Selasa, 13 Oktober 2009

EURYTREMA ( E. pancreaticum ), Moniezia Expanza,THEILERIOSIS, Surra (Trypanosomiasis), Babesiosis

EURYTREMA ( E. pancreaticum )

Lokasi : ductus pankreaticus
Hospes : ruminansia
HI : siput darat, belalang / tree cricket (jangkrik)
Hospes definitif terinfeksi bila makan belalang infected ----parasit migrasi dari usus ke ductus pancreaticus.


Siklus hidup
Telur tidak menetas sebelum tertelan HI 1 (siput darat)----ada 2 generasi sporokista----menjadi cerkaria----keluar bersama lendir siput----berkembang kurang lebih 3 bulan.
Cerkaria dalam lendir termakan belalang----menjadi metacerkaria, terutama di rongga tubuh.
Hospes definitif terinfeksi bila makan belalang infected. Perkembangan pada belalang kurang lebih 1 bulan pada musim panas.
Pada hospes definitif metacerkaria, menetas di usus----cacing muda bermigrasi ke ductus pancreaticus.
Tidak ada migrasi cacing melalui parenchym hati.
Periode pre paten : 10-12 minggu.
Cacing ini berumur panjang, bisa hidup di hospes sampai beberapa tahun



Patogenesis
Dicrocoelium tidak membuat liang-liang di dalam parenkima hati, tetapi langsung masuk ke dalam saluran empedu lalu berjalan-jalan di dalamnya sejauh batas kemampuannya. Cacing ini lebih kecil daripada fasciola dan menyebabkan kerusakan lebih sedikit. Mukosa saluran empedu kadang-kadang menebal, mengalami proliforasi, dan terjadi fibrosis, tetapi hanya pada infeksi yang sangat hebat saja terdapat gejala-gejala anemia, edema, dan kekurusan.

Kekebalan
Seperti halnya oleh cacing-cacing lain, maka hewan dewasa lebih resisten terhadap infeksi dan lebih dapat bertahan terhadap pengaruh cacing jika dibandingkan dengan hewan muda. Kekebalan ini biasanya merupakan hasil dari infeksi yang terjadi sebelumnya.

Diagnosis
Infeksi cacing daun dapat didiagnosis dengan cara menemukan dan mengidentifikasi telur-telur yang terdapat di dalam tinja. Telur cacing daun lebih cenderung tenggelam ke dasar daripada mengapung ke permukaan pada pemeriksaan dengan metode apung, sehingga teknik sedimentasi lebih baik daripada teknik pengapungan untuk menemukan telur tersebut.

Pencegahan dan pengendalian
Infeksi cacing daun dapat dicegah dengan cara menghindari terjadinya kelembaban padang rumput sebagai tempat hidupnya siput. Daerah di sekitar kolam harus diberi pagar, domba serta kambing jangan dibiarkan makan ruput di situ. Dicrocoelium dapat ditemukan pada padang rumput yang tidak terlalu basah. Penyemprotan dengan molusisida dapat bermanfaat pada kasus-kasus semacam itu.



Moniezia Expanza

Lokasi

Cacing pita ini ditemukan pada usus halus sapi/lembu, domba dan kambing.

Morfologi

memiliki ukuran 600 cm x 1,6 cm.Cacing pita ini mempunyai scolex dengan lebar360-800 micron yang mempunyai 4 sucker(akat penghisap) dan menonjol. Pada sucker tidak terdapat rostelum dan kait. Proglotidnya lebih lebar dari panjangnya dan masing-masing terdiri dari 2pasang organ reproduksi, dimana porus genitalis terletak di tepi dari proglotid. Ovarium dan glandula vitelaria membentuk cincin pada tiap sisi di median canalis ekskretori. Testis tersebar dengan glandula interproglotida ada di sepanjang lebar proglotid, ditengahnya terdapat canalis ekskretori. Batas posterior tiap proglottid adalah barisan glandula interproglottid. Telur-telurnya adalah triangular yang berdiameter 50-60 micron dan berisi apparatus pyriformis yang berkembangdengan baik.

Siklus hidup

telur dan proglotid keluar bersama tinja, proglotid dapat termakan oleh burung sehingga dapat menyebarkan infeksi. Satadium infektif (cysticercoid) berkembang di tungau Cribatidae(hospes intermedier) selama ± 4 bln. Hospes defenitif terinfeksi karena makan tungau bersama tumbuh-tumbuhan. Cacing ini memiliki periode prepaten selama 37-40 hari

Patogenesis

Pada umumnya hanya hidup dibawah 6 bulan dari saat memperlihatkan gejalanya, meskipun hewan-hewan dewasa juga bisa mengandung parasit. Gejala klinisnya tidak diketahui dengan jelas. Sampai parasit tumbuh cepat, pembuangan hasil metabolisme, jika diabsorbsi bisa menyebabkan beberapa penyakit.

Diagnosis

Parasit ini bisa didiagnosis dengan menemukan proglottid gravid atau karakteristik telur dalam feses.

Pengobatan

Pada perkembangan secara teoritis copper sulfat dan nikotin sulfat atau kamala, digunakan untuk domba.

Pencegahan

Cara untuk mencegah masuknya cacing ini adalah dengan memperhatikan kebersihan pakan, sehingga tidak terdapat tungau yang bisa membawa Moniezia expansa masuk kedalam tubuh hospes. Melakukan sanitasi kandang sehingga telur Moniezia expansa tidak dapat berkembang baik.



theileriosis

Penyakit infeksius, virolen, inokulabel (pada saat gejala akut), non kontagius yang menyerang hewan ruminansia domestik maupun ruminansia liar yang ditandai dengan demam, radang ganglion limfatik dan anemia.

Gambaran umum :

  • Anggota‑anggota familia Theileriidae terdapat pada mammalia.
  • Mereka mempunyai merozoit‑merozoit kecil, bulat, ovoid, tidak teratur, atau bentuk seperti bacillus (bacilliform).
  • Unsur‑unsur komplek apical sangat berkurang, termasuk hanya rhoptri‑rhoptri; tidak ada cincin‑cincin polar atau konoid-konoid.
  • Mikronema‑mikronema dan mikrotubul‑mikrotubul subpellikular hanya ada pada stadia tertentu.
  • Suatu mikropor ada pada stadium dalam eritrosit. Beberapa meront terdapat dalam eritrosit‑eritrosit vertebrata dan yang lain dalam limfoit‑limfoit vertebrata, histiosit‑histiosit, eritroblast‑eritoblast, dan sebagainya.
  • Merogoni berlangsung dalam limfosit‑limfosit, histiosit-histiosit, eritroblast‑eritroblast, dan sebagainya dan diikuti dengan penyerangan eritrosit‑eritrosit.
  • Bentuk‑bentuk di dalam eritrosit‑eritrosit dapat atau tidak dapat berkembang biak; jika mereka berkembang biak, mereka membagi diri jadi 2 atau 4 merozoit. Vektor‑vektornya ialah caplak‑caplak ixodid (Ixodidae); pembelahan diri jadi dua dan schizogoni terjadi dalam caplak. Sinonim‑sinonim genus ini adalah Gonderia, Cytauxzoon, dan Haematoxenus.

Theileria annulata

Penyakit.

Teileriosis tropika, piroplasmosis tropika, demam Mesir (Egyptian fever), Mediterranean Coast fever.

Spesies ini biasanya terdapat dalam limfosit-limfosit dan eritrosit­-eritrosit sapi, zebu, dan kerbau air di Afrika Utara, Eropa sebelah selatan, sebelah selatan bekas Uni Soviet dan Asia, menyebabkan kematian 10-90%, tergantung pada daerahnya. Menyebab­kan salah satu dari penyakit-penyakit yang paling penting dari sapi di daerah­-daerah itu.

Struktur.

Bentuk-bentuk dalam eritrosit-eritrosit yang paling banyak (70-­80%) adalah bulat atau oval tetapi juga dapat berbentuk batang, koma, atau bahkan seperti Anaplasma.

  • Bentuk bentuk bulat diameternya 0,5-2,7 µm, dan yang oval kira-kira 2,0 x 0,6 µm, yang berbentuk koma kira-kira 1,2 x 0,5 µm, dan yang seperti Anaplasma diametemya 0,5 µm.
  • Pembelahan jadi dua terjadi dengan pembentukan dua individu anak, atau pembelahan jadi empat dengan pembentukan empat individu dalam suatu bentuk silang,
  • Bentuk-bentuk koma dan bulat kedua-duanya mempunyai suatu mikropor, tetapi tidak ada yang mempunyai cincin-cincin polar, konoid, atau mikrotubul-mikrotubul subpellikular

Yang disebut benda-benda Koch terdapat dalam limfosit-limfosit dari limpa atau kelenjar-kelenjar limfe, atau berada bebas dalam organ-organ tersebut. Diameter mereka rata-rata 8 µm tetapi berkisar naik sampai 15 atau bahkan 27 µm. Telah dikenal adanya dua tipe, tetapi sebenarnya yang satu (berubah) menjadi yang lain. Yang disebut makromeront-makromeront atau makroskizont-makroskizont berisi butir-butir kromatin yang berdiameter 0,4­-1,96 µm; setelah nuklei mereka membagi diri lebih lanjut mereka menjadi mikromeront-mikromeront, yang berisi butir-butir kromatin berdiameter 0,3-0,8 µm dan menghasilkan merozoit-merozoit berdiameter 0,7-1,0 µm. (lihat gambar(11.6).


Gambar 11.6 Merozoit Theileria annulata, T. mutans, dan atau T. parva : IM = rnembran dalam pellikel, MI = mitokondrion, MN = rnikronema, N = inti. OM = rnembran luar pellikeI. P = cincin polar, R = rhoptri, V = vakuol

Di dalam caplak, bentuk-bentuk berbentuk gelendong panjangnya kira-kira 8-12 µm dan diameternya di bagian tengah 0,8 µm, dengan suatu unit membran, suatu apex padat elektron berbentuk seperti stiletto, (pisau, belati) panjang kira-kira 2-3 µm, beberapa penonjolan-penonjolan ke luar seperti flagelum yang panjangnya 4-5 µm, dan ada suatu kutub posterior langsing sebagai mikrogamont-mikrogamont. Struktur menyerupai stiletto kelihatan seperti sepon pada dasarnya. Mikrogamont­-mikrogamont membentuk benda.benda filiform (seperti benang) yang panjangnya kira-kira 12 µm dengan suatu inti ditengah dan beberapa mikrotubul-mikrotubul. Mereka itu dianggap sebagai mikrogament-mikrogament. Benda-benda bulat yang dianggap sebagai mikrogament-mikrogament ada. Kemudian (mungkin setelah singami) timbul kinet-kinet yang panjangnya hingga 20 µm dan mempunyai diameter maksimum 4-5 µm. Mereka mempunyai suatu pellikel yang khas seperti koksidia, yang mempunyai garis-garis permukaan yang khas. Pada ujung anterior ada sistem cincin polar terdiri dari suatu struktur seperti tulang rusuk yang dibawahnya ada 38-40 mikrotubul-mikrotubul subpellikular, masing-masing di bawah suatu rusuk. Mereka berakhir setelah suatu jarak yang pendek. Sepertiga bagian apikal sel adalah penuh berisi mikronema-mikronema, dan juga ada mikronema-mikronema dalam jumlah lebih kecil di bagian-bagian posterior. Tidak ada rhoptri-rhoptri atau struktur-struktur seperti kristal (crystalloid). Sebelah anterior inti ada suatu zone organel-organel berselaput dua berukuran 1,0 x 1,0 - 0,15 µm, yang mungkin adalah mitokondria meskipun mereka tidak berisi cristae atau tubul-tubul dan pada dasarnya adalah bulatan-bulatan berongga. Ada juga vakuol-vakuol yang menonjol dibatasi membran berdiameter sampai 4 µm dan benda-benda berupa butir-butir yang belum diketahui dalam kinet-kinet.

Siklus-hidup. Umumnya te1ah diduga bahwa stadia seksual tidak terdapat pada Theileria. erozoit-merozoit eritrositik berkembang menjadi mikrogamont­mikrogamont berbentuk gelendong dalam usus caplak kira-kira 1-4 hari setelah kenyang berisi darah. Mikrogamont-mikrogamont itu kemudian membentuk sampai 4 inti dan beberapa embelan (appendages) seperti flagelum, yang melepaskan diri dari mikrogamont-mikrogamont dan barangkali bersatu dengan makrogamet-makrogamet yang bulat. Tetapi, persatuan ini belum pernah terlihat. Zigot-zigot yang dihasilkan adalah bulat dan mempunyai bagian tengah yang menyerupai vakuola. Mereka masuk ke dalam sel-sel dinding usus, dan secara perlahan-lahan menjadi panjang, dan meninggalkan sel usus, masuk ke dalam hemolimf pada hari ke-14-17; sejak itu mereka menjadi kinet-kinet. Mereka telah berdiferensiasi secara penuh pada hari ke 17-20 (setelah infeksi). Mereka lalu masuk ke dalam kelenjar-kelenjar air liur dan berubah menjadi benda-benda pembelah (fission bodies), yang tumbuh sampai diameternya kira-kira 20 µm. Caplak-caplak itu kemudian berganti kulit dan tidak terjadi perkembangan lebih lanjut sampai mereka jadi aktif. Segera sebelum infestasi kelenjar-kelenjar air liur mulai proliferasi, dan benda-benda pembelah turnbuh secara cepat. Pada caplak-caplak dewasa benda­-benda pembelah primer (sporont-sporont) membagi diri menjadi banyak benda-benda pembelah sekunder (sporoblast-sporoblast primer), yang kemudian membelah menjadi benda-benda pembelah tersier(sporoblast-sporoblast sekunder); ini menghasilkan sporozoit-sporozoit berbentuk koma, yang lalu dilepaskan ke dalam air liur. Seluruh proses pembentukan sporozoit dalam kelenjar-kelenjar air liur memakan waktu kurang dari 2 hari. Sapi terkena infeksi kalau caplak-caplak itu mengisap darah. Sporozoit-sporozoit masuk ke dalam limfosit-limfosit dan mejadi meront-meront (benda-benda Koch); meront-meront awal adalah makromeront-makromeront, yang menghasilkan makromerozoit-makromerozoit berdiameter 2,0-2,5 µm dan mereka itu menurut gilirannya menjadi mikromeront-mikromeront, yang menghasilkan mikromerozoit-mikromerozoit berdiameter 0,7-1,0 µm. Jumlah generasi-generasi aseksual dalam limfosit-limfosit kelihatannya tidak diketahui. Pada saat yang tidak terlalu lama mikromerozoit-mikromerozoit masuk ke dalam eritrosit-eritrosit. Setelah beberapa kali pembelahan jadi dua, parasit-parasit berbentuk koma menghasilkan bentuk-bentuk ovoid yang diisap caplak-caplak lain (lihat Gambar 11.7).

Gambar 11.7. Dugaan siklus hidup Teileria annulata dan T. parva : 1. Sporoit; 2. Merogoni dalam limfosit; 3. Merozoit; 4 dan 5. Merozoit intraeritrositik membagi diri secara endodiogeni; 6. Merozoit intraeritositik mejadi gamont bundar; 7. Mikrogamet (a) dan mikrogamnot awal (b) di dalam usus caplak; 8. mikrogamont yang berkembang; 9. mikrogamont dewasa; 10. mikrogamet; 11. pembuahan; 12. zigot dugaan; 13. permulaan pembentukan kinet; 14. pembentukan kinet-hampir selesai; 15. kinet-kinet T. annulata (berinti satu)(a) dan T. parva (b), dimana terjadi pembagian inti sudah dimulai; 16 dan 17. pembentukan sporont besar berisis ribuan sporozoit-sporozoit kecil di dalam sel kelenjar air liur caplak.

Vektor-vektor T. annulata adalah Hyalomma detritum (sinonim, H. mauretanicum) di Afrika Utara; H. detritum dan H. excavatum (sinonim, anatolicum) di bekas USSR; H. truncatum di bagian-bagian Afrika; H. dromedari (di Afrika Tengah; H. excavatum, H. turankum (sinonim, H. rufipes glabrum), dan H. marginatum (sinonim-sinonirn, H. savignyi, H. aegyptium) di Asia Minor; H. marginatum di India; dan H. longicornis (sinonim-sinonim, H. bispinosa, H. neumanni) di Siberia dan Timur Jauh.

Penularan terjadi dari stadium ke stadium dalam semua kasus, dan tidak melalui telur. Salah satu dari dua hal yang terjadi, yaitu baik larva caplak terinfeksi dan nimfa meneruskan infeksinya kepada sapi baru, atau nimfa yang terinfeksi dan yang dewasa meneruskan infeksinya. Masa inkubasi yang mengikuti penularan caplak ialah 9-25 (rata-rata 15) hari.

Infeksi-infeksi kongenital kadang-kadang terjadi pada anak-anak sapi; setiap kasus yang terjadi selama kehidupan dalam minggu pertama dapat dianggap kongenital.

Patogenesis.

Teileriosis tropika mirip Demam Pantai Timur (East Coast fever, disebabkan oleh T. parva, didiskusikan kemudian pada bab ini) dalam kebanyakan hal. Kematian sangai bervariasi, yaitu dari 10% di beberapa daerah sampai 90% di daerah lain. Penyakit ini berlangsung selama 4-20 (rata-rata 10) hari. Bentuk-bentuk perakut, akut, subakut, ringan, dan menahun sudah pernah digambarkan. Bentuk akut adalah yang biasa ditemukan. Tanda pertama adalah demam, suhu badan naik sampai 104-l07°F. Demam itu terus-menerus atau selang-seling dan bertahan selama 5-20 hari. Beberapa hari setelah demam itu mulai, timbul tanda-tanda lain, termasuk tidak suka makan, berhenti memamah biak, denyut jantung cepat, kelemahan, produksi susu menurun, dan pembengkakan kelenjar-kelenjar limfe superfisial dan kelopak-kelopak mata. Anemia yang jelas berkembang dalam beberapa hari, dan mungkin ada hemoglobinuria. Bilirubinemia dan bilirubinuria selalu ada. Diare timbul dan tinja berisi darah dan lendir. Konjungtiva ikterik dan dapat mengandung perdarahan-perdarahan patekial. Hewan-hewan yang terserang menjadi sangat kurus, dan perhitungan eritrosit dapat turun di bawah 1 juta per mm3. Kematian, jika datang, biasanya terjadi 8-15 hari setelah penyakit mulai.

Pada bentuk perakut penyakit ini, hewan-hewan dapat mati dalam 3-4 hari. Dalam bentuk subakut, demam itu biasanya selang-seling secara tidak teratur dan berlangsung sampai 10-15 hari, setelah mana hewan-hewan itu menjadi sembuh; hewan-hewan bunting kadang-kadang keguguran. Pada bentuk menahun, demam selang-seling, tidak suka makan, kekurusan yang jelas, dan anemia berderajat rendah, dan ikterus dapat bertahan sampai 4 minggu atau lebih, tetapi dapat diperlukan 2 bulan sebelum hewan-hewan itu normal kembali; dalam beberapa kasus (menahun) bentuk akut tiba-tiba dapat mengikuti dan hewan-hewan itu dapat mati dalam waktu 1 atau 2 hari. Pada bentuk ringan, hanya sedikit tanda-tanda yang terlihat yaitu hanya demam sedikit, tidak suka makan, lesu, sedikit gangguan pencernaan, dan keluar air mata yang hanya berlangsung selama beberapa hari. Mungkin dalam keadaan ini ada anemia sedang.

Kelenjar-kelenjar limfe sering kali, tetapi tidak selalu, bengkak: limpa sering kali sangat membesar. Hati biasanya membesar, infark-infark biasanya ada dalam ginjal, paru-paru biasanya udematous, dan ulkus-ulkus khas terdapat dalam abomasum dan sering kali dalam usus halus dan usus besar.

Infeksi campuran dengan Babesia dan/atau Anaplasma bukan hal yang tidak biasa; tanda-tanda yang dihasilkan kemudian adalah karena kombinasi penyakit-penyakit itu dan dapat berbeda dari yang telah digambarkan di atas.

Theileria lestoquardi

Spesies ini adalah penyebab teileriosis jahat (malignant) domba dan kambing di Afrika Utara, Eropa bagian selatan, bekas Uni Soviet bagian selatan, Asia Kecil, dan India. Ia telah ditemukan dalam limfosit-limfosit dan eritrosit-eritrosit domba dan kambing.

Struktur.

  • Stadia eritrositik kira-kira 80% adalah bulat atau oval, 18% berbentuk batang, dan 2% berbentuk seperti Anaplasma.
  • Bentuk-bentuk bulat berdiameter 0,6-2,0 µm bentuk-bentuk memanjang panjangnya kira-kira 1,6 µm
  • Pembelahan jadi dua atau terjadi empat terjadi dalam eritrosit-eritrosit.

Benda-benda Koch biasa ditemukan dalam limfosit-limfosit dari usapan-usapan limpa dan kelenjar-kelenjar limfe atau berada bebas dalam organ-organ itu. Diameter rata-rata 8 µm tetapi dapat berkisar sampai 10 atau bahkan 20 µm. Mereka berisi 1-80 butir-butir berwarna ungu kemerah-­merahan yang berdiameter 1-2 µm. Makromeront-makromeront dan mikro­meront-mikromeront kedua-duanya dapat ditemukan; mereka menghasilkan merozoit-merozoit diameternya 1-2 µm.

Siklus-hidup.

Vektor tidak diketahui tetapi mungkin adalah Rhipicephalus bursa. ­

Patogenesis.

  • Spesies ini sangat patogen untuk domba dan kambing dewasa, dilaporkan dengan kematian 46-100%.
  • Penyakit ini relatif ringan pada anak-anak domba dan anak-anak kambing muda di daerah-daerah endemik.
  • Masa inkubasi tidak diketahui. Penyakit itu sendiri berlangsung 5-42 hari. Bentuk-bentuk akut, subakut dan menahun telah digambarkan; bentuk akut adalah yang biasa terjadi.

Penyakit ini dalam manifestasinya menyerupai teileriosis sapi tropika. Ada demam diikuti kelesuan, pembuangan dari hidung, atoni rumen, dan kelemahan. Hewan-hewan yang terserang anemik, dan ikterus sering ada. Sering kali ada hemoglobinuria yang tidak tetap. Kelenjar-kelenjar limfe selalu membengkak, hati biasanya bengkak, limpa terlihat jelas membesar, dan paru-paru udematous. Infark-infark sering kali ada dalam ginjal, dan ada petekia pada selaput lendir abomasum dan ada bercak-bercak merah tersebar secara tidak teratur pada selaput lendir usus, terutama di dalam sekum dan kolon.

Theileria mutans

Spesies ini terdapat dalam eritrosit-eritrosit dan limfosit-limfosit sapi, zebu dan kerbau air, mungkin di seluruh dunia. Kerbau Afrika Syncerus caffer dapat diinfeksi secara percobaan, tetapi tidak menyebabkan kematian. T. mutans dapat bertahan hidup dan bahkan berkembang biak dalam domba yang telah dikeluarkan limpanya selama 9-10 bulan. Ia menyebabkan teileriosis sapi yang tidak berbahaya, penyakit Tzaneen, penyakit anak sapi Marico, dan gallsickness ringan. Ia endemik di seluruh Afrika, banyak bagian Asia, dan banyak bagian bekas Uni Soviet, dan Eropa bagian selatan. Ia jarang terdapat di Amerika Utara.

Struktur

· Bentuk-bentuk dalam eritrosit adalah bulat, oval, piriform, berbentuk koma, atau seperti Anaplasma.

· Kira-kira 55% adalah bulat atau oval. Bentuk-bentuk bulat diameternya 1-2 µm, yang oval berukuran kira-­kira 1,5 x 0,6 µm.

· Pembelahan jadi dua dan empat terjadi dalam eritrosit­-eritrosit.

Relatif ada sedikit benda-benda Koch dalam limfosit-limfosit dari limpa dan kelenjar limfe atau terdapat bebas dalam organ-organ itu. Diameter rata-rata 8 µm tetapi dapat berkisar sampai 20 µm. Mereka berisi 1-80 butir-­butir kromatin yang diametenya l-2 µm, dan secara praktis semuanya adalah tipe makromeront. Mereka menjadi mikromeront-mikromeront, yang menghasilkan merozoit-merozoit.

Siklus-hidup.

  • Stadium seksual terdapat dalam usus nimfa-nimfa caplak 5-7 hari setelah kenyang darah;
  • Zigot-zigot dalam usus dapat ditemukan mulai pada hari ke-29;
  • kinet-kinet mulai ada pada hari ke-30 (yaitu 3-4 hari setelah nimfa-nimfa berganti kulit menjadi dewasa).
  • Mulai pada hari ke 34 kinet-kinet terdapat di dalam hemolimf.

Vektor-vektor. T. mutans s. str. yang telah terbukti adalah Amblyomma variegetum, A. cohaerens, dan Haemaphysalis hebraeum; spesies Theileria yang patogenitasnya rendah ditularkan oleh Rhipicephalus appendiculatus tidak dapat lagi dianggap sebagai T. mutans, H. bispinosa dan H. bancrojti mungkin adalah vektor-vektornya di Australia. H. neumanni, H. japonica, dan H. concinna adalah vektor-vektor di bekas Uni Soviet. H. punctata adalah suatu vektor percobaan. Penularannya adalah secara stadium ke stadium pada semua caplak ini.

Patogenesis.

T. mutans patogenitasnya jarang lebih dari ringan atau jika mungkin sama sekali tidak patogen, meskipun bentuk akut penyakit ini dapat berkembang pada sapi yang diimpor ke suatu daerah endemik dan terbuka untuk infestasi massif caplak. Mortalitas umumnya kurang dari 1 %. Beberapa galur barn-barn ini telah ditemukandan ternyata patogen dan menyebabkan East Coast fever (demam Pantai Timur).

Tanda-tanda perjalanan penyakit dan kerusakan-kerusakannya mirip infeksi-infeksi T. annulata yang ringan. Anemia adalah ciri utamanya; jika ada, biasanya hanya ringan. Ikterus kadang-kadang ada, dan kelenjar-kelenjar limfe mengalami kebengkakansedang. Pada kasus-kasus akut limpa dan hati membengkak, paru-paru dapat udematous, ada ulkus-ulkus khas dalam abomasum, dan infark-infark dapat ditemukan dalam ginjal. Tidak ada hematuria.

Masa inkubasi yang mengikuti penularan melalui caplak ialah 10-20 (rata-rata 15) hari. Penyakit berlangsung 3-10 (rata-rata 5) hari.

Theileria ovis

Spesies ini adalah penyebab teileriosis domba dan kambing yang tidak berbahaya. Tersebar lebih luas daripada T. hirci, ia terdapat pada eritrosit-­eritrosit dan limfosit-limfosit domba dan kambing di Afrika, Eropa, (bekas) Uni Soviet, India, Sri Lanka, dan Asia sebelah barat. Mouflon dan rusa merah yang telah dikeluarkan limpanya dapat diinfeksi secara percobaan; tetapi sapi yang dikeluarkan limpanya tidak. ­

Struktur.

Bentuk dan ukuran stadia eritrositik mirip T. hirci, tetapi lebih jarang ditemukan pada hewan-hewan yang terinfeksi, yaitu kurang dari 2% dari eritrosit terinfeksi pada hewan-hewan yang tidak dikeluarkan limpanya. Benda-benda Koch mirip yang dipunyai T. hirci tetapi hanya ditemukan pada kelenjar-kelenjar limfe dan hanya setelah pencarian lama.

Siklus-hidup.

Vektor-vektornya ialah Rhipicephalus bursa di bekas Uni Soviet dan Asia, dan spesies ini dan R. evertsi di Afrika. Beberapa spesies Haemaphysalis mungkin adalah vektor di Sri Langka, di mana R. bursa maupun R. evertsi tidak terdapat.

Struktur-struktur gamont-gamont erkembang di dalam usus nimfa-nimfa R. evertsi. Setelah nimfa­-nimfa itu berganti kulit, terdapat parasit-parasit yang berbentuk bulat dan ovoid (mungkin zigot-zigot) di dalam sel-sel usus. Mereka berubah bentuknya dalam3 hari dan menjadi kinet-kinet yang dapat bergerak. Kinet-kinet ini masuk ke dalam kelenjar-kelenjar air liur di mana mereka menghasilkan sporozoit-sporozoit yang inefektif untuk domba.

Patogenesis.

Spesies ini adalah non-patogen atau hampir-dapat dikatakan demikian. Masa inkubasi yang mengikuti penularan melalui caplak ialah 9­-13 hari, dan penyak ini berlangsung selama 5-16 hari. Satu-satunya tanda adalah demam; pembengkakan kelenjar-kelenjar limfe di daerah caplak melekat, dan sedikit anemia. Tanda-tanda ini biasanya terabaikan di lapangan

Imunitas.

Hewan-hewan yang pernah terinfeksi adalah premun. Tidak ada imunitas-silang antara T. ovis dan T. hirci.

Diagnosis.

Diagnosis tergantung dari identifikasi parasit-parasit dalam usapan-usapan darah atau kelenjar limfe yang telah diwarnai. T. ovis secara struktural tidak dapat dibedakan dari T. hirci, tetapi adanya jumlah parasit yang sedikit dan tidak patogennya parasit dapat menolong untuk membedakannya. Uji-uji imunitas-silang dapat dilakukan jika diinginkan.

Theileria parva

Spesies ini menyebabkan East Coast fever, bovine, theilerosis, African Coast fever, Rhodensian tick fever, Rhodensian redwater disease, atau­ corridor disease, dalam eritrosit-eritrosit dan limfosit-limfosit sapi, zebu, kerbau air, dan kerbau Afrika Syncerus caffer. lni adalah salah satu dari penyakit-penyakit yang paling penting di Afrika Timur danAfrika Tengah. Corridor disease (dinamakan begitu berdasarkan adanya koridor (lorong sempit) antara daerah Suaka hewan buruan Hluhluwe dan Umfolozi) tersebar luas pada sapi dan kerbau Afrika di Zimbabwe. Ensefalitis pada sapi di Afrika Timur yang sangat fatal dikenal sebagai penyakit mubeng (trunning sickness), kizengerera, atau muthiuko mungkin disebabkan olehnya.

Struktur.

Bentuk-bentuk dalam eritrosit-eritrosit yang paling menonjol (lebih dari 80%) berbentuk batang dan ukurannya kira-kira 1,5-2,0 x 0,5-1,0 µm. Bentuk-bentuk bundar, oval, dan koma juga ada. Kira-kira 55% dari “T. lawrencei” adalah bulat atau oval.

Merozoit-merozoit di dalam eritrosit-eritrosit mempunyai suatu unit selaput luar tunggal, suatu mikropore dengan diameter bagian dalam 80 µm, dan makan makanan dengan cara pinositosis melalui mikropore ini. Merozoit­merozoit eksoeritrositik (yang dibuat oleh meront-meront dalam sel-sel limfoid mempunyai membran tambahan di dalam selaput luar, sejumlah rhoptri yang tidak tetap, rupa-rupanya beberapa mikronema; mungkin mempunyai beberapa mikrotubul-mikrotubul subpellikular, tetapi tidak mempunyai mikropore atau konoid. Kedua tipe merozoit itu mempunyai 2 vakuol, ribosoma-ribosoma bebas, dan suatu inti vesikular tanpa nukleolus. Mereka agak lebih keeil daripada merozoit-merozoit T. mutans.

Bentuk-bentuk kembangbiakan, yang diketahui sebagai benda-benda Koch atau benda-benda biru Koch, terdapat dalam limfosit-limfosit dan kadang-kadang dalam sel-sel endotel. Mereka ditemukan terutama dalam kelenjar-kelenjar limfe dan limpa di mana mereka biasanya terdapat banyak sekali. Mereka adalah bundar atau berbentuk tidak teratur berdiameter rata-rata 8 µm dan berkisar sampai 12 µm atau lebih. Mereka dapat terletak di dalam sel atau bebas dalam kelenjar atau cairan limpa.

Telah dikenal dua tipe meront-meront. Makromeront-makromeront (makroskizon-makroskizon) berisi butir-butir kromatin berdiameter 0,4-2,0 (rata-rata 1,2) µm dan dipercaya menghasilkan makromerozoit-makromerozoit berdiameter 2,0-2,5 µm. Mikromeront-mikromeront (mikroskizon­mikroskizon) berisi butir-butir kromatin berdiameter 0,3-0,8 (rata-rata 0,5) µm dan dipercaya menghasilkan mikromerozoit-mikromerozoit yang berdiameter 0,7-1,0 µm. Secara praktis semua meront T. lawrencei adalah makromeront-makromeront.

Rupa-rupanya meront yang sama tampil (melalui) kedua-dua cara berurutan. Selama fase reproduksi nuklear, ia kelihatan seperti suatu makro­meront di bawah mikroskop cahaya, sedangkan selama, fase pembentukan merozoit ia kelihatan seperti suatu mikromeront.

Siklus-hidup.

Vektor paling penting ialah Rhipicephalus appendiculatus. Vektor-vektor lain adalah R. ayrei, R. capensis, R: evertsi, R. jeanelli, R. neavei, R. simus, Hyalomma excavatum, H. dromedarii, dan H. truncatum. Penularan adalah secara stadium ke stadium pada semua kasus dan tidak melalui telur R. appendiculatus, misalnya, memperoleh infeksinya ketika sebagai larva dan menularkannya ketika sebagai nimfa; atau. memperoleh infeksinya ketika sebagai nimfa dan menularkannya ketika sebagai dewasa. Parasit tidak akan dapat bertahan hidup dalam caplak-caplak itu melintasi lebih dari satu masa pergantian kulit (penyilihan). .

Gambar 11.8 Mikrogamont Theileria parva dari usus Hyalomma anatolicum excavatum: a dan b irisan-irisan melintang dari daerah-daerah yang ditunjukkan oleh panah-panah, AF = bagian seperti benang yang mengendor dari paku (spike) yang padat elektron, DG = butir osmiofilik, DV = struktur-struktur yang berselaput dua, ES = paku yang padat elektron, GF == penonjolan seperti flagelum, MT = mikrotubul, MTZ = mikrotubul (dipotong oleh karena teknik menggambar), N = inti, PN = ruangan perinuklear, RI = ribosoma, ST = penonjolan seperti ekor, VM = Unit selaput(membran), VG =Vakuol dengan isi yang berbutir-butir, VS = cincin penguat.

Apabila caplak pengisap darah, mayoritas tersebar parasit‑parasit itu mati dalam ususnya. organisme‑organisme itu panjangnya kira‑kira 10,5 µm dan diameter maksimum kira‑kira 2,1 µm di bagian tengah dan bentuknya mirip ujung lembing. Mereka mempunyai suatu unit selaput di sebelah luar, dan suatu apex menyerupai stiletto (belati) yang padat‑elektron; mempunyai penonjolan‑penonjolan keluar seperti flagelurn berjumlah sampai 4 buah panjangnya kira‑kira 3 µm dan bermula dekat dasar struktur yang menyerupai stiletto, dan biasanya mempunyai 2 penonjolan posterior yang langsing. Setiap penonjolan seperti flagelurn berisi mikrotubul‑mikrotubul sampai 6 buah, tetapi jum,lah mereka berkurang sampai 2 pada ujung‑ujungnya yang bebas. Makrogamet‑makrogamet yang kurang lebih bulat rupa‑rupanya juga ada.

Mereka seperti benang panjang 9‑11 µm, dan berisi beberapa mikrotubul. Tidak ada yang pernah melihat pembuahan (syngamy), tetapi diduga bahwa itu terjadi untuk membentuk zigot yang dapat bergerak. Zigot ini masuk ke dalarn sel epitel usus lalu mernbulat, dan membentuk suatu kinet berbentuk koma berukuran 19 x 5,5 µm. la mempunyai suatu cincin polar yang padanya melekat kira‑kira 40 mikrotubul‑mikrotubul subpellikular, banyak mikronema, dan suatu mikropore, tetapi tidak ada konoid atau rhoptri‑rhoptri. Pada hari ke‑25 (setelah infeksi) sebagian terbesar kinet‑kinet meninggalkan sel‑sel usus dan mulai menernbus kelenjar‑kelenjar air liur. Di dalam kelenjar kelenjar air liur, kinet‑kinet membulat untuk membentuk sporont‑sporont. Mereka masuk ke dalam sel‑sel alveoli dan berkembang biak didalamnya. Selsel hospes menjadi sangat mernbesar dan berisi kira‑kira 30.000 sporozoit-sporozoit kecil. Sporozoit‑sporozoit dewasa dikeluarkan ke dalam rongga alveolus dan diinjeksikan bersama‑sama dengan air liur ke dalarn hewan baru pada waktu caplak mengisap darah.

Masa prepatent pada sapi ialah 4‑12 hari. Setelah penyuntikan ke dalam sapi, sporozoit‑sporozoit masuk ke dalam limfosit‑limfosit dan menjadi meront‑meront. Meront‑meront ini menghasilkan merozoit‑merozoit, yang masuk ke dalam limfosit‑limfosit lain, menjadi meront‑meront, dan menghasilkan panenan merozoit‑merozoit lain. Setelah ada beberapa generasi seperti itu,meront‑meront yang berkembang bial dapat ditemukan dalam kelenjar‑kelenjar limfe preskapular. Mula‑mula meront‑meront itu adalah makromeront‑makromeront, tetapi setelah kira‑kira enam generasi, inti‑inti makromeront membelah tanpa pembagian sel untuk membentuk mikromeront‑mikromeront. Ini menghasilkan mikromerozoit‑mikromerozoit, yang masuk ke dalam eritrosit‑eritrosit .(Lihat Gambar 11.9).

Gambar 11.9 Theiieria parva dalam eritrosit‑eritrosit seperti yang dilihat melalui mikroskop cahaya (x 2.800)

Patogenesis.

T. parva sangat patogen; 90‑100% sapi yang terserang mati, meskipun mortalitas lebih rendah di daerah‑daerah endemik. Di Afrika Timur, misalnya, sapi yang belum dewasa lebih resisten daripada dewasa, dan mortalitas pada anak‑anak sapi ialah 5‑50%.

Masa inkubasi setelah penularan oleh caplak 844 (rata‑rata 13) hari. Penyakitnya sendiri berlangsung 10‑23, (rata‑rata 15) hari. Bentuk‑bentuk akut, subakut, ringan dan tidak jelas kelihatan sakit, telah digambarkan; tipe akut adalah yang biasa ditemukan.

Pada bentuk akut, tanda penyakit yang pertama ialah demam. Suhu badan 104‑107o F; suhu itu dapat tinggi terus‑menerus atau dapat menurun setelah 7‑11 hari dan kemudian naik lagi. Tanda‑tanda klinis, lain biasanya timbul beberapa hari setelah kenaikan suhu yang pertama. Hewan‑hewan itu berhenti memamah‑biak dan berhenti makan. Tanda‑ tanda lain ialah keluarnya cairan serous dari hidung; keluarnya air mata; kebengkakan kelenjar-kelenjar limfe superfisial;kadang-kadang kebengkakan kelopak-kelopak mata, kuping, dan daerah bawah dagu; denyut jantung cepat; kelemahan umum; penurunan produksi susu;. diare, seringkali disertai darah dan lendir di dalam tinja; kekurusan; batuk; dan kadang-kadang ikterus. Pernapasan jadi cepat, dan dyspnea berat terlihat tepat sebelum mati. Suatu anemia oligositemik ada, tetapi tidak ada hematuria pada kasus-kasus yang tidak terjadi komplikasi.

Pada bentuk _ubakut tanda-tandamirip yang terdapat pada bentuk aku, tetapi tanda-tanda itu tidak begitu nyata. Hewan-hewan yang terinfeksi dapat sembuh, tetapi bagi mereka diperlukan waktu beberapa minggu. Untuk kembali menjadi normal. .

Pada bentuk ringan, hanya sedikit yang terlihat kecuali demam yang relatif ringan berlangsung selama 3-7 hari,. kelesuan, dan kebengkakan kelenjar-kelenjar limte superfisial.

Kelenjar-kelenjar limfe biasanya bengkak nyata, dengan suatu derajat hiperemia yang variabel. Limpa biasanya membesar, den Ran pulpa lunak dan badan-badan Malphigi yang menonjo1. Hati membesar, rapuh, berwarna kuning-kecoklatan sampai kuning seperti jeruk limun; disertai degenerasi "parenkimatous". Ginjal mengalami pembendungan atau berwarna. coklat pucat, dengan sejumlah "infa rct-infarct" hemorragik yang variabel atau limfomatoxp.ata yang putih-keabu-abuan, Meningen-meningen dapat sedikit terbendung. Jantung lembek dengan petekiae pada epikardium dan . endokardium. Paru-paru sering .kali mengalami pembendungan dan udematous. Mungkin ada hidrotorax dan hidroperokardium, dan kapsul ginjal dapat berisi cairan serous dalam jumlah besar:Mungkin ada petekiae di dalam . pleura viseral dan parietal, kortex adrenal, kandung kemih, dan mediastinum. Ada ulkus_ulkus yang khas dalam abomasum yang diametemya 2-5 mm atau lebih; ulkus-ulkus mirip seperti itu bersama-sama garis-garis atau bercak merah _oleh jadi ada di seluruh usus besar dan usus halus. Ulkus-ulkus itu terdiri dari daerah nekrotik letaknya sentral berwarna merah atau coklat, dan dikelilingi oleh suatu zona hemorragik. Keping-keping Peyer's bengkak, dan isi usus kekunirig kuningan. .

Theileria velijera

Spesies ini terdapat dalam eritrosit_eritrosit dan mungkin limfosit-limfosit dari sapi dan zebu di Afrika.

Struktur.

Bentuk-bentuk dalam eritrosit-eritrosit adalah pleomorriic tetapi paling sering terbentuk batang-batang kecil_Bagian terbesar panjangnya1-2µm.

Mayoritas terbesar. mempunyai "kerudung"'empat-persegi-panjang panjang 1,0-3,5.µm meluas keluar dari tepinya; Kerudug ini sebenarnya adalah bemoglobin yang menghablur dan karenanya Uilenberg memasukkan nama generik Haematoxenus Sebagai suatu sinonim Theileria

Siklus Hidup.

Vektor-vektor yang diketahui ialah Amblyomma variegatum, A. lepidum, dan A. hebraeum.

Patogenesis

Spesies ini rupa-rupanya tidak patogen.

PENANGANAN THEILERIOSIS

Destruksi parasit : tetracylin, diamidines

Destruksi caplak : seperti pada babesiosis

Vaksinasi




Surra (Trypanosomiasis)

Penyebab:

Trypanosomiasis disebabkan oleh protozoa Trypanisoma evansi, atau lebih dikenal penyakit surra. Penyakit ini biasanya menyerang hewan di daerah tropis.

Lokasi:

Darah dan limfe

Hospes:

Kuda, keledai, sapi, kambing, babi anjibg kerbau gajah, tapir, rusa, dan hewan liar lainnya.

Deskripsi:

Parasit berflegella ini memiliki panjang yang berbeda-beda tergantung hospes dan geografisnya. Bentuknya yang khas memiliki panjang 15-34 µm, rata-rata 24 µm. Bentuknya langsing memanjang dengan bagian tengah membulat.

Siklus hidup:

T. evansi ditularkan secara mekanis oleh lalat penggigit. Tidak terjadi perkembangan siklus dalam tubuh vektor dan Trypanosoma dijumpai di proboscis. Sebagai vektor biasanya adalah lalat kuda jenis Tabanus, Stomoxys, Haematopota, dan Lyperosia.

Gambaran patologis:

Penyakit surra hampir selalu berakibat fatal kuda jika tidak diobati, kematian dapat terjadi dalam 1 minggu sampai 6 bulan.

Gejala klinis:

Demam intermitten, urtikaria, anemia, oedema pada kaki-kaki, rambut rontok, kelemahan progresif, kondisi menurun, dan kurang nafsu makan. Konjunctivitis dapat terjadi. Kerusakan-kerusakan pada surra antara lain slenomegali, pembesaran kelenjar limfe dan ginjal, infiltrasi leukosit pada parenkim hati, dan perdarahan dan peradangan parenkim ginjal.

Diagnosa:

Pada stadium akut dan awal, Trypanosoma dapat ditemukan di dalam darah perifer. Usapan darah tebal lebih baik dilakukan usapan darah tipis. Protozoa ini juga sering ditemukan di saluran kelenjar limfe. Pada stadium lanjut, parasit dapat ditemukan di dalam cairan cerebrospinal. Inokulasi pada hewan percobaan juga dapat dilakukan. Berbagai uji serologic juga dipakai namun kurang begitu dipercaya dibanding menemukan parasitnya sendiri.

Terapi:

Pemberian Quinapyramin untuk pengobatan surra pada kuda dapat diberikan dengan dosis tunggal secara subkutan sebanyak 5mg/kg bb. Dosis 3 mg/kg bb diberikan pada sapi efektif untuk pengobatan. Pemberian Suramin dosis 4 gr intra vena bb efektif.

Pencegahan dan pengendalian:

Tindakan preventive terhadap Trypanosoma meliputi tindakan yang ditujukan pada hospes antara lain pengelolaan ternak, melenyapkan hospes reservoir, menghindarkan dari kontaminasi mekanis yang disengaja, pengelolaan penggunaan tanah dan pengendalian biologik.

GENUS TRYPANOSOMA

Ciri-ciri umum

  • Ditularkan invertebrata pengisap darah
  • Dapat membentuk ama – pro – epi – tripomastigote
  • Parasit pada sistem sirkulasi/cairan darah
  • Tidak patogen pada burung/reptil patogen pada mamalia

Modus penularan

  • Kebanyakan ditularkan oleh arthropoda,
  • Kecuali T. Equiperdum (coitus) yang ditularkan oleh Arthropoda (bentuknya) :
  • Penularan mekanik (contoh : T. Evansi)
  • Tidak ada perkembangan lanjut dari parasit di dalam vektor
  • Penularan siklis (contoh : T. Brucei)
  • Ada perkembangan/differensiasi parasit dalam vektor (lalat tse – tse)

Ada 2 macam kelompok Trypanosoma berdasarkan jenis penularannya :

  1. stercoraria
    • ditularkan dengan feses dari vektor
    • bentuk ujung lancip (posterior) kinetoplas subterminal
    • banyak yang apatogen
    • satu – satunya patogen yaitu T. Cruzi (menularkan ”chagas disease” di Amerika Latin).
    • hospes reservoir : anjing , hewan pengerat
    • Apatogen stercoraria :
    • T. theileri (hospes : sapi, vektor : lalat)
    • T. melophagium ( hospes : domba, vektor : lalat)
    • T. lewisi (hospes : tikus), vektor : pinjal)

  1. salivaria

· Trypanosoma yang ditularkan lewat ludah dari vektor

· Bentuk posterior membulat

· Kinetoplas kecil, terminal atau sedikit sub terminal

· Bentuk salivaria, banyak patogen

· T. rhodesiense (hospes : manusia, vektor : lalat tse – tse)

· T. gambiense (hospes : manusia, vektor : lalat tse – tse)

· Keduanya menyebabkan penyakit tidur pada manusia

· Siklus dalam lalat tse- tse 15 – 30 hari

· Mekanis dengan infeksi Trypanosoma segar pada proboscis

· Karnivora → terinfeksi dengan makan herbivora yang terinfeksi

T. congolense

  • Di daerah Afrika sub sahara
  • Penyebab nagana (sleeping sickness)
  • Lebih patogen aripada brucei
  • Pada sapi,. Kerbau dan hewan liar
  • Didapat di dalam darah
  • Bentuk dalam darah : kecil (8 – 12 μ)
  • Membarna undulan jarang terlihat tidak ada flagela bebas
  • Ditularkan oleh lalat tse – tse, mekanis oleh lalat penggigit

T. vivax

  • Kadang – kadang bersama dengan T. Brucei dan T. Congolense
  • Patogenitas lebih ringan pada sapi, di daerah Afrika sub sahara
  • Panjangnya : 20 – 27 μ, posterior membulat satu flagellum bebas
  • Membrana undulans tidak jelas
  • Kinetoplas besar di terminal

Trypanosoma brucei

  • Berparasit pada semua mamalia, ruminansia liar di Afrika
  • Bersifat fatal, penyebab penyakit nagana, ruminan liar sebagai reservoir
  • T. gambiense dan T. Rhodesiense → penyakit tidur di Afrika pada manusia.
  • T. brucei tidak menular pada manusia
  • T. rhodesiense pada rusa liar
  • T. gambiense pada sapi
  • Bentuk lebih langsing, buntak,
  • Berparasit dalam darah, limfe dan cairan cerebrospinal
  • Ukuran ± 29 μ – 42 μ
  • Posterior meruncing, kinetoplas 4 μ dari ujung
  • Flagella bebas dan panjang
  • Penularan : lalat tse – tse (genus Glossina)
  • Berbiak dalam darah atau limfe
  • Pembelahan ganda memanjang
  • Lokasi di lalat : di usus bagian tengah → 10 hari trypomastigot → proventrikulus →oesophagus → faring → kelenjar ludah → epi. → tripometasiklik pendek → diinfeksikan ke hospes saat menghisap darah
  • Penularan lalat tse- tse, lalat kuda dan Tabanidae → vektor mekanis.
  • Sebagai vektor dari T. Congolense, vivax, brucei yaitu beberapa spesies lalat tse – tse :

- Glossina morsitans (daerah sabana)

- Glossina palpalis (dekat sungai/danau)

- Glossina fusca (dataran tinggi)

Kepentingan :

Tse – tse transmitted trypanosomiasis adalah salah satu penyakit utama sapi di daerah ”sabuk lalat tse – tse”

Penyakit Nagana

(Trypanosoma congolense, T. Vivax, T. Brucei)

  • penyakit wabah pada ternak
  • penularan (V) lalat tse – tse (metasiklis)
  • pada T. vivax → lalat penggigit, bisa berjangkit di Amerika Selatan
  • hospes : hewan memamah biak (ruminansia) dan hewan ruminansia lainnya

Patogenesis :

  • stadium primer :
  • setelah gigitan vektor → terbentuk radang lokal di kulit →kemerahan → bengkak → sakit

Stadium sekunder

  • stadium parasitemi → Trypanosoma masuk ke saluran darah → membelah menjadi 2 bagian → disini banyak hospes mati → demam
  • Beberapa Trypanosoma mengalami reaksi immunologis lewat → variasi antigeniknya (pada permukaan antigen) → berkembang biak terus → sirkulasi → demam → masuk ke saluran limfa dan persendian → anemia → nodus limfatikus bengkak → berlangsung selama beberapa tahun (T. Gambiense), beberapa bulan (T. Rhodesiense)

Stadium tertier:

  • gangguan motorik dan berakibat mati karena gangguan sirkulasi di jantung
  • antigenik variation (variasi antigen)
  • Trypanosoma punya gen multiple → mengkode permukaan Glikoprotein dari Trypanosoma (berupa mantel Glycogen) bisa mencapai ribuan variasi
  • Variasi antigen ini sudah ada di hospes

→ menghindari sistem kekebalan

→ mencegah penerapan vaksin

→ membuat infeksi kembali

  • beberapa sapi di Afrika (N’dama, West African Shortorn) → kurang rentan terhadap Trypanosoma → “Trypanotolerance”

Gejala klinik

  • demam intermitten, anemia, berat badan turun
  • kronis → kematian meningkat

Diagnosa

  • infeksi akut → dalam darah → preparat apus darah
  • metode sentrifuge → mikrohematokrit
  • infeksi ke hewan lab. (tikus/mencit)
  • IFAT/CBR/IPT (Immunoperoxida Test)/ELISA/PCR

Terapi

  • Quinapyramindimethylsulfat (Antrycide – 5 mg/Kg BB S.C.)
  • Isomethamidiumchlorid (Samorin – 0,5 mg/Kg BB I.M.)
  • Diminazenaceturat (Berenil – 3,5 mg/Kg BB I.M.)

Pemberantasan

  • Khemoprofilaksis → injeksi dengan jarak 6 – 10 minggu Quinapyramindimethylsulfat 7,4 ,g/Kg BB S.C.
  • pengamatan / penanganan mungkin pada daerah resiko infeksi rendah
  • Pemberantasan lalat ”(tse – tse) – trap”
  • Penggunaan insektisida : aplikasi dari Pyrethroid
  • Vaksinasi tidak memungkinkan karena adanya variasi antigenik

Trypanosoma evansi

  • Serupa T. Brucei
  • Afrika utara, Asia, Amerika tropis
  • Pada semua hewan piaraan, liar
  • Menyebabkan penyakit ”SURRA”
  • Mula – mula hanya pada kuda
  • Parasit dalam darah dan limfe tidak menyebabkan ensefalitik
  • Bentuk panjang 15 – 34 μ, langsing, bentuk buntak sering ada
  • Berbiak ganda (pembelahan ganda) memanjang pada tripomastigot
  • Ditularkan oleh lalat kuda (Tabanus) dan lalat rusa (Chrysop)
  • Di Amerika tengah/selatan → ditularkan oleh kelelawar

Diagnosa surra :

2 kategori :

  1. parasitologis

- identifikasi penyebab penyakit

- cara ideal

- sulit dilakukan pada ternak banyak

- perlu dilakukan immunologis

  1. immunologis

Diagnosa parasitologis :

    1. pemeriksaan film darah tebal, tipis dan basah
    2. sub inokulasi pada hewan – hewan peka
    3. cara konsentrasi

cara immunologis :

uji aglutinasi, IFAT

patologi secara umum :

- gejala – gejala : demam intermitten, lemah, bulu kasar

- pasca mati : hati, ginjal, limfa bengkak

- sdm sumsum tulang naik

- akut : anemia normokromik normositik karena hemolisis

kerusakan sel darah merah di hati

sel darah merah menurun → plasma darah naik

Trypanosoma equinum

  • Terdapat di Amerika Selatan
  • Menyebabkan mal de caderas pada kuda (sapi, anjing, domba, kambing)
  • Mirip dengan penyakit surra
  • Beda dengan T. evansi (tidak ada kinetoplas)
  • Mungkin penjelmaan dari T. evansi
  • Morfologi : → 35 μm
  • Vektor : Tabanidae (Stomoxys)
  • Pada kuda berjalan secara kronis, kehilangan tenaga, → kelumpuhan

Diagnosa :

- pemeriksaan darah

- serodiagnostik

Pemberantasan :

  • Suramin 2 – 3 g/hewan i.v.
  • Antrycidsulfat 5 mg/Kg bb s.c.

Trypanosoma equiperdum

  • Ada di seluruh dunia
  • Pada kuda, sapi, keledai → penyakit dourine
  • Ditemukan pada darah dan limfe
  • Menyerupai evansi, tetapi menyebabkan penyakit kelamin
  • Ditularkan melalui coitus (kawin)

Morfologi :

- 16 – 35 μm

- monomorf

- kinetoplas sub terminal

- plasma bergranula

Patogenesis :

  • berjalan klinis pada 3 stadium : organ genital – kulit – saraf pusat (CNS) setelah 1 – 4 minggu inkubasi → stadium primer (genitas ) → oedem, keradangan di penis, praeputium dan organ genital lain → beberapa jam →ulcer.
  • Pada betina → vaginitis → disertai demam.
  • Stadium sekunder → urtikaria → reaksi dermatologis → hemoragi kulit.
  • Stadium tertier → gangguan sistem saraf pusat → paralisa → refleks extremitas menurun → gangguan beberapa nervus mata/muka

Diagnosa :

  • Pada dourine, menciri pada sekresi cairan genital, infeksi kulit,preparat apus darah → parasitemia kuat saja
  • diagnosa immunologis : CBR

Pemberantasan :

- tidak dipakai untuk seleksi kuda

- kemoterapi : Antrycidsulfat (5 mg/Kg BB)

quinapyramine sulfat (3 – 5 mg/Kg BB s.c.)

Pencegahan → kontrol yang ketat

Complement Fixation Test → deteksi hewan yang terinfeksi

Kontrol → eliminasi lalat penghisap darah

T. theileri

  • Berparasit dalam darah sapi di seluruh dunia
  • Biasanya tidak patogen
  • Bentuk relatif besar, 35 – 70 μm (120 μm pernah dilaporkan)
  • Ditularkan oleh Tabanus dan haematopota
  • Ujung posterior panjang dan runcing
  • Membarana undulan jelas flagela bebas
  • Dalam darah : tripomastigot – epimastigot
  • Ditularkan melalui tinja lalat
  • Pada beberapa kasus produksi susu mengalami penurunan dan aborsi

T. melophagium

  • Non patogen pada domba
  • 50 – 60 μm (panjang)
  • ditularkan oleh : Melophagus ovinus
  • ditularkan → pencernaan tinja
  • infeksi → kontaminasi kulit


Babesiosis

Penyebeb:

Babesia bovis, B. Bigemina

Lokasi:

Sel darah merah

Hospes:

Menyerang sapi dan rusa

Deskripsi:

Merozoit dalam eritrosit bentuknya piriform, bundar, tidak teratur. Merozoit ukuran 2,4 x 1,5 µm dan biasanya terletak di bagian tengah eritrosit.

Siklus hidup:

Caplak bertindak sebagai vektor dari babesia ini, dari genus Boopilus spp, Rhipicephalus bursa, Ixodes sp. Penularan terjadi melalui telurnya.

Gejala klinis:

Penyakit yang disebabkan B. bovis dengan B. bigemina. Masa inkubasi 4-10 hari dengan tanda-tanda demam tinggi 2-3 hari. Hewan mengalami hemoglobinuria, anemia, ikterus, diare, denyut jantung cepat.

Diagnosa:

Demam disertai hemoglobinuria, anemia, dan ikterus menyebabkan dugaan adanya babesiosis. Pembuatan preparat apus darah tipis dapat dilakukan untuk menemukan parasitnya. Uji serologic dapat dilakukan namun hasilnya tidak memuaskan, meskipun dapat digunakan untuk mendeteksi hewan yang premunisi.

Terapi:

Pemberian Diminazen aceturat secara im 5-10 mg/kg yang diberikan im, 1-3 mg/kg imidocarb secara im adalah yang paling sering dipakai pada babesiosis sapi.

Pencegahan dan pengendalian:

Karena babesiosis ditularkan oleh caplak, maka infeksi dapat dicegah dengan cara mengendalikan caplak, pencelupan (dipping) sapi secara teratur.

Babesia bigemina

Penyakit ini disebut babesiosis sapi, piroplasmosis, redwater, deman Texas, deman caplak. Terdapat pada sapi, zebu, kerbau air dan rusa-rusa tertentu di Afrika, Australia , Eropa dan timur Tengah, AS dan Mexico. Biasanya ditemukan didaerah subtropik dan tropik .

Struktur

Merozoit dalam eritrosit bentuk tidak teratur, piriform, oval dan bulat. B. bigemina relatif besar, bentuk bulat diameter 2- 3 mikro meter dan memanjang 4-5 mikro meter. Stadia eritrosik tidak memiliki konoid,mikropore-mikropore dan mitokondria yang khas. Memiliki gelembung-gelembung mirip dengan mitokondrion tanpa tubul-tubul. Memiliki cincin polar anterior dan posterior dan 2roptri yang khas. Bentuk bundar dalam ovarium Boophilus microplus dan B.decoloratus terdapat dalam satu vakoul parasitoforus. Memiliki mikronema, 32 penyangga tulanhg rusuk subpelkuler, 32 mikrotubul, cincin polar,tetapi tindak membentuk kompleks golgi, mitokondria, atau konoid.

Siklus hidup

Caplak-caplak yang menjadi vektornya adalah Boopilus annulatus di amerika utara, B microplus di amerika selatan dan amerika tengah, B australis di Australia. Penularan spesies ini melalui telur , penularan dari stadium-stadium juga terjadi pada Haemaphysalis dan Rhipcephalus.

Patogenesis

B. bigemina sangat patogen terhadap hewan dewasa tetapi patogenesisnya berkurang pada anak sapi. Masa inkubasinya 8-15 hari atau kurang. Tanda pertama adalah naiknya suhu tubuh 106-108. hewan yang kelihatan terserang biasanya kusam, lesu ,tidak mau makan, dan berhenti gerakan rumenya. Hewan yang terserang menjadi kurus, kulit tipis dan ikteris.

Kematian akan terjadi 4 – 8 hari pada saat kasus akut. Hewan yang benar-benar terserang secara menahun akan kehilangan kondisinya , lemah, kurus dan tetap kerempeng. Kerusakan utama adalah adanya pembesaran limpa, yaitu dengn pulpa limpa lunak, berwarna merah tua, serta benda limpa menonjol.Mukosa obamasum dan usus udematosus dan ikterik dengan bercak-bercak dan terjadi pendarahan.

Beberapa galur adalah kurang patogen daripada yang lain

Imunitas

Sapi yang telah sembuh memperoleh preminisasi dan premunitas yang disebabkan oleh infeksi latent umumnya tetap bertahan seumur hidup.

Babesia bovis

Penyakit, bovine babesisos, piroplasmosis, redwater

Spesies ini terdapat pada sapi,roe deer, dan red deer di seluruh dunia (tetapi tidak As dan Kanada) dan biasa di temukan di eropa selatan dan timur tengah.

Struktur

Merozoit dalam eritrosit adalah pirifrom, bundar dan tidak teratur terutama bentuk cincin /siknet. B.bovis mempuyai merizoit berukuran 2,4 X 1,5 mikrometer dan biasanya terletak sentral eritrosit.

Siklus Hidup

Caplak vector –vektor di amerika selatan B. microplus dan di autralia B,austrlis.

Patogenesis

Penyakit yang disebabkan B.ovis seprti pada B.bigemina. Masa inkubasi 4 – 10 hari dan tanda pertama suhu badan 104-106 F yang biasanya berlangsung 2 – 3 hari. Ada anemia, ikterus, diare dan denyut jantung cepat, hewan yang terserang dapat mati.

Imunitas

Sama seperti pada B.bigemina, kecuali bahwa premunitasnya berlangsung tidak lebih 2 tahun dan jangka waktu minimum dimana sapi dapat peka lagi 5 –6 bulan.

Babesia divergens

Spesies ini pada eritrosit sapi di eropa.

Struktur

Spesies ini lebih kecil dari B.bovis. Merozoit terdapat pada organisme berpasangan, berukuran 1.5 x 0,4 mikrometer,sudut diantara anggota pasangan yang relatif lebih besar, merozoit yang lebih gemuk dan pirifrom (kira-kira 2 X 1 mikrometer ) atau berbentuk sekuler, diameter sampai 2 mikrometer. Merozoit-merozoit tidak mempunyai sutau konoid, suatu kompleks golgi yang khas,dan mitokondria yang khas. Mereka memiliki gelembung-gelembung yang menyerupai mitokondrion tanpa tubul-tubul

Siklus Hidup

Siklus hidup yang dimiliki oleh b. divergens ini sama dengan B. bovis. Caplak vektornya adalah ixodes ricinus. Penularan ini melalui telur dan dari stadium ke stadium.

Patogenesis

Sistem patogenesis ini sama dengan seperti pada B.bovis

Imunitas

Faktor-faktor imunitas sama seperti pada B.bovis. Suatu vaksin di-iradiasi kelihatanya efektif untuk melindungi sapi terhadap infeksi alam.

GENUS TRYPANOSOMA

Ciri-ciri umum

  • Ditularkan invertebrata pengisap darah
  • Dapat membentuk ama – pro – epi – tripomastigote
  • Parasit pada sistem sirkulasi/cairan darah
  • Tidak patogen pada burung/reptil patogen pada mamalia

Modus penularan

  • Kebanyakan ditularkan oleh arthropoda,
  • Kecuali T. Equiperdum (coitus) yang ditularkan oleh Arthropoda (bentuknya) :
  • Penularan mekanik (contoh : T. Evansi)
  • Tidak ada perkembangan lanjut dari parasit di dalam vektor
  • Penularan siklis (contoh : T. Brucei)
  • Ada perkembangan/differensiasi parasit dalam vektor (lalat tse – tse)

Ada 2 macam kelompok Trypanosoma berdasarkan jenis penularannya :

  1. stercoraria
    • ditularkan dengan feses dari vektor
    • bentuk ujung lancip (posterior) kinetoplas subterminal
    • banyak yang apatogen
    • satu – satunya patogen yaitu T. Cruzi (menularkan ”chagas disease” di Amerika Latin).
    • hospes reservoir : anjing , hewan pengerat
    • Apatogen stercoraria :
    • T. theileri (hospes : sapi, vektor : lalat)
    • T. melophagium ( hospes : domba, vektor : lalat)
    • T. lewisi (hospes : tikus), vektor : pinjal)

  1. salivaria

· Trypanosoma yang ditularkan lewat ludah dari vektor

· Bentuk posterior membulat

· Kinetoplas kecil, terminal atau sedikit sub terminal

· Bentuk salivaria, banyak patogen

· T. rhodesiense (hospes : manusia, vektor : lalat tse – tse)

· T. gambiense (hospes : manusia, vektor : lalat tse – tse)

· Keduanya menyebabkan penyakit tidur pada manusia

· Siklus dalam lalat tse- tse 15 – 30 hari

· Mekanis dengan infeksi Trypanosoma segar pada proboscis

· Karnivora → terinfeksi dengan makan herbivora yang terinfeksi

T. congolense

  • Di daerah Afrika sub sahara
  • Penyebab nagana (sleeping sickness)
  • Lebih patogen aripada brucei
  • Pada sapi,. Kerbau dan hewan liar
  • Didapat di dalam darah
  • Bentuk dalam darah : kecil (8 – 12 μ)
  • Membarna undulan jarang terlihat tidak ada flagela bebas
  • Ditularkan oleh lalat tse – tse, mekanis oleh lalat penggigit

T. vivax

  • Kadang – kadang bersama dengan T. Brucei dan T. Congolense
  • Patogenitas lebih ringan pada sapi, di daerah Afrika sub sahara
  • Panjangnya : 20 – 27 μ, posterior membulat satu flagellum bebas
  • Membrana undulans tidak jelas
  • Kinetoplas besar di terminal

Trypanosoma brucei

  • Berparasit pada semua mamalia, ruminansia liar di Afrika
  • Bersifat fatal, penyebab penyakit nagana, ruminan liar sebagai reservoir
  • T. gambiense dan T. Rhodesiense → penyakit tidur di Afrika pada manusia.
  • T. brucei tidak menular pada manusia
  • T. rhodesiense pada rusa liar
  • T. gambiense pada sapi
  • Bentuk lebih langsing, buntak,
  • Berparasit dalam darah, limfe dan cairan cerebrospinal
  • Ukuran ± 29 μ – 42 μ
  • Posterior meruncing, kinetoplas 4 μ dari ujung
  • Flagella bebas dan panjang
  • Penularan : lalat tse – tse (genus Glossina)
  • Berbiak dalam darah atau limfe
  • Pembelahan ganda memanjang
  • Lokasi di lalat : di usus bagian tengah → 10 hari trypomastigot → proventrikulus →oesophagus → faring → kelenjar ludah → epi. → tripometasiklik pendek → diinfeksikan ke hospes saat menghisap darah
  • Penularan lalat tse- tse, lalat kuda dan Tabanidae → vektor mekanis.
  • Sebagai vektor dari T. Congolense, vivax, brucei yaitu beberapa spesies lalat tse – tse :

- Glossina morsitans (daerah sabana)

- Glossina palpalis (dekat sungai/danau)

- Glossina fusca (dataran tinggi)

Kepentingan :

Tse – tse transmitted trypanosomiasis adalah salah satu penyakit utama sapi di daerah ”sabuk lalat tse – tse”

Penyakit Nagana

(Trypanosoma congolense, T. Vivax, T. Brucei)

  • penyakit wabah pada ternak
  • penularan (V) lalat tse – tse (metasiklis)
  • pada T. vivax → lalat penggigit, bisa berjangkit di Amerika Selatan
  • hospes : hewan memamah biak (ruminansia) dan hewan ruminansia lainnya

Patogenesis :

  • stadium primer :
  • setelah gigitan vektor → terbentuk radang lokal di kulit →kemerahan → bengkak → sakit

Stadium sekunder

  • stadium parasitemi → Trypanosoma masuk ke saluran darah → membelah menjadi 2 bagian → disini banyak hospes mati → demam
  • Beberapa Trypanosoma mengalami reaksi immunologis lewat → variasi antigeniknya (pada permukaan antigen) → berkembang biak terus → sirkulasi → demam → masuk ke saluran limfa dan persendian → anemia → nodus limfatikus bengkak → berlangsung selama beberapa tahun (T. Gambiense), beberapa bulan (T. Rhodesiense)

Stadium tertier:

  • gangguan motorik dan berakibat mati karena gangguan sirkulasi di jantung
  • antigenik variation (variasi antigen)
  • Trypanosoma punya gen multiple → mengkode permukaan Glikoprotein dari Trypanosoma (berupa mantel Glycogen) bisa mencapai ribuan variasi
  • Variasi antigen ini sudah ada di hospes

→ menghindari sistem kekebalan

→ mencegah penerapan vaksin

→ membuat infeksi kembali

  • beberapa sapi di Afrika (N’dama, West African Shortorn) → kurang rentan terhadap Trypanosoma → “Trypanotolerance”

Gejala klinik

  • demam intermitten, anemia, berat badan turun
  • kronis → kematian meningkat

Diagnosa

  • infeksi akut → dalam darah → preparat apus darah
  • metode sentrifuge → mikrohematokrit
  • infeksi ke hewan lab. (tikus/mencit)
  • IFAT/CBR/IPT (Immunoperoxida Test)/ELISA/PCR

Terapi

  • Quinapyramindimethylsulfat (Antrycide – 5 mg/Kg BB S.C.)
  • Isomethamidiumchlorid (Samorin – 0,5 mg/Kg BB I.M.)
  • Diminazenaceturat (Berenil – 3,5 mg/Kg BB I.M.)

Pemberantasan

  • Khemoprofilaksis → injeksi dengan jarak 6 – 10 minggu Quinapyramindimethylsulfat 7,4 ,g/Kg BB S.C.
  • pengamatan / penanganan mungkin pada daerah resiko infeksi rendah
  • Pemberantasan lalat ”(tse – tse) – trap”
  • Penggunaan insektisida : aplikasi dari Pyrethroid
  • Vaksinasi tidak memungkinkan karena adanya variasi antigenik

Trypanosoma evansi

  • Serupa T. Brucei
  • Afrika utara, Asia, Amerika tropis
  • Pada semua hewan piaraan, liar
  • Menyebabkan penyakit ”SURRA”
  • Mula – mula hanya pada kuda
  • Parasit dalam darah dan limfe tidak menyebabkan ensefalitik
  • Bentuk panjang 15 – 34 μ, langsing, bentuk buntak sering ada
  • Berbiak ganda (pembelahan ganda) memanjang pada tripomastigot
  • Ditularkan oleh lalat kuda (Tabanus) dan lalat rusa (Chrysop)
  • Di Amerika tengah/selatan → ditularkan oleh kelelawar

Diagnosa surra :

2 kategori :

  1. parasitologis

- identifikasi penyebab penyakit

- cara ideal

- sulit dilakukan pada ternak banyak

- perlu dilakukan immunologis

  1. immunologis

Diagnosa parasitologis :

    1. pemeriksaan film darah tebal, tipis dan basah
    2. sub inokulasi pada hewan – hewan peka
    3. cara konsentrasi

cara immunologis :

uji aglutinasi, IFAT

patologi secara umum :

- gejala – gejala : demam intermitten, lemah, bulu kasar

- pasca mati : hati, ginjal, limfa bengkak

- sdm sumsum tulang naik

- akut : anemia normokromik normositik karena hemolisis

kerusakan sel darah merah di hati

sel darah merah menurun → plasma darah naik

Trypanosoma equinum

  • Terdapat di Amerika Selatan
  • Menyebabkan mal de caderas pada kuda (sapi, anjing, domba, kambing)
  • Mirip dengan penyakit surra
  • Beda dengan T. evansi (tidak ada kinetoplas)
  • Mungkin penjelmaan dari T. evansi
  • Morfologi : → 35 μm
  • Vektor : Tabanidae (Stomoxys)
  • Pada kuda berjalan secara kronis, kehilangan tenaga, → kelumpuhan

Diagnosa :

- pemeriksaan darah

- serodiagnostik

Pemberantasan :

  • Suramin 2 – 3 g/hewan i.v.
  • Antrycidsulfat 5 mg/Kg bb s.c.

Trypanosoma equiperdum

  • Ada di seluruh dunia
  • Pada kuda, sapi, keledai → penyakit dourine
  • Ditemukan pada darah dan limfe
  • Menyerupai evansi, tetapi menyebabkan penyakit kelamin
  • Ditularkan melalui coitus (kawin)

Morfologi :

- 16 – 35 μm

- monomorf

- kinetoplas sub terminal

- plasma bergranula

Patogenesis :

  • berjalan klinis pada 3 stadium : organ genital – kulit – saraf pusat (CNS) setelah 1 – 4 minggu inkubasi → stadium primer (genitas ) → oedem, keradangan di penis, praeputium dan organ genital lain → beberapa jam →ulcer.
  • Pada betina → vaginitis → disertai demam.
  • Stadium sekunder → urtikaria → reaksi dermatologis → hemoragi kulit.
  • Stadium tertier → gangguan sistem saraf pusat → paralisa → refleks extremitas menurun → gangguan beberapa nervus mata/muka

Diagnosa :

  • Pada dourine, menciri pada sekresi cairan genital, infeksi kulit,preparat apus darah → parasitemia kuat saja
  • diagnosa immunologis : CBR

Pemberantasan :

- tidak dipakai untuk seleksi kuda

- kemoterapi : Antrycidsulfat (5 mg/Kg BB)

quinapyramine sulfat (3 – 5 mg/Kg BB s.c.)

Pencegahan → kontrol yang ketat

Complement Fixation Test → deteksi hewan yang terinfeksi

Kontrol → eliminasi lalat penghisap darah

T. theileri

  • Berparasit dalam darah sapi di seluruh dunia
  • Biasanya tidak patogen
  • Bentuk relatif besar, 35 – 70 μm (120 μm pernah dilaporkan)
  • Ditularkan oleh Tabanus dan haematopota
  • Ujung posterior panjang dan runcing
  • Membarana undulan jelas flagela bebas
  • Dalam darah : tripomastigot – epimastigot
  • Ditularkan melalui tinja lalat
  • Pada beberapa kasus produksi susu mengalami penurunan dan aborsi

T. melophagium

  • Non patogen pada domba
  • 50 – 60 μm (panjang)
  • ditularkan oleh : Melophagus ovinus
  • ditularkan → pencernaan tinja
  • infeksi → kontaminasi kulit



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar