Kamis, 13 Januari 2011

potong eko

  1. Operasi

Hewan yang sudah teranastesi, disiapkan di atas meja operasi dengan posisi rebah ventral. Daerah operasi diolesi antiseptik secara sirkuler dari bagian sentral ke perifer. Pangkal ekor ditutupi dengan dook steril, torniquet dengan karet gelang dipasang pada pangkal ekor untuk mengurangi perdarahan. Kemudian kulit diolesi alkohol 70% dan dibiarkan kering, setelah itu diusapkan Iodium tincture 3%. Tentukan tempat operasi yaitu pada ruas tulang ekor yang agak menonjol ke atas. Kulit yang akan diincisi ditarik ke depan sedikit dari tempat pemotongan sehingga kulit yang tersisa lebih panjang dari tulang ekor yang tersisa setelah pemotongan, hal ini untuk mempermudah penjahitan kulit. Irisan pada kulit secara melingkar dengan skalpel pada bagian dorsal dan ventral, kulit dan subkutan diprepair kedepan sedikit dari tempat pemotongan vertebrae. Kedua pembuluh darah di lateral diligasi. Pemotongan tulang ekor dilakukan di antara dua vertebrae, tepat di intercocygeal. Muskulus pada bagian ventral vertebrae diiris miring sehingga masih dapat digunakan untuk menutup tulang yang dipotong. Setelah pembuluh darah bagian bawah diligasi, torniquet dilepas pelan-pelan, bila masih terlihat ada perdarahan perlu diligasi kembali sampai tidak terlihat perdarahan lagi. Sisa potongan muskulus dilipat keatas dan dijahit dengan pola jahitan sederhana menerus, kemudian dilanjutkan bagian subkutan dengan benang catgut dan bagian kulit dengan katun dengan jahitan sederhana tunggal. Kemudian dilakukan pemerbanan setelah itu luka operasi diolesi dengan iodium tincture dan diberi salep Isodine.

Perawatan Pasca Operasi

Perawatan pasca operasi meliputi pemberian antibiotik untuk menghindari terjadinya infeksi sekunder. Ajing diinjeksi dengan Ampicillin secara intramuskuler 2 kali sehari selama 4 hari. Pada luka bekas operasi diberi salep Isodine setiap hari sebanyak 2 kali sampai luka kering kemudian dilakukan pengambilan jahitan (1 minggu pasca operasi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar