Rabu, 07 Oktober 2009

Aeromonas hydrophyla



Aeromonas hydrophyla

Aeromonas hydrophila menyebabkan penyakit yang dikenal dengan Motile Aeromonas Septicemia (MAS), Hemorrhagic Septicemia, penyakit ulcer atau Red-Sore Disease. Sinonim dari penyakit ini berhubungan dengan gejala serangan penyakit yang disebabkan bakteri atau racun yang ditimbulkan bakteri yaitu septicemia pada permukaan tubuh ikan dan organ tubuh ikan lainnya. Bakteri ini adalah bakteri gram negatif berbentuk batang yang biasanya diisolasi dari kolam air tawar. Bakteri ini adalah organisme yang biasanya ditemui pada saluran pencernaan ikan. Penyakit yang diakibatkan bakteri ini menyerang berbagai jenis spesies ikan air tawar.

Aeromonas hydrophila

Scientific classification

Domain: Bacteria
Kingdom:Proteobacteria
Phylum: Gammaproteobacteria
Class: Aeromonadales
Genus: Aeromonas
Species:A. hydrophila
Binomial name
Aeromonas hydrophila
(Chester, 1901)
Stanier, 1943


Morfologi
Aeromonas hydrophila merupakan bakteri berbentuk batang, bersifat motil karena mempunyai satu flagel (monotrichous flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya, berukuran 1-4 x 0,4-1 mikron, fakultatif aerobik, tidak berspora. Bakteri ini umumnya hidup di air tawar yang mengandung bahan organik yang tinggi dan senang hidup di lingkungan bersuhu 15-30 oC pada pH antara 5,5-9.


Scanning electron micrograph of Aeromonas hydrophila attached to a human intestinal epithelial cell line(photo courtesy of Northwest Fisheries Science Center, NOAA).

Aeromonas hydrophylla pengecatan Gram (http://www.elestanque.es/graf/ba3.jpg

Karakteristik yang lain adalah kemampuan tumbuh pada temperatur 37 oC dan NaCl 4%. Beberapa isolat dideteksi dalam kemampuan produksi pigmen coklat yang dapat dikelirukan dalam diagnose dengan Aeromonas salmonicida. Aeromonas hydrophylla mempunyai morfologi koloni kuning, bentuk sirkuler dengan sudut batas konveks dan tepi koloni penuh, sedangkan pada pengecatan Gram tampak berwarna merah dan berbentuk batang. Aeromonas adalah bakteri yang motil dengan panjang 1-4┬Ám. morfologi koloninya sama dengan batang enteric gram negative, dan mereka menghasilkan hemolisis yang berzona besar pada agar darah. Spesies Aeromonas berbeda dari batang enteric gram negative dilihat dari adanya reaksi oksidase positifnya pada pertumbuhan yang di dapat dari cawan agar darah. Spesies ini juga berbeda dengan Vibrio dilihat dari munculnya resistensi terhadap campuran O/129 dan sulitnya pertumbuhan pada media yang mengandung 6% NaCl (Jawetz, 2005). Bakteri aeromonas termasuk ke dalam family Pseudomonadaceae dan terdiri dari tiga spesies utama, yaitu A. punctata, A.Hydrophila dan A.liquiefacieus yang bersifat pathogen. Bakteri aeromonas umumnya hidup di air tawar, terutama yang mengandung bahan organik tinggi. Terdapat pula pendapat bahwa bakteri aeromonas dapat hidup dalam saluran pencernaan (Afrianto dan Liviawaty, 1992).
Aeromonas hydrophilla merupakan bakteri yang umumnya dapat diisolasi dari air segar dan juga memiliki habitat yang normal pada saluran gastrointestinal. Bakteri ini merupakan patogen oportunistik. sehingga sangat umum dijumpai di air dan memiliki beragam serotype yang berbeda tingkatan virulensinya, tetapi pada ikan-ikan yang ketahanan tubuhnya menurun seperti pada ikan yang mengalami stress, karena kualitas air yang buruk, kekurangan pakan, atau pada pemeliharaan dengan padat tebaran tinggi, maka bakteri ini menjadi patogen sehingga baru nampak gejala klinisnya. Patogen berarti dapat menyebabkan penyakit apabila ada faktor pendukung yang lain. Oportunistik berarti pada umumnya tidak menyebabkan penyakit apabila factor yang lain tidak timbul. Jadi, istilah pathogen oportunistik menunjukkan bahwa Aeromonas hydrophilla mampu menimbulkan penyakit apabila ada factor lain yang mendukung. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini khususnya menyerang ikan air tawar seperti catfish dan ikan kakap putih yang dipelihara di tambak bersalinitas rendah, beberapa spesies bass dan berbagai spesies dari ikan tropis maupun ornamental (White, 1991 dan Irianto, 2005).
Bakteri ini menyebabkan penyakit bercak merah atau Bacterial Haemorrhagica Septicemia (BHS) atau Motile Aeromonas Septicemia (MAS), Ulcer Disease, Red Sore Disease. Bermacam-macam sinonim dari penyakit ini berhubungan dengan lesi yang disebabkan oleh bakteri ini, mencakup septisemia di mana bakteri atau toksin bakteri muncul pada berbagai organ dari ikan dan ulcer pada kulit ikan (White, 1991).
Aeromonas hydrophilla memiliki toksin berupa endotoksin yang merupakan bagian integral dari dinding sel bakteri Gram negatif yang dilepas seluruhnya pada bakteri yang mati dan sebagian di lepas selama pertumbuhan. Kemungkinan tidak dilepaskan untuk aktivitas biologi. Endotoksin berupa lipopolisakarida komplek. Lipid A bertanggung jawab terhadap toksisitas. Untuk reseptor yang spesifik tidak ditemukan dalam sel. Sintesis endotoksin dilakukan oleh gen kromosom (Brooks dan Morse, 2001). Menurut Govan, dkk (1981) sel yang rusak oleh toksin bakteri Aeromonas hydrophilla akan mengalami degenerasi ataupun nekrosis sehingga akan melepaskan enzim yang menyebabkan keluarnya phospat organic dan terjadi perubahan pH sehingga terjadi deposit kalsium
Patogenesis
Sistem pemeliharaan ikan dalam kolam harus sesuai prosedur ketentuan yang ada, sehingga secara tidak langsung dapat mencegah timbulnya beberapa penyakit yang menyerang pada kolam ikan. Kebersihan dan pengelolaan kolam yang buruk, populasi ikan yang terlalu padat, serta kondisi air kolam yang keruh menyebabkan daya tahan tubuh ikan menurun, sehingga ikan mudah terinfeksi A. hydrophilla yang menyebabkan ikan berenang lambat, terlihat lesi kemerahan pada kulit dibagian lateral tubuh, dan menyebabkan eksoptalmia. Dan juga Aeromonas hydrophila dikategorikan sebagai patogen opportunis yaitu dapat menyebabkan penyakit bila kondisi memenuhi syarat. Pada situasi alami, kehadiran bakteri ini dianggap normal akan tetapi pada kondisi akuakultur yang intensif keberadaan bakteri ini patut diperhitungkan. Penyakit akibat bakteri ini biasanya muncul akibat dari kondisi stres pada ikan. Ahli akuakultur sepakat bahwa ikan dapat mengalami stres apabila terkondisikan pada penanganan yang kurang baik, kepadatan yang terlalu tinggi, transportasi dalam kondisi yang buruk, nutrisi yang tidak memadai dan kualitas air yang buruk. Beberapa faktor kualitas air yang dapat menyebabkan ikan rentan terserang Aeromonas hydrophila antara lain tingginya kandungan nitrit, rendahnya kandungan oksigen terlarut dalam air atau tingginya kandungan karbon dioksida terlarut.
Gejala Klinik
Ikan yang terserang oleh bakteri Aeromonas sp. akan nampak beberapa gejala yang sesifik, namun secara tepatnya harus dilakukan uji laboratorium. Beberapa gejala ikan yang nampak terlihat seperti warna tubuh ikan menjadi gelap, kemampuan berenang turun, adanya hemoragik pada kulit sehingga kulit menjadi kasat dan timbul perdarahan selanjutnya diikuti oleh luka-luka borok dan borok pada kulit yang dapat meluas ke jaringan otot, hemoragi insang sehingga ikan sulit bernafas, rongga mulut, sirip, dan sisik. Dapat juga terjadi eksoptalmia, asites, pembengkakan limpa dan ginjal (Kordi, 2004).

Eksoptalmus
http://www.aquar.cz/Rozpad-zaberRamirez1.jpg
Ikan yang terserang penyakit dapat menunjukkan beberapa gejala antara lain kematian yang mendadak, kurangnya nafsu makan, gerakan berenang yang tidak nomal, insang yang pucat, pembengkakan tubuh atau luka-luka pada ikan. Luka pada ikan dapat terjadi pada bagian manapun dari ikan dan biasanya gejala ini biasanya ditunjukkan dengan luka yang dikelilingi jaringan tubuh yang berwarna merah. Organ lain yang dapat diserang antara lain insang, ginjal, pankreas, spleen bahkan otot tulang. Simptom penyakit ini bervariasi mengingat hal ini tergantung dari beberapa faktor antara lain virulensi dari bakteri, resistensi ikan terhadap infeksi, hadirnya atau tiadanya septicemia dan bacteremia dan faktor yang diasosiasikan dengan stres pada ikan. Gejala klinik tergantung pada banyaknya factor seperti tingkat virulensi dari organism, resistensi ikan terhadap infeksi, ada tidaknya bakteremia atau septisemia, dan factor stress yang berhubungan dengan ikan (White, 1991).
Perubahan Patologis
Setelah dilakukan nekropsi terlihat perdarahan pada hati, limpa, dan ginjal (Kordi 2004).
Perubahan Histopatologis
Tampak terjadinya nekrosis pada limpa, hati, ginjal, dan jantung. Seringkali bakterimia ditandai oleh penampakan sel-sel bakteri pada jaringan-jaringan tersebut (Kordi, 2004). hemoragi insang sehingga ikan sulit bernafas, rongga mulut, sirip, dan sisik (seperti terlihat pada gambar 3). Membrane mukosa pada intestinum biasanya terjadi nekrosis dan deskuamasi ke dalam lumen. Nekrosis fokal ditemukan pada otot, cor, hepar, gonad, dan pancreas. Lesi kulit berawal dari edema pada dermis dan hiperemi pada stratum retikuler yang menjadi ulser pada epidermis diikuti nekrosis hemoragi pada otot (Robert, 2001).

Hemoragi pada insang yang terinfeksi Aeromonas hydrophylla
http://www.aquar.cz/Rozpad-zaberRamirez1.jpg

Penularan
Penularan terjadi secara horizontal lewat kontak langsung dengan air, kontak dengan peralatan tercemar atau dengan hewan yang sakit (Kordi, 2004).
Terapi
Cara pencegahan penyakit ini antara lain dengan mengurangi faktor-faktor penyebab stress melalui penanganan yang baik, kepadatan yang memadai, nutrisi, transportasi dan kualitas air. Dengan cara pencegahan tersebut hampir dipastikan ikan akan terhindar dari penyakit ini. Sanitasi dan filtrasi yang baik juga akan berpengaruh dalam manajemen kesehatan ikan.
Penanggulangan bakteri Aeromonas dapat dilakukan menggunakan antibiotik melalui perendamam (dipping) yaitu dengan Kalium Permanganat (PK) 10-20 ppm selama 30-60 menit atau 3-5 ppm selama 12-24 jam. Nitrofuran 5-10 ppm selama 12-24 jam, Oxytetrasiklin 5 ppm selama 24 jam, Imequil 5 ppm selama 24 jam, Baytril 5-8 m3 air untuk selang waktu yang tidak terbatas. Perendaman dengan vaksin hydrovet (1 ml vaksin + 10 ml air) untuk 100 ekor benih ikan selama 30 menit. Air bekas rendaman dibuang ke tempat kering dan tidak boleh mencemari perairan umum, juga dengan cara penyuntikan dilakukan dengan menggunakan Oxytetrasiklin 20-40 mg/kg ikan atau Streptomycine 20-60 mg/kg ikan. Penyuntikan dilakukan secara intra peritoneal atau intra muscular.
Penanggulangan dengan perlakuan pakan dilakukan dengan pemberian pakan pellet dicampur Oxytetrasiklin 50 mg/kg ikan yang diberikan setiap hari selama 7-10 hari berturut-turut. Ikan yang diobati dengan antibiotik baru dapat dikonsumsi dua minggu setelah pengobatan (Kordi, 2004).
Karakteristik biokima Aeromonas dan Plesiomonas shigelloides
Test A. Hydrophila A. Caviae A. sobria P. shingelloides
Oxidase
Catalase
Indole
Motility
Gas from glukosa
Arabinosa
Dulcitol
Glukosa
Inositol
Lactose
Maltose
Mannitol
Raffinose
Rhamnose
Salicin
Sorbitol
Sukrosa
Trehalosa
Voges-Proskauer
Urease
H2S +
+
+
+
+
+
-
+
-
V
+
+
-
-
+
-
+
+
+
-
- +
+
+
+
-
+
-
+
-
V
+
+
-
-
+
-
+
+
-
-
- +
+
+
+
+
-
-
+
-
V
+
+
-
-
-
-
+
+
+
-
- +
+
+
+
-
-
-
+
+
V
+
-
-
-
V
-
-
+
-
-
-
Keterangan: +, ≥ 85% strain positif
-, ≥ 85% strain negative
V, Variable (Howard, 1987).
The rapid identification procedure for Aeromonas spp.
Aeromonas spp. (Carp - red spot disease, Eel - red fin disease)

www.fao.org/docrep/field/003/P6713E/P6713E04.htm
Tabel. perbandingan reaksi biokimia pada spesies Aerominas
Substrat of Test A. Hydrophila A. Salmonicida A. shigelloides
Glukosa
Gas from glukosa
Gas from otherkarbohidrat
Laktosa
Sukrosa
Maltose
Mannitol
Dulcitol
Rhamnose
Arabinose
Inositol
Xylose
Raffinose
Sorbitol
Salisin
Adonitol
Trehalose
Cellobiose
Glycerol
Indol
Methyl Red 37%
22%
Voges Proskauser 37%
22%
Citrate Simmons’
Citrate Christensen’s
Hydrogen sulfide (TSI)
Urease
Nitrat
Ammon, Salt glukosa agar
Gelatin
Pheniylalanine deaminase
Malonate
KCN broth
Phenylproprionic acid reaction
Lysine decarboxylase
Arginin dihidrolase
+
d
d
d
+
+
+
-
-
d
-
-
-
d
d
-
+
-or+
d
d
+
-or+
-or+
+or-
d
d
-
-
+
d
+
-or+w
-
-or+
-

-
d

+
+
+
-
-
+
+
-
-
(+)
-
-
-or+w
-
(+)
-
+or(+)

-
d
-

+

-
-
-
-
-
+
-
+
-or+w
-
-
See tex

-or(+)w
- +
-
-
+
-
+or-
-
-
-
-
+
-
-
-
-or(+)
-
+
-
d
+
+
+
-
-
-
-
-
-
+
+
-
+wor-
-
-

-

+
+

Keterangan: d= different biochemical; (+)= delayed positif; w= weak reaction (Carter, 1975).

2 komentar:

  1. makasi dab infonya,...

    dpt dr mana????

    ini hasil penelitian di Jerman ya,....hahahaha

    BalasHapus
  2. ok...............
    iya jerman (jejer sleman )....ha2

    BalasHapus