Selasa, 13 Oktober 2009

ATROPIC RHINITIS

ATROPIC RHINITIS PADA BABI

(Rhinitis atrofikans)

Atropic rhinitis pada babi merupakan radang akut yang banyak ditemukan pada peternakan babi seluruh dunia. Penyakit tersebut ditandai dengan adanya leleran yang keluar dari hidung serta terjadinya atrofi dari tulang-tulang lempengan hidung (ossa turbinata) dan sekat dari rongga hidung, sehingga terjadi pemendekan atau terbeloknya rahang atas. Faktor-faktor manajemen dan lingkungan, seperti cara pemeliharaan intensif, ternak terlalu padat, ventilasi kurang dan higiene makanan kurang baik, dapat menimbulkan gejala penyakit Rinitis Atropis.
















Etiologi penyakit

Penyakit babi ini tersebar luas di Amerika Serikat, Eropa dan Australia. Di Amerika Serikat sendiri setidaknya 25 – 75 % babi yang dipotong di rumah potong hewan memperlihatkan gejala penyakit ini dengan berbagai tingkatan. Meskipun angka kematian penyakit tersebut rendah tetapi menimbulkan dampak kerugian dari segi produksi secara keseluruhan dapat berkisar antara 5 – 10 %.

Penyebab utama penyakit ini adalah bakteri Bordetella bronchiseptica. Bakteri ini tidak memiliki hospes spesifik baik itu anjing, kucing, tikus dan lain sebagainya. Dapat bertahan 5 – 6 minggu ditempat yang cukup sinar mataharinya sedangkan untuk tempat yang dingin dan teduh, bakteri tersebut dapat bertahan sampai 4 bulan. Kejadian penyakit umumnya bervariasi antara kandang, tergantung dari tingkat virulensi penyabab penyakit.

Penularannya kebanyakan terjadi akibat pemasukan hewan baru ke dalam suatu kandang yang bersih atau oleh babi yang dinyatakan carrier (pembawa penyakit). Kontak langsung dengan kucing atau tikus juga menjadi salah satu faktor penularan. Untuk anak-anak babi (genjik) sendiri, infeksi biasanya dari induknya tidak lama setelah proses kelahiran. Udara dari daerah yang tertular juga dapat menjadi faktor penularan lainnya.

Gejala klinis penyakit

Atropic rhinitis umumnya menyerang semua umur babi. Yang paling sering menunjukkan gejala klinis adalah babi-babi muda yang berumur beberapa minggu. Perubahan klinis yang menonjol, biasanya pada daerah hidungnya. Perubahan yang terjadi tersebut tergantung pada galur kuman, virulensi kuman, umur, kondisi penderita dan ada tidaknya infeksi sekunder.

Tanda-tanda yang sering teramati yaitu adanya leleran pada hidung. Sedangkan suara ngorok dan batuk-batuk umumnya pada penderita yang berat penyakitnya. Lakrimasi juga terjadi sehingga menyebabkan daerah bawah mata selalu terlihat basah. Leleran hidung juga terlihat dan kebanyakan bersifat serous sampai kekuningan serta kadang-kadang disertai dengan titik-titik darah. Anak-anak babi bersin-bersin dan napas beringis adalah tanda pertama yang teramati. Kemudian terus bersin-bersin dan napasnya beringis sambil mengeluarkan lendir atau lendir yang bercampur nanah ataupun darah.


Selanjutnya, hidung akan mengalami atrofi dalam bentuk pemendekan ataupun pembengkokan dari moncong. Hal tersebut merupakan tanda-tanda paling khas dari Atropic rhinitis yang biasa menyerang anak babi berumur 6 – 12 minggu atau lebih. Pembelokan dari rahang atas tersebut menyebabkan gigi-gerigi rahang atas tidak sesuai dengan gigi-gerigi rahang bawah atau ada penyimpangan moncong ke samping. Penderita adakalanya mengalami komplikasi yang berupa sebagai radang paru-paru ataupun radang otak.

Tanda-tanda yang terlihat tersebut juga dapat dibarengi oleh pertumbuhan dan konversi makanan babi yang digemukkan tidak baik. Kesimpulannya, gejala-gejala umum dari Atropic rhinitis terbatas pada rongga hidung dan sekitarnya. Sedangkan gejala-gejala umum yang dominan adalah turbinata hidung yang mengalami atropis.

Pemeriksaan patologi-anatomi penyakit


Teramati pada pemeriksaan daerah hidung adanya proses atrofi yang tingkatnya bervariasi. Derajat perubahan atrofi sebaiknya dilihat dari potongan melintang yang dibuat dengan menggergaji daerah muka pada daerah premolar kedua dan juga secara melintang, jika dianjurkan. Pada daerah potongan tersebut akan terlihat mukosa hidung yang terkelupas dan didalam rongga hidung akan terdapat aksudat yang bersifat serous sampai mukopurulen. Selanjutnya akan ditemukan perubahan atrofi yang berbentuk sebagai jaringan yang menjadi lunak atau terjadi pembengkokan dari tulang-tulang lempengan hidung, sekat hidung dan lainnya.



Diagnosa penyakit

Diagnosa atropic rhinitis berdasarkan dengan gejala klinis yang teramati. Selain itu juga penentuan adanya bakteri penyebab akan memperkuat diagnosa. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan mengambil bahan dari hidung disertai pemeriksaan dengan menggunakan steril swab, terutama pada anak-anak babi (genjik) yang berumur 6 – 8 minggu.

Sebagai diagnosa pembanding, perlu diperhatikan radang hidung nekrotik dan radang hidung lainnya yang disebabkan oleh virus atau inklusi bidy rhinitis. Maka untuk membedakannya dilakukan penelitian terhadap agen penyebab radang tersebut.

Penangulangan penyakit

Terapi atau pengobatan, dilakukan pada babi yang telah menderita penyakit dengan pengobatan yang dapat disekresikan dari hidung. Biasanya yang digunakan adalah sulfonamid, sulfamesatin dan sulfatiazol. Pengobatan dilakukan biasanya dalam waktu panjang sehingga akan mencegah pengambilan makanan dari bakteri yang akibatnya bakteri tidak dapat berkembang. Dosis yang dianjurkan adalah 100 gr untuk tiap ton pakan dan diberikan dalam waktu 3 – 5 minggu pada babi yang akan melahirkan dan untuk anak-anak, dosis sama tapi diberikan selama 6 minggu atau lebih, dimana sampai anak tersebut mencapai berat 25 – 40 kg. Selain lewat pakan, pengobatan juga dapat melalui air minum dengan dosis 125 mg/lt untuk induk 3 minggu sebelum melahirkan sampai anaknya berumur 2 minggu. Sedangkan untuk genjiknya, air minum diberikan sampai berat badan mencapai 35 kg secara terus menerus. Pada kejadian yang mengalami komplikasi misalnya radang paru-paru, pemberian antibiotika yang sesuai juga dianjurkan (Subronto,2007.188).

Ataupun dengan antibiotik, akan membantu mempertahankan laju pertumbuhan dan keefisienan penggunaan makanan selama penyakit berkecamuk. Pengobatan melalui ransum dianjurkan memakai TM-50 ( 0,1-0,15 kg/100kg ransum ) atau TM-5 ( 0,5 kg/30-50 kg ransum ). Pengobatan melalui air minum dengan Terramycin Animal Formula ( 2 sendok the/4 liter air ) sangat efektif. Untuk penyuntikan individual dapat digunakan Terramycin/LA Injectible Solution ( 1ml/10 kg bobot badan).

Pencegahan

Sebelum terjadinya penyakit sebaiknya dilakukan, guna mencegah penularan penyakit. Yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan peternakan yang sebaik-baiknya atau memperhatikan standar higieni yang tinggi pada perkandangan. Pengeluaran segera babi atau genjik yang menunjukkan gejala-gejala klinis penyakit. Prinsip all in all out pada kandang harus diperhatikan. Penggantian babi dari luar harus sesedikit mungkin. Pemberian imunisasi dengan vaksinasi juga sangat penting, vaksin diberikan pada waktu anak-anak babi berumur 7 hari dan diulang lagi pada waktu berumur 28 hari. Induk juga baiknya divaksin pada 4 – 5 minggu sebelum melahirkan dan suntikan ulangan diberikan lagi pada 2 – 3 minggu sebelum melahirkan. Atau dengan Penyuntikan obat Terramycin/ LA Injectible Solution ( yakin 0,5 ml/ekor babi umur 3 hari dan 1ml/ekor babi umur 12 ataupun 21 hari ) juga membantu pencegahan penyakit RA pada anak babi yang masih menyusu. Dengan vaksinasi atrophic rhinitis yang diberi agen pembekal yaitu dos pertama (umur 6 minggu) dan dos kedua (umur 12 mingu).


DAFTAR PUSTAKA

http://www.mayoclinicproceedings.com/inside.asp?AID=3978&UID

http:// www. Rhinitis - Wikipedia, the free encyclopedia.htm

Resang A.A, 1963 : Patologi khusus Veteriner, universitas Udayana, Bali.

Subronto, 2003: Ilmu Penyakit Ternak 1, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar