Selasa, 18 Mei 2010

ANDROLOGI KLINIS PEJANTAN SAPI

ANDROLOGI KLINIS PEJANTAN SAPI

(CLINICAL ANDROLOGY OF THE BULL)

oleh

Dr. drh. Prabowo Purwono Putro, M.Phil.

Bagian Reproduksi dan Obstetri

Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Jl. Fauna No 2, Yogyakarta 55281

E-mail: prabowopp@yahoo.co.id

Andrologi merupakan ilmu yang mempelajari proses reproduksi jantan. Sedangkan andrologi klinis mempelajari abnormalitas proses reproduksi jantan. Dengan semakin berkembang dan meluasnya aplikasi inseminasi buatan (IB) pada sapi potong dan perah menjadikan andrologi klinis menjadi semakin penting dalam manajemen pejantan sebagai penghasil semen. Fertilitas pejantan yang tinggi merupakan sasaran utama manajemen reproduksi dalam produksi semen beku. Pengertian fertilitas (kesuburan) pejantan berarti kemampuan untuk mendapatkan keturunan bila semen diinseminasikan ke hewan betina yang normal. Sedangkan kebalikannya, infertilitas (ketidak suburan) berarti ketidak mampuan untuk mendapatkan keturunan dari inseminasi semen bekunya. Istilah infertil lebih berkonotasi sebagai gangguan reproduksi yang bersifat temporer dan dapat disembuhkan. Sehingga dikenal adanya kasus infertilitas ringan, sedang, dan berat yang berkaitan dengan gangguan reproduksi pejantan. Sedangkan pengertian sterilitas (kemajiran) lebih menunjukkan tingkat infertilitas yang permanen, tidak dapat disembuhkan dan bersifat lebih menyeluruh.

Untuk menentukan apakah fungsi reproduksi pejantan normal atau abnormal, perlu digunakan teknik-teknik pemeriksaan andrologis tertentu. Teknik pemeriksaan andrologis yang umum digunakan meliputi a). riwayat status kesehatan dan reproduksi, b). pemeriksaan fisik atau klinis umum, c). pemeriksaan organ-organ reproduksi, d). evaluasi kemampuan mengawini, e). pemeriksaan semen, f). uji-uji spesifik untuk penyakit-penyakit infeksi tertentu, g). uji-uji khusus lain seperti asai endokrin, pemeriksaan kromosom. Dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan tersebut dapat ditentukan diagnosa status reproduksi dan prognosanya. Prognosa gangguan fertilitas biasanya didasarkan pada kehidupan reproduksi, dengan mengingat pula pertimbangan ekonomis.

A. TEKNIK-TEKNIK PEMERIKSAAN INFERTILITAS PEJANTAN

Riwayat status kesehatan dan reproduksi meliputi umur, kesehatan umum, status nutrisi, tanggal hewan menderita sakit, dan performans reproduksi sebelumnya. Pemeriksaan klinis umum meliputi inspeksi sistemik, seperti suhu tubuh, pulsus, respirasi dan lain-lainnya, yang membantu penentuan bahwa hewan dalam keadaan kesehatan umum yang baik. Konfirmasi tubuh normal dan cara berjalan sangat penting untuk diperhatikan pada hewan jantan. Bilamana terlihat adanya abnormalitas, pemeriksaan yang lebih teliti perlu dilakukan pada organ-organ tertentu.

Pemeriksaan fisik organ reproduksi dilakukan dengan cara observasi dan palpasi. Lingkar skrotum diukur dengan pita kapiler pada pejantan sapi, kambing, dan domba, dan lebar skrotum pada pejantan kuda dan pejantan anjing, merupakan gambaran ukuran testes. Konsistensi testes dapat menggambarkan susunan jaringan testes. Testis yang kenyal dan lenting merupakan petunjuk terjadinya proses spermatogenesis yang baik. Testis yang fibrous terasa keras dan tidak lenting, dan adanya proses degenerasi mengakibatkan rabaan testis lunak dan tidak lenting.

Ekor epidydimis (cauda epidydimis) merupakan reservoir spermatozoa dan rabaan khasnya menggambarkan derajat pengisian oleh spermatozoa. Adanya pembesaran dan peningkatan kekenyalan dari bagian-bagian tertentu epidydimis menunjukkan adanya peradangan atau spermiosis, kemungkinan mengarah ke pembentukan granuloma sperma (sperm granuloma).

Beberapa kelenjar kelamin tambahan (accessory sex glands) dapat dipalpasi lewat rectum pada pejantan sapi, kuda, dan anjing. Ukuran, bentuk dan konsistensi kelenjar kelamin tambahan penting untuk evaluasi normalitas atau abnormalitas organ tersebut. Relaksan otot polos tertentu yang diberikan secara intravena pada kuda sebelum pemeriksaan akan memudahkan untuk palpasi organ lebih cermat.

Penis dan preputium paling baik diperiksa pada saat hewan ereksi untuk mengetahui normalitas fungsinya. Deviasi penis berbentuk pembuka gabus (corkscrew deviation) tidak dapat diketahui, sampai hewan tersebut mengalami ereksi. Penis dan preputium dapat juga diperiksa dengan cara palpasi dan inspeksi setelah secara manual dikeluarkan penis dan preputiumnya. Pada pejantan sapi, dengan adanya palpasi tangan lewat rektum akan menyebabkan protrusi manual penis. Pemberian tranquilizer akan membantu menyebabkan protrusi penis karena kendornya otot retractor penis. Hanya perlu diingat, pemberian yang berlebihan dapat menyebabkan paralisa penis permanen, sehingga kalau terpaksa diberikan harus dengan perhatian khusus dengan dosis minimum dan penanganan penis hati-hati untuk mengurangi resiko tersebut.

Urutan normal tingkah laku mengawini (serving behaviour) termasuk libido atau keinginan untuk mengawini, aktivitas mencumbu (courtship activity), ereksi dan protrusi penis, kemampuan menaiki, gerakan pelvis dan gerakan tekanan ejakulasi (ejaculation thrust). Masing-masing tingkah laku mengawini tersebut dapat diamati untuk menentukan adanya gangguan kemampuan mengawini dan faktor yang menjadi penyebabnya.

Semen perlu dikoleksi dengan vagina buatan atau elektro ejakulator. Bila harus digunakan elektroejakulator atau masase organ pelvis pada pejantan sapi untuk mendapatkan sampel semen, maka perlu dipertimbangkan bahwa ejakulat yang didapat tidak sekualitas ejakulat dari penampungan dengan vagina buatan.

Sampel semen diperiksa volume, konsentrasi, gerakan gelombang massa, motilitas progresif (%), persen sperma hidup (pewarnaan vital), morfologi spermatozoa, dan sel-sel selain spermatozoa. Motilitas dan morfologi, konsentrasi, spermatozoa total per ejakulat dan adanya leukosit merupakan hal penting dalam membantu menentukan apakah sistema reproduksi berfungsi normal atau tidak. Pola sifat semen dicatat dalam formulir spermiogram dan memberikan informasi tentang keparahan, tempat dan penyebab gangguan fertilitas.

Pemeriksaan gerakan gelombang massa dan motilitas harus dilakukan di bawah mikroskop fase kontras yang mempunyai dudukan pemanas (warm stage). Segera sesudah pengambilan semen, sediaan apus dan pewarnaan vital dibuat untuk pemeriksaan lebih lanjut, seperti morfologi kepala spermatozoa. Sedikit sampel perlu juga diawetkan larutan formol buffer (buffered formol saline) untuk pemeriksaan abnormalitas akrosoma, spermatozoa bagian tengah (mid piece) dan ekor (tail).

Asai untuk hormon-hormon tertentu, seperti testosteron, follicle stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH) sekarang dapat dilakukan dengan teknik EIA (enzyme immunoassay) atau RIA (radio immunoassay), sehingga parameter hormon dalam masalah infertilitas hewan jantan dapat ditentukan. Nilai data hormon tersebut kadang-kadang terbatas karena adanya kesulitan dalam menghubungkan pengukuran hormon dengan fertilitas potensial.

Pemeriksaan sitogenetis bermanfaat dalam deteksi adanya translokasi 1/29 pada sapi pejantan (Robertsonian translocation = translokasi Robert), yang ada hubungannya dengan penurunan fertilitas pada hewan jantan dan betina.

B. PEMERIKSAAN KEMAMPUAN MENGAWINI (BREEDING SOUNDNESS EXAMINATION, BSE)

Reproduksi sapi pejantan tergantung pada kemampuan untuk memproduksi sperma dengan kualitas maupun kuantitasnya yang memadai. Produksi sperma yang tinggi secara kuantitatif ditandai dengan tingginya volume dan konsentrasinya dalam setiap kali ejakulasi, sedangkan secara kualitatif ditandai dengan tingginya persentase jumlah sperma yang hidup dalam ejakulat, jumlah abnormalitas spermatozoa tidak melebihi 5% serta banyaknya spermafozoa yang mati tidak melebihi 15%. Jika pejantan dicurigai mengalami infertilitas, breeding soundness examination (BSE) dapat digunakan untuk menentukan kemampuan mengawini atau menghasilkan semen sapi tersebut. Sebelum menjalankan prosedur BSE perlu diketahui riwayat reproduksi dari pejantan tersebut. Pemeriksaan BSE untuk menentukan kemampuan pejantan dalam menghasilkan sperma yang mampu membuahi sel telur dengan baik. Dalam menilai tingkat kesuburan seekor pejantan dapat dievaluasi menggunakan metode BSE. Sejumlah pejantan yang diperiksa digolongkan dari yang terendah tingkat kesuburannya sampai dengan yang tertinggi. Metode ini tergolong cepat dan relatif murah dalam memperkirakan pejantan potensial yang diinginkan, mengklasifikasikan pejantan kedalam satisfactory potential, unsatisfactory potential dan classification deferred breeders. Breeding soundness examination terdiri dari 3 tahap dasar, yaitu evaluasi fisik, diameter skrotum serta evaluasi semen.

Breeding soundness examination memberikan beberapa keuntungan diantaranya efektif dalam pembiayaan, relatif cepat dan merupakan suatu evaluasi yang obyektif terhadap kemampuan mengawini dari pejantan. Cara ini merupakan metode paling akurat untuk penentuan kemampuan fertil atau infertilnya pejantan sehingga dapat segera disingkirkan dari peternakan bagi sapi-sapi yang infertil. Breeding soundness examination dapat digunakan dalam mengidentifikasi kesuburan pejantan sehingga dengan cepat dilakukan eliminasi pada pejantan yang memiliki masalah kesehatan umum maupun yang mengalami penurunan fertilitas. Dengan melakukan eliminasi dini bagi pejantan dengan kemampuan mengawini yang rendah dan tidak dapat diperbaiki kembali maka kerugian ekonomi suatu peternakan dapat dihindari.

Pemeriksaan fisik meliputi penampilan keseluruhan dari pejantan, dilakukan secara internal dan eksternal. Melalui eksplorasi rektal pemeriksaan internal terhadap kesehatan organ atau saluran reproduksi sekunder pejantan meliputi urethra, prostat, vesikula seminalis, ampula serta vas deferens. Kemungkinan abnormalitas yang biasanya muncul berupa keradangan pada vesikula seminalis, berakibat pejantan menjadi infertil. Pemeriksaan eksternal meliputi evaluasi bentuk skrotum dan testis, palpasi testis dan epididimis serta pemeriksaan penis dapat mendeteksi kemungkinan adanya abnormalitas yang mempengaruhi performa reproduksi pejantan. Pemeriksaan umum meliputi pemeriksaan kesehatan secara lengkap dari fisik atau kondisi hewan. Sapi jantan harus mempunyai bentuk yang baik dan penglihatan yang baik. Pejantan tersebut harus mampu berjalan dengan jarak yang panjang, tidak mengalami kepincangan, tidak mengalami radang sendi, tidak menderita abses dan penyakit pada telapak kaki sehingga kemampuan pejantan untuk kawin tidak terganggu. Kondisi abnormal diatas dapat pula mempengaruhi kualitas dan produksi sperma terutama pada pejantan yang terlalu lama berbaring. Idealnya sapi jantan harus cukup gemuk, sehingga memenuhi standar untuk dilakukannya perkawinan, yaitu memiliki body condition score (BCS) 3,5-4,0 pada skor 1,0-5,0. Kelebihan berat badan pejantan dapat mengakibatkan menurunkan libido, lemak berlebih pada skrotum atau penebalan kulit misalnya pada kasus kudisan mampu meningkatkan temperatur daerah skrotum menyebabkan degenerasi testis dan rendahnya kualitas semen. Skrotum adalah bagian terpenting dalam pemeriksaan eksternal. Produksi sperma hanya terjadi ketika suhu sedikit lebih rendah dari suhu tubuh. Bentuk skrotum dapat mempengarugi produksi sperma, Sebagai contoh sapi jantan yang mempunyai bentuk skrotum dan testis menempel atau melekat pada tubuh akan memiliki masalah dengan pengaturan suhu sehingga menyebabkan terjadinya kondisi subfertil. Sapi jantan dengan skrotum yang terlalu menggantung menjadi subfertil karena kecenderungan mengayun dan rusak. Diameter testis berhubungan langsung dengan kapasitas produksi semen yang merupakan pelengkap dari BSE.

Parameter standar untuk motilitas sperma nilai optimumnya 30%, motilitas dari sperma tidak mutlak digunakan sebagai ukuran kesuburan dari pejantan hal ini disebabkan oleh karena suhu, waktu, konsentrasi, kontaminasi dan metode evaluasi dapat mempengaruhi nilai motilitas semen. Morfologi sperma nilai optimumnya adalah 70%. Abnormalitas semen dibagi menjadi dua, yaitu faktor utama dan faktor sekunder, tergantung sperma cacat terjadi di dalam testis atau setelah sperma meninggalkan testis. Abnormalitas dapat terjadi dari berbagai faktor seperti keturunan, kondisi stres, infeksi, peningkatan suhu testis atau faktor yang lainnya. Abnormalitas dapat bersifat permanen maupun sementara sehingga pejantan tersebut perlu diuji kembali 6 sampai 8 minggu kemudian.

Terdapat sejumlah faktor yang berpengaruh pada keberhasilan pejantan dalam membuat betina menjadi bunting pada masa perkawinan meliputi : jumlah spermatozoa dalam ejakulat, morfologi spermatozoa, motilitas spermatozoa, normal tidaknya saluran reproduksi jantan, normalnya kesehatan umum, memiliki kemampuan mengawini betina, libido yang bagus, interaksi sosial dengan pejantan lain, umur serta BCS yang bagus.

C. TEKNIK PEMERIKSAAN ANDROLOGIS SAPI JANTAN

Pemeriksaan andrologis untuk penentuan infertilitas sapi jantan meliputi urutan sebagai berikut:

1. Riwayat reproduksi

2. Pemeriksaan klinis umum

3. Pemeriksaan klinis khusus

a. inspeksi dan palpasi testes dan epididimis.

b. inspeksi dan palpasi penis dan preputium.

c. pemeriksaan kelenjar kelamin tambahan.

4. Kemampuan mengawini (Potentia coeundi)

a. libido

b. ereksi

c. kemampuan menaiki dan mencengkeram hewan penggoda

d. gerakan mencari (penis)

e. ejakulasi dan tekanan ejakulasi

5. Kemampuan reproduksi (Potentia generandi) à Pemeriksaan semen

a. volume dan penampakan makroskopis

b. aktivitas massa dan motilitas spermatozoa

c. pH dan aktivitas katalase

d. pemeriksaan bakteriologis semen, cucian preputium dan sample urethra

6. Pemeriksaan serologis darah dan semen

1. Riwayat reproduksi

Riwayat pengawinan sebelumnya bila mungkin meliputi seluruh periode selama pejantan digunakan sebagai pemacek atau paling tidak selama setahun yang lalu. Bila pejantan digunakan dalam program inseminasi buatan maka hasil konsepsi dari inseminasi pertama dan jumlah inseminasi perlu diketahui.

Catatan pengawinan yang penting untuk diketahui adalah frekuensi interval pengawinan yang ireguler. Adanya interval estrus 4-5 minggu kemungkinan menunjukkan adanya kematian embrio awal yang dapat diakibatkan adanya infeksi spesifik, misalnya saja vibriosis (campylobacteriosis). Sebaliknya, bila sebagian besar sapi betina yang dikawini oleh pejantan kembali estrus setelah 17-24 hari menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kapasitas fertilisasi dari pejantan yang bersangkutan.

Kesehatan umum pejantan sangat mempengaruhi untuk mengetahui apakah pejantan pernah terganggu kesehatannya yang disertai demam selama beberapa hari. Semua kondisi yang menyebabkan peningkatan suhu skrotum, seperti penyakit kulit, desinfektan yang mengiritir, atau gigitan serangga, dapat mengakibatkan degenerasi testes dan penurunan fertilitas.

Status pakan, manajemen dan kualitas air minum merupakan faktor penting yang mempengaruhi fertilitas. Sehingga faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam mengungkap riwayat pejantan.

2. Pemeriksaan klinis umum

Pemeriksaan klinis umum dimaksudkan untuk mengetahui status kesehatan umum pejantan. Cara pemeriksaaannya seperti yang dijelaskan pada ilmu diagnosa fisik. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi kondisi tubuh, temperamen, konfirmasi, sistema respirasi, sistema gastrointestinal, sistema lokomotor dan lain-lain. Kesehatan umum sangat mempengaruhi tingkat fertilitas pejantan. Kalau pejantan kurang sehat maka fertilitas akan mengalami penurunan. Sistema lokomotor, termasuk kesehatan kaki, kuku dan teracak, misalnya adanya kepincangan, akan sangat berpengaruh terhadap libido yang berarti akan menurunkan kualitas dan kuantitas ejakulatnya.

3. Pemeriksaan klinis khusus

a. Inspeksi dan palpasi testes dan epididimis

Inspeksi tehadap keadaan-keadaan penyakit pada kulit skrotum dan adanya asimetri atau keadaan abnormal dari kantong skrotum. Palpasi kantong skrotum meliputi ukuran testes, movabilitas testes di dalam skrotum, konsistensi testes, ukuran dan bentuk epydidimis, dan kondisi funikulus spermatikus. Ukuran testes dan kemampuan mengawini sangat bersifat herediter atau menurun pada sapi jantan. Seleksi dengan pertimbangan ukuran testes akan meningkatkan produksi spermatozoa pada generasi berikutnya dan ada hubungannya dengan beberapa kejadian gangguan reproduksi hewan betina. Ukuran testes diperiksa dengan mengukur lingkar skrotum dan kapasitas mengawini merupakan ukuran yang dapat digunakan untuk efisiensi reproduksi kelompok sapi. Kedua hal tersebut, bersama dengan sifat-sifat reproduksi lainnya harus ditekankan dalam program kesehatan dan peningkatan produksi ternak. Pakan yang bagus merupakan hal yang penting selama pertumbuhan calon pejantan untuk mendapatkan ukuran testes yang potensial. Pada pejantan dewasa, pakan yang cukup berguna untuk mempertahankan fungsi testes dan aspek-aspek efisiensi reproduksi lain.

Testes normalnya mempunyai ukuran yang sama atau kalau ada perbedaan jangan lebih dari 10%. Adanya satu testis terlalu kecil karena hipoplasia atau atrofi, atau satunya lagi terlalu besar karena misalnya adanya radang testes atau orkhitis (orchytis). Konsistensi testes sapi normalnya kenyal dan lenting, dengan kekenyalan yang sama pada palpasi ringan maupun palpasi dalam. Setelah mengalami degenerasi berat, pada testes fibrotik dan hipoplasia, konsistensinya lunak pada palpasi dalam. Konsistensi berat dan permukaan tidak rata pada palpasi disertai dengan peningkatan ukuran merupakan gejala menciri dari proses peradangan atau tumor.

Untuk memudahkan palpasi epididimis membesar dan teraba kompak ada kemungkinan karena terjadi spermiosis dengan pembentukan granuloma spermatozoa. Bila kauda (ekor) epididimis mengalami gangguan yang sama, biasanya tergantung pada proses peradangan. Aplasia dapat mengenai semua bagian epididimis (kaput, korpus dan kauda epididimis). Pada pejantan sapi kauda epydidimis teraba seakan seperti karet busa ada isinya. Kauda epididimis yang kecil dan teraba kompak menunjukkan adanya produksi semen yang jelek dari testisnya.

b. Inspeksi dan palpasi penis dan preputium

Pemeriksaan penis paling baik dilakukan pada saat koleksi semen. Untuk pengamatan yang lebih teliti penis dapat dibuat prolaps dengan bantuan tranquililizer. Palpasi penis dilakukan dengan lembut untuk mengetahui ada tidaknya abnormalitas pada penis, termasuk fleksura sigmoideanya. Bila perlu preputium dapat secara manual diperiksa dengan memasukkan satu atau dua jari lewat lobang preputium.

c. Pemeriksaan kelenjar kelamin tambahan

Kelenjar kelamin tambahan adalah vesikula seminalis, prostata dan kelenjar bulbourethralis. Pemeriksaan kelenjar kelamin tambahan ini dilakukan dengan pemeriksaan secara palpasi per rektum pada organ yang bersangkutan di rongga pelvis daerah ventral. Ukuran dan konsistensi vesikula seminalis sangat bervariasi dengan bertambahnya umur, maka bagi dokter hewan yang berkecimpung dalam reproduksi sapi perlu untuk melatih diri sebanyak mungkin untuk lebih mengenal variasi umur tersebut. Seminal vesikulitis akut biasanya mudah untuk didiagnosa, karena kelenjar tersebut akan sangat membesar, teraba lunak dan disertai dengan adhesi yang ekstensif. Tetapi pada seminal vesikulitis kronis ringan (biasanya karena infeksi virus) penentuan diagnosanya sulit dilakukan.

Ampula duktus deferens (2 buah, sebesar pensil) terletak di antara vesikula seminalis dan sering mengalami peradangan juga bila ada seminal vesikulitis, ditandai dengan peningkatan diameter. Aplasia duktus mesonephros kadang-kadang juga menyangkut duktus deferens, sehingga satu atau keduanya dapat tidak ada.

4. Tingkah laku mengawini

Rangkaian tingkah laku mengawini pada sapi meliputi libido, ereksi, kemampuan menaiki dan mencengkeram hewan penggoda, gerakan mencari (penis), protrusio penis, ejakulasi dan tekanan ejakulasi.

Tingkah laku mengawini sapi pejantan sangat menentukan kualitas semen. Tingkah laku kelamin yang mengarah ke kopulasi tergantung dari sederetan refleks yang disebabkan oleh stimuli spesifik. Rangkaian tingkah laku ini perlu dievaluasi masing-masing komponennya secara cermat.

Bila melakukan koleksi semen untuk evaluasi kemampuan mengawini dari seekor pejantan, sangat penting mencegah pejantan menaiki betina penggoda sampai dia mengalami ereksi penuh. Terutama pada pejantan muda, sering berusaha menaiki betina penggoda (teaser) tanpa ereksi dan kalau dibiarkan untuk menaiki dan ejakulasi akan didapat semen yang rendah mutunya.

5. Pemeriksaan semen

Untuk suatu pemeriksaan fertilitas dan evaluasi kapasitas produksi spermatozoa dari seekor sapi pejantan, 3 ejakulat perlu dikoleksi dan diperiksa. Pemeriksaan lapangan dari semen tersebut harus segera dilakukan setelah koleksi masing-masing ejakulat. Pemeriksaan semen meliputi volume dan penampakan makroskopis, aktivitas massa dan motilitas spermatozoa, pH dan aktivitas katalase, morfologi spermatozoa, serta pemeriksaan bakteriologis semen, cucian preputium dan sample urethra

.

a. Volume dan penampakan makroskopis.

Volume ejakulat sapi pejantan bervariasi antara 2 sampai 10 ml. Ejakulat kedua biasanya mempunyai volume yang lebih besar dari pada ejakulat pertama. Volume ejakulat meningkat dengan bertambahnya umur sampai umur 4-5 tahun.

Kepekatan ejakulat yang menggambarkan konsentrasi spermatozoa bervariasi antara pejantan dan ejakulat. Biasanya ejakulat pertama mempunyai konsentrasi spermatozoa tertinggi bila pejantan dipersiapkan dengan baik sebelum koleksi dan sesudah itu konsentrasinya akan semakin menurun pada ejakulat-ejakulat berikutnya. Deskripsi berikut memberikan perkiraan konsentrasi spermatozoa :

Seperti krim (creamy – grainy) > 1.000.000.000/ml

Seperti susu (milky opaque) 1.000.000.000 – 500.000.000/ml

Keruh (opalescent) 500.000.000 – 200.000.000/ml

Encer (watery) <>

Cara yang lebih pasti untuk perkiraan konsentrasi spermatozoa adalah menghitung sample dengan pengenceran 1 : 100 atau 1 : 200 dengan suatu hemositometer atau pengukuran transmisi cahaya dengan spektrofotometer atau Sperma-Cue (Minitub, Germany)..

Warna normal semen pejantan adalah putih atau putih kekuningan. Adanya warna kemerahan pada semen menunjukkan telah terjadinya pencampuran darah pada saat koleksi semen. Perdarahan yang sudah berlangsung lama dalam testes atau sepanjang sistema duktus dapat memberi warna kecoklatan pada ejakulat.

Perhatian khusus perlu diberikan pada adanya benda asing dalam ejakulat. Adanya sejumlah kecil pus dalam ejakulat sering tidak dapat tampak dengan jelas. Pengamatan ejakulat dengan tabung dalam posisi tidur akan mempermudah melihat adanya benda-benda asing dalam semen.

b. Aktivitas massa dan motilitas spermatozoa

Pada semen pekat (> 300.000.000 spermatozoa/ml) terdapat adanya pola gelombang mikroskopis, bervariasi dari gelombang sangat lambat sampai sangat cepat, tergantung dari kualitas semen. Aktivitas massa dievaluasi dengan menggunakan setetes semen pada gelas obyek tanpa ditutup, dengan pembesaran lemah (50 kali). Aktivitas massa dapat dievaluasi dengan berbagai cara. Berikut diberikan contoh evaluasi aktivitas massa :

0 = tidak ada aktivitas massa.

+ = gerakan gelombang lambat.

++ = gerakan gelombang cepat dengan pembentukan pusaran pada akhiran gelombang

+++ = gerakan pusaran.

Semen dinyatakan bagus jika mempunyai aktivitas massa paling tidak mempunyai nilai ++.

Motilitas semen merupakan persentase spermatozoa yang bergerak aktif ke depan. Pengamatan motilitas semen dilakukan dengan menempatkan setetes semen pada gelas obyek, ditutup dengan gelas tutup, diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 200 kali. Hanya spermatozoa yang bergerak aktif ke depan yang diikutkan dalam penghitungan motilitas, sedangkan spermatozoa yang bergerak melingkar, bergerak ke belakang atau hanya bergetar ke kanan-kiri diabaikan dalam penghitungan ini. Semen yang bagus harus mempunyai angka motilitas di atas 60% pada waktu koleksi.

c. pH dan aktivitas katalase

Semen pejantan sapi normal mempunyai pH 6,0 – 7,0. Semen dengan pH lebih dari 7,0 dapat dilihat pada semen dengan konsentrasi sangat rendah atau bila ada proses peradangan di dalam traktus genitalis, biasanya pada vesikula seminalis. pH semen dapat diukur dengan berbagai cara. Pada pemeriksaan semen di lapangan paling praktis digunakan kertas indikator dengan kisaran pH 6,0 – 7,5. Cara lain adalah dengan mencampur 0,5 ml semen dengan 3 tetes larutan 0,2% bromthymolblue dalam 95% alcohol. Warna campuran akan berubah menjadi kuning bila pH 6,0, berubah menjadi hijau pada pH 7,6 atau lebih.

Adanya katalase dalam semen sapi menunjukkan adanya suatu proses peradangan aktif pada vesikula seminalis (seminal vesikulitis). Aktivitas katalase diukur dengan mencampur semen dan peroksigen dalam tabung yang dirancang khusus dan dibaca jumlah oksigen yang diproduksi dalam waktu 20 menit.

d. Pemeriksaan morfologis spermatozoa

Pemeriksaan morfologi spermatozoa merupakan bantuan yang sangat berharga dalam prediksi tingkat fertilitas sapi pejantan. Pemeriksaan morfologi spermatozoa membutuhkan banyak pengalaman untuk evaluasi morfologi spermatozoa dan sebaliknya dilakukan pada laboratorium khusus.

Abnormalitas spermatozoa karena pada proses spermatognensis dikenal sebagai abnormalitas primer. Sedangkan bila terjadi setelah spermatozoa meninggalkan testes dikenal sebagai abnormalitas sekunder. Namun dengan meningkatnya pengetahuan mengenai morfologi primer atau sekunder menjadi semakin sulit. Sehingga dalam klasifikasi akan lebih mudah bila berdasarkan bagian spermatozoa yang mengalami abnormalitas.

Bentuk-bentuk abnormalitas spermatozoa sapi pejantan dan angka maksimum yang masih dapat diterima dalam semen normal :

Abnormalitas kepala (kaput) : Pejantan muda 10%

Pejantan tua 20%

Droplet sitoplasma proksimal (spermatozoa belum masak) 5%

Abnormalitas mid-piece 5%

Abnormalitas ekor (kauda) 5%

Abnormalitas lain, seperti kepala lepas, defek akrosom dan pembentukan kantong, relatif jarang dijumpai dalam semen sapi.

Sediaan apus semen diwarnai dengan hematoxylin-eosin atau eosin-nigrossin harus dibuat dan diperiksa terhadap adanya sel-sel asing, seperti sel spermatogenik, sel dari sistema dukti dan juga leukosit.

e. Pemeriksaan bakteriologis semen, cucian preputium dan sample urethra

Pemeriksaan bakteriologis semen tidak harus selalu dilakukan, kecuali ada indikasi kuat ke arah itu. Begitu pula dengan cucian preputium dan sample urethra.

6. Pemeriksaan serologis darah dan semen

Prosedur ini tidak selalu dilakukan dalam pemeriksaan andrologis rutin. Kalau ada keragu-raguan terhadap penyakit tertentu atau terhadap abnormalitas kromosom yang bersifat herediter maka pemeriksaan ini perlu dilakukan. Pada pejantan inseminasi buatan seharusnya dilakukan pemeriksaan sitogenetik untuk menentukan ada tidaknya defek kromosom yang bersifat herediter, sebagai contoh yang banyak pada sapi adalah translokasi 1/29 (Robertsonian translocation = Translokasi Robert).

D. KEGAGALAN REPRODUKSI PEJANTAN SAPI

Fertilitas pejantan sapi ditentukan dari beberapa fenomena parameter, antara lain:

1. Produksi semen,

2. Daya tahan hidup dan daya fertilisasi spermatozoa,

3. Libido atau keinginan mengawini (libido or sexual desire)

4. Kemampuan mengawini (the ability to mate)

Sub-fertilitas dan sterilitas pejantan dapat diakibatkan dari beberapa hal, antara lain:

1. Penyakit

1. Brucellosis à mikroorganisme ada di dalam testes à orkhitis.

2. Tuberkulosis à penyakit infeksi kronis à peradangan testes kronis à degenerasi tubulus seminiferus.

2. Malformasi congenital

1. Hipoplasia testikel

i. Ditandai dengan testes kecil dan produksi semen rendah

ii. Diagnosa dengan pemeriksaan semen, palpasi testes dan tingginya kegagalan fertilisasi.

2. Kriptorkhidi (Cryptorchidism)

i. Kegagalan satu atau kedua testes untuk turun dari ruang abdomen ke skrotum.

ii. Kejadiannya lebih banyak di pejantan kuda daripada sapi.

3. Suhu tinggi à karena iklim atau suhu tubuh tinggi.

4. Frekuensi pengawinan tinggi

Pada pejantan sapi (bull), koleksi 8 ejakulat dalam 1 jam akan menghasilkan:

penurunan volume semen, dari 4,2 menjadi 2,9 ml,

penurunan konsentrasi spermatozoa dari 17 menjadi 10 juta per ml,

peningkatan proporsi spermatozoa muda (cytoplasmic droplets).

5. Kondisi patologis organ reproduksi

1. Degenerasi testikel

i. Penyebab paling umum infertilitas perolehan dan penurunan kualitas semen.

ii. Disebabkan oleh infeksi, defisiensi nutrisi, lesi, penuaan dan toksin.

iii. Sifat semen:

1. Sperma abnormal dan immature

2. Konsentrasi sperma rendah atau kadang-kadang tidak ada spermatozoa (no sperm),

3. Sperma mengalami degenerasi.

iv. Struktur sperma abnormal:

1. Double tails, double heads, coiled tail and no tail spermatozoa.

2. Beberapa sperma abnormal selalu ada, tetapi terlalu banyak (> 50%) akan menyebabkan infertilitas.

6. Disabilitas fisik – Ketidakmampuan kopulasi

1. Ketidak mampuan mengawini (disability to mate)

i. Abnormalitas penis

1. Frenulum – deviasi penis ke arah bawah.

2. Abnormalitas glans penis (misalnya: papilloma dll)

3. Hematoma (jejas kontusio pada penis)

2. Ketidak mampuan menaiki (disability to mount)

i. Terkait dengan disfungsi lokomotor (kaki, kuku atau ceracak).

7. Gangguan hormon dan fisiologis

1. Kegagalan dalam ereksi dan ejakulasi

2. Penurunan libido

i. Heriditer atau karena imbalans endokrin

ii. Faktor-faktor lingkungan.

8. Gangguan nutrisi

1. Defisiensi nutrisi

i. Menyebabkan proses hambatan perkembangan seksual (penghambatan aktivitas endokrin).

2. Over-nutrisi

i. Mengurangi libido.

3. Defisiensi vitamin

i. Defisiensi vitamin A menyebabkan degenerasi testikel.

4. Defisienai mineral

i. Mikromineral (trace minerals) penting untuk fungsi reproduksi jantan.

5. Agen toksik

i. Tanaman-tanaman estrogenic (misal: clover)

ii. Keracunan alkaloid (misal: Ergot)

E. BENTUK-BENTUK PATOLOGI ORGAN REPRODUKSI

Kelainan penis dan preputium

1. Balanitis dan Postitis (Radang penis dan preputium)

Balanitis adalah keradangan yang terjadi pada glans penis sedangkan postitis merupakan keradangan yang terjadi pada mukosa preputium. Kedua keradangan tersebut umumnya terjadi bersama-sama karena radang penis akan menulari preputium dan sebaliknya sehingga disebut pula sebagai balanopostitis. Pada sapi penyebab balanopostitis dapat ditimbulkan oleh Invectious Bovine Rhinotracheitis Infectious pustular vulvovaginitis (IBR/IPV), campylobacter, tuberculosa serta beberapa organisme dan jamur. Pada keadaan yang berat balanopostitis dapat diikuti oleh perlekatan antara penis dengan preputium sehingga berakibat ereksi tidak sempurna khususnya pada sapi pejantan muda. Infeksi yang terjadi pada penis dan preputium dapat disebabkan oleh trauma dan gangguan mekanis lainnya. Terapi yang dilukukan berupa pencucian secara teratur penis dan preputium hewan penderita menggunakan cairan antiseptik ringan 2-3 kali sehari. Pemberian antibiotik secara lokal umumnya memberikan kesembuhan karena balanopostitis seringkali disebabkan oleh infeksi lebih dari satu mikroorganisme. Pada kebanyakan kasus prognosa balanopostitis adalah fausta, akan tetapi kesembuhan secara sempurna tidak mungkin terjadi. Kerusakan yang berat menyebabkan sikatrik pada lapisan mukosa preputium maupun penis. Perlekatan penis dengan preputium yang ditimbulkan oleh keadaan ini barakibat pada hilangnya kemampuan pejantan untuk berkopulasi sehingga perlu dilakukan operasi pembedahan untuk membantu penyembuhan. Pada kejadian kasus yang berat preputium disayat sehingga nanah dan urin yang menumpuk dapat dikeluarkan.

2. Pimosis dan Parapimosis

Pimosis (phymosis) merupakan keadaan dimana penis tidak dapat keluar melalui preputium pada saat ereksi yang disebabkan oleh penyempitan lubang preputium. Pimosis dan parapimosis dapat bersifat menurun maupun perolehan diantaranya : oleh karena keradangan, hematoma maupun tumor pada glans penis. Trauma langsung yang terjadi pada preputium akan berakibat terbentuknya tenunan parut yang berlebihan diikuti pembentukan sikatrik. Gejala yang timbul berupa bentuk lubang preputium abnormal yaitu menjadi lebih sempit sehingga penis tidak dapat keluar sempurna melalui lubang tersebut pada saat ereksi. Jaringan sikatrik dapat dirasakan melalui palpasi pada mukosa lubang preputium. Terapi dilakukan dengan mengincisi melebarkan lubang preputium atau dengan cara insisi pada tumor dan hematoma apabila penyebabnya merupakan dua hal tersebut.

Parapimosis (paraphymosis) merupakan keadaan penis yang tidak dapat masuk kembali kedalam preputium setelah ereksi. Beberapa keadaan seperti strangulasi penis, neoplasia penis, hematoma penis serta masuknya rambut yang tumbuh disekitar preputium berakibat mempersempit lubang preputium sehingga mengakibatkan terjadinya parapimosis. Pertolongan dapat dilakukan dengan pemberian pelican untuk mencegah kerusakan pada mukosa penis dapat pula dilakukan operasi dengan menyobek preputium.

3. Hematoma penis

Hematoma penis merupakan keadaan pecahnya pembuluh darah di bawah mukosa penis disertai penimbunan darah. Lapisan fibroma robek dan pecahnya pembuluh darah dibawah mukosa penis dapat terjadi misalnya pada saat koitus yaitu ketika betina bergerak secara tiba-tiba. Hematoma dibentuk dengan muskulus retraktor penis sering mengakibatkan prolapsus preputium oleh karena adanya timbunan darah. Abses kemungkinan dapat timbul oleh adanya hematoma yang berjalan lama, umumnya dapat terjadi kesembuhan alami tanpa diikuti adanya komplikasi akan tetapi terbentuk jaringan parut yang dapat menghambat keluar masuknya penis melalui preputium. Terapi dilakukan melalui operasi penyayatan bagian hematoma untuk mengeluarkan timbunan darah menggunakan anastesi umum kemudian diberikan penisilin secara lokal dan dijahit.

4. Prolapsus Preputialis

Prolapsus preputialis merupakan suatu keadaan dinding bagian dalam atau mukosa preputium keluar dari lubang preputium. Umumnya disebabkan oleh lemahnya urat daging refraktor praeputii pada bangsa sapi tertentu, dapat pula disebabkan oleh luka atau peradangan pada penis dan preputium disertai pembengkakan dan udema yang menghalangi masuknya kembali mukosa preputium yang sebagian ikut keluar pada saat ereksi. Mukosa preputium yang menonjol keluar cenderung mengalami kerusakan oleh berbagai keadaan seperti trauma, miasis, gigitan serangga dan lain-lain yang melanjut menjadi prolapsus preputialis yang permanen sehingga tidak dapat kembali seperti semula. Pejantan Bos indicus dengan preputium yang panjang dan ujungnya menggantung mempunyai predisposisi untuk terjadinya kasus ini. Beberapa macam kelainan yang berhubungan erat antara lain: fraktur penis, fibrosis, radang kronis disertai gangrene preputium dan dapat pula oleh karena adanya infeksi lokal patogen oportunis seperti Staphylococcus sp, Streptococcus sp, Corynebacterium pyogenes dan Eschericia coli.

5. Neoplasia Penis

Fibropapiloma pada penis dapat menyerang pejantan muda umur 1-2 tahun, disebabkan oleh virus kelompok papiloma yang bersifat sporadis. Gejala yang timbul berupa terdapat perdarahan pada penis pejantan dewasa ketika koitus. Fibropapiloma sering terdapat disekitar glans penis diidentifikasi sebagai kutil berwarna putih kelabu dengan diameter sampai beberapa sentimeter, terdiri dari jaringan ikat dengan epitel yang mengelilinginya. Terapi dilakukan menggunakan pemberian vaksin yang dibuat dari ekstrak papiloma yang ditambahi dengan antibiotik untuk mengatasi kemungkinan adanya infeksi sekunder bakterial.

6. Frenulum Persisten Penis

Frenulum persisten penis merupakan kelainan pada penis yang bersifat genetis, secara normal hewan jantan setelah dilahirkan mengalami pemisahan antara bagian ventral penis dengan preputium dan pemisahan tersebut menjadi sempurna setelah hewan mencapai pubertas. Adanya kegagalan pemisahan tersebut mengakibatkan terjadinya perlekatan antara penis dengan preputium yang dapat bersifat sementara maupun permanen. Frenulum persisten penis ini terdiri atas jaringan kolagen, serabut elastis, kapiler darah dan epitel. Kelainan tersebut berbentuk selaput atau tenunan yang mengikat bagian ventral glans penis dengan preputium sehingga ujung penis menjadi bengkok ke bawah dan mengganggu proses kopulasi. Terapi dilakukan dengnan memotong tenunan tersebut melalui operasi.

7. Ruptur Penis

Ruptur penis merupakan keadaan mukosa penis mengalami kerobekan sehingga mengakibatkan ketidak sempurnaan ereksi, adanya rasa sakit pada saat ereksi serta pada saat proses kopulasi. Ruptur penis merupakan salah satu jenis kasus yang jarang terjadi. Ruptur atau fraktur penis yang merupakan pecah atau patahnya penis karena suatu gangguan mekanis terjadi ketika pejantan dengan libido tinggi sangat aktif dalam mengawini betina akan tetapi betina atau sapi dara secara mendadak menjatuhkan tubuhnya yang disebabkan oleh terlalu beratnya pejantan. Pembengkokan penis secara tiba-tiba pada saat kopulasi dapat menyebabkan fraktur penis. Gejala yang terlihat adalah adanya lluka-luka pada mukosa penis, pemendekan dan pembengkakan penis. Pembengkakan penis bervariasi tingkatnya tergantung tingkat ruptur atau frakturnya penis. Gejala yangn segera mengikuti kasus ini adalah adanya kesulitan urinasi. Terjadi prolapsus preputium sebagai akibat udema, mukosa berubah menjadi warna gelap oleh adanya infeksi bakterial pada daerah yang mengalami ruptur. Pejantan menolak kopulasi oleh karena sakit pada saat ereksi yang ditimbulkan dari kelainan tersebut. Apabila pengobatan tidak dilakukan maka akan diikuti oleh adanya perlekatan dengan prepurium atau kulit dinding perut diatasnya. Terapi yang dilakukan berupa operasi penjahitan dan perobekan hematoma bila ada untuk memperbaiki keadaan penis yaitu dilakukan antara hari ke 4-10 setelah kejadian ruptur penis.

8. Deviasi penis

Deviasi penis merupakan keadaan bentuk penis menyimpang dari bentuk normal, diantaranya: penis bengkok, berbentuk spiral, pendek serta strangulasi penis. Penyimpangan tersebut mengakibatkan ketidaksempurnaan kopulasi bahkan ketidaksanggupan pejantan berkopulasi. Pembengkokan penis pada umumnya ke arah bawah sedang pembengkokan ke arah dorsal sangat jarang ditemukan. Deviasi penis diduga ada hubungannya dengan sifat genetis oleh karenanya pengobatannya sangat sulit dilakukan. Operasi yang dilakukan seringkali tidak dapat menjamin kembalinya penis ke bentuk yang normal.

9. Kelainan pada muskulus retraktor penis

Penis golongan ruminansia mempunyai tipe fibroelastis, dalam keadaan istirahat berbentuk seperti huruf S karena memiliki dua lekukan. Bagian lekukan tersebut disebut dengan flexura sigmoidales, pada keadaan ereksi lekuk tersebut menjadi lurus karena muskulus retraktor penis berkontraksi. Adanya gangguan fungsi muskulus retraktor penis mengakibatkan pengaturan ereksi penis menjadi terganggu yaitu sukar menjadi ereksi ketika didekatkan pada betina birahi. Gejala yang muncul sebagai tanda dari kelainan tersebut ialah penis keluar dari preputium pada keadaan tidak ereksi. Pejantan yang mengalami kelainan muskulus retraktor penis sebaiknya dikeluarkan dari peternakan untuk digemukkan kemudian disenbelih oleh karena kondisinya yang tidak dapat diperbaiki dan tidak mampu untuk berproduksi.

Kelainan testis

1. Orkhitis (Orchitis)

Merupakan keradangan yang pada testis dengan tingkat kejadian yang tergolong jarang. Umumnya radang tersebut timbul oleh adanya infeksi mikroorganisme dibagian sekitar testis yaitupada selaput pembungkus testis (skrotum) atau saluran urogenital. Terinfeksinya pejantan oleh mikroorganisme penyebab penyakit kelamin menular karena perkawinan alami memungkinkan pejantan mengalami orkhitis. Gejala yang muncul orkhitis adalah demam yang tinggi berlangsung 1-14 hari dan penurunan nafsu makan, palpasi skrotum memperlihatkan rasa sakit dan adanya kebengkakan. Libido menurun sampai dengan menghilang, pada kejadian kronis testis menjadi mengecil, mengeras, bentuk tidak teratur dan menjadi infertil. Paada sapi terdapat 3 derajat orkhitis : orkhitis intra tubuler, orkhitis interstialis, orkhitis nekrotik serta sering pula ditemukan bentuk-bentuk orkhitis berupa abses, periokhitis atau terjadinya fistula yang dapat menempus keluar dinding skrotum. Orkhitis pada sapi disebabkan oleh faktor infeksius dan non-infeksius. Infeksi yang disebabkan oleh virus jarang sekali kejadiannya. Faktor infeksius diantaranya: infeksi Diplococcus sp, Staphylococcus sp, Corynebacterium pyogenes, tuberculosis, Actinomikosis, Brucella abortus, Mycoplasma bovigenitalium dan Chlamydia. Faktor non-infeksius meliputi : trauma karena pukulan atau benturan, respon alergi terhadap sel-sel mani misalnya akibat adanya reaksi tuberkuloid atau adanya zat alergen. Bentuk keradangan testis terbagi menjadi akut dan kronis, kualitas kesuburan pejantan menjadi menurun selama fase akut dan menjadi lebih jelek pada fase kronis. Gerakan sel mani menurun begitu pula jumlah spermatozoa dan dalam waktu singkat keadaannya menjadi memburuk. Ejakulat encer dan berwarna bening, ditemukan banyak abnormalitas pada spermatozoa, sering dietmukan sel raksasa dan nanah serta sel darah merah. Volume ejakulat sering bersifat normal, ketika kedua testis mengalami keradangan maka terjadi penurunan kualitas sperma permanen. Diagnosa orkhitis ditentukan berdasarkan adanya perubahan bentuk dan konsistensi testis atau adanya perlekatan testis dengan dinding skrotum. Apabila penyebab orkhitis adalah mikroorganisme maka diagnosa dapat dilakukan melalui pemeriksaan mikroskopik sperma. Pengobatan menggunakan antibiotik berdasarkan pada macam mikroorganisme penyebabnya. Pengobatan menggunakan khloromisetin dan aureomisin dan dengan istirahat kelamin sampai keradangan tersebut berakhir. Pada kasus akut unilateral testis yang meradang sebaiknya diambil untuk mencegah perubahan degenerasi pada testis yang lain.

2. Degenerasi Testis

Degenerasi pada testis merupakan suatu keadaan pada testis menjadi lebih kecil dari ukuran normal sebelumnya serta memiliki konsistensi yang keras. Umumnya terjadi pada pejantan di atas umur 3 tahun yang mengakibatkan peneurunan kesuburan. Gejala pertama yang terlihat adalah turunnya kesuburan pejantan dengan tingkat yang bervariasi walaupun pada awalnya belum terlihat perubahan pada testis. Pada kondisi selanjutnya yang lebih parah ukuran testis menurun dan kondisi lebih keras karena ada jaringan fibrosis. Epididimis pada taraf permulaan dalam keadaan normal akan tetapi pada keadaan melanjut menjadi mengecil sampai diameternya hanya setengah dari ukuran normal dan kosistensinya lebih keras. Pada tingkat permulaan kualitas sperma menurun oleh adanya peningkatan jumlah spermatozoa abnormal yaitu munculnya spermatozoa muda dengan droplet protoplasmic dibagian leher. Pada keadaan melanjut jumlah spermatozoa abnormal menjadi sangat banyak begitu pula kemunculan giant cell dalam kondisi degenerasi testis yang berat jumlah spermatozoa menjadi sangat sedikit dan kebanyakan berisi spermatozoa yang mati serta bentuk selnya tidak teratur. Memasuki proses kesembuhan jumlah spermatozoa dan aktivitas seksual menunjukkan peningkatan menuju kualitas normal.

Secara makroskopis degenerasi testis pada tahap permulaan terjadi perubahan testis membengkak sebagai akibat terjadinya udema dan konsistensinya melunak. Degenerasi testis dapat terjadi sebagian (unilateral) maupun keseluruhan (bilateral). Tahap degenerasi melanjut testis menjadi lebih kecil dan terjadi pengerasan karena terdapat tenunan fibrosis disertai dengan pengapuran. Secara mikroskopis perubahan mula-mula yang terjadi berupa vakuolisasi epitel tubulus seminiferus kemudian disusul dengan degenerasi testis ringan, adanya kerusakan spermatid mengakibatkan munculnya bentuk spermatozoa abnormal. Tubulus seminiferus mengalami kerusakan dan kualitas spermatozoa mengalami penurunan. Prognosa tergantung pada proses degenerasi, pada kondisi yang berat prognosa degenerasi testis adalah fausta apalagi pada pejantan yang sudah tua. Pengobatan pada degenerasi testis tahap awal didasarkan pada penyebabnya, bila penyebabnya karena pakan maka diberikan pakan yang berkualitas yang mudah dicerna. Pada degenerasi testis karena gangguan hormonal diberikan suntikkan hormon gonadotropin FSH atau PMSG dan LH atau HCG. Bila penyebabnya penyakit umum atau cacingan maka diobati menurut macam penyakitnya.

3. Hipoplasia Testis

Hipoplasia testis merupakan kelainan anatomik yang bersifat genetis berupa ukuran testis menjadi lebih kecil dari ukuran normal. Bersifat total apabila ukuran testis sangat kecil hanya berupa benjolan kecil di dalam rongga skrotum dan pejantan menjadi steril. Pada hipoplasia parsialis yaitu testis berukuran sedikit lebih kecil dari ukuran normalnya proses spermatogenesis masih dapat berlangsung sehingga menghasilkan spermatozoa. Kedua macam hipoplasia tersebut dapat berlangsung unilateral maupun secara bilateral. Tindakan yang diambil dalam penanganan hipoplasia testis berupa operasi kastrasi untuk menghindari menurunnya sifat genetis tersebut pada keturunannya khususnya pada hipoplasia parsialis. Pada hipoplasia totalis pejantan digemukkan sampai berat badan maksimal kemudian dipotong.

4. Kriptorchid (Cryptorchid)

Kriptorchid merupakan kondisi kegagalan penurunan testis ke dalam rongga skrotum melalui saluran inguinalis, testis tetap tinggal di dalam rongga perut maupun terjepit pada saluran inguinalis. Peristiwa turunnya testis dari rongga perut ke dalam rongga skrotum disebut descencus testiculorum. Kriptorchid bilateral bila kedua testis tidak berada dalam skrotum dan bersifat steril sedangkan kriptorchid monolateral apabila hanya satu testis yang berada di skrotum. Kriptorchid mengakibatkan ukuran testis menjadi kecil dengan tidak adanya proses spermatogenesis karen suhu di dalam rongga tubuh tidak serasi untuk berlangsungnya proses tersebut, namun sel interstitial atau sel leydig masih memproduksi hormon testosteron sehingga sifat kelamin sekunder maupun libido tetap muncul normal. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan terjadinya kriptorchid yaitu gangguan proses pemendekan gubernakulum, gangguan sekresi hormone gonadotropin dan kelainan anatomis berupa penyempitan saluran inguinalis.

5. Neoplasia Testis

Neoplasia testis umunya terjadi pada pejantan berumur tua yang berlangsung pada sel interstitial dan bersifat tumor jinak. Palpasi testis melalui dinding skrotum terasa terdapat adanya benjolan, ukuran lebih kecil, berbentuk bulat, diselaputi oleh semacam kapsul dengan kondisi kenyal seperti tenunan hati. Diagnosa neoplasia testis ditegakkan berdasarkan pada pembesaran testis dan tingkah lakunya. Kastrasi merupakan penanganan paling bagus bagi penjantan penderita neoplasia testis karena sesegera mungkin mampu menghindari kemungkinan metastase.

Kelainan epididimis dan vas deferens

1. Epididimitis (Epidydimitis)

Epididimitis lebih sering terjadi pada sapi dibandingkan dengan kejadian orkhitis dan berhubungan dengan kejadian radang pada kelenjar asesoria, mudah timbul melalui penyebaran infeksi yang berasal dari saluran kelamin atau saluran kecing. Mikroorganisme penyebab epididimis sama dengan penyebab orkhitis dapat juga oleh Pseudomonas aeroginosa atau Escherichia coli fibriosis, perioorkhitis dengan perlengketan tunika vaginalis yang meluas dan keradagan pada korda spermatika dapat menyebabkan epididimitis. Gejala yang muncul pada kasus akut berupa pembengkakan dan udema serta rasa sakit pada semua bagian epididimis dapat pula diikuti abses. Diagnosa epididimis ditegakkan berdasarkan pada: gejala klinis, palpasi bagian belakang testis, isolasi bakteri dan melalui uji serologi pengikatan kpmplemen. Pada beberapa kasus epididimitis mengakibatkan penyumbatan lumen dan menghambat perjalanan sperma dari testis menuju vas deferens. Bila penyumbatan terjadi bilateral maka penderita menjadi steril permanen akan tetapi bila penyumbatan hanya bersifat unilateral maka efek yang ditimbulkan berupa penurunan kesuburan pejantan. Pada sapi pengobatan dilakukan berdasarkan pada mikroorganisme penyebab, dapat pula dilakukan pengobatan seperti pada penanganan orkhitis.

2. Aplasia Segmentalis Epididimis

Kasus kelainana epididimis ini bersifat herediter dengan tingkat kejadian yang jarang. Umumnya kelainan tersebut berlangsung unilateral yaitu satu epididimis (lebih sering pada bagian kanan) mengalami pengecilan sedangkan epididimis yang lain dalam keadaan normal, pejantan tetap menghasilkan sperma akan tetapi dalam konsentrasi yang sangat rendah. Aplasia segmentalis epididimis dapat dikelirukan dengan epididimis kronis, melalui palpasi yang sangat seksama dapat dikenali bahwa ada salah satu epididimis yang menghilang. Pada epididimitis kronis ditemukan perlekatan epididimis yang menghilang. Pada epididimitis kronis ditemukan perlekatan epididimis dengan bagian yang lain. Tidak terdapat pengobatan pada kasus aplasia segmentalis epididimis, pejantan dianjurkan untuk digemukkan kemudian dipotong.

3. Ampulitis

Ampulitis yaitu radang yang terjadi pada bagian ampula dari saluran vas deferens, keadaan ini umumnya berhubungan dengan orkhitis, epididimis atau seminal vesikulitis. Meskipun kasus ini jarang terjadi, diketahui mikroorganisme penyebabnya adalah Brucella, Streptococcus, C. pyogenes, Pseudomonas aeroginosa. Pada perabaan melalui rectal terdapat penebalan pada bagian ampula dan ada rasa sakit bila ditekan. Didapatkan adanya leukosit dan mikroorganisme penyebabnya pada pemeriksaan sperma dengan motilitas yang sangat rendah, pada ejakulat sering ditemukan adanya nanah. Sesaat setelah koleksi semen kualitas motilitas sperma tergolong bagus, akan tetapi kemudian dalam waktu yang singkat menghilang motilitasnya. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotika atau obat yang lain sesuai penyebabnya.

Kelainan kelenjar asesoria

1. Seminal Vesikulitis

Seminal vesikulitis merupakan radang yang terjadi pada bagian vesikula seminalis, lebih sering terjadi dibandingkan dengan orkhitis maupun epididimitis. Seminal vesikulitis biasanya berhubungan dengan orkhitis, epididimitis dan ampulitis. Gejala yang dapat dilihat adalah adanya penurunan libido, kegagalan ereksi dan ejakulasi, sedangkan proses kopulasi dapat terjadi secara normal. Seminal vesikulitis dikelompokkan menjadi 2 yaitu: tipe akut dan tipe kronis. Pada tipe akut terjadi pembesaran kelenjar dan rasa sakit bila ditekan, menjadi sedikit kenyal. Pada kondisi ditandai dengan terdapatnya pengecilan kelenjar konsistensi yang lebih kenyal karena danya pertumbuhan jaringan ikat yang berlebih, batas-batas lobus menghilang dan terbentuknya kista berongga yang dilapisi oleh selaput berwarna keputihan. Komplikasi yang mungkin terjadi pada seminal vesikulitis adalah timbulnya abses yang dapat menjalar ke jaringan sekitar diikuti terjadinya perlekatan dan pembentukan fistula yang menembus ke dalam rektum atau kandung kemih . Penyebab infeksi pada pada kasus seminal vesikulitis antara lain: Brusella abortus, IBR/IPV, Chlamydia, Mycoplasma, Corynebacterium pyogenes, Streptococcus sp, Staphylococcus sp, Escherichia coli, Proteus sp, Pseudomonas aeroginosa, tuberculosa, paratuberculosa (Johne’s disease), Actinobacillus sp, Nocardia sp, Aspergilus fumigatus dan Trichomonas fetus. Pengobatan dapat dilakukan dengan penyuntikan antibiotika atau sulfonamid untuk penyebab bakteriologis. Istirahat kelamin (sexual rest) dengan tidak digunakan sebagai pemacek atau dikoleksi semennya untuk beberapa lama perlu diberikan kepada pejantan penderita.

Referensi

Boyd, H. 2008. Andrology of the Bull. W.B. Saunders Co., London, Tokyo, New York.

Carruthers, P. 2006. Reproductive Anomaly of the Breeding Bulls. CAB International, London.

Johnson, W. and Beal, J. W. 2009. Breeding Soundness Examination for the AI Bulls. CAB International, London.

Smith, J. 2007. Reproductive disorders of Bos taurus bulls in the tropic. Theriogenology 82: 130-136.

Yogyakarta, 27 Juli 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar