Selasa, 13 Oktober 2009

LAPORAN TOTAL PRAKTIKUM ILMU PENYAKIT PARASIT VETERINER

METODE PEMERIKSAAN FESES DAN PEMBUATAN PREPARAT APUS DARAH

I. TUJUAN

- Mengetahui adanya parasit yang ada dalam sampel tinja hewan

- Mengamati telur parasit yang ada pada tinja dengan beberapa metode

- Mendemonstrasikan cara pembuatan preparat apus darah

II. BAHAN DAN METODE

A. Materi

· Tinja hewan

· Gelas obyek, kaca penutup dan mikroskop

· Mortir, tabung, sentrifuse, pi[et

· NaCl jenuh, NaOH 10 %

· Methylene blue 0,5 %

B. Metode

a. Metode Natif ;

Ambil sedikit tinja ( kucing, sapi, dan kambing)


Letakan tinja di atas objek glass


teteskan air dan ratakan, tutup dengan deck glass

Amati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali

b. Metode Sentrifuse ;

Ambil 2gr tinja dan taruh didalam mortir


Beri air dan aduk sampai larut


Putar dengan sentrifuse selama 5 menit


Buang cairan jernih diatas endapan


Tuang NaCL jenuh ( Untuk mengapungkan telur) di atas endapan ¾ bagian

tabung dan di aduk

Putar dengan sentrifuse selama 5 menit

Tempatkan tabung pada rak

Teteskan NaCl jenuh diatas cairan di dalam tabung sampai cairan cembung


Tempelkan objek glass pada permukaan dengan hati-hati dan balik objek

glass secara perlahan

Tutup objek glass dengan deck glass dan periksalah di bawah mikroskop

pebesaran 100 kali

c. metode Mc Master ;

Ambil 3 gram tinja, masukan dalam beker glass

Tambahkan 42 ml air ( pebandingan 14 : 1 )

Aduk dengan sfingter

Siapkan double objek glass, dan masukan 0,3 ml gula jenuh ke dalam

double objek glass

Aduk campuran tinja dengan jarum, biarkan selama 3 – 5 menit

Periksalah dibawah mikroskop pebesaran 100 kali

Hitung jumlah telur yang teramati

d. Metode Parfitt dan Bank’s

Ambil 2 gr tinja kemudian di mortir


Tuang air dan aduk hingga merata

Saring >> tabung reaksi ¾

Biarkan 10 menit


Buang cairan diatas endapan dibuang

Tetesi dengan NaOH 10% ± 3 tetes( untuk membuka operculum telur cacing)


Tambahkan air sampai ¾ tabung dan aduk


Biarkan 10 menit, buang cairan jernih atau endapan hingga tersisa endapan


Tetesi dengan metilen blue 0,5 % 2 tetes aduk, sedot endapan paling bawah dengan pipet


Taruh diatas gelas obyek kemudian lihat dibawah mikroskop

e. Pembuatan preparat apus darah

Siapkan 2 buah obyek gelas

Tusuk vena ujung telinga, ekor atau sayap

Ambil darah yang keluar dari tusukan dengan menyentuhkan ujung gelas obyek


Apuskan darah pada permukaan obyek gelass lain

Setelah kering, fiksasi dengan metanol 3 menit atau alkohol absolut 5 menit

III. Hasil Praktikum

Feses Hewan

Metode

natif

Metode Sentrifuse

Parfitt and Bank

Mc Master

ket

Sapi

-

-

-

-

-

Kambing

-

-

-

-

-

Ayam

-

-

-

-

-

Babi

+

+

-

+

Ascaris Suum

Kuda

+

+

-

+

Strongil Sp

Kucing

-

-

-

-

-

Hewan

Nama Parasit

golongan

Gambar telur

Babi

Ascaris suum

Nematoda

Sapi

Fasciola Hepatika

Trematoda

Kambing

Paramphistomum Sp.

Trematoda

Ayam

Ascaridia galli

Eimeria Tenella

Nematoda

Protozoa

isospora

Karnivora

Toxocara canis

Dipillidium caninum

Nematoda

Cestoda

IV. PEMBAHASAN

A. Pada Babi

Ascaris suum

Judul : Ascariasis

Morfologi : telur diselubungi gelatin dan telur mempunyai kulit tebal dan telur tidak bersegmen. Punya 3 bibir tipis diujung anterior. Telur ukuranya 50-80x40-60 mikron.

Siklus hidup : secara langsung telur keluar bersama tinja stadium infektif di larva 2 termakan babi sampai diusus menetas dan menuju ke hati jadi larva 3 menuju jantung dan paru-paru menjadi larva 4 dibatukkan dan tertelan dewasa di usus.

Patogenesis : Adanya lesi pada dinding usus dan terjadi pendaraahan.

Gejala klinis :

· Diare yang disertai anoreksia dan dehidrasi, Rectal hemorraghi, Mortalitas pada kondisi akut bisa mencapai 90 %

Diagnosa :

· Melihat gejala klinis, Pemeriksaan feses, Ditemukan cacing

Pencegahan dan pengobatan :

· dengan pangaturan air minum supaya hewan tidak minum alami yang kemungkinan airnya telah tercemar Pengobatan dapat dengan pemberian Flukside atau Oxyclozonide .

B. Pada Sapi

Fasciola hepatica

Morfologi :

  • Bentuk seperti daun, pundak prominen, Ukuran 5 x 1,5 cm, Warna coklat keabuan dan bila disimpan akan berubah abu-abu, Teguman dilengkapi dengan spina, Intestinal seka bercabang-cabang dan sampai ke bawah, Cirrus dan kantong cirrus tumbuh baik, Testis bercabang-cabang, Ovarium bercabang di anterior testis.

Siklus Hidup :

Telur cacing, dari telur berkembang menjadi stadium mirasidium, siklus hidup cacing tidak langsung maka membutuhkan hospes intermedier, adalah keong dari jenis lymnea ( untuk Fasciola hepatica : Lymnea trucantula ).Di dalam tubuh hospes intermedier dari stadium sporosista berkembang menjadi stadium redia.Keong termakan oleh ruminansia dan stadium redia berkembang di dalam tubuh ruminansia tersebut.Stadium redia selanjutnya berkembang menjadi serkaria dan selanjutnya menjadi metaserkaria.Stadium metaserkaria akan menginfeksi ruminansia tersebut.

Patogenesis :

Fasciola hepatica dapat menyebabkan fasciolosis atau distomosis. hepatitis traumatic fibrosis hepatic dan cholongitis hiperplastik dari parenkim hati, pendarahan ,nekrosis ,migrasi cacing juga menyebabkan terbentuknya thrombus di vena hepatica sinusoid hati, melanjut obstruksi aliran darah, dan ischemia.

Gejala klinis :

· Anemia, Ichterus, Diare, Udema ( Bottle jow )

Diagnosis :

  • Melihat gejala klinis, Pemeriksaan darah, Tes kulit : distomim, Pemeriksaan feses

Penanganan Fasciolosis :

o Untuk cacing dewasa Nitroxynil dan Albendazol 15 mg / kg BB, Untuk cacing muda sampai dewasa : Clorsulan-Ivermectin, Untuk segala umur : Triclabenazole / Fasinex

C. Pada Kucing

Toxocara canis

Morfologi :

  • putih, besar, panjang cacing jantan panjangnya 4-10 cm dan cacing betina panjangnya 5-18 cm, Spikulum tidak sama besar, Telur coklat tua, subglobuler, cangkang tebal berlekuk tidak bersegmen

Siklus hidup :

Telur keluar bersama tinja dan berkembang menjadi stadium infektif di tanah dalam waktu 9-15 hari di bawah kondisi optimal.Telur infektif mengandung larva stadium ke dua yang tidak berselubung.Anjing terinfeksi dengan memakan telur berembrio.Telur menetas pada usus halus dan larva stadium ke dua menembus dinding usus.Pada anak anjing di bawah usia 3 bulan, kebanyakan larva masuk ke dalam pembuluh limfa, melalui kelenjar limfa, dan melewati system portal hati menuju hati.Disini larva berkembang sedikit tetapi tidak menyilih.Kemudian larva menuju jantung melalui vena hepatic atau vena cava dan menuju paru-paru melalui arteri pulmoner.Disini larva tumbuh secara bebas dan kemudian bergerak melewati bronkiola trakea dan farings, tertelan, dan mencapai lambung menjelang hari ke 10.Larva menyilih baik dalam paru-paru, trakea, atau esophagus menjadi larva stadium ke tiga.Larva menyilih menjadi stadium ke empat di dalam lambung setelah beberapa hari dan kemudian pergi ke usus halus, untuk menyilih menjadi dewasa 19-27 hari setelah termakan, telur muncul pada tinja 4-5 minggu setelah infeksi.

Patogenesis :

  • Fase migrasi larva sempurna, hanya terjadi kerusakan jaringan yang nyata, cacing dewasa hanya menimbulkan reaksi ringan di usus, Fase pulmoner dari larva ditandai oleh pneumonia kadang disertai edema pulmo, enteritis dan pot-belly di usus, Perforasi, peritonitis, sumbatan saluran empedu, visceral larva migrans pada manusia.

Gejala klinis :

  • Tidak ada tanda-tanda klinis selama fase pulmoner dari migrasi larva, Cacing dewasa di usus menyebabkan pot-belly, gagal tumbuh, dan diare. Kadang-kadang cacing keluar bersama feses atau muntahan

Diagnosis :

  • Diagnosis didasarkan pada adanya tanda-tanda pneumonic pada kotoran, bahkan dapat diketahui 2 minggu setelah lahir
  • Pemeriksaan feses : Ditemukan telur berbentuk subglobuler, warna coklat, dengan dinding tebal berlekuk tanpa segmen

Pengobatan :

  • Piperazine, Benzimidazole, Ferbendazole, Mebendazole, Nitroscanate

D. Pada Anjing

Dypilidium caninum

Hospes dan lokasi: anjing dan kucing di usus halus

Morfologi : panjang 50 cm, skolek berbentuk jajaran genjang mempunyai tonjolan di anterior ( rostelum ), 4 batil isap telur tiap kapsula berisi 20 telur.

Siklus Hidup : Telur →larva 1→larva 2→larva 3→dewasa

Patogenesis : Hewan menggosokkan anus pada tanah karena iritasi pada anus karena migrasi proglottid gravid di perianal. Pada infeksi berat mengakibatkan diare, konstipasi, lesu, lemah, obstruksi usus.

Gejala klinis : Diare, konstipasi, lesu, lemah dan obstruksi usus

Diagnosa : Berdasarkan adanya proglottid di feses peri anal

Pengobatan : Arecolinehydrobromide(1-2mg/kg)untuk kucing, Arecoline acetasol 5mg/kg, Bithional 200mg/kg,Niclosamide 100-150mg/kg, Praziquantel 5 mg/kg

E. Pada Ayam

Ascaridia galli

Morfologi: cacing berwarna putih, cacing ini termasuk nematoda terpanjang pada unggas.

Siklus hidup: Melalui telur, non migrasi. Periode prepaten 5-6 minggu di anak ayam hingga 8 minggu di burung dewasa. Cacing hidup selama 1 tahun.

Patogenesis: Ascaridia ini bukan termasuk cacing patogen. Memiliki efek atau terlihat di burung muda maupun dewasa. Efek nampak selama fase prepaten dimana larva berada di mukosa usus. Ditemukan gejala klinis yaitu apabila ada infeksi berat akan terjadi nampak gejala klinis.

Gejala klinis: Pada infeksi tidak ditemukan gejala klinis terjadi nampak enteritis, jika pada kasus berat usus akan terjadi haemoragi. Pada infeksi nyang sangat berat dengan banyaknya cacing dewasa di usaus halus akan menyebabkan usus mengalami oklusi hingga terjadi kematian.

Diagnosa: Infeksi pada cacing dewasa, pada pemeriksaan feces ditemukan telur, namun sulit sekali ditemukan. Pada periode prepaten larva akan ditemukan di intestinal khususnya di mukosa.

Pengobatan: Piperazine, Levamisole/ benzimidazole

V. Kesimpulan

1. Pemeriksaan telur meliputi pemeriksaan kualititif yang terdiri dari natif ( pemeriksaan secara langsung), sentrifuse ( dengan Nacl jenuh), Parfit and banks(menemuka telur trematoda),. Dan pemeriksaan secara kuantitatif secara Mc master( menghitung jumlah telur trematoda).

2. Pada feses babi ditemukan telur cacing Ascaris suum, pada feses kuda ditemukan telur cacing strongil, pada feses sapi sapi telur fasciola hepatika dan parampistomum, pada feses ayam telur Ascaridia galli, pada feses kucing dan anijng ditemukan telur cacing Toxocara canis dan Dipillidium caninum.

VI. Daftar Pustaka

Levine, N. D., 1994, Parasitologi Umum Veteriner, Yogyakarta: Gama Press

Levine, N. D., 1994, Protozoology Umum Veteriner, Yogyakarta: Gama Press

Subroto. 2004. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada university press. Yogyakarta

PENGECATAN DAN PEMERIKSAAN APUS DARAH SERTA PEMERIKSAAN EKTOPARASIT

I. TUJUAN

- Mampu menjelaskan dan mendemonstrasikan pengecatan preparat apus darah dan memeriksanya.

- Mampu menyiapkan preparat ektoparasit untuk kepentingan emeriksaan dan mampu menjelaskan dan melakukan pemeriksaan ektoparasit

II. Materi dan Metode

a. Materi:

- sisir - larutan fisiologis ( menjaga suasana lingkungan)

- cawan petri - minyak cengkeh

- skalpel, gunting - NaOH 10% atau KOH 10%

- Alkohol 70 % ( mengawetkan parasit) dan HCN ( membunuh insekta bersayap)

b. Metode

1. Pengambilan ektoparasit

Amati kulit dan bulu

Ektoparasit, seperti kutu, pinjal, dan caplak di ambil dengan pinset

Kumpulkan dalam cawan petri dan beri minyak cengkeh ( Untuk menghilangkan

zat kitin pada parasit sehingga mudah diamati)

2. Pengambilan ektoparasit

Amati kulit yang mengalami perubahan warna kemerahan dan keropeng

Keroklah kulit sampai berdarah

Tampung hasil kerokan dalam cawan petri yang mengandung NaOH 10% dan KOH 10%( Untuk melunturkan dan menghancurkan keropeng

dan sisa jaringan sehingga mudah diamati)

Taruhlah cawan petri di bawah mikroskop stereoskop

Sayatlah kerokan kulit

Ambil ektoparasit dengan pipet

Kumpulkan dalam cawan petri lain yang berisi alkohol

3. Pewarnaan preparat apus darah

Siapkan preparat apus darah yang telah di fiksasi ( untuk melekatkan

darah pada objek glas)


Buatlah zat warna yang terdiri dari 1 bagian giemza dan 20 bagian aquades

Masukan preparat apus darah ke dalam lar. Giemza selama 20 menit


Ambil preparat apus lalu dicuci dengan air dan keringkan pada suhu kamar

Periksalah dengan mikroskop dengan perbesaran 450-1000 kali, beri minyak emersi

http://images.google.co.id/images?q=tbn:nPOn7NubO5DYFM:http://www.tolweb.org/tree/ToLimages/haematopinus_eurysternus.100a.gif


III. Hasil Praktikum

Ektoparasit

NO

GAMBAR

IDENTIFIKASI

ORDO

HOSPES

1

2

3

4

5.

http://images.google.co.id/images?q=tbn:nPOn7NubO5DYFM:http://www.tolweb.org/tree/ToLimages/haematopinus_eurysternus.100a.gifHaematopinus eurysternus

Menopon gallinae

Damalinia Ovis

Ctenocephalides canis

Ctenocephalides felis

Kaki 3 pasang

Bermoncong pendek

Panjang 315-418 mm

Relatf lebar

Menghisap darah

Kaki 3 pasang

Kutu batang bulu ayam

Kuning pucat

Tipe penggigit

Kepala besar, tumpul

Kaki 3 pasang

Tubuh pipih dorso ventral

Antena disisi kepala

Tubuh pipih bilateral

Kaki yang kuat

Tidak ada sayap

Punya ktinidia

Tubuh pipih bilateral

Kaki yang kuat

Tidak ada sayap

Punya ktinidia

Mallophaga

Mallophaga

Mallophaga

Aphaniptera

Aphaniptera

Sapi

Ayam

Domba

Anjing

Kucing

Parasit darah

No

GAMBAR

IDENTIFIKASI

GOLONGAN

HOSPES

1.

2.

3.

4.

5.

Hepatozoon canis

Babesia ovis

Leucocytozoon caullery

Tripanosoma Suis

Haemoproteus columbae

Lokasi di sel darah putih

Gametosit seperti kapsul

Lokasi di sel darah putih

Berpasangan /tidak

Seperti buah pear

Di sitoplasma SDM

Parasit seperti daun punya 1 inti

Punya knetoplas

Punya flagela

lokasi di plasma darah

Lokasi di sitoplasmaSDM

Bentuk seperti halter

Protozoa

Protozoa

Protozoa

Protozoa

Protozoa

Anjing

Domba/kambing

Ayam

Babi

Burung merpati

IV. Pembahasan

A. Extoparasit

1. Pada Anjing

Ctenocephalides canis

Morfologi :

o Kepala lancip, Kaki 4 pasang, Panjang 1,5-4,0 mm

o Menghisap darah

Silkus hidup : Telur è Nimfa è Dewasa

Patogenesis : anemia dan kematian

Gejala klinis : gatal, menggaruk-garuk terus dan kelemahan

Diagnosa : Menemukan telur kutu di sekitar bulu dan kulit

Pengobatan :Insektisida, Carbamete, Organochlorine

2. Pada Sapi

Haematopinus eurysternus

Morfologi :

o Ordo anoplura dan hospes pada sapi, Kaki 3 pasang

o Relatif lebar dan bermoncong pendek, Panjang 315-418 mm, Menghisap darah

Silkus hidup : Telur è Nimfa è Dewasa

Patogenesis : anemia dan kematian

Gejala klinis : gatal, menggaruk-garuk terus dan kelemahan

Diagnosa : Menemukan telur kutu di sekitar bulu dan kulit

Pengobatan :Insektisida, Carbamete, Organochlorine

3. Pada Ayam

Menopon gallinae

Morfologi : Punya 3 bagian tubuh yang berbeda, punya 2 cakar dan kepala bulat, punya gigi pada ventral kepala.

Siklus hidup : Kutu betina dapat menghasilkan 50-300 telur pada bulu hospes, waktu yang dibutuhkan untuk menetas sampai dewasa sekitar 4-6 minggu dan dapat menghasilkan generasi selama 1 tahun.

Patogenesis : anemia dan ayam mengalami kelemahan umum dan ayam jadi lesu, produksi telur turun dan berat badan turun

Gejala klinis : gatal, ayam mematuk matuk kulitnya atau bulunya, kematian pada anak ayam.

Diagnosa ; adanya kutu dan telur kutu pada bulu ayam

Pengobatan : Pemberian insektisida dan sanitasi yang baik dan pengamatan pada kutu secara periodik.

4. Pada Domba/Kambing

Damalinia ovis

Lokasi : di permukaan tubuh

Hospes : domba

Patogenesis : mengakibatkan lesi superfisial. Secara mekanis gigitan parasit akan diikuti oleh rasa nyeri, menimbulkan iritasi dan gatal, Terjadi luka abrasive(gesekan) menyebabkan infeksi sekunder oleh kuman hingga terjadi radang infeksi.

Siklus Hidup : telur kutu diletakkan di batang rambut, dekat pangkal dari rambut dan melekat padanya karena ada perekat yang dihasilkan oleh parasit tersebut. Telur menetas dalam waktu 7-10 hari dan keluarlah larva yang berubah bentuk sebagai nimfa, dan menjadi dewasa dalam waktu 17-23 hari.Daur dari telur sampai bertelur lagi adalah 24-33hari. Kutu ♂ dewasa dapat hidup ± 50 hari, dan segera mati bila lepas dari hospes dalam waktu 2-3 hari. Telur kutu diletakkan di batang rambut, dekat pangkal

Gejala klinis : Secara mekanik gigitan parasit akan diikuti oleh rasa nyeri, menimbulkan iritasi dan rasa gatal, dan untuk mengurangi rasa tersebut penderita mencoba menggigit, menggaruk, atau menggosok-gosokkan bagian yang sakit ke obyek-obyek yang keras, yang akibatnya menimbulkan kerusakan kulit atau rambut.

Diagnosis : dapat dilakukan dengan menemukan kutu pada domba dan untuk identifikasi perlu memperhatikan morfologi, warna, dan anatomi kutu.

Pengobatan: Lesi kulit oleh parasit pada umumnya tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Obat antiparasitika(acarisida) dapat mengatasi scabies dapat digunakan dengan baik. Pada domba dapat diberi pengobatan Ivermectin dan Doramectine sangat efektif.

5. Pada Kucing

Ctenocephalides felis

Lokasi : permukaan tubuh

Morfologi : Pinjal mempunyai panjang 1,5-4 mm, yang jantan biasanya lebih kecil dari yang betina. Pinjal memiliki kitin yang tebal. Ctenocephalides felis memiliki kening lebih rendah dibanding C. canis.

Patogenesis : Rasa gatal menyebabkan ketidaktenangan yang sangat, dan lesi kulit dapat berkembang menjadi radang infeksi. terjadi dermatitis pyotraumatika. Sensitisasi yang terus menerus dapat mengakibatkan terjadinya alergi, reaksi alergi dalam bentuk radang kulit(dermatitis allergica). Gigitan pinjal pada kucing sering mengakibatkan flea- allergy dermatitis.

Gejala klinis : Hewan nampak gelisah, dan menghentakkan kaki jika dalam jumlah banyak pinjal menyerang hewan. Alergik dermatitis terlihat, tetapi harus dibedakan dari kondisi yang hampir sama dengan yang disebabkan oleh Sarcoptes.

Siklus hidup : Pinjal merupakan insecta yang tidak bersayap, warna tubuh coklat terang dengan kaki yang kuat. Pinjal betina meletakkan telurnya pada bedding, kemudian menetas dalam 2-16 hari menjadi larva, larva makan dari material organik seperti darah kering, feses dsb. Larva akan menjadi pupa dalam 1-2 minggu tergantung kondisi lingkungan. Hanya stadium dewasa yang berparasit dan secara periodik memakan darah. Pinjal dapat bertahan hidup sampai beberapa bulan tanpa berada di hospes.

Diagnosa : Menemukan pinjal dewasa dalam hospes, sedang larva dan telur sulit ditemukan.

Pengobatan dan Pencegahan:

§ Lingkungan dan hewannya dapat disemprot dengan insectisida(organophosphate, Chlorinated hydrocarbon/ Pyrethrinoids)

Semprot insectisida dikombinasikan dengan(Deflubenzuron, Fenoxycarb, Methoprene) dapat menghilangkan pinjal dewasa dan menghentikan perkembangan larva menjadi dewasa untuk beberapa bula

B. Parasit Darah

1. Hepatozoon canis

Lokasi: sitoplasma sel darah putih(stadium gametosit)

Hospes: anjing (vektor: Rhipicephalus sp)

Patogenesis dan daur hidup: sporozoit di makan oleh anjing; sporozoit yang bebas sesampai di usus halus anjing akan menembus dinding usus, masuk ke dalam saluran darah untuk menyebar sampai di limpa, hati, dan sum-sum tulang . Di jaringan tersebut sporozoit akan masuk ke dalam sel-sel jaringan dan berubah sebagai skizon. mereka berubah sebagai merozoit yang kemudian memasuki leukosit. Sebagian yang di darah merozoit berubah sebagai gametosit, yang juga disebut gamont dan diisap caplak melalui gigitannya. Selanjutnya gamont mencapai rongga badan caplak, sebagai oosista; di dalam oosista terdapat sporoblas dan sporosit yang mengandung 16 merozoit. Kalau caplak di makan anjing, badannya pecah dan terbebaslah sporozoit Hepatozoon yang di dalam darah, disebut gamon.

Gejala Klinis: demam yang tidak beraturan, lemas anemik, dan kurus. Dalam palpasi dan pemeriksaan pasca mati ditemukan pembesaran limpa(splenomegali). paralisis lumbal. Kematian terjadi setelah 4-8 minggu pasca infeksi.

Diagnosis: adanya gametosit dalam darah dengan pengecatan HE. Dari cairan aspirasi jaringan limpa atau sum-sum tulang mungkin dapat ditemukan skizon.

Pengobatan: Trimethoprim-sulfadiazine, dosis 15mg/kg, diberikan tiap 12 jam, PO; atau Pyrimethamine, dosis 0,25 mg/kg, tiap 24 jam PO atau Clindamycin dosis 10 mg/kg, tiap 8 jam PO; Decoquinate, dosis 10-20 mg/kg diberikan tiap 12jam PO.

2. Pada domba/kambing

Babesia Ovis

Lokasi : sel darah merah

Morfologi : berpasangan berbentuk buah pear, ada juga yang tidak berpasangan

Siklus hidup : merozoit di dalam sel darah merah vektor

menghisap darah hospes membelah

(endodogeni, endopoligeni, skizogoni) hospes

Patogenesis : SDM hipertropi sehingga tidak bisa melewati filter kapiler.

Diagnosis : Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan darah.

Gejala klinis : demam, anemia, penyakit kuning, haemoglobinurua

Pengobatan : Diminazene aceturate, trypan blue, phenamidine, qiunuronium

Pencegahan : kontrol caplak secara rutin

3. Pada ayam

Leucocytozoon caullery

Lokasi: SDM

Siklus Hidup: Zygot bulat diameter 14mm, memanjang menjadi ookinet yang berjalan melalui dinding usus tengah membentuk oosista. Sporozoit terbentuk dalam kelenjar air liur masuk dalam hospes baru jika ada agas-agas mernggigitnya. Meront eksoeritrositilk ada dalam ginjal, hati, paru-paru dan ruang berisi darah, jantung, limpa, pankreas, timus, otot usus, trakea, ovarium, kelenjar adrenal dan otak. Gamont-gamont muncul dalam darah perifer 14 hari setelah infeksi yang ditemukan dalam erytroplast.

Patogenesis: Megalomeront eksoeritrositik menyebabkan perdarahan jika pecah sehingga perdarahan pada seluruh organ, dan kadang terjadi penjendalan darah di dalam rongga perut.

Gejala Klinis: gejala klinis yang muncul antara lain anemic, pucat, lesu, diare, pial pucat perdarahan di pulmo hepar dan lien

Diagnosis: Dengan pemeriksaan dari gejala klinis, Laboratoris: pemeriksaan darah secara kualitatif dan kuantitatif

Pengobatan: Dapat diberikan Sulfamiz, Trimezyn, Usahakan tidak terlalu banyak nyamuk.

4. Pada babi

Trypanosoma suis

Lokasi : SDM

Patogenesis: Parasitemia à demam, Efek mekanis: menimbulkan trombus kapiler, Efek biologis: toksik(trypanotoksin): racun neurophile ,konsumen gula darah menyebabkan gula darah turun

Daur Hidup: 15-30 menit dalam probosis yaittu dalam chancre(radang membengkak): Trypanosoma metasiklik membelah(kinetoplas à inti à m. undulant à flagella à seluruh tubuh) à dalam tubuh babi à lalat penghisap darah(Glosina brevipalpis; G. vanhoofi)

Gejala Klinis: demam, lesu, lemah dan kematian genjik yang masih menyusui sedang pada babi dewasa terlihat bernafas terengah-engah

Diagnosis: Melihat gejala klinis dan menemukan parasit dalam darah tepi dengan pemeriksaan apus darah/darah segar

Pengobatan: Isometamidin chloride( 1,25 - 35 mg/ kg, IM dengan dosis ditingkatkan, Kombinasi quinapyramine( 7,5 mg/kg, SC) dan diminazene aceturate ( 5 mg/ kg IM), Pada daerah endemic, penggunaan insectisida untuk pemberantasan lalat Glossina sp

5. Pada Merpati

Haemoproteus columbae

Lokasi : sitoplasma sel darah merah

Patogenesis : menyebabkan anemia, sel adarah hipertropi, menyebabkan demam.

Siklus hidup :

Gejala klinis : Demam, anemia, lemas, berat badan menerun.

Diagnosis : Pemeriksaan apus darah

Pengobatan : Isometamidin chloride, Sulfamiz, Trimezyn

V. Kesimpulan

1. Ektoparasit dapat juga menjadi vektor dari penyakit tertentu dan dapat juga menjadi hospes intermediet sebelum pindah ke hospes definitifnya

2. Pengamatan parasit pada darah dapat dengan cara pembuatan preparat apus darah

3. Ektoparasit pada sapi Haematopinus eurysternus, pada ayam menopon gallinae, pada kucing ctenocephalides felis, pada anjing ctenocephalides canis pada kambing Damalinia ovis.

4. Parasit darah pada anjing adalah Hepatozoon canis, pada kambing Babesia ovis, pada ayam Leucocytozoon caullery, pada babi Trypanosoma suis, pada merpati Haemoproteus columbae.

VI. Daftar Pustaka

Levine, N. D. 1994. Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Levine, N. D. 1995. Protozoologi Veteriner. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikrboa pada Anjing dan Kucing. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

METODE PEMERIKSAAN ORGAN

I TUJUAN

· Mampu menjelaskan dan mendemonstrasikan pemeriksaan organ, baik organ massif maupun organ berongga.

· Mampu menyiapkan parasit yang ditemukan dalam pemeriksaan organ untuk diidentifikasi.

II MATERI DAN METODE

A. Alat dan bahan

- lar. Fisiologis - skalpel

- akuades - pinset

- gunting - beker glass

- cawan petri - mikroskop stereoskopis

B. Metode

1. Pencarian parasit pada organ masif

· Untuk Cacing (Cara I)

Letakkan organ pada nampan plastik (misal hati)


Buka kantung empedu, cairan & isinya tampung dlm beker glass


Larutkan dengan cairan fisiologis


Cuci dengan cara pengendapan hingga endapan jernih

Tuang endapan dalam cawan petri

Periksa dengan mikroskop stereoskopis

Ambil parasit yang terlihat dengan pinset

Taruh dalam cawan petri yang mengandung lar. Fisiologis

· Untuk Cacing (cara II)

Letakkan organ pada nampan plastik

Masukkan organ pada beker glass berisi cairan fisiologis (organ besar bisa dipotong-potong)


Remas-remas organ sambil ditekan hingga cacing keluar/sampai hancur


Tambahkan cairan fisiologis, biarkan terjadi endapan


Buang supernatannya, isi kembali dengan larutan sampai jernih


Tuang endapan dalam cawan petri, periksa di mikroskop stereoskopis


Kumpulkan dengan pinset, tambah cairan fisiologis

· Untuk Protozoa

Geruslah organ dengan mortir ditambah sedikit cairan fisiologis

Teteskan hasil gerusan pada obyek glass


Tutup dengan gelas penutup, amati dibawah mikroskop

Cara Lain

Mendepres jaringan hati diantara dua obyek glass


Amati di bawah mikroskop

2. Pencarian parasit pada organ berongga

Pisahkan dulu usus dengan penggantungnya


Bila usus pendek, rentangkan pada nampan dan buka semuanya


Bila usus panjang, ikat per bagian-bagian/tiap 10 cm lalu potong perbagian

Buka usus secara hati-hati, agar cacing tidak terpotong

Cacing yang diktemukan, ditaruh pada beker glass dengan cairan fisiologis

Keroklah mukosa usus dngan pungung skalpel

Mukopsa ditampung pada tabung tertutup berisis aquades 40 dejat celcius

Gojog kuat-kuat, buang supernatannya dan ganti cairan fisiologis


Biarkan cairan mengendap


Endapan dituang pada cawan petri


Periksa dengan mikroskop stereoskopis

Kalau pada MATA,

Buka secara hati-hati sinus orbitalis


Dengan loup, lihat ada cacing atau tidak


Ambil dengan pinset, tampung pada wadah dengan cairan fisiologis

3. Penyiapan parasit untuk pemeriksaan

.cacing nemaatoda(gilig) rendam dalam lactopenol 24 jam

cacing nemaatoda (tipis) masukkan dalam cairan AFA


letakkan cacing pada gelas obyek


tetesi dengan lactopenol, tutup dengan gelas penutup


amati dengan mikroskop perbesran 10 kali

Kalaau cacing cestoda dan trematoda difiksasi dulu dengan larutan AFA 24 jam lalu warnai dengan cat Semichons carmine

III. Hasil Praktikum

No

GAMBAR

IDENTIFIKASI

GOLONGAN

HOSPES

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Metastrongylus sp.

Ascaridia Galli

Eimeria Tenella

Tetrameres sp

Haemonchus contortus

Strongyloides papillosus

Punya 2 bibir lateral

Berlobus 3, kapsula bukalis kecil, sayap bergaris melintang, ekor berbentuk kerucut, ovapirosa

3 buah bibir yg besar, ekor jantan ada alae, terdapat percloakal, suker, spikulum, oesopagostomum tanpa posterior

4 sporosista 2 sporozoit,ada 3 generasi meron pada sel epitel, periode prepaten 7 hari.

Jantan panjang 5-5,5 mm dan diameter 116-133 mikron, betina panjang 3,5-4,5 dan lebar 3 mm.

Dewasa panjang 10-30 mm, jantan lebih pendek dari pada betina, bursa sinetris, desebut barbers pole worm

Betina panjang 3,5-6 mm, jantan panjang 700-825 mm, punya gubernakulum, spikulum kuat

Nematoda

Nematoda

Trematoda

Nematoda

Nematoda

Nematoda

Babi (Paru-Paru)

Ayam ( Usus Halus)

Secum Ayam

Proventrikulus

Ayam

Abomasum Ruminansia

Usus halus domba/kambing

IV. Pembahasan

1. Pada Paru-paru Babi

Metastrongylus, sp.

Morfologi : Mempunyai 2 bibir lateral, berlobus tiga. Kapsula bukalisnya sangat kecil. Spikulum pada yang jantan panjang dan lembut, dengan sayap bergaris melintang, terkadang terdapat gubernakulum. Ekor berbentuk kerucut, vulva dekat dengan anus, uterus paralel,

Siklus hidup : Tidak langsung dan butuh hospes intermedier cacing tanah. Babi yang terinfeksi adalah karena memakan cacing tanah yang mengandung stadium infektif. Cacing ini berlokasi di bronkioli paru-paru babi. mempunyai permukaan berombak dan telah berembrio ketika diluncurkan.

Patogenesis: pneumonia verminosa diikuti dengan adanya konsolidasi paru-paru, sulit nafas. dapat membawa virus influenza babi dan kolera babi, dan dapat mengaktifkan influenza babi dan virus pneumonia.

Gejala Klinik : berat badan menurun, nafsu makan berkurang, pneumonia

Diagnosa: Dengan menemukan telur cacing yang khas dalam tinja atau lebih umum menemukan telur cacing dewasa dalam pemeriksaan bedah bangkai. Infeksi dapat dicurigai jika babi menderita pneumonia.

Pengobatan Pengendalian: dapat dicegah dengan mencegah babi dari kebiasaan membongkar tanah. Hal ini dapat dengan cara memberikan cincin pada hidungnya sehingga bila bila membongkar tanah hidungnya akan sakit. Pengobatan dengan memberikan Ivermectin, Levamisole, Febendazole, Flubendazole, Febantel, Mebendazole,dll.

2. Pada Usus Halus Ayam

Ascaridia galli

Morfologi : Cacing ini mempunyai 3 buah bibir yang besar, oesophagus tanpa bulbus posterior,ekor cacing jantan mempunyai alae kecil dan 10 papila tebal dan pendek.

Siklus Hidup : Stadium infektif adalah larva 3, perkembangan lambat bila masuk dalam mukosa usus, periode prepaten 5 – 8 miggu. Patogenesis ; ayam muda lebih peka dari yang dewasa atau yang pernah terinfeksi. Diet kurang vitamin A, B, B12 dan mineral mengakibatkan predisposisi.

Petogenesis : Infeksi berat ; enteritis hemoragi karena pendarahan pada usus, ayam umur lebih dari 3 bulan lebih tahan karena pada mukosa usus memiliki sel goblet.

Gejala Klinik : hemoragi – enteritis – anemia – diare – lemah – obstruksi usus – kurus. Pasca mati terlihat enteritis hemoragi, larva 7 mm di dalam mukosa usus, anemia, dan ditemukan cacing dalam usus.

Diagnosis : menemukan telur cacing di dalam tinja dan cacing di dalam usus saat sutopsi.

Pengobatan : piperazine, phenotiazine, menbendazole, tetramizin, holozon, hygromicin B.

Pengendalian : hewan muda lebih diperhatikan dengan di pisahkan dari yang dewasa, kandang harus kering dengan ventilasi yang baik dan kelembaban harus dijaga. Makanan dan minuman harus bersih.

3. Pada secum ayam

Eimeria tenella

Morfologi : Berisi 4 sporokista masing-masing 2 sporozoid. Bentuk telur lebar dan halus, tanpa mikrofili.

Siklus Hidup : Ada 3 generasi meron pada sel epitel vili, generasi I 900 meron, generasi II 200-350 meron, generasi III 4-30 merozoid. Gamon terdapat pada vili, periode prepaten 7 hari, paling pathogen pada ayam kecil, sporozoid adalah stadium infektif.

Gejala klinis : umur peka 3-6 minggu, ayam petelur 1-16 minggu,

Patogenesis : umumnya diare mukoid atau hemoragi, dehidrasi bulu berdiri, anemia, lesu, lemah menekukkan kepala dan leher.

Diagnosis : perubahan patologik pada sekum, pemeriksaan mikroskopis preparat apus mukosa usus.

Pengobatan : antikoksidia atau sulfanamid, kuinolon, klopidol, zoalen(membunuh sporozoid dan tropozoid).

Pencegahan : kandang ayam harus bersih dan kering, makanan dan minuman tidak terkontaminasi feses.

4. Pada proventrikulus ayam

Tetrameres sp.

Morfologi : Cacing jantan panjang 5-55mm dan betina panjang 3,5 -4,5.

Siklus Hidup : Telur ke hospes intermedier dimakan ayam ke lumen usus ke proventrikulus menjadi dewasa.

Patogenesis : Kerusakan sel spitel pada proventrikulus dan dan terjadi hemoraghi

Gejala klinis : Anemia, lemas, ayam kurus, tak aktif bergerak.

Diagnosa : Menemukan telur dalam feses

Pengendalian : sanitasi kandang yang baik

Pengobatan : Obat annti nematode, sulfanilamide, albendazol.

5. Pada Abomasum Ruminansia

Haemonchus contortus

Morfologi : Cacing merah di lambung pada ruminansia, Dewasa panjang 10 hingga 30 mm, Jantan lebih pendek daripada betinnya dan memiliki warna merah segar dengan dilengkapi suatu bursa yang asimetris, Pada betina dikenal sebagai “ barbers pole worms “ karena uterusnya yang putih diselingi usus yang berwarna kemerahan karena berisi darah

Siklus hidup :

Telur pada tinja menetas di tanah.Larva stadium pertama hidup dari mikroorganisme dalam tinja, menyilih menjadi larva stadium kedua yang juga hidup dari mikroorganisme, dan kemudian menjadi larva stadium ketiga yang terselubung di dalam kulit larva stadium kedua dan tidak makan.Larva stadium ketiga berpindah menuju tumbuhan, dan mereka dapat tertelan oleh hospes definitive,Kemudian di dalam saluran gastrointestinal mereka melepaskan selubungnya dan menyilih menjadi larva stadium keempat dan kemudian mencapai dewasa.

Patogenesis : Cacing paling pathogen diantara nematode lain, Infeksi berat terjadi pada hewan muda akibat anemia, hipoproteinemia, emasiasi, Pengaruh ini muncul pada musim penghujan, sementara pada musim kemarau jika infeksinya berat dapat berakibat kematian

Gejala klinis : Anemia, Udema, Bottle jaw, Bulu kasar, Kehilangan berat badan

Pencegahan dan pengobatan : Manajemen padangan dan obat cacing secara periodic

6. Pada Usus Halus Ruminansia

Strongyloides pappilosus

Morfologi : cacing betina panjang 3,5-6 mm dan menghasilkan telur bentuk elips. Cacing jantan panjang 700-825 mikron dengan spikulum yang kuat, melengkung panjang 33 mikron. Gubernakulum panjang.

Siklus Hidup : Larva 1 keluar bersama tinja → larva 2 → larva 3 → menginfeksi induk semang dengan menembus kulit atau tertelan→pergi kekapiler dan

terbawa olah darah→paru-paru→saluran udara→trachea→esopagus ke usus halus→larva 4 dan dewasa.

Patogenesis : adanya kerusakan sel usus dan hemoraghi, peradangan dan udema pada dinding usus

Diagnosis : menemukan cacing pada saat nekropsi dan menemukan telur pada pemeriksaan tinja

Gejala klinis : Berat badan turun, kelemahan, kurus, anemia, bulu berdiri dan kusam

Pengobatan : Albendazol, Febendazol, levamisol.

V. Kesimpulan

1. Pada organ paru-paru babi kemungkinan Metastrongylus sp, pada proventrikulus ayam Tetrameres, pada usus halus ayam Ascaridia galli, pada secum ayam Eimeria tenella pada abomasums ruminansia Haemonchus contortus, pada usus halus ruminansia strongyloides papillosus.

2. Parasit pada rongga dari organ sesalu menyebabkan radang atau hemoragi pada lapisan mukosa

3. Pengambilan parasit dilakukan dengan mengamati kerokan pada lapisan mukosa

VI. Daftar Pustaka

Barner bill morgan,B.S,Ph.D. 1958. Veterinary Helmintology. Burges Publishing Company.

Geoffrey lofage. 1959. Veterynary Helmintologi and Entomonologi. Fourth edition. Bailliere,tindail and cox and 8 henyetta street covent cardes. London

Monning. H.O. 1949. Veterynary Helmintologi and Entomonologi. Thirth edition. Bailliere,tindail and cox and 8 henyetta street covent cardes. London

6 komentar:

  1. maaz wahyudii....
    tenkyu bgt,.
    bwt bahan laporan parasitku,.
    ag nak D3'08,.
    =]

    BalasHapus
  2. owh..........

    ini postingngannya mas yudi tho.....

    hm.....
    haX kak....
    bakal kepake kayaknya...
    heee

    BalasHapus
  3. anonim 1.........
    iya sama2.....terima kasih atas kunjungannya.....

    anonim 2........
    iya punyaku.......iya manfaatkan sebaink2nya ya....semangat

    BalasHapus
  4. trimakasih buat materinya. salam kenal dari saya titi fkhUB'09....

    BalasHapus
  5. TITI............iya salam kenal juga.......
    gabung aja dengan blog ku......

    BalasHapus