Jumat, 21 Mei 2010

operasi Fraktur serta Obat dan Anastetika

Teknik dalam ortopedik hewan kecil telah berkembang pesat beberapa tahun terakhir ini. Teknik dan metode penanganannya sangat tergantung dari tingkat kerusakan yang dialami oleh tulang tersebut. Pendekatan biologis yaitu dengan melakukan penjajaran pada bagian proksimal dan bagian distal fragmen tulang, dengan minimalisir hematoma fraktur dan perlekatan jaringan lunak dengan fragmen tulang. Pada fraktur batang tulang (shaft fracture), reduksi yang sempurna bukan merupakan prioritas tertinggi dan tujuan utama yaitu mengoptimalkan penyatuan (union) tulang dengan menyediakan kondisi yang sama untuk jaringan lunak sekitar tulang tersebut dan stabilitas mekanik fraktur. Contoh pendekatan biologis untuk fraktur termasuk fiksasi plat, interlocking nails, fiksasi eksternal dan plat memutar.

Fraktur femur merupakan jenis fraktur yang sering terjadi pada anjing terutama akibat kecelakaan lalu lintas. Bagian batang, distal, atau salah satu trokanter dapat rusak. Sering pada anjing, fraktur terjadi bersamaan dengan dislokasi hip-joint. Kepincangan, pemendekan tungkai, pembengkakan lokal, dan sakit saat menggerakkan kaki sering teramati. Krepitasi bisa ditemukan atau tidak sama sekali. Pada kuda fraktur pelvis sering terjadi bersamaan dengan fraktur femur dan menjadikan peneguhan diagnosis menjadi sulit. Fraktur femur biasanya mengharuskan untuk eutanasia pada hewan besar, tapi pada hewan kecil penyembuhan dapat terjadi secara parsial atau sempurna.

Menurut Olmstead (1995), bermacam-macam teknik fiksasi bisa diterapkan pada fraktur femur, termasuk pemasangan pin tertutup, pin intra medullar terbuka, pemasangan plate tulang, dan fiksasi eksternal. Beberapa fraktur dapat difiksasi cukup dengan satu teknik, beberapa kasus dapat juga dengan teknik khusus.

TINJAUAN PUSTAKA

Fraktur

Fraktur adalah gangguan kontinuitas tulang dengan atau tanpa perubahan letak fragmen tulang yang mengakibatkan tulang yang menderita tersebut kehilangan kontinuitasnya atau keseimbangannya (Kumar, 1997).

Penyebab fraktur bisa karena sebab intrinsik dan sebab ekstrinsik (Kumar, 1997). Sedangkan menurut Mayer et al., (1959) penyebab fraktur bisa disebabkan karena oleh trauma atau rudapaksa yang berasal dari luar tubuh ataupun oleh penyakit. Menurut Boden (2005), fraktur karena penyakit dapat disebabkan oleh osteomalacia, dimana terjadi reduksi densitas tulang dan kekuatannya.

Pada banyak kasus, kejadian fraktur akan tampak jelas gejala klinisnya. Secara sepintas akan tampak bagian yang menunjukkan kebengkakan, kelainan bentuk, perubahan yang kaku, krepitasi dan rasa sakit. Menurut Archibald (1965), gejala klinis yang terjadi pada fraktur adalah kebengkakan, deformitas, kekakuan gerak yang abnormal, krepitasi, kehilangan fungsi dan rasa sakit.

Berdasarkan ada tidaknya hubungan dengan udara luar, fraktur dibedakan menjadi fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur tertutup, apabila ujung tulang yang patah masih tertutup oleh otot dan kulit, tidak ada hubungan dengan udara luar. Fraktur terbuka yaitu apabila ujung tulang yang patah berhubungan dengan udara luar, di sini kulit terbuka sehingga ujung tulang yang patah tampak dari luar. (Kumar, 1997).

Berdasarkan tingkat kerusakan tulang, fraktur dibedakan menjadi fraktur complete dan fraktur incomplete. Fraktur complete adalah fraktur yang ditandai dengan adanya kerusakan pada 2 fragmen dan perubahan letak dari fragmen tersebut. Sedangkan fraktur incomplete adalah fraktur yang biasanya terjadi pada hewan muda dan ditandai dengan hilangnya kontinuitas dan perubahan letaknya minimal, misalnya pada fraktur greenstick dan fraktur fissura (Kumar, 1997).

Sedangkan berdasarkan arah patahan dan lokasi, fraktur dibagi menjadi tujuh yaitu fraktur transversal jika arah patahannya tegak lurus dengan sumbu panjang tulang. Apabila dilakukan reposisi atau reduksi, fragmen tulang tersebut mempunyai kedudukan yang cukup stabil sehingga mempunyai pengaruh yang baik untuk kesembuhan. Kemudian fraktur oblique (miring) adalah fraktur dengan arah patahan miring membentuk sudut melintasi tulang yang bersangkutan, fraktur spiral jika arah patahannya bentuk spiral disertai terpilinnya ekstremitas. Fraktur impaktive adalah fraktur dimana salah satu ujung tulang masuk ke fragmen yang lain. Fraktur comminutive adalah fraktur dimana tulang terpecah menjadi beberapa bagian. Fraktur epiphyseal adalah fraktur pada titik pertemuan epiphysis pada batang tulang dan fraktur condyloid adalah fraktur dimana bagian condylus yang patah terlepas dari bagian yang lain (Kumar, 1997).

Diagnosis dan Terapi

Diagnosis fraktur dilakukan dengan anamnesis, inspeksi, pergerakan, pengukuran, palpasi dan pemeriksaan foto rontgent. Anamnesis dilakukan untuk mengetahui fraktur, penyebab, kapan terjadinya sehingga dapat membantu diagnosis. Inspeksi dilakukan dengan seksama pada anggota gerak, apakah ada kepincangan, pembengkakan, kekakuan gerak, perubahan warna, kebiruan, pucat dan sebagainya. Pengukuran dilakukan dengan cara membandingkan bagian kaki yang sehat dengan yang sakit, apakah terlihat simetris. Palpasi dilakukan dengan cara yang hati–hati untuk mengetahui untuk mengetahui adanya krepitasi, oedema, rasa sakit, dan lain-lain. Diagnosis paling tepat adalah dengan foto rontgent. Pemotretan fraktur harus diambil dari 2 sisi yang saling tegak lurus sehingga diperoleh gambaran kedudukan tulang yang mengalami fraktur secara jelas sehingga akan membantu terapinya (Mayer et al., 1959).

Cara penanganan fraktur pada dasarnya ditempuh dengan 2 tahapan yaitu reposisi atau mengembalikan fragmen tulang pada kedudukan semula, kemudian dilanjutkan dengan fiksasi atau immobilisasi yaitu mempertahankan keadaan hasil reposisi tersebut sampai fungsinya dapat normal kembali (Mayer et al., 1959). Sedangkan menurut Kumar (1997), prinsip dasar penanganan fraktur adalah aposisi dan immobilisasi serta perawatan setelah operasi yang baik. Pertimbangan-pertimbangan awal saat menangani kasus fraktur adalah menyelamatkan jiwa penderita yang kemungkinan disebabkan oleh banyaknya cairan tubuh yang keluar dan kejadian shock, kemudian baru menormalkan kembali fungsi jaringan yang mengalami kerusakan.

Penanganan fraktur menggunakan konsep 4 R yaitu rekognisi, reduksi, retensi dan rehabilitasi (Kumar, 1997). Untuk reduksi atau reposisi dilakukan secara terbuka yaitu pembedahan. Kemudian rotasi atau fiksasi dilakukan dengan pin intramedullar yang dimasukkan dengan intramedullar drill (Kumar, 1997). Menurut Nunamaker (1985), penggunaan pin intrameduler sering dilakukan pada kasus fraktur pada tulang panjang, dimana penggunaan fiksasi ini lebih efektif, murah dan resiko yang ditimbulkan rendah dibandingkan fiksasi dengan jenis lain. Menurut Olmstead (1995), bermacam-macam teknik fiksasi dapat diterapkan pada fraktur femur, termasuk pin intramedullar tertutup, pemasangan plate tulang, dan fiksasi eksternal. Beberapa fraktur dapat difiksasi cukup dengan satu teknik, beberapa kasus dapat juga dengan teknik khusus. Fraktur tranversal cukup stabil setelah difiksasi dengan pin intramedullar.

Gambar 1. Pemasangan pin intramedullar (Permattei et al., 2006).

Proses kesembuhan

Luka dapat didefinisikan sebagai kerusakan jaringan pada jaringan tubuh yang menderita kehilangan kesinambungan. Luka biasanya disebakan karena trauma yang berasal dari luar tubuh baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja (Robbins, 1984).

Pada operasi ini dilakukan incisi, dan ini merupakan luka baru atau luka iris. Luka iris adalah luka yang disebabkan oleh benda tajam, tepi luka berbatas jelas dan halus, dan kerusakan yang ditimbulkan bersifat ringan. Luka ini paling sering ditemukan pada luka operasi dengan harapan kesembuhan primer (Archibald, 1965).

Kesembuhan luka melewati beberapa tahapan kesembuhan luka yaitu :

1. Fase peradangan (Inflamatory phase)

Fase ini diawali dengan adanya perdarahan yang membersihkan dan memenuhi bagian kulit yang terluka segera setelah terjadi trauma. Pembuluh-pembuluh darah akan menyempit selama kurang lebih 5-10 menit untuk membatasi hemoragi namun kemudian berdilatasi dan melepaskan fibrinogen dan elemen penjendalan (clotting element) ke daerah luka. Transudat fibrin dan plasma akan memenuhi daerah luka, menyumbat pembuluh limfe, melokalisir radang dan melekatkan tepi luka. Mediator peradangan misal histamin dan serotonin akan dilepaskan segera setelah luka terbentuk. Fase ini berlangsung selama 2-3 hari dan bertahan sampai kurang lebih 5 hari.

2. Fase debrikasi (Debriment phase)

Fase ini ditandai dengan adanya infiltrasi dan neutrofil dan monosit ke daerah luka. Peristiwa ini terjadi kurang lebih 6-12 jam setelah terjadinya luka. Infiltrasi netrofil dan monosit akan menginisiasi debrikasi. Monosit akan berubah menjadi makrofag pada daerah luka kurang lebih setelah 24-48 jam. Makrofag akan menyingkirkan jaringan nekrotik, bakteri dan material asing. Limfosit akan menyususl tertarik pada daerah luka setelah netrofil dan makrofag.

3. Fase perbaikan (Repair phase)

Fase ini biasa terjadi 3-5 hari setelah luka terjadi. Ada beberapa proses yang terlibat dalam fase ini :

a. Fibroblas dan collagen

Fibroblas akan bermigrasi menuju daerah yang mengalami luka setelah fase peradangan terlewati (2-3 hari). Fibroblas akan menginvasi luka untuk mensintesis dan mendeposit collagen, elastin dan proteoglican yang akan mengalami maturasi membentuk jaringan fibrous. Setelah 5 hari regangan pada daerah sekitar luka menyebabkan fibroblast, fibrin dan pembuluh kapiler untuk terposisi parallel dengan tepi luka. Jumlah dari collagen mencapai jumlah maksimum setelah 2-3 minggu.

b. Jaringan granulasi (Granulation tissue)

Jaringan granulasi akan mengisi dan melindungi luka dengan jalan menciptakan barier terhadap infeksi. Jaringan ini juga menciptakan lapisan dasar untuk terjadinya migrasi epitel dan merupakan sumber dari sel-sel fibroblast khusus yang dinamakan myofibroblast.

c. Epitelialisasi

Proses epitelialisasi dimulai dalam waktu 24-48 jam pada luka dengan tepi luka teraposisi dengan baik. Pada luka yang terbuka, proses dimulai setelah lapisan jaringan granulasi terbentuk, biasanya setelah 4-5 hari. Pada awalnya lapisan epitel yang terbentuk hanya 1 lapis sel (one cell layer) yang rapuh. Lapisan ini akan menebal dengan terbentuknya lapisan-lapisan baru.

d. Kontraksi luka (Wounds contraction)

Kontraksi luka akan memperkecil besar luka dimana proses ini terjadi melalui kontraksi dari myofibroblast yang terdapat pada jaringan granulasi. Proses ini terjadi bersamaan dengan terbentuknya jaringan granulasi dan epitelialisasi. Secara umum luka akan mengecil sebesar 0,6-0,7 mm per hari. Proses ini akan terhambat oleh adanya fiksasi luka, iNelastisitas atau adanya tarikan pada luka. Proses ini juga terhambat jika perkembangan myofibroblast berkurang, pemberian obat antiinflamasi steroid, obat antimicrotubular dan pemberian musculo relaxan lokal. Proses ini akan berhenti setelah tepi luka bertemu, adanya regangan yang berlebihan atau tidak tersedia cukup myofibroblast.

4. Fase Maturasi (Maturation Phase)

Fase ini berlangsung setelah jumlah kolagen yang cukup telah terdeposit pada daerah luka. Proses ini berlangsung setelah 17-20 hari setelah luka terbentuk dan dapat berlanjut sampai beberapa tahun. (Fossum, 2000)

Jenis kesembuhan luka yang paling sederhana terlihat pada kesembuhan luka iris karena operasi, dimana tepi luka dapat saling didekatkan agar terjadi kesembuhan luka primer. Berdasarkan ada tidaknya infeksi, arah dan jumlah jaringan granulasi, cara kesembuhan luka dibedakan menjadi kesembuhan luka primer dan sekunder (Robbins, 1984).

Berdasarkan proses terjadinya, kesembuhan luka dibagi menjadi dua yaitu kesembuhan primer dan kesembuhan sekunder. Kesembuhan luka primer merupakan kesembuhan luka alami dan jaringan yang menderita sembuh sempurna tanpa menimbulkan gangguan fungsi dan anatomi, sedangkan kesembuhan sekunder biasanya terjadi bila kesembuhan primer tidak tercapai karena ulcerasi, abses, atau sebab lainnya. Kesembuhan primer merupakan kesembuhan jaringan dengan nekrosis pasca operasi yang minimal dan tidak ditemukannya pernanahan. Kesembuhan primer dapat diusahakan dengan meminimalisir trauma bedah, mengupayakan dengan sungguh-sungguh pembedahan yang aseptis dan menyatukan kembali jaringan yang terpisah dengan hati-hati (Mayer et al.,1959). Kesembuhan sekunder adalah kesembuhan yang terjadi pada luka operasi setelah mengalami infeksi yang mengakibatkan kesembuhan primer tidak terjadi. Kesembuhan sekunder dengan adanya granulasi membutuhkan waktu 4 minggu untuk kesembuhan dan meninggalkan jejak parut (Robbins, 1984).

Kesembuhan luka itu sendiri dipengaruhi oleh faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal meliputi adanya gangguan vaskularisasi, inervasi syaraf, trauma jaringan, hematoma, lama operasi, adanya infeksi sekunder, benda asing, dan aposisi luka yang kurang akurat. Faktor umum termasuk defisiensi nutrisi, dehidrasi, gangguan keseimbangan hormon, adanya penyakit hati, ginjal, dan jantung. Faktor sistemik meliputi adanya defisiensi protein, vitamin A, C, B kompleks, D, dan K, kegemukan, faktor genetik, anemia, leukopenia, dan umur (Archibald, 1965).

Pada proses pembedahan yang baik, setelah dilakukan penutupan luka dengan benar maka ruang kecil diantara jahitan dua jaringan yang disatukan akan terisi cairan serous. Pada beberapa hari pertama, aktivitas kesembuhan sedikit-demi sedikit mulai tampak dan penyatuan kembali jaringan tergantung pada kekuatan jahitan yang dibuat dalam waktu sekitar empat hari, fibroblast mulai mulai proliferasi dengan cepat dan membantu dalam menyatukan luka operasi. Dalam tahap ini ujung-ujung pembuluh darah yang terluka mulai berproliferasi dan membentuk jaringan kapiler yang baru. Penyatuan jaringan akan sempurna setelah 12-14 hari setelah pembedahan (Mayer et al.,1959).

Proses kesembuhan jaringan pada fraktur tulang menurut Archibald (1974), hampir sama dengan kesembuhan pada jaringan lunak, hanya saja tidak terbentuk serabut kolagen melainkan terbentuk osteosit dan matriks tulang. Fase pertama yaitu terjadi peningkatan kegiatan sel-sel tulang yang akan mengisi celah antara ujung patahan tulang dengan dibentuknya jaringan yang banyak mengandung sel.

Respon Vaskularisasi setelah Fraktur

Gangguan pada suplai darah yang normal ke tulang bervariasi tergantung kompleksitas dari fraktur itu sendiri. Komponen vaskular aferen distimulasi dan merespon dengan terjadinya hipertropi, peningkatan diameter dan jumlah. Sebagai tambahan, akan terbentuk suplai darah baru, yang disebut extraosseus blood supply of healing bone, yang berasal dari jaringan lunak yang segera mengelilingi lokasi fraktur. Bentukan ini berbeda dengan arteriol normal periosteal. Suplai darah baru ini membawa darah untuk menempel pada fragmen tulang, memperkuat korteks, dan membentuk kallus periosteal. Saat stabilitas lokasi fraktur kontinuitas sirkulasi meduler terbentuk, extraosseus blood supply akan regresi. Hal ini diikuti oleh regenerasi yang cepat dari suplai arterial meduler terutama bila berada dalam kondisi yang mendukung (Permattei et al, 2006).

Menurut Frandson (1992), pada saat terjadinya fraktur beberapa pembuluh darah terputus, darah terlepas disekitar ujung-ujung tulang yang rusak, ini membentuk gumpalan yang akan diserang oleh sel-sel jaringan ikat membentuk jaringan granulasi dan pembuluh darah baru. Osteoblas dari permukaan tulang dari periosteum dan dari endosteum yang segaris dengan rongga-rongga sumsum dan kanal-kanal haversi membelah dengan cepat dan membentuk jaringan osteoid yang disebut kallus. Jaringan osteoid ini mengisi celah tulang yang rusak dan mengisi rongga sumsum pada suatu jarak, dan mengelilingi secara sempurna ujung-ujung tulang yang rusak, membentuk belitan yang efektif dan biasanya mencegah gerakan antar segmen. Segera setelah kallus mengalami mineralisasi, akan menjadi tulang yang baik. Proses kesembuhan ini kemudian disempurnakan oleh pengorganisasian kembali kallus-kallus untuk membentuk tangkai tulang yang khas dengan rongga sumsum.

Gambar 2. Formasi kallus pada tulang.

a. Kallus periosteal.

b. Kallus interkortikal.

c. Kallus medullar. (Permattei et al., 2006).

Hal-hal yang dapat menghambat respon vaskuler dan selanjutnya kesembuhan tulang diantaranya (1) trauma yang diakibatkan oleh kecelakaan (accident) yang terjadi, (2) handling operatif yang tidak benar pada jaringan lunak, (3) reduksi yang kurang, (4) stabilisasi yang kurang dari fragmen tulang. Paku Intrameduller dapat secara temporer merusak sistem aferen meduler, dan plat dapat menghalangi aliran darah vena. Bagaimanapun, suplai darah ke tulang terhambat secara parsial, tetapi harus ada dan cukup untuk mencapai kesembuhan tulang (Permattei et al., 2006).

Fase kesembuhan luka menurut Frandson (1992) hampir sama dengan apa yang dikemukakan oleh Kumar (1997). Secara rinci penyembuhan tulang dapat dibagi dalam beberapa tahap sebagai berikut:

1. Phase hematoma. Pada mulanya terjadi hematoma dan disertai pembengkakan jaringan lunak, kemudian terjadi proliferasi jaringan penyambung muda ke dalam daerah radang dan hematoma akan mengempis. Tiap fraktur biasanya disertai putusnya pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah disekitar fraktur. Pada ujung tulang yang patah terjadi ischemia sampai beberapa milimeter dari garis patahan yang mengakibatkan matinya osteosit pada daerah fraktur tersebut.

2. Phase proliferatif. Proliferasi sel-sel periosteal dan endosteal, yang menonjol adalah prolifersi sel-sel lapisan dalam dari periosteal dekat daerah fraktur. Hematoma terdesak oleh proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh.

3. Phase pembentukan kallus. Pada tahap ini terbentuk fibrous kallus dan di sini tulang menjadi osteoporotik akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel-sel osteoblas mengeluarkan matrik interseluler yang terdiri dari kolagen dan polisakarida, yang segera bersatu dengan garam-garam kalsium, membentuk tulang immature atau young kallus (woven bone).

4. Phase konsolidasi. Pada phase ini kallus yang terbentuk mengalami maturasi lebih lanjut oleh aktivitas osteoblas. Kallus menjadi tulang yang lebih dewasa dengan pembentukan lamella. Pada stadium ini sebenarnya proses penyembuhan sudah lengkap. Pada phase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary callus. Phase ini terjadi sesudah empat minggu namun pada umur-umur muda lebih cepat.

5. Phase remodelling. Pada phase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang banyak dan tulang sudah terbentuk dengan baik, serta terjadi pembentukan medulla kembali.

Obat dan Anastetika

Premedikasi dan Anestesi

Anestesi adalah substansi yang apabila diberikan akan menyebabkan hilangnya kesadaran dan respon motorik terhadap rangsangan yang merugikan. Penggunaan anastetika untuk tujuan operasi ditujukan untuk individu yang sehat dan dalam kondisi fisiologis normal, hal ini disebabkan atas kenyataan bahwa setiap agen anestesi dapat digunakan dan atau mengganggu fungsi normal dari organ atau beberapa sistem dalam tubuh (Brander et al.,1991).

Semua zat anastetik umum menghambat SSP secara bertahap, mula-mula dari fungsi yang kompleks akan dihambat dan yang terakhir dihambat adalah medulla oblongata dimana terletak pusat pernafasan yang vital.

Menurut Soma (1971) tahap-tahap dalam anestesi umum dibagi kedalam 4 stadia. Menurut Hall (1978) tanda-tanda anestesi pada hewan adalah : (1) Stadium I adalah stadium induksi atau dikenal sebagai stadium eksitasi bebas atau stadium analgesia. Pada tahap ini hewan masih sadar dan dapt melawan pemberian anastetikum pernafasan thorako-abdominal. Frekuensi pulsus dan nafas meningkat, dilatasi pupil, hewan sering urinasi dan defekasi. (2) Stadium II merupakan stadium eksitasi tak bebas atau delirium. Memasuki stadium ini hewan hilang kesadarannya, nafas tidak teratur, reflek pedal sangat kuat reflek meNelan, muntah dan batuk mash ada. Stadium I dan II dapt dilewati dengan cara pemberian separuh dosis anastetika secara cepat kemudian sisanya diteruskan secara perlahan-lahan dengan terus memonitor denyut jantung serta frekuensi pernafasannya sampai tercapai keadaan anestesi yanf diinginkan. (3) Stadium III, merupakan stadium yang tepat untuk dilakukan operasi. Stadium ini dibagi menjadi tiga tingkatan atau plane, yaitu plane dangkal, sedang dan dalam. Pada plane dangkal ditandai oleh pernafasan yang teratur dengan tipe thorako-abdominal, otot anggota gerak relaksasi, reflek pedal, palpebrae, batuk masih ada, bola mata bergerak dari lateral ke medial, sedangkan reflek kornea dan konjunctiva terdepres. Anestesi pada tahap ini dapat dilaksanakan operasi yang bersifat ringan dan untuk keperluan diagnostik. Plane sedang ditandai dengan pernafasan thorako-abdominal, reflek batuk dan menelan masih ada, reflek pedal melemah, bola mata bergerak ke ventromedial, otot relaksasi kecuali otot abdominal. Anestesi pada tahap ini dapat digunakan untuk semua operasi, kecuali operasi di daerah perut. Pada plane dalam, pernafasan abdominal semua reflek batuk, menelan, pedal dan palpebrae hilang, otot seluruh tubuh relaksasi, bola mata ditengah, serta tekanan rahang hilang. (4) Stadium IV adalah stadium overdosis atau stadium paralisis. Pada tahap ini diaphragma masih aktif tetapi otot dada mengalami paralisis sempurna, pulsus cepat tapi lemah, pupil melebar, sekresi lakrimalis terhenti, nafas tersengal-sengal, pernafasan melemah dan berhenti.

Pemberian anestesi pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan rasa nyeri baik disertai atau tanpa disertai hilangnya kesadaran. Obat-obat anastetik yang diberikan pada hewan akan membuat hewan tersebut tidak peka terhadap rasa sakit sehingga hewan menjadi lebih tenang, dengan demikian pembedahan dapat dilaksanakan lebih aman dan lancer (Sardjana,2004).

Untuk mempersiapkan hewan sebelum pemberian obat anastetik maka perlu diberikan obat-obat preanastetik atau biasa disebut premedikasi. Premedikasi diberikan dengan tujuan membuat hewan lebih tenang dan terkendali, mengurangi dosis anatesi, mengurangi efek-efek otonomik yang tidak diinginkan, mengurangi nyeri preoperasi (Sardjana, 2004). Menurut Kumar (1997), premedikasi adalah suatu substansi yang terdiri dari sedativa atau transquilizer sebagai penenang dan substansi antikolinergik. Tujuan dari pemberian premedikasi adalah untuk mengurangi kecemasan, mengurangi keadaan gawat anestesi, memperlancar injeksi, mengurangi timbulnya hipersalivasi, bradikardia dan muntah sesudah atau selama anestesi, serta membuat hewan menjadi lebih tenang, mengurangi irritabilitas saraf pusat sehingga menaikkan efek anestesi.

Obat premedikasi digolongkan dalam 5 bagian yaitu: analgesik narkotik, sedativa barbiturat dan non-barbiturat, antikolinergik dan penenang. Obat ini sebaiknya diberikan secara oral sebelum anestesi, kecuali pada keadaan gawat (Hall dkk, 1983).

Atropin Sulfat

Gambar 3. Rumus kimia Atropin Sulfat (Anonimus, 2008)

Atropin merupakan alkaloid yang penting dari tanaman Atropa belladona dan digunakan dalam anestesi sebagai sulfat yang larut air (Brander et al.,1991). Atropin sulfat merupakan anticholinergik yang paling sering digunakan sebagai premedikasi. Dosis untuk premedikasi pada anjing dan kucing yaitu 0.022 - 0.044 mg/kg IM or SQ (Muir, 1987).

Atropine, seperti agen antimuskarinik lainnya, secara kompetitif menghambat asetilkolin atau stimulan kolinergik lain pada neuroefektor parasimpatik postganglionik. Pada dosis tinggi dapat memblok reseptor nikotinik pada ganglia otonom dan pada junction neuromuskular. Efek farmakologik tergantung pada dosis yang digunakan. Pada dosis rendah salivasi, sekresi bronkial, dan keringat (tidak pada kuda) dapat dihambat. Pada dosis menengah, atropine mendilatasi dan menghambat akomodasi pupil, dan meingkatkan denyut jantung. Dosis tinggi akan menurunkan motilitas traktus gastrointestinal dan urinarius. Pada dosis yang sangat tinggi akan menghambat sekresi gastrium (Plumb, 1999).

Atropine sulfate diabsorbsi dengan baik setelah pemberian oral, injeksi IM, inhalasi, atau administrasi endotracheal. Setelah administrasi IV, efek puncak yaitu pada denyut jantung terjadi dalam waktu 3-4 menit. Atropin didistribusikan dengan baik ke seluruh tubuh dan samapi CNS, melewati plasenta, dan dapat didistribusikan dalam jumlah sedikit lewat air susu. Atropine dimetabolisme di hati dan diekskresikan lewat urin. Sekitar 30-50% dari dosis diekskresikan tanpa mengalami perubahan lewat urin. Half-life pada plasma manusia dilaporkan sekitar 2-3 jam (Plumb, 1999).

Ketamin HCl

(2 -(-2 -(Chlorphenyl)-2-(Methylamino)-(Cyclohexanon)

Gambar 4. Rumus kimia Ketamin HCl (Anonimus, 2008).

Ketamin HCl merupakan derivat sikloheksason yang menimbulkan keadaan yang disebut anestesi disosiatif. (Brander, et al., 1991). Ketamin adalah larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar dan relatif aman (batas keamanan lebar). Ketamin mempunyai sifat anlgesik, anastetik dan kataleptik dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistem somatik, tetapi lemah untuk sistem visceral. Tidak menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan kadang-kadang tonusnya sedikit meninggi (Kumar, 1997).

Ketamin merupakan anestetik umum yang bekerja cepat yang juga mempunyai aktivitas analgesik dan efek depresan kardiopulmonary yang kurang. Diperkirakan ketamin menginduksi anestesia dan amnesia dengan menghambat secara fungsional dengan mengganggu CNS dengan cara over stimulasi CNS atau menginduksi status kataleptik. Ketamin menghambat GABA, dan juga mungkin memblok serotonin, norepinefrin, dan dopamin di CNS. Sistem thalamoneurokortikal didepres sedangkan sistem limbik diaktifkan. Ketamin menginduksi stadium anestesi I dan II, tapi tidak stadium III. Efek pada tonus otot bervariasi, tapi biasanya ketamin menyebabkan tidak ada perubahan tonus otot atau dapat meningkatkan tonus otot. Ketamin tidak menghilangkan refleks pinnal dan pedal, maupun refleks photik, korneal, laryngeal, atau faringeal. Efek ketamin pada sistem kardiovaskuler termasuk peningkatan cardiac output, denyut jantung, tekanan aortik, tekanan arteri pulmonari, dan central venous pressure. Ketamin tidak menyebabkan depresi respirasi secara sinifikan pada dosis biasa, tapi pada dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan respiratory rate menurun (Plumb, 1999).

Ketamin sebagian besar mengalami dealkilasi dan hidrolisis dalam hati kemudian diekskresikan terutama dalam bentuk metabolit dan sedikit dalam bentuk utuh. Dosis yang digunakan pada anjing adalah 10-20 mg/kg berat badan secara intra muscular akan memberikan pengaruh anestesi selama 20-60 menit (Kumar, 1997).

Ketika digunakan sebagai obat tunggal, ketamin tidak menghasilkan relaksasi muskulus skeletal yang baik, dan dapat mencapai recovery dengan segera dan biasanya dapat menyebabkan konvulsi pada anjing dan terkadang kucing. Untuk catatan dalam pemberian ketamin-xylazine pada anjing, bahwa obat ini dapat menyebabkan kardiak aritmia, edema pulmoner, dan depresi respirasi. Sehingga sebelum diberikan, perlu diberikan premedikasi misalnya atropine sulfat 0.044 mg/kg IM, 15 menit kemudian diberi xylazine (1.1 mg/kg) IM, 5 menit kemudian diberikan ketamine (22 mg/kg) IM (Plumb, 1999).

Ketamin sebagai produk analgesia memiliki sangat sedikit yang fungsi dalam memblokir visceral pain. Konsekuensinya ketamin seharusnya tidak diberikan secara intraabdominal atau intratorasikal, kecuali diberikan dengan kombinasi nitrous oxside atau agen inhalasi yang lain. Peningkatan pada tekanan intra okuler dihasilkan oleh peningkatan pulsasi otot ekstra okuler, penggunaan ketamin terbatas pada operasi mata. Obat ini seharusnya tidak diberikan pada kucing dengan kelainan jantung dan beberapa penyakit lainnya seperti takhikardia, penyakit ginjal atau obstruksi urinari kronis (Donalds, C.S., 1982).

Narkotik, barbiturat, atau diazepam dapat memperpanjang waktu rekoveri dan efek stimulatori kardiak pada ketamin dapat hambat. Kloramfenikol (parenteral) dapat memperpanjang aksi anestetik ketamin (Plumb, 1999).

Xylazine HCl (Rompun)

N-(2,6-Dimethylphenyl)-5,6-dihydro-4H-1,3-thiazin-2-amine (C12H16N2S)

Gambar 5. Rumus kimia Xylazine HCl (Soback, 2006)

Xylazine merupakan sedativa yang efektif untuk ruminansia dan kuda, sedangkan pada anjing dan kucing dengan pemberian 1-3 mg/kg berat badan dapat menyebabkan vomitus dan defekasi (Brander et al.,1991). Merupakan sedativa non narkotik yang poten dan analgesik dan merupakan relaksan muskulus yang baik. Efek sedativa dan analgesia bekerja mendepres sistem syaraf pusat, relaksasi muskulus karena terhambatnya tranmisi intraneural dari impuls pada syaraf pusat (Lumb and Jones, 1984). Menurut Kumar (1997), xylazine merupakan obat yang berfungsi sebagai muskulorelaxan. Hal ini akan menyebabkan tekanan pada vasomotor dan pusat pernafasan. Pada pemberian lokal anastetika yang disuntikkan pada otot atau sekitar nervus akan menghasilkan muskulorelaxan pada tepi.

Pengaruh pemberian akan tampak setelah 10-15 menit secara intramuskuler ditandai dengan respirasi dan denyut jantung akan menurun dan terjadi perubahan sementara pada konduktivitas jantung. Dosis yang digunakan untuk anjing adalah 1-2 mg/kg berat badan (Brander et al, 1991).

Efek xylazine pada anjing dan kucing adalah terjadinya muntah, pada pemberian secara intravena atau intramuskuler sering terjadi distensi abdomen akut (Brander et al, 1991). Kontra indikasi dari xylazine sebagai sedativa adalah menginduksi bradikardia pada level 2 memblok arteri. Jika anjing agresif maka pemberian xylazine harus dikombinasikan dengan atropin secara simultan (Donald, C.S., 1982).

Ketamine-Xylazine

Kombinasi antara ketamin dan xylazine merupakan kombinasi terbaik bagi kedua agen ini untuk menghasilkan analgesia. Banyak hewan yang teranestesi secara baik dengan menggunakan kombinasi ini. Anestesi dengan ketamin xylazine memiliki efek lebih pendek jika dibandingkan dengan pemberian ketamin saja, tetapi kombinasi ini menghasilkan relaksasi muskulus yang baik tanpa konvulsi. Emesis sering terjadi pasca pemberian ketamin-xylazine, tetapi hal ini dapat diatasi dengan pemberian atropin 15 menit sebelum pemberian ketamin-xylazine (Jones and Lumb, 1984). Efek sedasi xylazine akan muncul maksimal 20 menit setelah pemberian secara intramuskuler dan akan berakhir setelah 1 jam, sedangkan efek anestesi ketamin HCl akan berlangsung selama 30-40 menit dan untuk recovery dibutuhkan waktu 5-8 jam (Sardjana dan Kusumawati, 2004).

Antiseptik dan desinfektan

Alkohol 70 %

Alkohol merupakan antiseptik umum, pelarut yang baik dan desinfektan. Jika diaplikasikan secara lokal pada jaringan, alkohol mempunyai efek antibakteri dan germicid yang kuat. Alkohol banyak dipakai dalam persiapan operasi, persiapan penyuntikan dan pencucian alat-alat kedokteran. Untuk meningkatkan daya bunuh kuman alkohol sering dikombinasikan dengan antiseptik lain karena sifatnya sinergik (Brander et al.,1991).

Alkohol merupakan antiseptik yang sangat kuat terutama digunakan untuk menghilangkan noda oli dan materi septik untuk tangan operator operasi dan kulit pasien. (Boden, 2005). Sediaan alkohol meliputi etyl alkohol 70-95% atau isopropyl alkohol 70-95% (Subronto dan Tjahajati, 2001).

Iodine

Iodine merupakan elemen non metalik yang terdapat alami pada rumput laut, air asin, dan lain-lain. Preparatnya merupakan serbuk berwarna ungu-coklat gelap, yang dapat larut dalam alkohol dan ether. Dalam preparat ini, iodine tidak pernah digunakan. Iodine dalam larutan alkohol atau disebut iodine tincture lebih penetratif dan iritatif pada kulit, terutama pada kulit sensitif. (Boden, 2005).

Iodine selain untuk untuk desinfeksi dapat juga dipakai untuk mengobati luka seta melawan infeksi jamur dan parasit. Kemampuan iodine dalam menembus dinding sel sangat tinggi, dan karena adanya gangguan metabolisme pada protoplasma, kuman akan mati. Larutan tersebut apabila mengenai luka akan menyebabkan rasa perih dan meninggalkan warna jaringan (Brander et al., 1991).

Bioplacenton

Bioplacenton jelly merupakan obat luar dengan kandungan ekstrak plasenta 10%, neomycin sulfat 0,5%, dan jelly sampai 100%. Bioplacenton adalah ekstrak plasenta yang mengandung biogenik stimulator, yang mampu menstimulasi proses metabolisme sel berupa peningkatan konsumsi oksigen pada sel-sel hepar, percepatan regenerasi sel, dan penyembuhan luka. Neomycin sulfat adalah antibiotik topikal dengan poten melawan bakteri gram positif maupun negatif, tidak dirusak oleh eksudat atau produk metabolisme bakteri (Brander et al., 1991).

Kombinasi dari bioplacenton dan neomycin sulfat menyebabkan kesembuhan luka yang cepat. Bioplacenton digunakan 4-6 kali sehari, dengan cara dioleskan merata pada kulit yang terbakar, ulcer kronis dengan kesembuhan lambat, jaringan granulasi, ulcer dekubitus, eksim pyoderma, impetigo, dan furunkulosis (Brander et al., 1991).

Gambar 6. Rumus kimia Neomycin Sulfat (Anonim, 2008).

Antibiotik

Gambar 7. Rumus kimia Ampicillin (Anonim, 2008).

Ampicillin merupakan salah satu semisintesis penicillin yang paling penting. Mempunyai aktivitas bakterisid dan merupakan antibiotika spektrum luas serta aktif melawan sejumlah mikroorganisme gram positif dan negatif. Aktivitas terhadap bakteri meliputi Streptococcus, Staphylococcus, Corynebacterium, Clostridium, Fusiformis, E. Coli, Klebsiella, Shigella, Proteus, Brucella dan Pasteurella.

Ampicillin diabsorpsi dengan baik pada saluran gastrointestinal. Pemberian peroral mencapai puncak konsentrasi dalam jangka waktu 2 jam. Didistribusikan ke seluruh tubuh meskipun hanya sebagian kecil yang masuk ke cairan cerebrospinal dan dalam konsentrasi tinggi terdapat dalam hati dan ginjal (Brander et,al., 1991). Dosis pemberian peroral ampicillin pada anjing adalah 10-20 mg/kg berat badan, secara parenteral diberikan 5 – 10 mg/kg berat badan (Kirk dan Bistner, 1985).

Penicillin-Streptomycin (Penstrep)

Penicillin bekerja dengan cara menghambat kerja enzim transpeptidase pada pembentukan dinding sel bakteri, sehingga hanya efektif terhadap bakteri gram positif. Struktur penicillin terdiri atas cincin β-Laktam, cincin tiazolidin rantai samping amida, dan gugus karboxyl. Penicillin mempunyai kemampuan mengganggu perkembangan dinding sel bakteri, dengan jalan menginaktivkan enzim transpeptidase, sehingga tidak memungkinkan pembentukan kedua lapis linier serabut peptidoglikan yang terdapat di kedua lapis dinding sel bakteri bagian dalam. Penicillin berpengaruh terhadap sel yang sedang tumbuh dan kurang berpengaruh terhadap bakteri yang tidak aktif tumbuh. Absorbsi penicillin melalui suntikan intramuskuler berlangsung cepat, absorbsi penicillin yang disuntikkan secara intra vena akan menghasilkan kadar tinggi dalam plasma, yang segera diikuti eliminasi yang cepat pula selama 4-6 jam (Ganiswara, 1995).

Gambar 8. Rumus kimia Penicillin (Anonim, 2008).

Streptomycin adalah antibiotik yang berasal dari jamur Streptomyces griseus. Streptomycin bekerja dengan cara menghambat sintesa protein bakteri, langsung pada ribosom sub unit 30S, dan mengganggu terjemahan kode genetik, sehingga efektif terhadap bakteri-bakteri gram negatif (Brander et al., 1991). Streptomycin mampu memperkuat efek antibiotika terhadap bakteri gram positif. Streptomycin dengan dosis sangat tinggi (220-440 mg/kg BB) yang disuntikkan secara intra vena pada anjing dapat menyebabkan kelumpuhan pusat-pusat vasomotor dan pernafasan, serta mendepres sistem cardiovaskuler pada hewan yang teranestesi. Bakteri yang sensitif tetapi tidak mati dengan cepat, akan menjadi resisten terhadap streptomycin.

Efek toksik streptomycin dapat dikurangi dengan pemberian sediaan pantothenat, sedangkan efek depresif dari organ cardiovaskuler dapat dikontrol dengan pemberian sediaan kalsium klorida (Subronto dan Tjahajati, 2001).

Gambar 9. Rumus kimia Streptomycin (Anonim, 2004).

Penicillin dan streptomycin memiliki kemampuan mempengaruhi dinding sel bakteri, sehingga kedua antibiotika ini dapat bekerja secara sinergis, meskipun dosis masing-masing antibiotika ini tidak diberikan secara maksimal (Subronto dan Tjahajati, 2001).

Gambaran Darah

Darah merupakan cairan yang beredar dalam sistem pembuluh darah yang sifatnya tertutup, terdiri dari suatu cairan yang kompleks mengandung sel-sel yang dihasilkan oleh jaringan hemopoetik untuk dipompa dan diedarkan keseluruh tubuh oleh jantung. Darah terdiri dari cairan plasma dan benda korpuskuler yang terdiri dari eritrosit atau sel darah merah, leukosit atau sel darah putih dan juga keping darah atau trombosit (Coles, 1986)

Fungsi utama darah adalah membawa makanan dan oksigen ke jaringan, mengangkut hasil akhir metabolisme dan CO2 ke jaringan ekskretorik ginjal dan kelenjar keringat, mengangkut hormon-hormon dari kelenjar endokrin dan bahan intermedier dari suatu tempat ke tempat lain. Darah juga berfungsi membantu menjaga dan mempertahankan keseimbangan cairan tubuh, membantu keseimbangan panas tubuh, sebagai termoregulasi, berperan mempertahankan keseimbangan air dalam sistem buffer serta mengandung faktor-faktor untuk pertahanan tubuh (Frandson, 1992).

Eritrosit

Eritrosit berasal dari bahasa Yunani yaitu eritro (merah) dan sit (sel), sehingga disebut sel darah merah. Eritrosit mempunyai komposisi 60-70% air, 28-35% haemoglobin dan mengandung material organic ataupun anorganik (Coles, 1986).

Eritrosit tersusun atas lipida, protein, karbohidrat, mineral dan vitamin. Membran eritrosit tersusun atas lapisan lipida yang terdiri dari lapisan fosfolipida yang bersifat hidrofilik dan asam lemak yang bersifat hidrofobik serta protein dalam bentuk glikoprotein dan karbohidrat (Mitruka, 1981).

Fungsi utama eritrosit adalah mentransfer haemoglobin yang membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan. Jika terjadi pengurangan jumlah eritrosit atau haemoglobin atau keduanya dalam sirkulasi darah dibawah batas normal disebut anemia. Anemia bukan merupak suatu penyakit primer tetapi timbul mengikuti suatu penyakit (Mitruka, 1981).

Anemia terdiri dari anemia regeneratif dan nonregeneratif. Anemia regeneratif mengarah pada adanya pendarahan atau destruksi eritrosit sehingga sumsum tulang belakang meningkatkan produksi sel darah merah dalam sirkulasi darah, misalnya trauma, perdarahan, koagulasi, parasit gastrointestinal, lesi gastrointestinal dan traktus urinaria, parasit darah dan lain-lain. Sedangkan anemia nonregeneratif merupakan dugaan terhadap gangguan sumsum tulang belakang misalnya pada perdarahan akut/perakut atau kasus hemolisis, gangguan nutrisi, anemia aplastik dan lain-lain (Bambang Hariono, 1993).

Selain itu anemia juga bisa dikelompokkan menjadi akut atau kronik. Anemia akut biasanya pada perdarahan atau kerusakan sel darah merah, sedangkan anemia yang bersifat kronik biasanya kekurangan elemen-elemen untuk pembentukan atau sintesis protein. Anemia yang bersifat akut biasanya ditandai dengan kelemahan, letarghy, kolaps akut, membrana mukosa pucat, perubahan warna urin, tachypnea dan dyspnoe. Anemia kronis ditandai dengan adanya letarghy, anoreksia, depresi dan juga ditemukan membran mukosa pucat, kelemahan serta dyspnoe. Anemia kronis biasanya bersifat nonregeneratif dan berhubungan dengan penurunan produksi sel darah merah (Siegmund, 1979).

Haemoglobin

Hemoglobin adalah suatu substansi yang berupa pigmen merah pembawa oksigen dalam cairan eritrosit dan merupakan protein cairan terkonjugasi. Fungsi eritrosit adalah mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan yang dilakukan oleh hemoglobin (Frandson, 1992). Kekurangan hemoglobin akan menyebabkan kurangnya oksigenasi dalam jaringan sehingga terjadi sianosis. Kapasitas hemoglobin mengangkut oksigen sebesar 1,36 cm3/gramHb (Schalm et al, 1975).

Konsentrasi hemoglobin dalam darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu umur, jenis kelamin, kondisi psikis, musim, tekanan udara, dan kebiasaan hidup (Dukes, 1955).

PCV (Packed Cell Volume) atau Nilai Hematokrit

PCV adalah volume eritrosit dalam 100 ml darah dan dalam bentuk persen dari volume darah itu (Coles, 1986). Nilai PCV akan turun pada keadaan anemia dan mengalami peningkatan pada keadaan ploisitemia (Mitruka & Rawnsey, 1981). Nilai PCV dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain spesies hewan, umur, jenis kelamin, aktivitas dan lokasi tempat hidup.

Leukosit

Leukosit berfungsi untuk fagositosis mikroorganisme dengan cara memakan dan menghancurkan mikroorganisme tersebut. Pada mamalia leukosit terdiri dari neutrofil (segmented dan band), limfosit, monosit, eosinofil dan basofil (Siegmund, 1979).

Protein Plasma

Plasma protein menduduki posisi utama dan dominan dalam bentuk metabolisme protein karena erat hubungannya dengan proses metabolisme dalam organ hati dan interaksinya dengan seluruh bagian tubuh. Plasma protein merupakan kelompok senyawa kimia yang heterogen dan keheterogenan, terdiri dari albumin, globulin dan fibrinogen. Peningkatan total protein plasma ditemukan pada hewan yang mengalami dehidrasi dan shock, sedangkan pada hemoraghi menyebabkan penurunan protein plasma. Fibrinogen merupakan protein plasma yang mempunyai fungsi utama dalam proses pembekuan darah. Fibrinogen disintesa dalam organ hati dimana diproduksi oleh kromosom dalam sel-sel hati atau hepatosit (Bambang Hariono, 1993).

Tabel 1 : Gambaran darah normal anjing.

PCV/Hematokrit (%)

48,5-59,3

Hemoglobin (g/dL)

15,3-18,9

Red Blood cell (x 106/ mm3)

5,78-8,18

Reticulocytes (%)

0-1,5

Mean corpuscular volume (fL)

72,3-81,3

Mean corpuscular Hgb (pg)

22,5-26,5

Mean corpuscular Hgb concentration (g/dL)

28,7-34,7

Platelets (x 105/ µL)

1,9-6,1

WBC (x 104/ mm3)

6-17

Neutrofil (segmented) (%)

31,8-90,6

Neutrofil (band) (%)

0-3

Lymphosites (%)

17,3-42,1

Monocytes (%)

2,12-2,52

Eosinophils (%)

0-10,8

Basophils (%)

0,1-0,5

Plasma protein (g/dL)

4,9-9,6

Plasma fibrinogen (%)

100-500

* untuk anak anjing umur 5-6 minggu (Mitruka, 1981).


MATERI METODE

Materi

Alat

Untuk memenuhi operasi yang aseptis dan legeartis, alat-alat yang digunakan harus dicuci dengan air sabun dibilas air bersih kemudian disucihamakan dengan autoclave. Meja operasi disterilkan dengan cara disemprot menggunakan alkohol 70%. Alat-alat yang dipakai dalam operasi ini adalah 1 buah scalpel dan pisaunya, 2 buah gunting lurus dan bengkok, 1 buah pinset chirurgis dan anatomis, 1 buah needle holder, 6 buah allis forcep, 6 buah duk klem, 4 buah arteri klem (mosquito/kelly forcep), 4 buah calmalt forcep, 1 buah duk operasi, tampon, kapas steril, 4 buah tali restrain dan spuit disposibel ukuran 3 cc 3 buah dan 5 cc 1 buah.

Jarum yang digunakan adalah jarum berujung segitiga dan bulat. Benang yang digunakan antara lain benang katun untuk melakukan ligasi dan untuk menjahit lapisan kulit, cat gut chromic untuk menjahit muskulus, dan cat gut plain untuk menjahit lapisan subcutan.

Bahan

Bahan-bahan yang digunakan antara lain sebagai premedikasi digunakan atropin sulfat 0,025% dosis 0,04 mg/kg BB, xylazine 2% dosis 2 mg/kg BB, dan ketamin HCL 10% dosis 15 mg/kg BB. Obat-obatan lain yang digunakan antara lain alkohol 70%, yodium tincture 3 %, larutan penstrep, ampicillin 10 %, aquades steril, dan bioplacenton.

Metode

Persiapan hewan

Sebelum operasi dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kondisi tubuh hewan secara umum meliputi frekuensi pulsus, frekuensi nafas, suhu tubuh, keadaan umum dari anjing tersebut, dan dilakukan pemeriksaan darah rutin. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah anjing memenuhi syarat operasi atau tidak. Bila anjing dinyatakan memenuhi syarat dan dinyatakan sehat, maka operasi dapat dilaksanakan. Anjing harus dipuasakan makan selama 12 jam dan puasa minum selama 2 jam sebelum operasi dilakukan, dengan tujuan agar kondisi usus dalam keadaan kosong sehingga anjing tidak muntah dalam kondisi teranestesi.

Bagian tubuh yang akan diincisi yaitu daerah craniolateral dari femur sinister dibasahi dengan air sabun untuk memudahkan pencukuran. Rambut anjing tersebut dicukur dengan menggunakan silet yang tajam, dibersihkan dengan air, kemudian diolesi dengan yodium tincture. Setelah itu, lakukan penimbangan berat badan anjing untuk menentukan semua volume obat yang akan digunakan.

Persiapan operator dan pembantu operator

Operator dan pembantu operator sebelum dan selama pelaksanaan operasi harus selalu dalam kondisi steril. Operator dan pembantu operator mempersiapkan

diri dengan mencuci tangan dari ujung tangan sampai batas siku sebelum operasi, menggunakan air sabun di bawah air bersih yang mengalir, kemudian didesinfektan dengan menggunakan larutan PK 4%. Selama operasi, operator dan pembantu operator harus menggunakan masker, sarung tangan steril, dan pakaian khusus untuk operasi untuk mengurangi kontaminasi.

Persiapan obat-obatan

Premedikasi yang digunakan yaitu Atropin sulfat 0,025% dengan dosis 0,04 mg/kg BB secara subcutan. Untuk anestesi digunakan campuran Xylazine 2% dosis 2 mg/kg BB dengan Ketamin HCL 10% dosis 15 mg/kg BB yang diberikan secara intramuskuler. Ampicillin 10% dengan dosis 10 mg/kg BB juga perlu dipersiapkan.

Persiapan alat

Meja operasi harus dibersihkan dan disterilkan dengan cara disemprot spiritus kemudian dibakar. Alat-alat operasi dipersiapkan dalam keadaan steril dan diletakkan secara urut dan rapi pada meja yang berdekatan dengan meja operasi.

Pelaksanaan operasi

Operasi Fraktur Femur

Setelah hewan diberi anestesi dan hewan telah teranestesi maka diletakkan dalam posisi rebah lateral dexter dengan keempat kaki dikatkan pada meja operasi dengan tali untuk mempertahankan posisi. Daerah craniolateral femur sinister diolesi alkohol secara sirkuler dari sentral ke perifer dan ditunggu 2 menit dan dilakukan pengolesan iodium tincture dengan cara yang sama. Duk dipasang pada bagian tubuh dengan menempatkan lubang duk tepat didaerah yang akan diincisi (bagian tubuh yang lain tertutup duk), keempat sudut difiksasi dengan duk klem. Hewan dipantau frekuensi nafas, suhu dan pulsusnya setiap 10 menit mulai teranestesi sampai hewan kembali sadar.

Gambar 10. Ekspose os femur lewat open approach.

Irisan kulit dilakukan pada sepanjang craniolateral tulang yang segaris dari trochanter mayor ke patella. Demikian pula jaringan subkutannya. Kulit dan jaringan subkutan diretraksikan, fascia lata diiris pada sepanjang tepi cranial muskulus biceps femoris. Setelah fascia diiris tampak septum muskulus. M. biceps femoris dirarik ke kaudal dan m. vastus lateralis ditarik ke depan sehingga tampak bagian permukaan tulang femur. Demikian pula retraksi dilakukan untuk m. adduktor magnus ditarik ke belakang dan vastus intermedius dipreparir dan ditarik ke depan. Usahakan batang tulang terlepas dari muskulus disekitarnya.

Lakukan pemotongan os femur dengan gergaji sampai putus dengan arah potongan transversal. Setelah itu kedua potongan tulang difiksasi dengan memasang pin intramedullar bantuan alat bor manual kearah proksimal terlebih dahulu hingga menembus kulit, selanjutnya kearah distal sampai pangkal os femur. Panjang pin sudah diukur agar tidak menembus bagian distal os femur. Setelah tulang terfiksir dengan baik dan pin terpasang dengan baik maka lakukan fiksasi muskulus dengan mempertautkan muskulus dengan muskulus, lakukan fiksasi dengan jahitan dengan benang cat gut chromic ukuran 2/0 dengan pola jahitan sederhana tunggal. Setelah itu subkutan difiksasi dengan jahitan sederhana menerus dengan benang cat gut plain ukuran 3/0. Selanjutnya kulit difiksasi dengan melakukan jahitan dengan benang katun dengan pola sederhana tunggal. Kemudian bekas jahitan diberi iodium tincture dan salep bioplacenton. Setelah itu diberi injeksi Ampicillin secara intramuskuler sebanyak volume yang telah ditentukan.

Perawatan post operasi

Untuk perawatan luka bekas operasi anjing diberi antibotik Ampicilline secara intramuskuler sehari dua kali selama 3 hari dan diolesi salep iodine dan salep bioplacenton setiap pagi dan sore hari.

RIWAYAT KASUS

Pada tanggal 10 September 2008 telah dilakukan pemeriksaan pada seekor anjing lokal jantan berumur 3 bulan dengan berat badan 2,4 kg, milik Anggit yang beralamat di Jl. Damai Gg. Sumberan 31A, Yogyakarta. Pemilik memberikan keterangan bahwa anjing tersebut dibeli 1 minggu sebelumnya di Bantul, nafsu makan dan minum normal, tidak diare, tidak muntah, pakan yang diberikan adalah nasi dicampur wishkas, hati atau pedigree, anjing tersebut belum pernah divaksin, belum pernah diberi obat cacing, dan anjing tersebut sudah dipuasakan sehari sebelumnya. Pemilik menginginkan anjingnya dioperasi fraktur femur.

Hasil pemeriksaan fisik menunjukan ekspresi muka ceria, kondisi tubuh kecil. Frekuensi nafas 30 kali per menit, frekuensi pulsus 84 kali per menit, dan suhu tubuh 37 oC. Turgor kulit normal (<2>ketombe. Konjungtiva dan ginggiva anemis, CRT <2 style="">

Suara sistole dan diastole dapat dibedakan secara jelas dan normal (ritmis). Palpasi ginjal tidak mengalami rasa sakit serta urinasi normal. Reflek pupil, palpebra, dan pedal baik, serta anjing mampu berdiri dan berjalan dengan keempat kaki secara normal.

Hasil pemeriksaan darah rutin menunjukkan bahwa anjing tersebut mengalami anemia, leukositosis dengan neutrofilia, dan hipoproteinemia. Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorik, maka operasi fraktur femur anjing “A Tse” dapat dilakukan.

Premedikasi yang digunakan dalam operasi ini adalah atropin sulfat 0,025% dengan dosis 0,04 mg/kg BB secara sub cutan. Anestesi berupa campuran ketamin HCl 10% dengan dosis 15 mg/kg BB dengan xylazine 2% dengan dosis 2 mg/kg BB diberikan 15 menit secara intra muskuler pasca pemberian atropin sulfat.

Perawatan pasca operasi yang dilakukan adalah injeksi ampicillin 10% dengan dosis 10 mg/kg BB secara intra muskuler dua kali sehari selama 5 hari dan pemberian salep bioplacenton dua kali sehari secara topikal sampai luka mengering. Jahitan dapat dilepas 1 minggu setelah operasi.

HASIL

A. Pre Operasi

A.1. Status Present :

Tanggal : 11 September 2008

Nama pemilik : Anggit

Alamat pemilik : Jl. Damai,Yogyakarta

Macam hewan : Anjing

Nama hewan : A Tse

Signalemen : Lokal (hitam coklat), jantan umur 3 bulan, BB 2,4 kg.

Mahasiswa : Anggit Surindra, SKH

Anamnesis :

Anjing tersebut dibeli 1 minggu sebelumnya di Bantul, nafsu makan dan minum normal, tidak diare, tidak muntah, pakan yang diberikan adalah nasi dicampur wishkas, hati atau pedigree, anjing tersebut belum pernah divaksin, belum pernah diberi obat cacing, anjing tersebut sudah dipuasakan sehari sebelumnya, dan minta dioperasi fraktur femur.

Status Praesens :

1. Keadaan umum : Ekspresi muka ceria dan kondisi tubuh kecil.

2. Frekuensi nafas : 30 kali per menit

3. Frekuensi pulsus : 84 kali per menit

4. Panas Badan : 37˚C

5. Kulit dan Rambut

Rambut mudah rontok, kusam, turgor kulit normal (<2>.

6. Selaput lendir

Konjungtiva dan ginggiva anemis (putih pucat), Capillary Refill Time (CRT) kurang dari 2 detik.

7. Kelenjar Limfe

Lgl. superficial tidak mengalami perubahan (tidak menunjukkan gejala sakit saat dipalpasi dan tidak mengalami pembengkakan maupun atropi).

8. Pernafasan

Cuping hidung lembab, tidak ada leleran yang keluar dari hidung. Tipe pernafasannya torakoabdominal dengan suara vesikuler saat diauskultasi. Hasil perkusi pada bagian kiri tubuh menunjukkan kedaan yang normal (sepertiga atas daerah perkusi resonan, dua pertiga sedikit resonan, dan sepertiga bawah pekak).

9. Peredaran darah

Peredaran darahnya normal. Hasil auskultasi yaitu suara sistole dan diastole dapat dibedakan dengan jelas dan normal (ritmis).

10. Pencernaan

Mulut bersih, palpasi esofagus normal (reflek menelan yang masih baik). palpasi abdomen tidak ada rasa sakit, anus bersih.

11. Kelamin dan perkencingan

Kelamin dan perkencingan normal. Urinasi normal dan tidak ada rasa sakit saat ginjal dipalpasi.

12. Syaraf

Sistem saraf normal (reflek palpebrae, reflek pupil mata, dan reflek pedal masih berfungsi dengan baik).

13. Anggota gerak

Anjing dapat berdiri normal dengan 4 kaki dan berjalan secara normal.

14. Pemeriksaan laboratorium

a. Feses : tidak dilakukan

b. Urine : tidak dilakukan

c. Kulit : tidak dilakukan

d. Darah :

Tabel 2. Hasil pemeriksaan darah anjing “A Tse” sebelum operasi.

Data

Hasil

Normal

Interpretasi

Hematokrit (%)

25

37-50

Anemia

Hemoglobin (gr/dl)

8.8

12.4-19.1

Anemia

Eritrosit (x106 sel/mm3)

3.9

5,2-8,06

Anemia

Leukosit (x103)

24.95

5.4-15.3

Meningkat

Neutrophil segmented

Relatif (%)

93

51-84

Meningkat

Absolut (x103)

23.20

5000-10800

Eosinofil

Relatif (%)

1

0-9

Normal

Absolut (x103)

0.25

370-840

Monosit

Relatif (%)

5

1-9

Normal

Absolut (x103)

1.25

190-410

Limfosit

Relatif (%)

1

8-38

Menurun

Absolut (x103)

0.25

2400-5260

TPP (gr/dl)

6

5.8-7.2

Normal

Fibrinogen (mg/dl)

300

200-400

Normal

13. Diagnosis : Sehat.

14. Prognosis : Fausta

15. Tata Laksana : Operasi fraktur femur

A.2. Pemberian Obat

· Premedikasi : Atropin sulfat secara subcutan jam 12.43 WIB

- Konsentrasi 0,025%, dosis 0,04 mg/kg BB

- BB anjing : 2,4 kg

- Volume dosis : 0,4 ml

· Anestesi : Ketamin HCl – Xylazine secara intramuskuler jam 13.05 WIB (15 menit pasca pemberian atropin sulfat), dan anjing mulai hilang keseimbangan jam 13.20 WIB, serta teranestesi jam 13.22 WIB.

- Ketamin HCl : Konsentrasi 10%, dosis 15 mg/kg BB (BB: 2,4 kg)

Volume dosis : 0,36 ml

- Xylazine : Konsentrasi 2%, dosis 2 mg/kg BB (BB : 2,4 kg)

Volume dosis : 0,25 ml

B. Operasi

Ada penambahan 1 kali dosis anestesi Ketamin HCl-Xylazine. Pengamatan temperatur selama operasi mulai pukul 13.22 sampai 15.52, yaitu sebagai berikut:

Jam

Suhu (oC)

13.22

38.1

13.32

38.0

13.42

37,2

13.52

37,7

14.02

36,6

14.12

37,2

14.22

36.5

14.32

36.6

14.42

37.4

14.52

37.8

15.02

37.6

15.12

37.2

C. Post Operasi

C.1. Suhu :

Jam

Suhu (oC)

15.22

37,1

15.32

37,5

15.37

37,4

15.42

37,5

15.47

37,6

15.52

37,6

C.2. Perawatan dan Kondisi Post Operasi :

Tabel 3. Hasil monitoring perkembangan kondisi anjing “A Tse” setelah operasi.

Tgl

Obat

N

P

T (oC)

Keterangan

P

S

P

S

P

S

12/09

1. Ampicillin

0,25 ml

2. Betadine

36

48

80

116

38

38.5

Belum mau makan, minum lancar, infuse RD, urinasi & defekasi lancar, jumlah jahitan 12, luka basah, belum ada pertautan, sekitar jahitan tidak bengkak, warna memerah.

13/09

40

44

156

128

38.2

38.5

Belum mau makan, minum lancar, infuse RD, urinasi & defekasi lancar, jumlah jahitan 12, luka basah dan memerah, belum ada pertautan luka, jahitan tidak ada yang lepas.

14/09

48

38

156

136

38.9

38,1

Belum mau makan pagi hari tapi sore mau & minum lancar, infuse RD, urinasi & defekasi lancar, feses agak lembek, jahitan operasi 11, mulai ada pertautan luka, luka mulai mengering, warna merah berangsur menurun.

15/09

48

44

132

72

38.8

38.1

Nafsu makan & minum baik, urinasi & defekasi lancar, jumlah jahitan 11, ada luka yang terbuka, tapi sudah mengering, luka jahitan yang tidak terbuka mulai mengering dan menutup dengan baik.

16/09

32

-

72

-

38.3

-

Jumlah jahitan 10, mau makan dan minum. Kaki masih diangkat saat berjalan. Luka disekitar jahitan kering, anjing dipulangkan sore hari.

Banyaknya jahitan yang dilakukan untuk melakukan fiksasi dari muskulus sampai kulit adalah :

Muskulus : 5 jahitan, pola jahitan sederhana tunggal, benang jahitan cat gut

chromic.

Sub kutan : 1 jahitan, pola jahitan sederhana menerus, benang jahitan cat gut

plain.

Kulit : 12 jahitan, pola jahitan sederhana tunggal, benang jahitan katun.


PEMBAHASAN

Prinsip dalam penanganan fraktur adalah dengan 4 R, yaitu Rekognisi, Reduksi, Retensi dan Rehabilitasi. Namun dalam kasus mandiri ini, anjing yang digunakan sebagai probandus adalah anjing yang sehat. Pembahasan dalam laporan ini yaitu dari prosedur pelaksanaan operasi yang dilakukan, yaitu meliputi persiapan pre-operasi, pelaksanaan operasi, dan perawatan pos operasi.

Persiapan Pre-operasi

Pemeriksaan umum

Pemeriksaan pada anjing lokal betina, berumur 3 bulan, berat badan 2,7 kg, bernama “A Tse” diawali dengan anamnesa yang meliputi gambaran keadaan anjing, penyakit-penyakit yang pernah diderita, keadaan lingkungan, pakan, dll. Hasil anamnesa yang diperoleh antara lain anjing tersebut baru dibeli 1 minggu sebelumnya di Bantul, nafsu makan dan minum normal, tidak diare, tidak muntah, pakan yang diberikan adalah nasi dicampur wishkas atau pedigree, anjing tersebut belum pernah divaksin, belum pernah diberi obat cacing, dan anjing tersebut sudah dipuasakan sehari sebelumnya. Pemilik menginginkan anjingnya dioperasi fraktur femur.

Pemeriksaan umum diawali dengan inspeksi dari jarak jauh dan dekat. Usahakan hewan dalam keadaan yang tenang. Berdasar hasil inspeksi, diketahui bahwa ekspresi muka anjing tersebut ceria, dan kondisi tubuhnya kecil dan kurus. Rambut mudah rontok dan kusam, turgor kulit normal (<2>

Konjungtiva dan ginggiva tampak anemis (putih pucat), dengan Capillary Refill Time yang normal yaitu kurang dari 2 detik. Limfoglandula superficial juga tidak mengalami perubahan atau tidak menunjukkan gejala sakit saat dipalpasi dan tidak mengalami pembengkakan maupun atropi.

Pemeriksaan suhu tubuh dilakukan dengan cara memasukkan termometer ke dalam rektum dan hasilnya yaitu 37°C. Hal ini tergolong normal karena suhu tubuh anjing normalnya adalah 37,6-39,5°C (Surono dkk, 2005). Pemeriksaan dilanjutkan pada alat pernafasan. Cuping hidung tampak lembab dan tidak ada leleran yang keluar dari hidung. Palpasi dilakukan pada daerah fascialis, pharynx, larynx, dan trachea. Hasil palpasi menunjukkan bahwa tidak ada rasa sakit pada organ yang dipalpasi. Saat auskultasi diperoleh hasil bahwa tipe pernafasan anjing tersebut torako abdominal dengan suara vesikuler yang dominan. Hasil perkusi pada bagian kiri tubuh menunjukkan kedaan yang normal yaitu sepertiga atas daerah perkusi resonan, dua pertiga sedikit resonan, dan sepertiga bawah pekak karena ada jantung.

Pemeriksaan frekuensi nafas dilakukan dengan cara melihat kembang kempisnya daerah torako abdominal atau bisa juga dengan menempelkan telapak tangan di daerah cuping hidung. Menurut hasil pemeriksaan, frekuensi nafas anjing tersebut adalah 24 kali per menit. Hal ini tergolong normal karena frekuensi nafas normal anjing adalah 24 – 42 kali per menit (Surono dkk, 2005).

Pemeriksaan pulsus pada anjing dilakukan dengan meraba arteri femoralis yang terdapat pada sebelah medial femur. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa frekuensi pulsus anjing tersebut adalah 126 kali per menit. Frekuensi pulsus ini tergolong normal karena frekuensi pulsus anjing normalnya adalah 76-148 kali per menit (Surono dkk, 2005). Setelah itu, dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap sistem sirkulasinya. Hasil pemeriksaan yang diperoleh adalah peredaran darah anjing tersebut tergolong normal yaitu saat diauskultasi, suara sistole dan diastole dapat dibedakan dengan jelas dan normal (ritmis). Pemeriksaan dilanjutkan dengan sistem pencernaan. Mulut anjing dibuka dengan cara menekan bibir anjing ke bawah gigi (ke dalam mulut). Hal ini bertujuan untuk melihat kondisi di dalam mulut. Kondisi mulut anjing tersebut normal (bersih, tidak ada lesi-lesi, dan tidak ada kerusakan pada gigi). Palpasi dilakukan pada daerah esofagus dan hasilnya adalah normal dengan reflek menelan yang masih baik. Palpasi pada daerah abdomen tidak menunjukkan adanya rasa sakit, dan anus tampak bersih.

Pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan sistem urogenital, dan hasilnya adalah normal atau tidak mengalami perubahan. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya rasa sakit saat palpasi ginjal maupun saluran urin yang lain. Hasil pemeriksaan pada sistem syaraf adalah normal (reflek palpebrae, reflek pupil, dan reflek pedal masih berfungsi dengan baik), dan hasil pemeriksaan alat gerak juga normal (anjing dapat berdiri dan berjalan dengan 4 kaki secara normal).

Pemeriksaan laboratorium

Hasil pemeriksaan laboratorik terhadap darah antara lain kadar hematokrit 25%, hemoglobin 8.8 gr/dl, eritrosit 3.90 juta/mm3, leukosit 24950 sel /mm3, neutrophil segmented 93%, eosinofil 1%, monosit 5%, limfosit 1%, TPP 5,0 gr/dl, dan fibrinogen 400 mg/dl. Berdasar gambaran darah tersebut, maka anjing yang diperiksa mengalami anemia karena nilai PCV, hemoglobin, dan eritrosit turun. Anemia dapat disebabkan karena perdarahan, proses radang, defisiensi vitamin B12, defisiensi Fe, defisiensi asam folat, adanya infeksi bakterial (misalnya Clostridium hemoliticum, Leptospira icterohemoragiae, dll), adanya infeksi parasit (misalnya anaplasma, piroplasma, eperytozoon, dan ektoparasit-ektoparasit penghisap darah), adanya infeksi virus, dan lain-lain (Hariono, 2005).

Hasil penghitungan jumlah leukosit dan neutrofil didapatkan peningkatan pada keduanya. Jumlah leukosit yang mengalami peningkatan disebut leukositosis. Menurut Kirk dan Bistner (1985), leukositosis didefinisikan sebagai peningkatan jumlah leukosit diatas range normalnya per μl. Biasanya secara instan, hanya ada satu sel yang predominan meningkat, tetapi peningkatan secara simultan dari sel lain juga dapat terjadi. Peningkatan jumlah total neutrofil melebihi sel-sel yang lain, sehingga leukositiosis biasanya dinyatakan dengan neutrofilia kecuali tipe sel spesifik ditandai peningkatannya.

Pelaksanaan operasi

Berdasar pertimbangan anamnesa, pemerikaan fisik, dan pemeriksaan laboratorik, maka anjing “A Tse” dinyatakan dapat dioperasi fraktur femur. Anjing harus dipuasakan makan 12 jam dan puasa minum selama 2 jam sebelum dilakukan operasi, dengan tujuan agar kondisi usus dalam keadaan kosong sehingga anjing tidak muntah dalam kondisi teranestesi. Bagian tubuh yang akan diincisi yaitu daerah craniolateral femur dibasahi dengan air sabun untuk memudahkan pencukuran. Rambut anjing tersebut dicukur dengan menggunakan silet yang tajam, dibersihkan dengan air, kemudian diolesi dengan yodium tincture. Setelah itu, lakukan penimbangan berat badan anjing untuk menentukan semua volume obat yang akan digunakan.

Premedikasi yang digunakan dalam operasi ini adalah atropin sulfat 0,025% dengan dosis 0,04 mg/kg BB secara sub cutan. Berat badan anjing adalah 2,7 kg, sehingga volume dosis atropin sulfat yang diinjeksikan adalah 0,4 ml. Premedikasi sangat diperlukan dalam suatu operasi, dengan tujuan untuk memudahkan dalam melakukan anestesi sehingga membuat hewan menjadi tenang dan untuk menghindari kejadian yang fatal bagi hewan saat operasi maupun setelah operasi (Brander et al., 1991). Atropin merangsang medulla oblongata dan pusat lain di otak pada susunan syaraf pusat, mendepres beberapa pusat motorik dalam otak, dan dapat menghilangkan tremor (Jones and Lumb, 1984). Pemberian atropin sulfat ditujukan untuk meniadakan efek saliva dan sekresi eksokrin, bronkodilatator, mengurangi aktivitas traktus digestivus, menghambat urinasi, menekan aksi vagus, dan mendilatasi pupil selama anestesi (Brander et al., 1991).

Anestesi yang digunakan dalam operasi ini adalah campuran xylazine 2% dosis 2 mg/kg BB dengan ketamin HCL 10% dosis 15 mg/kg BB yang diberikan secara intra muskuler. Adapun volume dosis ketamin HCl yang diinjeksikan adalah 0,36 ml dan volume dosis xylazine yang diinjeksikan adalah 0,25 ml. Ampicillin 10% dengan dosis 10 mg/kg BB juga perlu dipersiapkan. Ketamin HCl bekerja dengan cara memutus syaraf asosiasi, serta korteks otak dan talamus optikus dihentikan sementara, sedangkan sistem limbik dipengaruhi. Ketamin HCl merupakan analgetika yang tidak menyebabkan depresi dan hipnotika pada sistem syaraf pusat, tetapi berperan sebagai kataleptika. Reflek mulut dan menelan tetap ada, serta mata masih terbuka pasca pemberian ketamin HCl (Kumar, 1997; Jones and Lumb, 1984). Xylazine merupakan sedativa non-narkotik dan analgetika yang paling baik, serta baik untuk relaksasi muskulus. Aktifitas sedativa dan analgetikanya berhubungan dengan depresan pada sistem saraf pusat melalui stimulasi pada reseptor α2. Efek terjadinya relaksasi muskulus disebabkan adanya hambatan pada transmisi intraneural dari impuls pada sistem syaraf pusat (Jones and Lumb, 1984). Anestesi dengan ketamin-xylazine memiliki efek lebih pendek jika dibandingkan dengan pemberian ketamin saja, tetapi kombinasi ini menghasilkan relaksasi muskulus yang baik tanpa konvulsi (Jones and Lumb, 1984). Efek sedasi xylazin akan muncul maksimal 20 menit setelah pemberian secara intra muskular dan akan berakhir setelah 1 jam, sedangkan efek anestesi ketamin HCl akan berlangsung selama 30-40 menit dan untuk recovery dibutuhkan waktu 5-8 jam (Sardjana dan Kusumawati, 2004). Efek anestesi kombinasi ketamin HCl dengan xylazin pada operasi ini berlangsung selama 45 menit.

Persiapan alat-alat operasi

Peralatan operasi disiapkan sedemikian rupa dalam keadaan steril, pengaturan tata letak dilakukan sedemikian rupa untuk memudahkan kelancaran jalannya operasi. Yang perlu diperhatikan adalah pin intra medullar yang akan digunakan harus dalam kondisi benar-benar steril. Kondisi ini dapat dilakukan dengan merendam pin dengan alkohol 70%.

Pada pelaksanaan operasi ini, pin intramedullar yang disiapkan menggunakan jeruji roda sepeda yang telah dimodifikasi sedemikian rupa dengan kedua ujung dibuat lancip untuk memudahkan pemasangan.

Persiapan operator dan ko-operator.

Operator dan ko-operator memakai gaun operasi yang telah disiapkan, mencuci tangan dengan larutan PK, serta memakai sarung tangan dan masker steril.

Operasi fraktur

Daerah craniolateral femur sinister anjing diolesi alkohol secara sirkuler dari sentral ke perifer dan ditunggu 2 menit dan dilakukan pengolesan iodium tincture dengan cara yang sama. Duk dipasang pada bagian tubuh dengan menempatkan lubang duk tepat didaerah yang akan diincisi (bagian tubuh yang lain tertutup duk), keempat sudut difiksasi dengan duk klem.

Irisan kulit dilakukan pada sepanjang craniolateral tulang yang segaris dari trochanter mayor ke patella. Umumnya, insersi plat dan bentuk fraktur kominutiva membutuhkan incisi yang lebih panjang. Demikian pula jaringan subkutannya. Kulit dan jaringan subkutan diretraksikan, fascialata diiris pada sepanjang tepi cranial muskulus biceps femoris. Setelah fascia diiris tampak septum muskulus. M. biceps femoris ditarik ke kaudal dan m. vastus lateralis ditarik ke depan sehingga tampak bagian permukaan tulang femur. Usahakan batang tulang terpisah dari muskulus disekitarnya.

Lakukan pemotongan terhadap os femur menggunakan gergaji khusus hingga terpotong menjadi dua bagian. Setelah terpotong menjadi dua bagian, dilakukan pemasangan pin intramedullar yang telah disiapkan. Pemasangan pin intramedular pada operasi kali ini menggunakan metode retrograde (Permattei et al., 2006). Dimana pemasangan pin dimulai dari fragmen tulang bagian proksimal, dimulai dari lokasi fraktur sampai menembus ujung proksimal os femur.

Pemasangan dilakukan dengan menusukkan pin ke fragmen tulang bagian proksimal hingga pin keluar menembus kulit dengan menggunakan alat bor manual. Selanjutnya bor dipasang diujung pin yang atas yang telah menembus kulit, kedua sisi ujung potongan tulang direposisi hingga benar-benar lurus, lalu pin didorong kearah distal sampai pangkal os femur. Sebelum dilakukan pemasangan, pin sudah diukur agar tidak sampai menembus pangkal femur. Selanjutnya lalukan pemotongan pin bagian proksimal sejajar dengan kulit.

Setelah pin intramedullar terpasang, dilakukan reposisi terhadap muskulus, difiksasi dengan jahitan sederhana tunggal menggunakan benang cat gut chromic ukuran 2/0. Pemilihan benang cat gut chromic karena benang ini adalah salah satu benang yang bias diserap oleh tubuh dalam jangka waktu yang tidak terlalu cepat, dan digunakan ukuran 2/0 karena untuk musculus diperlukan fiksasi yang kuat selama proses penyembuhan. Jahitan terhadap musculus dilakukan sebanyak 5 jahitan.

Selanjutnya subcutan direposisi dengan dilakukan fiksasi dengan satu jahitan sederhana menerus dengan benang cat gut plain ukuran 3/0. Benang ini dipilih karena lebih cepat diserap. Lalu dilakukan reposisi kulit dengan fiksasi jahitan sederhana tunggal sebanyak 12 jahitan dengan menggunakan benang katun tang telah disterilisasi dengan larutan antiseptik.

Setelah proses reposisi selesai, luka jahitan diolesi dengan iodine tincture, dibiarkan sampai mengering sendiri selanjutnya diolesi dengan bioplasenton jelly. Yodium selain untuk untuk desinfeksi dapat juga dipakai untuk mengobati luka serta sebagai agen fungusida. Kemampuan yodium dalam menembus dinding sel sangat tinggi, dan karena adanya gangguan metabolisme pada protoplasma, kuman akan mati. Larutan tersebut apabila mengenai luka akan menyebabkan rasa perih dan meninggalkan warna jaringan (Brander et al., 1991).

Bioplasenton jelly dipilih karena mengandung ekstrak plasenta yang bisa memacu pertumbuhan sel. Bioplasenton jelly merupakan obat luar dengan kandungan ekstrak plasenta 10%, neomycin sulfat 0,5% dan jelly sampai 100%. Bioplasenton adalah ekstrak plasenta yang mengandung biogenik stimulator yang menstimulus proses metabolisme sel berupa peningkatan konsumsi O2 pada sel-sel hepar, percepatan regenerasi sel dan penyembuhan luka. Neomycin sulfat adalah antibiotik topikal dengan potensi melawan bakteri gram positif dan gram negatif, tidak dirusak oleh eksudat atau dengan produk metabolisme bakteri. Kombinasi dari bioplasenton dan neomycin sulfat menyebabkan kesembuhan yang cepat (Brander et al, 1991).

Selanjutnya anjing diinjeksi dengan Ampicillin dengan dosis 0,10 ml/kg berat badan secara intra muscular. Ampicillin mempunyai aktivitas bakterisid dan merupakan antibiotika spektrum luas serta aktif melawan sejumlah mikroorganisme gram positif dan negatif. Aktivitas terhadap bakteri meliputi Streptococcus, Staphylococcus, Corynebacterium, Clostridium, Fusiformis, E. Coli, Klebsiella, Shigella, Proteus, Brucella dan Pasteurella.

Perawatan post operasi

Segera setelah operasi selesai dilakukan kontrol terhadap temperatur tubuh anjing pada pagi dan sore hari. Pemberian ampicillin 2 kali sehari selama tiga hari diharapkan dapat mencegah terjadinya infeksi bakteri dan dapat membantu mempercepat proses kesembuhan luka.

Perawatan terhadap luka jahitan dengan menggunakan bioplasenton jelly yang dioleskan 2 sampai 3 kali sehari. Pada hari ke empat post operasi, terjadi keradangan pada daerah luka, hal ini terjadi karena didalam luka banyak terdapat runtuhan-runtuhan jaringan tulang yang difagosit oleh sel-sel limfosit. Pada hari ke 6 seluruh jahitan kulit sudah dilepas, dan terjadi kesembuhan primer pada luka sayatan kulit.

Proses kesembuhan luka adalah suatu respon imun alami apabila tubuh mengalami luka. Pada dasarnya proses kesembuhan luka dibedakan menjadi: proses kesembuhan primer dan proses kesembuhan sekunder (kesembuhan granulasi).

Kesembuhan primer akan dapat terjadi apabila luka yang masih baru, luka yang diperbarui, luka yang dalam keadaan aseptik, luka yang tidak mengalami perdarahan lagi, tepi luka teriris licin dan dipertemukan dengan jahitan atau cara lain, suplai darah pada dinding luka cukup bagus, tidak ada jaringan mati pada tepi luka.

Apabila terjadi kelukaan, darah akan mengalir dari pembuluh darah yang terpotong ke tempat luka, darah kemudian menjendal. Dalam beberapa jam, bekuan darah pada luka akan kehilangan cairan sehingga bagian dari permukaan luka menjadi dehidrasi dan terbentuklah keropeng (scab) yang berfungsi melindungi luka. Bersamaan dengan reaksi tersebut, permeabilitas kapiler dari pembuluh darah yang terganggu akibat adanya luka permeabilitasnya menjadi meningkat dan segera terjadi eksudasi dalam waktu 12 jam yang berisi RBC, leukosit polimorfonuklear, makrofag dan fibrin mengisi luka. Selanjutnya, sel-sel kolagen yang terdapat pada luka akan membengkak dan mengalami hialinisasi, sehingga pada daerah luka akan terasa bengkak dan sakit. Jumlah sel polimorfonuklear akan meningkat pada waktu 24 jam, diikuti dengan fragmentasi pada 48 jam. Pada 25-72 jam aktivitas makrofag akan meningkat sehingga jaringan mati di daerah luka sedikit demi sedikit akan dibuang. Peningkatan fibroblast terjadi pada hari ke 3-5 dan menempatkan dirinya dalam posisi tegak lurus pada arah irisan luka.

Menurut Archibald (1974), proses kesembuhan fraktur hampir sama dengan kesembuhan pada jaringan lunak, hanya saja tidak terbentuk serabut kolagen melainkan terbentuk osteosit dan matriks tulang. Fase pertama yaitu terjadi peningkatan kegiatan sel-sel tulang yang akan mengisi celah antara ujung patahan tulang dengan dibentuknya jaringan yang banyak mengandung sel. Fase kedua yaitu terbentuknya matriks tulang yang dibentuk di dalam sumsum tulang dan di sekeliling ujung patahan tulang membentuk selubung penguat yang disebut kalus. Jaringan kalus ini lama-lama akan diabsorbsi lagi yang kemudian akan terjadi kondensasi garam-garam kalsium pada matriks sehingga akan terbentuk sistema haversi dan matriks akan menjadi tulang yang sempurna.

Prinsip penanganan fraktur, seperti sudah disebutkan, yaitu dengan 4 R (Rekognisi, Reduksi, Retensi dan Rehabilitasi). Dalam kasus mandiri ini, rekognisi atau anamnesa yang biasanya dilakukan dengan pengambilan foto rongent bertujuan untuk mengetahui letak dan posisi tulang yang mengalami fraktur tidak dilakukan, karena anjing yang dipakai sebagai probandus adalah anjing sehat.

Reduksi atau reposisi, dalam kasus mandiri ini dilakukan dengan teknik reposisi terbuka dengan jalan melakukan preparir melalui sisi craniolateral os femur sinister untuk mencapai os femur.

Retensi atau immobilisasi, dilakukan dengan metode pemasangan pin intrameduller, teknik ini dilakukan karena untuk os femur dengan model fraktur tranversal, pemasangan pin intramedullar dirasa paling tepat untuk melakukan immobilisasi agar tulang tidak mengalami pergeseran fragmen selama proses kesembuhan berlangsung.

Rehabilitasi atau perawatan post operasi dilakukan dengan melakukan perawatan dan pengamatan intensif selama 5 hari post operasi. Perawatan yang dilakukan berupa pemberian antibiotik injeksi 2 kali sehari selama 3 hari, perawatan pada luka luar dengan diolesi bioplasenton jelly 2 sampai 3 kali sehari hingga luka sembuh primer.


KESIMPULAN

Reposisi dan immobilisasi fraktur tranversal os femur sinister pada anjing “A Tse” dengan reposisi terbuka dan pemasangan pin intramedullar dilakukan dengan baik. Proses kesembuhan luka yang terjadi adalah kesembuhan luka sekunder.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. A Short Preview of Human Anatomy & Physiology. SweetHaven Publishing Services. http://rds.yahoo.com/

Anonim. 2008. Ampicillin. www.antibioticos.it/ampi-fpr.htm

Anonim. 2008. Atropin. www.znanje.org/i/i19/99iv03/99iv0317/99iv0317

Anonim. 2008. Ketamin. Berlin : Redaktion Konturen. www.konturen.de/NEU_pages/a_z/ketamin.html

Anonim. 2008. Neomycin. GNU-Lizenz für freie Dokumentation Wikimedia Foundation Inc. http://de.wikipedia.org/wiki/Neomycin

Anonim. 2008. Streptomycin. http://www-micro.msb.le.ac.uk/index.html 2004.

Archibald, J. 1974. Canine Surgery 2nd Edition. America Veterinary Publication. Amerika.

Benjamin, Maxine M. 1981. Outline of Veterinary Clinical Pathology Third edition. Iowa: The Iowa State University Press.

Bistner, S.l and Kirk, R.W. 1985. Hand Book of Veterinary Procedures and Emergency Treatment 4th. W.B. Saunders Company, Philadelpia.

Boden, Edward. 2005. Black Veterinary Dictionary 21st Edition. Soho Square, London.

Brander, G.C., Pugh, D.M., Bywater, R.J., and Jenkins, W.L. 1991. Veterinary Applied Pharmacology and Therapeutic 5th. Baillere Tindal. ELBS. Inggris.

Coles, E.H., 1986, Veterinary Clinical Pathology, 4th ed., W.B Saunders Company, Piladelphia London, pp 64-65, 68-69.Columbus, Ohio.

Donald, C.S., 1982, The Practice of Small Animal Anasthesia. WB Saunders Company, Philadelphia.

Donald L.P, D.V.M., Ph.D., 1993. An Atlas of Surgical Approaches to the Bones and Joints of the Dog and Cat, Third edition. W.B Saunders Company. Philadelphia, Pennsylvania.

Dukes, H.H., 1957, The Physiology of Domestic Anima, 6th ed., Camstock Publishing Associates, Ithaca New York, pp 48, 392-396, 406-425.

Frandson, 1986, Anatomy and Physiology Farm Animal, 4th Ed., LEA and Febiger, Philadelphia.

Guyton dan Hall, 1987. Fisiologi Kedokteran. W.B. Saunder Company. Phyladelphia.

Hall, L.W., dan Charke, K.W., 1978, Veterinary Anasthesia, 8th ed., English Language Book Society and Bailehere Tindall, London.

Hariono, B., 2005. Buku Panduan Kuliah Patologi Klinik : Hematologi. Laboratorium Patologi Klinik. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Gadjah Mada.

Kirk, R. W. And Bistner, S. J. 1985. Handbook of Veterinary Procedures and Emergency Treatment. 3th edition. Philadelphia: W. B. Sounders Co.

Kumar, A. 1997.Veterinary Surgical Technique 1st. Vikas Publishing, New Delhi.

Lumb, W.V., dan Jones, E.W., 1984, Veterinary Anasthesia, 2nd ed., Lea and Febriger, Philadelphia.

Meyer, K., Lacroix, J. V. And Hoskins, H. P., 1962. Canine Medicine 2th edition. American Veterinary Publication Inc. Santa Barbara, California.

Mitruka, B. M., and Rawnsley, H. M., 1981. Clinical Biochemical and Hematological Reference Values in Normal Experimental Animals and Normal Humans Second edition. Year Book Medical Publisher Inc.

Muir, W.W., 1987. An Outline of Veterinary Anesthesia. Columbus: Anesthesia Dept., Dept. of Veterinary Clincical Sciences, Ohio State University.

Permattei D.L., Gretchen L. F., Charles E.D., 2006. Brinker, Permattei and Flo’s Handbook of Small Animal Orthopedics and Fracture Repair, 4th Edition. Saunders Elsevier. St. Louis, Missouri.

Plumb, DC., 1999. Veterinary Drugs Handbook 3rd Edition, Iowa State University Press. Ames.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar