Senin, 17 Mei 2010

Inseminasi Buatan dan Crossbreeding

Inseminasi buatan (IB) telah diaplikasikan secara luas pada sapi perah maupun sapi potong di Indonesia. Aplikasi IB mempunyai keuntungan dan kerugian, namun dianggap keuntungan melampaui kerugiannya dengan berdasarkan prinsip suatu doktrin pemuliaan ternak “Breed the best to the best”. Teknologi ini terbukti merupakan tool yang handal dalam pelaksanaan breeding dan grading up sapi. Di Indonesia implementasi komersial IB dimulai sejak tahun 1975, dengan tujuan utama untuk memudahkan penyebaran genetik unggul, meningkatkan kebuntingan, meningkatkan produktivitas ternak rakyat, efisiensi penggunaan pejantan unggul dan mencegah penyebaran penyakit kelamin menular. Inseminasi buatan mempunyai manfaat memudahkan upaya mengkombinasikan genetik impor ke dalam potensi genetik sapi lokal. Implementasi tahap I, dimulai tahun 1982 dengan semen beku dari pejantan Taurindicus dan Santa Gertrudis belum berhasil mendapatkan respon dari peternak; Tahap II, dimulai tahun 1990 dengan pejantan Simmental dan Limousin mendapatkan respon luar biasa sampai sekarang oleh peternak.

Crossbreeding merupakan persilangan antar ternak dari bangsa (breed) yang berbeda. Crossbreeding sapi potong mempunyai tujuan antara lain: a) membentuk bangsa teranak baru (composite breed), b) meningkatkan produksi ternak lokal, c) mendapatkan efek heterosis (sifat yang muncul dari persilangan yang berbeda dari induknya), d) mendapatkan komplementari bangsa (breed complementary). Di dunia sapi potong praktek persilangan ini banyak dilakukan untuk membentuk terminal cross atau composite breed antara Bos taurus dan Bos indicus. Australia merupakan negara peternakan yang banyak melakukan praktek ini untuk membentuk bangsa sapi baru yang tahan panas, tahan kering dan tahan caplak, namun mempunyai produktivitas yang tetap tinggi. Tercatat antara lain muncullah bangsa sapi baru silangan Bos taurus-Bos indicus, antara lain Simbrah (Simmental-Brahman), Brangus (Brahman-Angus), Australian Milking Zebu, Draught Master, Brahman Cross, Sahiwal Cross. Sejauh ini tidak dilaporkan adanya penurunan tingkat fertilitas secara signifikan bangsa sapi silangan tersebut di Australia dengan manajemen peternakan pastura ekstensif.

Di Indonesia, aplikasi inseminasi buatan pada sapi potong secara intensif telah memungkinkan terjadinya crossbreeding antara sapi-sapi lokal (Peranakan Onggole = PO atau Bali) dengan semen beku Bos taurus, utamanya Simmental, Limousin dan Angus, sehingga permintaan semen bekunya tetap tinggi. Sebaliknya semen beku pejantan lokal semakin kurang diminati oleh peternak. Belum adanya breeding policy sapi potong dari Pemerintah yang rinci dalam program crossbreeding ini, serta diberlakukannya otonomi daerah, menyebabkan program inseminasi buatan dilakukan oleh peternakan rakyat, tanpa kontrol dari pemerintah. Belum lagi adanya ancaman punahnya bangsa sapi lokal, seperti semakin langkanya sapi PO di pulau Jawa. Alasan mengapa peternak sapi potong di Indonesia lebih menyukai persilangan dengan Bos taurus (Simmental dan Limousin), antara lain karena berat lahir lebih besar, pertumbuhan lebih cepat, adaptasi baik pada lingkungan serta pakan yang sederhana, ukuran tubuh dewasa lebih besar dan penampilan yang eksotik. Alasan ini mengakibatkan nilai jual lebih tinggi, pendapatan peternak lebih besar, serta dapat menjadi kebanggaan peternak. Kondisi saat ini program crossbreeding dalam grading up sapi lokal dengan semen beku Simmental atau Limousin semakin banyak dijumpai di pedesaan indukan sapi silangan F1 (50% darah Bos taurus), F2 (75%), F3 (87,5%), F4 (93,75%) dan F5 (96,875%). Fakta menunjukkan bahwa sapi silangan indukan milik rakyat dengan darah Bos taurus lebih dari 87,5% mempunyai kecenderungan sulit bunting, bahkan dari fertilitasnya sudah kelihatan adanya penurunan sejak F1.

1. Kinerja dan Anomali Reproduksi Sapi Betina Crossbreeding

Aplikasi IB pada indukan sapi silangan menunjukkan penurunan kinerja reproduksi, antara lain semakin menurunnya angka konsepsi (conception rate = CR), semakin meningkatnya jumlah inseminasi per kebuntingan (services per conception = S/C) dan hari-hari kosong (days open) dengan semakin tingginya darah Bos taurus. Pengamatan Putro (2008) pada kelompok sapi PO dan silangan akseptor IB di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan hal tersebut (Tabel 1).

Tabel 1. Kinerja reproduksi sapi PO dan silangan PO-Simmental akseptor IB

Kinerja Reproduksi

PO

F1

F2

F3

F4

Angka konsepsi (CR)

80%

68%

60%

39%

34%

Inseminasi per konsepsi (S/C)

1,20

1,90

2,30

3,40

3,50

Days open (Hari-hari kosong)

158 hari

189 hari

205 hari

236 hari

219 hari

Anestrus pasca beranak

38%

44%

58%

68%

76%

Endometritis

8%

17%

22%

31%

28%

Repeat breeding

28%

38%

47%

62%

68%

Korpus luteum persisten

6%

13%

15%

19%

16%

Penurunan kinerja reproduksi terlihat dengan semakin menurunnya angka konsepsi, meningkatnya jumlah inseminasi per konsepsi dan hari-hari kosong pasca beranak dengan semakin banyaknya angka F, atau dengan semakin tingginya darah Bos taurus. Pada kasus ini kebetulan semua sapi betina diinseminasi buatan dengan semen beku bangsa Simmental. Pada peternakan sapi rakyat, pemeliharaan tradisional dan pakan yang kurang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya agaknya merupakn penyebab utama menurunnya kunerja reproduksi ini. Disamping itu, masalah pakan sangat mempengaruhi skor kondisi tubuh (SKT) yang umumnya lebih rendah dari optimum bagi proses reproduksi (3,0-3,5, dari skor 1,0-5,0). Rerata SKT sapi silangan yang relatif rendah ini sangat berpengaruh pada kinerja reproduksi. Penurunan kinerja reproduksi ini oleh Diwyanto (2002) diduga sebagai akibat adanya pengaruh genetic environmental interaction, di samping kemungkinan telah banyak terjadi inbreeding akibat persilangan yang tidak terencana dan tidak tercatat. Dari pengamatan pedet-pedet hasil IB, perkawinan silang akan banyak memunculkan sifat-sifat gen resesif, antara lain berbentuk kematian pedet dalam kandungan, lahir mati (stillbirth), kasus-kasus teratologi seperti hidrosephalus dan atresia ani (tidak mempunyai lubang anus).

Pengamatan penulis juga mencatat, semakin tinggi darah Bos taurus akan membuat sapi semakin rentan terhadap investasi cacing hati (fasciolasis) dan cacing porang (paramphistomiasis). Keadaan ini sangat mengurangi efisiensi pakan dan akibatnya jelas kondisi sapi yang terlalu kurus atau mempunyai SKT rendah (dibawah 2,0) serta berakibat dengan tumbulnya infertilitas metabolik. Anomali reproduksi sangat berkaitan erat dengan rendahnya SKT dan infertilitas metabolik, terutama berbentuk hipofungsi ovaria (ovarian quiscence), sista folikel (anovulatory follicle), ovulasi tertunda (delayed ovulation) dan korpus luteum persisten (persistency of corpus luteum) dan endometritis subklinis (subclinical endometritis).

Hipofungsi ovaria (ovarian quiscence), erat kaitannya dengan SKT rendah atau infertilitas metabolik. Pada sapi crossbreeding keadaan ini lebih umum dijumpai daripada sapi PO, akibat lebih pekanya sistem reproduksi terhadap malnutrisi. Kejadian malnutrisi menyebabkan defisiensi kronis follicle stimulating hormone (FSH), akibatnya tidak terjadi perkembangan folikel serta pengecilan ukuran ovaria. Pada kasus ini tidak dijumpai adanya perkembangan folikel dan ovulasi, sehingga sapi akan mengalami anestrus. Perbaikan SKT dengan peningkatan pakan akan segera memulihkan keadaan ini, dengan catatan kondisi belum melanjut menjadi atrofi ovaria.

Sista folikel (anovulatory follicle), keadaan ini lebih ringan daripada hipofungsi ovaria, walaupun lebih karena defisiensi luteinizing hormone (LH). Folikel yang berkembang maksimum tidak mengalami ovulasi, karena kuantitas LH kurang mencukupi untuk menginisiasi ovulasi. Sista folikel terbukti juga lebih banyak terjadi serta kejadiannya cenderung lebih meningkat pada sapi silangan dengan darah Bos taurus lebih tinggi.

Ovulasi tertunda (delayed ovulation), juga akibat defisiensi LH lebih ringan lagi. Folikel ovulasi yang sudah masak mengalami penundaan ovulasi akibat LH kurang optimum. Kondisi ini juga lebih sering dijumpai pada sapi silangan dengan Bos taurus, serta prevalensinya lebih meningkat dengan semakin tingginya angka F.

Korpus luteum persisten (persistency of corpus luteum), terkait dengan adanya peradangan dan infeksi endometrium, terjadi karena kegagalan produksi dan atau pembebasan prostaglandin F2a karena lesi pada endometrium. Sapi penderita korpus luteum persisten biasanya mengalami gejala tidak birahi atau anestrus. Endometritis subklinis (subclinical endometritis), merupakan peradangan ringan endometritis, namun tidak menghentikan siklus estrus penderita. Endometritis subklinis biasanya mempunyai gejala repeat breeding (kawin berulang), yaitu keadaan dimana betina dengan siklus birahi normal kawin lebih dari 3 kali dengan pejantan atau semen fertil namun tetap tidak berhasil bunting. Pada sapi crossbreeding kejadian infeksi dan alat reproduksi atau endometrium dan menyebabkan repeat breeding memang lebih banyak terjadi pada sapi dengan darah Bos taurus lebih tinggi.

Penulis mempunyai pengalaman bahwa kalau sapi crossbreeding dengan Bos taurus dengan perawatan yang memadai, dengan pakan yang mencukupi baik dari kualitas dan kuantitasnya, maka kinerja reproduksi akan dapat dipertahankan sama atau lebih ditingkatkan daripada sapi lokal (PO). Begitu pula dengan anomali reproduksinya nyaris tidak ditemui, termasuk hipofungsi ovaria, ovulasi tertunda, sista folikel, korpus luteum persisten maupun endometritis subklinis. Kinerja reproduksi juga dapat menunjukkan angka normal, misalnya angka konsepsi mendekati 60%, jumlah inseminasi per kebuntingan sekitar 1,5 kali dan hari-hari kosong sekitar 150 hari. Perbaikan manajemen peternakan dan pakan menjadi kata kunci dalam menangani masalah anomali reproduksi sapi crossbreeding indukan. Semakin tinggi darah Bos taurus berarti semakin mempersyaratkan pemeliharaan, pakan serta kesehatan ternak lebih baik untuk tercapainya produktivitas dan reproduktivitas maksimum.

Bentuk reproduksi klinis sapi silangan indukan yang lazim ditemui adalah semakin banyaknya kejadian prolapsus vagina pada sapi bunting maupun prolapsus uteri (Bahasa Jawa: broyongen) dengan semakin tingginya darah Bos taurus. Hal serupa dijumpai pada kejadian kesulitan beranak (dystocia) dan retensio plasenta. Kasus-kasus klinis ini erat kaitannya dengan defisiensi pakan dan manajemen perkandangan pada peternakan sapi potong rakyat. Kasus reproduksi klinis ini juga bisa diminimumkan dengan perbaikan pakan dan manajemen peternakan.

Analog dengan turunan betina, pada sapi jantan hasil crossbreeding antara sapi PO atau Bali dengan semen beku Bos taurus (Simmental dan Limousin) dicatat anomali reproduksi bilamana ternak dipelihara dengan kondisi tradisional. Bentuk anomali sapi jantan silangan antara lain rendahnya libido atau keinginan mengawini (sex drive), rendahnya kualitas semen terutama rendahnya konsentrasi dan motilitas spermatozoa, beberapa kasus bahkan dicatat adanya azoospermia (tidak mempunyai spermatozoa yang hidup).

2. Fenomena Reproduksi Sapi Brahman Cross

Populasi sapi Brahman Cross dari Australia jumlahnya semakin bertambah, sebagai upaya menambah populasi sapi indukan. Sapi ini merupakan persilangan antara sapi Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan proporsi darah berturut-turut 50%, 25% dan 25%, sehingga secara fisik bentuk fenotip dan keistimewaan sapi Brahman Cross cenderung lebih mirip sapi American Brahman. Budidaya sapi ini dengan sistem peternakan intensif tradisional akan menimbulkan fenomena reproduksi, terutama berupa infertilitas nutrisi yang dimanifestasikan dengan birahi tenang, anestrus dan kawin berulang.

Birahi tenang atau birahi tidak teramati (silent heat, sub-estrus) banyak dilaporkan pada sapi Brahman-Cross; sapi dengan birahi tenang mempunyai siklus reproduksi and ovulasi normal, namun gejala birahinya tidak terlihat. Birahi tenang akan mengakibatkan peternak tidak dapat mengetahui kapan sapinya birahi, sehingga tidak dapat dikawinkan dengan tepat. Pada peternakan sapi Brahman-Cross di negeri asalnya, kasus birahi tenang tidak menimbulkan masalah, karena mereka menggunakan pejantan alami yang merupakan detektor birahi sapi terbaik. Birahi tenang pada sapi Brahman-Cross pada peternakan rakyat terjadi karena beberapa kemungkinan, antara lain sapi Brahman-Cross memiliki sifat antara lain: a) Cenderung untuk birahi pada hari gelap, b) Lama birahinya pendek, dengan rerata kurang dari 6 jam, c) Intensitas gejala birahi memang lemah.

Sifat birahi sapi Brahman-Cross yang cenderung tenang ini timbul diakibatkan oleh beberapa faktor, antara lain: a) Faktor genetis, b) Manajemen peternakan tradisional, c) Defisiensi komponen-komponen pakan atau defisiensi nutrisi, d) Perkandangan tradisional, sempit, kurang gerak, kandang individual, e) Kondisi fisik jelek, kebanyakan karena parasit interna (cacing), f) Dalam proses adaptasi.

Tidak birahi sama sekali atau anestrus adalah keadaan dimana memang tidak terjadi siklus reproduksi, tidak ada ovulasi, sehingga tidak terjadi gejala birahi sama sekali. Kasus anestrus pada sapi Brahman-Cross cukup banyak ditemui, umumnya terjadi setelah beranak. Anestrus pada sapi Brahman-Cross umumnya berupa hipofungsi ovaria (90%) akibat defisiensi nutrisi and korpus luteum persisten (10%) akibat adanya peradangan saluran reproduksi.

Hipofungsi ovaria adalah kurang atau tidak berfungsinya ovaria dalam menghasilkan ovum secara rutin, karena tidak terbentuk folikel dan tidak ada ovulasi, sehingga juga tidak timbul gejala birahi. Kurang atau tidak berfungsinya ovaria ini memang bersifat temporer, namun kalau keadaannya melanjut maka ovaria akan tidak berfungsi secara permanen, karena stroma jaringan ovaria akan diganti dengan jaringan ikat, keadaan ini disebut atrofi ovaria. Pada ovaria yang mengalami hipofungsi maka akan teraba kecil, diameter sekitar 1,5 cm, pipih, permukaan licin halus dan uterusnya teraba lembek, tidak bertonus. Bila sudah melanjut menjadi atrofi ovaria, maka ovaria akan teraba semakin kecil lagi, diameternya sekitar 0,5 cm dan rabaannya menjadi keras karena stroma ovarium digantikan oleh jaringan ikat. Sapi penderita akan segera mengalami peningkatan berat badan dengan cepat, karena tidak aktifnya lagi ovaria akan menyebabkan seperti hewan diovariektomi..

Sapi Brahman-Cross yang mengalami anestrus 80% disebabkan oleh hipofungsi ovaria ini, termasuk juga atrofi ovaria. Penyebab utama dari hipofungsi ovaria karena adanya defisiensi hormon gonadotrofin, akibat dari berbagai faktor antara lain : 1) Defisiensi nutrisi, pakan yang tidak memadai, termasuk enerji, protein, vitamin dan mineral, 2) Menyusui pedet, 3) Penyakit-penyakit yang menyebabkan kekurusan, 4) Parasit cacing, terutama sapi Brahman Cross lebih peka terhadap cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang (Paramphistomiasis) dibanding sapi lokal lain, seperti sapi PO dan Bali.

Korpus luteum persisten merupakan penyebab anestrus pada sapi Brahman-Cross, walaupun kejadiannya relatif kecil, hanya sekitar 10% dari seluruh kasus anestrus. Korpus luteum sebetulnya bukan merupakan gangguan reproduksi, namun lebih sebagai akibat adanya gangguan di dalam uterus atau pada endometrium. Adanya gangguan tersebut menyebabkan tidak terproduksinya atau terjadi gangguan pembebasan prostaglandin, sehingga korpus luteum akan tetap ada (persist), progesteron akan terus dihasilkan dan terjadilah anestrus. Penyebab korpus luteum persisten yang menyebabkan anestrus antara lain: 1) Radang endometrium (endometritis) yang banyak terjadi pasca beranak maupun pasca inseminasi, 2) Piometra pasca inseminasi maupun pasca beranak, 3) Mengikuti kematian embrio atau fetus, abortus, mummifikasi atau maserasi fetus.

Penanganan kasus korpus luteum persisten umumnya ditujukan kepada pengobatan penyebab gangguan pada endometrium dan penghancuran korpus luteumnya, misalnya dengan sediaan prostaglandin. Pemberian prostaglandin akan mampu memecah korpus luteum dan mengembalikan siklus reproduksi sapi penderita.

4. Penanganan Anomali Reproduksi Sapi Crossbreeding

Berdasarkan temuan mengenai status reproduksi sapi crossing sapi lokal X Bos taurus dan Brahman-Cross dengan segala permasalahannya penulis mengajukan saran untuk perbaikan efisiensi reproduksinya sebagai berikut:

  1. Breeding policy untuk sapi potong perlu segera diimplementasikan, seperti ditetapkan dalam crossbreeding darah Bos taurus-nya jangan melebihi 75% (maksimum F2) setelah itu disilangkan balik (backcrossing), untuk meminimumkan kasus anomali reproduksi.
  2. Pakan yang mencukupi kualitas dan kuantitasnya, untuk mempertahankan SKT optimum untuk reproduksi (3,0-3,5), di samping pemberian obat cacing berspektrum luas untuk mengatasi cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang (Paramphistomiasis), paling tidak 2 kali setahun merupakan kunci bagi penanggulangan reproduksi klinis sapi crossing sapi lokal x Bos taurus.

3. Manajemen peternakan yang keliru merupakan penyebab rendahnya efisiensi reproduksi pada sap silangan dan Brahman Cross, utamanya adalah defisiensi pakan, sistem perkandangan dan pengamatan birahi.

  1. Kandang lepas, tanpa ditambat, atau adanya tempat umbaran untuk exercise merupakan keharusan bagi sapi Brahman Cross.
  2. Pemeriksaan khusus infertilitas untuk identifikasi permasalahan individual sapi silangan dan Brahman-Cross yang bermasalah. Perlu ditentukan apakah sapi hanya mengalami birahi tenang, anestrus atau infertilitas bentuk lain.
  3. Penanganan infertilitas metabolik dan nutrisi, dengan perbaikan pakan dan perbaikan skor kondisi tubuh.

7. Penanganan Klinis kasus anestrus karena hipofungsi ovaria, yang merupakan kasus infertilitas terbesar pada sapi Brahman, juga mirip dengan penanganan birahi tenang,

a. Perbaikan kondisi fisik (SKT), sampai mencapai skor sekitar 3,0.

b. Penanganan dengan sediaan progestagen atau gonadotropin-releasing

hormone (GnRH).

8. Penanganan klinis kasus repeat breeding (kawin berulang), antara lain:

a. Inseminasi ganda, dua kali masing-masing satu dosis dengan selang 12 jam, terutama pada kasus yang terkait dengan ovulasi tertunda.

b. Infusi intrauterina antibiotika, misal penicillin kristal 1 juta unit dan streptomycin 1 gram, atau yodium povidone 2% dengan volume 100 – 250 ml, terutama untuk kasus endometritis subklinis.

9. Beberapa metode untuk induksi birahi dan ovulasi pada sapi Brahman-Cross

yang mengalami birahi tenang dan hipofungsi ovaria, antara lain dapat

disebutkan :

a. Penggunaan CIDR (controlled internal drug release), implant berisi progesterone, diiserasikan intravagina dan dibiarkan selama 9-12 hari. Insemiansi buatan dilakukan pada 72 dan 96 jam setelah pengambilan implant.

b. Metode Ovsynch (sinkronisasi ovulasi) dengan menggunakan 250 mcg Gonadorelin (GnRH) disuntikkan intramuskuler pada hari ke 0, diikuti 15 mg Luprostiol (prostaglandin) pada hari ke 7, dan akhirnya 250 mcg Gonadorelin pada hari ke 8, inseminasi buatan tanpa melihat gejala birahi dilakukan pada hari ke 9.

10. Kasus prolapsus vagina dan serviks maupun prolapsus uteri dan kasus distokia pada sapi Brahman Cross dapat dihindari dengan mempertahankan SKT antara 3,0-3,5 pada saat bunting, serta diberi cukup banyak exercise pada tempat umbaran. Penambahan mineral, termasuk mikromineral, penting diberikan harian untuk mencegah terjadinya abnormalitas reproduksi lebih jauh.

5. Kesimpulan

Inseminasi buatan memungkinkan program crossbreeding antara sapi betina lokal dan semen beku pejantan Bos taurus. Keadaan ini menyebabkan jumlah sapi silangan F1, F2, F3 dan F4 semakin banyak dijumpai, serta semakin sulitnya ditemui sapi PO di pulau Jawa. Fakta menunjukkan bahwa terjadi penurunan kinerja reproduksi dan peningkatan anomali reproduksi pada sapi-sapi indukan tersebut. Kinerja reproduksi dan anomali reproduksi pada sapi indukan silangan dapat diperbaiki dengan peningkatan manajemen peternakan, perbaikan pakan dan kesehatan hewan. Sapi Brahman Cross (BX) merupakan sapi potong dengan darah Brahman dominan. Sifat sapi Brahman Cross sebagai hewan dengan reproduksi lambat (slow breeder), sulit dideteksi birahinya membuat pelaksanaan IB pada sapi banyak menjumpai kegagalan. Budidaya sapi ini dengan sistem peternakan intensif tradisional akan menimbulkan fenomena reproduksi, terutama berupa infertilitas nutrisi yang dimanifestasikan dengan birahi tenang, anestrus dan kawin berulang. Fenomena reproduksi pada sapi Brahman-Cross tersebut dapat dieliminasi dengan perbaikan manajemen peternakan, peningkatan pakan serta manajemen reproduksinya.

6. Referensi

Britt, J.S. and Gaska, J. 1998. Comparison of two estrus synchronization programs in a large, confinement-housed beef herd. JAVMA 212:210-212.

Diwyanto, K., 2002. Program Pemuliaan Sapi Potong: Suatu Pemikiran. Makalah Seminar Nasional Kebijakan Breeding, Puslitbangnak, Deptan RI, Bogor.

Gunawan; Abubakar; Tri Pambudi, G; Karim, K; Nista, D; Purwadi, A.dan Putro, P. P. 2008. Petunjuk Pemeliharaan Sapi Brahman Cross. BPTU Sapi Dwiguna dan Ayam Sembawa. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian.

Putro, P.P. 1992. Performans reproduksi sapi Brahman-Cross asal Australia di beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur and Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Monitoring, tidak dipublikasi.

Putro, P.P. 1993. Induksi birahi and Ovulasi pada sapi Brahman-Cross yang mengalami anestrus and subestrus. Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta.

Putro, P. P. 2006. Gangguan Reproduksi pada Sapi Brahman Cross. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.

Putro, P. P. 2008. Kinerja reproduksi sapi betina crossing PO-Simmental. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.

Sumadi, 2009. Sebaran Populasi, Peningkatan Produktivitas dan Pelestarian Sapi Potong di Pulau Jawa. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Produksi Ternak, Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta.

Youngquist, R.S. 1997. Therigenology in Large Animals. W.B. Saunders Co., London. Pp 80-88

2 komentar:

  1. ini artikel yang saya cari-cari...terima kasih infonya

    BalasHapus
  2. sip....maju peternakan indonesia

    BalasHapus