Senin, 17 Mei 2010

KEJADIAN MASTITIS SUBKLINIS PADA SAPI PERAH

PENDAHULUAN

Mastiti (Radang Ambing)

Usaha peternakan di Indonesia mempunyai potensi berkembang pesat, mengingat cukupnya ketersediaan pakan dan keragaman jenis ternak yang ada. Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang nilai gizi serta kebutuhan konsumsi masyarakat akan protein hewani, juga turut mendukung berkembangnya usaha peternakan rakyat. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan konsumsi protein hewani bagi penduduk Indonesia adalah dengan mengembangkan peternakan sapi perah (Tuasikal, 2003). Peternakan sapi perah merupakan komoditas yang paling penting, namun produktifitasnya belum mencapai maksimum. Penyakit radang ambing merupakan salah satu kendala dalam usaha peningkatan produktifitas sapi perah tersebut. Penyakit radang ambing atau yang dikenal sebagai mastitis merupakan masalah utama dalam peternakan sapi perah karena menyebabkan kerugian yang besar akibat penurunan produksi susu, penurunan kualitas susu, biaya perawatan dan pengobatan yang mahal. Penyakit ini berhubungan langsung pada kerugian peternak karena mastitis menyebabkan terjadinya penurunan produksi dan kualitas susu yang akan menimbulkan konsekuensi tertentu dalam proses pengolahan susu selanjutnya. Perubahan fisik air susu akibat mastitis meliputi warna, bau, rasa dan konsistensi. Warna yang biasanya putih kekuningan akan berubah menjadi putih pucat atau agak kebiruan. Rasa yang agak manis berubah menjadi getir atau agak asin. Bau yang harum berubah menjadi asam. Konsistensi yang biasanya cair dengan emulsi yang merata akan berubah menjadi pecah, lebih cair, dan kadang disertai jonjot atau endapan fibrin dan gumpalan protein yang lain. Perubahan secara kimiawi meliputi penurunan jumlah kasein, sehingga apabila dibuat keju kualitasnya menurun. Protein total air susu juga menurun dengan meningkatnya jumlah albumin dan globulin dan terjadi penurunan gula susu dan laktosa sehingga nilai kalori yang dikandungnya menurun (Jasper, 1980).

Penyebaran penyakit mastitis dapat melalui pemerahan yang tidak mengindahkan kebersihan, alat pemerahan, kain pembersih puting, dan pencemaran dari lingkungan kandang yang kotor. (Mellenberger, 1997).

Tabel 1. Profil pengelolaan peternakan sapi perah (Harris 2003)


Sekilas gambaran mutu susu di lapangan lihat tabel 2.

Tabel 2. Tingkat cemaran bakteri dalam susu dan produk susu yang dijual di Bogor (Nugroho 2006-2007 belum dipublikasi).


Mastitis didefinisikan sebagai radang jaringan interna kelenjar ambing (Jamilah 2001). Istilah mastitis berasal dari kata ”mastos” yang artinya kelenjar ambing dan ”itis” untuk inflamasi (Swartz 2007). Mastitis merupakan salah satu penyakit yang sangat merugikan peternak sapi perah karena sapi penderita mastitis mengalami penurunan produksi susu. Mastitis dapat disebabkan oleh beberapa bakteri, antara lain adalah Streptococcus sp, Staphylococcus sp, dan E. Coli. Beberapa patogen yang tidak biasa (unusual pathogens) antara lain adalah Pseudomonas aeruginosa, Arcanobacterium (Actinomyces) pyogenes, Mycoplasma spp, dan Nocardia asteroides (Erskine 2007).

Mastitis merupakan inflamasi pada jaringan ambing yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen. Mikroorganisme yang biasa menyebabkan mastitis adalah bakteri yang masuk dalam ambing, berkembangbiak dan memproduksi toksin dalam glandula ambing seperti Staphylococcus aureus dan E. Coli.

Persentase kejadian Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah Di Indonesia

Kejadian mastitis 95 – 98% merupakan mastitis subklinis, sedangkan 2 – 3% merupakan mastitis klinis yang terdeteksi (Sudarwanto, 1999). Mastitis merupakan salah satu penyakit penting yang terjadi pada sapi perah yang dapat mengakibatkan penurunan roduksi susu hingga 20% (Jasper, 1980).

Mastitis sub klinis merupakan kasus yang paling banyak dan sering terjadi di lapangan pada peternakan sapi perah Sudarwanto (1999). Kejadian mastitis subklinis pada sapi perah di Indonesia sangat tinggi (95-98%) dan menimbulkan banyak kerugian. Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus merupakan 2 bakteri utama penyebab mastitis subklinis. Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa S. agalactiae dan S . aureus yang mempunyai hemaglutinin, mempunyai kemampuan adesi pada sel epitel ambing jauh lebih besar dari pada yang tidak mempunyai hemaglutinin. Hemaglutinin diduga sebagai faktor virulen yang penting (sebagai adesin), oleh karena itu perlu dikaji lebih lanjut tentang hemglutinin dari kedua bakteri ini (Wahyuni et al., 2001).

Kejadian mastitis sering diasosiasikan dengan infeksi Staphylococcus aureus (Swart et al., 1984; Shah et al., 1985). Watts et al. (1986) melaporkan bahwa S. aureus merupakan patogen utama yang sering menyebabkan mastitis subklinis dan kronis. Agus (1991) melaporkan bahwa diantara 56 ekor sapi perah di peternakan sapi perah Baturaden, 41 ekor (73,2%) menderita mastitis subklinis, dan 9,1% diantaranya disebabkan oleh Staphylococcus aureus (Salasia et al, 2005).

Berdasarkan hasil survei Aksan dan Pahlevi (2006) prevalensi kasus mastitis klinis di kecamatan Grati kabupaten Pasuruan pada tahun 2005 adalah 7,2%, sedangkan kasus mastitis subklinis tidak terdata sebab peternak tidak melaporkan terjadinya mastitis subklinis. Mastitis subklinis yang terjadi hanya ditandai dengan terjadinya penurunan produksi dan mutu susu di wilayah kerja KUTT Suka Makmur Grati Pasuruan. Penurunan produksi dan mutu susu menyebabkan harga susu yang disetorkan peternak menjadi turun, dan juga dapat menyebabkan ditolaknya susu dari peternak oleh koperasi sehingga susu harus dibuang sebab tidak layak untuk dikonsumsi (Kloos and Lambe, Jr., 1991; Subronto, 2003)

Tabel 3. Gambaran Prosentase mastitis sub klinis di Indonesia


Menurut Sudarwanto (1999), Faktor kejadian mastitis pada sapi perah meliputi:

- Ternak/sapi: kondisi ternak turun akibat cekaman lingkungan (perkandangan, ribut, pemerahan kasar, gigitan serangga, dsb)

- Penyebab keradangan: bakteri (dominan) masuk lubang puting dan berkembang menjadi peradangan.

- Lingkungan: sanitasi buruk, lecet sekitar puting

Lingkungan dengan kelembaban yang tinggi sangat mempengaruhi timbulnya infeksi bakteri dan jamur penyebab mastitis (Eniza, 2004).

Kerugian akibat Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah Di Indonesia

Mastitis merupakan penyakit yang sering terjadi pada sapi perah dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi peternakan sapi perah di seluruh dunia (Bannerman and Wall, 2005). Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh mastitis, terutama mastitis subklinis, meliputi penurunan produksi dan mutu susu, peningkatan biaya perawatan dan pengobatan, pengafkiran ternak lebih awal serta pembelian sapi perah baru (Subronto, 2003).

Fenomena kejadian Penyakit mastitis subklinis layaknya seperti gunung es, hanya sedikit data yang diketahui (mastitis klinis) dan sisanya tidak dapat diketahui (mastitis subklinis). Hal itu sangat berbahaya, bayangkan saja jika penyakit mastitis subklinis tersebut tidak bisa dipantau terutama di peternakan rakyat maka berapa liter susu yang terbuang karena tidak bisa tertampung koperasi dengan alasan mengandung jumlah bakteri yang banyak. Parahnya yang tidak terdeteksi inilah yang diyakini jumlahnya sangat besar. Sungguh memprihatinkan jika sebagian besar peternak kita sapinya menderita mastitis subklinis, karena itu berarti peluang susu yang dihasilkan peternak sapi perah kita untuk memasuki pasar nasional ataupun internasional akan tertutup. Untuk mengatasi hal tersebut maka cara satu-satunya adalah dengan mencegah atau mengobati mastitis subklinis tersebut. Maka atas dasar itulah perlu penanganan yang tepat terhadap kasus mastitis subklinis (Franes, 2009).


Gambar 1. kasus masititis sub klinis pada sapi perah seperti fenomena gunung es

Kerugian ekonomi secara umum yang diakibatkan mastitis subklinis meliputi penurunan produksi antara 10-40% dan penurunan kualitas susu. Kerugian ekonomi dapat dilakukan dengan pengendalian mastitis secara tepat dan efisien (Arimbi, 2005).

Mastitis subklinis menjadi masalah yang sangat serius bagi para peternak, karena sapi tidak menunjukkan gejala sakit tetapi produksi susu dapat turun dan kualitas susu menjadi berkurang karena adanya kuman tersebut (Salasia et al., 2005).

Mastitis sangat merugikan karena mengakibatkan; Produksi susu menjadi turun 25-30% atau berhenti sama sekali, Kualitas susu menjadi turun sehingga tidak dapat dijual atau tidak dapat dikonsumsi, Biaya perawatan menjadi meningkat, dan Ternak perah diafkir lebih awal (Hidayat, 2008).

Produksi susu dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang berpengaruh diantaranya adalah penyakit dan makanan. Permasalahan yang sering menimpa peternak sapi perah adalah penyakit mastitis, dimana 60 - 90 % sapi perah di Indonesia terserang mastitis. Penyakit ini sangat merugikan karena berdampak pada penurunan produksi susu, penurunan kualitas dan kehadirannya sering kali tidak disadari oleh peternak sehingga peternak baru menyadari kondisi ternaknya setelah penyakit ini parah (Nurdin, 2006).

Penyakit radang ambing (mastitis) masih merupakan masalah utama dalam peternakan sapi perah, dimana menyebabkan kerugian yang cukup besar sehubungan dengan menurunnya produksi susu, kualitas susu dan biaya penangananya (Abrar, 2003)

Pengaruh penyakit mastitis terhadap komponen dan pH susu bovine dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Pengaruh Mastitis terhadap Komponen dan PH Susu Bovine

Komponen

Susu Normal

Susu Mastitis

Lemak (%)

Laktosa (%)

Casein (mg/ml)

Whey Protein (mg/ml)

Na (mg/100 ml)

K (mg/100 ml)

Cl (mg/100 ml)

Ca (mg/100 ml)

PH

3,45

4,85

27,9

8,2

57

172,5

80 –130

136

6,65

3,2

4,4

22,5

13,1

104,6

157,3

>250

49

6,9 – 7.0

(Eniza, 2004)

Pada table 4. terlihat bahwa susu mastitis kandungan lemak, laktosa dan casein menurun dan kandungan whey protein meningkat. Kandungan mineral Natrium dan Chlorida terlihat meningkat sedangkan Kalium dan Kalsium menurun (Eniza, 2004).

Menurut Effendi dkk. (2005), Penyakit mastitis tidak dapat diberantas tetapi dapat diturunkan angka kejadiannya dengan manajemen yang baik pada peternakan sapi perah. Mastitis menyebabkan kerugian ekonomi pada petani dengan beberapa jalan; hasil susu yang menurun, kualitas susu menjadi jelek atau terkontaminasi dengan antibiotika yang mengakibatkan produknya tidak dapat dijual, adanya biaya pengobatan, tingginya angka pengafkiran dan kadang-kadang mengakibatkan kematian. Susu yang diproses dalam home industri juga merugi disebabkan oleh masalah kandungan antibiotika dalam susu yang dapat menurunkan kandungan kimiawi susu dan kualitas susu dari sapi perah penderita mastitis.

TINJAUAN PUSTAKA

Etiologi

Infeksi/peradangan pada ambing dikenal dengan nama mastitis. Mastitis adalah suatu peradangan pada tenunan ambing yang dapat disebabkan oleh mikroorganisme, zat kimia, luka termis ataupun luka karena mekanis. Peradangan ini dapat mempengaruhi komposisi air susu antara lain dapat menyebabkan bertambahnya protein dalam darah dan sel-sel darah putih di dalam tenunan ambing serta menyebabkan penurunan produksi susu (Eniza, 2004). Mastitis pada sapi perah disebabkan oleh infeksi mikroorganisme yang masuk dalam putting susu. Organisme yang dapat menyebabkan mastitis antara lain : Staphylococcus sp. Dan Streptococcus sp (Damardjati, 2008 dan Wahyuni et al 2005). Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus merupakan dua bakteri utama penyebab mastitis subklinis pada sapi perah di Indonesia Wahyuni et al (2005). Bakteri ini kenal sebagai bakteri komensal yang dapat diisolasi dari sebagian besar permukaan tubuh (Abrar, 2003).

Hasil penelitian isolasi dan identifikasi karakterisasi S. aureus oleh Salasia et al (2005), diperoleh 32 sampel susu sapi perah yang berasal dari Kaliurang, Bantul, Boyolali, dan Baturaden Jawa Tengah secara klinis sehat ternyata mengandung S. aureus penyebab utama mastitis pada sapi perah.

Diduga hemaglutinin S. agalactiae dan S. Aureus sebagai faktor yang berperan dalam mekanisme infeksi mastitis subklinis pada sapi perah. Kemampuan menempel bakteri tampaknya lebih penting dari pada kemampuan invasi bakteri ke dalam jaringan dalam mekanisme infeksi, sehingga tidak dijumpai perubahan yang berarti pada jaringan ambing Wahyuni et al (2005). Hemaglutinin merupakan salah satu komponen adhesion bakteri yang memperantai perlekatan sel bakteri pada sel induk semang. Hal ini dapat dilihat pada Steptococcus agalactiase (Abrar, 2003). Hemaglutinin merupakan faktor yang berperan dalam proses adesi. Pada mastitis subklinis kemampuan adesi sangat penting sebagai langkah awal kolonisasi bakteri di permukaan sel ambing dari pada kemampuan invasi (Wibawan., 1998). Menurut Wibawan et. Al. (1993) dan Wahyuni (1998) S. agalactiae dan S. aureus memiliki hemaglutinin yang mempunyai kemampuan lebih mudah melakukan perlekatan atau adesi pada permukaan sel epitel ambing jauh lebih besar dari pada yang tidak mempunyai hemaglutinin.

Pada kasus mastitis sub klinis proses adhesi S. aureus pada permukaan sel epitel ambing sapi perah memegang peranan penting karena adhesi adalah tahap awal dari suatu infeksi. Adanya adhesi akan memperpendek jarak antara bakteri dengan permukaan tubuh sehingga factor virulen yang dihasilkan oleh bakteri untuk melekat pada reseptornya. Adhesi bakteri ini pada permukaan sel epitel ambing bersifat spesifik, artinya proses perlekatan tersebut diperantarai oleh adanya reseptor pada permukaan sel inang yang mampu berikatan dengan antigen permukaan bakteri. Antigen permukaan yang mampu mengadakan perlekatan ini secara umum disebut adhesion dan srukturnya dapat berupa pili, fibrae atau komponen structural lainnya (Abrar, 2003).

Menurut Wizeman et al. (2000) penghalangan/blocking tahap awal infeksi merupakan strategi yang efektif untuk pencegahan terjadinya infeksi bakteri. Menurut Ofek et al., (1996) kajian in vitro menunjukkan perlekatan bakteri pada sel inang dapat dihambat oleh berbagai faktor seperti antiserum, panas, pH. Bila dikaji dari kenyataan bahwa kedua bakteri ini diisolasi dari sapi penderita mastitis subklinis, maka keberadaan hemaglutinin sangat sesuai untuk sifat penyakit yang bersifat subklinik.

Dari hasil penelitian yang di lakukan oleh Wahyuni et al (2005), disimpulkan bahwa hemaglutinin S. agalactiae dan S. Aureus dapat ditentukan dengan uji hemaglutinasi. Dengan teknik afinitas kromatografi dapat diisolasi hemaglutinin dari S. agalactiae dan S. aureus dengan SDS-PAGE diketahui 1 pita protein dengan berat molekul 28 kDa untuk S. agalactiae dan 27 kDa untuk S. aureus.

Mastitis adalah peradangan pada ambing bagian dalam. Mastitis bersifat kompleks karena :

a. Penyebabnya beragam :

- Bakteri (Streptococcus sp, Staphylococcus sp., coliform, Corynebacterium, Pseudomonas sp., dll.),

- Kapang atau khamir

- Virus

b. Tingkat reaksinya beragam

c. Lama penyakitnya bervariasi

d. Akibat yang ditimbulkannya sangat bervariasi

e. Sulit melaksanakan pengobatan sampai tuntas atau sembuh total.

(Hidayat, 2008)

Patogenesis

Mastitis adalah keradangan pada ambing yang menunjukkan perubahan patologis sehingga menyebabkan perubahan pada sekresinya. Mastitis pada sapi perah disebabkan oleh infeksi mikroorganisme yang masuk dalam putting susu. Organisme yang dapat menyebabkan mastitis antara lain : Staphylococcus sp. dan Streptococcus sp.

Sebagian besar mastitis disebabkan oleh masuknya bakteri patogen melalui lubang puting susu ke dalam ambing dan berkembang di dalamnya sehingga menimbulkan reaksi radang lihat Gambr 2.

Text Box: Mikroba masuk	 ke dalam ambing melalui lubang puting Text Box: Mikroba berkembang di dalam ambing

Text Box: Proses pembentukan air susu menjadi terganggu Text Box: Hasil metabolisme mikroba akan merusak dan mengganggu fungsi sel-sel alveole


Gambar 2 Mekanisme masuknya bakteri pathogen ke dalam ambing

Duval (1997) menjelaskan bahwa proses infeksi pada mastitis terjadi melalui beberapa tahap, yaitu adanya kontak dengan mikroorganisme dimana sejumlah mikroorganisme mengalami multiplikasi di sekitar lubang puting (sphincter), kemudian dilanjutkan dengan masuknya mikroorganisme akibat lubang puting yang terbuka ataupun karena adanya luka (Gambar 3). Tahap berikutnya, terjadi respon imun pada induk semang. Respon pertahanan pertama ditandai dengan berkumpulnya leukosit- leukosit untuk mengeliminasi mikroorganisme yang telah menempel pada sel-sel ambing. Apabila respon ini gagal, maka mikroorganisme akan mengalami multiplikasi dan sapi dapat memperlihatkan respon yang lain, misalnya demam.

Hurley dan Morin (2000), menjelaskan bahwa peradangan pada ambing diawali dengan masuknya bakteri ke dalam ambing yang dilanjutkan dengan multiplikasi. Sebagai respon pertama, pembuluh darah ambing mengalami vasodilatasi dan terjadi peningkatan aliran darah pada ambing. Permeabilitas pembuluh darah meningkat disertai dengan pembentukan produk-produk inflamasi, seperti prostaglandin, leukotrine, protease dan metabolit oksigen toksik yang dapat meningkatkan permeabilitas kapiler ambing. Adanya filtrasi cairan ke jaringan menyebabkan kebengkakan pada ambing. Pada saat ini terjadi diapedesis, sel-sel fagosit (PMN dan makrofag) keluar dari pembuluh darah menuju jaringan yang terinfeksi dilanjutkan dengan fagositosis dan penghancuran bakteri. Tahap berikutnya, terjadi proses persembuhan jaringan. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan kelenjar ambing untuk bertahan dari infeksi, di antaranya adalah : jaringan yang menjadi kurang efektif pada umur tua; PMN yang terlalu muda pada kelenjar dan adanya PMN yang tidak memusnahkan bakteri tapi sebaliknya malah melindungi bakteri dari proses penghancuran berikutnya. Hal lain juga disebabkan karena adanya komponen lipid pada susu yang kemungkinan menghambat reseptor Fc pada leukosit, menyebabkan degranulasi yang berlebihan dan meningkatnya gejala peradangan. Lemak dan casein susu yang tertelan oleh PMN dapat menyebabkan kegagalan PMN dalam proses ingesti bakteri. Kemampuan PMN dalam fagositosis dan membunuh bakteri juga dapat menurun pada keadaan defisiensi vitamin E atau selenium. Pemusnahan bakteri melalui sistem oxygen respiratory burst membutuhkan oksigen yang lebih banyak, namun kadar oksigen pada susu jauh lebih rendah daripada konsentrasi oksigen dalam darah. Demikian juga glukosa sebagai sumber energi pada susu sangat rendah konsentrasinya, padahal untuk fagositosis diperlukan energi yang lebih tinggi. Di samping itu, susu mengandung komponen opsonin (seperti : imunoglobulin dan komplemen) yang relatif sedikit dan dalam susu hampir tidak ada aktivitas lisosim (Hurley and Morin 2000) (Lestari, 2006).


Gambar 3. Jalan masuk bakteri melalui puting ambing menuju kelenjar susu (Hurley dan Morin 2000)

Patogenisitas dan virulensi Staphylococcus sp. ditentukan oleh substansi- substansi yang diproduksi oleh organisme ini antara lain adalah enzim ekstraseluler yang dikenal dengan eksoprotein. Staphylococcus aureus memproduksi eksoprotein yang dibagi menjadi 2 kelompok utama yaitu, kelompok enzim antara lain koagulase, lipase, hialuronidase, stafilokinase (fibrinolisin) dan nuklease serta kelompok eksotoksin nisalnya leukosidin, eksfoliatif toksin, enterotoksin dan toxic schock syndrome toxin-1 (TSST-1). Hemolisin merupakan eksoprotein yang mempunyai aktivitas baik enzimatis maupun toksin sehingga tidak termasuk dalam klasifikasi ini (Williams et al., 2000). Sitolitik toksin yang dihasilkan oleh S. aureus adalah α, β, δ, dan γ-hemolisin (Joklik et al., 1992; Brückler et al., 1994). Eksoprotein enzimatis ini kemungkinan mempunyai fungsi utama dalam menyokong nutrisi untuk pertumbuhan bakteri, sedangkan eksotoksin berperan dalam menimbulkan berbagai penyakit (Williams et al., 2000). Staphylococcus aureus merupakan bakteri patogen utama pada manusia yang menyebabkan berbagai penyakit secara luas yang berhubungan dengan toxic schock syndrome sebagai akibat dari keracunan pangan. Disamping itu S. aureus bertanggung jawab atas 80% penyakit supuratif, dengan permukaan kulit sebagai habitat alaminya. Manifestasi klinis Staphylococcus aureus pada manusia antara lain adalah impetigo, scalded skin syndrome, pneumonia, osteomielitis, pioartrosis, endokarditis, metastasis staphylococcal, keracunan makanan, toxic schock syndrome (TSS), meningitis dan sepsis (Joklik et al., 1992; Emmerson, 1994; Ena et al., 1994) (Salasia et al 2005).

Para ahli membagi patogenesis mastitis menjadi beberapa fase : infiltrasi, infeksi, infasi, berturut-turut dari mulai yang akut kefase pertama (Damarjati, 2008);

Fase Infasi

Masuknya organisme ke dalam putting. Kebanyakan terjadi karena terbukanya lubang saluran putting, terutama setelah diperah. Infasi ini dipermudah dengan adanya lingkungan yang jelek, opulasi terlalu tinggi, adanya lesi pada putting susu atau karena daya tahan sapi menurun. Fase Infeksi, Terjadinya pembentukan koloni oleh mikroorganisme yang dalam waktu singkat menyebar ke lobuli da alveoli. Fase Infiltrasi, Ditandai saat mikroorganisme sampai ke mukosa kelenjar, tubuh akan bereaksi dengan memobilisasi leukosit dan terjadi radang. Adnya radang menyebabkan sel darah dicurahkan ke dalam susu, sehingga sifat fisik seta susunan susu mengalami perubahan. Secara klinis proses radang ambing dapat berlangsung secara akut,subakut, kronis.

Mastitis akut ditandai dengan kebengkakan, panas, rasa sakit, warna ambing kemerahan dan tergantung fungsinya. Mastitis subakut perubahan radang ambing tersamar tetapi susunya mengalami perubahan. Kelainan bisa berupa asimetris, bengkak, lesi pada puting susu dan warna merah pada radang hebat. Mastitis kronis terjadi bila infeksi pada ambing berjalan lama dan ditandai dengan adanya atropi ambing.

Mastitis subakut tidak ditemukan gejala klinis namun tersifat pada sekresi susunya, deteksi terhadap mastitis subakut dengan uji sekresi susunya, yang menunjukkan produk infiltrasi seperti leukosit, fibrin dan serum serta perubahan komposisi kimiawi. Ditransferkan sodium klorat dan bikarbonat dari darah ke dalam susu menjadi alkalis.Perubahan susu secara fisis meliputi warna, bau, konsistensi dan rasanya. Warna menjadi putih pucat atau kebiruan, rasa menjadi getir atau agak asin. Bau yang agak harum darisusu menjadi asam, sedangkan konsistensinya menjadi cair dan kadang disertai dengan adanya jonjot atau endapan fibrin dan protein (Damarjati, 2008)

Penularan mastitis dari ambing ke ambing sehat dapat terjadi melalui : Kain lap ambing; sehelai kain lap ambing digunakan untuk seluruh ternak laktasi, kain lap ambing digunakan tidak tepat; Tangan pemerah yang kotor; Urutan pemerahan yang salah; Peralatan pemerahan yang kotor

Ada 3 faktor yang mempermudah terjadinya mastitis :

a. Kondisi hewan/ternak

b. Kondisi lingkungan yang buruk

c. Agen penyebab penyakit (mikroba)

Beberapa contoh kondisi hewan Ternak sebagai faktor yang mempermudah terjadinya mastitis antara lain;

1. Infeksi alat reproduksi (Radang rahim) 2. Infeksi saluran pencernaan (Mencret)

Tinja dan cairan yang keluar dari vulva akan mencemari ambing

3. Radang kuku

Penyakit kulit pada ambing (Kutil, Eksim, Cacar)

Bentuk ambing

Ambing yang bergantung sangat rendah akan mudah kontak dengan lantai kandang sehingga berisiko terserang mastitis


6. Pakan

Kuantitas dan kualitas pakan yang tidak memadai (kurang gizi) menyebabkan ternak menjadi kurus, kelemahan umum dan gangguan metabolisme


7. Umur

8. Stadium laktasi

Makin tua ternak semakin peka karena:

mekanisme penutupan lubang puting susu semakin menurun.

penyembuhan semakin lambat

Berisiko terserang mastitis :

Minggu pertama dan minggu terakhir masa laktasi

Minggu pertama masa kering kandang

10. Kondisi lingkungan

Kondisi yang mempermudah terjadinya mastitis:

Kandang dan ternak yang basah dan kotor

Peternak/pemerah/pekerja: kuku tajam, pakaian kotor, dll.


a b


c

(Hidayat, 2008).

Gejala-Gejala Mastitis

Menurut Hidayat (2008), Mastitis Berdasarkan gejalanya dapat dibedakan antara mastitis klinis dan subklinis.

Gejala Mastitis Klinis (bentuk akut) terlihat tanda-tanda klinis (dapat dilihat atau diraba oleh panca indera) meliputi;

- Kondisi umum : ternak Lesu, tidak mau makan

- Tanda-tanda adanya peradangan pada ambing: ambing membengkak, panas, kemerahan, nyeri bila diraba dan perubahan fungsi.

- Perubahan pada susu : Susu memancar tidak normal, bening atau encer; Kental, menggumpal atau berbentuk seperti mie; warna berubah menjadi semu kuning, kecoklatan, kehijauan, kemerahan atau ada bercak-bercak merah.

Gejala Mastitis Klinis yang Kronis : Ternak terlihat seperti sehat, Ambing teraba keras, peot, mengeriput dan Puting peot (Hidayat, 2008).

Mastitis Sub klinis merupakan peradangan pada ambing tanpa ditemukan gejala klinis pada ambing dan air susu. Ternak terlihat seperti sehat : nafsu makan biasa dan suhu tubuh normal, Ambing normal dan Susu tidak menggumpal dan warna tidak berubah. Tetapi melalui pemeriksaan akan didapatkan : Jumlah sel radang meningkat, ditemukan kuman-kuman penyebab penyakit, Susu menjadi pecah (terbentuk butiran-butiran halus atau gumpalan).

Tabel 5. jumlah sel somatis/ml Susu

No

Contoh

Batasan Jumlah Sel Somatik/ ml Susu

(1)

2

3

4

1

Kwartir

Kurang dari 100.000

Ambing Sehat

100.000-150.000

Di Duga Radang

Lebih dari 150.000

Radang, Gangguan Sekresi

2

Individu

Lebih dari 100.000

Di Duga Radang

3

Kandang

Kurang dari 100.000

Baik

100.000-200.000

Cukup Baik

200.000-400.000

Cukup

Lebih Dari 400.000

Jelek

Mastitis sub klinis hanya diketahui setelah dilaksanakan pengujian. Jumlah mastitis sub klinis dapat mencapai 60 – 70%, bahkan lebih, dari jumlah ternak laktasi. Kerugian akibat mastitis subklinis lebih besar daripada mastitis klinis (Hidayat, 2008).

Mastitis adalah keradangan pada ambing yang menunjukkan perubahan patologis sehingga menyebabkan perubahan pada sekresinya. Mastitis akut ditandai dengan kebengkakan, panas, rasa sakit, warna ambing kemerahan dan tergantung fungsinya. Mastitis subakut perubahan radang ambing tersamar tetapi susunya mengalami perubahan. Kelainan bisa berupa asimetris, bengkak, lesi pada puting susu dan warna merah pada radang hebat. Mastitis kronis terjadi bila infeksi pada ambing berjalan lama dan ditandai dengan adanya atropi ambing. Mastitis subakut tidak ditemukan gejala klinis namun tersifat pada sekresi susunya. deteksi terhadap mastitis subakut dengan uji sekresi susunya, yang menunjukkan produk infiltrasi seperti leukosit, fibrin dan serum serta perubahan komposisi kimiawi. Ditransferkan sodium klorat dan bikarbonat dari darah ke dalam susu menjadi alkalis Perubahan susu secara fisis meliputi warna, bau, konsistensi dan rasanya. Warna menjadi putih pucat atau kebiruan, rasa menjadi getir atau agak asin. Bau yang agak harum dari susu menjadi asam, sedangkan konsistensinya menjadi cair dan kadang disertai dengan adanya jonjot atau endapan fibrin dan protein. (Damardjati, 2008).

Terdapat dua tipe mastitis yaitu mastitis klinis dan mastitis subklinis. Mastitis klinis merupakan penyakit dimana hewan menunjukkan gejala klinis sedangkan mastitis subklinis (MSK) adalah mastitis yang tidak menunjukkan gejala klinis baik dari segi hewan maupun dari segi susunya namun terlihat adanya penurunan produksi susu. Penurunan produksi susu inilah yang menyebabkan kerugian besar pada peternak. Tingkat kejadian mastitis subklinis jauh lebih besar dibandingkan tingkat kejadian mastitis klinis. Tingkat kejadian mastitis klinis lebih sedikit (20-30%) dibanding dengan tingkat kejadian mastitis subklinis (70-80%). Mastitis klinis dapat bersifat mild (ringan) atau akut dan terdapat leukosit di dalam susu. Pada Mild clinical mastitis, ambing terasa panas, keras dan sangat sensitif terhadap rasa sakit. Onsetnya cepat dan hewan dapat mengalami demam, pulsus meningkat, depresi, lemas, dan kurang nafsu makan (Swartz 2007). Menurut Erskine (2007), tidak terdapat mikroorganisme yang terisolasi dari 10-40% kultur bakteri dari sampel susu yang dikoleksi dari sapi penderita mastitis klinis. 80% dari kasus mild mastitis adalah infeksi koliform intramammari, biasanya mastitis tipe ini sembuh sebelum diberi pengobatan. Oleh karena itu mastitis tipe ini merupakan pengaruh temporer dari keseimbangan antara patogen dan pertahanan host. Jika tidak terdapat organisme atau koliform dari sampel susu, maka terapi tidak perlu dilakukan. Sebaliknya jika ditemukan mikroorganisme gram-positif cocci maka terapi diperlukan. Sedangkan mastitis kronis (chronic mastitis) adalah infeksi kelenjar ambing persisten yang biasanya dalam bentuk subklinis namun terkadang dapat menjadi bentuk klinis sebelum kembali menjadi subklinis. Pada ambing terlihat lumps atau benjolan yang isinya berupa jaringan ikat (Swartz 2007).

Diagnosis Mastitis

Untuk mengetahui adanya mastitis dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisis kelenjar susu secara inspeksi atau palpasi. Untuk pemeriksaan fisis terhadap susu digunakan metode strip cup test, white side test, California mastitis test, winconsin mastitis test, uji katalase. Dengan menggunkan leukosit count dapat diketahui jumlah sel leukosit. Leukosit merupakan bagian penting dalam pertahanan tubuh terhadap agen-agen iritasi. Jumlah leukosit diperkirakan lebih dari pada sel-sel di dalam susu dan akan bertambah banyak mengikuti invasi bakteri pathogen didalam ambing. Metode mikroskopik untuk mengetahui jumlah sel-sel somatic per ml susu. Reaksi negative bila jumlah selnya 0-200.000 per ml susu dengan prosentase sel polimorfonuklearnya 0-24%. Trace diperhkirakn jumlah selnya 150.000-500.000 per ml susu, dengan prosentase PMN 30-40%.

Positif 1 : jumlah selnya 400.000-1.500.000 per ml susu dengan sel PMN 40-60%

Positif 2 : jumlah selnya 800.000-5.000.000 per ml susu dengan sel PMN 60-70%

Positif 3 : jumlah selnya diatas 5 juta dan sel PMN 80% (Damardjati, 2008).

Deteksi Mastitis

Penyakit mastitis pada peternakan sapi perah merupakan masalah utama yang sangat merugikan peternakan karena dapat menurunkan produksi susu dalam jumlah besar dan pengobatan terhadap penyakit ini sulit serta memerlukan biaya besar (Rahmawati, 2008). Deteksi mastitis subklinis masih sulit dilakukan karena tidak ada gejala klinis pada penderita (Arimbi, 2005). Deteksi dini pada sapi perah dengan metode tidak langsung memakai CMT adalah usaha memperkecil resiko terjadinya mastitis. Reagen CMT sulit didapat dan mahal harganya untuk kalangan peternak biasa, sehingga untuk pendeteksian mastitis bagi peternak biasa dapat menggunakan deterjen sebagai bahan alternatif yang lebih murah, mudah dan langsung didapatkan di lapangan (Rahmawati, 2008).

Pemeriksaan Laboratorium

Identifikasi untuk membedakan antara S. aureus dengan stafilokokus lainnya merupakan faktor utama sebagai salah satu langkah dalam penanganan kasus mastitis, dimana cara yang dilakukan sebagian besar masih bergantung atas dasar kriteria fenotipik yang tampak (Boerlin et al., 2003; Purnomo dkk, 2006), antara lain meliputi morfologi pertumbuhan koloni, uji katalase untuk membedakan dari streptokokus, adanya produksi enzim koagulase serta adanya fermentasi mannitol pada Mannitol Salt Agar (MSA) (Beishir, 1991; Fox, 2000; Cappucino and Sherman, 2005).

Pencegahan dan Pengobatan Mastitis

Kejadian mastitis subklinis di Indonesia sangat banyak terjadi. Kebanyakan dari kasus tersebut terjadi tanpa pengawasan yang tidak ketat. Sehingga ketika dapat diketahui, penyakit sudah parah. Supaya kasus tersebut tidak berulang, maka perlu adanya pencegahan sebelum terjadi penyakit (Franes, 2009). Fenomena kejadian mastitis pada sapi perah seperti gunung es lihat gambar..(Hidayat, 2008)

Beberapa hal yang harus di lakukan dalam pencegahan mastitis antara lain:

- Selalu menjaga kebersihan kandang dan lingkungannya

- Melaksanakan prosedur sebelum, pada saat dan setelah pemerahan dengan baik dan benar; Melaksanakan program pemeriksaan mastitis secara teratur setiap bulan dan pemeriksaan mastitis terhadap sapi laktasi yang akan di beli.

- Melaksanakan masa kering kandang selama 6 sampai 7 minggu secara baik dengan cara : pada minggu pertama; hari ke 1 sampai ke 3 sapi diperah satu kali, hari ke 4 sapi boleh diperah sekali lagi lalu dihentikan atau jangan diperah lagi, hari ke 5 sampai ke 8 ambing mulai mengecil dan pembentukan susu terhenti.

Pemberian antibiotika ke dalam puting di lakukan pada masa kering kandang yakni di laksanakan setelah minggu pertama kering kandang dan diulang 2 sampai 3 minggu sebelum beranak (Hidayat, 2008).

Beberapa prosedur urutan pengobatan mastitis menggunakan antibiotika pada sapi perah antara lain:

- Ambing mastitis diperah sampai habis atau kosong untuk mengeluarkan racun, reruntuhan sel dan hasil metabolisme mikroba.

- Pada pemerahan terakhir (sore hari), obat antimastitis (antibiotika) dimasukkan ke dalam puting. Sebaiknya dilaksanakan pemeriksaan bakteriologis dan antibiogram untuk menentukan jenis obat yang akan digunakan. Harus diperhatikan aturan pakai obat tersebut, misalnya pengobatan dilakukan 3 hari berturut-turut dengan jarak pengobatan 24 jam.

- Ambing kembali diperah sampai kosong setelah 12 jam pengobatan. Ambing diperah lebih dari 2 kali sehari (sesering mungkin).

Uji mastitis dilakukan 2 sampai 4 minggu setelah pengobatan. Bila jumlah sel radang tetap tinggi, sebaiknya dilakukan uji bakteri dan antibiogram kembali.

Pengobatan secara modern menggunakan antibiotika yang berlebihan menyebabkan bakteri resisten. Terlebih lagi residu yang terdapat dalam susu sangat berbahaya jika terkonsumsi oleh manusia secara terus menerus. Maka berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan dan dengan banyaknya gerakan pecinta lingkungan dengan moto “back to nature” telah menghasilkan penemuan tentang manfaat lain dari sirih merah. sirih merah mengandung banyak senyawa yang memiliki sifat sebagai antiseptic.

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa sirih merah dapat digunakan sebagai obat alternative mencegah dan mengobati mastitis subklinis. Poeloengan, et al (2005) menyatakan bahwa kandungan minyak atsiri daun sirih dilaporkan mempunyai daya antibakteri. Penggunaan sirih merah sebagai antiseptic, telah terbukti mengurangi jumlah bakteri yang berada dalam susu sapi yang menderita mastitis subklinis. Adapun dosis yang digunakan belum dapat diketahui, yang pasti semakin besar konsentrasinya semakin kuat daya antisepticnya.Sifat yang dimiliki sirih merah tersebutlah yang melandasi pemikiran tentang manfaat lain dari sirih merah untuk dunia kesehatan hewan. Salah satunya dapat digunakan sebagai pencegah atau bahkan mengobati mastitis subklinis pada sapi perah (Franes, 2009).


Gambar 6. pengobatan mastitis dengan antibiotika ke dalam puting pada sapi perah (Hidayat, 2008)

Terapi

Terapi antibakterial untuk mastitis berdasarkan causa dari penyakit itu sendiri, namun terapi seperti ini memakan waktu yang lama. Sebagai tambahan, kebanyakan dari terapi antibakterial yang sekarang digunakan untuk mastitis klinis di Amerika belum disetujui oleh FDA (Federal Drug Administration). Glukokortikoid dapat membantu pada kasus mastitis yang disebabkan oleh koliform yang memproduksi endotoksin. Obat ini diberikan pada awal penyakit agar efeknya maksimal. Administrasi dexamethasone (30mg IM) pada sapi laktasi segera setelah terpapar oleh E. Coli ke dalam ambing telah terbukti mengurangi pembengkakkan dan menginhibit motilitas rumen. Isoflupredone (10-20mg IM) juga telah dilaporkan dapat mengurangi pembengkakkan pada ambing. Sebagai general guideline, terapi glukokortikoid lebih baik digunakan pada kasus gram-negatif mastitis yang parah, dengan dosis tunggal diberikan pada awal penyakit. Oksitetrasiklin dengan dosis 11mg/kgBB secara IV dua kali sehari meningkatkan persembuhan sapi yang terkena clinical coliform mastitis bila dibandingkan dengan sapi yang tidak diberi antibakterial sistemik. Ceftiofus sodium dengan dosis 2,2 mg/kgBB secara IM dua kali sehari mengurangi mortalitas dan angka pengafkiran sapi dengan coliform mastitis yang parah. Namun obat ini tidak terdistribusi dengan baik pada ambing melainkan mengobati septikemi (jika terjadi) di dalam tubuh sapi. Namun pada beberapa kasus seperti mastitis yang disebabkan oleh Nocrdia asteroides, tidak ada pengobatan yang efisien sehingga sebaiknya sapi dipotong (Erskine 2007).

Biasanya pengobatan mastitis dilakukan dengan antibiotika secara intra mammae, tetapi karena kontrol terhadap pemakaian antibiotika ini sulit dilakukan dan juga sesuai dengan keamanan konsumen terhadap produk susu maka pemakaian antibiotik dihindarkan. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah dengan menggunankan bahan alami yang berasal dari tanaman yaitu Receptalum Bunga Matahari (BUMATA) dan bahan alami yang berasal dari ternak yaitu BIOPLUS. Sesuai dengan bahan yang dikandungnya, bahan-bahan ini diharapkan dapat meningkatkan kesehatan ternak sehingga daya tahan tubuh meningkat, karena mastitis dapat diatasi dengan meningkatkan sistem pertahanan tubuhnya (Nurdin, 2004). BUMATA mengandung senyawa antiinflamasi yang diharapkan dapat membantu mengatasi radang yang menyertai mastitis dan antioksidan yang diharapkan dapat meningkatkan daya tahan tubuh (Nurdin, 2004), sedangkan BIOPLUS mengandung bakteri apatogen yang diharapkan dapat bekerjasama dengan bakteri rumen untuk menekan bakteri patogen sehingga kesehatan dan daya tahan tubuh ternak lebih baik (Mihrani, 2006).

Pengendalian Mastitis

Selama ini penanganan mastitis dilakukan dengan pemakaian antibiotika. Seperti kita ketahui pemakaian antibiotika yang tidak tepat akan menimbulkan masalah baru yaitu adanya residu antibiotika dalam susu, alergi, resistensi serta mempengaruhi proses pengolahan hasil susu. Dari hasil penelitian Sudarwanto et al. (1992), 32,52% susu pasteurisasi dan 31,10% susu segar di wilayah Jakarta, Bogor dan Bandung mengandung residu antibiotika dalam jumlah yang cukup tinggi. Selain itu mastitis subklinis yang disebabkan oleh bakteri Gram positif semakin sulit ditangani dengan antibiotika karena bakteri ini sudah banyak yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotika (Wibawan et al., 1998; Wahyuni et al., 2001).

Berdasarkan uji sensitifitas terhadap berbagai antibiotika diketahui bahwa sebagian besar S. aureus telah resisten terhadap oksasilin (87,5%) dan eritromisin (71,97%), dan ada beberapa isolat yang juga telah resisten terhadap tetrasiklin (37,46%), ampisilin (25%), dan gentamisin (21,87%). Sebagian isolat juga bersifat intermediet terhadap gentamisin (78,13%), tetrasiklin (59,38%) dan eritromisin (15,57%). Sifat intermediet terhadap beberapa abtibiotika ini mengindikasikan bisa berubah menjadi resisten. Melihat sifat resistensi terhadap berbagai antibiotika ini menunjukkan bahwa pengobatan mastitis dengan berbagai macam antibiotika tidak efektif lagi, sehingga perlu dilakukan alternatif penanganan untuk mengatasi problem mastitis pada peternakan di wilayah Jawa Tengah (Salasia, et al, 2005).

Staphylococcus aureus merupakan salah satu penyebab utama mastitis pada sapi perah yang menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar akibat turunnya produksi susu (Isrina et al).

Karakterisasi S. aureus meliputi uji clumping factor, uji koagulase, produksi hemolisin, produksi pigmen dan uji kepekaan S. aureus terhadap beberapa antibiotika. Dalam penelitian ini berhasil diisolasi dan diidentifikasi sebanyak 32 isolat S. aureus. Semua isolat positif pada uji clumping factor dan koagulase. Alfa-hemolisis dapat diamati pada 1 isolat, 7 isolat mempunyai sifat α dan β-hemolitik, 11 isolat β- hemolitik dan 13 isolat bersifat non-hemolitik. Berdasar produksi pigmen, 8 isolat menghasilkan pigmen berwarna oranye, 10 isolat pigmen kuning dan 8 isolat menghasilkan pigmen putih. Hasil uji resistensi antibiotik terlihat bahwa 24 isolat (75%) sensitif dan 8 isolat (25%) resisten terhadap ampisilin. Uji terhadap eritromisin diketahui 4 isolat (12,5%) sensitif, 5 isolat (15,57%) intermediet dan 23 isolat (71,97%) bersifat resisten. Sebanyak 25 isolat (78,13%) diketahui bersifat intermediet dan 7 (21,87%) resisten terhadap gentamisin. Sebanyak 4 isolat S. aureus (712,5%) bersifat sensitif dan 28 isolat (87,5%) resisten terhadap oksasilin. Terhadap tetrasiklin memperlihatkan sifat intermediet pada 19 isolat (59,38%), 12 isolat (37,46%) bersifat resisten dan hanya 1 isolat (3,16%) bersifat sensitif. Untuk menghindari hal tersebut maka perlu diupayakan strategi baru untuk mengatasi mastitis Untuk pencegahan suatu penyakit perlu dipahami proses atau mekanisme infeksi dari penyakitnya.

DISKUSI

Deteksi Mastitis

Deteksi dini mastitis subklinis pada sapi perah secara tidak langsung yang lebih murah, mudah dan negatif dan positif mastitis dapat dilakukan dengan uji reagen CMT, pereaksi IPB-1 dan cepat dapat menggunakan deterjen Wings, Bukrim dan Sunlight sebagai alternatif pengganti reagen CMT dan pereaksi IPB-l. Deterjen atau surfaktan merupakan salah satu komposisi reagen CMT yang dapat digunakan secara langsung, lebih murah dan mudah di dapatkan dilapangan untuk mendeteksi mastitis pada sapi perah, guna mengetahui peningkatan kadar sel leukosit dalam susu mastitis. Penelitian menggunakan surfaktan pada deteksi mastitis bertujuan untuk mengetahui keefektifan bentuk, jenis deterjen dan konsentrasi dari deterjen (Rahmawati, 2008).

Deterjen sebagai bahan untuk mendeteksi mastitis subklinis, yang diasumsikan bahwa deterjen mengandung alkyl aryl sulfonat yang merupakan bahan kimia yang terdapat dalam reagen “Scalm Mastitis Test” dan mengandung pH indicator. Reaksi antara deterjen dengan deoksiribo nucleic acid dalam inti sel adalah menentukan jumlah somatic. Konsentrasi sel 150.000-200.000 sel per ml susu maka presipitasi akan terbentuk. Deterjen merupakan derivate NA-sulfonat atau sulfat dari senyawa alifatik/aromatic. Didalam air berefek membersihkan kotoran,. Deterjen sebagian besar mengandung “surface active agen” yang secara teknis tersifat maupun untuk membantu menaikkan kebasaan, penyerapan penetrasi, pengemulsi, dan daya bersih atau pembersih, serta pada kondisi tertentu dapat melarutkan substansia yang tidsk lsrut. Tegangan muka suatu cairan akan mengecilkan oleh pelarutan suatu zat aktif muka ke dalamnya, namun memperbesar tegangan muka pelarutnya.

Pada susu mastitis terjadi penambahan jumlah leukosit sehiingga pHnya lebih alkalis. Penaningkatan reaksi tersebut diduga bila ditambahkan suatu zat aktif muka, misalnya alkyl aryl sulfonat, akan bereaksi dengan sel-sel somatic susu, termasuk leukosit, akibatnya terjadi kenaikan konsentrasi susu menjadi lebih viscous (kental) dan menjadi gel. Reaksi antara alkyl aryl silfonat akan terbentuk gel yang kental. Alkyl aryl sulfonat mempnyai sensitivitas yang besar untuk uji terhadap susu mastitis pada pH 7 atau yang lebih besar (Damarjati. 2008).

Hasil penelitian Rahmawati (2008), menunjukkan bahwa deterjen Wings, Bukrim, Sunlight, Rinso, Surf dan Attack dapat digunakan untuk mendeteksi adanya mastitis subklinis pada sapi perah. Sebanyak 44 sampel susu dari 11 ekor sapi perah diambil dari 2 lokasi yaitu UPTD BPT-HMT Karangwaru Tuban dan peternakan sapi perah "Mumi" Kaliwaron Surabaya. Tahap pertama sampel susu diuji dengan menggunakan reagen CMT dan pereaksi IPB-I dan diketahui hasil pembacaannya yaitu negatif (-), positif 1 (+l), positif 2 (+2), dan positif 3 (+3). Tahap kedua pada sampel susu deterjen : Rinso, Attack, Surf, Wings, Bukrim dan Sunlight. Data yang diperoleh dianalisis dengan penghitungan sensitifitas dan spesifisitas dari setiap uji. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif. Jenis deterjen cream yaitu Wings, Bukrim dan cair yaitu Sunlight lebih efektif dari bentuk deterjen serbuk yaitu Rinso, Surf dan Attack. Keefektifan deterjen juga tergantung pada konsentrasi deterjen. Penggunaan deterjen mulai konsentrasi 4 % sampai 40 % pada deterjen Wings dan Bukrim, Sunlight pada konsentrasi 5 % sampai 40 %, Rinso dan Surf pada konsentrasi 5 % sampai 34 % dan Attack pada konsentrasi 5 % sampai 32 % dapat digunakan untuk pereaksi guna mendeteksi mastitis pada sapi perah. Konsentrasi deterjen terbaik adalah 30 % dan secara visual, penggunaan deterjen Wings, Bukrim dan Sunlight lebih baik, mudah dan hasil reaksinya dapat diketahui dengan cepat untuk mendeteksi kejadian mastitis pada sapi perah. Berdasarkan hasil penelitian tentang surfaktan maka disarankan untuk memberikan penyuluhan kepada peternak tentang kerugian yang ditimbulkan akibat penyakit mastitis pada sapi perah sehingga dilakukan deteksi dini dengan menggunakan secara tidak langsung (Rahmawati, 2008).

Pengendalian Mastitis Subklinis (Pencegahan dan pengobatan Mastitis)

Kasus mastitis pada sapi perah sangat tinggi terutama kasus mastitis subklinis (MSK). Pada MSK perlu dilakukan pemeriksaan khusus terhadap susu karena kejadian mastitis subklinis ini banyak tidak diketahui oleh para peternak. Hampir suatu kemutlakan bahwa dalam pengobatan radang ambing selalu memerlukan obat-obatan antimikrobial terutama antibiotika. Pemakaian antibiotika untuk pengobatan mastitis dapat mengakibatkan terjadinya residu antibiotika pada susu yang berakibat langsung timbulnya alergi pada konsumen dan terjadinya resistensi kuman. Merupakan kenyataan didalam praktek bahwa kontrol terhadap pelarangan penjualan air susu yang mengandung residu antibiotika sulit sekali dilakukan. Kemungkinan adanya residu antibiotika dalam susu sangat besar, mengingat antibiotika akan tetap berada dalam susu sampai dengan hari kelima setelah pengobatan terakhir. Kenyataannya peternak sapi perah biasanya sudah menjual susu dalam waktu 48 jam setelah pengobatan terakhir kepada Koperasi Unit Desa (KUD), Industri Pengolahan Susu (IPS) (Franes 2009). Antibiotika tahan terhadap pemanasan di bawah titik didih susu. Jadi bila dikonsumsi dalam bentuk pasteurisasi maka antibiotic tersebut masih berada di dalam susu (Soebronto, 1985). Penggunaan produk alami pada pangan menjadi salah satu tuntutan konsumen pada saat ini. Perlu kiranya dilakukan seleksi dan karakterisasi senyawa-senyawa antimikroba alami yang berasal dari bahan-bahan yang umum digunakan. Penggunaan antimikroba alami perlu ditingkatkan untuk menggantikan bahan sintesis pada produk pangan. Begitupun pengobatan terhadap mastitis diperlukan obat alternatif alami sebagai pengganti antibiotika, salah satu pilihan obat alami diantaranya adalah daun sirih merah. Sirih sudah dikenal sejak lama di Indonesia, namun penelitian mengenai budidaya, pasca panen, maupun pemanfaatannya belum banyak dilakukan (Darwis, 1991).

Selama ini penanganan mastitis dilakukan dengan pemakaian antibiotika. Seperti kita ketahui pemakaian antibiotika yang tidak tepat akan menimbulkan masalah baru yaitu adanya residu antibiotika dalam susu, alergi, resistensi serta mempengaruhi proses pengolahan hasil susu. Dari hasil penelitian Sudarwanto et al. (1992), 32,52% susu pasteurisasi dan 31,10% susu segar di wilayah Jakarta, Bogor dan Bandung mengandung residu antibiotika dalam jumlah yang cukup tinggi. Selain itu mastitis subklinis yang disebabkan oleh bakteri Gram positif semakin sulit ditangani dengan antibiotika karena bakteri ini sudah banyak yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotika. Untuk menghindari hal tersebut maka perlu diupayakan strategi baru untuk mengatasi mastitis (Wahyuni et al., 2005).

Kebanyakan dari peternak akan memberikan antibiotic terhadap sapi yang terserang mastitis. Namun dengan dosis yang tidak tepat akan menyebabkan resisten pada bakteri penyebab mastitis tersebut. Dan jika dilakukan berlebihan maka yang terjadi adalah adanya residu pada susu yang dihasilkan. Bermunculan LSM pembela hak konsumen, maka berhembuslah kabar bahwa penggunaan antibiotik harus dikurangi atau bahkan ditinggalkan dengan alasan berbahaya jika sampai meninggalkan residu pada produk akhir berupa susu sapi konsumsi. Indonesia adalah negeri yang sangat subur, disini tumbuh berbagai jenis tanaman yang tentunya bisa dimanfaatkan sebagai obat, salah satunya adalah sirih merah. sirih merah mengandung banyak senyawa yang memiliki sifat sebagai antiseptic. Hampir semua bagian tanaman sirih dapat digunakan sebagai obat, tetapi yang paling banyak digunakan adalah daunnya. Pemakaian sirih sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit sudah meluas namun masih bersifat tradisional. Menurut Soedibyo (1991) daun sirih banyak digunakan untuk pengobatan beberapa penyakit maupun perawatan kecantikan. Daun sirih digunakan sebagai obat kumur, sariawan, asma, batuk, encok, hidung berdarah, kepala pusing, radang selaput lendir mata, batuk kering, mulut berbau dan radang tenggorokan. Daun sirih merupakan salah satu sekian jenis tumbuhan yang memiliki aktivitas antibakteri paling tinggi (Soewondo et al., 1991) Sifat yang dimiliki sirih merah tersebutlah yang melandasi pemikiran tentang manfaat lain dari sirih merah untuk dunia kesehatan hewan. Salah satunya dapat digunakan sebagai pencegah atau bahkan mengobati mastitis subklinis pada sapi perah. Dengan segala kelebihan sirih merah maka bukan tidak mungkin akan menggantikan penggunaan antibiotic dipasaran (Franes, 2009).

Hasil penelitian uji in vitro dengan metode difusi kertas cakram pada 4 konsentrasi ekstrak yang berbeda yaitu: 50; 25; 12,5 dan 6,25% menggunakan bakteri yang diisolasi dari susu sapi penderita mastitis subklinis yaitu Streptococcus agalactiae, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis, ekstrak daun sirih diuji efektivitasnya sebagai antibakteri terhadap mastitis subklinis menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih mempunyai efektivitas sebagai antibakteri terhadap ketiga bakteri uji tersebut. Efektivitas ekstrak daun sirih secara in vivo dilakukan dengan cara pencelupan/dipping puting dari ambing sapi penderita mastitis subklinis. Parameter yang diamati berupa jumlah total mikroba dalam susu sebelum dan setelah perlakuan. Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih efektif menurunkan jumlah kuman dalam susu sapi penderita mastitis subklinis. Berdasarkan penelitian itu, diharapkan peternak mampu mengadopsi dari inovasi yang diberikan. Sangat besar harapan supaya peternak mampu melakukan pencegahan sejak dini dengan cara melakukan pencelupan ambing sebelum dan sesudah pemerahan dengan ekstrak sirih merah. Sehingga susu yang dihasilkan memiliki jumlah bakteri yang rendah, terhindar dari penyakit mastitis subklinis dan apabila sudah terjangkit mastitis maka pencelupan juga bisa sebagai pengobatan alternative (Franes, 2009). Pada penelitian poeloengan et, al (2005) membuat ekstrak sirih merah menggunakan bahan kimia yang tidak bisa didapat oleh peternak rakyat. Sehingga untuk peternak rakyat, cukup membuat ekstrak sirih merah dengan cara merebus 100 gram sirih merah giling (serbuk kering) dengan 2 liter air bersih dan direbus sampai mendidih. Setelah mendidih masih dibiarkan sampai 5 menit. Setelah itu dibarkan sampai hangat kuku (±350c). setelah itu ekstrak sirih merah bisa digunakan untuk pencelupan/dipping puting dari ambing sapi penderita mastitis subklinis. Sedangkan pada penelitian Poeloengan et al (2005) pembuatan ekstrak daun sirih di dapat dari daun sirih yang telah dikeringkan dan dibuat serbuk, diekstraksi secara maserasi dengan menggunakan etanol dan metanol. Sebanyak 100 g simplisia dimaserasi dalam 1000 ml etanol dan metanol pro analisis (99,8%) dan didiamkan selama 24 jam. Filtrat yang diperoleh disaring dan kemudian dipekatkan dengan rotavapor hingga diperoleh ekstrak kental.

Uji daya antibakteri ekstrak daun sirih terhadap beberapa bakteri penyebab mastitis secara in vitro Ekstrak pekat daun sirih diencerkan dengan NaCl fisiologis steril hingga diperoleh konsentrasi ekstrak 50; 25; 12,5 dan 6,25%. Ekstrak daun sirih diuji daya hambatnya terhadap bakteri penyebab mastitis dengan metode cakram. Kertas cakram direndam dalam ekstrak daun sirih pada berbagai konsentrasi kemudian diletakkan diatas permukaan media agar Mueller Hinton yang telah diinokulasi dengan bakteri uji dan diinkubasikan selama 24 jam pada temperatur 37ºC. Diameter daerah hambat bakteri yang terbentuk di sekitar kertas cakram diukur dengan mistar. Berdasarkan pengukuran maka daun sirih pada semua konsentrasi mempunyai daya antibakteri terhadap Streptococcus agalactiae, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Diameter daerah hambat pertumbuhan bakteri yang terbentuk dari ekstrak metanol daun sirih terlihat lebih luas dibandingkan dengan ekstrak etanol daun sirih.

Pengujian efektivitas ekstrak daun sirih pada sapi perah penderita mastitis subklinis secara in vivo dilakukan dengan cara melakukan dipping puting sapi ke dalam ekstrak daun sirih. Untuk dipping diperlukan 6 ekor sapi konsentrasi ekstrak yang dipakai (2 ekor/konsentrasi ekstrak). Dipping dilakukan setiap kali sehabis pemerahan dan parameter yang diamati adalah jumlah bakteri dalam susu sebelum dan setelah dipping yaitu hari ke-0, 7, 14 dan 21. Sebagai pembanding digunakan antiseptik Biocide.

Ekstrak daun sirih pada konsentrasi 12,5%, 25% dan 50% yang digunakan untuk perlakuan pencelupan puting sapi penderita mastitis dapat menurunkan jumlah bakteri yang terkandung dalam susu. Jika dibandingkan dengan perlakuan pencelupan puting dengan antiseptik, ekstrak daun sirih mempunyai kemampuan yang setara untuk menurunkan jumlah bakteri susu sampai pada pengamatan minggu ke-4.
Pada konsentrasi ekstrak daun sirih 12,5% dan 25%, penurunan jumlah bakteri susu terjadi pada pengamatan minggu ke-2 kemudian jumlah bakteri mengalami kenaikan pada minggu ke-3 dan kemudian mengalami penurunan kembali pada minggu ke-4. Kenaikan jumlah bakteri pada minggu ke-3 kemungkinan karena adanya pelepasan sel-sel epitel dan adanya masa sitoplasmik akibat pengaruh proses sekresi sel-sel somatis. Sel radang dalam ambing merupakan respon terhadap infeksi dan usaha memperbaiki jaringan yang rusak. Jumlah bakteri pada pengamatan terakhir (minggu ke-4) nilainya masih dibawah 10.000 cfu/ml sehingga susu dapat dinyatakan dalam kondisi masih segar (Dwidjoseputro, 1998). Menurut Aritonang (2003), apabila jumlah mikroba susu lebih dari 200.000 cfu/ml menunjukkan kondisi ambing abnormal dan apabila melebihi standar tersebut dapat dinyatakan sapi menderita mastitis. Perlakuan ekstrak daun sirih pada konsentrasi 50% menunjukkan penurunan rataan jumlah bakteri susu pada ke-2 sampai dengan minggu ke-4 pengamatan. Besarnya konsentrasi ekstrak daun sirih yang digunakan maka semakin besar pula zat aktif yang terkandung didalamnya (Komala, 2003) sehingga mampu menutup lubang puting sesaat setelah dicelupkan. Menurut Aritonang (2003), salah satu usaha untuk meminimalkan jumlah bakteri pathogen penyebab mastitis bisa dilakukan dengan pencelupan puting dengan desinfektan sebelum dan setelah pemerahan. Oleh karena itu dapat diduga bahwa ekstrak daun sirih yang digunakan pada penelitian Poeloengan et al (2005) ini dapat berfungsi sebagai desinfektan. Hal ini didukung dengan hasil perlakuan dengan desinfektan sebagai kontrol yang sama-sama dapat menurunkan jumlah bakteri susu. Keuntungan melakukan pencelupan puting setelah pemerahan adalah mikroba tidak dapat masuk ke dalam putting walaupun lubang puting masih terbuka (Sudarwanto, 1999). Dengan melakukan pencelupan puting dengan larutan ekstrak daun sirih pekat beberapa detik setelah pemerahan akan melapisi dinding puting dan menutup lubang puting karena ekstrak yang pekat akan mudah menempel pada lubang puting.

Pengendalian yang sering dilakukan peternak Jawa Timur terhadap mastitis adalah dengan mencuci tangan sebelum memerah dengan larutan desinfektan, melakukan pemerahan dengan baik dan benar tanpa bahan pelicin dengan pemerahan sampai kosong, sapi yang menderita mastitis diperah terakhir dan harus dikeluarkan dari kandang bila tidak sembuh dengan pengobatan. melakukan pencegahan dengan pemberian antibiotika selama masa kering kandang, melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kejadian mastitis, mengukur produksi sapi per ekor per hari secara teratur dan melakukan pencelupan atau dipping putting ke dalam larutan desinfektan setelah selesai pemerahan (Arimbi, 2005).

Pemahaman tentang epidemiologi dari Staphylococcus aureus yang meliputi sumber penularan, alur penularan dan faktor resiko menghasilkan sistem pengendalian mastitis yang baik dengan agen penyakit Staphylococcus aureus di beberapa peternakan. Hal penting dari pengendalian Staphylococcus aureus adalah menyadari bahwa bakteri ini ditularkan dari sapi ke sapi selama proses pemerahan. Langkah higienis selama waktu pemerahan menurunkan perpindahan bakteri dari sapi ke sapi yang berdampak penurunan intramammary infection (IMI) yang baru. Tetapi hanya dengan sistem higienis pemerahan saja tidak cukup baik untuk pengendalian penyakit ini . Dengan tambahan pengobatan pada waktu kering dan khususnya pengafkiran bagi yang terinfeksi kronis diperlukan untuk menurunkan IMI oleh Staphylococcus aureus. Pengetahuan yang detail tentang bakteri Staphylococcus aureus akan memperoleh gambaran bahwa pemberantasan pada saat ini masih belum memungkinkan, khususnya adanya Staphylococcus aureus yang memproduksi beberapa faktor virulensi. Jadi investigasi dalam tingkat biologi molekuler harus dilakukan untuk pemecahan masalah mastitis. Pada penelitian ini digunakan 98 sampel sapi perah yang diambil susunya untuk diperiksa angka prevalensi mastitis pada Peternakan Nongkojajar. Dari sampel susu mastitis dilakukan identifikasi bakteri Staphylococcus aureus yang meliputi bentuk mikroskopis kokus bergerombol, sifat hemolisis tipe b, katalase (+), koagulase (+) dan Gram (+). Karakterisasi biologi molekuler Staphylococcus aureus dengan mempergunakan pendekatan gen penyandi protein A dengan metode PCR, ekspresi gen protein A dengan metode SDS-PAGE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data prevalensi mastitis sapi perah dari peternakan sapi perah Nongkojajar dengan angka prevalensi 82,7%. Dengan pendekatan genotipik memakai bobot molekul gel penyandi protein A didapatkan gen penyandi dengan BM 110 bp. Hasil ekspresi dari gen penyandi protein A ditemukan dengan BM 55 kD.

Program Kontrol Mastitis Subklinis

Daun sambiloto dapat disaran sebagai bahan dipping untuk kontrol mastitis pada sapi perah sehingga dapat menekan kerugian ekonomis akibat mastitis (Arimbi, 2005).

Daun sambiloto merupakan tanaman yang mempunyai kasiat anti radang dan antiinfeksi terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan E. Coli. Zat yang terkandung dalam sambiloto berupa Andrographis paniculata efektif sebagai antiinflamatori dan antiinfeksi. Bahkan enterotoksin yang diproduksi Staphylococcus aureus pada mencit jantan dapat direduksi oleh zat ini (Arimbi, 2005).

Pada penelitian ini akan diselidiki tentang aplikasi daun sambiloto terhadap kasus mastitis subklinis yang disebabkan Staphylococcus aureus dan E. Coli untuk program kontrol mastitis pada sapi perah di daerah Sidoarjo (Arimbi, 2005).

Screning terhadap sapi penderita mastitis subklinis, identifikasi untuk memperoleh Staphylococcus aureus dan E. Coli yang selanjutnya dilakukan dipping 3 menit selama 1 minggu pada putting penderita dengan larutan daun sambiloto. Ambing yang telah dilakukan dipping dengan larutan daun sambiloto diperiksa lagi kandungan Staphylococcus aureus dan E. Coli untuk mengetahui efektifitas daun sambiloto (Arimbi, 2005).

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana efektifitas daun sambiloto sebagai bahan aktif dipping putting dalam program kontrol mastitis pada sapi perah terutama yang disebabkan Staphylococcus aureus dan E. Coli serta melihat efek dari daun sambiloto dalam mengontrol kasus mastitis pada sapi perah yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan E. Coli. Populasi target adalah sapi perah yang menderita mastitis Sidoarjo. Sampel yang digunakan adalah 16 ekor sapi. Teknik pengambilan sampel susu merupakan susu yang diambil dari puting penderita mastitis dan telah didipping dengan larutan daun sambiloto. Parameter yang diamati adalah penurunan jumlah Staphylococcus aureus dan E. Coli (Arimbi, 2005).

Hasil penelitian Arimbi (2005), menunjukkan daun sambiloto efektif digunakan sebagai bahan aktif dipping dalam program kontrol mastitis yang disebabkan Staphylococcus aureus dan E. Coli pada sapi perah. Persentase penurunan jumlah Staphylococcus aureus setelah dilakukan dipping puting 3 menit selama 1 minggu adalah 68,03% sedangkan persentase penurunan jumlah E. Coli setelah dilakukan dipping puting 3 menit selama 1 minggu adalah 54,67%. Penurunan jumlah bakteri Staphylococcus aureus dan E. Coli ini karena larutan ekstrak sambiloto dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan E. Coli.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Mastitis merupakan penyakit yang sangat merugikan peternak sapi perah, karena menyebabkan penurunan produksi susu. Pemakaian antibiotika untuk pengobatan mastitis dapat mengakibatkan terjadinya residu antibiotika pada susu yang berakibat langsung timbulnya alergi pada konsumen dan terjadinya resistensi kuman.

Adanya kasus kejadian mastitis subklinis yang tinggi pada sapi perah di indonesia, untuk itu diperlukan pemeriksaan khusus terhadap susu karena banyaknya kejadian mastitis subklinis yang tidak diketahui oleh para peternak. Hasil penelitian uji daya anti bakteri secara in vitro pada semua konsentrasi ekstrak daun sirih dan uji efektifitas ekstrak daun sirih secara in vivo telah di ketahui memiliki daya anti bakteri terhadap bakteri penyebab mastitis ; Streptococcus agalactiae, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis dan mempunyai efektivitas untuk menurunkan jumlah bakteri susu pada penderita mastitis subklinis.

Daun sambiloto dapat digunakan sebagai bahan alternatif untuk dipping puting dalam program kontrol mastitis di sebabkan oleh Staphylococcus aureus dan E. Coli pada sapi perah.

Saran

Program kontrol mastitis pada peternakan sapi perah di indonesia dapat di lakukan dengan cara memanfaatkan bahan-bahan alami seperti daun sirih dan daun sambiloto guna mengatasi kasus mastitis subklinis. Daun sirih (Piper bitle Linn) bagi para peternak sapi perah di harapkan dapat menjadi salah satu pilihan sebagai obat alternatif alami pengganti antibiotika untuk mengobati dan mencegah penyakit mastitis subklinis pada sapi perah yang ada di indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Arimbi, drh., M.Kes.,; Koestanti E. S., drh., M.Kes, 2005, Aplikasi Daun Sambiloto Sebagai Bahan Aktif Dipping Dalam Program Kontrol Mastitis Pada Sapi Perah, Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya. http://www.lppm.unair.ac.id/search.view.php?id=705&c=2.

Abrar, drh.; Fakhurrazi, drh., M.P.; Erina A., drh., 2003, Isolasi Dan Karakterisasi Hemaglutinin Staphlococcus aureus, UNSYIAH Digital Library, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dlib_unsyiah@yahoo.com, uilisnet@yahoo.com.

Agus, M., 1991. Mastitis study in dairy cattle inBaturraden.

Salasia O.I.S, Wibowo M.H., Khusnan, 2005, Karakterisasi Fenotipe Isolat Staphylococcus aureus Dari Sampel Susu Sapi Perah Mastitis Subklinis, Jurnal Sain Vet. Vol. 23 No. 2, Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Yogyakarta.

Aksan dan C. Pahlevi. 2006. Hasil Validasi Data dan Survei Parameter Statistik Peternakan. Dinas Peternakan dan Kehewanan Kabupaten Pasuruan. Pasuruan.

Bannerman, D. D. and R. J. Wall. 2005. A Novel Strategy for the Prevention of Staphylococcus aureus-Induced Mastitis in Dairy Cows. Information Systems for Biotechnology News Report. Virginia Tech University. USA. 1 - 4.

Damarjati. 2008. Pengaruh Mastitis Terhadap Susu yang Dihasilkan. http://mikrobia .files.wordpress.com

Eniza S, 2004, Dasar Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak, Program Studi Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, http://library.usu.ac.id/download/fp/ternak-eniza2.pdf.

Efendi H.M., DTAPH. ; drh., Kuntaman M.S., dr., Dr. ; Soelih A.T.E, Dr., drh., 2005, Isolasi Dan Identifikasi Gen Pemyandi Protein A Sebagai Factor Virulensi Dari Staphlococcus aureus Pada Kasus Mastitis Sapi Perah, Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya. http://www.lppm.unair.ac.id/search.view.php?id=727&c=2.

Franes P., S.Pt., 2009, “Penggunaan Ekstrak Sirih Merah (Piper crocatum) Sebagai Green-antiseptik Untuk Penanganan Mastitis Subklinis Sebagai Titik Tolak Perbaikan Management Kesehatan Pada Peternakan Sapi Perah Rakyat ”, WordPress.com.

Hidayat A., drh., 2008, Buku Petunjuk Praktis untuk Peternak Sapi Perah tentang, Manajemen Kesehatan Pemerahan, Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat.

Lestari D. T., 2006, Laktasi Pada Sapi Perah Sebagai Lanjutan Proses Reproduksi, Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran.

Luthvin, 2007, Identifikasi Staphylococcus aureus Penyebab Mastitis Dengan Uji Fermentasi Mannitol Dan Deteksi Produksi Asetoin Pada Sapi Perah Di Wilayah Kerja Koperasi Usaha Tani Ternak Suka Makmur Grati Pasuruan, Jurnal Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Air Langga, Jawa Timur.

Mellenbenger, R.W. 1997. Vaccination against mastitis. Jurnal. Dairy Sci. 60(6): 1016 – 1021.

Mirdhayati I., ; Handoko J., ; Putra U.K., 2008, Mutu Susu Segar Di UPT Ruminansia Besar Dinas Peternakan Kabupaten Kampar Riau, Jurnal Peternakan volume 5 No. 1 (14-21), Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru.

Nugroho S.W. drh., 2008, Membangun Kemandirian Produksi Susu Nasional yang Berkualitas, Tinjauan Aspek Veteriner, Disampaikan dalam Semiloka 17 Mei 2008, Mengoptimalkan Susu Sebagai Aset Ketahanan Pangan Bangsa, Bagian Kesehatan Masyarakat Veternier, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, http://weesnugroho.staff.ugm.ac.id/wp-content/profil-persusuan-nasional-indonesia.pps.

Nurdin E. dan Mihrani, 2006, Pengaruh Pemberian Bunga Matahari Dan Bioplus Terhadap Produksi Susu Dan Efisiensi Ransum Sapi Perah Freis Holland Penderita Mastitis, Jurnal Agrisistem Vol 2 No 2, Dosen Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang.

Poeloengan M., 2005, Efektivitas Ekstrak Daun Sirih (Piper betle Linn) Terhadap Mastitis Subklinis, Jurnal Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, Balai Penelitian Veteriner, Bogor.

Rahmawati, 2008, Deterjen Sebagai Pereaksi Alternatif Untuk Mendeteksi Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah, Airlangga University Library. Surabaya, Email: library@lib.unair.ac.id; library@unair.ac.id.

Salasia O.I.S., Wibowo H.M., Khusnan, 2005, Karakterisasi Fenotipe Isolat Staphylococcus aureus Dari Sampel Susu Sapi Perah Mastitis Subklinis, 1Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Jurnal Sain Veteriner. Vol. 23 No. 2, Yogyakarta.

Tuasikal; Sugoro B.J.I.; Tjiptosumirat ; Lina M., 2003, Pengaruh Iradiasi Sinar Gamma pada Pertumbuhan Streptococcus agalactiae sebagai Bahan Vaksin Penyakit Mastitis pada Sapi Perah. Jurnal. Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia, Vol IV. ed-2. P3TIR- Batan. Jakarta.

Swart, R., Jooste, P.J. and Novello, J.C., 1984. Prevalence and types of bacteria associated subclinical mastitis in Bloem Fonte in dairy herds. Vet. Assoc. 51, 61.

Sudarwanto M. 1999. Mastitis subklinis dan cara diagnosa. Makalah dalam Kursus Kesehatan Ambing dan Program Pengendalian Mastitis. IKA-IPB (tidak dipublikasikan), Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. Edisi Kedua. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 309 - 351

Wahyuni A.E.T.H., Wibawan I.W.T., Wibowo M.H, 2005, Karakterisasi Hemaglutinin Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus Penyebab Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah, Jurnal Sain Veteteriner Vol. 23 No. 2, Bagian Mikrobiologi FKH-UGM, Yogyakarta, E-mail: wahyuni_aeth@yahoo.com

6 komentar:

  1. mang susah deteksi mastitis subklinis.. apa lagi orang awam kaya petani. ayo majukan sapi perah Indonesia

    BalasHapus
  2. hmm...mirip tulisanku waktu kuliah... : )

    BalasHapus
  3. zakki.........yup bener bgt.....
    maju petani indonesia

    anonim...............yuhuu

    BalasHapus
  4. mantap gan infonya... ada KTI tentang Mastitis ya...

    BalasHapus