Kamis, 13 Januari 2011

pruritis

Sistem integumentum adalah jaringan yang melindungi tubuh, meliputi kulit, rambut (atau bulu), dan kuku (atau cakar). Seringkali kondisi kulit dan rambut mencerminkan kondisi kesehatan hewan kerena dua alasan. Pertama karena gangguan kesehatan yang mendasar akan mempengaruhi sirkulasi vaskular atau suplai nutrien. Kedua karena hewan yang sakit seringkali segan untuk membersihkan diri atau secara fisik tidak mampu (Agar, 2003).

Kulit yang sehat adalah kulit yang memiliki elastisitas baik, tampak bersih, dan tidak ada bagian kulit yang kemerahan atau basah. Selain itu kulit yang sehat tidak kering, tidak bersisik, dan tidak tampak lebih abu-abu. Lapisan rambut yang sehat tampak mengkilap, tanpa ujung rambut yang patah, tipis, atau pecah-pecah. Sedangkan untuk tekstur dan ketebalan rambut berbeda-beda sesuai dengan jenis ras (Agar, 2003).

Alergi makanan dapat didefinisikan sebagai reaksi imunologi dasar terhadap makanan. Pada sebagian besar kasus, etilogi yang pasti masih belum sepenuhnya dimengerti. Hipotesanya adalah mekanisme imunologi tipe I-IV. Sebaliknya, pada kejadian intoleransi terhadap makanan secara umum tidak ada reaksi imunologi dasar, termasuk kejadian keracunan makanan (disebabkan langsung oleh aksi toksin). Secara teoritis sebagian besar makanan yang dapat menjadi alergen adalah protein (White, 2005).

Jenis kelamin dan ras bukanlah predileksi kasus alergi makanan. Tetapi ada penelitian lain yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa ras anjing yang memiliki resiko alergi makanan. Ras tersebut adalah: Soft-Coated Wheaton Terrier, Dalmatian, West-Highland White Terrier, Collie, Chinese Shar Pei, Llasa Apsa, Cocker Spaniel, Springer Spaniel, Miniature Schnauzer, Labrador Retriever Dachshund, dan Boxer. Data dari Colorado State University menunjukkan bahwa ras retriever mempunyai resiko tertinggi mengalami alergi makanan dibandingkan dengan ras lainnya. Meskipun catatan umur bervariasi, namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa 33% kasus terjadi pada umur di bawah satu tahun. Jadi meskipun kejadian alergi makanan dapat terjadi pada semua umur, namun pada anjing berumur kurang dari satu tahun kejadian pruritis dapat diwaspadai sebagai kejadian alegi makanan (White, 2005).

Biasanya kejadian alergi makanan menyebabkan pruritis, namun tidak ditemukan adanya eksternal parasit dan tidak tergantung musim (Strombeck, 1999). Sangat jarang terjadi terdapat lesi pada kulit tetapi tanpa pruritis. Lesi kulit yang pertama sering timbul adalah papula dan eritrema; lesi yang kedua adalah epidermal collarettes (biasanya mengindikasikan pyoderma), pyotraumatic dermatitis (“hot spots”), hyperpigmentation, dan seborrhea (White, 2005).

Salah satu bentuk alergi pada kulit karena alergen makanan adalah pruritis pada kaki, wajah, telinga, dan bagian bawah tubuh. Bentuk lain dari alergi makanan dapat menyerang bagian tubuh manapun. Pengaruhnya pada telinga adalah otitis eksterna. Biasanya otitis eksterna dapat diobati dengan antibiotik. Ketika otitis eksterna tidak sepenuhnya sembuh atau kembali timbul setelah pengobatan dihentikan, kemungkinan alergi makanan adalah penyebabnya (Strombeck, 1999).

Sulit dibuktikan diagnosa untuk alergi makanan. Tidak ada tes laboratorium yang menunjukkan bahwa alergi makanan adalah penyebab terjadinya gangguan pada kulit ataupun gastrointestinal. Tes kulit intradermal sering digunakan untuk mengidentifikasi jenis alergen yang menyebabkan gangguan kulit. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa tes kulit dapat diandalkan untuk membuktikan alergen makanan. Tes untuk alergi makanan dapat juga meliputi radioallergosorbent test (RAST) dan enzyme-linked immunosorbent (ELISA). Tes tersebut dapat mendeteksi antibodi yang melawan alergen (alergen makanan). Beberapa masalah kulit kronik dapat dievaluasi dengan tes darah dan biopsi kulit. Jumlah komponen darah dan kimia darah hanya sedikit memberikan informasi yang bermanfaat untuk mengidentifikasi alergi atau intoleransi terhadap makanan. Biopsi kulit tidak pernah menunjukkan perubahan yang mengindikasikan alergi makanan. Semua perubahan yang ditemukan pada biopsi tidaklah spesifik, contohnya radang (Strombeck, 1999).

Terapi dermatitis karena alergi makanan meliputi menghilangkan alergen (sebagian besar adalah protein) dan mengganti formula pakan (Day, 1999; Strombeck, 1999). Terapi tambahan (antimikrobial, antiinflamantori) mungkin diperlukan pada awal kejadian (Day, 1999).

Terkadang pruritis terus berlanjut selama beberapa bulan setelah pergantian pakan. Direkomendasikan untuk mengontrol pakan selama 60 hari sebelum membuat kesimpulan tentang pruritis yang tidak diketahui penyebabnya dan berlangsung lama (Strombeck, 1999).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar