Jumat, 21 Mei 2010

CALVING INTERVAL PADA SAPI

Days Open/Calving Interval/Jarak Beranak adalah jumlah hari/bulan antara kelahiran yang satu dengan kelahiran berikutnya. Panjang pendeknya selang beranak merupakan pencerminan dari fertilitas ternak, selang beranak dapat diukur dengan masa laktasi ditambah masa kering atau waktu kosong ditambah masa kebuntingan. Selang beranak yang lebih pendek menyebabkan produksi susu perhari menjadi lebih tinggi dan jumlah anak yang dilahirkan pada periode produktif menjadi lebih banyak, selang beranak yang ideal pada sapi perah adalah 12 bulan termasuk selang antara beranak dengan perkawinan pertama setelah beranak (Sudono, 1983). Selang beranak merupakan kunci sukses dalam usaha peternakan sapi (pembibitan), semakin panjang selang beranak, semakin turun pendapatan petani peternak, karena jumlah anak yang dihasilkan akan berkurang selama masa produktif. Meningkatkan produksi dan reproduktifitas ternak dengan memperpendek selang beranak (calving interval) dengan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dan seleksi bibit ternak (sapi pengafkiran memiliki selang beranak yang panjang) (sudono, 1983),

Jarak beranak yang panjang disebabkan oleh anestrus pasca beranak (62%), gangguan fungsi ovarium dan uterus (26%), 12 % oleh gangguan lain (Thoelihere, 1981). Dalam upaya memperbaiki produktivitas dan reproduktivitas sapi perah yang mengalami keadaan seperti diatas, perlu dilakukan penerapan teknologi reproduksi secara terpadu antara induksi birahi dan ovulasi dengan Inseminasi Buatan (IB) pada waktu yang ditentukan/Fixed Time Atrificial Inseminasi (AI) (Siregar. 1992).

Panjangnya periode waktu dari kelahiran sampai estrus pertama merupakan sebagian besar faktor yang ikut menyebabkan rendahnya efisiensi reproduksi. Jarak beranak yang lama atau panjang menyebabkan turunnya produksi susu secara keseluruhan pada sapi perah, penurunan jumlah pedet yang dihasilkan, peningkatan biaya produksi dan perkandangan untuk pemeliharaan, oleh sebab itu kerugian besar jika potensi untuk menghasilkan pedet terganggu karena kegagalan sapi menjadi bunting. Periode anestrus yang panjang pada sapi pasca beranak dan menyusui akan menurunkan jumlah pedet yang dihasilkan dan dapat menyebabkan kerugian pada perusahaan sapi potong.

Usaha yang dilakukan untuk memperpendek Days Open/Calving Interval/selang beranak antara lain:

1. Ketepatan mendeteksi estrus dan Inseminasi Buatan (IB) pasca beranak

Ada beberapa metode yang perlu dilakukan dan yang sering digunakan yaitu. metode non hormon seperti, penyapihan pedet secara komplit, temporer, metode hormon seperti GnRH, gonadotropin (FSH, HCG) dan hormon steroid seperti estrogen. Alternatif untuk menurunkan kejadian anestrus dan infertilitas adalah memperketat musim kawin sampai kurang dari 45 hari, memberi nutrisi yang lebih baik sehingga BCSnya antara 5-7 sebelum kelahiran.

Peternak harus dapat mengetahui dasar mendeteksi estrus dan membedakan keadaan estrus pada sapi betinanya, karena pada sapi post partus sering terjadi birahi pendek (subestrus)/silent heat (birahi tenang). Deteksi estrus dapat dilakukan dua kali sehari, paling sedikit pagi dan sore hari, atau pada kelompok yang besar dapat dilakukan dengan menggunakan pejantan yang dikastrasi, atau device estrus detector seperti Chin ball matting (New Zealand), atau dapat juga dengan pemeriksaaan progesteron susu atau plasma darah. Apabila terdapat sapi yang estrus harus segera melaporkan kepetugas inseminator atau kedinas peternakan setempat.

Panjang estrus rata-rata pada sapi adalah 20 hari untuk dara dan 21-22 hari untuk sapi betina dewasa. Periode estrus dapat dinyatakan saat dimana sapi-sapi betina tetap sedia dinaiki baik oleh sapi betina maupun sapi jantan, periode itu adalah rata-rata 18 jam, dan ovulasi 10-15 jam setelah berakhirnya estrus., perkawinan dan dan konsepsi masih dapat terjadi pada sapi yang dikawinkan mulai dari 34 jam sebelum ovulasi sampai menjelang 14 jam setelah ovulasi, dan disarankan spermatozoa dari pejantan harus hadir pada tempat feretilisasi sekurang-kurangnya 6 jam, atau bila saat itu dilakukan kawin alami/Inseminasi Buatan (IB) kemungkinan akan terjadi fertilisasi (Frandson, 1992)

Ketepatan deteksi estrus penting untuk efisiensi waktu reproduksi ternak, semakin cermat deteksi waktu estrus (baik sifat/tingkah laku maupun keadaan reproduksi sapi betina (estrus awal, pertengahan, dan akhir estrus) maka akan cepat tercapai angka konsepsi dan angka kelahiran tinggi. Tingkat kebuntingan dan jarak beranak/bunting dipengaruhi oleh ketepatan deteksi estrus sampai 80 %, akan tetapi gejala estrus yang tidak jelas dan kesibukan peternak akan menyebabkan terjadinya jarak kebuntingan yang lama. Kesalahan deteksi estrus akan merugikan peternak dan waktu selang estrus menjadi menjadi lama, bila deteksi estrus tidak tepat dan kemudian dilakukan inseminasi, kemungkinan tidak akan terjadi konsepsi dan harus menunggu estrus berikutnya. Sapi-sapi yang tidak mempunyai masalah (normal) akan menunjukkan estrus post partus sekitar 21-30 hari jika sampai 60 hari post partus belum menunjukkan estrus, dapat dipastikan sapi tersebut mempunyai masalah dan perlu pemeriksaaan lebih lanjut.

Lamanya jarak waktu melahirkan sampai bunting kembali turut menentukan efisiensi reproduksi pada usaha peternakan sapi perah, jarak waktu yang baik adalah disesuaikan dengan masa purpureum induk sapi yang baru melahirkan dimana pada masa purpureum terjadi proses involusi uterus, regenerasi endometrium, dan kembali siklus secara normal, sehingga apabila perkawina dilaksanakan setelah ini, maka akan dihasilkan angka kebuntingan yang tinggi dan endometrium telah siap memelihara kebuntinag yang akan terjadi. Involusi uterus ± 47-50 hari setelah kelahiran, involusi uterus diperpanjang karena adanya kelainan proses kelahiran seperti distokia, retensi plasenta, prolapsus uterus, endometritis, kelahiaran kembar akan dapat memperpanjang terjadinya involusi uterus, sehingga kadaan ini akan memperlama timbulnya estrus pertama pasca beranak, atau estrus yang tidak teramati (Pentodihardjo. 1985).

2. Peningkatan Sumber Daya Manusia Inseminator

Ketepatan waktu inseminasi merupakan hal yang berpengaruh terhadap terjadinya konsepsi, dan jarak beranak. Inseminasi pada waktu yang tepat yaitu pada waktu sapi sedang estrus, karena pada waktu itu kemungkinan akan terjadi fertilisasi pada sapi yang sehat jika dilakukan inseminasi dengan semen yang sehat. Sebagian besar sapi bunting pada kawin pertama apabila pelaksanaan IB tidak tepat dan pengetahuan peternak tentang reproduksi ternak rendah akan mempengaruhi keberhasilan kebuntingan, kegagalan deteksi estrus akan menambah waktu kosong umur reproduksi ternak dan akan merugikan peternak. Untuk mengetahui saat yang tepat untuk mengawinkan sapi agar mendapatkan kebuntingan adalah perlu diketahui siklus estrusnya, lama periode estrusnya, dan saat ovulasinya, sehingga dapat ditentukan waktu optimum untuk melakukan perkawinan alami atau Inseminasi Buatan (IB). waktu yang optimum untuk melakukan inseminasi adalah pada saat liang rahim terbuka yaitu pada saat birahi lengkap atau baru saja selesai birahi atau ± 18 jam, hal itu dapat diketahui dengan adanya leleran transparan yang keluar dari vagina, menaiki sapi lain, atau sapinya bersuara. Jika lebih dari 24 atau 28 jam setelah estrus, waktu inseminasi sudah tidak baik bahkan kemungkinan akan gagal karena estrus sudah selesai dan ovum tidak aktif lagi. Perkawinan dapat berhasil bila dilakukan setelah masa involusi uterus telah berakhir secara komplit dan normal sehingga implantasi embrionik dapat terjadi secara sempurna, kalau tidak maka akan terjadi abortus, dan akan memperpanjang selang beranak. Keberhasilan inseminasi dipengaruhi oleh keterampilan inseminator, dan kegagalan inseminasi karena keterlambatan perkawinan, semen yang rusak, kesalahan inseminator dalam mendeposisikan semen (Subagyo, 1996). Oleh karena itu inseminator dituntut untuk memahami tentang ciri-ciri waktu sapi estrus, lamanya estrus dan waktu lamanya ovulasi sehingga waktu inseminasi dapat dilakukan dengan benar baik waktu maupun deposisi semennya dengan harapan dapat terjadi konsepsi. Dianjurkan agar estrus yang berlangsung kira-kira 18 jam dibagi menjadi tiga (tiap kolom 6 jam), dan inseminasi yang dilakukan pada 6 jam kedua setelah tanda-tanda estrus akan menghasilkan angka konsepsi yang tinggi (Toelihere, 1981).

3. Manajemen Pakan

Pakan merupakan faktor penting pada penampilan produksi dan reproduksi sapi terutama sapi perah pasca beranak, pakan yang kurang baik dalam jumlah maupun kualitasnya menyebabkan terganggunya fungsi fisologis reproduksi ternak. Pemberian pakan dasar, pakan konsentrat, dan pakan aditif dengan kandungan nutrisi yang tidak seimbang dan tidak kontinyu akan menimbulkan strees dan akan menyebabkan sapi rentan terhadap penyakit dan terjadi gangguan pertumbuhan dan gangguan fungsi fisiologi reproduksi ternak.

Banyak sedikitnya jumlah energi dalam pakan (kandungan bahan kering) berpengaruh pada organ reproduksi dan aktivitas ovarium, bila terjadi ketidak seimbangan energi dalam pakan (intake) dengan energi untuk pertumbuhan akan menurunkan birahi pada ternak muda yang sedang tumbuh dan pada sapi perah dewasa pasca beranak, dan ketidakaktifan ovarium yang menyebabkan anestrus terlambatnya pubertas pada semua jenis ternak dan akan memperpanjang anestrus pada sapi yang sedang laktasi. Birahi pertama beranak akan tertunda bila energi yang dikandung dalam pakan sebelum dan sesudah beranak rendah, hal tersebut akan mempengaruhi siklus birahi berikutnya dan akan memperpanjang selang beranak.

Rumput kering yang jelek biasanya akan menyebabkan defisiensi vitamin yang kompleks, defisiensi cobalt (Co), yang dapat menyebabkan rendahnya nafsu makan sehingga intake energi dan nilai gizi dan vitamin pakan berkurang, akibatnya pubertas pada sapi dara akan terlambat dan kegagalan estrus pada induk. Kendala tersebut diatas dapat diatasi dengan pemberian Biosuplemen probiotik kedalam pakan konsentrat. Probiotik adalah mikroba hidup dalam media pembawa yang menguntungkan ternak karena dapat menciptakan keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan sehingga menciptakan kondisi yang optimum untuk pencernaan pakan dan meningkatkan efisinesi konversi pakan sehingga memudahkan dala proses penyerapan zat nutrisi ternak, menigkatkan kesehatan ternak, mempercepat pertumbuhan, memperpendek jarak beranak, menurunkan kematian pedet. Dan pemberian kombinasi dengan bioplus probiotik Saccharomyces cerevilae (PSc) yang berguna untuk mengatasi penurunan kesehatan reproduksi ternak.

4. Manajemen Pedet

Perawatan pedet yang baru lahir diperlukan untuk mendapat kondisi kesehatan yang baik dan pertumbuhan yang normal. Jika pedet sehat dan normal dan kuat, biasanya beberapa jam setelah dibersihkan dan dikeringkan pedet dapat berdiri sendiri dan menyusui pada induknya.Setelah lahir, pedet langsung dipisahkan dari induknya agar induk tidak mengenal anaknya dan pedet tidak dibiarkan menyusu pada induknya, jika dibiarkan maka akan menghabiskan banyak susu juga akan mempersulit pemerahan dan yang lebih penting lagi adalah induk sapi akan sulit untuk birahi lagi, karena produksi susu yang tinggi akan menghambat sekresi hormon FSH untuk pembentukan dan perkembangan folilkel baru (Sindurejo, 1960). Pedet disapih umur 60 hari, selama itu ± 135-225 kg susu yang dihabiskan jika tidak disapih. Oleh karena itu diberi susu pengganti 2,5-3,5 kg perhari. Penyapihan dini pada umur 28 hari sampai 60 hari tergantung kecepatan pedet memakan hijauan serta konsentrat padat. Tetapi untuk pedet minum kolustrum ± 5 hari sejak dilahirkan adalah penting dan tidak bisa digantikan dengan minuman lain, karena kolustrum banyak mengandung zat antibodi, makin cepat kolustrum masuk kedalam abomasum dan intestinum, makin cepat pula antibodi diserap kedalam darah dan secepatnya pula pedet dapat melawan penyakit. Selain itu kolustrum sebagai laksansia untuk membantu pencernaan untuk mengeluarkan tahi gagak dalam saluran pencernaan yang dapat mempercepat pertumbuhan kuman. Oleh karena itu pedet jika disapih harus diadaptasikan dengan cara memberi susu dengan ember, pedet diajar untuk menjilat-jilat dan menghisap jari telunjuk, kemudian perlahan-lahan jari diturunkan ke ember yang berisi susu dengan kepala pedet sedikit ditekan kebawah agar dapat mencapai susu, setelah moncong pedet mencapai susu dan menelanya, jari telunjuk kita dapat dilepas. (Sindurejo, 1960).

5. Mencegah Kawin Berulang Dan Penanganan Penyakit

Kawin berulang disebabkan oleh kegagalan pembuahan, dan kematian embrio dini. Kematian embrio disebabkan oleh adanya infeksi, hormonal, nutrisi, toksik, dan lingkungan. Kematian embrio bisa dikuti oleh penyerapan embrio oleh uterus, dan memakan waktu lebih banyak sehingga siklus estrus diperpanjang, perpanjangan siklus estrus mungkin hanya 2-3 bulan, pada bulan keempat sapi kembali birahi, kalau embrionya besar dan bertulang, siklus estrus diperpanjang bisa satu periode kebuntingan (Pentodihardjo. 1985). Untuk mengatasi hal tersebut diatas, sebelum dikawinkan dengan pejantan fertil atau dengan semen yang sehat, perlu dilakukan pemeriksaan perektal untuk mengetahui ada tidaknya abnormalitas ovarium, saluran reproduksi atau adanya infeksi uterus. Untuk mencegah kematian embrio dini, infertilitas pejantan perlu diperiksa, melakukan inseminasi pada waktu yang tepat, memberi asupan nutrisi dan energi yang cukup selama masa kebuntingan (Siregar. 1992)

Usaha untuk memperpendek jarak beranak/calving Interval/Days open pada ternak sapi adalah deteksi estrus yang tepat agar dapat dilakukan inseminasi dengan tepat pula, pengetahuan dan sumber daya manusia inseminator perlu ditingkatkan, manajemen pakan yang baik selama masa kebuntingan dengan asupan nutrisi dan energi yang seimbang, penyapihan dini terhadap pedet yang baru dilahirkan, mencegah terjadinya kematian embrio dini yang akan menyebabkan tejadinya kawin berulang.

DAFTAR PUSTAKA

Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi ternak edisi ke 4. Gadjah Mada University press. Yogyakarta

Pentodihardjo. S. 1985. Ilmu Reproduksi Hewan, Cetekan ke 2 . Mutiara jakarta.

Sindurejo, S. 1960 Pedoman Perusahaan Pemerahan Susu. Prospek Pengembangan produksi ternak Pusat Direktorat pengembangan produksi Trenak Dirjen Peternakan.

Siregar. S.B., 1992. Dampak Jarak Beranak Sapi Perah Induk Terhadap Pendapatan Peternak Sapi Perah. BLPP Cinagara. Deptan

Subagyo S. 1996. Bahan Kuliah Fisiologi dan teknologi Reproduksi. Fakultas Kedokteran Hewan Univeersitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Subronto dan ida T., 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University press. Yogyakarta

Sudono., 1983. Produksi Sapi Perah, depeartemen ilmu produksi ternak,. Fakultas peternakan IPB.

Toelihere. R.M., 1981 Inseminasi Pada Ternak. Angkasa bandung.

1 komentar: