Selasa, 13 Oktober 2009

SCHISTOSOMIASIS DAN ANAPLASMOSIS





SCHISTOSOMIASIS

LOKASI

Pembuluh darah

MORFOLOGI

Cacing memanjang, uniseksual. Cacing betina langsing dan lebih panjang, ovarium memanjang di anterior dari persatuan intestinum, glandula vitellaria di samping ovarium. Pada beberapa species, cacing betina dibawa oleh cacing jantan, terutama selama kopulasi di celah mirip parit di permukaan ventral cacing (canalis gynaecophoris) yang dibentuk oleh lekukan sisi tubuh lateral. Sucker lemah, pharyng tidak ada, cabang intestinum bersatu di posterior membentuk saluran tunggal sampai ke ujung atau tepi tubuh, porus genitalis di dekat b.i.p, testis cacing jantan berlobus 4 atau lebih di anterior/posterior.

Telur berdinding tipis, tidak beroperkulum, beberapa species berspina di lateral. Telur dikeluarkan cacing betina di pembuluh darah kecil di dinding usus/kandung kencing, kemudian menembus jaringan keluar dari hospes bersama feses atau urin. Serkaria berbentuk furcocerous, tanpa pharyng, berkembang dari sporosista (tanpa stadium redia). Serkaria memasuki per kutan dan tidak membentuk sista.

Schistosoma bovis

LOKASI

Vena porta dan vena mesenterica

MORFOLOGI

Schistosoma bovis egg Jantan 9-22 x 1-2 mm, testis 3-6 dalam baris longitudinal di dekat b.i.p sedangkan betina 12-28 mm, ovarium 1mm di pertengahan tubuh belakang glandula mehlis ke uterus di anteriornya. Usus bercabang pada b.i.p, telur mirip kumparan 132-247 x 38-60 mm.


Telur S. bovis

SIKLUS HIDUP

Betina di pembuluh darah kecil di mukosa/submukosa usus, bertelur di kapiler. Telur menembus dinding usus à lumen usus à tinja à menetas à mirasidium (siput) à sporosista à sporosista anak –serkaria (furcocercous). Keluar dari siput à berenang di air, keluar serkaria dari siput secara periodik (S. mansoni siang hari 09.00-14.00). infeksi ke h.d secara per cutan aktif. Serkaria dapat menembus dinding rumen bila ikut terminum. Penembusan kulit à karena sekresi gld. Cephalica yang mencerna jar

ingan à schistosomula à cor à paru-paru à hati à vena porta hepatis à jantan dan betina meninggalkan hati à v

ena mesenterica ruminansis terinfeksi bila berdiri di air

.

Patogenesis


scienceblogs.com/notrocketscience/2008/03/new

1. Intestinal akut

Terlihat pada schistosomiasis akut pada hewan yang terinfeksi berat (karena cacing betina) dan keluar banyak telur melalui mukosa usus. Gejala mulai 7-9 minggu setelah infeksi, lesi hemoragik berat terutama pada mukosa usus halus posterior. Cacing

dewasa menyebabkan phlebitis vena mesenterica dan proliferasi tunika interna dengan penyumbatan sebagian atau seluruh lumen. Bila infeksi melanjut cacing pindah ke bagian usus yang lain maupun organ lain.

S. bovis biasanya di vena usus à pankreas, paru-paru, lgl. mesenterica.

S. matheei à sepanjang usus dari rumen à rectum à pankreas, lgl. mesenterica, paru-paru.

Pada infeksi berat S. matheei dan S. indicum dapat dijumpai di arteria pulmonalis à paru-paru membesar, hitam kecoklatan, mla-mula foci merah à keabu-abuan/nodulus mengelilingi cacing dewasa.

2. Hepatik

Penyakit imunologik à reaksi hospes pada telur schistosoma di hati (telur ke peredaran darah portal). Antigen à pori kelabang telur à reaksi imunologik spesifik hospes à granuloma avascular dapat mencapai 100 kali ukuran telur. Reaksi radang kronis à jaringan fibrosis à “pipa tanah liat” à obstruksi supply darah à sirkulasi portal collateral à varises esofageal à tidak terjadi pada hewan à perdarahan à kematian.

Pada hewan terjadi karena berulang-ulang terinfeksi beratt. Pada sapi dan domba yang paling patogen à S. bovis dan S. japonicum. Pada S. matheei dan S. spindale dapat terjadi eliminasi spontan cacing dewasa. Mungkin karena reaksi imunogis dan patogen

esis parasit berkurang. Anemia terjadi karena hemodilusi, pedarahan dan dyshaemopoeresis.

GEJALA KLINIS

1. Gejala klinis akut

Migrasi sejumlah besar schistosoma lewat paru-paru à batuk. Infeksi berat yang akut à diare profus/desentri, dehidrasi dan anoreksia. Terjadi anemia dan hipoalbumnemia dan kadang-kadang odema. Produksi turun dan kehilangan berat badan.

2. Gejala klinis kronis

Kurus, eosinofilia, anemia, hipoalbuminemia, gejala syaraf.

Diagnosis

Gejala klinis dan pemeriksaan tinja à telur tercampur darah dan mucus.

Pengendalian

Menghalangi hospes definitif dari air yang tercemar, pekarja yang berhubungan dengan air memakai pelindung, menghalangi siput dari h.d yang terinfeksi.

Pengobatan

S. matheei pada sapi à Stibophen 7,5 mg/kg/hr untuk 6 hari.

à Lucanthone 30mg/kg

S. bovis pada sapi à Trichlorophon 50-70 mg/kg per os

ANAPLASMOSIS

LOKASI

Protozoa ini di dalam sel darah merah. Dalam sel darah merah letaknya bervariasi, ada yang dipinggir dan ada juga yang ditengah tergantung spesiesnya.

MORFOLOGI

Tampak seperti benda bulat kecil dan tidak mempunyai sitoplasma. Anaplasma berukuran 0,2-0,5 m.

SIKLUS HIDUP

Berlokasi di intraseluler dan dikelilingi oleh invaginasi vakuoler

sel hospes, ditularkan oleh caplak dan lalat Diptera Ta

banus dan Stomoxys.

PATOGENESIS

Patogenitas anaplasma sangat bervariasi tergantung pada umur. Anak sapi mengalami infeksi ringan dengan sedikit kematian atau tidak sama sekali. Pada ternak dewasa penyakit yang dialami sangat hebat, angka kematian mencapai 20-50%. Semua jenis dan tipe ternak dapat terkena parasit ini.

GEJALA KLINIS

Gejala yang awal meliputi demam tinggi mencapai 40-41°C, produksi susu menurun,depresi, dan berat badan menurun. Bila penyakit semakin parah maka ditandai dengan bertambah parahnya anemia, dehidrasi dan konstipasi. Hewan yang sembuh akan bertindak sebagai karier.

DIAGNOSIS

Pada daerah endemic diagnosa dapat dilihat dari berbagai gejala klinis yang ada seperti anemia tanpa terjadi hemoglobinuria, ikhterus. Anaplasmosis sering diikuti dengan babesiosi akut dan theileirosis. Pengecatan preparat apus darah dengan giemsa dapat digunakan untuk melihat parasit secara mikroskopis. Uji serologis seperti CFT dan IFAT merupakan alat diagnosa yang baik.

PENCEGAHAN

Secara teratur dilakukan dipping, penyemprotan(spraying) selama vektor banyak, dapat segera menurunkan populasinya.

PENGOBATAN

Anaplasmosis akut paling efektif diobati dengan menggunakan tetraciklin, clortetraciklin, imidocarb propionate dan tranfusi darah 4-6 liter dapat diulang setiap 48 jam.

DAFTAR PUSTAKA

Bowman, Dwight D dkk, 1999. Georgis’ Parasitology for Veterinarians 8th. Saunders : USA

Levine, Norman D. 1994. Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press : Indonesia

Morgan, Banner Bill and Philip A. Hawkins, 1994. Veterinary helminthology. Burgess Publishing Company : USA

Urquhat, G..M., dkk, 1987. Veterinary Parasitology. ELBS : England

http://www.merckvetmanual.com/mvm/index.jsp?cfile=htm/bc/22707.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar