Selasa, 13 Oktober 2009

NEMATODIASIS DAN DISTOMATOSIS

INVESTASI CACING NEMATODA DAN TREMATODA PADA SISTEM GASTROINTESTINAL RUMINANSIA

Investasi Cacing Nematoda

1. Haemonchosis

Penyebab :

Cacing Haemonchus contortus di abomasum.

Gejala klinis :

- anemia

- oedem

- bottle jaw

- bulu kasar

- kehilangan berat badan / pertumbuhan terhambat

Gambaran bottle jaw :

Siklus hidup :

Siklus hidupnya langsung dan spesifik pada golongan strongyl. Periode prepaten 19-21 hari, namun dapat lebih pendek akibat adanya infeksi Trypanosoma atau akibat stress.

Patogenesis :

H.contortus merupakan cacing yang paling patogen diantara nematoda lainnya pada ruminansia. Infeksi berat terjadi pada hewan muda akibat anemia, hipoproteinemia, emasiasi. Pengaruh ini muncul pada musim penghujan, sementara pada musim kemarau jika infeksinya berat dapat berakibat kematian ternak.

Diagnosa :

Dapat dilakukan dengan mendeteksi adanya telur cacing dalam pemeriksaan feses. Pada kejadian akut, anemia dan kematian sering terjadi sebelum cacing menjadi dewasa. Pada pemeriksaan post mortum di abomasums dapat ditemukan cacing.

Pencegahan :

- Perhatian terutama ditujukan pada manajemen padangan. Perlu dilakukan rotasi pada hewan yang digembalakan.

- Sapi yang menyusui diusahakan dalam kondisi bersih.

- Pemberian obat cacing secara periodik.

2. Trichostrongylus axei

Penyebab :

Cacing Trichostrongylus axei di abomasums dan usus halus.

Gejala klinis :

- kehilangan berat badan

- pertumbuhan terhambat

- infeksi berat biasanya bercampur dengan Haemonchus, Ostertagia, dan Cooperia

Diagnosa :

Dengan cara mendeteksi adanya telur cacing dalam pemeriksaan feses.

Penanganan :

- Manajemen perkandangan yang baik

- Pemberian obat cacing secara periodik

3. Ostertagia spp. (O. ostertagi)

Ostertagiasis terbagi menjadi dua tipe yaitu tipe I yaitu penyakit klasik pada anak sapi mengakibatkan diare, anemia, edema. Ostertagia tipe I terdapat pada musim gugur dan larva berkembang menjadi cacing dewasa dalam waktu tiga minggu dan tidak mengalami penghentian perkembangan. Sedangkan Ostertagia tipe II terjadi pada musim dingin dan musim semi.setelah larva tertelan akan mengalami penghentian perkembangan di dalam tubuh hospesnya. Larva Ostertagia tipe II banyak ditemukan pada kelenjar abomasum dan tidak ada biokimia yang mengubah fluida abomasum atau darah dan hampir tidak ada reaksi dari sel. Kehilangan sel parietal dan pH abomasums meningkat hingga 6-7 sehingga menyebabkan pepsinogen tidak dapat diubah menjadi pepsin dan terdapat kegagalan digesti pectin pada abomasum. Pengelupasan jaringan epitel dalam jumlah besar dan diptheresis, peradangan, anorexia, anemia, diare yang menyebabkan penurunan berat badan.

Penyebab :

Cacing Ostertagia spp. Di abomasum.

Gejala klinis :

- diare berat

- oedema

- ascites

- berat badan menurun

Diagnosa :

Pada pemeriksaan feses dapat ditemukan telur Strongyl. Apabila ditemukan dalam jumlah > 1000 epg, maka hewan terkena infeksi serius dan perlu pengobatan.

Penanganan :

  1. Pengobatan

Banyak perusahan farmasi yang memproduksi obat anhelamtika yang beredar dipasaran. Pada cacing nematoda dapat menggunakan obat dari golongan Benzimidazole dan golongan Imidazothiazole.

Obat golongan Benzimidazole :

Albendazole, parbendazole, fenbendazole, Cambendazole, Mebendazole, Oxfendazole, Pathbendazole, Thiabendazole.

Obat golongan Imidazothiazole :

Tetrmizole dan Livamizole.

  1. Pencegahan

a. Jangan menaruh sapi terlalu padat pada padang rumput. Laju penularan padang rumput meningkat dengan kuadrat jumlah hewan pada padang rumput yang bersangkutan.

b. Pisahkan hewan-hewan muda dari dewasa sedini mungkin. Hewan yang lebih tua merupakann sumber infeksi bagi hewan yang lebih muda.

c. Hindari pembuangan air yang jelek dari padang rumput. Larva parasit mampu hidup lebih lama pda padang rumput yang lembab.

d. Berilah makan sapi di tempat kering.

e. Jangan biarkan pakan ternak dan air tercemar oleh tinja.

f. Buanglah kotoran kandang dari kandang sesering mungkin.

g. Kandang harus bersih dan bebas hama.

h. Beri ransum secukupnya dan keseimbangan vitamin dan mineral yang cukup.

4. Cooperia (C. pectinata, C. punctata)

Penyebab :

Cacing Cooperia sp di usus halus sapi.

Gejala klinis :

- berat badan menurun

- diare

- dehidrasi

Diagnosa :

- Pemeriksaan feses

- Nekropsi

Pencegahan :

- Berilah makan sapi di tempat kering.

- Jangan biarkan pakan ternak dan air tercemar oleh tinja.

- Buanglah kotoran kandang dari kandang sesering mungkin.

- Kandang harus bersih dan bebas hama.

- Beri ransum secukupnya dan keseimbangan vitamin dan mineral yang cukup.

5. Nematodirus spp. (N. spatiger)

Penyebab :

Cacing Nematodirus spp. di usus halus domba, kambing, atau sapi.

Gejala klinis :

- gejala intestinal

- diare

- kehilangan nafsu makan terutama dihubungkan adanya infeksi berat.

Diagnosa :

Telur yang berukuran besar dapat dengan mudah dikenali pada pemeriksaan feses.

Penanganan :

1. Pengobatan :

Banyak perusahan farmasi yang memproduksi obat anhelamtika yang beredar dipasaran. Pada cacing nematoda dapat menggunakan obat dari golongan Benzimidazole dan golongan Imidazothiazole.

Obat golongan Benzimidazole :

Albendazole, parbendazole, fenbendazole, Cambendazole, Mebendazole, Oxfendazole, Pathbendazole, Thiabendazole.

Obat golongan Imidazothiazole :

Tetrmizole dan Livamizole.

2. Pencegahan

a. Jangan menaruh sapi terlalu padat pada padang rumput. Laju penularan padang rumput meningkat dengan kuadrat jumlah hewan pada padang rumput yang bersangkutan.

b. Pisahkan hewan-hewan muda dari dewasa sedini mungkin. Hewan yang lebih tua merupakann sumber infeksi bagi hewan yang lebih muda.

c. Hindari pembuangan air yang jelek dari padang rumput. Larva parasit mampu hidup lebih lama pda padang rumput yang lembab.

d. Berilah makan sapi di tempat kering.

e. Jangan biarkan pakan ternak dan air tercemar oleh tinja.

f. Buanglah kotoran kandang dari kandang sesering mungkin.

g. Kandang harus bersih dan bebas hama.

h. Beri ransum secukupnya dan keseimbangan vitamin dan mineral yang cukup.

6. Oesophagostomum radiatum

Penyebab :

Cacing Oesophagostomum radiatum di usus besar (sekum dan kolon). Larva biasanya ditemukan dalam nodul diantara usus halus dan rectum sapi.

Gejala klinis :

- anemia

- oedem

- hipoalbuminemia

- diare

- infeksi biasanya bercampur dengan nematode yang lain

Gambar Gejala Anemia pada Hewan :

Diagnosa :

Telur yang berdinding tipis biasanya ditemukan dalam pemeriksaan feses. Pada nekropsi dapat ditemukan cacing.

Penanganan :

7. Oesophagostomum columbianum

Penyebab :

Cacing Oesophagostomum columbianum di kolon domba, kambing, unta, dan ruminansia liar lainnya.

8. Bunostomum phlebotomum

.Pathogenesis

Hookworm aktif mehisap darah dan dapat menyebabkan anemia. Banyak hewan ternak yang terinfeksi, kekurangan darah dan Hypoproteinemia edema. Iritasi mucosa intestinum dan diiukuti diare. Larva yang menembus kulit mungkin dapat menyebabkan beberapa iritasi kulit dean masuknya bakteri patoligi. Tidak terjadi anorexia.

Penyebab :

Cacing Bunostomum phlebotomum di usus halus sapi.

Gejala klinis :

Adanya larva yang masuk ke dalam kulit dapat mengakibatkan

- iritasi

- gatal-gatal

- hipoproteinemia

- defisiensi Fe

- rahang botol

Diagnosa :

Melakukan pemeriksaan feses dan menemukan telur cacing Strongyl. Adanya anemia berat dapat diindikasikan infeksi cacing ini.

Penanganan

1. Pengobatan

Benzimidazole, Levamisole dan Morantel, efektif pada bunostomum spp dewasa. Nitroxynil dan Ratoxanidae berfugsi menigkat protein darah dan makanan tambahan yang mengandung vitamin dan mineral.

2. Pencegahan

Membatasi lingkungan bebas larva dan kandang harus lebih sering dibersihkan secara teratur dan periodik.

9. Toxocara vitulorum

Penyebab :

Cacing Toxocara vitulorum di usus halus sapi.

Gejala klinis :

Tidak terlihat secara spesifik

- diare intermiten

- kolik

- obstruksi usus

- kehilangan berat badan

- mati

Diagnosa :

Telur yang berdinding tebal dapat ditemukan pada pemeriksaan feses. Peningkatan titer antibody pada sapi yang bunting mendekati kelahiran dapat diindikasikan adanya infeksi pada fetus.

Pengobatan :

Beberapa anthelmintika dapat diberikan seperti albendazole, fenbendazole, oxbendazole, febantel, mebendazole, dan levamizole.

Pencegahan :

Dalam daerah endemic, sapi yang bunting dan anak-anak sapi perlu dicegah dengan levamizole (7,5 mg/kg p.o. atau pour on), pyrantel (10 – 20 mg/kg p.o.) atau fenbendazole (7,5 mg/kg p.o.)

Investasi Cacing Trematoda

= Distomatosis

Penyakit ini ditemukan di seluruh wilayah Indonesia walaupun intensitas kejadian berbeda menurut daerahnya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan factor ekologik. Di berbagai daerah, presentase hewan yang ditulari meningkat hingga 50-70 %. Angka infeksi rata-rata untuk seluruh Indonesia adalah 30 % pada sapi.

Penyebab :

Cacing Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica

Lokasi :

Pada ductus biliverus domba, kambing, sapi, ruminansia lain, babi, kelinci, gajah, kuda, anjing, kucing, kangguru, dan manusia. Pada hospes yang tidak biasa (manusia dan kuda), cacing dapat ditemukan di paru-paru, bawah kulit, dan lokasi lain. Parasit ini tersebar di seluruh dunia dan menyebabkan Fascioliasis / Distomatosis pada domba dan sapi.

Gambaran Siklus Hidup Cacing Trematoda Secara Umum :

Gejala klinis :

- Akut : Pada domba, hewan mati mendadak. Dari lubang hidung keluar leleran darah berbuih dan dari anus keluar darah seperti pada anthrax.

- Kronis : Domba kepucatan menunjukkan adanya anemia (waktu cacing tembus hati), lemah, nafsu makan menurun dan ada edema melanjut menjadi bottle jaw, kulit kering, wool kering dan rontok, kekurusan, kadang diare / konstipasi dansedikit demam.

o Cacing biasanya hidup selama 9 bulan di domba kemudian mati dan keluar lewat usus, tetapi ada beberapa yang hidup 5 tahun dan bahkan pernah 11 tahun.

o Bila hewan menyembuh, gejala akibat infeksi cacing ini berangsur-angsur berkurang, tetapi lesi pada hati tidak pernah pulih sempurna.

- Pada sapi menunjukkan gejala karakteristik, gangguan pencernaan, konstipasi jelas, tinja keras. Diare terjadi pada waktu stadium ekstrim. Hewan cepat menjadi kurus, lesu, dan lemah terutama pada pedet.

Patogenesis :

· Patogenesis tergantung dari metaserkaria yang tertelan

· Tidak ada kerusakan selama menembus dinding usus/ cavum peritoneum

· Lesi terpenting pada hati di parenkim dan atau ductus biliverus

· Pada dasrnya penyakit dapat dibagi menjadi bentuk akut dan kronis

· Komplikasi yang terjadi sehubungan dengan infeksi distomatosis ini adalah infeksi Black disease yang disebabkan Clostridium oedematicus novyi

· Metaserkaria di laboratorium dapat hidup lebih dari 1 tahun, di tumbuh-tumbuhan 270-340 hari, tergantung kelembaban dan suhu, di silage tahan 35-37 hari

Perubahan Pascamati :

Pada hewan dewasa perubahan-perubahan sering hanya terbatas pada hati.

Mungkin hewan tersebut sedikit kurus atau pucat. Pada hewan muda perubahan-perubahan biasanya lebih mencolok. Kekurusan, anemia, dehidrasi merupakan perubahan-perubahan penting yang timbul. Pada infeksi akut, hati bengkak karena degenerasi parenkim atau infiltrasi lemak dibawah selubung hati dan pada bidang sayatannya terlihat perdarahan-perdarahan disebabkan oleh migrasi parasit-parasit muda. Dan dalam tingkat ini harus diwaspadai infeksi sekunder salmonella. Perubahan pada hati dalam tingkat menahun ialah cholangitis, pericholangitis yang menjadikan hepatitis chronica indurativa (sirosis parasiter). Dinding saluran empedu sangat tebal karena pembentukan jaringan ikat dan endapan kalsium. Di dalam saluran itu tertimbun massa detritus yang berlendir dan mengandung distoma dewasa. Sarang-sarang distomum sering ditemukan di dalam paru-paru dan limpha.

Domba sering mati karena distomatosis yang akut. Pada domba terlihat hepatitis fibrinosa acuta, sepsis dan dehidrasi. Pemberantasan distomatosis harus berdasarkan profilaksis termasuk pemberantasan induk-induk semang antara (siput).

Gambar hati yang terkena fasiolosis :

Diagnosa :

Dengan pemeriksaan feses, telur Fasciola dapat ditemukan. Telur memiliki ciri berkulit kuning, operkulum tidak jelas, dan sel embrional tidak begitu jelas.

Pengobatan :

- Dapat diberikan carbontetrachloride yang sudah dipakai lebih dari 50 tahun. Untuk domba 1 ml (hanya untuk cacing dewasa). Pemberian secara intra musculer mengurangi resiko toksisitas disbanding per os.

- Pemberian hexachlorophene (intramuscular). Untuk sapi 220 mg – 400 mg/kg bb dalam 3 – 4 dosis. Untuk domba 20 – 30 g/hewan.

- Pemberian hexachlorophene (per os). Untuk domba 15 – 20 mg/kg, akut – 40 mg/kg. Untuk sapi 10 – 20 mg/kg (efektif untuk cacing dewasa dan stadium parenkimal).

- Pemberian hetol. Untuk domba 150 mg/kg. Anak domba umur 5 – 6 bulan diberikan dosis 5 – 10 gr. Untuk sapi 125 mg/kg.

- Pemberian bithionol. Untuk sapi 30 – 35 mg/kg bb.

- Pemberian bithionol sulphoxide. Untuk domba 40 mg/kg.

- Pemberian diamphenethide 100 mg/kg (untuk cacing muda) dan150 mg/kg (untuk cacing dewasa).

- Pemberian oxyclozanida. Untuk domba 15 – 20 mg/kg dan 3X dosis 45 mg/kg efektif untuk cacing muda dan akut. Untuk sapi 10 – 15 mg/kg.

- Pemberian rafaoxanide. Untuk sapid an domba 7,5 mg/kg.

- Pemberian nitroxynil (secara subcutan). Untuk domba dan sapi 10 mg/kg (efektif untuk cacing dewasa) dan 15 mg/kg (untuk cacing muda umur 4 minggu)

- Beberapa Benzimidazole, Albendazole, dan Oxfenbendazole efektif untuk cacing hati dan nematode gastrointestinal.

Pencegahan :

- Mengobati dengan segera hewan yang terinfeksi.

- Melakukan pemberantasan siput dengan menghilangkan habitat siput dan perbaikan drainage.

- Melaukan control biologis dengan menggunakan itik dan katak.

- Melakukan Molluscicida dengan memberikan Copper sulphate (bersifat toksik pada ikan)

- Memberikan N Tritylomorpholine 0,45 kg dalam 680 l/ha

DAFTAR PUSTAKA

Blood, D.C dan. Radostits, O.M.. 1989.Veterinary Medicine. London: Baillere Tindall

Levine, Norman D. 1994.Parasitologi Veteriner. Yogyakarta:Gadjah Mada Press.

George, J.R.,1985.Parasitology for Veterinarians.W.B. Saunders Company

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar