Kamis, 13 Januari 2011

Sarcoptes spp

Sarcoptes spp merupakan parasit tungau yang mampu menyerang berbagai hewan mamalia dan manusia. Menyebabkan infeksi kulit yang menimbulkan rasa gatal yang menjengkelkan yang berupa kudis. Banyak berbagai jenis penyebab kudis diantaranya Sarcoptes scebiei var. suis yang biasa menyerang pada domba, Sarcoptes scebiei var. bovis yang menyerang pada sapi, Sarcoptes scebiei var. canis biasanya menyerang pada anjing dan lain sebaginya. Biasanya nomenklatur sarcoptes didasarkan pada sepesies hospes yang diserangnya, dalam hal pengendalian penyakit pengetahuan seperti ini penting, karena parasit ini dapat pindah dari hospes satu ke hospes yang lain. Walaupun begitu, ada juga yang menganggap sarkoptes-sarkoptes tersebut hanyalah satu. Hal ini berdasarkan parasit ini dapat berpindah dari hospes satu ke hospes lain, yang mungkin saja sarcoptes pada satu spesies merupakan variasi dalam evolusinya.

Pada anjing-anjing yang lemah biasanya lebih peka (mudah terkena) terhadap penyakit kudis, biasanya penyakit ini berjalan berkenan dengan pemberian makan yang kurang baik dan tidak bergizi serta didukung dengan menejemen yang buruk. Penyakit ini biasanya aktif pada cuaca yang basah dingin dan menyebar secara bertahap pada musim panas (Blood and Radostits,1989). Karena di Indonesia tidak ada musim panas dan dingin maka penyebaran tungau ini dapat sepanjang tahun.

Menurut Urquhart, dkk (1996), Sarcoptes scebiei yang sering menyerang pada hewan ini merupakan Phylum: Artropoda, Class: Arachanida, Ordo: Acarina, Family: Sarcoptidae, Genus: Sarcoptes, Spesies: Sarcoptes scabiei. Sedang Sarcoptes scabiei yang sering menerang pada anjing merupakan Sarcoptes scabiei var canis.

Parasit ini sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskup. Pada anjing parasit ini menyebabkan kudisan , biasanya parasit ini hidup dipermukaan kulit yaitu di stratum korneum atau di lapisan permukaan malpigi. Parasit ini dapat menyerang berbagai umur (Hartiningsih dkk,1999).

Parasit tungau ini berkaki pendek, kaki yang ketiga dan keempat tidak teratur melewati pinggir badan, pada tungau yang jantan mempunyai alat penghisap pada kaki 1,2 dan 4 dan sedangkan pada yang betina terdapat pada kaki 1 dan 2. tungau ini merupakan parasit yang sangat kecil sekali berbentuk bulat, pipih dengan panjang 300-600 mikron x 250-400 mikron pada betina, dan 200-240 mikron x 150-200 mikron pada yang jantan (Levine,1990).


Daur hidup

Daur hidup tungau betina dengan membuat liang didalam kulit untuk meletakkan telur mereka, meletakkan telur sebanyak 40-50 butir dalam liang yang dibuatnya. Setiap hari tungau tersebut bertelur 1 atau 2 butir dan dalam sehari jumlahnya 3-5 butir, yang akan menetas 3-5 hari sebagai larva. Kemudian larva bisa keluar dari lubang ke permukaan kulit atau tetap tinggal sebagai nimpa. Larva yang keluar akan mudah mengalami kematian atau masuk lagi membuat liang didalam lapisan tanduk, membentuk kantong-kantong dan berkembang sebagai tungau. Jika kita menyingkap kulit secara cepat maka akan terlihat trowongan tungau tersebut. Tungau dan larva hidup dengan memakan runtuhan jaringan (Levine,1990).

Blood and Radostits (1989) mengatakan waktu yang diperlukan telur untuk menjadi tungau dewasa antara 10-14 hari. Sedangkan menurut Levine, (1990) waktu yang diperlukan telur menjadi tungau dewasa lebih kurang 17 hari. Tungau betina dewasa akan tetap terdapat didalam kantung-kantung ujung liang sampai dibuahi oleh pejantan. Dalam 3-4 hari tungau betina bertelur lagi sampai berumur 3-4 minggu.

Parasit ini dapat pindah dengan kontak secara langsung dengan penderita atau secara tidak langsung melalui selimut, pakaian , alat ataupun tempat tidur. karena peralatan tersebut bisa sebagai agen pembawa parasit ini/ carier. Bila berada diluar hospes maka parasit ini sedikit yang mampu bertahan hidup biasanya hanya hidup beberapa hari saja, namun jika dimasukan pada laboratorium biasanya mampu bertahan sampai 3 minggu (Blood and Radostits ,1989).


Patogenesis

Tungau Sarcoptes spp merupakan parasit yang lebih menyukai tempat/ permukaan tubuh yang jarang rambutnya. Misalnya pada muka , daun telinga, moncong, pangkal ekor, kaki. Kadang pada sebagian anjing dapat menginfestasi keseluruh tubuh. Akibat yang ditimbulkan oleh tungau ini hanya sedikit yang mengalami perubahan pada berat badan dan efisiensi makanan, biasanya hanya merubah vitalitas dan kondisi hewan yang menjengkelkan, karena penampilannya terpengaruh/buruk. Tungau menembus kulit, menghisap cairan limfe dan memakan sel-sel epidermis. Rasa gatal yang sangat bias dialami oleh hospes dan jika digosok-gosokan atau digaruk akan menyebabkan rasa gatal dan sakitnya bertambah. Eksudat yang merembes keluar, menggumpal dan mongering membentuk sisik-sisik dipermukaan kulit. Selanjutnya terjadi keratinisasi dan poliferasi jaringan ikat, yang menyebabkan kulit menebal dan berkerut serta tidak lagi rata. Kejadian ini menyebakan rambut jadi jarang bahkan dapat hilang sama sekali (Urquhart, dkk ,1996; Amstutz dkk,1998).


Gejala-gejala

Anjing yang menderita biasanya menggaruk-garuk menggosok-gosok atau menggigit-gigit bagian yang terserang. Sekali tungau dapat berkembang mungkin seluruh permukaan tubuh dapat menderita. Gejala biasanya dimulai dari leher dan muka kemudian menyebar kebagian tubuh lainnya. Gejala paling awal/infeksi yang baru terjadi diikuti dengan pembentukan papula atau vesikula, disertai merembesnya cairan limfe. Hewan sangat menderita karena iritasi. Gejala yang dapat ditimbulkan oleh tungau ini adalah rasa gatal. Sehingga biasanya penderita yang sangat merasakan gatalnya diberbagi tubuh, dan menyebabkan hewan tidak tenang. Hewan tidak makan sebagai mana mestinya, yang lama kelamaan akan diikuti oleh kekurusan, kondisi hewan yang lemah akan lebih menderita (berat) dari pada hewan yang kondisinya bagus. Kulit terlihat berkerut, menebal, dan terdapat keropeng kering di atasnya. Parasit ini biasanya menyebabkan keradangan kronis (Anonimus,1991; Hartiningsih dkk,1999).


Diagnosis

Diagnosis dapat ditetapkan dari sejarah binatang tersebut yang berhubungan dengan rasa gatal pada kulit yang menjengkelkan dan keterlibatan binatang lain yang mungkin berhubungan dengan penyakit ini. Hal yang tidak boleh dilewatkan dalam mendiagnosis adalah goresan atau kerokan kulit yang dicurigai kemudian diperiksa di bawah mikroskup. Penegakan diagnosis ini didasarkan pada ditemukannya tungau melalui pemeriksaan kerokan kulit. Kerokan dilakukan pada kulit yang diduga terdapat Sarcoptes spp menggunakan pisau seteril sampai berdarah. Diagnosis biasanya sulit karena karena biasanya hanya sedikit parasit yang ditemukan pada kerokan kulit tersebut (Blood and Radostits ,1989).

Jika preparat kulit tersebut dibasahi dengan menggunakan NaCl fisiologis memungkinkan terlihatnya gerakan tungau yang masih hidup. Tapi perlu diketahui bahwa tungau yang terlihat tidak menjamin bahwa tungau tersebut adalah Sarcoptes spp, sehingga penggabungan dengan gejala klinis dan morfologinnya perlu di diperhatikan (Blood and Radostits ,1989).

Diagnosa banding terhadap penyakit ini perlu dipertimbangkan, karena ada beberapa diantaranya penyakit yang mirip. Seperti penyakit ketombe, ciri spesifik dari penyakit ketombe adalah kulit lunak dan mudah dilipat, serta pemeriksaan preparat kulit secara mikroskopik tidak ditemukan adanya parasit. Penyakit kadas, biasanya penyakit ini tidak disertai penebalan kulit dan ditemukannya spora yang menempel pada rambut. Kutu, scabies beda dengan kutu rambut karena kutu ini bisa dilihat dengan mata biasa serta tidak menyebabkan penebalan kulit hanya saja keduanya bias menghasilkan kropeng-kropeng dan rambut saling melekat.

Tungau Psoroptes, Notoedres, maupun Chorioptes biasanya menyerang pada bagian tubuh yang lain disamping pemeriksaan mikroskopiknya juga berbeda. Disamping itu perlu juga dibedakan dengan parasit Demodex, tentu sangat berbeda dengan scabies selain bentuknya , parasit demodex menyebabkan kudis yang sifatnya bernanah ataupun squamus (Belding,1965; Blood and Radostits ,1989).


Terapi

Dalam dermatologi veteriner berbagai terapi baru telah banyak memberikan keuntungan dalam pengobatan akibat penyakit parasit. Namun perlu diperhatikan terapi dengan cara baru serta penggunaan kombinasi dengan obat-obat yang telah dikenal beberapa tahun. Sehingga kesembuhan pasien dapat terjadi, selain itu sebelum dilakukan pengobatan efaluasai kondisi hewan perlu dilakukan (Dharmojono,2002).

Kudis biasanya dapat dikendalikan dengan cara pencelupan memakai akarisida. Beberapa produk bisa digunakan untuk mengatasi kudis akibat Sarcoptes spp ini. Sebelumnya rambut harus dipotong sekitar daerah yang rusak dipangkas selebar mungkin (alat pemangkas diseterilkan sebelum digunakan), hilangkan kotoran dan kulit keras, kemudian digosok dengan sabun + air, penggosokan yang efektif menggunakan gaummexane (lindane), pencelupan selama lima hari dengan lime-sulfur (calcium poly sulphide 2%) untuk hewan muda sangat anjurkan , coumaphos 0,3%, toxaphene 0,5%. Dimana dapat diperoleh formula celupan. Sebagian besar memerlukan pengulangan aplikasi dengan jarak waktu tiap minggu sampai terlihat proses kesembuhan (Anonimus,1991).

Amitraz adalah salah satu obat yang efektif untuk skabies namun penggunaan ini perlu hati-hati, karena ada kelebihan dan kekurangannya. Fungsi amitraz menghambat enzima mono amine-oxidase dan sintesa prostaglandin, serta bertindak sebagai antagonis dari reseptor oktopamin. Enzima mono amine-oxidase menjadi katalisator pemecah amin-nemotransmitter didalam caplak dan tungau, sedang oktopamin mampu meningkatkan kontaksi otot parasit. Suntikan invermectin (bila perlu diulang) akan membantu proses kesembuahan, namun perlu diketahui ivermectin bisa menyebabkan kontra indikasi pada anjing jenis colli (Amstutz, dkk,1998).

Ivermectin mempunyai sifat vermisidal dan acarisidal karena kesanggupannya berikatan dengan asam gamma aminobutirat (GABA) dan mengganggu saluran khlor (chlor pathway) hingga terjadi hiperpolarisasi mimbran sel dan selanjutnya menghambat hantaran syaraf, yang berakibat kelumpuhan syaraf pada otot perifer. GABA sendiri pada mamalia hanya menghambat hantaran syaraf pada susunan syaraf pusat, sedangkan pada nematoda dan artropoda pada mengatur hantaran syaraf sampai otot perifer (Subronto dan Ida Tjahajati 2001).

Hartiningsih dkk,(1999) menganjurkan anjing-anjing yang terkena kudis ini hendaknya dikurung atau diikat sehingga tidak bercampuir dengan anjing yang sehat lainnya karena dapat menularkan ke anjing keanjing yang lain (agen pembawa penyakit), dan diobati sampai benar-benar sembuh. Dengan demikian penyebaran penyakit dapat dihindari.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus,1991, Manual untuk Paramedis Kesehatan Hewan, PT Tiara Wacana Yogyakarta.


Belding D.L., 1965, Textbook of Parasitology, 3th edition, Meredith Publishing Campany New York.


Blood,D.C., and Rodostits, O.M., 1989, Veterinary Medicine, 7thedition, Bailliere Tindall.


Dharmojono,2002, Kapita Selekta kedokteran Veteriner (Hewan Kecil) 2, Pustaka Populer Obor, Jakarta.


Hartiningsih,N., Dharma. D.M.N., dan Rudiyanto, D., 1999, Anjing Bali Pemeliharaan dan Pelestarian, Kanisius, Yogyakarta.

Lavine,N.D., 1990, Parasitologi Veteriner, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


Urquhart,GM. ,Armour,J., Duncan,J.L., Dunn,A.M.,and Jennings,F.W., 1996, Veterinary Parasitology, 2nd edition, The Faculty of veterinary Medicine The University of Glasgow Scotland.


Subronto dan Ida Tjahajati , 2001, Ilmu Penyakit Ternak II, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar