Senin, 17 Mei 2010

Deteksi Estrus

Deteksi Estrus

Menurut Prihatno (2006), pengamatan estrus merupakan salah satu faktor penting dalam manajemen reproduksi sapi perah. Kegagalan dalam deteksi estrus dapat menyebabkan kegagalan kebuntingan. Problem utama deteksi estrus umumnya bila dijumpai sapi-sapi yang subestrus atau silent heat, karena tidak semua peternak mampu mendeteksinya, untuk itu diperlukan metode untuk mendeteksi birahi, seperti:

  1. Identifikasi sapi (penomeran pada ear tags)
  2. Meningkatkan observasi secara teratur
  3. Menggunakan deteksi estrus (heat mount detector with KaMar)
  4. Menggunakan pejantan yang dikebiri
  5. Menggunakan pedometer, anjing terlatih dan assay progesteron susu.

Menurut Hosein and Gibson (2006), deteksi estrus pada sapi dara biasanya sedikit lebih sulit karena pendeknya periode estrus. Karena itu kemungkinan tanda-tanda estrus pada sapi dara lebih sulit diamati dibandingkan dengan sapi yang pernah bunting. Maka dari itu di sarankan pada para peternak untuk memeriksa tanda-tanda estrusnya 3 kali sehari pada sapi dara. Semua sapi dara yang ditemukan mengalami estrus harus direkording/dicatat tanggal dan identitasnya sehingga dapat membantu untuk memprediksi periode estrus selanjutnya. Beberapa tanda-tanda sapi estrus antara lain :

  1. Sapi terlihat resah dan gelisah, beberapa mencari perhatian dengan menempatkan kepalanya pada punggung sapi dewasa yang terdapat dalam kelompok ternak.
  2. Urinasi berkali-kali.
  3. Pangkal ekor mengkerut, lumpur pada sisi dan punggung sapi dan vulva terlihat berwarna merah, adanya mukus.
  4. Sapi yang sedang estrus saling mengelilingi.
  5. Mukus berdarah dari vulva menandakan bahwa sapi telah estrus beberapa hari sebelumnya dan sekarang tidak estrus.
  6. Tanda estrus sesungguhnya terlihat pada saat sapi betina dinaiki dan tidak menolak, yang sering disebut standing heat (Gambar 2.).

Biosensor merupakan suatu alat yang didesain untuk merespon adanya substansi biokimiawi yang spesifik dengan memancarkan sinyal elektrik. Biosensor yang praktis harus dapat digunkan kembali dan harganya relatif murah. Secara immunologi yang berdasarkan biosensor untuk progesteron yang berada dalam susu, saat ini sedang dikembangkan oleh kerjasama antara National Diagnostik Centre, NUI, Galway. Laboratorium, berdasarkan sistem yang saat ini sedang diuji, memiliki kemampuan untuk mendeteksi perubahan fisiologis normal dalam progesteron susu selama siklus estrus. Biosensor seperti itu akan memungkinkan pengukuran hormon sehari-hari selama pemerahan dan menyediakan informasi yang berharga kepada pemilik peternakan mengenai permulaan estrus dan status kebuntingan (Morris, Diskin and Sreenan, 2001).

Tes progesteron dapat menjadi metode yang akurat dalam mengevaluasi deteksi estrus pada ternak. Sampel susu harus diambil segera pada saat pemerahan setelah inseminasi. Untuk menghemat uang, sampel dapat diawetkan dan dibekukan untuk dianalisa dalam satu kumpulan/kelompok. Saat dibandingkan dengan sampel progesteron standar, sampel susu yang telah diperoleh pada saat dikawinkan seharusnya memiliki kadar progesteron yang rendah. Reaksi warna yang mengindikasikan level dari progesteron akan berubah-ubah pada kit assay-nya sesuai dengan produk dari berbagai perusahaan yang berbeda (O’Connor, 2004).

Menurut O’Connor (2004), kegunaan dari analisis progesteron susu antara lain :

1. Dapat memastikan estrus yang diragukan. Bila peternak curiga sapinya mengalami estrus, konsentrasi progesteron dapat digunakan untuk memastikan apakah sapinya sedang estrus atau mendekati estrus.

2. Test progesteron susu dapat berguna untuk memastikan estrus apabila sapi telah diamati dan mengalami estrus, tetapi sebelumnya telah didignosa bunting, standing heat telah teramati tetapi interval antara estrus panjang secara abnormal, sapi telah dideteksi estrus semata-mata berdasarkan tanda-tanda estrus kedua.

3. Mengevaluasi keakuratan deteksi estrus atau mengidentifikasi eror yang terjadi saat deteksi estrus.

4. Memonitor status ovarium postpartum.

5. Membedakan tipe sistik ovari.

6. Evaluasi respon terhadap penggunaan berbagai hormon.

Siklus estrus pada sapi berlangsung selama 21 hari. Rata-rata estrus berlangsung selama 18 jam dan ovulasi dimulai 11 jam kemudian. Ukuran korpus luteum meningkat dari hari ke-3 sampai hari ke-12 siklus estrus. Konsentrasi progesteron dalam darah dan susu mengikuti pola yang sama yaitu konsentrasi yang sangat rendah dari hari ke-1 sampai hari ke-3 siklus, meningkat dengan cepat pada hari ke-4 sampai hari ke-12 (setelah perkembangan korpus luteum), dan tetap konstan sampai hari ke-16 sampai ke-18, kemudian turun dengan cepat 2-4 hari sebelum estrus. Menurunnya ukuran korpus luteum karena tidak adanya fertilisasi sehingga terjadi penurunan progesteron yang sangat banyak (Gambar 4). Dari hari ke-4 setelah penurunan, timbulnya konsepsi hampir tidak ada, dan produksi progesteron akan dimulai lagi dengan siklus selanjutnya (Rioux and Rajjote, 2004).

Produsen pabrik susu dan dokter hewan harus menyadari bahwa kadar progesteron rendah untuk beberapa hari selama masa estrus. Rendahnya progesteron itu mengindikasikan bahwa sapi sedang atau akan estrus dan level progesteron tidak bisa digunakan untuk memastikan waktu inseminasi. Erornya deteksi estrus harus dipertimbangkan sebagai penyebab utama rendahnya konsepsi pada ternak. Analisis progesteron merupakan alat yang dapat membantu memastikan adanya masalah dalam deteksi estrus (Connor, 2004).

Dokter hewan dan spesialis yang mengerti tentang pola hormonal yang berhubungan dengan kelainan fungsi reproduksi tertentu dan respon progesteron yang diantisipasi pada perlakuan spesifik untuk masalah reproduksi dapat menggunakan analisis progesteron sebagai alat diagnostik. Biasanya hal ini melibatkan koleksi sampel dari sapi-sapi yang bermasalah pada saat interval tertentu untuk menghasilkan progesteron dari aktivitas ovarium. Jika sampel susu dikoleksi dari interval yang telah ditentukan, alat ini dapat digunakan untuk mendeteksi sapi-sapi anestrus dan memonitor respon dari berbagai perlakuan seperti prostaglandin. Hal ini mungkin dapat membantu membedakan antara sista folikuker dan luteal. Prostaglandin lebih sering digunakan dalam program sinkronosasi untuk sapi laktasi – ketidakefektivan dari perlakuan ini tergantung pada adanya CL fungsional – analisis progesteron bisa berguna untuk memastikan adanya CL (O’Connor, 2004).

”Kit” progesteron susu sudah banyak digunakan secara komersial di peternakan-peternakan dan dapat mengatasi problem yang disebabkan oleh penggunaan RIA yaitu antara lain karena keamanan penanganan dan disposal radioaktifnya. Test dapat dilakukan baik dengan enzyme-linked immuno assay (ELISA) maupun latex aggluination assay. Evaluasi hasilnya berdasarkan warna atau reaksi aglutinasi yang terjadi, dibandingkan dengan standard yang sudah diketahui (Kaul and Prakash, 1994).

Enzyme immuno assay

Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu berdasarkan prinsip kompetisi (Gambar 5.). Sampel susu yang mengandung progesteron ditambahkan ke solution yang disebut conjugate. Conjugate ini mengandung molekul progesteron yang terikat dengan suatu enzim. Terdapat 3 tipe conjugate yang digunakan antara lain alkaline phosphatase, β-galactosidase dan horseradish peroxidase. Campuran ini selanjutnya diinokulasi dengan antibodi. Antibodi berikatan dengan sampel dan progesteron yang terikat dengan enzim. Jumlah antibodi harus sedikit tetapi tetap cukup banyak agar dapat mengisi semua reseptor antibodi. Jumlah enzim berbanding terbalik dengan konsentrasi dari sampel. Substrat untuk enzim ditambahkan, ini akan bereaksi dengan enzym conjugate (berikatan dengan antibodi) sehingga memberi warna. Intensitas dari warna akan berbanding terbalik dengan konsentrasi dari progesteron susu (Rioux and Rajjote, 2004)

Pengujian ini menggunakan sampel dari sapi yang sedang estrus, di tengah siklus (8-15 hari setelah estrus), yang diinseminasi pada hari pertama siklus (20-21 hari siklus) dan sapi bunting. Sapi yang digunakan adalah sapi perah Ayrshire. Susu yang diambil harus langsung dari putingnya, tetapi 5 pemerahan pertama harus dibuang untuk mendapatkan sampel yang representatif. Susu diambil dalam jumlah yang sama pada tiap kuartir. Sampel bisa disimpan selama 24 jam di dalam lemari pendingin dan jika disimpan lebih dari 24 jam harus dibekukan pada suhu -20°C. Kit yang digunakan (Ovucheck product no.C006) di laboratorium disesuaikan dengan metode Sauer. Kit yang dibeli berasal dari distributor Amerika Utara Biovet (Saint-Hyacinthe, QC, Canada). Kit ini dapat mengevaluasi progesteron susu secara akurat (Rioux and Rajjote, 2004).

Konsentrasi progesteron seperti yang terlihat pada Tabel 3. pada sapi estrus terdapat 2 hasil yang berbeda tetapi masih terlihat rendah yaitu <> 5 ng/ml, yaitu pada sapi yang diindikasikan bunting, pertengahan siklus dan bunting (Rioux and Rajjote, 2004).

Tabel 3. Hasil percobaan laboratorium mengestimasi status reproduksi pada sapi dengan menggunakan konsentrasi progesteron menggunakan enzyme immunoassay.

Status Reproduksi

Jumlah

Progesteron ng/ml

Estrus

3

5,42 (1 sampel)

<>

Hari ke-21 siklus (inseminasi hari ke-1 siklus)

3

11,36

Pertengahan siklus

4

8,53

Bunting

7

11,75

(http://advan.physiology.org/cgi/reprint/28/2/64)


Enzym immunoassay (EIA) hampir sama dengan radioimmunoassay (RIA), tetapi tidak menggunakan radioisotop. Beberapa perusahaan sudah mengembangkan ”Kit” untuk menguji hormon progesteron ini. Banyak tehnik untuk menguji progesteron susu telah dibuat menjadi lebih sederhana dan rutin digunakan (Rioux and Rajjote, 2004).

Pada percobaan dengan menggunakan progesteron susu untuk memonitor estrus dan kebuntingan dini pada 100 ekor sapi Nili-Ravi, didapatkan hasil bahwa sapi yang diketahui estrus berdasarkan tanda-tanda yang tampak dan pemeriksaan per-rektal 94% menunjukkan konsentrasi progesteron <1>

Tehnik ini sangat ideal untuk mendemonstrsikan evolusi dari progesteron selama siklus estrus dan memberikan penjelasan tentang EIA, juga dapat mendemonstrasikan efisiensi dari tes ini untuk memprediksi estrus, mendiagnosa kebuntingan dan mengevaluasi respon hormon yang mendasari obat-obatan (Rioux and Rajjote, 2004).

Radioimmunoassay

Teknik radioimmunoassay (RIA) merupakan salah satu metode deteksi yang paling sensitif, yang didasarkan pada interaksi antigen-antibodi. Antigen (hormon) yang berlabel radioaktif dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan hormon dalam sampel. Isotop yang dapat digunakan untuk teknik RIA adalah 3H, 14C, 125I dan lainnya. Pada teknik ini sejumlah antibodi diimobilisasi pada suatu fase padat, misalnya dinding tabung plastik. Sampel yang mengandung antigen (hormon progesteron) ditambahkan dengan sejumlah tertentu molekul berlabel (125I) yang akan berinteraksi dengan antibodi pada tabung. Intensitas signal radiasi dari biomolekul berlabel radioaktif yang terikat pada antibodi yang menempel pada dinding tabung akan berbanding terbalik dengan konsentrasi biomolekul dalam sampel (Tjiptosumirat, Sugoro dan Tuasikal, 2006).

Tabung assay yang telah dilapisi antibodi progesteron, larutan standar dan 125I -progesteron antigen disiapkan. Tabung assay kemudian diisi dengan larutan standar, sampel, 125I -progesteron dan blank. Selanjutnya masing-masing tabung dan diinkubasi selama 3 jam. Kemudian sampel dikeringkan dengan cara menuangkan seluruh larutan dalam tabung dan dikeringkan dengan menggunakan kertas merang lalu diukur dengan gamma counter multichannel-Prosedur kerja KIT RIA 2005, Progesteron Orion (Tjiptosumirat, Sugoro dan Tuasikal, 2006).

Latex aggluination assay

Suatu prosedur yang menggunakan antibodi monoklonal dan butiran latex yang dilapisi progesteron (progesteron-coated latex). Sejumlah susu, antibodi dan progesteron-coated latex dicampur dan direaksikan dalam suatu slide. Campuran itu berdifusi melewati slide melalui sebuah celah yang sempit, butiran latex dan solution-nya saling berinteraksi sehingga dapat menghasilkan suatu film susu yang tipis. Susu yang mengandung konsentrasi progesteron tinggi menghasilkan ikatan antibodi progesteron tanpa aglutinasi dan menampilkan suatu film susu yang halus. Sebaliknya, susu yang mengandung konsentrasi progesteron rendah akan menyebabkan progesteron-coated latex beraglutinasi dan menampilkan grainy film pada slide. Percobaan ini tidak menggunakan standar sebagai pembanding, karena hasilnya hanya menampilkan ada tidaknya aglutinasi grainy film pada slide (Nebel, 1988).

Siklus Estrus

Siklus birahi pada setiap hewan berbeda antara satu sama lain tergantung dari bangsa, umur, dan spesies (Partodiharjo, 1992). Terdapat sedikit perbedaan antara sapi dara dengan sapi yang telah beranak. Sapi dara menjadi birahi sekali dalam 20 hari, dengan variasi 18-22 hari. Sapi yang telah beranak rata-rata menjadi birahi sekali dalam 21-22 hari, dengan variasi 18-24 hari (Gomes, 1978).

Interval antara timbulnya satu periode berahi ke permulaan periode berikutnya disebut sebagai suatu siklus berahi. Siklus berahi pada dasarnya dibagi menjadi 4 fase atau periode yaitu ; proestrus, estrus, meteestrus, dan diestrus (Marawali, dkk., 2001; Sonjaya, 2005). Berikut ini adalah keadaan korpus luteum dan folikel pada ovarium sapi selama siklus estrus.

Jarak antara estrus yang satu sampai pada estrus berikutnya disebut siklus estrus, sedangkan estrus itu sendiri adalah saat dimana hewan betina bersedia menerima pejantan untuk kopulasi (Partodihardjo, 1987). Siklus estrus didefinisikan sebagai waktu diantara periode estrus. Rata-rata lama estrus hampir serupa untuk ternak (Tabel 1), variasi untuk individu terlihat untuk semua spesies (Anonim, 2004).

Tabel 1. Perbedaan spesies pada beragai karakteristik dari siklus estrus.

Sapi

Domba

Babi

Kuda

Kambing

Siklus Estrus (hr)

Metestrus (hr)

Diestrus (hr)

Proestrus (hr)

Estrus (jam)

Ovulasi

21

3-4

10-14

3-4

12-18

10-12 jam post estrus

17

2-3

10-12

2-3

24-36

Akhir estrus

20

2-3

11-13

3-4

48-72

Mid estrus

22

2-3

10-12

2-3

4-8 hr

Sblm akhir estrus

21

2-3

13-15

2-3

30-40

Bbrp jam stlh estrus

(Anonim, 2004)

Untuk dapat menerangkan siklus estrus berdasarkan gejala yang terlihat dari luar tubuh, satu siklus estrus terbagi menjadi 4 fase (Tabel 2.), yaitu proestrus, estrus, metestrus dan diestrus (Partodihardjo, 1987). Periode-periode ini terjadi di dalam suatu pola yang berurutan dan siklik, kecuali untuk periode anestrus (tidak adanya siklus), pada bangsa (ras) yang kawinnya tergantung pada musim seperti domba dan kuda, maupun anestrus selama kebuntingan dan periode post partum untuk semua spesies (Anonim, 2004).

Tabel 2. Lama periode siklus estrus pada sapi.

Proestrus (hari)

Estrus

Metestrus (hari)

Diestrus (hari)

3

12-24 jam

3 – 5

13

(Toelihere, 1979)

Proestrus

Proestrus adalah fase persiapan, fase ini biasanya pendek, gejala yang terlihat berupa perubahan tingkah laku dan perubahan alat kelamin bagian luar. Betina menjadi sedikit gelisah, memperdengarkan suara yang biasa tidak terdengar atau diam saja. Alat kelamin betina mulai memperlihatkan terjadinya peningkatan peredaran darah. Betina mulai menampakkan gejala estrus tetapi masih tidak mau meneima pejantan (Partodihardjo, 1987). Pada fase ini folikel de Graaf tumbuh dibawah pengaruh FSH dan menghasilkan estradiol, folikel berkembang (Gambar 1.) dan diisi dengan cairan folikuler. Sekresi estrogen mulai meningkat dan terjadi penurunan progesteron dalam darah. Korpus luteum sebelumnya mengalami degenerasi dan mengecil dengan cepat. Peningkatan aktivitas muskulus saluran reproduksi, sekresi mukus, vaskularisasi endometrium dan mucosa vagina. Pada akhir periode ini betina mulai memperhatikan pejantan (Toelihere, 1979).

Proestrus merupakan fase sebelum estrus yaitu periode pada saat folikel de graaf tumbuh di bawah pengaruh FSH dan menghasilkan sejumlah estradiol yang semakin bertambah (Marawali, dkk.,2001). Estradiol meningkatkan jumlah suplai darah ke saluran alat kelamin dan meningkatkan perkembangan estrus, vagina, tuba fallopi, folikel ovarium (Toelihere, 1981). Menurut Bath et al (1985), proestrus terjadi selama 1-3 hari sampai fase estrus.

Fase yang pertama kali dari siklus estrus ini dianggap sebagai fase penumpukan atau pemantapan dimana folikel ovarium yang berisi ovum membesar terutama karena meningkatnya cairan folikel yang berisi cairan estrogenik. Estrogen yang diserap dari folikel ke dalam aliran darah merangsang peningkatam vaskularisasi dan pertumbuhan sel genital dalam persiapan untuk birahi dan kebuntingan yang terjadi (Frandson, 1992).

Pada fase ini akan terlihat perubahan pada alat kelamin luar dan terjadi perubahan-perubahan tingkah laku dimana hewan betina gelisah dan sering mengeluarkan suara-suara yang tidak biasa terdengar (Partodiharjo, 1980).

Estrus

Estrus merupakan fase terpenting dari siklus estrus, pada fase ini betina mau menerima pejantan. Jika hewan menolak untuk kopulasi, meskipun tanda-tanda estrusnya terlihat jelas, maka hal itu dapat berarti betina masih dalam fase proestrus atau fase estrus telah terlewatkan. Tanda-tanda pada umumnya yaitu gelisah, nafsu makan berkurang atau hilang sama sekali, menghampiri pejantan dan tidak lari saat dinaiki pejantan (Partodihardjo, 1987). Folikel de Graaf membesar dan matang, ovum mengalami perkembangan ke arah pematangan. Sekresi cairan tuba bertambah, uterus tegang dan pada beberapa spesies oedematous. Suplai darah ke uterus terus bertambah, lendir disekresikan. Mucosa berwarna merah jambu, cervix mengendor dan agak oedematous. Mucosa vagina menebal, vulva mengendor, dan oedematous. Penerimaan pada pejantan disebabkan pengaruh estradiol (Gambar 1.) pada SSP, yang menghasilkan tingkah laku kawin pada betina (Toelihere, 1979).

Estrus adalah periode yang ditandai dengan penerimaan pejantan oleh hewan betina untuk berkopulasi. Pada umumnya memperlihatkan tanda-tanda gelisah, nafsu makan turun atau hilang sama sekali, menghampiri pejantan dan tidak lari bila pejantan menungganginya (Soebadi, 1982). Menurut Frandson (1992), fase estrus ditandai dengan sapi yang berusaha dinaiki oleh sapi pejantan, keluarnya cairan bening dari vulva dan peningkatan sirkulasi sehingga tampak merah.

Lama estrus pada sapi sekitar 12-24 (Putro, 2008). Estrus pada sapi biasanya berlangsung selama 18 jam dan ovulasi terjadi antara 10-14 jam setelah estrus. Pada saat itu, keseimbangan hormon hipofisa bergeser dari FSH ke LH yang mengakibatkan peningkatan LH, hormon ini akan membantu terjadinya ovulasi dan pembentukan korpus luteum yang terlihat pada masa sesudah estrus. Proses ovulasi akan diulang kembali secara teratur setiap jangka waktu yang tetap yaitu satu siklus birahi. Pengamatan birahi pada ternak sebaiknya dilakukan dua kali, yaitu pagi dan sore sehingga adanya birahi dapat teramati dan tidak terlewatkan (Salisbury dan Vandenmark, 1978).

Meteestrus

Metestrus merupakan fase yang terjadi segera setelah fase estrus berakhir. Gejala tidak terlihat nyata, namun masih terlihat sisa-sisa gejala estrus, tetapi hewan menolak untuk kopulasi. Pada ovarium terjadi pembentukan corpus hemorrhagicum di tempat folikel de Graaf yang telah melepaskan ovum. Ovum yang keluar dari folikel berada dalam tuba falopii menuju uterus. Servix telah menutup, hasil sekresinya berubah dari cair menjadi kental yang berfungsi sebagai sumbat servix (Partodihardjo, 1987). Epithelium pada carunculae uterus sangat hiperemis dan terjadi hemoragika kapiler, hal ini disebut pendarahan metestrus. Pendarahan ini terjadi karena menurunnya kadar esterogen, sekresi mukus menurun dan kelenjar endometrium tumbuh dengan cepat. Menjelang pertengahan dan akhir metestrus, oto uterus mengendor dan lunak (Toelihere, 1979).

Metestrus ditandai dengan berhentinya puncak estrus dan bekas folikel setelah ovulasi mengecil dan berhentinya pengeluaran lendir (Salisbury dan Vandenmark, 1978). Selama meteestrus, rongga yang ditinggalkan oleh pemecahan folikel mulai terisi dengan darah. Darah membentuk struktur yang disebut korpus hemoragikum. Setelah sekitar 5 hari, korpus hemoragikum mulai berubah menjadi jaringan luteal, menghasilkan korpus luteum atau Cl. Fase ini sebagian besar berada dibawah pengaruh progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum (Guyton, 1994). Progesteron menghambat sekeresi FSH oleh pituitari anterior sehingga menghambat pertumbuhan folikel ovarium dan mencegah terjadinya estrus. Pada masa ini terjadi ovulasi, kurang lebih 10-12 jam sesudah estrus, kira-kira 24 sampai 48 jam sesudah birahi. Metestrus terjadi 3-5 hari pada sikus estrus (Toelihere, 1977).

Diestrus

Diestrus adalah periode terakhir dan terlama pada siklus berahi, korpus luteum menjadi matang dan pengaruh progesteron terhadap saluran reproduksi menjadi nyata (Marawali, dkk.,2001). Fase ini berlangsung selama 13 hari pada siklus estrus (Toelihere, 1977). Berikut ini adalah konsentrasi hormon dalam darah selama siklus estrus.

Diestrus adalah fase yang ditandai dengan tidak adanya kebuntingan, tidak ada aktivitas kelamin dan hewan menjadi tenang. Kelenjar-kelenjar endometrium masih mengalami pertumbuhan menjadi berkelok-kelok hingga berbentuk spiral (Partodihardjo, 1987). Corpus luteum menjadi matang, endometrium menjadi lebih tebal, cervix menutup, selaput mucosa vagina pucat dan otot uterus mengendor. Mulai terjadi perkembangan folikel-folikel primer dan skunder dan akhirnya kembali ke proestrus (Toelihere, 1979).

Gelombang Folikel

Perkembangan dan pertumbuhan folikel ovaria selama siklus estrus pada sapi masih menimbulkan beberapa pendapat yang berbeda. Perkembangan folikel dalam satu siklus estrus dalam bentuk gelombang pertumbuhan yang akan berakhir dengan ovulasi. Beberapa peneliti melaporkan bahwa dalam satu siklus hanya ada dua gelombang perkembangan. Dibawah ini adalah gambar perkembangan folikel yang terjadi 2 gelombang selama siklus estrus.


Gelombang pertama hari 1 - 12 dan kedua hari 13 - 21. Peningkatan jumlah folikel antrum besar (diameter lebih dari 5 mm) terjadi pada hari 1 - 18, sementara peningkatan kecepatan atresia folikel-folikel besar lainnya terjadi pada hari 7 - 15 siklus estrus. Peneliti lain melaporkan bahwa pola paling umum adalah 3 gelombang. Berikut ini adalah skema 3 gelombang folikel yang terjadi selama siklus estrus (Putro, 2008)

Pada 3 gelombang, gelombang pertama hari 1 - 8, kedua hari 9 - 13, dan ketiga hari 14 - 21. Mendekati proses ovulasi juga terjadi peningkatan kecepatan pertumbuhan dari folikel-folikel antrum kecil menjadi folikel-folikel yang lebih besar, seiring dengan peningkatan kecepatan atresia folikel-folikel besar. Laporan lain menyebutkan perkembangan folikel dominan terdiri dari kurang lebih 70% dua gelombang pertumbuhan dan sisanya 30% tiga gelombang atau lebih pada sapi perah dan sapi potong. Pemahaman pola perkembangan folikel diperlukan dalam mengatasi permasalahan respon yang bervariasi pada perlakuan sinkronisasi estrus pada sapi (Putro, 2008).

Protokol Ovsynch

Prinsip dasar dari sinkronisasi ovulasi adalah memanipulasi fenomena siklus estrus, baik dengan cara menghambat sekresi LH atau memperpendek masa hidup corpus luteum yang berdampak dimulainya awal birahi dan ovulasi. Keuntungan dari sinkronisasi ovulasi adalah waktu tepat ovulasi dapat ditentukan sehingga mengurangi waktu yang diperlukan untuk mendeteksi estrus, tingkat keberhasilan dari inseminasi buatan (IB) dapat ditingkatkan, mensinkronkan waktu kawin yang berdampak waktu ovulasi dan waktu melahirkan induk bersamaan (Hafez, 2000). Sinkronisasi ovulasi mempunyai potensi dalam memperpendek musim kelahiran, meningkatkan keseragaman umur pedet, dan mempertinggi kemungkinan penggunaan IB (Larson et al.,2006).

Protokol ovsynch adalah salah satu protokol sinkronisasi ovulasi dengan menggunakan kombinasi hormon GnRH dan PGF2. Berikut ini adalah gambar dari metode ovsynch.

Pada protokol ovsynch di atas, hari ke-0 diberi injeksi GnRH untuk ovulasi folikel dan memulai gelombang folikel baru.Hari ke-7 diberi injeksi PGF2α untuk regresi CL. Hari ke-9 diberi injeksi GnRH untuk ovulasi folikel . Hari ke-10, IB dilakukan 12-16 jam setelah injeksi GnRH kedua (Pursley et al.,1997). Untuk dosis yang digunakan pada protokol ovsynch adalah sebagai berikut.

Dosis yang diberikan untuk GnRH adalah 100µg sedangkan PGF2α adalah 25 µg. Selang pemberian GnRH dengan PGF2α adalah 7 hari dan GnRH kedua dilakukan 36-48 jam setelah PGF2α. Kemudian IB dilakukan setelah 16-20 jam setelah inejeksi GnRH kedua (Anonim, 2005).

Ketika diinjeksi GnRH pada hari nol dari protokol ovsynch tetapi kondisi ovarium sapi tidak diketahui, maka GnRH akan memicu pelepasan LH yang menyebabkan ovulasi dan memulai siklus lagi jika pada saat itu ovarium memiliki folikel matang. Jika ada CL, GnRH akan memicu pelepasan FSH yang menciptakan kelompok baru folikel kemudian jika sapi baru saja ovulasi dalam 4-5 hari, GnRH tidak berfungsi apa-apa (Anonim, 2006a).

Progesteron

Progesteron dapat juga disebut P4 merupakan hormon steroid yang terlibat dalam siklus estrus betina. Progesteron merupakan hormon yang diproduksi dan dilepaskan ke dalam darah oleh corpus luteum pada ovarium. Corpus luteum (CL) terbentuk setelah folikel telah mengalami ovulasi. Pada saat estrus, konsentrasi hormon ini rendah dan mulai berkembang setelah ovulasi. Pada saat sapi dibuahi dan bunting, progesteron dalam darah tetap tinggi sampai menjelang partus. Bila sapi tidak konsepsi, maka CL akan mulai berdegenerasi kira-kira hari ke-17 dari siklus estrus dan progesteron akan menurun sampai konsentrasi minimalnya pada hari ke 20-23 pada saat sapi kembali estrus (O’Connor, 2004).

Fungsi progesteron sulit dipisahkan dari hormon-hormon lain seperti esterogen. Progesteron secara normal bekerjasama dengan esterogen dan hanya menghasilkan sedikit pengaruh khusus bila bekerja sendiri. Progesteron menstimuler pertumbuhan sistem glanduler pada endometrium uterus yang telah disensitifkan terlebih dahulu oleh esterogen. Progesteron mempertahankan kebuntingan dengan menghasilkan suatu lingkungan endometrial yang sesuai untuk kelanjutan hidup dan perkembangan embrio. Progesteron menghambat produksi FSH dan LH, sehingga mencegah terjadinya estrus, ovulasi dan siklus estrus. Progesteron bekerjasama dengan esterogen menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan sistem alveolar kelenjar mamae (Toelihere, 1979).

Konsentrasi progesteron dalam darah erat korelasinya dengan konsentrasinya dalam susu. Progesteron merupakan hormon steroid yang memiliki afinitas dengan lemak susu. Progesteron dalam susu ini lebih tinggi konsentrasinya dibandingkan dengan didalam darah (O’Connor, 2004). Hal ini dapat disebabkan karena daya larut dari progesteron tersebut sebagai hormon steroid dan dikatakan juga bahwa sintesis progesteron dalam jaringan mamae kambing dilakukan oleh suatu enzim (Batra, Arora, Bachlaus and Pandey, 1979).

Progesteron dapat digunakan sebagai test kebuntingan karena CL hadir selama awal kebuntingan pada semua spesies ternak. Level progesteron dapat diukur dalam cairan biologis seperti darah dan susu, kadarnya menurun pada hewan yang tidak bunting. Progesteron rendah pada saat tidak bunting dan tinggi pada hewan yang bunting. Test pada susu lebih dianjurkan dari pada test pada darah, karena kadar progesteron lebih tinggi dalam susu daripada dalam plasma darah. Lagi pula sampel susu mudah didapat saat memerah tanpa menimbulkan stress pada ternaknya. Sampel susu ditest menggunakan radio immuno assay (RIA). Sample ini dikoleksi pada hari ke 22 – 24 setelah inseminasi. Teknik koleksi sample bervariasi namun lebih banyak diambil dari pemerahan sore hari. Bahan pengawet seperti potasium dichromate atau mercuris chloride ditambahkan untuk menghindari susu menjadi basi selama transportasi ke laboratorium. Metoda ini cukup akurat, tetapi relatif mahal, membutuhkan fasilitas laboratorium dan hasilnya harus menunggu beberapa hari (Lestari, 2006).

Test progesteron susu lebih sesuai untuk mendiagnosa ketidakbuntingan dari pada kebuntingan dan dapat mengidentifikasi hewan yang tidak bunting jauh lebih dini dari pada dengan metoda palpasi rektal. Test progesteron susu aplikasinya terbatas pada spesies-spesies ternak lain. ELISA assay P4 pada hari ke 24 post inseminasi, adalah 100 % akurat untuk yang tidak bunting dan 77 % untuk yang bunting (Kaul and Prakash,1994). Karena domba tidak laktasi pada saat kawin, maka test dilakukan dengan sampel darah. Pada kambing, test ELISA dapat digunakan untuk diagnosa dini dengan sampel susu yang diambil pada hari ke 20 setelah perkawinan (Engeland, et al. 1997), tetapi gagal untuk membedakan kebuntingan dengan hydrometra. Sedang pada babi dan kuda, keakuratan test ini adalah rendah karena corpus luteum persisten (CLP) menyebabkan pseudopregnancy pada hewan yang tidak bunting (Lestari, 2006).

Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH)

GnRH merupakan suatu dekadeptida (10 asam amino) dengan berat molekul 1183 dalton. Hormon ini menstimulasi sekresi follicle stimulating hormon(FSH) dan Leutinizing Hormone (LH) dari hipofisis anterior (Salisbury dan vandemark, 1985). Pemberian GnRH meningkatkan FSH dan LH dalam sirkulasi darah selama 2 sampai 4 jam (Chenault et al.,1990). Secara alamiah, terjadinya level tertinggi (surge) LH yang menyebabkan ovulasi merupakan hasil kontrol umpan balik positif dari sekresi estrogen dari folikel yang sedang berkembang. Berikut ini adalah mekanisme kerja GnRH.

Hipotalamus akan mensekresi GnRH, kemudian GnRH akan menstimulasi hipofisis anterior untuk mensekresi FSH dan LH. FSH bekerja pada tahap awal perkembangan folikel dan dibutuhkan untuk pembentukan antrum folikel. FSH dan LH merangsang folikel ovarium untuk mensekresikan estrogen. Menjelang waktu ovulasi konsentrasi hormon estrohen mencapai suatu tingkatan yang cukup tinggi untuk menekan produksi FSH dan dengan pelepasan LH menyebabkan terjadinya ovulasi dengan menggertak pemecahan dinding folikel dan pelepasan ovum. Setelah ovulasi maka akan terbentuk korpus luteum dan ketika tidak bunting maka PGF2α dari uterus akan melisiskan korpus luteum. Tetapi jika terjadi kebuntingan maka korpus luteum akan terus dipertahankan supaya konsentrasi progesterone tetap tinggi untuk menjaga kebuntingan(Adnan dan Ramdja, 1986).

Prostaglandin (PGF2α)

Prostaglandin adalah senyawa C20 dengan satu cincin siklopenta yang mirip derivate asam lemak tak jenuh seperti arakidonat (Widianto, 1991). Nama prostaglandin diberikan oleh Von Euler karena ia berpendapat bahwa zat ini dihasilkan oleh kelenjar prostat manusia. Prostaglandin mempunyai implikasi pada pelepasan gonadotropin, ovulasi, regresi CL, motilitas uterus dan motilitas spermatozoa (Djajosoebagio, 1990).

PGF2α bersifat luteolitik sehingga mampu menginduksi terjadinya regresi CL yang mengakibatkan estrus, akan tetapi mekanisme yang sebenarnya belum diketahui dengan pasti walaupun salah satu dari postulat-postulat yang ada menyatakan bahwa efek vasokonstriksi dari PGF2α dapat menyebabkan luteolisis. Beberapa hipotesis tentang bagaimana kerja PGF2α dalam melisiskan CL yaitu :(1) PGF2α langsung berpengaruh kepada hipofisis, (2) PGF2α menginduksi luteolisis melalui uterus dengan jalan menstimulir kontraksi uterus sehingga dilepaskan luteolisis uterin endogen, (3) PGF2α langsung bekerja sebagai racun terhadap sel-sel CL, (4) PGF2α bersifat sebagai antigonadotropin, baik dalam aliran darah maupun reseptor pada CL, dan (5) PGF2α mempengaruhi aliran darah ke ovarium (Solihati, 2005). PGF2α hanya efektif bila ada korpus luteum yang berkembang, antara hari 7 sampai 18 dari siklus estrus(Putro, 2008).

Metode sinkronisasi yang didasarkan pada sinkronisasi akhir fase luteal, yaitu dengan menggunakan PGF2α dan analognya atau pemberian progesteron eksogen, menyebabkan waktu yang diperlukan untuk pematangan folikuler dan ovulasi cenderung tidak konsisten diantara individu ternak. Hal ini menyebabkan variasi fertilitas yang dikaitkan dengan keberadaan gelombang folikuler saat perlakuan dimulai. Angka kebuntingan menurun sejalan dengan keberadaan folikel dominan (FD) persisten. Angka kebuntingan mulai menurun sejak FD menetap selama empat sampai delapan hari dan terus menurun jika keberadaannya dipertahankan selama 10 hari. Sinkronisasi estrus dengan menggunakan PGF2α yang diberikan secara intramuscular sekali pada fase luteal atau dua kali berselang sebelas hari tanpa melihat siklus estrus, hasilnya bervariasi antara 75% sampai 100%, yaitu 78%, 82% , 86,7% , 87% dan 100%. Penggunaan PGF2α secara intramuskular yang dikombinasikan dengan progesteron intravaginal (CIDR) menghasilkan persentase estrus 100% dan angka kebuntingan 71,4%(Solihati, 2005).

Controlled Internal Drug Release (CIDR)

Controlled Internal Drug Release merupakan alat yang terbuat dari sebatang silikon berbentuk huruf T dan mengandung 1,9 gram hormon progesteron untuk hewan besar (seperti sapi dan kerbau) dan 0,33 gram hormon progesteron untuk hewan kecil (seperti kambing dan domba). Keuntungan penggunaan alat ini adalah untuk mengontrol siklus berahi, mengatasi problem fertilitas seperti anovulatory anoestrus (ternak yang tidak bersiklus) dan ovarium yang sistik, serta untuk program seleksi dan transfer embrio (Tambing et al, 2000). Berikut ini adalah gambar alat CIDR dan cara pemasangannya.

Pemasangan CIDR dilakukan secara asepsis dengan aplikator khusus yang sudah dicelupkan dalam larutan antiseptik standar, diberi pelumasan dengan gel steril, netral, kemudian dimasukkan ke dalam vagina sampai di depan os uteri dari servik, seterusnya implan dideposisikan pada tempat itu. Estrus akan timbul dalam waktu 3 hari kemudian setelah CIDR dicabut, sehingga inseminasi buatan dapat dilakukan antara hari ke 48 sampai 72 jam kemudian ( Putro, 2008).

Mekanisme kerja dari alat ini, yaitu alat ini dimasukkan dan didiamkan dalam vagina selama beberapa hari, selanjutnya progesteron yang terdapat di dalam alat ini akan diserap oleh vagina dan segera disekresikan ke dalam aliran darah yang akan menghambat pelepasan FSH dan LH dari adenohipofisis melalui mekanisme umpan balik negatif. Kadar progesteron dalam darah akan meningkat pada saat alat disisipkan dalam vagina dan tetap stabil dipertahankan selama periode penyisipan alat ini. Setelah alat ini dicabut terjadi penurunan progesteron secara mendadak dan mencapai level basal sehingga terjadi feedback positif pada hipotalamus untuk melepaskan GnRh yang akhirnya terjadi pelepasan hormon FSH dan LH dari adenohipofisis dan akan terjadi pematangan folikel, berahi dan ovulasi (Tambing et al., 2000). CIDR memberikan fertilitas terbaik bila diinsersikan selama 7 sampai 10 hari ( Putro, 2008). Berikut ini adalah contoh skema sinkronisasi estrus dengan CIDR dan PGF2α

Pada gambar diatas pemasangan CIDR di vagina dilakukan pada hari ke-0. Setelah selang 7 hari CIDR dicabut, tetapi 24 jam sebelum pencabutan CIDR di injeksi PGF2α untuk melisiskan korpus luteum yang tersisa, sehingga akan lebih meminimumkan kadar progesteron setelah CIDR dicabut, sebagai akibatnya proses estrus dan ovulasi akan menjadi lebih baik ( Putro, 2008)

PEMBAHASAN

Pada penelitian Stevenson et al., (2007) dilakukan presinkronisasi dan ovsynch. Presinkronisasi menggunakan CIDR dan PGF2α. CIDR di pasang pada sapi selama 7 hari. Satu hari sebelum pencabutan CIDR sapi di injeksi PGF2α. Setelah 3 hari pencabutan CIDR terjadi estrus. Ovsynch dimulai setelah pencabutan CIDR. Injeksi GnRH dilakukan pada hari ke-6 dari siklus estrus dan kemudian sapi dialokasikan secara acak. Dua kelompok untuk perlakuan sedangkan satu kelompok untuk kontrol. Dimana untuk kontrol antara injeksi GnRH pertama dan PGF2α adalah 7 hari sedangkan untuk perlakuan 8 dan 9 hari. Berikut ini adalah gambar metode yang dilakukan oleh Stevenson et al., (2007).

Gambar 10. Metode yang dilakukan untuk menguji penundaan antara injeksi GnRH pertama dan PGF2α dari 7 hari sampai 8 atau 9 hari pada ovsynch (Stevenson et al., 2007)

Lamb et al., (2006) menyatakan bahwa penyuntikan GnRH menyebabkan pembentukan gelombang folikel baru setelah 2-3 hari kemudian. Dibawah ini adalah gambar protokol ovsynch ketika GnRH diberikan antara hari ke-5 sampai 12 dari siklus estrus.

Gambar 11. Perkembangan folikel pada protokol ovsynch ketika GnRH diberikan antara hari ke 5- 12 dari siklus estrus(Anonim, 2001a)

Stevenson et al., (2007) melakukan penelitian dengan menunda luteolisis hingga 24 dan 48 jam setelah 7 hari interval normal antara GnRH dan PGF2α dalam sebuah protokol Ovsynch untuk menguji apakah dapat meningkatkan ukuran folikel dan sekresi E2-17ß. Hasil penelitiannya gagal menghasilkan folikel yang lebih besar dan tidak menghasilkan konsentrasi serum E2-17ß yang lebih besar. Baik diameter atau volume dari folikel preovulasi maupun konsentrasi E2-17ß yang ditingkatkan dengan memperpanjang periode dominasi untuk calon folikel dominan.

Kejadian estrus (Dransfield et al., 1998) dan tingkat deteksi estrus (Stevenson, 2001) yang berkurang pada sapi perah laktasi mungkin sebagai akibat dari kejadian kurangnya estrogen selama periode periestrual. Antara sapi laktasi, sapi yang memproduksi susu lebih banyak memiliki jangka waktu estrus lebih pendek, lebih sedikit standing events, dan kurangnya total standing time daripada sapi yang berproduksi rendah (Lopez et al., 2004). Tampak jelas bahwa sapi laktasi memerlukan folikel lebih besar dan produksi E2-17ß lebih besar untuk mampu mencapai sirkulasi konsentrasi E2-17ß dibutuhkan untuk menghasilkan lonjakan LH dan ovulasi dibandingkan dengan sapi tidak laktasi (Sartori et al., 2002). Perbedaan antara ukuran struktur ovarium dan konsentrasi serum steroid mungkin disebabkan oleh tingkat yang lebih besar dalam metabolisme steroid pada sapi perah laktasi daripada sapi dara(Sangsritavong et al., 2002). Lebih jauh, jelas bahwa perbedaan-perbedaan ini tidak dapat dijelaskan oleh perbedaan pada pola-pola gelombang folikel (Sartori et al., 2004).

Berdasarkan penelitian (Sangsritavong et al., 2002; Sartori et al., 2004), terlihat bahwa sapi laktasi memetabolisme E2-17ß lebih cepat, hasilnya tidak cukup konsentrasi E2-17ß untuk mendukung kegiatan yang berkaitan dengan fertilitas normal. Tidak diketahui, bagaimana biosintesis E2-17ß oleh folikel antral mungkin rendah karena laktasi. Lebih lanjut, sapi berproduksi tinggi mempunyai konsentrasi E2-17ß lebih rendah daripada sapi berproduksi rendah, walaupun memiliki folikel preovulasi lebih besar (Lopez et al., 2004). Menariknya, konsentrasi E2-17ß tidak ada hubungan dengan diameter folikel preovulasi, tetapi produksi susu berhubungan dengan kedua konsentrasi E2-17ß dan diameter folikel preovulasi. Jelas bahwa memperpanjang masa hidup folikel dominan (folikel preovulasi) dalam penelitian yang dilakukan oleh Stevenson et al., (2007) gagal untuk meningkatkan salah satu baik ukuran folikel atau konsentrasi serum E2-17ß perifer.

Upaya lain untuk meningkatkan konsentrasi estrogen selama periode periestrual telah dibuat. Penelitian dimana 0,5-1 mg estradiol cypionate (ECP) diinjeksi pada kombinasi dengan sinkronisasi ovulasi menunjukkan bahwa injeksi ECP 24 jam setelah PGF2α tidak mungkin meningkatkan angka konsepsi pada sapi perah laktasi (Pancarci et al., 2002; Stevenson dan Tiffany, 2004; Stevenson et al., 2004). Lebih lanjut, ketika 0,25 mg dari ECP ini diberikan pada 48 jam setelah PGF2α, seiring dengan injeksi GnRH kedua Ovsynch, konsentrasi serum E2-17ß lebih besar pada 6 dan 12 jam setelah injeksi dibanding kontrol, yang hanya menerima GnRH , tapi tingkat konsepsi tidak berbeda antara perlakuan (Sellars et al., 2006).

Sapi perah laktasi yang diberi 1 mg E2-17ß (estrogen short acting dan waktu paruh yang lebih pendek dari pada ECP; Vynckier et al., 1990) 8 jam sebelum injeksi GnRH kedua dan dibandingkan dengan sapi dengan perlakuan seperti protokol Ovsynch, di mana injeksi GnRH kedua ditunda hingga 54 jam setelah PGF2α, dan TAI terjadi 16 jam kemudian (Souza et al., 2005). Perlakuan dengan E2-17ß cenderung untuk meningkatkan tingkat konsepsi pada sapi yang memiliki BCS lebih rendah (≤ 2,5) dan pada sapi laktasi pertama dibandingkan dengan sapi yang dilakukan dengan Ovsynch sendirian.

Injeksi estrogen atau peningkatan exposure sapi sampai estrogen endogen meningkatkan kejadian estrus pada penelitian sebelumnya (Pancarci et al., 2002; Stevenson et al., 2004), dimana bermanfaat bagi fertilitas pada beberapa kasus (Souza et al., 2005) . Selain itu, manfaat positif lainnya dari pemasukan estrogen induksi karakteristik estrual normal, seperti sekresi lendir, nada uterus, dan menghasilkan perilaku seksual. Ciri ini adalah indikator positif estrus untuk inseminator karena mungkin sekali sapi berada pada saat estrus (Pancarci et al., 2002).

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, A. dan Ramdja , M. 1986. Fisio patologi Ovarium Sapi dan Aktivitas Hormonalnya. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor.

Anonim, 2001a. http://www.animal.ufl.edu/thatcher/TAI.htm

Anonim, 2001b.http://cal.vet.upenn.edu/projects/fieldservice/Dairy/REPRO/.htm

Anonim, 2005. http://www.moomilk.com/archive/a_health_33.htm

Anonim, 2006a. http://genex.crinet.com/page2842/TrickingTheEstrousCycle

Anonim , 2006b. http://beef.osu.edu/library/ISU.html

Anonim, 2007. http://oklahomastateuniversuty.com

Anonim, 2008a. http://okayamauniversity.com

Anonim, 2008b. http://reproductionresourcecenter.com

Austin, E. J., M. Mihm, M. P. Ryan, D. H. Williams, and J. F. Roche. 1999. Effect of duration of dominance of the ovulatory follicle on onset of estrus and fertility in heifers. J. Anim. Sci. 77:2219–2226

Belli, H.L.L. 1990. Pengaruh berbagai dosis PGF2α dan cara pemberian terhadap Performans reproduksi sapi Bali. Thesis. PPS-IPB. Bogor.

Chenault, J.R., D. D. Smith. 1989. Interrelationships between energy balance and post partum reproductive function in dairy cattle. J. Dairy Sci. 72:767-771.

Daranguru, L. 1991. Penentuan dosis efektif PGF2_ secara i.m. dalam sinkronisasi estrus pada ternak sapi Bali di BesipaE. Skripsi, Fapet Undana.

Djojosoebagio, S. 1990. Fisiologi Kelenjar endokrin Volume II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dirjen. Dikti. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, IPB.

Ginther, O.J., L. Knopf and J.P. Kastelic. 1989. Temporal associations among ovarian events in cattle during oestrous cycle with two or three follicular waves. J. Reprod. & Fertil., 87 : 223.

Herdis, I. Kusuma, M. Surachman dan E.R. Suhana, (2007). Peningkatan Populasi dan Mutu Genetik Sapi. http://kenshuseidesu.tripod.com/id46.html.

Husnurrizal, 2008. Sinkronisasi Birahi Dengan Preparat Hormon Prostaglandin (PGF2α). Fakultas kedokteran Hewan. Universitas Syiah Kuala.

Kastelic, J.P., D.H. McCartney, W.O. Olson, A.D. Bath, A. Garcia, and R.J. Mafletoft. 1996. Estrus synchronization in cattle using estradiol, melengesterol acetate and PGF2_. Theriogenology. 1295-1304.

Marawali, A., M.T. Hine, Burhanuddin, H.L.L. Belli. 2001. Dasar-dasar ilmu reproduksi ternak. Departemen pendidikan nasional direktorat pendidikan tinggi badan kerjasama perguruan tinggi negeri Indonesia timur. Jakarta.

Mihm, M., A. Baguisi, M.P. Boland and J.F. Roche. 1994. Association between the duration of dominance of ovulatory follicle and pregnancy rate in beef heifers. J. Reprod. & Fertil., 102 :123.

Partodiaharjo, S. 1992. Ilmu reproduksi hewan. PT. Mutiara Sumber Widya. Jakarta Lopez, H., L. D. Satter, and M. C. Wiltbank. 2004. Relationship between level of milk production and estrous behavior of lactating dairy cows. Anim. Reprod. Sci. 89:209–223.

Pancarci, S. M., E. R. Jordan, C. A. Risco, M. J. Schouten, F. L. Lopes, F. Moreira, and W. W. Thatcher. 2002. Use of estradiol cypionate in a presynchronized timed artificial insemination program for lactating dairy cattle. J. Dairy Sci. 85:122–131

Pursley, J. R., M. W. Kosorok, and M. C. Wiltbank. 1997. Reproductive management of lactating dairy cows using synchronization of ovulation. J. Dairy Sci. 80:301–306.

Pursley, J. R., M. E. Mee, and M. C. Wiltbank. 1995. Synchronization of ovulation in dairy cows using PGF2 and GnRH. Theriogenology 44:915–923.

Putro, P., P. 2008. Teknik Sinkronisasi Estrus Pada Sapi. Bagian Reproduksi dan Obstetri. Universitas Gadjah Mada.

Salisbury, R.E. dan W.L. vandemark. 1985. Fisiologi reproduksi dan inseminasi buatan pada sapi. Edisi terjemahan oleh R. Djanuar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sangsritavong, S., D. K. Combs, R. Sartori, L. E. Armentano, and M. C. Wiltbank. 2002. High feed intake increases liver blood flow and metabolism of P4 and estradiol-17ß in dairy cattle. J. Dairy Sci. 85:2831–2842.

Sartori, R., J. M. Haughian, R. D. Shaver, G. J. M. Rosa, and M. C. Wiltbank. 2004. Comparison of ovarian function and circulating steroids in estrous cycles of Holstein heifers and lactating cows. J. Dairy Sci. 87:905–920.

Sartori, R., G. J. M. Rosa, and M. C. Wiltbank. 2002. Ovarian structures and circulating steroids in heifers and lactating cows in summer and lactating and dry cows in winter. J. Dairy Sci. 85:2813–2822.

Sellars, C. B., J. C. Dalton, R. Manzo, J. Day, and A. Ahmadzadeh. 2006. Time and incidence of ovulation and conception rates after incorporating estradiol cypionate into a timed artificial insemination protocol. J. Dairy Sci. 89:620–626.

Sirois, J. and J.E. Fortune. 1988. Ovarian follicular dynamics during the estrous cycle in heifers monitored by real-time ultrasonography. Biol. of Reprod., 39 : 308.

Solihati, N. 2005. Pengaruh Metode Pemberian PGF2α Dalam Sinkronisasi Estrus Terhadap angka Kebuntingan Sapi Perah Anestrus. Fakultas Peternakan. Universitas Padjajaran.

Sonjaya, H. 2005. Materi Mata Kuliah Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Stevenson, J. S. 2001. A review of oestrous behaviour and detection in dairy cows. Pages 43–62 in Fertility in the High-Producing Dairy Cow. Vol. 1. Br. Soc. Anim. Sci. Occ. Pub. No. 26. Br. Soc. Anim. Sci., Edinburgh, UK.

Stevenson, J. S., Portalupi, M, A., Tenhouse, D. E., 2007. Ovarian Traits After Gonadotropin Hormon Induced Ovulation and Subsequent Delay of Induced Luteolysis in an Ovsynch Protocol. J. Dairy Sci. 1281-1288

Tambing, S. N., Toelihere, M. R., Yusuf, T. L. 2002. Optimasi Program Inseminasi pada Kerbau. Wartazoa Vol. 10 No. 2

Tenhagen, B. A. 2005. Factors influencing conception rate after synchronization of ovulation and timed artificial insemination–A review. Dtsch. Tieraerztl. Wochenschr. 112:136–141.

Thatcher, W. W., K. L. Macmillan, P. J. Hansen, and M. Drost. 1989. Concepts for regulation of corpus luteum function by the conceptus and ovarian follicles to improve fertility. Theriogenology 31:149–164.

Toelihere, M.R. 1985a. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung.

Toelihere, M.R. 1985b. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa. Bandung.

Toelihere, M.R., T.L. Yusuf, Burhanuddin, H.L.L. Belli dan I.G.M.A.K. Dewi. 1992. Studi Tentang TE tanpa Pembedahan pada Ternak Sapi Bali diBesipaE. Dalam Buletin Penelitian Undana, Edisi Khusus Ilmu Ternak.

Twagiramungu, H., L. A. Guilbault, J. Proulx, and J. J. Dufour. 1992a. Synchronization of estrus and fertility in beef cattle with two injections of buserelin and prostaglandin. Theriogenology 38:1131–1144.

Twagiramungu, H., L. A. Guilbault, J. Proulx, R. Ramkumar, and J. J. Dufour. 1994b. Histological populations and atresia of ovarian follicles in postpartum cattle treated with an agonist of gonadotropin-releasing hormone. J. Anim. Sci. 72:192–200.

Twagiramungu, H., L.A. Guilbault & J.J. Dufour., 1995. Synchro nization of ovarian follicular waves with a gonadotropin-releasing hormone agonist to increase the precision of estrus in cattle: A Review. J. Anim. Sci. 73:141-3151.

Van Cleeff, J., K.L. Macmillan, M. Drost, M.C. Lucy and W.W. Thatcher. 1996. Effect of administering progesterone at selected intervals after insemination of synchronized heifers on pregnancy rates and resynchronization of return to service. Theriogenology : 1117-1128.

Vargas, R.B., Y. Fukui, A. Miyamoto, and Y. Terawaki. 1994. Estrus synchronization using CIDR in Heifers. J. Reprod. Dev. 40 (1) : 59-64.

Vasconcelos, J. L. M., R. W. Silcox, G. J. Rosa, J. R. Pursley, and M. C. Wiltbank. 1999. Synchronization rate, size of the ovulatory follicle, and pregnancy rate after synchronization of ovulation beginning on different days of the estrous cycle in lactating dairy cows. Theriogenology 52:1067–1078.

Widianto, M. B. 1991. Dinamika Obat Edisi 5. ITB. Bandung



3 komentar:

  1. mas saya mahasiswa unand. pengen nanya ne, bagai pengaruh progesteron terhadap berahi pas partum.mksih mas

    BalasHapus
  2. Progesteron rendah pada saat tidak bunting dan tinggi pada hewan yang bunting.
    pada saat birahi hormon yang meningkat adalah estrogen dan progesteron sendiri akan menurun.

    BalasHapus
  3. mas, ad leteratur tentang kadar progesteron setelah ovulasi pada kerbau ngk mas??

    BalasHapus