Selasa, 23 November 2010

Enteritis dan ancylostomiasis

Enteritis

Radang usus yang bersifat akut maupun kronis dapat mengakibatkan peningkatan peristaltik usus, kenaikan jumlah sekresi kelenjar pencernaan serta penurunan proses penyerapan cairan maupun sari-sari makanan yang terlarut di dalamnya. Radang usus primer maupun sekunder ditandai dengan menurunnya nafsu makan, menurunnya kondisi tubuh, dehidrasi dan diare. Perasaan sakit karena adanya radang usus bersifat bervariasi, tergantung pada jenis hewan yang menderita serta derajat keradangan yang dideritanya (Subronto, 1995).

Radang ini dicirikan dengan kehilangan perakut gerakan mukosal intestinal dengan perpindahan secara cepat dari darah, cairan dan elektrolit ke lumen usus. Dehidrasi dan shock hipovolemik terjadi secara cepat. Translokasi dari bakteri atau toksin bakteri akanmenyebabkan kerusakan mukosa intestinum dan mengakibatkan shock septik atau shock endotoksik. Elektrolit, terutama Natrium dan Kalium ikut hilang bersama dengan hilangnya cairan tubuh. Terganggunya keseimbangan elektrolit dalam tubuh dapat menyebabkan dehidrasi yang bisa berakibat fatal, apalagi dalam keadaan sakit yang berat, baik pada hewan dewasa maupun muda (Nugroho dan Whendarto, 1998).

Etiologi

Radang usus dapart dibedakan oleh berbagai agen etiologik, baik yang bekerja secara terpisah atau secara bersama-sama (Subronto, 1995). Enteritis dapat disebabkan oleh agen infeksius (bakteri, virus), diet makanan yang buruk, perubahan diet pakan mendadak, bahan kimia (fenol, arsen, thalium , phosphor) dan parasit (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003)

Kuman –kuman yang dapat menyebabkan enteritis antara lain Escherichia coli, Salmonella sp., Campylobacter jejuni, Clostridium perfringens.

Parasit yang dapat menyebabkan enteritis antara lain Ancylostoma sp., Ascaris sp., Strongyloides, cacing pita, Protozoa (Giardia, Coccidia, Cryptosporodia).

Radang usus yang disebabkan oleh virus antara lain Feline Parvoviral Enteritis, Feline Coronaviral Enteritis, Feline Leukemia Virus.

Gejala

Rasa sakit ditandai dengan kegelisahan. Diare merupaka gejala yang selalu dijumpai dalam radang usus. Tinja yang cair dengan bau yang tajam mungkin bercampur dengan darah, lendir atau reruntuhan jaringan usus. Pada radang yang kronik, terjadi kekurusan dengan tinja yang bersifat cair, berisi darah, lendir atau reruntuhan jaringan yang jumlahnya mencolok. Akibat kehilangan cairan yang berlebihan, penderita akan mengalami dehidrasi yang mencolok. Radang usus akut selalu disertai dengan oligo uria atau anuria, dan disertai dengan menurunnya nafsu makan, anoreksia total maupun parsial. Pada radang kronik biasanya bafsu makan tidak mengalami perubahan (Subronto, 1995). Tanda lain seperti diare disertai atau tanpa muntah, demam, anoreksia, depresi dan sakit pada abdomen (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003).

Diagnosa

Anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium (darah dan tinja) digunakan untuk mengidentifikasi penyebab radang usus. Diagnosa tentatif diambil bila tidak ditemukan penyakit tersifat penyebab diare (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003).

Terapi

Pengobatan ditujukan untuk mengatasi penyebab primernya, perlu dipertimbangkan pemberian protektiva, adstringensia. Rasa sakit yang terus menerus dapat dikurangi dengan pemberian analgesika atau transquilizer. Pemberian cairan faali maupun elektrolit mutlak diberikan unutuk mengganti cairan yang hilang. Pemberian antibiotik dapat dilakukan unutk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

Ankilostomiasis

Cacing Ankilostoma mempunyai banyak spesies yang dapat menginfeksi mamlia. Ankilostoma pada kucing yaitu Ancylostoma tubaeformis dan Ancylostoma braziliense, kadang-kadang kucing juga dapat terinfeksi oleh Ankilostoma pada anjing yaitu Ancylostoma caninum (Anonim, 2006).

Cacing Ankilostoma berukuran 10-20 mm, dan yang dewasa biasanya ditemukan melekat pada mukosa usus halus. Telurnya trmasuk tipe strongyloid, yaitu berdinding tipis, oval, dan bila dibebaskan dari tubuh biasanya memiliki 2-8 gelembung dalam stadium blastomer (Subronto, 2006).

Cacing dewasa melekat pada mukosa usus dan dengan giginya memakan cairan jaringan, biasanya darah (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003). Bagian mulut cacing ini dimodifikasi untuk melukai lapisan jaringan, menghisap darah dan menyebabkan hemoragi pada usus halus hospes (Anonim, 2006). Cacing ini akan menghasilkan antikoagulan, sehingga luka tetap berdarah beberapa saat setelah cacing berpindah tempat. Kucing muda akan kehilangan darah dalam jumlah besar, atau mengalami anemia karena defisiensi Fe. Kucing akan diare, feses bercampur darah, kadang disertai muntah (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003).

Gejala klinis

Gejala utama yang timbul berhubungan dengan kehilangan darah dan iritasi gastrointestinal. Kelemahan umum, anemia, dehidrasi, anoreksia, kurus, pertumbuhan terhambat, depresi bahkan kematian terjadi. Larva dapat bermigrasi ke organ-organ internal seperti hepar atau paru-paru menyebabkan hepatitis dan pneumonia (Bistner, 1985).

Infeksi dari cacing kait dapat terjadi melalui beberapa cara:

1. Infeksi melalui kulit

Larva stadium ketiga yang infekstif langsung menembus kulit yang segera diikuti proses migrasi larva ke dalam pembuluh darah atau limfe, langsung ke jantung, paru-paru dan selanjutnya menuju pangkal tekak, kerongkongan dan lambung. Larva akan berubah menjadi cacing dewasa muda di dalam usus halus.

2. Infeksi secara oral

Larva stadium ketiga yang infektif memasuki tubuh melalui mulut bersama makanan. Larva tersebut bermigrasi ke dalam lapisan atas dari mukosa usus halus dalam beberapa hari setelah tertelan, kemudian kembali ke lumen usus halus. Di dalam lumen berkembang menjadi dewasa setelah mengalami dua kali moulting (Subronto, 2006). Infeksi parasit kebanyakan melalui ingesti dari telur. Kejadian ini terjadi ketika kucing menjilati daerah yang mengandung feses kucing terinfeksi seperti halaman, taman dan rumput.

3. Infeksi transmamaria dan intra uterus

Dalam migrasinya larva dapat mencapai uterus menembus selaput janin hingga anak yang baru dilahirkan pun telah mengandung larva di dalam tubuhnya. Larva tersebut dapat juga mencapai kelenjar susu dan dapat terlarut dalam air susu hingga anak yang masih menyusu dapat terinfeksi melalui susu yang diminum.

4. Infeksi melalui hospes paratenik

Larva yang bermukim di dalam tubuh hewan yang bertindak sebagai hospes paratenik, mencit misalnya, dapat menginfeksi anjing dan kucing atau spesies lain yang rentan cacing tambang bila binatang hospes paratenik tersebut terkonsumsi (Subronto, 2006).

Diagnosa

Untuk mendiagnosa infeksi Ancylostoma sp. Digunakan pemeriksaan feses metode natif dan sentrifuse, kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk mengidentifikasi telur cacing yang ditemukan. Sampel darah juga dapat mengindikasikan jika terdapat defisiensi Fe atau protein akibat infeksi dan tingkat keparahan infeksi (Shah, F.S.N, 2000).

Terapi

Pemberian bermacam-macam anthelmentik adalah efektif. Terapi biasanya diulang kira-kira dalam 3 minggu untuk membunuh parasit yang masuk dalam lumen interstisial dari jaringan (Nelson,R.W. dan Couto,C.G., 2003). Ancylostomiasis dapat diterapi dengan pemberian mebendazole. Obat lain yang dapat diberikan antara lain albendazole dan pyrantel. Anemia karena defisiensi Fe adalah masalah utama pada ancylostomiasis, pemberian suplemen Fe dan konsumsi makanan tinggi protein dapat memperbaiki kondisi (Shah, F.S.N, 2000).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar