Senin, 12 Oktober 2009

HYPOCALCEMIA

Hypocalcemia pada Sapi


Definisi dan sinonim

Hypocalcemia merupakan salah satu penyakit metabolis yaitu turunnya kadar Ca dalam darah. Sering disebut juga sebagai milk fever, parturient paralysis, calving paralysis ataupun parturient apoplexy. (Hungerford, T.G. 1967)

Etiologi

Pada dasarnya penyebab hipocalcemia adalah kehilangan Ca. Konsentrasi kalsium darah bisa menurun sebagai akibat dari berbagai masalah. Sebagian besar kalsium dalam darah dibawa oleh protein albumin, karena itu jika terlalu sedikit albumin dalam darah akan menyebabkan rendahnya konsentrasi kalsium dalam darah Hipokalsemia paling sering terjadi pada penyakit yang menyebabkan hilangnya kalsium dalam jangka lama melalui air kemih atau kegagalan untuk memindahkan kalsium dari tulang (www.giegie-giegie.blogspot.com). Selain itu penyebab dasar lainnya adalah insufisien parathyroid. Kadar hormon paratiroid rendah, biasanya terjadi setelah kerusakan kelenjar paratiroid atau karena kelenjar paratiroid secara tidak sengaja terangkat pada pembedahan untuk mengangkat tiroid (www.giegie-giegie.blogspot.com ). Absorbsi Ca oleh usus yang rendah juga menjadi penyebab dasar terjadinya penyakit ini. Hipokalsemia juga bisa terjadi akibat hipofosfatemia (kadar fosfat yang rendah dalam darah) (www.medicastore.com/med/detail.pyk). Hipokalsemia juga dapat disebabkan karena defisiensi vitamin D. Kekurangan vitamin D biasanya disebabkan oleh asupan yg kurang, kurang terpapar sinar matahari (pengaktivan vitamin D terjadi jika kulit terpapar sinar matahari), penyakit hati, penyakit saluran pencernaan yg menghalangi penyerapan vitamin D, pemakaian barbiturat dan fenitoin, yang mengurangi efektivitas vitamin D.

Spesifikasi lebih lanjut mengenai penyebab hipocalcemia :

· Gangguan pencernaan

· Ketidakhadiran hormone paratiroid (PTH)

- Hipoparatiroidisme keturunan

- Hipoparatiroidisme perolehan

- Hipomagnesemia

- Paratiroidektomi "Hungry Bone Syndrome"

- Tiroidektomi, glandula paratiroid letaknya sangat dekat dengan tiroid dan sangat mudah terluka atau terpotong saat tiroidektomi

· PTH infektif

- Gagal ginjal kronis

- Ketidakhdiran vitamin D aktif

- Pseudohipoparatiroidisme

· Defisiensi PTH

- Hiperfosfatemia

- Osteitis fibrosa

· Pembongkaran asam hidrofluorid

· Komplikasi pankreatitis

Hipocalcemia terbagi atas pre-partus, segera setelah post-partus, dan saat produksi susu tinggi yang terjadi pada 8 minggu post partus.

( www.answers.com/topic/hypocalcaemia-1 )


Faktor predisposisi

1. Breed / bangsa

Kejadian paling tinggi terjadi pada sapi jenis Jersey. Namun karena populasi sapi Holstein juga banyak sehingga yang sering terlihat adalah pada sapi Holstein.

2. Umur

Kejadian Hypocalcemia meningkat pada sapi umur empat tahun ke atas atau pada laktasi ketiga. Hal ini berhubungan dengan skeletal maturity dan ukuran calcium pool.

3. Kondisi tubuh

Sapi yang mengalami obesitas akan lebih mudah terkena hypocalcemia daripada sapi yang ramping. Hal ini ada kaitannya dengan kadar lemak pada hepar.

4. Tingkat kejadian

Ada variasi kejadian dari satu peternakan ke peternakan lain, namun secara umum tingkat kejadiannya antara 3 - 10%. Dan perlu diketahui bahwa sapi yang pernah mengalami hypocalcemia memiliki kemungkinan mencapai 50% untuk kembali terkena hypocalcemia pada laktasi berikutnya.

5. Waktu kejadian

Hampir 90% dari kasus hypocalcemia terjadi antara hari partus sampai 72 jam postpartum. Dan 3% terjadi lebih dari tiga hari setelah melahirkan.

(www.vetsci.psu.edu:coursedesc/vsc497b/17hypo)

Faktor yang mempengaruhi kebutuhan Ca pada sapi perah dan kemungkinan terkena milk fever :


Gejala –gejala

Gejala milk fever terbagi menjadi dua yaitu hypocalcemia subklinis dan milk fever klinis. Pada keadaan subklinis biasanya tidak ada tanda-tanda yang khas. Hanya meliputi turunnya nafsu makan yang disebabkan turunnya aktivitas / kontraksi usus, produksi susu rendah serta performa reproduksi yang suboptimal. (www.onlime.co.nz/products/calcimate ) Sedangkan gambaran klinis milk fever yang dapat diamati tergantung pada tingkat dan kecepatan penurunan kadar kalsium di dalam darah. Pada hipocalcemia dikenal 3 stadium gambaran klinis, yaitu :

1. Stadium prodomal (stadium 1)- serum calcium 6.5 - 8.0 mg/d

Pada stadium ini penderita menjadi gelisah dengan ekspresi muka yang tampak beringas. Nafsu makan dan pengeluaran kemih serta tinja terhenti. Meskipun ada usaha untuk berak akan tetapi usaha tersebut tidak berhasil. Sapi mudah mengalami rangsangan dari luar dan bersifat hipersensitif. Otot-otot kepala maupun kaki tampak gemetar (tremor). Bila milk fever juga dibarengi dengan penurunan kadar magnesium yang cukup berat akan terlihat stadium tetanik yang panjang. Waktu berdiri hewan tampak kaku, tonus otot-otot alat gerak meningkat, dan bila bergerak tampak inkoordinasi. Penderita melangkah dengan berat, hingga terlihat hati-hati dan bila dipaksa akan jatuh. Bila telah jatuh usaha untuk bangun dilakukan dengan susah payah, dan mungkin tidak akan berhasil.

2. Stadium berbaring / recumbent (stadium 2)- serum calcium 4.0 - 6.0 mg/d

Pada stadium ini sapi penderita milk fever dilaporkan sudah tidak mampu untuk berdiri, berbaring pada sternumnya, dengan kepala yang mengarah kebelakang, sehingga dari belakang seperti membentuk huruf “S”. Karena dehidrasi, kulit tampak kering, nampak lesu, pupil mata normal atau membesar, dan tanggapan terhadap rangsangan sinar jadi lambat atau hilang sama sekali. Tanggapan terhadap rangsangan rasa sakit juga berkurang, otot-otot jadi kendor, spingter ani mengalami relaksasi, sedangkan reflek anal menghilang, dengan rectum yang berisi tinja kering atau setengah kering.

Pada awal stadium ini penderita masih mau makan dan masih mengalami proses ruminasi, meskipun intensitasnya berkurang, tetapi masih dapat terlihat. Pada tingkat selanjutnya proses ruminasi hilang dan nafsu makan pun hilang, dan penderita semakin bertambah lesu. Gangguan sirkulasi yang mengikuti akan terlihat sebagai pulsus yang frekuen dan lemah, rabaan pada alat gerak terasa dingin dan suhu rektal bersifat subnormal.

3. Stadium koma (stadium 3)- serum calcium <>

Penderita tampak sangat lemah, tidak mampu bangun, dan berbaring pada salah satu sisinya (lateral recumbency). Kelemahan otot-otot rumen akan segera diikuti dengnan kembung rumen. Gangguan sirkulasi sangat meencolok, pulsus menjadi lemah (120x/menit), dan suhu tubuh turun dibawah normal. Pupil melebar dan reflek terhadap sinar menghilang. Stadium koma kebanyakan diakhiri dengan kematian, meskipun pengobatan konvensional telah dilakukan.

(Subronto & Ida Tjahayati, 2004. Imu Penyakit Ternak II. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press)

Secara garis besar gejala – gejala yang tampak meliputi :

· Nyeri peroral dan parathesia, terasa seperti ditusuk peniti dan jarum pada ekstremitas depan dan belakang. Ini adalah gejala awal dari hipocalcemia

· Tampak tetani dan spasmus cerpopedal

· Tetani laten

- Tanda Trousseau (terjadi spasmus carpal dengan inflasi tekanan darah dan dipertahankan dengan tekanan diatas sistolik)

- Tanda Chvostek

· Komplikasi

- Laringospasmus

- Aritmia jantung (www.answers.com/topic/hypocalcaemia-1)


Patogenesis

  1. Homeostasis Ca

Homeostasis Ca dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu Paratharmon, Calcitonin dan vitamin D (1.25 dihydroxy Vit D3 atau sering disebut Calcitriol).

Parathormon merespon turunnya level ion Ca dalam plasma dan akan beraksi pada tulang yaitu menstimulasi osteoblasts dan osteocytes untuk memompa keluar Ca, pada ginjal untuk meningkatkan reabsorbsi Ca di tubulus ginjal dan pada usus untuk meningkatkan absorbsi Ca sehingga hasilnya adalah meningkatnya level Ca dalam darah.

Calcitonin dilepaskan oleh glandula tiroid yang berfungsi meningkatkan level Ca dalam darah dengan cara menstimulasi osteoblasts untuk pembentukan tulang, menurunkan reabsorbsi Ca dan phosphor di tubulus ginjal dan menurunkan absorbsi Ca di usus.

Calcitriol memiliki fungsi utama sebagai promotor absorbsi Ca di usus dengan cara menstimulasi sel epithelial intestinum untuk memproduksi calcium binding proteins. Selain itu juga mengaktivasi osteoclast tulang sehingga terjadi lysis dan Ca dikeluarkan.

Reece, William O, dan

( www.vetcareindia.com-images-Calcium_metabolism_2.htm )


  1. pada hypocalcemia

Pada sapi perah peristiwa parturisi sangat berpengaruh terhadap kadar kalsium dalam darah. Kebutuhan kalsium sendiri meningkat 2-5x untuk produksi susu dibandingkan dengan masa kering.

Saat kalsium dalam plasma turun, aktivitas paratharmone dan calcitriol akan meningkat namun hal tersebut membutuhkan waktu. Seperti mobilisasi Ca dari tulang oleh parathormon paling tidak membutuhkan waktu satu minggu dan peningkatan absorbsi ca pada usus oleh calcitriol membutuhkan waktu 1-2 hari. Sehingga hampir semua jenis hewan akan mengalami hypocalcemia saat parturisi. Dan pada level yang tinggi maka akan terjadi milk fever.



Kondisi pakan, selama masa kering merupakan faktor predisposisi pada milk fever. dari penelitian menunjukkan bahwa pakan yang mengandung calsium dan phosphor yang tinggi, terutama jika dikonsumsi selama masa kering dapat meningkatkan kejadian milk fever. pakan yang mengandung phosphor yang tinggi dapat menghambat produksi calcitriol. pakan yang mengandung calsium dan phosphor lebih rendah akan lebih aman dikonsumsi pada masa kering. untuk pakan sehari-hari, kurang lebih membutuhkan 25 g.

Pakan dengan kandungan kalsium yang rendah sebelum parturisi akan menurunkan kandungan kalsium dalam serum,hal ini akan merangsang pelepasan parathormone dan metabolisme kalsium tulang.

Beberapa pakan lain juga berpengaruh terhadap kejadian milk fever. Telah diyakini bahwa komponen alkali dalam pakan (misalnya Na, Ca, K, Mg) dengan komponen acid (misalnya Cl, K, Ca, S) dapat digunakan pada kejadian milk fever. Dengan kata lain, kejadian milk fever meningkat sejumlah penurunan kation dan peningkatan anion.

(www.vetcareindia.com-images-Calcium/metabolism/2 )

Diagnosa

1. Diagnosa terutama didasarkan pada gejala klinis karena untuk memulai pengobatan tidak banyak waktu yang dimiliki untuk menunggu test diagnosa lain kecuali dengan teknologi yang sangat memadai.

2. pemeriksaan patologi klinik (serum)

a. Hypocalcemia

> normal : 8 - 12 mg/d

> tanda terjadi milk fever <>

> semakin rendah kadar Ca maka gejala klinis yang terlihat semakin nampak.

> adanya variasi antar individu.

b. Hypophosphatemia

> normal : 4 - 8 mg/d

> milk fever <>

> hypophosphatemia yang parah dapat dilihat dari kadar dalam serum <>

c. Hyperglycemia

> normal : 40 - 80 mg/d

> milk fever > 100 mg/d

> berhubungan dengan meningkatnya pelepasan corticosteroidpada saat partus.

d. Hyper/Hypo-magnesemia

> normal : 2 - 3 mg/d

> pada kasus milk fever bervariasi dari <2>3 mg/d

> lebih sering terjadi Hypermagnesia pada kasus milk fever

selain itu, bisa juga dilakukan pemeriksaan kadar SGOT, CPK dan SDH. Hewan yang rebah terlalu lama akan menaikkan kadar SGOT (AST) dan CPK. Dan bersamaan dengan terjadinya hepatic lipidosis akan meningkatkan kadar SGOT dan SDH.

Diagnosa bandingan untuk hypocalcemia :

a. Prepartum

1. musculoskeletal injuries - luxations, fraktur

2. nerve injuries - spinal

3. penyakit pada uterus - torsion, emphysematous fetus, hydrops

4. dry cow mastitis

5. hypomagnesemia

6. ketosis/hepatic lipidosis

b. Postpartum

1. musculoskeletal injuries - calving paralysis, fractures, luxations, compartmental syndrome

2. septicemia - mastitis, metritis

3. hemorrhage - calving injury, uterine laceration

4. peritonitis - hardware, uterine rupture

5. ketosis/hepatic lipidosis

6. hypomagnesemia

7. chronic disease - lymphoma, pneumonia

(www.vetsci.psu.edu:coursedesc/vsc497b/17hypo )

Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan

Berdasarkan sejarah, pencegahan hypocalcemia dapat dilakukan dengan jalan pemberian diet pakan rendah kalori selama periode kering untuk menstimulasi absorbsi intestinal dan meningkatkan resorbsi otot sehingga secara mendadak kebutuhan kalsium sedikit mengalami peningkatan. Sekarang ini diketahui bahwa pemberian diet makanan rendah kalsium tidak berlaku seperti yang telah dipercayai. Lagi pula, sangat sulit untuk merumuskan diet yang cukup rendah kalsium.

Metode alternatif untuk pencegahan dari hypocalcemia meliputi pemerahan yang tidak tuntas setelah melahirkan, mengatur tekanan dalam ambing dan menurunkan produksi susu. Namun hal ini praktis memperburuk infeksi mammae latent dan meningkatkan kejadian mastitis.

Pengobatan dengan prophylactic pada sapi yang rentan menderita milk fever setelah melahirkan dapat membantu mengurangi kejadian parturient paresis. Kalsium dapat diberikan pada sapi melalui dua cara, yaitu secara subkutan pada hari melahirkan atau kalsium gel secara oral pada saat melahirkan dan 12 jam setelahnya.

Baru-baru ini, pencegahan parturient paresis diubah dengan cepat dengan Dietary Cation-Anion Difference (DCAD), yaitu dengan menurunkan pH darah sapi selama periode akhir prepartum dan awal post partum. Metode ini lebih efektif dan lebih praktis daripada menurunkan kalsium prepartum dengan diet. DCAD meningkatkan penyediaan dengan melebihkan anion diatas kation pada diet dengan mengatur komponen diet, menambah garam anionik pada ransum atau keduanya. Penambahan kelebihan anion pada diet dipercaya dapat meningkatkan resorbsi kalsium dari traktus gastro intestinal.

Strategi yang penting untuk menurunkan pH darah pada lemak preparturient adalah dengan mengurangi potassium pada diet. Porsi umum dari diet kering meliputi jagung silage yang merupakan bahan yang mengandung kadar potassium paling rendah yang tersedia untuk pakan ternak. Alfalfa adalah sumber pakan ternak lain yang dapat dengan tepat mengatur pH darah. Pada zaman dahulu, alfalfa dalam ransum sapi kering tidak ideal, karena dipertimbangkan mengandung kadar kalsium yang tinggi. Bagaimanapun, hal tersebut telah diterapkan dan diketahui bahwa kalsium mempunyai sedikit efek pada alkalinitas darah sapi. Pengurangan pupuk potassium di ladang yang digunakan untuk menumbuhkan pakan ternak kering, berarti menurunkan level potassium pada pakan rumput kering sapi kering.

Kemungkinan lain, garam anionik dipertimbangkan mengandung kalsium chloride, magnesium chloride, magnesium sulfat, kalsium sulfat, ammonium sulfat dan ammonium chloride. Berdasarkan penelitian baru-baru ini, evaluasi aktifitas acidifying dari perbedaan garam anionic telah menghasilkan persamaan mengenai keseimbangan ion pada ransum :

Keseimbangan ion (mEq / g) = (0,15 Ca2+ + 0,15 Mg2+ + Na+ + K+) - (Cl- + 0,25 S- + 0,5 P-)

Persamaan ini memberi kesan ion utama yang menentukan pH darah adalah sodium, potassium dan chloride. Nilai target untuk mendekati ransum sapi kering adalah + 200 sampai + 300 mEq / g. Kekurangan penting dari pakan garam anionik adalah buruk dalam palatabilitas, tetapi hal ini dapat diatasi dengan menggunakan campuran dari garam anionik. Ransum yang palatable adalah silage jagung, brewer’s grain, distiller’s grain atau molasses. Sementara garam sulfat lebih palatable daripada chloride, tapi kurang efektif dalam acidifying darah.

Pemberian vitamin D3 dan metabolitesnya efektif dalam pencegahan parturient paresis. Dosis besar dari vitamin D (20 -30 juta U, sid) yang diberikan pada pakan selama 5 – 7 hari sebelum melahirkan, dapat mengurangi kejadian parturient paresis ini. Bila pemberian itu dihentikan lebih dari 4 hari sebelum melahirkan, sapi menjadi lebih rentan. Dosis untuk periode jangka panjang yang direkomendasikan sebaiknya dihindari karena berpotensi menyebabkan keracunan. Injeksi tunggal (IV atau SC) dari 10 juta IU kristal vitamin D diberikan 8 hari sebelum melahirkan adalah pencegahan yang efektif. Dosis tersebut diulang jika sapi tidak melahirkan pada hari yang diprediksikan.

Setelah melahirkan, diet tinggi kalsium dibutuhkan. Pemberian dosis besar dari kalsium bentuk gel (PO) umumnya lebih praktis. Dosis 150 g kalsium gel diberikan 1 hari sebelum melahirkan, pada hari kelahiran dan 1 pada hari setelah melahirkan.

Penggunaan sintetik Bovine Parathyroid Hormone (PTH) dapat membuktikan keunggulan pemberian vitamin D metabolitis. Vitamin D metabolitis meningkatkan absorbsi kalsium gastro intestinal, mengingat PTH meningkatkan absorbsi kalsium GI dan menstimulasi resorpsi tulang. PTH dapat diberikan melalui 2 cara, yaitu IV 60 jam sebelum melahirkan atau IM 6 hari sebelum melahirkan. Kekurangan dari penggunaan PTH adalah pemberiannya memerlukan banyak pekerja dan juga ketersediaan dari bahan.

(www.merckvetmanual.com )

Pengobatan

Pengobatan hipokalsemia dapat dilakukan dengan pemberian garam kalsium seperti :

a. kalsium chloride – mengiritasi dan dapat menimbulkan toksisitas pada cardiac.

b. kalsium gluconate – tidak begitu stabil pada larutan

c. kalsium borogluconate – lebih stabil dan level toksisitas di cardiac rendah.

(www.vetsci.psu.edu/coursedesc:vsc497b/17hypo )

Jumlah yang dianjurkan untuk terapi hipokalsemia dengan kalsium borogluconate adalah

Produk

Jumlah (ml)

Kalsium yang terkandung (g)

Dosis yang dianjurkan untuk sapi 600 kg (ml)

CBG20%

CBG30%

CBG40%

maxacal

400

400

400

100

6

9

12

4,17

600-800

400

400

200

Untuk menggunakan treatment intravena tidak dapat menggunakan dosis yang besar, hal ini sangat penting untuk mengembalikan kadar kalsium dalam darah menjadi normal dengan cepat dan sangat tepat untuk menurunkan cow syndrome. Hal yang perlu diingat adalah pemberian Ca yang diberikan secara IV harus perlahan - lahan, karena apabila terlalu cepat maka dapat menimbulkan aritmia jantung (tidak teratur).

Pengobatan milk fever dapat dilakukan dengan memberikan suplemen - suplemen kalsium oral. Kalsium karbonat adalah sediaan paling murah. Dosis inisialnya adalah 1 - 2 g kalsium untuk unsur per oral 3x sehari selama masa peralihan dari terapi IV ke terapi oral. Untuk terapi jangka panjang dosis yang khas adalah 0,5 - 1 g peroral 3x sehari diberikan bersama pakan.

Selain itu pengobatan pada kasus milk fever dapat juga dilakukan dengan pemberian vitamin D. Defisiensi vitamin D dapat dikoreksi dengan pemberian vitamin D sebanyak 400 - 1000 IU/hari, namun terapi terhadap hipokalsemia karena proses lain akan memerlukan dosis vitamin D yang lebih besar atau penggunaan metabolit aktif.


DAFTAR PUSTAKA

Hungerford, T.G, 1967, Disease of Livestock, Angus and Robertson : Sydney, London, Melbourne, Singapore

Reece, William O, Duke’s Phisiology of Domestic Animals, Comstock Publishing Associates a division of Cornell University Press: Ithaca and London

Van Saun, Robert J, www.vetsci.psu.edu/coursedesc:vsc497b/17hypo

www.actavetscand.com

www.answers.com/topic/hypocalcaemia-1

www.cumbs.colostake.edu/ilm/proinfo/caluirg/photos

www.dcadbalance.com/poppress

www.giegie-giegie.blogspot.com

www.greenheyes.com/images/milkfever04

www.medicastore.com/med/detail.pyk

www.merckvetmanual.com

www.onlime.co.nz/products/calcimate

www.thecattlecicle.com/new

www.upsidaisycowlifer.com/instructions

www.vetcareindia.com-images-Calcium_metabolism_2.htm
www.sheepandgoat.com/articles/milkfever.html





HIPOKALSEMIA PADA KUDA

I. Pendahuluan

Kalsium merupakan kation divalensi yang sangat diperlukan dalam pembentukan tulang, dimana tulang merupakan salah satu sistem organ terbesar dalam tubuh yang memiliki fungsi struktural dan protektif yang penting. Kalsium intraseluler sangat diperlukan dalam interaksi antara aktin dan miosin yang menyebabkan kontraksi otot. Kalsium ini juga berperan penting sebagai second messanger untuk berbagai macam hormon dan neurotransmiter.

(Wikipedia, 2008)

Kalsium ada berlimpah-limpah di dalam tubuh. Absorbsi kalsium terjadi via tractus gastrointestinal atau melalui saluran pencernaan. Kalsium memiliki peranan yang penting dalam proses biologi termasuk dalam sistem saraf , otot skelet , fungsi jantung dan pembekuan darah. Kalsium di sekresikan melalui ginjal dan di simpan dalam jumlah yang besar dalam tulang. Tiga hormon yang berperan dalam metabolisme kalsium yaitu, 1,25 Dihidroksikolekalsiferol adalah suatu hormon steroid yang yang dibentuk dari vitamin D oleh hidoksilasi berturut – turut dalam hati dan ginjal. 1,25 Dihidroksikolekalsiferol meningkatkan absorbsi kalsium dari usus dan tulang. Homeostasis kalsium diregulasi oleh parathormon dan calsitonin. Parathormon merupakan hormon yang di sekresikan oleh kelenjar paratiroid, memobilisasi kalsium dari tulang dan meningkatkan ekskresi fosfat melalui urin. Kalsitonin merupakan hormon yang menurunkan kalsium yang di sekresikan melalui kelenjar tiroid, menghambat resorbsi tulang.

(Ganong , 1988)

Gangguan keseimbangan kalsium kurang penting pada kuda daripada pada ruminansia. Kalsium adalah elektrolit penting untuk beberapa sistem dalam tubuh, khususnya hati dan fungsi otot. Rendahnya kadar kalsium yang berkepanjangan dapat berakhir pada miskinnya formasi tulang, dimana bisa berakhir pada kerusakan tulang yang cenderung akan menjadi fraktur.

(Higgins, 1995)

II. Definisi

Hipokalsemia yaitu suatu keadaan dimana terjadi penurunan kadar kalsium dalam darah, biasanya ketidakseimbangan kadar kalsium pada kuda yang disertai laktasi akan mengakibatkan tetani hipokalsemi yaitu penurunan kalsium ekstra sel pada hubungan otot dan saraf sehingga menghambat transmisi. Keadaan ini ditandai oleh spasmus otot rangka, khususnya mengenai otot-otot ekstremitas dan larings. Laringiospasmus sedemikian berat sehigga udara tersumbat, dan menimbulkan asfiksia yang mematikan.

(Ganong, 1988)


( www.nlm.nih.gov )

Hipokalsemia tetani pada kuda adalah sebuah kondisi yang tidak biasa, dihubungkan dengan kehabisan ion kalsium akut dalam serum dan kadang-kadang dengan perubahan konsentrasi magnesium dan fosfat dalam serum. Hipokalsemia terjadi setelah transport (hipokalsemia tetani) dan pada kuda betina laktasi (Lactation Tetany). Tanda-tandanya berubah-ubah dan berhubungan dengan neuromuskuler hiperirritability.

(Wooldridge, 1960)

III. Etiologi

Hipokalsemia pada kuda erat kaitannya disebabkan karena :

a. Laktasi tinggi

Kebanyakan kasus hipokalsemia karena laktasi ditemukan pada kuda yang sedang menyusui pada hari ke-10 setelah melahirkan atau 1-2 hari setelah anaknya disapih, ini menyebabkan terjadinya penurunan kalsium dalam serum yang mencapai 4-6 mg/dl.

b. Acute renal failure

Yaitu penyakit gagal ginjal yang bersifat akut yang menyebabkan penyerapan kalsium terhambat, sehingga menyebabkan penurunan kadar kalsium, ini terjadi karena lebih dari 75% nefron dalam ginjal telah rusak, sehingga menyebabkan berkurangnya metablisme vitamin D menjadi bentuk aktif yang menyebabkan penurunan kadar dari 1, 25 dihidrokolekalsiferol yang berfungsi untuk penyerapan kalsium dalam saluran gastrointestinal.

c. Defisiensi Nutrisi

Gangguan asupan nutrisi banyak disebabkan karena beberapa factor. Antara lain : pemberian pakan yang tidak seimbang dengan kebutuhan kuda, penurunan nafsu makan pada kuda yag bunting, pH tinggi, kadar lemak dalam pakan yang tinggi, berkurangnya penyerapan kalsium pada kuda tua, dan ketersediaan kalsium yang dapat dimobilisasi dari tulang

(Ganong, 1988)

Selain faktor-faktor di atas , ada pula hipotesa yang menghubungkan kejadian hipokalsemia dengan hormone-hormon, yaitu :

Ø Parathormon ( PTH )

Hormon ini di produksi oleh glandula paratiroid, yang berfungsi untuk meningkatkan pembongkaran kalsium dari tulang untuk di mobilisasi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi dan menyebabkan fosfaturia

Ø Kalsitonin

Hormon kalsitonin yang diproduksi oleh kelenjar tiroid memerankan peranan yang cukup penting dalam menghambat pembongkaran kalsium dari tulang dan menurunkan kadar kalsium dan fosfor dalam plasma darah. Pada kuda bunting yang di beri pakan berkalsium tinggi, mobilisasi kalsium dari tulang untuk menutup pengurangan kalsium darah ke kolostrum akan di hambat oleh hormone ini yang kadarnya masih tinggi dalam darah.

Ø 1,25 dihidroksikolekalsiferol

Hormon ini terdapat di dalam ginjal dan berfungsi untuk meningkatkan absorbs kalsium oleh usus halus. Hormon ini di aktifkan oleh vitamin D yang di bentuk dari provitamin D d dalam ginjal.

Ø Estrogen

Hormon estrogen yang kadarnya terus meningkat pada masa kebuntingan dan baru menurun tajam 24 jam menjelang partus menyebabkan penurunan nafsu makan sehingga berpengaruh pada pasokan kalsium yang terdapat dalam makanan.

(Ganong, 1988)

IV. Kejadian Penyakit

Penyakit Metabolisme pada kuda yang memiliki angka kematian yang cukup tinggi yaitu:

ü Tetani Laktasi ( Eclampsia, Transit Tetany )

Penyakit ini ditemukan pada peternakan kuda tarik yang kurang memperhatikan kualitas pakan kuda, tetapi seiring berkembangnya teknologi pangan kejadiannya telah sangat jarang diamati. Penyakit ini di barengi dengan penurunan kalsium dalam serum mencapai 4 – 6 mg/dl. Gambaran klinis yang terlihat tergantung dari tingkat perubahan kadar kalsium dalam darahnya. Apabila kadar tersebut masih labih besar dari 8 mg/dl , gejala yang Nampak hanya berupa eksitasi, pada kadar 5-8 mg/dl terlihat gejala kejang tetanik dan inkoordinasi yang ringan, sedangkan pada kurang dari 5 mg/dl penderita tidak lagi mampu bangun dengan kelemahan syaraf ( stupor ) . Kadar kalsium pada kuda–kuda yang diangkut mengalami penurunan bersamaan dengan turunnya kadar magnesium. Pada beberapa kejadian tetani laktasi kadar magnesium malahan meningkat.

(Subronto 2004)

V. Patogenesis

Kuda yang sedang menyusui → penurunan Ca karena dibutuhkan untuk pembentukan air susu dan tulang janin → pengurasan kalsium kedalam kolostrum secara mendadak → kadar kalsium di dalam darah dan jaringan menjadi berkurang secara derastis → hipokalsemia → Penurunan kalsium ekstra sel pada hubungan otot dan saraf → menghambat transmisi impuls → peningkatan serabut saraf motoris mengakibatkan tetani hipokalsemia.

Mekanisme hipokalsemia meliputi turunnya absorpsi intestinum, peningkatan hilangnya kalsium dari ginjal, keringat atau susu, atau menghalangi osteolisis karena perubahan pada hormon parathyroid, kalsitonin atau vitamin D. Hipokalsemia setelah aktivitas alami diperpanjang akibat kalsium yang hilang dari keringat, peningkatan terikatnya kalsium selama hipokloremik alkalosis dan stress disebabkan tingginya level kortikosteroid. Kortikosteroid terhalang vitamin D dimana mengiringi turunnya absorpsi intestinum dan mobilisasi kalsium dalam skeletal. Stress dan kekurangan mengikat kalsium berhubungan dengan transport tetani.

(Merck & Co, 2008)

VI. Faktor Prediposisi

Kejadian tetani ditemukan pada kuda-kuda yang sedang menyusui pada hari kesepuluh setelah melahirkan atau satu sampai dua hari setelah anaknya disapih. Faktor-faktor predisposisi yang banyak diamati berupa tingginya jumlah air susu yang dihasilkan, jenis padang rumput yang mengandung rumput muda, kerja keras, maupun pengangkutan yang lama. Pengangkutan yang lama kadang-kadang juga menyebabkan gejala tetani pada kuda yang tidak menyusui maupun kuda jantan.

(Subronto, 2004)

VII. Gejala klinis

Kuda-kuda yang menderita sangat berat memperlihatkan gejala berkeringat banyak, kesukaran waktu berjalan serta inkoordinasi. Langkahnya menjadi kaku dan ekornya sedikit diangkat waktu berjalan pernafasan menjadi cepat dan dangkal. Cuping hidung Nampak membuka dengan pernafasan Nampak dilakukan secara paksa. Hal terakhir mungkin disebabkan karena kekejangan dari otot diafragma. Selanjutnya otot-otot daerah bahu dan masseter tampak gemetar disertai trismus. Penderita tidak menjadi peka terhadap rangsangan bunyi, namun derajat tetani akan tampak meningkat bila hewan tersebut dipegang atau dibawa berjalan. Suhu tubuh normal atau sedikit meningkat; pulsus yang semula normal pada tingkat lanjut menjadi cepat dan tidak teratur. Penderita berusaha untuk makan dan minum, akan tetapi mengalami kesulitan waktu menelan. Urinasi dan defekasi menjadi sangat menurun frekuensinya.

(Subronto, 2004)

Gejala klinis yang tampak bersesuaian dengan konsentrasi serum dari ionisasi kalsium. Peningkatan eksitabilitas mungkin hanya pada gejala kasus ringan. Bebuerapa hal yang mempengaruhi sehingga kuda menunjukkan synchronous diaphragmatic flutter, kegelisahan dan tanda dari tetanus termasuk peningkatan tonus muskulus, kelumpuhan, tremor muskulus, prolap kelopak mata, ketidakmampuan mengunyah, trismus, salvias, recumbency, konvulsi, dan aritmia kardia. Pada kuda betina laktasi, jika tidak diobati, penyakit bisa menjadi progresif dan kadang-kadang berakibat fatal jika berlangsung lebih dari 24-48 jam.

(Merck & Co, 2008)

VIII. Diagnosis

Dalam waktu 24 jam penderita akan jatuh , mengalami konvulsi tetanik dan dalam waktu 48 jam sejak timbulnya gejala awal penderita akan mati.Berbeda dengan tetanus penderita tetani laktasi tidak mengalami prolapsus dari membrane nictitans, dan lagi pada tetanus biasanya tidak memiliki kaitan dengan kelahiran, penyapihan maupun dengan kerja fisik.

(Subronto, 2004)

Diagnosis sementara didasarkan pada gejala klinis, sejarah dan respon terhadap pengobatan. Diagnosis definitive wajib diberitahukan dari rendahnya level ion kalsium dalam serum. Sebagian besar pemeriksaan laboratorium hanya memeriksa total serum kalsium (protein terikat dan bebas), dimana tes diagnostic dapat diterima pada sebagian besar kasus. Mekipun, ada ketidaksesuaian pada alkalosis dan hipoalbuminemia pada kuda. Alkalosis meningkatkan kadar albumin dari kalsium, dimana beakhir pada penurunan konsentrasi ion kalsium. Demikian, pada alkalosis kuda total serum kalsium bisa normal sampai timbulnya tanda-tanda dari hipokalsemia. Begitu pula hipoalbuminemia atau asidosis pada kuda bisa menurunkan total serum kalsium tanpa menunjukkan tanda-tanda hipokalsemia.Total serum kalsium dapat menjadi biasa untuk konsentrasi albumin dengan formula :

Adjusted Ca2+ = measured Ca2+ − serum albumin concentration + 3.5.

(Merck & Co, 2008)

IX. Diferensial diagnosa

Differensial diagnosa yang perlu di pertimbangkan yaitu laminitis yang juga disertai dengan ketidaktenangan dan tremor otot-otot besar. Laminitis selalu disertai rasa sakit yang sangat pada anggota geraknya.

(Subronto, 2004)

Diferensial diagnosa lainnya yaitu tetanus, endotoksemia, kolik, exertional rhabdomyolysis, atau gangguan muskulus yang lain, laminitis, dan botulism.

(Merck & Co, 2008)

X. Pengobatan

Terapi diarahkan pada mengembalikan serum kalsium ke keadaan normal secepat mungkin untuk menghindari kerusakan otot dan saraf. Pengobatan yang direkomendasikan adalah :

a. Larutan Kalsium 10 % atau lebih diberikan secara intravena. Pemberian harus diberikan secara hati-hati karena berpotensi mengakibatkan heart block.

b. Larutan kalsium boroglukonat 20-30%, pemberian terlalu cepat dapat menyebabkan bradicardia.

c. Campuran kalsium dengan magnesium dan fosfor dapat memberikan hasil yang memuaskan.

Kalsium bersifat toksik bagi jantung. Pertologan keracunan sediaan kalsium antara lain :

- Hentikan penyuntikan

- Berikan masase jantung

- Berikan sediaan yang berefek pada jantung (MgSO4, atropine )

- Sediaan yang mengikat( chelating agent ) kalsium, seperti Na-EDTA

(Ganong, 1988)

Pemberian kalsium solution secara intra vena (iv), seperti 20% kalsium borogluconate atau solution yang direkomendasikan untuk pengobatan paresis parturient pada ternak, biasanya berakhir sampai recovery penuh. Solution harus diberikan pelan-pelan (lebih dari 20 menit) dengan dosis 250-500 mL/500 kg, ditambah air dengan perbandingan 1:4 dengan saline atau dextrose, dan respon kardiovaskuler harus selalu diawasi. Diharapkan adanya peningkatan intensitas hati. Jika menghasilkan aritmia atau bradikardia, pengobatan IV harus segera dihentikan. Sekalinya hati kembali normal, infuse mungkin dapat diberikan lagi dengan lebih hati-hati. Jika kuda tidak membaik dalam 1-2 jam dari pemberian infuse, dosis kedua bisa diberikan, meskipun ada indikasi hipokalsemia dari verifikasi laboratorium. Beberapa kuda membutuhkan pengobatan yang diulang lebih dari beberapa hari untuk kembali dari hipokalsemis tetani. Secara ringan dipengaruhi dari kudanya untuk bisa recover tanpa pengobatan khusus. Jika tetani dihubungkan dengan kejadian alami, dengan memasukkan magnesium kedalam solution mungkin bisa lebih baik.

(Merck & Co, 2008)

Tanda-tanda kesembuhan biasanya diawali dengan keluarnya kemih dalam jumlah banyak.

(Subronto, 2004)

XI. Pencegahan

Untuk upaya pencegahan dapat diberikan pakan yang mengandung kalsium dan fosfor . Penambahan vitamin D dan setelah melahirkan disarankan dengan menkonsumsi makanan diet tinggi kalsium, dapat diberikan dalam bentuk gel secara per oral. Pemberian obat penstimulus hormone (PTH) sehingga akan meningkatkan absorbsi kalsium dari saluran pencernakan menstimulir resorpsi tulang.

(Ganong, 1988)

Keseimbangan rasio makanan harus disediakan untuk jumlah persediaan yang cukup dan rasio dari seluruh kalsium dan fosfor selama kehamilan. Pada satu waktu permintaan kalsium meningkat seperti saat laktasi, puasa harus dihindarkan dan kualitas makanan ternak yang bagus seperti alfalfa atau kalsium yang mengandung campuran mineral harus disediakan. Stress dan berpuasa selama transport harus diminimalkan. Ketahanan kuda saat kekurangan air dan elektrolit berhubungan dengan lamanya latihan dan berkeringat mungkin dapat dicegah dengan penyadiaan air dan suplementasi elektrolit yang cukup.

(Merck & Co, 2008)


Daftar Pustaka

Ganong, William F. 1988. Fisiologi Kedokteran edisi 10. Jakarta : Penerbit EGC

Higgins, A.J. and Wright I.M. 1995. The Equine Manual. London : W.B. Saunders Company Ltd.

Subronto dan Tjahjati, Ida. 2004. Ilmu Penyakit Ternak II . Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Wooldridge, W.R. 1960. Farm Animals in Health and Disease. London : Crosby Lockwood & Son Ltd.

Merck & Co.2008. Merck Veterinary Manual. USA : Whitehouse Station. From : http://www.merckvetmanual.com

Argenzio,R.A et al. 1973. Veterinary Journal : Calcium and Phosporus Homeostasis in Horses. From : Equine Research Program, New York State Veterinary College http://jn.nutrition.org

J, Arnbjerg. Abstract : Hypocalcemia in Horse, a Case Report. From : Journal Article http://www.unboundmedicine.com/medline/ebm/record/7383845/full_citation/%5BHypocalcemia_in_the_horse__A_case_report%5D

WK, Scarrat et al. Abstract : Hepatoencephalopathy and Hypocalcemia in a Miniature Horse Mare. From : Journal Article http://www.unboundmedicine.com/medline/ebm/record/1813468/full_citation/Hepatoencephalopathy_and_hypocalcemia_in_a_miniature_horse_mare_

http://www.athletic-animal.com

http://www.thepetcenter.com/gen/eclampsia.html

http://diaglab.vet.cornell.edu/clinpath/modules/chem/hypocalc.htm.

http://www.pyramidarabians.com/news/bighead.html

http://www.wikipedia.com/hypocalcaemia

http://www.nlm.nih.gov



HYPOCALCEMIA PADA BABI

A. KALSIUM

Kalsium terdapat pada tubuh dalam bentuk garam-garam kalsium, senyawa ion maupun ikatan protein-kalsium. Sembilan puluh sembilan persen kalsium terdapat pada tulang dan gigi dalam bentuk kristal yang berfungsi memberikan kekuatan pada struktur tulang dan gigi. Satu persennya terdapat pada sirkulasi darah dan empat puluh persen dari satu persen kalsium tersebut terikat dengan protein terutama albumin.kalsium dalam bentuk senyawa ion berfungsi untuk menjaga integritas membrane sel, elektrofisiologi pada eksitabilitas sel, dan berperan dalam kontraksi otot.

Konsentrasi kalsium dalam darah dipengaruhi hormon parathyroid (PTH) dan thyrocalcitonin. PTH disekresikan oleh kelenjar paratiroid dan berfungsi meningkatkan kadar serum kalsium. Thyrocalcitonin meningkatkan deposisi kalsium pada tulang ketika terjadi peningkatan kadar kalsium pada darah. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid, berfungsi pula untuk mengurangi kadar serum kaslium dan fosfat.

Kalsium berfungsi utama untuk membangun tulang dan gigi, fungsi yang lain yaitu :

1. Menstabilkan membran sel dan memblokade transport natrium menuju sel. Maka penurunan kadar kalsium akan meningkatkan eksitabilitas sel dan sebaliknya peningkatan kadar kalsium akan menurunkan eksitabilitas.

2. Pembekuan darah, bila kalsium tidak tersedia, missal terikat dengan sitrat atau oksalat, maka pembekuan darah tidak terjadi.

3. Produksi air susu.

4. Sekresi beberapa hormon dan factor pelepas hormon.

Vitamin D diproduksi oleh kulit dengan bantuan sinar ultra violet (UV). Vitamin D diubah oleh hati menjadi 25- dihydroxycholecalciferol dan lebih lanjut akan dimetabolisme oleh ginjal dengan bantuan PTH untuk membentuk 1,25- dihydroxycholecalciferol aktif yang sangat penting pada proses penyerapan kalsium dari saluran pencernaan.






kalsium plasma terdapat dalam 3 bentuk :
  1. bentuk senyawa kompleks dengan asam organik ex. Sitrat, phosphat
  2. bentuk terikat protein ex. Albumin, globulin
  3. bentuk terionisasi/ bentuk tak terikat (Ca2+)

(Murray, R. K., et all., 2003)

Garam kalsium lebih larut dalam kondisi asam sehingga penyerapan berlangsung di bagian awal usus halus. Penyerapan tergantung dari banyaknya yang dimakan, kebutuhan dan tipe makanan. Faktor penentu utama bnyaknya kalsium yang diserap adalah kebutuhan tubuh.

Kalsium yang diserap melalui dinding usus halus, yang terbanyak disimpan di tulang terutama di spons tulang (trabekula) dan kelak akan dikeluarkan jika diperlukan. Namun kalsium tidak selalu dapat dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme, misal saat terjadi tetani/kejang. Mobilisasi kalsium termudah adalah dari tulang rahang dan biasanya pada diagnosa defisiensi kalsium tulang rahang ini diabaikan. Deposisi dan mobilisasi kalsium ini dikontrol oleh hormon.

Kalsium yang diserap dan tidak diperlukan oleh tubuh, kebanyakan diekskresikan melalui urin, meskipun sebagian melalui tinja dan keringat (Sihombing, 2006).

Hubungan Kalsium dengan Fosfat

Fosfat merupakan anion yang keberadaannya dalam tubuh juga dipengaruhi oleh PTH. Normalnya total konsentrasi kalsium dan fosfat dalam tubuh selalu konstan. Artinya, jika konsentrasi kalsium meningkat maka fosfat akan turun begitu pula sebaliknya jika konsentrasi kalsium menurun maka fosfat akan naik. Kalsium dan fosfat dapat bergabung membentuk kalsium fosfat (CaHPO4). Jika senyawa ini terbentuk terlalu banyak dapat mengakibatkan hipokalsemia.

Hubungan kalsium dengan bahan lain

  1. Magnesium yang banyak dimakan akan menurunkan mpenyerapan magnesium, besi, iodine, mangan, zink dan tembaga, terutama jika salah satu unsure yang dimakan di ambang batas kurang.
  2. Kalsium yang berlebihan menurunkan penyerapan dan pemanfaatan zink dan menyebabkan parakeratosis akibat defisiensi zink.
  3. Magnesium yang berlebih menurunkan penyerapan kalsium, mengusir kalsium dari tulang sehingga mengakibatkan ekskresi kalsium. (Sihombing, 2006).

B. HIPOCALCEMIA

Definisi
Hipokalsemia (kadar kalsium darah yang rendah) adalah suatu keadaan dimana konsentrasi kalsium di dalam darah kurang dari 8,8 mg/dl (Bullock and Philbrock, 1984).

Kadar normal kalsium dalam darah pada babi betina adalah 11,1 dan pada jantan 9,65 (Mitruka, Brij M., 1981).

Dahulu gangguan ini diduga disebabkan oleh adanya bendungan pada system syaraf, alergi, penyakit neuromuskuler, penyakit keturunan, penyakit ketuaan, penyakit infeksi dan penyakit defisiensi makanan yang menyangkut kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin D dan protein (Subronto, 2001)

Faktor Predisposisi
Konsentrasi kalsium darah bisa menurun sebagai akibat dari berbagai masalah.
Hipokalsemia paling sering terjadi pada penyakit yang menyebabkan hilangnya kalsium dalam jangka lama melalui air kemih atau kegagalan untuk memindahkan kalsium dari tulang (Bullock and Philbrock, 1984).

Namun dari hasil temuan hypocalcemia disebabkan karena : penurunan kadar kalsium dalam darah di bawah normal, defisiensi hormon paratiroid, efek hormon tirokalsitonin, gangguan absorbsi kalsium, gangguan produksi vitamin D, hormon estrogen dan steroid kelenjar adrenal yang menurunkan absorbsi kalsium (Subronto, 2001)
Sebagian besar kalsium dalam darah dibawa oleh protein albumin, karena itu jika terlalu sedikit albumin dalam darah akan menyebabkan rendahnya konsentrasi kalsium dalam darah.

Penyebab

Keterangan

Kadar hormon paratiroid rendah

Biasanya terjadi setelah kerusakan kelanjar paratiroid atau karena kelenjar paratiroid secara tidak sengaja terangkat pada pembedahan untuk mengangkat tiroid

Kekurangan kelenjar paratiroid bawaan

Penyakit keturunan yg jarang atau merupakan bagian dari sindroma DiGeorge

Pseudohipoparatiroidisme

Penyakit keturunan yg jarang;
kadar hormon paratiroid normal tetapi respon tulang & ginjal terhadap hormon menurun

Kekurangan vitamin D

Biasanya disebabkan oleh asupan yg kurang,
kurang terpapar sinar matahari (pengaktivan vitamin D terjadi jika kulit terpapar sinar matahari),
penyakit hati,
penyakit saluran pencernaan yg menghalangi penyerapan vitamin D,
pemakaian barbiturat & fenitoin, yg mengurangi efektivitas vitamin D

Kerusakan ginjal

Mempengaruhi pengaktivan vitamin D di ginjal

Kadar magnesium yg rendah

Menyebabkan menurunnya kadar hormon paratiroid

Asupan yg kurang atau malabsorbsi

Terjadi dengan atau tanpa kekurangan vitamin D

Pankreatitis

Terjadi jika kelebihan asam lemak dalam darah karena cedera pada pankreas, bergabung dengan kalsium

Kadar albumin yg rendah

Mengurangi jumlah kalsium yg terikat dengan albumin tetapi biasanya tidak menyebabkan gejala, karena jumlah kalsium bebas tetap normal

Ketika konsentrasi kalsium menurun, blocking effect kalsium terhadap natrium (sodium) juga akan menurun. Maka dari itu ketika kadar kalsium rendah akan meningkatkan eksitabilitas sel saraf dan menyebabkan spasmus otot. Bahkan akhirnya dapat menimbulkan konvulsi dan tetani.

Hipokaslemia dapat dilihat seiring dengan penurunan aktivasi vitamin D, kadang-kadang berhubungan pula dengan penyakit gnjal maupun hati. Pancreatitis dapat menyebabkan penurunan serum kalsium akibat dari sekresi enzim pankreatik lipase yang akan mengikat asam lemak dan kalsium. Transfusi darah dapat pula menyebabkan hipokalsemia karena kalsium dapat terikan nitrat yang digunakan saat preparasi, halmtersebut menghilangkan kalsium terionisasi dalam darah. Hiperpospatemia, hipoalbuminia, penyakit pada kelenjar paratiroid, terapi obat seperti ACTH atau glucagon, pembedahan atau pengambilan kelenjar paratiroid, penyakit saluran pencernaan, neoplasia semuanya dapat dikaitkan dengan hipokalsemia.

Sebagai akibat dari hipokalsemia antara lain ; osteoporosis, spasmus, tetani, peningkatan motilitas saluran gastro-intestinal, serta masalah jantung dan sirkulasi. Tetani otot merupakan hal yang paling umum terjadi dan berbahaya terutama jika mengakibatkan spasmus laryngeal (Bullock and Philbrock, 1984).

Hipokalsemia pada Babi

Milk fever (Parturient Hypocalcemia, Parturient Paresis) termasuk salah satu dari tiga metabolic disease yang sering terjadi (Wooldridge, W. R., 1960).

Menurut George milk fever (tanpa susu dan tanpa demam) yang sering terjadi secara tiba-tiba setelah proses kelahiran dan menyebabkan hipokalsemia akut. Berikut ini urutan hewan yang sering mengalami hipokalsemia adalah : sapi, domba, kambing, babi dan anjing (Smith, M. A., 1967).

Milk fever kadang terjadi pada babi dan dapat menyerang babi sehat. Kondisi yang terjadi pada babi sama dengan yang terjadi pada sapi, spesies yang lebih mendapat perhatian tentang penyakit ini (Hungerford, T. G., 1967).

Penelitian pada masa awal penyakit ini mulai diteliti yang dilakukan oleh Dr. Dryerre dan Greig menunjukkan bahwa disfungsi kelenjar paratiroid merupakan factor utama. Akibatnya adalah penurunan kadar kalsium darah yang kadang berkorelasi dengan turunnya kadar fosfor. Para ahli percaya bahwa kadar magnesium juga turun tapi tana penurunannya biasa dikaitkan dengan hyperaestesia atau bahkan tetani yang merupkan pengaruh yang sangant komplikatif/ rumit. Maka dari itu dibedakan dengan pingsan yang disebabkan oleh hipokalsemia baik dengan atau tanpa hypophospatemia, sangat sedikit literature yang membahas hal ini terutama pada babi.

Hipokalsemia atau milk fever pada babi berbeda dengan kejadian pada sapi dan domba. Namun penyebab dan pengobatan yang dilakukan biasanya sama (Hungerford, T. G., et all., 1967).

Gejala Klinis

Umumnya terjadi penurunan temperatur tubuh di bawah normal, beberapa kasus menunjukkan excitement yang normal atau meningkat. Jika tidak menunjukkan adanya excitement, temperatur tubuh tinggi maka indikasinya bukan hipokalsemia. Gejala lain adalah babi tidak mau makan, air susu yang dikeluarkan menurun atau tertunda (Hungerford, T. G., et all., 1967).

Babi terserang ditandai dengan gejala farrowing selama beberapa jam. Akan tetapi pada beberapa kasus hewan telah farrowing 7 – 10 hari sebelumnya. Nafsu makan dan sekresi susu menurun drastis. Hewan tampak aktif pada awalnya tapi nantinya akan ditemukan terkulai lemas dikandang. Jika hewan dibangunkan dapat terjadi gerakan-gerakan inkoordinatif pada kaki-kakinya. Kaki-kaki kadang tidak bisa digerakkan atau diangkat sama sekali (Anthony and Lewis, 1961).

Gejala hipokalsemia dapat terlihat mulai beberapa jam sampai pada puncak laktasi induk (Anthony,1961). Terengah- engah dan lesu adalah salah satu gejala awal. Tremor ringan, kejang, keram otot, ataxia diakibatkan peningkatan eksibilitas neuromuscular. Kemungkinan juga terjadi perubahan tingkah laku seperi agresif, mendengking, salviasi, hipersensitif terhadap stimuli dan disorentasi.

Tremor hebat, tetani, dan koma dapat juga diikuti dengan kematian. Hipertermia juga ditemukan pada beberapa kasus. Cerebral odema terjadi pada beberapa kasus serangan. Tachicardi, hipertermia, polyuria, polidipsia, dan muntah sering terjadi. Dari kebanyakan kasus, induk dapat sehat kembali dan anak dapat tumbuh dengan baik (Mercks manual,2008).

Walaupun Hipokalsemia seringkali terlihat setelah kelahiran, tapi gejala klinis juga mungkin terlihat sebelum kelahiran atau pada saat kelahiran. Hipokalsemia dengan konsentrasi kalsium serum diatas 7mg/dl tetapi dibawah batas normal dapat menyebabkan kontraksi myometrial yang tidak efektif dan proses kelahiran yang lambat. Nafas terengah-engah dapat menyebabkan alkalosis pernafasan. Konsentrasi ion kalsium berhubungan dengan konsentrasi protein, keadaan asam basa, dan ketidak seimbangan elektrolit lainya. Karena itu keparahan dari gejala klinis tidak selalu berhubungan dengan konsentrasi kalsium total (Mercks manual,2008).

Sistem imunitas bertugas mengadakan perlawanan terhadap bermacam-macam kuman dan menelan berbagai benda asing yang berada dalam tubuh. Dalam proses membasmi musuh dari luar ini, pertama-tama mengeluarkan tanda bahaya adalah ion kalsium.
Kemudian ion kalsium pula yang memberi aba-aba kepada sistem imunitas untuk menangkap musuh. Berbagai macam sel-sel imunitas baru dapat bergerak secara serentak menelan dan membasmi musuh. Dari sisni terlihat pentingnya kalsium dalam sistem imunitas. Begita terjadi kekurangan calcium, kemampuan sistem imunitas akan menurun dan menjadi kacau, sehingga timbul bermacam-macam penyakit seperti LE atau Lupus Eritematopus, rematik, seleroderma, dermatitis, jerawat dan penyakit kulit lainnya. Suplemen kalsium dapat meningkatkan sistem imunitas dan mempunyai efek yang lebih baik dalam pengobatan penyakit ini.

Osteoporosis adalah perubahan patologis berupa pengerasan pembuluh nadi, dinding pembuluh menebal dan mengeras, sehingga kehilangan sifat lenturnya dan terjadi penyempitan. Ciri khasnya adalah menimbunnya zat lemak, terbentuknya asam darah dan bertambahnya jaringan serta. Bertambahnya benda sing pada dinding pembuluh ini akan menimbulkan penyumbatan pada pembuluh darah. Dalam proses ini, ion calcium menjadi unsur utama dalam pengerasan pembuluh nadi. Ketika organisme sangat kekurangan calcium, calcium darah akan menurun dan kemudian tubuh akan mengerahkan calcium tulang untuk masuk ke dalam darah. Calcium yang dileburkan dari tulang, mengendap di dalam pembuluh darah dan menarik kolesterol. Zat-zat pada dinding pembuluh darah perlahan-lahan menebal, bertambah keras dan hilanglah kelenturannya. Pengerasan nadi adalah salah satu penyebab hipertensi, penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah otak yang sangat mengancam kesehatan manusia. Beberapa tahun belakangan ini, penelitian menunjukkan pada saat penjabaran osteroporosis harus pula ditambah dengan mengkonsumsi unsur calcium. Suplemen calcium bukan saja dapat mencegah dan mengobati osteoporosis dan hipertensi tapi juga mempunyai efek yang nyata dalam menurunkan lemak dalam darah.


Hipokalsemia bisa tidak menimbulkan gejala.

Seiring dengan berjalannya waktu, hipokalsemia dapat mempengaruhi otak dan menyebabkan gejala-gejala neurologis seperti:
- kebingungan
- kehilangan ingatan (memori)
- delirium (penurunan kesadaran)
- depresi
- halusinasi.

- lemah
- episode apneu (henti nafas)
- tidak kuat menghisap
- kejang.

Gejala tersebut akan menghilang jika kadar kalsium kembali normal.
Kadar kalsium yang sangat rendah (kurang dari 7 mgr/dL) dapat menyebabkan nyeri otot dan kesemutan, yang seringkali dirasakan di bibir, lidah, jari-jari tangan dan kaki.
Pada kebanyakan hewan yang kadar kalsium dalam darahnya 6 mg/dl maka hewan akan berbaring dan tak sanggup berdiri. Dan akan berakibat fatal jika kadar nya hanya 4 mg/dl (Smith, B. P., 2002).
Pada kasus yang berat bisa terjadi kejang otot tenggorokan (menyebabkan sulit bernafas) dan tetani (kejang otot keseluruhan).
Bisa terjadi perubahan pada sistem konduksi listrik jantung, yang dapat dilihat pada pemeriksaan EKG.

Hipokalsemia juga bisa terjadi akibat hiperfosfatemia (kadar fosfat yang tinggi dalam darah). Hal ini bisa terjadi pada bayi yang lebih besar yang diberikan susu, karena kandungan fosfat dalam susu sangat tinggi.

Berikut ini adalah gambar kaki depan babi yang lemah dan pendek sehingga sulit berjalan karena kekurangan vitamin D (figure 1) dan gambar tulang rusuk babi dengan lebar yang tidak seragam (figure 2) ( Miller, E. L, et all, 1964 ).

Fig. 1 Vitamin D-deficient pig exhibiting short weakened limbs typical of advanced rickets.

Walking was done with great difficulty. This pig (3^1) from trial 1 received a purified diet contain

ing no vitamin D, 0.8% of Ca, 0.6% of P and 350 ppm of Mg.

Fig. 2 Longitudinal sections of eighth ribs from pigs receiving purified diets containing no

vitamin D (3-4) or 100 IU vitamin D2/kg (1-5). Note the wide and irregular zone of proliferating

cartilage and the chaotic condition of the line of ossification and the bony matrix in the rib of

the vitamin D-deficient pig.

Patogenesis

Perubahan-perubahan yang terjadi pada hypocalcemia antara lain ;

a. Pada sistem neuromuskuler

Perubahan kadar ion dalam sel dan cairan sekitarnya akan mempengaruhi geraklan maupun tonus otot. Impuls syaraf maupun kontraksi otot dipengaruhi oleh ion Na, Ca, K, dan Mg. Ion-ion Na dan K digunakan untuk memelihara kemampuan membran sel. Ion Ca dan Mg digunakan untuk memelihara permiabilitas sel. Keduanya berperan secara resiprokal pada transisi hantaran syaraf yang akan mempengaruhi pembebasan asetilkholin. Kadar kalsium yang meningkat dan Mg turun, maka asetilkholin akan dibebaskan secara berlebihan. Jika kalsim turun dan Mg meningkat maka akan menghambat pembebasan asetilkholin. Ion Ca dan Mg berpengaruh terhadap kontraksi otot. Terbebasnya ion kalsium ke dalam sarkoplasma akan memacu protein otot, aktin dan miosin sehingga akan menyebabkan kontraksinya serabut otot atau neurofibrin.

b. Ion kalsium akan menghambat pembebasan hormon insulin dari pankreas sehingga terjadi peningkatan glukosa darah yang mengakibatkan gangguan fungsi kardiovaskuler.

(Subronto, 2001)

c. Pada jantung

Jantung mengemban tugas untuk mempertahankan nyawa. Meski hanya sebesar kepalan tangan, jantung mampu mengantarkan darah setiap saat ke setiap sel dalam tubuh manusia.
Kemampuan ini berasal dari kontraksi otot jantung secara terus menerus. Padahal kontraksi dan ekspansi jantung serta penyimpanan dan penggunaan energinya tidak lepas dari pengaruh calcium. Ketika jantung berkontraksi karena perasaan tegang, ion calcium mengendalikan
detak jantung, Untuk mengamatinya akan kita temukan bahwa, pada saat calcium memasuki sel, ia akan mengaktifkan protein kontraktif dan menimbulkan rangsangan pada otot jantung.
Dengan berulangnya aktifitas seperti ini, maka akan timbul berkali-kali kontraksi pada otot jantung. Saat kadar calcium rendah, daya kontraksi otot jantung akan berkurang. Hal inilah yang menimbulkan berbagai macam penyakit jantung. Pada kondisi seperti ini, apabila kita mencoba memasukkan ion calcium kedalam otot jantung, maka kekuatan otot jantung akan berangsur pulih. Jelas sekali peranan penting calcium dalam denyut jantung.

Diagnosa
Konsentrasi kalsium abnormal biasanya pertama kali ditemukan pada saat pemeriksaan darah rutin. Karena itu hipokalsemia sering terdiagnosis sebelum gejala-gejalanya muncul.
Untuk menentukan penyebabnya, perlu diketahui riwayat lengkap dari keadaan kesehatan penderita, pemeriksaan fisik yang lengkap dan pemeriksaan darah dan air kemih lainnya.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan kadar kalsium dalam darah

Pangobatan

300 ml kalsium boroglukonat 10% atau 1,25 bagian obat pada kasus milk fever pada sapi dapat diberikan pada babi yang besar. Babi yang ukurannya kecil, dosisnya dikurangi. Untuk lebih mudahnya kebanyakan diberikan secara intra peritoneal (IP) atan subcutan (SC). Memungkinkan juga diberikan secara intravena (IV) jika sangat diperlukan. Karena berefek pada denyut jantung. Babi akan lebih senang jika diberikan melalui jalur intarmuskuler (IM) dan SC (Hungerford, T. G., 1967).

Pemberian kalsium boroglukonat yang ditambahkan senyawa phospat terlarut dengan cara injeksi sub kutan. Garam kalsium mungkin diberikan dengan campuran air dan disterilkan terlebih dahulu sbelum disuntikkan sub kutan di belakang telinga. Untuk pemecahan permasalahan tersebut paling utama harus tersedia senyawa kalsium, phospat dan garam magnesium senagai tambahan (Anthony, 1961).

Pengobatan hipokalsemia bervariasi tergantung penyebabnya. Kalsium dapat diberikan baik secara intravena maupun per-oral. Hipokalsemia menahun diperbaiki dengan mengkonsumsi tambahan kalsium per-oral. Mengkonsumsi tambahan vitamin D dapat membantu meningkatkan penyerapan kalsium dari saluran pencernaan ( Anonimus a ).

Pada penyakit rakhitis karena kekurangan fitamin D yang menyebabkan gangguan metabolism kalsium, perlu perawatan berlanjut vitamin D dengan dosis tinggi ( Engstrom, C. W et all, 1984 ).

Dosis pemberian vitamin D dan kalsium secara oral

v Dihydrotachysterol (Hytakerol®)

Ø 0.02- 0.04 mg/kg x 3 hari, kemudian dosis dikurangi 0.01- 0.025 mg/kg untuk 1 minggu

Ø 1,25-Dihydroxyvitamin D3 (calcitrol). (Rocaltrol®)

Ø 0.025 - 0.06 mg/kg/hari

v Vitamin D2 (ergocalciferol) (Calciferol®, Drisdol®)

Ø ,000- 6,000 U/Kg/hari, untuk 1-2 minggu kemudian 1,000-2,000 U/Kg/minggu

v Oral calcium (digunakan untuk hypocalcemia ringan yang dikombinasi dengan vitamin D)

Ø 24-44 mg calcium/kg/hari yang diberikan 2 - 4 dosis

Terapi untuk Hypocalcemia

v Eclampsia

Ø kalsium gluconate IV ( 100% Ca gluconate IV dengan dosis 0.5- 1.5 ml/kg (5- 15 mg/kg). Mungkin dosis harus diulang ( catatan- Khloridkalsium digunakan pada 1/3 dosis tanpa extravasasi; Cacl adalah 3 kali lebih kuat, sangat mengiritasi dan akan menyebabkan kerusakan pada jaringan jika diberikan secara ekstravskuler. Ca gluconate diencerkan dalam suatu larutan bersifat garam dengan volume yang sama, diberi SC tiap 6- 8 jam jika tanda klinis persisten.

v Chronic Renal Failure (gagal ginjal kronis)

Ø diuresis ( 90- 120 ml/kg/hari,)

Ø diet protein/garam

Ø binder fosfat

v Acute Renal Failure (gagal ginjal akut)

Ø diuresis ( 120- 180 ml/kg/hari)

Ø dopamine drip (2 mg/kg/min)

Ø mannitol (jika anuric atau oliguric)

Ø pertukaran elektrolit dan gangguan asam/basa

Ø dialysis

v Ethylene Glycol

Ø diuresis

Ø dopamine drip (2 mg/kg/min)

Ø mannitol (if anuric or oliguric)

Ø pertukaran elektrolit dan gangguan asam/basa

Ø dialysis

v Acute Pancreatitis

Ø NPO 48 - 96 atau lebih dari 1 jam

Ø IV fluids (60 - 90 ml/kg/hari)

v Primary Hypoparathyroidism

Ø Ca Gluconate IV jika diperlukan ( lihat eclampsia untuk dosis dan rute pemberian)

Ø oral vitamin D terapi oral calcium

v Nutritional Secondary Hyperparathyroidism

Ø initially, oral calcium supplementation

Ø diet yang benar

Ø membatasi aktivitas untuk mencegah fraktur

v Phosphate-Containing Enemas

Ø kalsium gluconate IV ( lihat eclampsia untuk dose/route)

(Anonimus b, app.vetconnect.com)

Pada hewan monogastric, pemberian calsitriol dapat merangsang penyerapan Ca aktif dari saluran pencernaan terutama usus halus bagian atas. Ca pada pemamah biak dan babi sangat diperlukan pada saat proses laktasi (Anonimus a ). Calsitonin secara injeksi sub kutan dosis 100-200 MRC U sangat manjur, yang berkelanjutan lebih dari 6 bulan tidak menyebabkan reaksi alergi, efek samping, danh hilangnya efek therapeutic ( Shai, et all., 1971 ).

Pemberian mineral-10 dosis pengobatan dicampur pada makanan dan air minumnya diberi PIGFET (Nugroho, 1990).

Pencegahan

Pemberian pakan kering yang dibersihkan pada usia sebelum 1 minggu, hewan di tempatkan pada lingkungan yang mendapat sinar matahari pagi yang mengandung vitamin D ( Miller, E. L, et all, 1964 ).

Peningkatan senyawa kalsium ( Ca) pada saat laktasi untuk keseimbangan komponen mineral tubuh (Bristol, R. H, 2004 ).

Program pemberantasan cacing 1-2 bulan sekali dengan vermicide (Nugroho, 1990).

Anak babi sering diumbar pada tanah terbuka atau dikeluarkan dari kandang sehingga cukup memperoleh sinar matahari dan udara segar serta cukup bergerak (Nugroho, 1990)

Pemberian Sumber kalsium bagi ternak :

Sumber kaya kalsium yaitu alfafa dan hijauan leguminosa, tetes atau molasses, ampas jeruk, tepung ikan dan hasil ikutan ikan, tepung daging dan tepung tulang, tepung susu dan hasil ikutan susu dan bungkil biji lobak.

Bahan suplementasi yaitu tepung tulang, kalsium glukonat, kalsium laktat, dikalsium foafat, dolomite, kapur, rumput laut dan kulit kerang (Sihombing, 2006)

Hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah komposisi suplemen calcium yang baik harus memiliki sifat-sifat sbb :

1. Kandungan calciumnya tinggi, mudah diserap, efektifitasnya tinggi.

2. Sifat asam basa yang seimbang, tidak ada efek samping dan praktis untuk dibawa dan digunakan.

3. Selain calcium harus pula mengandung asam amino dan nutrisi lain,vitamin dan bebrapa unsur lainnya.

( Anonimus c )

Differensial Diagnosa

- Asidosis

- Defisiensi Magnesium (Hungerford, T. G., 1967)

Hasil Penelitian

Secara klinis efek metabolik kalsitonin pada babi dapat menimbulkan paget’s disease dan osteoporosis jika metabolismenya tidak seimbang (Shai, F., Richard K. B., et all., 1971).

Hiperkeratonemic pada anak babi selama 2 sampai 3 bulan menyebabkan metabolisme glukosa dan D-beta-hydroxybutyrate (D-BHB) dipelajari. Hiperketonemia dan hipokalsemia terjadi jika ada peningkatan D-BHB sebanyak 6-40% (Schlumbohm, C. and J. Harmeyer, 1999).

Babi dengan diet defisiensi vitamin D 5-10 kali lipat akan meningkatkan aktivitas 1 alfa hidrosilase dan menyebabkan hipokalsemia berat, plasma 1,25 dihidroksikolikalsiferol turun, plasma 24,25dihidroksikolikalsiferol sangat menurun, dan aktivitas 24 hidroksilae tidak terdeksi (Engstrom, G. W., et all., 1983).


DAFTAR PUSTAKA

Anonimus a, Hipokalsemia. Medicastore.com

Anonimus b, app.vetconnect.com

Anonimus c, members.lycos.co.uk/bisnisplan

Anthony David J & Lewis E Fordham. 1961. Disease of The Pig 5th edition. Balliere, Tindall & Cox : London

Bullock Barbara L & Rosendahl Pearl Philbrock. 1984. Pathophysiology Adaptations & Alterations Function. Little, Brown & Company : United States of America

Bristol, R. M. 2004. Hypocalcemia ( Milk Fever )-Is it all about calcium?. ILC Resources, Iowa

Cunningham, James G., 2002, Textbook of Veterinary Physiology 3rd, W. B. Saunders : Philadhelpia

Engstrom, C. W, Horst, R. L, Reinhardt, T. A and Littledike, E. T. 1984. 25-Hydroxyvitamin D 1α- and 24-Hydroxylase Activities in Pig Kidney Homogenates: Effect of Vitamin D Deficiency. The Journal of Nutrition, 114: 119-126

Hungerford, T. G., 1967, Disease of Livestock,Angus and Robertson : Sydney

Merck manual, 2008,

Miller, E. R, Ullrey, D. E, Zutaut, C. L, baltzer, B. V, Schmidt, D. A, Vincent, B. H and Luecke, R. W. 1964. Vitamin D2 Requirement of Baby Pig 1,2. The Journal of Nutrition, 83.

Mitruka, Brij M., 1981, Clinical Biochemical and Hematological reference Values in Normal experimental animals and Normal Humans 2nd, Year Book Medical Publisher. INC.: Chicago

Murray, Robert K., Daryl K. Granner, et all., 2003, Biokimia Harper Edisi 25, EGC : Jakarta

Nugroho, E. 1990. Beternak Babi. Eka Offset : Semarang

Shai, F, Baker, R. K and Wallach, S. 1971. The Clinical and Metabolic Effect of Porcine Calcitonin on Paget’s Disease of Bone. From the Department of Medicine and the U. S Public Health Service Clinical Research Center, State University of New York, Downstate Medical Center: Brooklyn, New York: 1928-1940

Schlumbohm, C. and J. Harmeyer, 1999, Effect of hypocalcemia on glucose metabolism in hiperketonemic piglets, Departemen of Physiology, School of Veterinary Medicine, Bioschofer Damm 15, 30173 Hannover : Germany

Sihombing, M.Sc., Ph.D. 2006. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta

Smith, Bradford P., 2002, Large Animal Internal Medicine 3rd, Mosby : London

Smith, Milton Atmore, Homas Carlyle Jones, et all., 1967, Veterinary Pathology 4th, Lea & Febiger : Philadelphia

Subronto dan Ida Tjahajati, 2001, Ilmu Penyakit Ternak II, Gadjah Mada University Press : Yogyakarta

Wooldridge, W. R., 1960, Farm Animals in Health and Disease, Crosby Loockwood & Son, Ltd. : London


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar