberapa negara Eropa. Hingga saat ini sejumlah kasus sapi gila masih teridentifikasi di sejumlah negara Eropa. Dari tahun 1989 hingga 2000 telah terjadi 1.642 kasus sapi gila di sejumlah negara, seperti Belgia, Perancis, Italia, Portugal dan Spanyol. Merujuk data Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, tidak pernah dilaporkan kejadian penyakit sapi gila di Indonesia. Penyakit-penyakit yang umumnya menyerang sapi di Indonesia tercatat adalah haemorragic septicaemia, bovine anaplasmosis, bovine brucellosis, dan malignant catarrhal fever. Di negara-negara tetangga Indonesia yang berdekatan secara geografis seperti Malaysia atau Brunei Darussalam, juga belum pernah dilaporkan adanya penyakit sapi gila (Anonim, 2003).
Gejala itu muncul karena ada kerusakan otak yang terjadi secara perlahan-lahan, di mana akhirnya otak sapi tersebut berbentuk seperti spons. Makanya, dalam Bahasa Latin penyakit itu disebut bovine spongiform encephalopathy (BSE). Setelah itu, selama dua minggu hingga enam bulan sapi akan mati. Penyakit sapi gila dikategorikan dalam daftar B yaitu kategori penyakit menular pada hewan yang memiliki kepentingan sosio-ekonomis atau kesehatan masyarakat, terutama dalam perdagangan hewan dunia. Selain daftar B, ada juga daftar A yaitu penyakit menular pada hewan yang memiliki kemampuan menular sangat cepat dan berbahaya. Contohnya adalah Penyakit Mulut dan Kuku yang menyerang sapi (Gsianturi, 2004).















Daftar Pustaka
Soeroso,S. 2007 Sapi Gila Benarkah Penyakit Sapi Gila Menular Pada Manusia. RSPI Sulianti Saroso. Jakarta. http://www.infeksi.com
Subroto, 1991. Ilmu penykit ternak. Gandjah Mada University Press. Yogyakarta.
Anonim. 2003. Tanya Jawab Seputar Sapi Gila. Artikel. http//:www.Solusi_sehat.net
Gsianturi. 2004. Tanya Jawab Seputar Sapi Gila. Http//:www.Gizi.net.
Maria p. Omega. 2004. Bahaya sapi gila terhadap kesehatan manusia. Http//:www.Gizi.net
Anonimus. 2004. Bovine spongiform encephalopathy. Wikipedia Indonesia
Venusri,L .2004. Dampak sapi gila pada manusia.http//www.pikiran rakyat.com
Anonimus, 2001. Mad cow disease: stop the madness. www.organic consumer association.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar