Jumat, 21 Mei 2010

SAPI BALI

Sapi Bali murni telah memainkan peran penting dalam perkembangan peternakan di Indonesia selama lebih dari satu abad. Karakteristik yang menguntungkan dari sapi ini yaitu tingkat fertilitasnya yang tinggi, daya tahan dan kapasitasnya yang baik pada lingkungan yang tidak mendukung dan kondisi iklim pada daerah-daerah yang kering dan tandus seperti di wilayah Indonesia bagian timur, dan kemampuannya untuk mempertahankan kualitas pada sapi potong yang kurus, telah menjadikan sapi potong yang lebih dipilih di Indonesia. Sebaliknya, sapi Bali rentan terhadap penyakit infeksius, terutama penyakit Jembrana dan memiliki mortalitas pedet yang tinggi, kemungkinan karena suplai susu yang minim.

Walaupun begini, sedikit perhatian yang telah diberikan untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan produktivitas sapi Bali. Beberapa daerah di Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Selatan, yang tadinya dikenal atau kadang terkenal sebagai sumber-sumber utama sapi Bali, yang sekarang telah dibatasi pengeluarannya karena penurunan secara berkelanjutan dari populasi sapi Bali. Istilah dari kualitas ’seleksi negatif’ sepertinya telah dibebankan pada sapi Bali di daerah-daerah ini, karena kebijakan penjualan yang berlaku yaitu hanya sapi-sapi jantan dengan dengan berat badan tinggi (lebih dari 300 kg) untuk ekspor dan pemotongan, menyisakan sapi-sapi jantan dengan ukuran kecil dan mutu yang rendah sebagai penghasil keturunan. Ditambah dengan nutrisi yang rendah secara berkelanjutan menambah kemerosotan dari kualitas dan produktivitas hewan ini.

ASAL DAN DISTRIBUSI SAPI BALI DI INDONESIA

Sapi Bali berasal dari Sapi ‘Banteng’ liar yang dipelihara dalam cagar alam di Ujung Kulon, Jawa Barat dan di Baluran, Jawa Timur – karena itu bernama Bos sondaicus atau Bos javanicus. Nama ‘sapi Bali’ didapat dari fakta bahwa domestikasi pertama dari hewan ini berasal dari pulau Bali (Darmadja, 1980). Kemudian didistribusikan ke pulau Lombok (NTB) dan Sulawesi Selatan yang umumnya lebih dikenal karena adanya populasi kerbau rawa.

Pada 1912, sapi Bali dibawa ke pulau Timur (NTT). Jenis ini sepertinya ideal untuk diadaptasikan di lahan kering NTT karena populasinya sudah mencapai sekitar 800.000 kepala (Toelihere, 1994). Sapi Bali juga dapat beradaptasi pada bermacam-macam kondisi lingkungan lainnya. Oleh karena itu, jenis ini telah didistribusikan ke hampir seluruh wilayah Indonesia, biasanya pada daerah transmigrasi di Sumatera dan Kalimantan.

Sapi Bali merupakan hewan tropis sejati. Mereka memiliki tingkat toleransi tinggi walaupun dikawinkan dengan Bos taurus (Yusran dkk., 1990). Dibawah kondisi lingkungan yang tidak memadai, sapi Bali dapat mengatur produktivitas mereka dengan menghasilkan pedet tiap tahunnya, dan dengan cepat mengembalikan berat badannya seperti semula setelah terekspos pada kondisi nutrisi yang jelek atau kerja keras. Selain itu, sapi Bali merupakan jenis sapi yang lebih baik daripada sapi Ongole Sumba (Toelihere dkk., 1990).

Mengacu pada asalnya dan banyak karakterisitik yang menguntungkan, jenis ini diklaim sebagai jenis sapi potong nasional Indonesia, dan kegiatan ekspor yang dilakukan karena maksud tertentu dibatasi atau, dalam banyak kasus dilarang. Meskipun begitu, sapi Bali juga ditemukan dalam jumlah kecil di Australia Utara dan Malaysia.

KARAKTERISTIK REPRODUKSI

Pubertas dan Kawin Pertama

Sapi Bali termasuk hewan yang lambat dalam maturasi. Mereka mencapai maturasi pada umur 600 hari (Pane, 1991) atau bahkan lebih lama lagi (Darmadja, 1980). Pada taraf ini, berat badan sekitar 140-165 kg (Fattah, 1998). Umur dan berat badan pada onset pubertas tergantung pada faktor-faktor selain genetik, biasanya nutrisi.

Kawin alami pertama terjadi sekitar umur 2 tahun (Fattah, 1998). Untuk menghindari kejadian distokia setelah inseminasi buatan menggunakan semen dari Bos taurus, penulis dalam prakteknya di Sulawesi Tenggara pada 1975 merekomendasikan bahwa inseminasi pertama sebaiknya dilakukan pada sapi-sapi dengan berat badan lebih dari 200 kg (Toelihere, 1981). Inseminasi pada sapi-sapi dengan berat badan dibawah itu seharusnya dengan sapi Bali murni. Telah direkomendasikan bahwa inseminasi menggunakan semen Bos taurus hanya dilakukan pada sapi-sapi yang telah mencapai berat badan lebih dari 200 kg atau paling tidak pernah melahirkan satu kali lewat kawin alami dengan pejantan sapi Bali.

Estrus dan Siklus Estrus

Sapi-sapi Bali menunjukkan gejala estrus yang sama dengan jenis-jenis sapi lainnya, sebagai contoh perilaku standing heat (tetap berdiri ketika dinaiki oleh sapi lain), keluar cairan transparan dari vagina, perubahan vulva (menjadi hangat, oedem, warna kemerahan) dan rasa gelisah. Gejala yang paling penting adalah perilaku standing heat, yang dapat dilihat pada sekumpulan sapi yang dipelihara di area yang dibatasi pagar diawal pagi hari (5.00-6.00) atau sore hari (17.00-18.00). Keluarnya cairan vagina biasanya tampak setelah dilakukan eksplorasi rektal saat inseminasi. Tanda-tanda lainnya secara relatif tidak signifikan.

Lama rata-rata estrus sekitar 23 jam (Toelihere dkk., 1989), berkisar 18-48 jam (Payne dan Rollinson, 1973 ; Mulyono, 1977 ; Fattah, 1998). Lebih lama dibanding kebanyakan jenis sapi lainnya dan dapat menyediakan sapi Bali dalam kondisi estrus agar memiliki waktu cukup untuk kawin dalam kondisi alami sehingga dapat meningkatkan kemungkinan kejadian fertilisasi.

Kebanyakan sapi-sapi normal menunjukkan gejala-gejala estrus antara 2-3 bulan setelah kelahiran (Fattah, 1998). Dibawah kondisi-kondisi alami normal, sapi-sapi tersebut dapat diperkirakan untuk kawin pada saat ini dan melahirkan secara berturut-turut setiap satu tahun. Tentu saja, jarak kelahiran satu tahun yang ditunjukkan oleh beberapa sapi Bali mencerminkan bahwa hewan ini memiliki sifat fertilitas yang tinggi. Anestrus post partus merupakan kondisi abnormal dan saat terjadi biasanya berlangsung selama 4-6 bulan, terkadang dapat mencapai lebih dari 10 bulan pada beberapa sapi (Pohan, 2000).

Lama siklus estrus pada sapi Bali tidak begitu berbeda dengan jenis sapi lainnya yaitu 17-24 hari (Fattah, 1998) dengan rata-rata sekitar 21 hari (Toelihere dk., 1989). Silent heat atau estrus yang tidak terdeteksi terkadang memperpanjang lama siklus sampai 2 atau 3 kali normal.

Walaupun sapi Bali sering menunjukkan tanda-tanda estrus selama atau setelah musim hujan, ini tidak berarti bahwa mereka dalam musim kawin. Ini bukan karena secara langsung karena musimnya, tetapi ketersediaan makanan ternak selama musim hujan yang meningkatkan intensitas estrus dan menaikkan fertilitas (Toelihere dkk., 1989 ; Toelihere, 1994).

Tingkat Fertilitas

Sapi Bali diketahui sebagai jenis sapi yang subur seperti jenis-jenis sapi lainnya. Fertilitasnya mencapai sekitar 80% (Darmadja, 1990 ; Wardoyo, 1950 ; Devendra dkk., 1973) atau bahkan meningkat sampai 90-100% di Australia (Mason, 1991 ; Kirby, 1972). Bagaimanapun juga, dalam kondisi lahan yang kering dan tandus di NTT, tingkatnya sekitar 75% (Fattah, 1998).

Berdasarkan berbagai laporan dalam pertemuan-pertemuan para pengamat inseminasi buatan selama tahun 1980-an, tingkat konsepsi pada servis pertama biasanya mencapai lebih dari 70%. Bahkan transfer embrio pada sapi-sapi Bali menghasilkan tingkat-tingkat konsepsi sekitar 50% (Toelihere dkk., 1980).

Sayangnya, tingkat mortalitas sapi Bali juga tinggi, mencapai 30% (Toelihere, 1994). Sapi-sapi Bali biasanya kawin dan bunting selama musim hujan dan melahirkan selama musim kemarau, maka sapi-sapi tersebut memiliki suplai susu yang rendah.

ADOPSI DAN APLIKASI IB

Pengenalan dan adopsi IB pada sapi Bali

Inseminasi buatan (IB) dikenalkan pada sapi Bali oleh penulis di Sulawesi Tenggara dan di NTT dari tahun 1975-1976 (Toelihere, 1981). Pengenalan pertama dilakukan lewat proyek pada operasi tambang (PT. Aneka Tambang) di Pornalaa, Sulawesi Tenggara pada 1975.

Selanjutnya, IB pada sapi Bali dikenalkan melalui kursus-kursus pelatihan untuk petugas-petugas kedokteran hewan di Makasar, Sulawesi Selatan seperti juga di Kupang, NTT pada 1976. Kampanye IB selanjutnya dilakukan di peternakan-peternakan sapi Bali di kedua daerah tersebut sebagai bentuk pelatihan kerja selama kursus-kursus pelatihan berlangsung. Teknologi IB selanjutnya diadopsi oleh pelayanan dokter hewan di Bali, NTB dan Lampung.

Kecuali di Bali, adopsi teknologi IB terutama distimulasi oleh hasil-hasil kawin silang antara sapi-sapi Bali dan pejantan-pejantan Bos taurus. Kawin silang antara generasi F1 secara relatif unggul dalam kualitas pada sapi-sapi murni karena heterosis. Keunggulan ini mencakup berat saat lahir yaitu 20-30 kg dibanding hanya 13-15 kg pada sapi Bali murni dan pencapaian rata-rata berat badan harian (Average Daily Gain/ADG) 2 atau 3 kali lebih cepat daripada sapi sapi Bali keturunan murni. Terdapat beberapa korelasi positif antara berat badan saat kelahiran dan tingkat pertumbuhan pada hewan.

Aspek-aspek teknis

Sistem manajemen sapi pada pulau-pulau di wilayah timur masih begitu luas, menjadikan hal ini sulit untuk mengamati estrus dan mengadakan inseminasi. Oleh karena itu, pada awal kampanye pengenalan IB, estrus harus disinkronisasikan menggunakan prostaglandin F2α (PGF2α) atau pemberian hormon progesteron. Semua sapi Bali berada dalam satu pedesaan yang dikelompokkan, dan dipelihara didaerah lahan rumput yang dipagari dibangun secara kooperatif oleh para peternak dan diberi hormon, dan timbul estrus dalam 2-3 hari setelahnya. Gejala-gejala estrus diperlihatkan pada para peternak untuk mengingatkan mereka agar melakukan pengamatan gejala-gejala seperti itu walaupun tanpa pemberian hormonal pada waktu mendatang.

Kebanyakan peternak kecuali di Bali, lebih memilih sapi-sapi mereka untuk diinseminasi menggunakan semen beku dari pejantan Simmental atau Limousine. Semen dari pejantan Angus atau Brangus juga lebih dipilih daripada semen sapi Bali jika tidak ada semen Simmental yang tersedia. Teknisi-teknisi IB dilatih secara nasional atau lokal ditiap provinsi. Direktorat Jenderal Layanan Petenakan (The Directorate General of Livestock Servis) segera mengadakan program IB nasional, termasuk sapi Bali diseluruh Indonesia. Semen beku dari pejantan sapi Bali, Simmental dan Limousine diproduksi di balai-balai inseminasi buatan di Singosari (Jawa Timur) dan Lembang (Jawa Barat) dan didistribusikan untuk program-program IB di tiap provinsi di seluruh Indonesia.

Aspek-Aspek Sosial dan Ekonomi

Suatu survei yang dilakukan oleh penulis dan stafnya tentang aspek-aspek sosial ekonomi dari IB di NTT, termasuk komunitas dan pejabat-pejabat pemerintah secara kuat mendukung program IB pada sapi Bali karena hal ini dapat meningkatkan pendapatan para peternak (Toelihere dkk., 1995). Dukungan ini telah dibuktikan dengan menciptakan program-program IB yang terorganisir pada dusun-dusun dan desa-desa ditiap provinsi. Kebanyak peternak ingin berpartisipasi dalam program IB, tetapi sayangnya beberapa diantara mereka tidak memiliki sapi. Peternak termotivasi setelah mengetahui hasil-hasil yang lebih baik oleh IB daripada kawin alami.

Program IB pada sapi Bali memberikan keuntungan-keuntungan finansial untuk para peternak. Saat para peternak ikut berpartisipasi dalam program IB, mereka biasanya dapat membayar kembali piutang mereka dalam 5 tahun. Waktu yang lebih pendek membutuhkan pembayaran kembali yang penuh, dan kesempatan yang lebih baik bagi lebih banyak peternak untuk memiliki sapi dan meningkatkan pendapatan dalam waktu yang relatif lebih pendek.

Faktor-faktor yang membatasi para peternak untuk ikut berpartisipasi dalam program IB yaitu pendidikan yang rendah, kegagalan kebuntingan dan melahirkan pada beberapa sapi, dan kegagalan untuk mengikuti rekomendasi-rekomendasi dari petugas, terutama sekali pada persediaan pakan ternak dan nutrisi yang lebih baik untuk sapi.

Intensifikasi dari kegiatan-kegiatan dalam jangka waktu panjang akan menghasilkan manajemen peternakan dan nutrisi yang lebih baik untuk sapi. Program-program IB dapat menjadi efektif melalui pengadaan kelompok-kelompok dan asosiasi peternak, sehingga pengaturan yang lebih baik dimaksudkan pada penggunaan komunitas pedesaan dan komunitas rohani sebagai media informasi untuk berkomunikasi dan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para peternak.

USAHA-USAHA UNTUK MENINGKATKAN TINGKAT KEBERHASILAN IB

Pembangunan Pusat Pengembangbiakan Sapi Bali

Suatu program IB yang baik membutuhkan suplai semen yang cukup dari pejantan unggul, sedangkan program transfer embrio (TE) membutuhkan ketersediaan donor sapi-sapi yang unggul. Hewan-hewan yang unggul harus diseleksi dari peternakan-peternakan di pedesaan, diseleksi ulang, dipelihara, diatur dan disediakan oleh suatu organisasi manajemen peternakan yang dibangun sebaik-baiknya.

Pendirian pusat pengembangbiakan sapi Bali dibutuhkan untuk menyediakan pejantan-pejantan unggul bagi suatu program IB dan donor sapi-sapi unggul untuk program TE dan memfungsikan sebagai suatu unit pengembangbiakan ternak untuk menyediakan dan mendistribusikan sapi-sapi subur pada para peternak sebagai penyedia ternak komersial.

Idealnya, pusat pengembangbiakan seharusnya diatur oleh, dan dibawah pengawasan tentang, suatu asosiasi petugas-petugas layanan peternakan atau suatu kolaborasi antar pemerintahan dari provinsi-provinsi di wilayah Indonesia bagian Timur, untuk keuntungan bersama dalam pengembangan sapi Bali di wilayah ini. Kolaborasi antar pemerintahan ini dapat mencakup grup pemasaran daging, DKI Jakarta, yang mana mengurus suplai berkelanjutan dari daging sapi Bali yang tidak berlemak untuk populasi konsumen yang luas.

Lokasi pusat pengembangbiakan dapat ditentukan oleh asosiasi, termasuk dalam penghitungan ketersediaan lahan yang cocok dan relatif luas untuk pengembangan suplai yang besar dari padang rumput, bangunan-bangunan untuk laboratorium-laboratorium dan lahan-lahan untuk menggembalakan ternak.

Laboratorium-laboratorium dan unit-unit pusat pengembangbiakan dapat mencakup laboratorium IB, laboratorium TE, laboratorium genetik hewan, laboratorium kesehatan hewan dan laboratorium pakan ternak dan nutrisi selama bersama laboratorium-laboratorium dan unit-unit dasar yang mendukung mereka. Suatu unit kecil pelatihan dapat juga termasuk dalam pusat pengembangbiakan.

Sebuah laboratorium untuk produksi semen beku pejantan sapi Bali telah dibangun di pulau Bali. Ini dapat menjadi komponen atau sub unit dari pusat pengembangbiakan, dimanapun pusat ini berada. Sayangnya, lahan untuk produksi semen beku pejantan sapi Bali dan keberadaannya tidak mencukupi untuk pembangunan pusat pengembangbiakan. Lokasi-lokasi lain di pulau-pulau yang lebih luas di wilayah timur mungkin lebih cocok.

Dukungan finansial untuk pembangunan pusat pengembangbiakan dengan segala fasilitasnya dan sumber daya manusianya dapat dipenuhi oleh pemerintah-pemerintah setempat di wilayah tersebut dan pemerintah yang ada dalam lingkup nasional juga organisasi-organisasi dan institusi-institusi internasional.

Kebijakan Pengembangbiakan : Kawin Silang dan Kawin Murni

Organisasi antar pemerintah di wilayah Indonesia bagian Timur harus membuat suatu kebijakan pengembangbiakan pada produksi sapi Bali di wilayah tersebut. Kebijakan ini seharusnya didasari pada konservasi jenis sapi Bali murni dan unggul, dan pada kawin silang dengan Bos taurus untuk meningkatkan pendapatan para peternak. Konservasi dari jenis sapi Bali harus dilakukan pada daerah dataran tinggi yang terisolasi, sedangkan kawin silang dapat dilakukan pada peternakan-peternakan di area-area dataran rendah dekat dengan rute-rute menuju pasar, terletak di pinggiran kota-kota dan pelabuhan-pelabuhan untuk memfasilitasi transportasi dan pemasaran yang cepat.

Kawin silang menggunakan IB dari semen Bos taurus secara signifikan meningkatkan produktivitas generasi F1. Berat lahir dan berat badan saat umur 3 dan 6 bulan semuanya lebih baik daripada sapi Bali murni (Toelihere dkk., 1990). Sapi jantan F1 infertil dan harus dijual ditempat pemotongan.

Sapi-sapi Bali merupakan sapi-sapi yang baik untuk kawin silang dan oleh karena itu seharusnya tersedia dalam jumlah yang relatif banyak. Bagaimanapun, para peternak membutuhkan kompensasi untuk menjalankan hanya ternak sapi Bali dan - memberikan pemahaman bahwa sapi Bali merupakan jenis sapi yang lebih baik dalam program kawin silang – harga sapi Bali murni akan lebih butuh ditingkatkan, seperti yang ditentukan oleh asosiasi antar pemerintah di provinsi-provinsi di Indonesia bagian timur.

Untuk mengembangkan program ini, pulau Bali harus menjaga agar bebas dari jenis-jenis sapi lainnya dan IB pada sapi-sapi Bali di pulau ini harus menggunakan semen hanya dari pejantan sapi Bali murni. Suatu keputusan untuk menjaga pulau-pulau tertentu atau daerah-daerah pada suatu pulau di Indonesia bagian timur untuk pengembangbiakan sapi Bali murni sedangkan memperbolehkan kawin silang pada pulau-pulau lain atau daerah-daerah pada suatu pulau dapat diambil dan diimplementasikan oleh pemerintah lokal pada asosiasi yang telah disebutkan sebelumnya.

Perdagangan antar pulau dan ekspor jenis sapi Bali dan hasil kawin silangnya dapat juga diatur melalui asosiasi tersebut, selama bersama dengan pemerintah-pemerintah atau asosiasi-asosiasi lainnya dalam atau luar negeri, dan direkomendasikan untuk tujuan mereka yang saling menguntungkan.

Percepatan Kegiatan-Kegiatan IB melalui Sinkronisasi Estrus

Secara umum telah diyakini bahwa program IB sudah dilakukan selama lebih dari 20 tahun di Indonesia telah meningkatkan produktivitas sapi perah dan sapi potong di negara ini (DGLS, 1997). Meskipun begitu, permintaan konsumen pada sapi potong tidak pernah terpenuhi padahal populasi manusia meningkat dengan cepat dan standar hidup juga meningkat. Meskipun begini, kesejahteraan komunitas peternak tidak meningkat secara signifikan selama beberapa tahun terakhir. Paradigma baru, didasari pada peningkatan kesejahteraan peternak daripada peningkatan produktivitas komoditas seharusnya disadari (Winoto, 2001).

Kegiatan-kegiatan IB pada sapi Bali dapat dipercepat melalui sinkronisasi estrus dan inseminasi massal untuk mengembangkan kondisi ekonomi peternak di Indonesia bagian timur. Sinkronisasi estrus didasari pada penggunaan satu atau 2 hormon : PGF2α dan progesteron. Metode keduanya merangsang estrus pada sapi dengan jumlah yang banyak dalam kawanan selama suatu periode sinkronisasi yang secara relatif dalam 2-3 hari setelah akhir dari perlakuan. Sapi-sapi Bali merespon dengan sangat baik (sekitar 92% timbul estrus) pada pemberian PGF2α secara intra uterus dengan dosis efektif dibawah 3 mg (Toelihere dkk., 1989). Bagaimanapun juga tingkat konsepsi pada inseminasi setelah sinkronisasi estrus dengan PGF2α secara relatif rendah. Organ sasaran dari PGF2α adalah corpus luteum (CL) di ovarium. Waktu hidup dari CL sekitar 12-15 hari dari 21 hari siklus estrus, sedangkan gelombang folikuler naik dan turun dalam 2 atau 3 periode siklus. Regresi CL karena pemberian PGF2α dapat tidak terjadi kesesuaian dengan pertumbuhan folikuler dominan. Karena itu, regresi CL dan penampakan estrus dapat tidak terjadi secara sinkron dengan ovulasi.

Penanganan dengan hormon progesteron menunjukkan hasil-hasil yang lebih baik. Penanganan dengan progesteron tidak hanya mensinkronisasikan estrus, tetapi juga merangsang aktivitas siklus sapi-sapi anestrus post partus. Implan-implan intravaginal progesteron (CIDR-B ; kontrol pelepasan obat internal-sapi) untuk 7 hari pada sapi-sapi perah anestrus dihasilkan 80% sapi mengalami estus dengan tingkat konsepsi 71,4%. Injeksi PGF2α pada hari ke-6 selama 7 hari penanganan dengan progesteron (CIDR-B) dan estradiol benzoat (CIDIROL) memberikan hasil-hasil yang lebih baik (90% estrus dan tingkat konsepsi 77,8% (Solihati,1998)). Penulis menggunakan implan-implan progesteron (CIDR-B) untuk mensinkronisasikan estrus pada sapi-sapi Bali di NTT dengan hasil yang hampir identik.

Injeksi intramuskuler hormon progesteron (Potahormon) pada sapi-sapi Bali yang anestrus post partus dengan injeksi tunggal 62,5 mg dan injeksi ganda 46,87 mg, tiap 5 hari, dihasilkan 90-100% estrus dan tingkat konsepsi mencapai lebih dari 75 % (Doha,2000). Gejala-gejala estrus menjadi lebih sering jika penanganan progesteron dikombinasikan dengan injeksi estradiol benzoat sekitar 3 hari setelah injeksi progesteron.

KESIMPULAN

1. Sapi Bali merupakan sapi asli Indonesia dengan toleransi estrus yang tinggi dan mudah beradaptasi pada negara tropis ini. Sapi-sapi tersebut tetap dapat bereproduksi dengan fertilitas tinggi walau dibawah kondisi nutrisi yang rendah dan kondisi lingkungan yang jelek.

2. Kualitas genetik dari sapi Bali secara berkelanjutan menurun karena : a) seleksi negatif dimana pejantan-pejantan ungglu dijual ke tempat pemotongan hewan dan yang bukan unggulan ditinggalkan untuk dikawinkan, dan b) inbreeding dan nutrisi yang rendah.

3. Periode estrus pada sapi-sapi Bali berlangsung sama atau lebih lama dari spesies sapi lainnya sehingga memberikan waktu yang cukup lama untuk kawin dan menghasilkan fertilitas tinggi dibandingkan dengan jenis sapi lainnya.

4. Teknologi inseminasi buatan (IB) secara teknis dapat diaplikasikan, diterima secara sosial dan secara ekonomi dapat dikerjakan dengan mudah pada suatu sistem produksi sapi Bali.

5. Kurangnya sapi-sapi dan pejantan unggul yang teridentifikasi dapat menyebabkan pengaturan ulang desain program-program inseminasi buatan dan transfer embrio untuk meningkatkan kulaitas genetik sapi Bali.

6. Kebijakan-kebijakan pengembangbiakan yang tidak menentu dan tidak jelas juga mengaburkan strategi dan tujuan-tujuan pokok pada peternakan sapi Bali.

7. Kawin silang pada sapi-sapi Bali dengan semen dari pejantan-pejantan Bos taurus menghasilkan generasi F1 yang memiliki kualitas unggul karena heterosis, walaupun sapi jantan F1 infertil.

8. Kegiatan-kegiatan IB dapat dipercepat dengan sinkronisasi estrus menggunakan pemberian PGF2α atau progesteron.

9. Sinkronisasi estrus menggunakan implan progesteron intravaginal (CIDR-B) selama 7 hari atau injeksi hormon progesteron menghasilkan estrus lebih dari 80% dan tingkat konsepsi lebih dari 70%.

DAFTAR PUSTAKA

Darmadja, D. 1980. Setengah Abad Peternakan Tradisional dalam Ekosistem Pertanian di Bali. Disertasi. UNPAD. Bandung

Davendra, C.T., Choo, L.K. dan Pathmasingan, M. 1973. The Productivity of Bali Cattle in Malaysia. Malay. Agric. 1.49, 183-197

Directorate General of Livestock Services (DGLS). 1997. Evaluasi Kinerja Pelaksanaan Inseminasi Buatan. PT. Galih Karsa Utama. Jakarta Selatan

Fattah, S. 1998. Produktivitas Sapi Bali yang Dipelihara di Padang Penggembalaan Alam (Kasusu )esu di NTT). Disertasi. UNPAD. Bandung

Kirby, G.W.M. 1972. Bantengs – A New Sources of Genes. Turaoff., 4, 6-8

Moran, J.B., 1971. Advance in Northern Cattle Breeds. Chiasma. 9, 59

Mulyono, E. 1977. Penelitian Penggunaan Prostaglandin pada IB di Bali. Insp. Dir. Pet. Dati I Bali & FKH UGM.

Payne, W.J.A. dan Rollinson, D.H.L. 1973. Bali Cattle. World Anim. Rev. 7, 13-21

Pohan, A. 2000. Perbaikan Penampilan Reproduksi Sapi Bali Anestrus Postpartum melalui Pemberian Progesteron dan Estrogen. Thesis. IPB, Bogor

Solihati, N. 1998. Penggunaan Kombinasi Progeteron Intravaginal dengan PGF2α dan Estrogen dalam menimbulkan Estrus dan Kebuntingan pada Sapi Perah Anestrus. Thesis. IPB, Bogor

Toelihere, M.R. 1981. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa. Bandung

Toelihere, M.R. 1994. Tinjauan Aspek Reproduksi dan Penelitian Ternak Sapi Potong di Kawasan Timur Indonesia. Makalah. Lokakarya Pengembangan Peternakan Sapi di Kawasan Timur Indonesia. Mataram, 6-8 Februari

Toelihere, M.R., Yusuf, T.L., Burhanuddin, Belli, H.L.L. dan Dewi, I.G.M.K. 1989. Studi tentang Transfer Embrio Tanpa Pembedahan pada Ternak Sapi Bali. FAPET, UNDANA, Kupang

Toelihere, M.R., Jelantik, I.G.N., Kune dan, P.I. dan Yusuf, T.L. 1990. Pengaruh Musim terhadap Kesuburan Ternak Sapi Bali di Besipae. Laboran Penelitian, FAPET, UNDANA, Kupang

Toelihere, M.R., Yusuf, T.L., Burhanuddin, Belli, H.L.L., Kune, P., Tahitor, K. Dan Krova, M. 1995. Produksi Semen dan Embrio serta Penerapan Teknologi Inseminasi Buatan dan Transfer Embrio pada Sapi Bali di Timor. Laoran Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi. FAPET, UNDANA, Kupang

Wardoyo, M. 1950. Peternakan Sapi di Sulawesi Selatan. Hamera Zoa 56, 116-118

Winoto, J. 2001. Kebijakan Pembangunan Pertanian dalam Paradigma Baru Pembangunan Pertanian. Makalah. Forum Diskusi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. IPB, Bogor

Yusran, M.A., Wardhani, N.K. dan Ma’sum, K. 1990. Kecepatan Tumbuh dan Konversi Pakan Sapi Bali Jantan Muda dan Hasil Persilangan dengan Hereford. Proc. Sem. Nas. Sapi Bali. C17-C19

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar