Jumat, 25 September 2009

COLIBACILLOSIS


COLIBACILLOSIS

I. PENDAHULUAN
Colibacillosis adalah Penyakit infeksius pada sebagian besar unggas dan sebagian kecil hewan lain, yang disebabkan oleh kuman Echerichia coli yang patogen/ganas baik secara primer maupun secara sekunder. Colibacillosis pertama kali ditemukan pada tahun 1894, setelah itu banyak kejadian-kejadian colibacillosis sehingga memperkaya dan saling melengkapi mengenai penyakit ini baik kejadian di lapangan maupun penelitian di laboratorium (Anonim, 2009)
Escherichia coli pertama diisolasi oleh Escherich pada 1885 dari tinja seorang anak muda belia. Penyebaran bakteri ini luas sekali; lazim ditemukan dalam usus (terutama usus bagian bawah) baik pada hewan maupun manusia. Infeksinya sering dihubungkan dengan berbagai kejadian seperti infeksi puser, infeksi persendian, mastitis, pyelonephritis, cystitis, cervitis, dan metritis pada sapi. Pada babi penyakit yang dikenal sebagai “ Gut Oedema” dengan sinonim “ Oedema Disease” atau “ Bowel Oedema” disebabkan oleh E. coli yang bersifat hemolitik. Serangan bakteri yang sama pada anak-anak babi sapihan hingga umur 16 minggu dikenal sebagai “Enteric Colibacillosis”.
Pada unggas infeksi E. coli menyebabkan serangkaian penyakit seperti “Omphalitis”, “Air Sac Disease”, “Peritonitis”, “Salpingitis”, “Hjarre’s Disease”, disamping colibacillosis sendiri. Sekilas Profil sang Agen Penyakit Bakteri Escherichia coli, bersifat gram negative, bentuk batang tak berspora, berukuran 2-3 x 0.6 μm, bentuk dan besar bervariasi, beberapa strain dapat bergerak dan mempunyai alat gerak (flagela). Escherichia coli yang biasa terdapat pada saluran pencernaan (usus) hewan biasanya ada dalam konsentrasi; 106 /gr, dimana dari jumlah tesebut 10; 15 % merupakan Escherichia coli yang berpotensi menjadi ganas / patogen.
Escherichia coli yang terdapat di usus biasanya tidak sama dengan Escherichia coli yang menginfeksi: kantung hawa / air sacculitis dan selaput jantung / pericarditis. Sedangkan Escherichia coli yang ditransmisikan melalui telur tetas adalah yang bertanggung jawab terhadap kematian tinggi pada anak ayam. Bakteri ini juga mudah ditemukan pada litter dan debu kandang, debu kandang dapat mengandung bakteri Escherichia coli 105; 106 / gr, bakteri tersebut dalam kondisi kering bisa bertahan dalam waktu lama, tetapi dapat berkurang 87 - 97`% dalam waktu satu minggu dengan cara kondisi dalam kandang di buat lebih lembab, misalnya sesering mungkin kandang di spray dengan air yang mengandung desinfektan.



SINONIM COLIBACILLOSIS
Colibacillosis disebut juga Coli, Granuloma Koli, S.White Scours.

ETIOLOGI

Kolibacillosis merupakan kelompok penyakit pada unggas yang disebabkan sejumlah serotype Escherichia colli yang bersifat pathogen dan dapat menyerang ayam dari semua kelompok umur. Infeksi dengan Escherichia colli dapat berbentuk kematian embrio pada telur tetas, infeksi yolk sac, omfalitis, koliseptisemia, air sacculitis (radang kantong udara), enteritis, infeksi alat reproduksi (oofaritis, salpingitis), kolinogranuloma, arthritis, panolptalmitis dan bursitis sternalis(radang bursa sternalis). (Tabbu,2000)

Escherichia colli paling banyak terdapat di usus. Escherichia colli yang ditemukan pada unggas tidak menyebabkan infeksi pada hewan lain dan manusia.

Kolibacillosis mempunyai dampak ekonomi yaitu gangguan pertumbuhan, penurunan produksi, peningkatan jumlah telur yang diafkir, penurunan kualitas karkas dan telur, penurunan daya tetas dan kualitas anak ayam dan mendukung timbulnya penyakit kompleks pada saluran pernafasan, pencernaan atau reproduksi yang sulit ditanggulangi. (Tabbu,2000)

Escherichia colli antara lain dapat menyebabkan collibasilosis, collisepticaemia, Hjarre’s disease, colligranuloma, peritonitis, salphingtis, synovitis, omphalitis, dan air sacculitis. Banyak variasi dari strain E.colli dapat menginfeksi mamalia dan burung. Penyakit yang klinis paling banyak menyerang ayam, kalkun dan bebek. (Calnek, 1991)


Colibacillosis merupakan gejala penyakit yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. E. coli adalah bakteri berbentuk batang berukuran 0,5 mikrometer x 1,0-3,0 mikrometer, gram negatif, anaerob fakultatif, basil yang merupakan bagian mikroflora dari usus unggas. Bentuk bakteri tidak selamanya batang, melainkan variasi bentuk dapat dijumpai yaitu bentuk coccoid bipolar hingga bentuk filamen. Kedudukan sel satu sama lain lazimnya sendiri-sendiri (singly) tetapi dapat pula merupakan rantai pendek (short chairs). Skema antigenik genus Escherichia coli didasarkan pada adanya bermacam-macam tipe antigen O, H, dan K. Yang terakhir ini dibagi lagi ke dalam antigen L, A, dan B.

Berdasarkan tabel diatas,misalnya serotipe O7: H15, mempunyai nomor farm yaitu 1 (PWD/A), menunjukkan bahwa LT, Sta dan STb positif, sedangkan VT2e, F18, P987 negatif atau tidak ada, dan juga serotype tersebut menunjukkan nilai PGFE xbal pattern XVI. Escherichia coli mudah ditimbulkan pada berbagai media laboratorium. Biakan diatas media padat umur muda berbentuk granular halus (dengan diameter 1-3 mm) yang menjadi kasar bila umur biakan bertambah tua. Pada medium agar MC. Conkey pertumbuhan E. coli ditunjukkan dengan koloni berwarna merah dadu. Dalam media cair pertumbuhannya ditandai dengan kekeruhan dan adanya sedimen dibagian bawah tabung.
E, Coli ini diklasifikasikan oleh ciri khas sifat – sifat virulensinya dan setiap grup menimbulkan penyakit melalui mekanisme yang berbeda, antara lain:
a. E. Coli Enteropatogenik (EPEC)
Penyebab penting diare pada bayi, khususnya di Negara berkembang. EPEC melekat pada sel mukosa yang kecil. Faktor yang diperantarai secara kromosom menimbulkan pelekatan yang kuat. Akibat dari infeksi EPEC adalah diare cair yang biasanya sembuh sendiri taetapi dapat juga kronik. Lamanya diare EPEC dapat diperpendek dengan pemberian anibiotik. Diare terjadi pada manusia, kelinci, anjing, kucing dan kuda. Seperti ETEC, EPEC juga menyebabkan diare tetapi mekanisme molekular dari kolonisasi dan etiologi adalah berbeda. EPEC sedikit fimbria, ST dan LT toksin, tetapi EPEC menggunakan adhesin yang
dikenal sebagai intimin untuk mengikat inang sel usus. Sel EPEC invasive (jika memasuki sel inang) dan menyebabkan radang.
b. E. Coli Enterotoksigenik (ETEC)
Penyebab yang sering dari “diare wisatawan” dan sangat penting menyebabkan diare pada bayi di Negara berkembang. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk menimbulkan pelekatan ETEC pada sel epitel usus kecil. Lumen usus terengang oleh cairan dan mengakibatkan hipermortilitas serta diare, dan berlangsung selama beberapa hari. Beberapa strain ETEC menghasilkan eksotosin tidak tahan panas. Prokfilaksis antimikroba dapat efektif tetapi bisa menimbulkan peningkatan resistensi antibiotic pada bakteri, mungkin sebaiknya tidak dianjurkan secara umum. Ketika timbul diare, pemberian antibiotic dapat
secara efektif mempersingkat lamanya penyakit. Diare tanpa disertai demam ini terjadi pada manusia, babi, domba, kambing, kuda, anjing, dan sapi. ETEC menggunakan fimbrial adhesi (penonjolan dari dinding sel bakteri) untuk mengikat sel – sel enterocit di usus halus. ETEC dapat memproduksi 2 proteinous enterotoksin: dua protein yang lebih besar, LT enterotoksin sama pada struktur dan fungsi toksin kolera hanya lebih kecil, ST enterotoksin menyebabkan akumulasi cGMP pada sel target dan elektrolit dan cairan sekresi berikutnya ke lumen usus. ETEC strains tidak invasive dan tidak tinggal pada lumen usus.

c. E. Coli Enterohemoragik (EHEC)
Menghasilkan verotoksin, dinamai sesuai efek sitotoksinya pada sel Vero, suatu sel hijau dari monyet hijau Afrika. Terdapat sedikitnya dua bentuk antigenic dari toksin. EHEC berhubungan dengan holitis hemoragik, bentuk diare yang berat dan dengan sindroma uremia hemolitik, suatu penyakit akibat gagal ginja akut, anemia hemolitik mikroangiopatik,
dan trombositopenia. Banyak kasus EHEC dapat dicegah dengan memasak daging sampai matang. Diare ini ditemukan pada manusia, sapi, dan kambing.
d. E. Coli Enteroinvansif (EIEC)
Menyebabkan penyakit yang sangat mirip dengan shigellosis. Penyakit terjadi sangat mirip dengan shigellosis. Penyakit sering terjadi pada anak – anak di Negara berkembang dan para wisatawan yang menuju ke Negara tersebut. EIEC melakukan fermentasi laktosa dengan lambat dan tidak bergerak. EIEC menimbulkan penyakit melalui invasinya ke sel epitel mukosa usus. Diare ini ditemukan hanya pada manusia.
e. E. Coli Enteroagregatif (EAEC)
Menyebabkan diare akut dan kronik pada masyarakat di Negara berkembang. Bakeri ini ditandai dengan pola khas pelekatannya pada sel manusia. EAEC menproduksi hemolisin dan ST enterotoksin yang sama dengan ETEC.
Meskipun sebagian besar E. coli tidak dapat patogen, beberapa jenis yang dapat membuat sendiri di luar intestines dan menyebabkan penyakit. Jenis ini dikenal sebagai Avian patogen E. coli (APEC). Jumlah E. coli yang terdapat pada unggas di lingkungan terjadi melalui kontaminasi saluran pernafasan melalui debu yang membawa sejumlah besar patogen. E. coli seperti yang umum dikenal, dan dilihat pada ternak unggas di seluruh dunia.
E. coli dapat menyebabkan infeksi di bawah kulit, yang dikenal sebagai cellulitis, dan umumnya terkait dengan penyakit pernafasan pada burung, dan dalam kasus yang parah bisa menyebabkan septicaemia dan kematian. Avian colibacillosis terutama akan mempengaruhi ayam-ayam ras pedaging antara usia 4 dan 6 bulan.
Colisepticemia adalah salah satu bentuk atau fase infeksi dari colibacillosis. Terjadi ketika E.coli masuk ke dalam sistem sirkulasi darah ayam, sehingga dengan cepat menyerang berbagai target organ dalam. E. coli masuk ke darah melalui luka usus atau saluran pernafasan. Tak mengherankan, colisepticemia menyebabkan isolat E. coli dapat ditemukan pada hati, limpa, jantung, kantung hawa, usus, organ reproduksi dan semua organ yang mengalami kelainan/tanda-tanda abnormal. Ditemukannya colibacillosis pada organ reproduksi menunjukkan bahwa colibasillosis dapat ditularkan secara vertikal.

DISTRIBUSI
1. Di Indonesia
Colibacillosis diduga banyak terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Namun karena kelangkaan datanya maka sulit dinyatakan secara pasti tentang kejadian-kejadian penyakitnya. Dari kepustakaan diketahui, bahwa colibacillosis terjadi dimana saja ternak dipelihara orang. Kejadiannya akan menigkat dan menghebat dengan semakin bertambah intensifnya cara-cara beternak. Bila anak-anak hewan yang baru lahir dikumpulkan dalam kelompok-kelompok yang berdekatan satu sama lain pada lokasi terbatas, maka diperkirakan kejadian colibacillosis secara proporsional akan gawat. Colibacillosis merupakan penyakit umum pada anak-anak ternak seperti sapi, babi, domba dan kuda derajat kematian tinggi pada semua spesies. Derajat kematian pada anak sapi dapat mencapai 25-30% pada anak kuda mencapai 25% dan hingga 50% bagi anak babi. Kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit ini meliputi kematian-kematian, biaya pengobatan yang harus dikeluarkan serta pengendalian penyakit, juga karena kehilangan yang hebat dari kondisi tubuh ternak yang sembuh. Diantara hewan percobaan laboratorium, marmut, mencit, tikus dan kelinci akan mati dalam waktu 48 jam pasca inokulasi dengan E. coli yang baru-baru saja diisolasi.
Menurut Dokter Hewan Putra Pulau Dewata Bali, disebuah artikel Infovet (2005), mengatakan bahwa pada daerah Kediri, Blitar, dan Nganjuk, kasus yang menonjol pada ayam layer adalah infeksi bakterial (Koli, Kolera, dan pulorum). Sementara menurutnya, kasus infeksi viral, tidak terlalu dominan.
Di Indonesia penyakit kolibasillosis sering dijumpai dan menimbulkan masalah. Pengamatan yang dilakukan oleh Poernomo dan Juarini (1996) memperlihatkan bahwa dalam periode 1991-1992 penyebaran E. Coli serotype pathogen 01K1, 02K1 dan 078K80 sebagai penyebab kolibasillosis pada ayam di Jabotabek, Sukabumi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan dan Lampung menunjukkan serotipe 02K1 adalah dominan (51,5%), kemudian serotype 078K80 (10,6%) dan 01K1 (9%), serta selebihnya serotype lain sebanyak 28,9%.
2. Di Luar Negeri
Menurut Infovet (2005), team perusahaan yang telah mengekspor produk nasional ke luar negri ini bahkan menempatkan para wakilnya di negara-negara besar seperti di RRC ini, kasus penyakit Kolibasillosis ndapat terjadi pada semua umur ayam. Pada anak ayam sampai umur 3 minggu, penyakit kolibasillosis menyebabkan kematian dengan gejala omphalitis (jaringan di sekitar pusar menjadi lembek dan oedema). Pada ayam petelur, penyakit ini menyebabkan produksi telur menurun, puncak produksi telur tidak tercapai, masa produksi telur tertunda dan penting dalam pengembangan usaha peternakan.

FAKTOR – FAKTOR PREDISPOSISI COLIBACILLOSIS
E. coli paling sering dijumpai setelah pernafasan stres yang disebabkan oleh infeksi dengan virus atau Mycoplasma gallisepticum agen bronkitis menular seperti virus (IBV) dan virus penyakit Newcastle (NDV). Pengaruh lingkungan, seperti suhu, kelembaban, dan konsentrasi tinggi dari amonia dan debu unggas di rumah-rumah, juga memberikan kontribusi pada stres pernafasan burung.

Kollisepticaemia

Banyak ditemukan pada ayam muda umur 4-12 minggu. Kolliseptikemia terjadi jika E.colli masuk ke dalam sirkulasi darah dan menginfeksi berbagai jaringan melalui lesi pada usus atau saluran pernafasan yang ditimbulkan oleh berbagai sebab. Secara normal E.colli ditemukan pada saluran pencernaan ayam, terutama usus halus bagian bawah dan sekum. (Tabbu, 2000)

Faktor predisposisi dari koliseptikemia :

Koliseptikemia terjadi oleh karena adanya E.colli serotipe patogen dalam jumlah besar yang menyebar melalui darah yang menginvasi dan menimbulkan kerusakan pada berbagai jaringan. Maka timbulnya penyakit ini mengikuti penyakit lain yang menyerang saluran pencernaan atau saluran pernafasan. (Tabbu, 2000)



KEJADIAN PENYAKIT
1. Kejadian Penyakit Pada Manusia
Sedang pada manusia, Escherichia coli sebagai bakteri patogen dihubungkan dengan 2 sindrom klinik utama yakni :
a. Gastro-enteritis akut terutama pada anak belia sampai usia 2 tahun dan
b. Infeksi saluran kemih pada orang dewasa.
2. Kejadian Penyakit Pada Hewan
Pada babi penyakit yang dikenal sebagai “ Gut Oedema” dengan sinonim “ Oedema Disease” atau “ Bowel Oedema” disebabkan oleh E. coli yang bersifat hemolitik. Serangan bakteri yang sama pada anak-anak babi sapihan hingga umur 16 minggu dikenal sebagai “Enteric Colibacillosis”. Pada unggas infeksi E. coli menyebabkan serangkaian penyakit seperti “Omphalitis”, “Air Sac Disease”, “Peritonitis”, “Salpingitis”, “Hjarre’s Disease”, disamping colibacillosis sendiri.

CARA PENULARAN
Penyakit Colibacillosis dikenal sebagai bakteri yang menyebabkan pencemaran air . Maka penyebarannya penyakit adalah melalui air yang tercemar. Proses terjadinya penyakit Colibacillosis dapat melalui 3 cara, yaitu : melewati saluran pernafasan, pencernaan dan reproduksi.


PATOGENESIS
Jumlah E coli yang terdapat pada unggas di lingkungan terjadi melalui kontaminasi saluran pernafasan. Awal terjadinya patogen dari E coli mungkin terjadi di hatchery yang terjangkit atau terinfeksi atau dari telur, tetapi infeksi sistemik biasanya membutuhkan faktor predisposisi atau faktor penyebab menular. Mycoplasmosis, bronkitis, Newcastle, Radang usus yang menyebabkan hemoragi, dan turki bordetellosis mendahului colibacillosis. Kualitas udara buruk dan lingkungan juga dapat mempengaruhi infeksi E.coli.
Infeksi sistemik terjadi bila E coli tersebut patogen yang mendapatkan akses ke darah dari saluran pernafasan atau usus. Bakteremia terdapat di darah dan menyebabkan kematian, atau infeksi meluas ke permukaan serosal, selaput jantung, sendi, dan organ lainnya.

GEJALA KLINIS
Colibacillosis adalah tanda-tanda respiratory distress, mengurangi nafsu makan, kurus, bulu kusam, pertumbuhan yang terhambat, produksi telur menurun, dan diare berwarna hijau. Luka terlihat pada pemeriksaan mayat yang airsacculitis, pericarditis, perihepatitis dan radang selaput. Angka 1, 2 dan 3 menggambarkan airsac jelas dari sebuah uninfected burung, yang berbuih exudat terlihat pada awal infeksi, dan kemudian di caseous exudate infeksi.

Tanda-tanda yang tidak spesifik dan berbeda-beda dengan umur, organ yang terlibat, dan penyakit yg berbarengan. Unggas yang sudah terinfeksi akut dapat menyebabkan kematian dengan ada beberapa luka kecuali, hyperemic hati dan limpa dengan meningkatnya cairan dalam tubuh cavities. Burung yang hidup darah mengembangkan subacute fibrinopurulent airsacculitis, pericarditis, perihepatitis, dan penipisan lymphocytic dari bursa dan thymus. (Luar biasa salmonellae memproduksi patogen serupa luka dalam chicks.) Meskipun airsacculitis adalah klasik dari jejas colibacillosis, apakah hasil dari pernafasan utama dari eksposur atau perpanjangan serositis adalah tidak jelas (Anonim, 2007)
Colisepticemia adalah salah satu bentuk atau fase infeksi dari colibacillosis. Kejadian koliseptisemia pada umumnya terjadi secara akut dan biasanya menyerang ayam dara atau dewasa. Penyakit ini menyerupai fowl typhoid dan fowl cholera, dengan ciri yang khas berupa lesio tipikal yaitu hati berwarna hijau bintik kecil pucat dengan organ limpa yang membesar.


Terjadi ketika E.coli masuk ke dalam sistem sirkulasi darah ayam, sehingga dengan cepat menyerang berbagai target organ dalam. E. coli masuk ke darah melalui luka usus atau saluran pernafasan. Tak mengherankan, colisepticemia menyebabkan isolat E. coli dapat ditemukan pada hati, limpa, jantung, kantung hawa, usus, organ reproduksi dan semua organ yang mengalami kelainan/tanda-tanda abnormal. Ditemukannya colibacillosis pada organ reproduksi menunjukkan bahwa colibasillosis dapat ditularkan secara vertikal.
Sporadis luka termasuk radang paru-paru, arthritis, osteomyelitis, dan salpingitis.
Osteomyelitis

Merupakan proses lanjutan dari koliseptisemia, ditandai dengan peradangan pada sendi. Kejadian osteomyelitis ini bisa akut atau kronis, ayam akan menjadi kurus karena tidak mau makan (anorexia) yang akhirnya mati.

Anak ayam yang terserang biasanya terlihat lesu, lemah, perut membesar, tubuh terasa empuk (tanpa tonus), cenderung untuk bertumpu pada persendian tarsometatarsus di dekat pemanas dan dapat berakhir dengan kematian. Kerapkali umbilicus tampak terbuka, basah dan berwarna kemerahan; kadang-kadang menebal, menonjol dan berwarna merah tua akibat adanya nekrosis dan keradangan pada jaringan. Moratalitas biasanya tinggi jika infeksi terjadi pada minggu pertama;kadang-kadang dapat mencapai 10%-15% atau lebih. Meskipun demikian, mortalotas biasanya antara 1%-3%. Kejadian infeksi yolk sac dan omfalitis bervariasi dari waktu penetasan satu dengan lainnya sesuai dengan keadaan higienis dari incubator dan variasi juga diantara flok ayam yang satu dengan lainnya sesuai dengan kualitas kerabang telur tetas yang dihasilkan. (Tabbu,2000)

Gejala lain yang bersifat umum, meliputi penurunan/kehilangan nafsu makan, gangguan pertumbuhan, bulu berdiri dan kadang-kadang disertai oleh diare dengan kotoran yang meliputi daerah kloaka. (Tabbu, 2000)


DIAGNOSIS
Colibacillosis penyebab patologi khas, yang dapat dilihat selama mortem pos yang terpengaruh burung.Isolasi yang murni budaya E.coli dari jantung, hati atau dari luka mengkonfirmasikan diagnosis.

Perubahan pada yolk sac dan lesi pada umbilicus dapat dijadikan dasar untuk suatu diagnosis sangkaan, terutama pada kondisi lapangan. Diagnosis pasti hendaklah dilakukan dengan cara isolasi dan identifikasi kuman. Penyakit yang dapat menimbulkan perubahan yang mirip pada tolk sac adalah penyakit pulorum. (Tabbu, 2000)


PERUBAHAN PATOLOGIK

Perubahan makroskopik

Pada embrio yang normal, kandungan yolk sac akan terlihat kental dan berwarna kuning kehijauan. Jika embrio terinfeksi oleh E.coli, maka kandungan yolk sac akan menjadi lebih encer dan berwarna kuning coklat atau menyerupai keju yang berbau busuk. (Tabbu, 2000)

Anak ayam yang menderita infeksi yolk sac akan menunjukkan perubahan warna kemerahan pad karkas dan jaringan subkutan. Perubahan yang paling mencolok adalah yokl sac belum terserap;ukurannya lebih besar dari normal dengan isi, viskositas dan warna yang abnormal;warna menjadi hijau kecoklatan, lebih cair dan berbau tidak sedap;dapat pula menjadi lebih kental menyerupai keju. Seringkali yokl sac mengalami rupture sehingga isinya terbebas ke dalam rongga perut ataupun rongga dada. Umbilikus kerapkali belum menutup, berwarna kemerahan, basah dan mengalami nekrosis. Radang pada umbilicus dapat meluas menjadi peritonitis hemoragika yang bersifat local ataupun difus.Paru-paru biasanya mengalami kongesti;hati dan limfa akan terlihat membengkak dan merah hitam;pada hati kerapkali ditemukan adanya perihepatitis dan nekrosis multifokal pada permukaannya. Usus (terutama bagian depan) sering mengandung material yang encer dan kekuningan dan bercampur busa;mukosa usus terlihat kongesti.

Perubahan mikroskopik

Perubahan mikroskopik yang tersifat dapat ditemukan pada yokl sac. Dinding yolk sac akan terlihat edematous disertai oleh penebalan oleh adanya zona jaringan ikat dibagian luar, diikuti berturut-turut oleh lapisan sel radang yang terdiri atas heterofil dan makrofag, kumpulan giant cells zona heterofil yang mengalami nekrosis yang bercampur gumpalan bakteri dan dibagian dalam akan terlihat isi yolk sac. Pada sejumlah kasus dapat juga ditemukan adanya beberapa sel plasma di dalam yolk sac.

Umbilicus biasanya memperlihatkan daerah nekrosis yang disertai oleh infiltrasi heterofil, kongesti pembuluh darah dan oedema. Hati kerapkali menunjukkan infiltrasi heterofil dan proliferasi fibroblast di daerah kapsula (perihepatitis). Di samping itu, terlihat juga adanya nekrosis multifokal yang disertai infiltrasi heterofil dan limfosit. Usus kerapkali menunjukkan infiltrasi heterofil dan kongesti pembuluh darah di daerah mukosa. (Tabbu, 2000)



DIAGNOSA BANDING

1. Salmonellosis mengelirukan, terutama bila terhadap dengan bentuk septisemi penyakit.
2. Diare akibat makanan dapat mengelirukan, terutama bila berhadapan dengan colibacillosis yang ditandai dengan adanya diare. Dalam hubungan ini diare dapat timbul karena anak hewan mendapat susu yang berlebihan atau makanan induk terdiri atas hijauan yang amat muda. Diare yang disebabkan oleh Salmonellosis juga dapat menelirukan.
3. Pada anak babi colibacillosis dapat dikelirukan dengan diare yang disebabkan oleh ransum yang kekurangan zat besi.
4. Pada unggas colibacillosis dapat dikelirukan dengan penyakit sepsis akut yang lain seperti Salmonellosis, Pasteurellosis, dan Streptococcosis.

PENCEGAHAN PENYAKIT
Petani memiliki kontrol hama didokumentasikan program untuk mengurangi risiko penyakit yang dibawa ke daerah pertanian oleh tikus. Catatan dijaga ketat oleh para petani dari ayam kesehatan, pertumbuhan dan perilaku, sehingga setiap masalah yang muncul adalah penyakit cepat diidentifikasi dan bertindak atas.
Pencegahan penyakit merupakan strategi penting bagi produsen unggas. Adalah jauh lebih bermanfaat bagi burung dan unggas komersial ke produsen untuk mencegah penyakit dari terjadi daripada mengandalkan pengobatan.
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan memberikan obat-obatan yang memiliki daya serap usus yang tinggi. Misalnya diberi Coccilin water soluble powder sebanyak 1 gram yang dicampur 1 liter air minum, diberikan selama 5 hari berturut-turut.
Pencegahan dengan menggunakan obat suntik Hiprasulfa – TS dan Gentipra, serta spray kandang dengan desinfektan Biodes-100, Septocid dan Glutamas, maupun pengobatan dengan menggunakan Neoxin, Moxacol, Colimas, Cipromas maupun Enromas, agar diperhatikan benar cara dan dosis pemakaiannya dan dilaksanakan sesuai dengan anjuran dari pembuatnya, agar mendapatkan efek pengobatan yang maksimal.

PENGENDALIAN PENYAKIT
1. Pengendalian Penyakit Di Indonesia
Pengendalian penyakit yang efektif terhadap penyakit Colibacillosis adalah mengusahakan agar jumlah ayam dalam 1 kandang tidak terlalu padat, pengaturan ventilasi dan temperatur yang baik dan menguasakan agar sanitasi dalam keadaan baik pula.
2. Pengendalian Penyakit Di Luar Negri, antara lain :
• Usahakan agar anak ayam yang dipelihara berasal dari pembibitan yang bebas dari penyakit pernapasan seperti CRD, IB dan ND.
• Jika anak ayam sudah terlanjur masuk di kandang, anak ayam yang sudah terinfeksi dengan bakteri Escherichia coli agar diafkir
• Jalankan selalu prinsip water treatment / pengobatan air secara efektif dan berkesinambungan, untuk menurunkan populasi bakteri dalam air minum.
• Perhatikan selalu ventilasi, agar ayam selalu mendapat udara yang segar, bersih dan sehat
• Laksanakan biosecurity secara terpadu, agar kondisi farm sesedikit mungkin mengandung kontaminan khususnya bakteri Escherichia coli.
• Jaga selalu kekeringan litter kandang agar tidak terlalu kering juga tidak terlalu basah, Untuk itu perlu diperhatikan selalu kepadatan populasi agar kondisi kekeringan litter mudah untuk dikendalikan
• Spray ruang kandang setiap hari menggunakan campuran air dengan BIODES-100, SEPTOCID atau GLUTAMAS sangat berguna disamping untuk menjaga kelembaban juga mengurangi density bakteri di ruang kandang.
• Bila ayam selalu terserang infeksi Escherichia coli yang parah pada usia di atas tiga minggu, tidak ada salahnya lakukan penyuntikan doc pada usia 4 hari pertama dengan antibiotika secara subkutan bisa dengan memakai GENTIPRA atau HIPRASULFA – TS sesuai dengan dosis yang dianjurkan
• Alternatif vaksinasi inaktif kombinasi O2K1 dan O78K80, dalam pelaksanaannya masih terjadi pro dan kontra akan efektifitas kegunaannya, karena belum ada hasil yang sangat nyata
• Hal yang paling penting untuk dilakukan agar serangan infeksi bakteri Escherichia coli tidak menjadikan ayam peliharaan menjadi menderita adalah dengan cara menciptakan ayam senyaman mungkin tinggal dalam kandangnya, dengan kata lain jangan sampai ayam mengalami stress, karena stress merupakan pencetus utama ayam terserang infeksi bakteri ini.

PENGOBATAN
Pengobatan terhadap ayam yang positif terserang Colibacillosis adalah dengan mengisolasi atau mengkarantina ayam yang menderita dan diberi obat Coccilin capsul. Untuk ayam usia 1-5 minggu diberi 1/3 kapsul, usia 6-10 minggu diberi ½ kapsul, sedangkan usia lebih dari 1o minggu diberi 1 kapsul. Pemberian obat ini dilakukan 4 hari berturut-turut.
Kuman E. coli kebanyakan sensitif / peka terhadap beberapa antibiotika seperti kelompok aminoglukosida (NEOXIN), polipeptida (MOXACOL), tetrasiklin, Sulfonamida, trimethoprim (COLIMAS) dan Quinolon (CIPROMAS, ENROMAS). Apabila setelah diobati dengan berbagai antimikroba tidak terjadi perubahan kearah penyembuhan, maka perlu dilakukan uji sensitivitas.

KONTROL DAN PERLAKUAN
Kontrol diambil langkah-langkah untuk mencegah infeksi di ayam termasuk penghapusan dari predisposing faktor, termasuk vaccinating burung terhadap mycoplasmas, IBV dan NDV. E. coli adalah rentan terhadap disinfektan dan suhu lebih dari 80 o C, sehingga pembersihan menyeluruh dari unggas rumah, sehingga mengurangi eksposur ke patogen dari jenis E. coli , dapat membantu. Memastikan benar chlorination dari ventilasi dan air minum juga akan mengurangi tingkat pencemaran lingkungan. Perawatan colibacillosis bergantung pada antimicrobial therapy, namun dengan isolates of E. coli semakin tahan terhadap antibiotik yang sering digunakan, perawatan ini Mei gagal.

VAKSINASI
Vaksin bantuan dalam mencegah penyakit oleh burung yang merangsang sistem kekebalan dengan cara yang dapat meningkatkan kekebalan Tanggapan bila burung yang kemudian terkena sebuah pathogen (atau menyebabkan penyakit-organisme). Vaksin yang ada, baik yang kecil tinggal dosis yang lemah bentuk pathogen atau yang lebih besar dosis yang dibunuh persiapan menyebabkan penyakit-organisme. Lemahnya bentuk pathogens vaksin yang digunakan dalam hidup akan dapat terjadi secara alami atau dapat dikembangkan di laboratorium. Jika mereka telah dikembangkan mereka disebut vaksin dilemahkan. Vaksin hidup cenderung memberikan kekebalan lagi daripada vaksin dibunuh karena organisme dapat hidup dan bertahan di colonise tuan rumah untuk beberapa waktu dan merangsang yang lebih panjang dan lebih efektif respon kekebalan.
Teknologi baru yang mengarah ke perbaikan metode pengembangan vaksin. Termasuk lebih efisien metode untuk mengidentifikasi cara organisme penyebab penyakit dan merangsang suatu respon kekebalan pada tuan rumah, serta sangat spesifik dan efektif attenuation prosedur (Anonim, 2005).


DAFTAR PUSTAKA


Akoso, Dr. Budi Tri. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.

Anonim, 2007, Ecsherichia Coli, http://www.wikipedia.com, diakses
12 Maret 2009.

Direktorat Kesehatan Hewan dan Direktorat Jenderal Peternakan. 1982. Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Departemen Pertanian : Jakarta.

www. Mensana – id. Com. 1 Maret 2009, 04:46. Colibacillosis.

Infovet, edisi 128, Maret 2005. Koli Turunkan Produksi.

Rangga Tabbu, Prof. drh. Charles. 2004. Penyakit Ayam dan Penanggulangan : Volume 1. Kanisius : Yongyakarta.

S. Mattsson & Wallgren P. Wallgren & P. 2000. Phenotyping of E. 2000. Phenotyping dari E. coli serotypes associated to oedema disease. coli Serotypes terkait ke busung penyakit. In: Proceedings of the Dalam: Proceedings of the 16th Congress of the International Pig Veterinary Society . 16. Kongres dari International babi Masyarakat Kedokteran Hewan. (Melbourne, Australia). (Melbourne, Australia). p.51. p.51.
W. Wittig 1999. Infecções por Escherichia coli. 1999. Escherichia coli infeksi. In: Beer J. Dalam: J. Beer (Ed). Doenças infecciosas em animais domésticos . (Ed). Kesehatan penyakit hewan di dalam negeri. São Paulo: São Paulo: Roca, pp. Roca, hal. 93-111. 93-111.

2 komentar:

  1. thank you...sangat bermanfaat artikelnya....

    BalasHapus
  2. makasih postingannya ...ijin share ya?

    BalasHapus