Rabu, 16 September 2009

SHIGELLOSIS


SHIGELLOSIS
A. Sinonim
Shigellosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri dari spesies shigella sp. Penyakit ini disebut juga dengan bacillary dysentery.
B. Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah bakteri dari genus Shigella dengan karakteristik gram negatif ,fakultatif anaerobik, berbentuk bacillus (batang), famili Enterobakteriaceae, nonmotil, tidak dapat menggunakan sitrat sebagai sumber karbon tunggal dan melakukan fermentasi karbohidrat, mempunyai bentuk antigenik berupa plasmid yang kompleks sehingga memberikan kemudahan dalam menembus sel inang. Genus Shigella terdiri dari empat spesies penting yaitu, Shigella dysentriae, Shigella flexneri, Shigella boydii dan Shigella sonnei. Shigellosis umunya tersebar melalui tinja hospes yang terinfeksi. Tingginya tingkat resistensi shigella sp terhadap antibiotik menyebabkan eksistensi keberadaan penyakit ini di beberapa negara berkembang cukup tinggi (Denise et al. 2004).
C. Gejala klinis
Shigellosis adalah penyakit akut yang menyerang usus besar dan bagian distal usus halus ditandai dengan gejala muntah, nyeri usus dan keram. Pada kasus yang lebih parah kotoran mengandung darah dan lendir (disenteri) sebagai akibat adanya ulserasi pada mukosa usus. Gejalanya mulai 1-3 hari setelah terinfeksi dan kejadian penyakit ini biasanya berlangsung 4-7 hari, tetapi ada kalanya dapat berlangsung lebih lama. Setelah masa inkubasi yang pendek (1-2 hari), ada serangan tiba-tiba berupa sakit perut, demam dan diare cair. Diare terjadi akibat pengaruh eksotoksin dalam usus kecil. Pada hari berikutnya, infeksi berlanjut mencapai usus bagian bawah dan usus besar,ditandai dengan tinja semakin banyak, mengandung cairan sedikit, tetapi sering berisi lendir dan darah. Setiap gerakan usus disertai dengan ketegangan dan tenesmus (rectal spasm). Lebih dari setengah kasus, demam dan diare akan berhenti secara spontan dalam 2-5 hari. Meskipun begitu, pada anak-anak dan orang yang lebih tua, kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis, yang dapat mengakibatkan kematian (Geo, 2001).
Dalam proses penyembuhan, orang yang berhasil sembuh dapat kembali terserang karena tidak ada antibodi spesifik terhadap penyakit tersebut. Selain itu, penderita yang berhasil sembuh juga dapat bertindak sebagai carrier.
D. Distribusi
a. Indonesia
Di Indonesia kejadian shigellosis pernah dilaporkan terjadi di Jakarta pada tahun 1985. Penelitian pada tahun 1998 hingga 1999 dilakukan terhadap 3848 orang penderita diare (anak-anak dan orang dewasa) di 7 kota besar di Indonesia Medan, Padang, Batam, Jakarta, Denpasar, Pontianak dan Makasar menunjukkan bahwa 180 sampel positif terhadap penyakit shigellosis. Proporsi spesies bakteri penyebab penyakit shigellosis adalah S.flexneri, S.sonnei dan S.dysenteriae masing-masing 80%, 12% dan 8% (Subekti, 2001).
b. Luar negeri
Empat spesies penting dari Shigella sp memiliki pola penyebaran yang bervariasi diberbagai negara di dunia. Dipekirakan penyakit ini menyebabkan kematian sekitar 600.000 orang per tahun di seluruh dunia. Dua per tiga kasus umumnya terjadi pada bayi berusia dibawah 6 bulan. Selama beberapa tahun salmonella flexsneri memiliki intensitas outbreak yang paling besar pada dekade 1980-an terutama di Amerika Serikat, namun pada saat ini spesies yang paling sering ditemukan di Amerika Serikat adalah Salmonella sonnei. Pada umumnya S. flexneri, S.boydii dan S. dysenteriae paling banyak ditemukan di negara berkembang. Sementara S. dysenteriae paling sedikit ditemukan di negara maju (Samik, 2000).
Selain di Amerika, prevalensi yang cukup tinggi terjadi di Pakistan, Thailand dan China, sementara kejadian yang lebih rendah terjadi di Indonesia, India dan Vietnam. Di Pakistan, sebanyak 25% kasus diare dan disentri di negara tersebut disebabkan oleh infeksi bakteri shigella sp, sedangkan di Cina kejadian penyakit infeksius ini mendapat perhatian serius oleh pemerintah di negara tersebut karena tingkat morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi terutama pada bayi dan anak-anak (<12 tahun) bersamaan dengan kejadian penyakit HIV dan Hepatitis B. Di India kejadian diare dan dysentri, + 60% disebabkan oleh spesies bakteri Shigella sp (Denise et al. 2004).
E. Kejadian Penyakit
a. Pada Hewan
Kejadian pada hewan umumnya disebabkan oleh bakteri Shigella flexneri. Umumnya dapat menyerang semua hewan. Derajat morboditas tergantung dari tingkat keparahan penyakit. Beberapa hewan liar dan domestik yang sering terinfeksi seperti anjing, kucing, kelinci dan primate. Gejala yang teramati hampir mirip dengan gejala klinis pada manusia seperti demam, muntah anoreksia, mukopurulent, diare berdarah dan tenesmus.
b. Pada Manusia
Dua pertiga kejadian pada manusia umumnya menyerang anak-anak yang berusia kurang dari 6 bulan. Tingkat kematian sebesar 20% akibat shigellosis sebagai akibat dari komplikasi berbagai penyakit seperti kegagalan ginjal, hemolysis, thrombocytopenia, pendarahan gastrointestinal dan shock (Subekti, 2001).
F. Sumber Infeksi
Shigellosis ditularkan melalui rute fekal-oral melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan bahan tinja. Hal ini umumnya terjadi jika tangan tidak dicuci dengan baik terutama setelah menggunakan kakus. Infeksi Shigella sp juga dapat diperoleh dari makanan yang tercemar dengan bakteri ini. Selain itu sumber infeksi juga dapat disebabkan oleh lalat yang membawa Shigella sp. Kejadian penyakit ini biasanya juga diikuti oleh infeksi sekunder lainnya seperti kasus enteritis dan infeksi bakterial E.coli pada saluran pencernaan. Wabah umumnya terjadi pada kondisi “crowding”, ditempat-tempat dimana sanitasi lingkungan dan kebersihan perorangan rendah seperti di penjara, tempat penitipan anak, panti asuhan, rumah sakit jiwa dan pada tempat pengungsi yang padat (Denise et al. 2004).
Infeksi diawali dengan terjadinya fagositosis oleh sel limfatik MALT (Mucosal Asociated Limfoid Tissue) pada tunika mucosa usus. Toxin Shigella sp selanjutnya akan berikatan dengan reseptor berlokasi pada permukaan epitel sel dan mnginduksi proses endositosis.selanjutnya bakteri masuk dan terjadi proses fagositosis oleh makrofag. Kemudian masuk ke dalam sel dan memperbanyak diri di dalam sitoplasma yang menyebabkan kematian sel akibat terjadinya lisis. Walaupun Shigella sp termasuk ke dalam kelompok bakteri non motil, namun bakteri ini memiliki protein kontraktil berupa filament aktin pada permukaan tubuhnya, sehingga bisa bergerak secara aktif dari satu sel ke sel lain. Kerusakan sel yang terjadi menyebabkan terjadinya inflamasi usus, perlukaan dan adanya nanah pada infeksi yang lebih parah (Hurley et., 2000).
G. Cara Penularan
Spesies dari genus Shigella berbeda dengan genus Salmonella, pada dasarnya terbatas pada manusia sebagai reservoir alamiah. Shigellosis ditularkan dengan jalan feka-oral, terutama kontak tangan ke mulut, tetapi juga oleh pedagang makanan dan vektor insekta (misalnya lalat) di daerah penyiapan dan pelayanan makanan. Insiden penyakit kadang-kadang dihubungkan langsung dengan banyaknya lalat yang tertarik pada kasus. Sebanyak sepuluh basili dikatakan mampu menyebabkan dysentri. Hal ini berbeda dengan organisme lain yang membutuhkan lebih banyak jumlah mikroorganisme untuk dapat menyebabkan timbulnya gejala penyakit pada hospesnya (Samik, 2000).
Infasi shigella pada jaringan biasanya terbatas pada lapisan sel epitel dan mungkin sub mukosa kolon. Pasca infasi sel epitel sering diikuti dengan kasus disentri yang berat, kejadian ini dapat dihubungkan denan penghancuran dan ulcerasi mukosa setempat tetapi tidak meluas keluar saluran usus (Samik, 2000).
H. Diagnosa
Geo (2001) menyatakan bahwa metode penetapan diagnosa penyakit shigellosis dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
a. Spesimen
Untuk diagnose awal, sampel feces dari penderita dapat diperiksa di bawah mikroskop. Sejumlah besar leukosit anus dan beberapa sel darah merah sering dilihat dengan mikroskop. Selain feces, identifikasi awal dapat dilakukan pengukuran titer antibody dari serum, dengan cara di inokulasikan pada hewan coba selama 10 hari untuk melihat reaksi titer aglutinasi dari antibodi yang meningkat.


b. Kultur
Spesimen ditanam di atas media differensial (Mac Conkey’s atau agar Eosin Metylen Blue) dan media selektif (agar Hektoen enteric atau agar Salmonella Shigella) yang dapat menekan enterobacteriae dan organism lain. Koloni tak berwarna (lactose negatif) di tanamkan pada triple sugar iron agar. Organisme yang tidak memproduksi H2S, yang memproduksi asam tetapi tanpa gas dibagian ujung dan bagian miring alkalin pada medium triple sugar iron agar,dan yang non motil seharusnya dilakukan slide aglutinasi menggunakan antiserum shigella spesifik.

c. Serologi
Orang normal sering mempunyai aglutinin untuk melawan beberapa spesies Shigella sp. Meskipun begitu, beberapa penentuan titer antibodi memperlihatkan sebuah reaksi dalam spesifik antibodi. Serologi tidak digunakan untuk mendiagnosa infeksi Shigella. Shigella jarang ditemukan dalam biakan darah (Geo, 2001).
I. Pencegahan dan Pengendalian
a. Indonesia
Secara umum upaya pencegahan yang perlu dilakukan adalah meningkatkan higiene dan sanitasi, namun hal tersebut sulit diterapkan karena masalah biaya. Tindakan persuasif dapat dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan kepada masyarakat dengan mempromosikan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. seperti mencuci tangan dengan sabun dan air, sebagai cara yang memegang peranan sangat penting terhadap penurunan tingkat penularan.
Beberapa langkah penting lainnya yang perlu dilakukan untuk mengurangi kasus shigellosis di Indonesia antara lain:
1. Kontrol harus diarahkan pada pengurangan organism dengan cara sanitasi air, makanan, susu, pembuangan sampah dan control terhadap lalat.
2. Pengisolasian pasien dan desinfektan.
3. Pendektesian kasus subklinis dan factor penyebab utama seperti makanan dan minuman
4. Pengobatan antibiotik pada individu yang terinfeksi.
5. Orang yang sakit karena shigellosis sebaiknya tidak beraktifitas di tempat umum.
6. Memisahkan penderita dengan orang sehat dan melakukan pengawasan yang ketat terhadap kebiasaan.
Beberapa antibiotik seperti Ciprofloxacin, Ampicilin, Tetracycline, Trimethoprim-sulfametthoxazole dan Chloramphenecol dapat menghambat pertmbuhan shigella dan dapat menekan invasi disentri yang akut dan memperpendek jangka waktu gejala (Geo, 2001).
b. Luar negeri
Pada infeksi ringan umumnya dapat sembuh sendiri, penyakit akan sembuh pada 4-7 hari. Minum lebih banyak cairan untuk menghindarkan kehabisan cairan, jika pasien sudah pada tahap dehidrasi maka dapat diatasi dengan Rehidrasi Oral. Pada pasien dengan diare berat disertai dehidrasi dan pasien yang muntah berlebihan sehingga tidak dapat dilakukan Rehidrasi Oral maka harus dilakukan rehidrasi Intravena. Umumnya pada anak kecil terutama bayi lebih rentan kehabisan cairan jika diare. Infeksi berat shigella dapat diobati dengan menggunakan antibiotika termasuk ampicilin, trimethoprim-sulfamethoxazole dan ciprofloxacin (Geo, 2001).
Resistensi antibiotik ampicilin terhadap shigella sangat tinggi hal ini dibuktikan dengan lebih dari 50% isolate baru diamerika serikat resistensi terhadap ampicilin. Pada infeksi ringan hospes dapat mengeliminasi Shigella dalam jumlah yang dapat ditoleransi tubuh pada saluran gastrointestinal (Denise et al. 2004).

Daftar Pustaka
Deniese DR,Clemen JD,Nyamete Andrew. 2004. Policymakers’ views regarding the introduction of new-generation vaccines against typhoid fever, shigellosis and cholera in Asia. Jurnal. Elsevier Science Direct. Arizona State University.

Geo F B, Janet S B dan Stephen A M. 2001. Mikrobiologi Kedokteran. Diterjemahkan oleh Edi Mudihardi MS,SpMK. Bagian mikrobiologi FK UNAIR. Surabaya. Penerbit Buku-Buku Kedokteran. Hal 362-364.
Hurley D, Nester EW, Anderson A, Nester MT. 2000. Microbiology A Human Perspective. University Of Washington. USA. Penerbit Mc GrawHill Education. Hal 613-616.
Samik, W A. 2000. Dasar Biologis dan Klinis Penyakit Infeksi Edisi 4. Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta. Gadjah Mada University Press. Hal 305-307.
Subekti. 2001. Shigella spp. Surveillance in Indonesia: the Emergence or Reemergence of S. dysenteriae. Artikel. Bagian Mikrobiologi Program Microbiology Section of the Enteric Diseases Program at U.S. Naval Medical Research Unit No. 2, Jakarta, Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar