Rabu, 16 September 2009

Mycobacterium tuberculosis


Mycobacterium tuberculosis




Sinonim
Penyakit tuberculosis disebut juga dengan penyakit "Captain among these Men of Death", White Death, White Plague, Consumption (Anonimus, 2009a), Bacillus tuberculosis dan Bacterium tuberculosis (Mudihardi, 2005).

Sejarah
Percobaan tentang transmisi penyakit TBC pertama kali dilakukan oleh Klencke pada tahun 1843. Klencke memproduksi TBC di dalam tubuh kelinci dengan inokulasi jaringan TBC secara intravena. Infeksi oleh kuman TBC juga dibuktikan oleh Villemin pada tahun 1865 dengan cara memproduksi penyakit ini pada kelinci dengan inokulasi jaringan TBC tipe human dan bovine. Dia yang pertama kali mendemonstrasikan perbedaan resistensi kelinci terhadap organisme tipe human dan bovine. Villemin menyimpulkan bahwa (1) TBC adalah penyakit spesifik; (2) TBC disebabkan oleh agen inocilable ; (3) penyakit ini dapat menular dari manusia ke kelinci; (4) TBC adalah penyakit yang mematikan.
Robert Koch merupakan penemu Mycobacterium tuberculosis pada tahun 1882. Koch yakin bahwa tipe human dan bovine adalah organisme yang identik. Ehlirch (1982) melaporkan bahwa bakteri tuberculosis memiliki karakteristik tahan asam. Rivolta (1899), Strauss dan Gamalea (1891), dan Maffucci (1892) membuktikan bahwa organisme tipe avian berbeda dari tipe human dan bovine (Merchant dan Packer 1961).

Etiologi
Tuberkulosis (TBC) yang sebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru dan juga memberikan efek terhadap susunan saraf pusat, sistem limfatik, sistem sirkulasi, sistem urogenital, tulang, tulang sendi, dan kulit (Anonimus VIII, 2009). Penyakit ini diketahui dapat menyerang semua bangsa burung, mamalia, primata, termasuk manusia. (Febriyanti 2005).
Selain Mycobacterium tuberculosis (tipe human), dikenal juga spesies Mycobacterium bovis, dan Mycobacterium avium. Mycobacterium bovis dan Mycobacterium avium jarang terjadi pada orangutan. Hanya terdapat sekitar 10% laporan kasus TBC pada primata yang disebabkan oleh Mycobacterium bovis (Rufianti 1996). TBC tipe Human yang paling banyak ditemukan pada primata dan manusia (Sari 2004). Tabel berikut adalah tabel beberapa subspesies Mycobacterium.

Tabel 1. Daftar beberapa spesies Mycobacterium

Status Infeksi Spesies Reservoar
Selalu dipertimbangkan sebagai patogen M. tuberculosis Manusia
M. leprae Manusia
M. bovis Manusia, ternak
Yang mungkin potensial terhadap manusia Umum menyebabkan penyakit
M. avium complex Tanah, air, burung, unggas, babi, ternak, lingkungan
M. kansasii Air, ternak
Tidak umum dan jarang menyebabkan penyakit
M. africanum Manusia, primate
M. genavense Manusia, burung
M. malmoense Tidak diketahui lingkungannya
M. marinum Ikan, air
M. scofulaceum Tanah, air, makanan lembab
M. simiae Primata, air
M. szulgai Tidak diketahui
M. Ulcerans Manusia, lingkungan
M. xenopi Air, burung
Cepat tumbuh M.fortuitum dan M. Chelonae Tanah, air, primate, ternak, kehidupan laut
Saprofit khusus dan jarang menimbulkan penyakit pada manusia M. gordonae Air
M. flavescens Tanah, air
M. fallax Tanah, air
M. gastri Kumbah labuh

Sifat dan Morfologi
Bakteri Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang langsing, lurus, dengan berdiameter 0,2-0,6 µm dengan panjang 1,5-3 µm, bercabang membentuk huruf X, Y, Z, atau berbentuk filament. Bakteri ini bersifat aerobik, tidak membentuk spora, non motil, tahan asam, bersifat Gram (+). Mikobakteria dapat tumbuh lebih cepat pada pH 6.0 dan 8.0, dengan pH optimum sekitar 6.5 sampai 6.8 untuk tipe patogen (Mudihardi, 2005). Berikut gambar bakteri Mycobacterium tuberculosis.









a b










c d

Gambar 1. Mycobacterium tuberculosis a. prevalensi bakteri pada organ paru secara histologi, b. prevalensi bakteri pada organ paru secara histologi dengan perbesaran yang lebih kuat, c. bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan scaning electron micograph, d. sel bakteri Mycobacterium tuberculosis (Anonimus II, 2009)

Bakteri ini mempunyai susunan dinding yang meindungi bakteri jika hidup di luar inangnya. Dinding sel mikobakteria menyebabkan penundaan hipersensitivitas dan beberapa diantaranya resisten terhadap infeksi. Sel mikrobakteria dapat menunda reaksi hipersensitifitas pada hewan yang sebelumnya sensitif. Sel mikobakteria terdiri dari tiga lapisan penting yaitu lipid, protein, dan polisakarida.
Lipid. Mikobakteria kaya akan lipis termasuk asam mikolat (asam lemak rantai panjang C78-C90), bahan dari lilin dan fosfatida. Lapisan lilin pada dinding sel ini menyebabkan bakteri ini tahan terhadap keadaan di luar tubuh induk semang. Bakteri dapat tahan berbulan-bulan di luar tubuh induk semang, jika terbungkus eksudat, tinja, dalam cairan atau dalam jaringan organ tubuh yang membusuk. Dalam sel, lipid secara meluas berikatan dengan protein dan polisakarida. Muramil dipeptida (dari peptidoglikan) yang diperkaya dengan asam mikolat dapat menyebabkan nekrosis kaseosa. Lipid pada beberapa perluasan bertanggung jawab terhadap kecepatan asam, yang terganggu pada integritas dinding sel dan kehadiran lipid tertentu. Kecepatan asam juga hilang setelah sonikasi sel mikobakteria. Di bawah ini adalah gambar lapisan dari mikobakterium (Mudihardi, 2005).


Gambar 2. Gambaran intraseluler dan komponen penyusun sel Mycobacterium tuberculosis (Anonimus III, 2009)

Protein. Masing-masing tipe mikobakterium berisi beberapa protein yang mendatangkan reaksi tuberculin. Ikatan protein pada fraksi lilin, dengan injeksi, menyebabkan sensitifitas tuberculin. Bagian ini juga dapat menimbulkan pembentukan berbagai antibodi. Polisakarida. Mikobakterium berisi berbagai polisakarida (arabinogalaktan). Peranannya dalam patogenesitas penyakit masih belum jelas. Polisakarida ini dapat menyebabkan hipersensitivitas tipe cepat dan dapat bertindak sebagai antigen dalam reaksi dengan serum orang terinfeksi (Mudihardi, 2005).

Distribusi dan Penyebaran
Penyakit ini dimulai dari salah satu wilayah di benua Afrika. Penyebarannya dapat di lihat pada gambar 3 di bawah.


Gambar 3. Pola penyebaran mikobakterium di dunia.
Pola penyebaran bergerak dari daerah yang fertil (Fertile drescent). Mikobakteria yang disebarkan adalah dalam bentuk M. prototuberculosis. M. prototuberculosis menyebar ke seluruh penjuru dunia yaitu Afrika (M. tuberculosis African lineage), Eropa (M. tuberculosis European lineage), Amerika, dan Asia (M. tuberculosis Asian lineage). Penyebaran ke benua Australia berlangsung lambat karena daerah Australia cukup jauh untuk dijangkau dan dipisahkan oleh amudera, sehingga pada gambar dapat dilihat benua Australia adalah daerah yang bebas TBC. Sekarang ini, tidak ada satu negara pun yang bebas TBC (Anonimus IV, 2009).

a. Indonesia
Menurut data dari Anonimus V (2005) yang bersumber dari WHO (1999), di Indonesia setiap tahunnya terjadi 583 kasus baru dengan kematian 130 penderita. Indonesia dikatakan sebagai negara penyumbang TB terbesar 3 di dunia dengan data sebagai berikut.
• TBC menularnya/tahun : 262.000 orang
• Jml seluruh penderita TBC baru/tahun : 583.000 orang
• Jml meninggal diperkirakan/tahun : 140.000 orang

b. Dunia
Dilaporkan bahwa 62 % kasus terjadi di daerah asia tenggara dan daerah barat daya, 16 % di daerah sekitar sahara Afrika, dan 7-8 % hampir di setiap daerah di Amerika, Mediterania, dan Eropa. Sepertiga (1/3) penduduk dunia telah terinfeksi TBC, yaitu sekitar + 8 juta orang/ tahun dengan jumlah penderita baru dan + 3 juta meninggal/tahun. Satu (1) orang terinfeksi TBC setiap 1 detik dan setiap 10 detik 1 orang meninggal karena TBC. Gambar 4 berikut merupakan gambaran jumlah penderita TBC di dunia (Anonimus V, 2005).



Gambar 4. Gambaran jumlah penderita TBC di dunia. (Anonimus II, 2009)

Sumber Infeksi
Sumber infeksi dari penyakit ini ada beberapa macam seperti droplet dari dahak, aerosol dari pernafasan, susu yang tercemar, makanan dan minuman tercemar, isi saluran pencernakan dan leleran dari saluran urogenital (Mudihardi, 2005)

Cara penularan dan Patogenesis
Menurut sari (2004), TBC dapat menular melalui beberapa cara yaitu inhalasi, ingesti, kontak langsung, peralatan yang terkontaminasi, dan infeksi silang.
• Inhalasi
Penularan terjadi karena adanya aerosol yang dikeluarkan melalui batuk oleh penderita atau material tinja kering yang terhirup oleh manusia dan hewan. Penularan seperti ini sangat cepat apabila hewan sakit berada satu kandang dengan hewan sehat (Sari 2004). Jika terhirup dalam bentuk debu kering, bakteri tuberkel dapat lewat secara langsung ke dalam rongga udara paru-paru dan sampai di alveolus (Davies 1947). Di dalam paru-paru mikroorganisme ini ditangkap oleh makrofag dan dibawa ke nodus limfatikus, tempat dimana mikroorganisme memulai penyebarannya.

Gambar 5. Penuluran mikobakteria melalui inhalasi (Anonimus II, 200)

• Ingesti
Manusia dan hewan dapat tertular penyakit TBC dari air susu yang terinfeksi, pakan atau air yang terkontaminasi oleh discharge, urin atau feses yang terinfeksi. Kontak dengan manusia atau hewan yang terinfeksi juga dapat memberikan penularan yang timbal balik.
Organisme mikobakteria akan menembus mukosa tenggorokan sehingga akan tampak perlukaan pada daerah tenggorokan atau limfoglandula submaxillary, atau dapat menjangkau mukosa usus dan melewati vena mesenterika. Pada kasus yang lebih luas, organisme menembus mukosa tanpa memproduksi luka makroskopik pada titik masuk (Davies 1947).




• Kontak langsung
Penularan TBC dapat juga terjadi melalui gigitan hewan yang sakit terhadap hewan yang sehat. Kuman yang terdapat pada air liur masuk ke dalam tubuh hewan yang tergigit melalui jaringan (Sari 2004).
• Peralatan yang terkontaminasi
Peralatan yang terkontaminasi juga dapat menularkan penyakit TBC seperti jarum, thermometer rektal, jaring yang terkontaminasi, peralatan makan, masker pembius, serta alat-alat lainnya (Sari 2004).
• Infeksi silang
Tuberkulosis dapat ditularkan dari manusia atau sapi kepada kelinci dengan rangkaian tanpa akhir. Selain itu juga tikus putih dapat menjadi carrier penyakit (Sari 2004).

Setelah mikroorganisme berada dalam tubuh sesuai dengan cara masuknya, selanjutnya bakteri tersebut akan disebarkan keseluruh tubuh. Menurut Yuniarti (2005), terdapat empat macam jalur penyebaran TBC yang terdiri dari:
• Penyebaran secara langsung,
• Melalui sistem kardiovaskular dan aliran darah,
• Melalui sistem limfatik,
• Melalui bronchus dan saluran gastrointestinal.
Setelah mikrobakteria menempatkan diri dalam jaringan, mereka tinggal secara intrasellular dalam monosit, sel retikuloendotelial, dan sel raksasa. Lokasi intrasel merupakan satu cirri yang menyulitkan kerja khemoterapi dan menguntungkan bagi mikrobakteria. Infeksi selalu terjadi, langsung atau tidak langsung, dari hewan-hewan terinfeksi, hasil sekresi atau ekskresi mereka. Insidensi penyakit selalu tinggi jika hewan tetap berada di bangunan dengan ruang terbatas, ventilasi yang buruk, dan cahanya matahari yang kurang (Davies 1947).




Kejadian Penyakit dan Gejala Klinis
a. Manusia
Infeksi mikobakteria pada manusia bisa disebabkan oleh beberapa spesies Mycobacterium seperti M. tuberculosis, M. leprae, M. bovis, M. avium complex dan masih banyak lagi spesies lain meskipun tidak begitu patogen.
Penyakit tuberkulosis sudah membunuh manusia semenjak 1000 tahun yang lalu. Sampel pengujian diambil dari jaringan Mumi di Mesir. Tuberkulosis membunuh ± 3 juta nyawa di dunia setiap tahunnya, keadaan ini diatas AIDS, malaria, dan penyakit berbahaya lainnya. Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang paling tinggi menyebabkan kematian dan memperlihatkan lebih dari seperempat persentase kematian di dunia terutama pada penderita AIDS. Pada manusia, ada beberapa gejala klinis yang dapat diamati diantaranya:
– Batuk-batuk berdahak lebih dari dua minggu, batuk berdarah atau pernah mengeluarkan darah, dada terasa sakit atau nyeri, terasa sesak pada waktu bernafas.
– Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas dan tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik.
– Nafsu makan tidak ada (anorexia) dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik (failure to thrive).
– Demam lama/berulang tanpa sebab yang jelas, setelah disingkirkan kemungkinan penyebab lainnya (bukan tifus, malaria atau infeksi saluran nafas akut), dapat juga disertai keringat malam.
– Gejala - gejala dari saluran nafas, misalnya batuk lama lebih dari 30 hari (setelah disingkirkan sebab lain dari batuk), nyeri dada ketika bernafas atau batuk.
– Apabila bakteri TB menyebar ke organ-organ tubuh yang lain, gejala yang ditimbulkan akan berbeda-beda. Misalnya, kaku kuduk, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran pada TBC otak & saraf (meningitis TB)
– Pembengkakan tulang pinggul, lutut, kaki dan tangan, pada TBC tulang & sendi
Semua gejala yang ditimbulkan diatas sering berkaitan dengan patogenitas organisme, pejalanan penyakit, tingkat infeksi, dan beberapa faktor dari induk semang. Masa inkubasi tuberkulosis sangat lama, kejadiannya berlarut-larut, dan gejala klinis yang nyata jarang terlihat dengan jelas hingga penyakit ini berkembang lebih lanjut (Chivers dan Ford 1978).

b. Pada Hewan
Hewan yang peka terhadap penyakit ini adalah sapi dan domba (M.tuberculosis, M. bovis, M. leprae, M. avium complex, M. kansasii, M.fortuitum dan M. Chelonae), babi (M. avium complex), kuda (M. tuberculosis) , burung (M. avium complex, M. genavense, M. xenopi ), ikan (M. avium complex, M. marinum, M. scofulaceum, M. simiae, M. xenopi, M. fortuitum, M. chelonae, M. flavescens, M. fallax ), anjing, kucing, tikus dan kelinci (M. tuberculosis, M. avium complex, M. leprae).
Gejala klinis utama pada hewan tidak jauh berbeda dengan gejala pada manusia, seperti :
• Kekurusan dan lemah, walaupun perawatan dan gizi cukup baik
• Terkadang juga menunjukan gejala diare, enteritis, ulserasi kulit, (Sesline et al 1975; Rufianti 1996
• TBC pada bangsa burung dan ayam petelur akan menyebabkan penurunan produksi telur (Retno et al 1998).
• TBC pada sapi perah dapat menyebabkan penurunan produksi susu
• TBC pada sapi potongdapat menyebabkan dan penurunan kualitas karkas. Gejala dengan diare, meskipun tidak umum, pernah dilaporkan terjadi).

Diagnosa
Diagnosa tuberculosis menurut Sari (2004) didasarkan pada sejarah, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, roentgen, dan uji tuberkulinasi.

1. Sejarah
Dignosa ini dilakukan dengan cara menelusuri sejarah penularan penyakit dan kasus-kasus yang pernah terjadi di lingkungan sekitar hewan yang terjangkit TBC. Bila terdapat sejarah kasus sebelumnya maka dapat dilakukan penanggulangan dini sehingga kasus tidak berlarut-larut dan berakhir dengan kematian orangutan.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik lengkap orangutan dengan memperhatikan perubahan fisik seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, seperti kekurangan nafsu makan, lemah, letih, lesu, kurus meskipun diberikan gizi yang berkualitas, batuk-batuk berdahak lebih dari dua minggu terkadang disertai darah, sesak nafas, muntah-muntah, pembengkakan pada persendian. Gejala yang cukup spesifik pada unggas biasanya akan mengakibatkan penurunan produksi telur, pada sapi perah terjadi produksi susu, dan pada sapi potong terjadi penurunan kualitas karkas. Pemeriksaan juga dilakukan pada kulit. Ulserasi kulit menandakan adanya infeksi pada tulang (Anonimus V, 2007).
3. Pemeriksaan laboratorium
• Pemeriksaan patologis organ post mortum (Makroskopis)
Terjadi lesi pada limfonodus thoraks dan parenkim paru-paru, selaput lendir rongga pleura & peritoneum, kelenjar susu, perikardium, ginjal, jaringan otot yang merupakan perluasan dari mikobakteria pada tulang. Pada saat paru secara ekstensif terlibat, biasanya akan terjadi batuk setiap saat. Ketika terjadi perlukaan bagian dalam, limpa, dan hati akan mengalami pembesaran. Pada kasus lebih lanjut, limfonodus membengkak dan ada beberapa yang pecah dan mengalir pada permukaan. Perubahan patologis lainnya adalah limfoglandula bernanah, terdapat pengkejuan di saluran respirasi (Chivers dan Ford 1978).










a b
Gambar 6. Perubahan patologis pada paru-paru a. nekrosis pada organ baru, b. pengkejuan pada saluran pernafasan (Anonimus VII, 2009).

• Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan darah dan dahak. Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengetahui laju endapan darah (LED) dan jumlah sel darah putih. Pemeriksaan sel darah putih menggunakan lymphocyte transformation test. Bakteri TBC dalam darah dapat juga ditunjukan dengan menginokulasi darah dengan kultur. Serum adalah media terbaik untuk kultur karena bakteri tuberculosis adalah organisme yang pertumbuhannya sangat lambat dan tidak dapat tumbuh pada media biasa (Davies 1947).
• Isolasi pada Kultur Jaringan
Untuk mengisolasi bakteri ini dapat diambil spesimen yang berasal dari sputum segar, pencucian lambung, cairan tulang sendi, materi biopsi, darah dan material lain yang dicurigai.
Penanaman
Menurut Mudihardi (2005), ada beberapa macam media yang dipergunakan untuk menumbuhkan mikobakterium antara lain :
Media agar semisintetik
Media ini (yaitu Middlebrook 7H10 dan 7H11) berisi garam tertentu, vitamin, kofaktor, asam oleat, albumin, katalase, gliserol, glukosa, dan malachite green; medium 7H11 berisi kasein hidroksikolat. Albumin berfungsi dalam menetralkan toksin dan menghambat pengaruh asam lemak dalam spesimen atau medium. Inokulan yang luas membuat media ini lebih sensitive daripada media lain untuk isolasi primer dari mikobakterium
Media telur inspisasi
Media ini (yaitu Lowenstein-jensen) berisi garam tertentu, gliserol, dan substansi organic kompleks (yaitu telur segar atau kuning telur, tepung kentang dan bahan-bahan lain dengan komposisi yang bervariasi). Malachite green dimasukkan untuk menghambat bakteri lain. Inokulan kecil dalam spesimen dari pasien akan tumbuh pada media ini selama 3-6 minggu. Jika media ini ditambahkan antibiotic, maka dapat digunakan sebagai media selektif.
Media kaldu (Broth media)
Media kaldu (yaitu middlebrook 7H9 dan 7H12) mendukung proliferasi inokulan kecil. Biasanya, mikobakteria tumbuh dalam rumpun atau massa karena sifat hidrofobik dari pemukaan sel. Jika Tween (ester larut air dan asam lemah) ditambahkan, mereka membasahi permukaan dan menyebabkan penyebaran pertumbuhan dalam media cair. Pertumbuhan seringkali lebih cepat daripada media kokmpleks. Kultur ini diinkubasi sedikitnya selama 2-6 minggu (Merchant dan Packer 1961).

Gambar 7. Koloni M. tuberculosis pada media agar (Anonimus II, 2009)

Pewarnaan Ziech-Nielsen
Kerokan dari jaringan yang dicurigai harus diwarnai dengan pewarnaan Ziech-Nielsen. Hal ini disebabkan oleh tuberkel sulit diwarnai dengan metoda Gram dan celupan aniline biasa. Karbolfusin memungkinkan uji ini dilakukan dalam 12 jam, atau proses dapat dipercepat dengan memanaskan film selama 3-5 menit. Preparat dicuci dengan air dan film dihilangkan warnanya dengan pencucian menggunakan alkohol 95% berisi HCl 3%. Karbolfucsin menggantikan fungsi methylene blue atau malachite green. Tuberkel berbentuk bintik merah. Sebuah penemuan menunjukan bahwa bacilli tuberkel dapat diwarnai tanpa harus dipanasi jika bermacam-macam permukaan agen pengganti, seperti tergitol, ditambahkan ke dalam karbolfucsin (Sari 2004). Menurut Anonimus I (2009) teknik melakukan pewarnaan ini adalah sebagai berikut :
1. Panaskan apusan spesimen pada gelas objek
2. Gelas objek tersebut dibasuh dengan carbol fuchsin
3. Panaskan kembali objek glass selama 5 menit
4. Tuangkan kembali carbol fuchsin
5. cuci gelas objek dengan air
6. Cuci dengan asam-alkohol selama 5 menit
7. Cuci kembali dengan air,
8. Warnai kembali dengan methylene blue selama 1 menit.
9. cuci lagi dengan air dan dikeringkan pada api Bunsen
10. kemudian dilihat dibawah mikroskop
4. Rontgen
Biasanya roentgen dilakukan pada bagian dada dan perut dengan posisi vertical.. Prosedur ini sangat berguna untuk mengecek kembali keadaan hewan setelah pengobatan (Fowler 2003). Bercak-bercak putih di daerah paru-paru yang tampak pada hasil roentgen menunjukan adanya perlukaan yang disebabkan oleh bakteri tuberculosis.
5. Diagnostic Test Information
• Tes untuk deteksi mikroorganisme (organism test detection)
a. Acid Fast Bacilli (AFB) stain untuk mikroskop cahaya
b. Acid Fast Bacilli (AFB) stain untuk mikroskop fluorescence



• Immunoassay Tes
a. Quantiferon

b. Tuberkulin tes
Uji ini dilakukan untuk mengetahui positif atau negatifnya penyakit TBC pada hewan. Uji ini sering dilakukan karena sangat mudah dan hasilnya cepat terlihat. Kelemahannya adalah. Pada hewan yang telah divaksin BCG akan terlihat hasil (yang positif walaupun hewan tidak mengidap TBC (Sari, 2004). Terdapat tiga cara uji tuberkulinasi yang sering digunakan yaitu, subkutan, intradermal, dan ophthalmic. Tuberkulinasi secara intradermal adalah yang paling ekonomis dan praktis dilakukan untuk diagnosa rutin. Dua uji tuberkulinasi lainnya bebas untuk digunakan kecuali dalam reaksi tidak terbatas untuk uji intradermal (Merchant dan Packer 1961).
Purified Protein Derivative (PPD) tuberkulinasi yang dibuat dari M bovis atau M. avium telah digunakan secara luas. Namun demikian, Old Tuberculin (OT) yag dibuat dari strain M. tuberculosis atau M. ovis terus digunakan di dunia ilmu kedokteran hewan yang bertanggungjawab atas kesehatan primate dan spesies hewan liar lainnya
Dosis yang digunakan untuk penyuntikan intradermal adalah 0,1 ml atau sama dengan 5000 TU (Tuberculin Units) pada mamalia dan 0,05 ml pada unggas. Jarum yang digunakan untuk penyuntikan berukuran 3/8 inci dengan nomor 25-27. di Amerika, tuberkulinasi pada mamalia yang lebih besar juga disuntikan pada lipatan bagian perut, telinga, dan kelopak mata. Namun demikian penyuntikan di daerah perut jarang dilakukan karena bersifat “delayed hypersensitivity” atau hipersensitifitas yang dipersambat. Daerah penyuntikan diperiksa dengan observasi dan palpasi, dengan karakteristik pembengkakan 48 jam untuk primate dan 72 jam untuk ruminansia.
Hewan yang diuji kemudian diobservasi selama tiga hari. Hasil positif diindikasikan dengan kemerahan ringan pada kelopak mata, oedema, discharge, dan necrosa local. Reaksi yang negatif mengindikasikan tidak adanya penyakit atau penyakit belum berada pada tahap lanjut. Hewan dengan hasil yang diragukan harus diuji ulang, dengan waktu minimum 14 hari setelah uji pertama, yang dilakukan pada kelopak mata yang berlawanan dari uji sebelumnya. Hewan dengan hasil positif atau dengan hasil meragukan sebanyak dua kali harus diisolasi dan dipertimbangkan terkena tuberculosis. Umumnya, euthanasia disarankan, namun demikian dengan pertimbangan khusus hal inidapat dihindari mengingat semakin kecilnya jumlah populasi orangutan (Kenyorini dkk, 2006).
• Tes deteksi asam nukleat
a. Amplified Mycobacterium Tuberculosis Direct Test (MTD)
b. Enhanced Amplified Mycobacterium Tuberculosis Direct Test (E-MTD)
c. AMPLICOR Mycobacterium tuberculosis Test
d. A multiplex PCR assay for detection and identification of mycobacteria
e. Molecular beacon for detecting drug resistance
• Tes lainnya
a. Drug Susceptibility by BACTEC systems
b. RFLP of IS6110 for strain typing
c. Spoligotyping for strain typing
d. MIRU typing
e. Gas chromotography / mass spectrometry

Pencegahan dan pengendalian
1. Vaksin BGC
Calmette dan Guerin, dua orang ilmuan Perancis pada tahun 1952 menemukan vaksin yang diberi nama vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Vaksin BCG dibuat dari strain tipe bovine. Vaksin BCG dapat dipakai untuk upaya pencegahan (Davies 1947). Vaksin ini selain menimbulkan kekebalan juga dapat menimbulkan reaksi alergi yang hebat pada hewan positif mengidap tuberculosis, sehingga hasil itu lebih dipercaya dari pada uji tuberkulinasi. Namun demikian, pada umumnya vaksin ini tidak digunakan pada program pencegahan karena hewan yang pernah divaksinasi BCG akan memberikan hasil positif terhadap uji tuberkulinasi walaupun tidak terinfeksi tuberculosis (Sari 2004).
2. Bisafety dan Biosecurity
Usaha pencegahan dilakukan sejak pertama kali melalui program rehabilitasi (karantina dan isolasi) dan uji tuberkulinasi. Hewan harus menunjukan hasil negatif pada uji tuberkulinasi sebanyak tiga sampai lima kali dalam pemeriksaan selama dua minggu. Secara rutin terutama pada primate tetap diberikan uji tuberkulinasi setiap tiga bulan sekali (Chivers dan Ford 1978).
Kebun binatang hanya menerima Orangutan yang tidak memiliki riwayat TBC. Karantina harus dilakukan terhadap seluruh Orangutan yang baru dating dengan waktu minimum selama 60 hari. Kandang pertunjukan pada kebun binatang harus dilengkapi dengan pelindung kaca untuk melindungi mereka dari pengunjung yang mungkin terinfeksi oleh M. tuberculosis (Rufianti 1996).
3. Perbaikan gizi dan Fasilitas kandang
Pencegahan juga dapat dilakukan dengan perbaikan gizi, pengadaan tempat kandang, dan tempat karantina yang sehat dan berventilasi baik. Pada kandang hewan terinfeksi dan tidak terinfeksi, sinar ultraviolet dan pemberian desinfektan aerosol dapat memperlambat penularan penyakit (Chivers dan Ford 1978). Pemeriksaan terhadap petugas kandang dan perawat hewan terhadap penyakit TBC harus dilakukan. Hanya perawat yang negative terhadap TBC yang diijinkan merawat Orangutan sehingga tidak terjadi penularan kepada hewan (Sari 2004).
4. Kandang harus bersih seingga meminimalisasi resiko terbentuknya aerosol atau droplet yang berpotensi dalam mengkontaminasi material. Para pekerja juga harus dilengkapi dengan peralatan pelindung seperti masker, pakaian kandang, sepatu kandang, dan sarung tangan,
5. Tangan harus selalu dicuci, terutama setelah menangani hewan, pakannya, material kandang, kotoran, tissue, atau cairan tubuh,
6. Contoh serum dari orang-orang yang bekerja di kandang terutama dengan primata harus dikumpulkan. Bagi orang-orang yang bekerja di area berisiko tinggi, pemeriksaan serum sebaiknya dilakukan rutin setiap tahun,
7. Pegawai wajib melaksanakan prosedur kesehatan pribadi baik di dalam maupun di luar tempat kerja. Hal ini termasuk tidak merokok, makan, atau minum di area satwa, selalu mencuci tangan, menjauhkan tangan dari mulut, hidung dan mata ketika bekerja di sekitar hewan dan kotorannya, tidak menggigit-gigit pulpen, pensil, ataupun jarum (karena adan yang tahu dari mana benda tersebut berasal dan siapa yang baru saja menyentuhnya),
8. Pegawai yang terkena flu atau batuk tidak boleh bekerja di sekitar hewan sampai mereka sembuh tau harus memakai masker ketika meniapkan makanan dan bekerja di sekitar hewan,
9. Para pegawai harus mengambil tindakan untuk mencegah gigitan orangutan. Jika terluka, harus segera dicuci dengan desinfektan, sabun dan air. Luka terbuka pada tangan harus ditutup atau menggunakan sarung tangan pada saat bekerja,
10. Para pekerja tidak boleh menggunakan peralatan dan perlengkapan hewan untuk kepentingan pribadi,
11. Hewan pengerat dan serangga harus dikontrol untuk mencegah penyebaran penyakit baik dari dalam ke luar atau dari luar ke dalam.

Pengobatan
Pengobatan TBC pada hewan biasanya jarang dilakukan kecuali pada satwa primata langka seperti orangutan. Jika terdapat kasus TBC, biasanya dimusnahkan dengan euthanasia (Sari 2004). Tiga agen kemoterapi yang digunakan saat ini yaitu streptomycin, paraaminosalicylic acid (PAS) dan isoniazid (INH). Percobaan klinis menunjukan bahwa kombinasi dua obat streptomycin, isoniazid, dan PAS memberikan hasil pengobatan yang lebih baik dibandingkan dengan pemakaiaan secara individu (Soltys 1963). Menurut Anonimus (2007), obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atau dua kelompok yaitu:
• Obat primer : INH (Isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisisn, Pirazinamid.
• Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat (PAS), sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan kanamisin.
Pengobatan pada satwa primata, khususnya orangutan hampir sama dengan pengobatan pada anak-anak. Obat-obatan dan dosis yang digunakan pada orangutan dan mekanisme kerjanya dapat dilihat pada pada tabel 2 dan gambar 8 berikut.
Tabel 2. Obat-obatan dan dosis yang digunakan pada orangutan
Obat Dosis harian
(mg/kgbb/hari) Dosis 2x/ minggu
(mg/kgbb/hari) Dosis 2x/ minggu
(mg/kgbb/hari)
INH
Rifampisisn
Pirazinamid
Etambutol
Streptomisin 5-15 (maks 300 mg)
10-20 (maks 600 mg)
15-40 (maks 2 mg)
15-25 (maks 2,5 g)
15-40 (maks 1 g) 15-40 (maks 900 mg)
10-20 (maks 600 mg)
50-70 (maks 4 g)
50 (maks 2,5 g)
25-40 (maks 1,5 g) 15-40 (maks 900 mg)
15-20 (maks 600 mg)
50-30 (maks 3 g)
15-25 (maks 2,5 g)
25-40 (maks 1,5 g)


Gambar 8. Mekanisme masing-masing obat dalam menginaktifkan sel mikobakteria (Anonimus III, 2009)

Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan dalam anonimus (2007) yaitu:
a. 2HR/7H2R2 : INH + Rifampisin, setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH + Rifampisin setiap hari atau 2 akli seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH)
b. 2HRZ/4H2R2 : INH + Rifampisin + Pirazinamid, setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH + Rifampisin setiap hari atau 2 akli seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).
Menurut Anonimus (2007), jika INH dan Rifampisin diberikan bersamaan pada pengobatan TBC, maka dosis maksimal perhari INH 10mg/ kgbb dan Rifampisin 15 mg/ kgbb. Obat-obatan lainnya dapat juga diberikan sesuai dengan gejala klinis yang muncul, seperti antipiretik untuk demam yang timbul, atau antihistamin jika timbul gejala alergi lainnya (Sari 2004).

Daftar Pustaka
Anonimus I. 2009. Mycobacterium tuberculosis. http://www.amazon.co.uk. [Download 11 Maret 2009]

Anonimus II. 2009. Mycobacterium tuberculosis. http://images.google.co.id. [Download 11 Maret 2009]

Anonimus III. 2009. Mycobacterium tuberculosis. http://www3.niaid.nih.gov/NR/rdonlyres/30846D21-3A68-44B9-B222-7D740430DC2E/0/tb1.jpg. [Download 11 Maret 2009]

Anonimus IV. 2009. Tuberculosis. http://farm4.static.flickr.com/3009/2889230887_685a09064e.jpg. [Download 11 Maret 2009]

Anonimus V. 2005. Permasalahan Tuberkulosis Kini, Masa Datang dan Penaggulangannya. Pokja TB Balitbangkes. Jakarta.

Anonimus VI. 2007. Penyakit TBC. http://www.medicastore.com. [Download 11 Maret 2009]

Anonimus VII. 2009. Tuberculosis. http://eyepathologist.com/images/BD452G03.jpg. [Download 26 Maret 2009]

Anonimus VIII. 2009. Tuberculosis.
http://www.wikipedia.com. [Download 11 Maret 2009]

Chivers, D.J., Ford, E.H.R. 1978). Recent Advances in Primatology, Vol. 4 Medicine. Academic Press. London.

Chrysantina, dkk. 2004. Analisis Parsial dan Temporal Kasus Tuberkulosis di Kota Yogya, Juli-Desember 2004. Jurnal. FK-UGM. Yogyakarta.

Davies, G.O. 1947. Veterinary Pathology and Bacteriology, Ed ke-3. Bailliere Tindal and Cox. London.

Kenyorini, dkk. 2006. Uji Tuberkulin. Jurnal. Bagian Pulmonary dan Kedokteran Respirasi FK-UNS. Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. Jakarta.

Merchan, I.A., and Packer R.A. 1961. Veterinary Bacteriology and Virology, edisi ke-6. Ames: Iowa State University Press.

Mudihardi, E dkk. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Salemba Medika. Surabaya.

Rufianti, R. 1996. TBC (Tuberkulosis) pada Satwa Primata. Karya Tulis. FKH-IPB. Bogor.

Sari, Y.S. 2004. penyakit Infeksius yang menular Melalui Udara pada Orangutan (Pongo pygmaeus). Karya Tulis. FKH-IPB. Bogor.

Yuniarti, K. 2005. Pengaruh TBC pada Orangutan terhadap Angka Kepuanhan Primata. Karya Tulis. FKH-IPB. Bogor.

3 komentar:

  1. Mantap mas. .lengkap bget..salut. .!!
    Aq mnt tlg diqrmin myco.lepra kalo ada y selengkap ini ^_^
    Ni email qu,. funnyzm@yahoo.com.hk
    Thnx be4 after . .

    BalasHapus
  2. alhamdulillah.... bagus sekali nih mas buat referensi laporan praktikum. hehehe..
    tentang candida albicans ada gk mas? hehe
    hefnirambe@gmail.com

    BalasHapus
  3. fanny...............sip..........tar kalo ada aku kirim......

    Hefni...........
    iya makasih atas kunjungannya.......
    iya tar tak cari dulu tar kalo ada aku kirim....

    Kalian semangat ya....kuliahnya

    BalasHapus