Senin, 17 Mei 2010

SAPI BRAHMAN CROSS

disusun oleh

Dr. Drh. Prabowo Purwono Putro, M.Phil.

Bagian Reproduksi dan Obstetri

Fakultas Kedokteran Hewan UGM

Yogyakarta

e-mail: prabowopp@yahoo.co.id

1. Sapi Brahman Cross (BX)

Sapi Brahman termasuk spesies Bos indicus yang berasal dari India merupakan tipe potong yang banyak dipilih untuk dikembangkan di dunia karena mempunyai daya tahan dan kemampuan beradaptasi tinggi, sehingga banyak dimanfaatkan dalam program crossbreeding. Bangsa sapi ini resisten terhadap caplak, kutu dan penyakit, tahan terhadap panas dan kering, mempunyai sifat keindukan bagus dan kemampuan reproduksi alami panjang. Sapi Brahman mempunyai penampilan luar yang mengesankan, dengan ciri-ciri kuping lebar dan terkulai ke bawah, punuk dan gelambir yang besar, badan panjang dengan kedalaman sedang, mempunyai kaki agak panjang, serta muka agak panjang. Warna bervariasi dari putih, kemerahan sampai kehitamam, namun umumnya putih atau abu-abu. Sapi jantan dewasa biasanya berwarna gelap pada leher, bahu, paha dan panggul bagian bawah. Kulit kendor, halus dan lembut, ketebalannya sedang dan biasanya berpigmen. Tanduk berjarak lebar, tebal dan panjangnya sedang. Prepusium tidak terlalu menggantung. Ambing dan puting sapi Brahman berukuran sedang.

Sapi Brahman Cross merupakan silangan sapi Brahman dengan sapi Eropa (Bos taurus), awalnya merupakan bangsa sapi American Brahman diimpor ke Australia pada tahun 1933, kemudian dikembangkan di stasiun CSIRO’s Tropical Cattle Research Centre, Rockhampton, Australia. Sapi ini merupakan persilangan antara sapi Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan proporsi darah berturut-turut 50%, 25% dan 25%, sehingga secara fisik bentuk fenotip dan keistimewaan sapi Brahman Cross cenderung lebih mirip sapi American Brahman. Pengamatan sapi Brahman Cross di Australia menunjukkan angka kelahiran 81,2%, rata-rata berat lahir 28,4 kg, rata-rata berat sapih 193 kg, kematian sebelum sapih 5,2%, kematian umur 15 bulan 1,2% dan kematian dewasa 0,6%. Tujuan utama dari persilangan ini utamanya adalah menciptakan bangsa sapi potong tropis/subtropis yang mempunyai produktivitas tinggi, namun mempunyai daya tahan terhadap suhu tinggi, caplak, kutu, serta adaptif terhadap lingkungan tropis yang relatif kering. Di negeri asalnya, Australia, sapi ini umumnya dilepas di padangan dan digunakan kawin alami dengan pejantan sebagai program pengawinannya. Dengan manajemen peternakan lepas (grazing) pada padang penggembalaan yang sangat luas, mempunyai kesempatan exercise yang tanpa batas, tanpa tali hidung, dalam kumpulan, dengan pengawinan alami menggunakan pejantan, serta dengan ketersediaan pakan hijauan maupun pakan penguat secara kuantitatif maupun kualitatif mencukupi.

2. Reproduksi Sapi Brahman Cross

Asupan nutrisi sangat berpengaruh terhadap umur pubertas sapi Brahman Cross, sapi-sapi dengan nutrisi rendah umur pubertas adalah 704,2 hari, dengan nutrisi sedang umur pubertas 690,8 hari dan dengan nutrisi bagus umur pubertas adalah 570,4 hari. Umur pubertas dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Pada industri perbibitan sapi Brahman Cross, umur beranak pertama pada umur 3 tahun menjadi pertimbangan penting. Sapi Brahman Cross muda mencapai pubertas pada umur yang lebih tua daripada sapi Eropa. Semua bangsa sapi Bos indicus dilaporkan mencapai masa pubertas lebih lambat dibandingkan dengan sapi Eropa (Bos taurus).

Rendahnya fertilitas pada sapi Brahman Cross disebabkan karena pengamatan birahi yang kurang akurat dengan lama masa estrus 6,7 ± 0,8 jam dengan intensitas gejala birahi relatif lemah. Asupan nutrisi dan lamanya induk menyusui dapat menyebabkan terjadinya anestrus postpartum pada sapi Brahman Cross, tertundanya pengeluaran plasenta setelah beranak dan adanya infeksi serta peradangan pada selaput lendir uterus (endometritis) yang dapat memperpanjang jarak beranak. Masalah besar yang sering timbul pada peternakan sapi Brahman Cross di daerah tropis dan sub tropis adalah panjangnya masa anestrus postpartum (anestrus pasca beranak), hal ini disebabkan oleh pakan yang diberikan kurang kualitas maupun kuantitasnya, temperatur lingkungan yang terlalu panas, investasi parasit, penyakit reproduksi, kondisi tubuh yang kurus (SKT rendah, di bawah 2,0), dan stres akibat menyusui.

Setelah mencapai pubertas, sapi Brahman Cross akan mengalami siklus rerata 3 minggu (18 - 24 hari). Pada sapi Brahman Cross terkadang menunjukkan gejala birahi semu yang tidak diikuti dengan pelepasan sel telur. Gejala birahi yang paling penting adalah diam bila dinaiki oleh temannya atau standing position. Tetapi juga perlu diperhatikan hal lain seperti seringkali melenguh (gejala 2 B: bengak-bengok), gelisah, mencoba untuk menaiki teman-temannya (gejala 2 C: clingkrak-clingkrik). Sapi tampak lebih jinak terhadap orang dari biasanya. Vulva membengkak, keluar lendir, terlihat lebih merah dan hangat apabila diraba (gejala 3A: abang, abuh dan anget).

Sebagian besar sapi Brahman Cross (50 - 85%), mengeluarkan sedikit darah dari vulva beberapa jam setelah standing heat berakhir. Keadaan ini disebut perdarahan met-estrus (metestrual bleeding), ditandai dengan keluarnya darah segar bercampur lendir dari vulva dalam jumlah sedikit beberapa hari setelah birahi. Perdarahan ini biasanya akan berhenti sendiri setelah beberapa saat. Yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua siklus birahi pada sapi berakhir dengan keluarnya darah. Keluarnya darah tidak selalu berarti ovulasi telah terjadi dan tidak selalu menunjukkan bahwa bila diinseminasi ternak akan bunting atau tidak. Keluarnya darah hanya akan menunjukkan bahwa ternak telah melewati siklus birahi.

Agar perkawinan sapi Brahman Cross berhasil, sangat penting memperhatikan mereka pada saat standing heat (puncak birahi, tandanya tetap diam bilamana dinaiki sapi lain). Ada waktu-waktu tertentu dimana pengamatan tanda-tanda birahi akan lebih berhasil. Secara alamiah sapi induk dan dara Brahman Cross lebih banyak menunjukkan aktivitas seksual di malam dan pagi hari daripada waktu siang hari. Amati tanda-tanda birahi berdasarkan suatu jadwal tertentu. Melakukan pengamatan birahi selama 25 menit, 4 kali sehari, hendaknya menjadi bagian pada saat mereka tidak terganggu oleh aktivitas-aktivitas lain seperti pemberian pakan, atau pembuangan kotoran kandang. Mayoritas birahi (standing heat) terjadi antara jam 4.00-6.00 sore dan 5.00-7.00 pagi. Pengamatan visualisasi pada malam hari (night watch) sangat dianjurkan untuk deteksi pada sapi Brahman Cross. Sapi betina yang terikat dalam kandang harus diberi latihan (exercise) secara teratur dengan kondisi kaki yang baik agar dapat menunjukkan aktivitas menaiki dan dinaiki temannya, serta ekspresi birahi akan lebih kelihatan.

Kualitas dan kuantitas pakan yang kurang optimum menyebabkan SKT rendah saat bunting tua, berakibat gangguan pada waktu beranak seperti prolapsus uteri, retensi plasenta, distokia, produksi susu induk sedikit dan berat lahir pedet rendah. Gangguan pada waktu beranak berakibat pada waktu estrus postpartum lebih lama muncul bahkan bisa menyebabkan anestrus yang panjang sehingga setelah beranak tidak dapat birahi atau bunting lagi. Untuk mengatasi hal tersebut diatas maka perlu diperhatikan kualitas pakan yang diberikan pada saat bunting sampai menyusui.

Secara normal ± 42 hari setelah beranak mulai timbul gejala birahi pertama, tetapi sapi tidak perlu di IB karena biasanya hasil angka konsepsinya masih rendah. Pada periode birahi berikutnya (± 63 hari setelah melahirkan) sapi dapat mulai dikawinkan kembali. Birahi pada periode berikutnya tetap terus diamati untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan. Setelah 21 hari, sapi yang diinseminasi kemudian tidak minta kawin lagi ada kemungkinan telah terjadi kebuntingan. Untuk memastikan bunting atau tidak, maka perlu dilakukan pemeriksaan kebuntingan (sebaiknya pada umur kebuntingan 3 bulan) oleh petugas yang sudah dilatih pemeriksaan kebuntingan.

Skor kondisi tubuh (SKT) sapi Brahman Cross berhubungan dengan performan reproduksi dan dapat dipergunakan untuk membuat suatu keputusan manajemen pemeliharaan. Kondisi status nutrisi dan endoparasit (terutama cacing) merupakan pengaruh terbesar dalam penampilan skor kondisi tubuh sapi. Angka SKT dimulai dari angka 1 (sangat kurus), 2 (kurus), 3 (optimum), 4 (gemuk) dan 5 (sangat gemuk). Angka SKT dengan nilai 3 adalah rata-rata, sedang atau optimum (diantara sangat kurus dan sangat gemuk). Nilai SKT optimum untuk keperluan reproduksi sapi Brahman Cross adalah 3,0 – 3,5.

Hubungan SKT dengan reproduksi sapi Brahman Cross adalah pada calving interval (jarak beranak). Penilaian harus dilakukan 80 hari sesudah melahirkan untuk menentukan program pemeliharaan, agar tercapai calving interval 365 hari. Status SKT optimum 3 – 3,5 pada sapi bunting tua sangat diperlukan bagi persiapan kelahiran (partus) dan periode menyusui pedet. Sapi Brahman Cross bunting tua dengan SKT kurang dari 2 (kurus) akan berresiko terjadinya pengeluaran vagina dan servik saat bunting (broyongen, prolapsus vagina et cervix) serta prolapsus uteri pasca beranak.

3. Fenomena Reproduksi Sapi Brahman Cross di Indonesia

Sapi Brahman Cross mulai didatangkan ke Indonesia (Sulawesi Selatan) dari Australia pada tahun 1973. Hasil pengamatan di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase beranak 40,91%, calf crops 42,54%, mortalitas pedet 5,93%, mortalitas induk 2,92%, bobot sapih (8-9 bulan) 141,5 kg (jantan) dan 138,3 kg betina, pertambahan bobot badan sebelum disapih sebesar 0,38 kg/hari. Pada tahun 1975, sapi Brahman Cross didatangkan ke pulau Sumba dengan tujuan utama untuk memperbaiki mutu genetik sapi Ongole di pulau Sumba. Importasi Brahman Cross dari Australia untuk UPT perbibitan, BPTU Sembawa, Palembang, dilakukan pada tahun 2000 dan 2001 dalam rangka revitalisasi UPT. Importasi besar-besaran sapi Brahman Cross terjadi pada tahun-tahun belakangan ini. Setelah sapi Brahman-Cross didatangkan ke Indonesia dan dibagikan kepada rakyat, sapi-sapi tersebut dipasangi tali hidung, dikandangkan sendiri atau dalam kelompok kecil di tempat sempit, tanpa kesempatan exercise sama sekali, dengan pakan yang tidak mencukupi kualitas maupun kuantitasnya, terjadilah berbagai gangguan lambannya reproduksi atau sering disebut sebagai slow breeder. Dengan adanya perubahan lingkungan, pakan, ditambah adanya heat stress terjadilah keadaan yang disebut sebagai depresi reproduksi (reproductive depression), sapi tidak menunjukkan gejala birahi sama sekali (anestrus) pada sapi yang belum bunting maupun setelah beranak (anestrus postpartum) serta seringnya terjadi kawin berulang (repeat breeding) pada sapi yang tampaknya birahi normal. Fenomena reproduksi sapi Brahman Cross adalah sifat birahi tenang (silent heat, sub-estrus), birahi pendek (short estrus) dan lebih banyak estrus terjadi pada hari gelap, sangat sulit dikenali saat birahinya, serta ovulasi tertunda (delayed ovulation), sehingga inseminasi buatan yang dilakukan banyak menjumpai kegagalan.

Fenomena reproduksi pada sapi Brahman-Cross yang dibagikan kepada rakyat dilaporkan dalam bentuk terutama kasus-kasus infertilitas, antara lain tidak bunting walau sudah diinseminasi beberapa pada sapi dara maupun sapi dewasa yang pernah beranak, tidak birahi sama sekali (anestrus) pada sapi pasca beranak, birahi tenang serta jarak beranak yang terlalu panjang. Gejala umum dari sapi Brahman-Cross sebagian besar menunjukkan infertilitas metabolik dan nutrisi disertai dengan penurunan skor kondisi tubuh. Banyak laporan menyatakan sapi Brahman Cross bunting yang dibagikan ke peternak setelah proses partus tidak mau birahi kembali (anestrus postpartum), sehingga tidak dapat dikawinkan atau sudah dikawinkan berulang kali tetapi tidak berhasil bunting kembali (repeat breeding). Sehingga di kalangan peternak timbullah mitos yang tidak benar, bahwa sapi Brahman Cross akan sulit bunting kembali setelah beranak bawaan.

Fenomena reproduksi tersebut menyebabkan rendahnya reproduktivitas sapi Brahman-Cross milik rakyat. Gangguan reproduksi ini menjadi lebih nyata dengan digunakan sistem pengawinan yang diatur (hand mating), dengan penggunaan inseminasi buatan dimana diperlukan pengamatan birahi oleh manusia. Di samping itu, tercatat pula relatif tingginya kasus-kasus obstetri dan ginekologi pada sapi Brahman-Cross bila dipelihara dengan manajemen peternakan rakyat trasisional, seperti banyaknya kejadian prolapsus vagina et cervix maupun prolapsus uteri (prolapsus vagina dan serviks maupun prolapsus uteri) dan kasus distokia (kesulitan beranak).

Dari pengalaman lapangan dalam menangani sapi Brahman-Cross, termasuk Brahman-Angus (Brangus), Simmental-Brahman (Sim-Bra) fenomena reproduksi yang muncul bila dipelihara dengan cara pemeliharaan rakyat tradisional antara lain:

3. 1. Birahi tenang (silent heat, sub-estrus)

Birahi tenang atau birahi tidak teramati banyak dilaporkan pada sapi Brahman-Cross; sapi dengan birahi tenang mempunyai siklus reproduksi and ovulasi normal, namun gejala birahinya tidak terlihat. Birahi tenang akan mengakibatkan peternak tidak dapat mengetahui kapan sapinya birahi, sehingga tidak dapat dikawinkan dengan tepat. Pada peternakan sapi Brahman-Cross di negeri asalnya, kasus birahi tenang tidak menimbulkan masalah, karena mereka menggunakan pejantan alami yang merupakan detektor birahi sapi terbaik. Birahi tenang pada sapi Brahman-Cross pada peternakan rakyat terjadi karena beberapa kemungkinan, antara lain sapi Brahman-Cross memiliki sifat antara lain:

a. Cenderung untuk birahi pada hari gelap,

b. Lama birahiya pendek, dengan rerata kurang dari 6 jam,

c. Intensitas gejala birahi memang lemah.

Sifat birahi sapi Brahman-Cross yang cenderung tenang ini timbul diakibatkan oleh beberapa faktor, antara lain:

a. Faktor genetis

b. Manajemen peternakan tradisional,

c. Defisiensi komponen-komponen pakan atau defisiensi nutrisi,

d. Perkandangan tradisional, sempit, kurang gerak, kandang individual,

e. Kondisi fisik jelek, kebanyakan karena parasit interna (cacing),

f. Dalam proses adaptasi.

3. 2. Tidak birahi sama sekali (anestrus)

Tidak birahi sama sekali atau anestrus adalah keadaan dimana memang tidak terjadi siklus reproduksi, tidak ada ovulasi, sehingga tidak terjadi gejala birahi sama sekali. Kasus anestrus pada sapi Brahman-Cross cukup banyak ditemui, umumnya terjadi setelah beranak. Anestrus pada sapi Brahman-Cross umumnya berupa hipofungsi ovaria (90%) akibat defisiensi nutrisi and korpus luteum persisten (10%) akibat adanya peradangan saluran reproduksi.

3. 2. a. Hipofungsi ovaria

Hipofungsi ovaria adalah kurang atau tidak berfungsinya ovaria dalam menghasilkan ovum secara rutin, karena tidak terbentuk folikel dan tidak ada ovulasi, sehingga juga tidak timbul gejala birahi. Kurang atau tidak berfungsinya ovaria ini memang bersifat temporer, namun kalau keadaannya melanjut maka ovaria akan tidak berfungsi secara permanen, karena stroma jaringan ovaria akan diganti dengan jaringan ikat, keadaan ini disebut atrofi ovaria. Pada ovaria yang mengalami hipofungsi maka akan teraba kecil, diameter sekitar 1,5 cm, pipih, permukaan licin halus dan uterusnya teraba lembek, tidak bertonus. Bila sudah melanjut menjadi atrofi ovaria, maka ovaria akan teraba semakin kecil lagi, diameternya sekitar 0,5 cm dan rabaannya menjadi keras karena stroma ovarium digantikan oleh jaringan ikat. Sapi penderita akan segera mengalami peningkatan berat badan dengan cepat, karena tidak aktifnya lagi ovaria akan menyebabkan seperti hewan diovariektomi..

Sapi Brahman-Cross yang mengalami anestrus 80% disebabkan oleh hipofungsi ovaria ini, termasuk juga atrofi ovaria. Penyebab utama dari hipofungsi ovaria karena adanya defisiensi hormon gonadotrofin, akibat dari berbagai faktor antara lain :

1) Defisiensi nutrisi, pakan yang tidak memadai, termasuk enerji, protein,

vitamin dan mineral,

2) Menyusui pedet,

3) Penyakit-penyakit yang menyebabkan kekurusan,

4) Parasit cacing, terutama sapi Brahman Cross lebih peka terhadap cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang (Paramphistomiasis) dibanding sapi lokal lain, seperti sapi PO dan Bali.

3. 2. b. Korpus luteum persisten

Penyebab anestrus pada sapi Brahman-Cross yang lain yaitu korpus luteum persisten, walaupun kejadiannya relatif kecil, hanya sekitar 10% dari seluruh kasus anestrus. Korpus luteum sebetulnya bukan merupakan gangguan reproduksi, namun lebih sebagai akibat adanya gangguan di dalam uterus atau pada endometrium. Adanya gangguan tersebut menyebabkan tidak terproduksinya atau terjadi gangguan pembebasan prostaglandin, sehingga korpus luteum akan tetap ada (persist), progesteron akan terus dihasilkan dan terjadilah anestrus. Penyebab korpus luteum persisten yang menyebabkan anestrus antara lain :

1) Radang endometrium (endometritis) yang banyak terjadi pasca beranak maupun pasca inseminasi.

2) Piometra pasca inseminasi maupun pasca beranak.

3) Mengikuti kematian embrio atau fetus, abortus, mummifikasi atau maserasi fetus.

Penanganan kasus korpus luteum persisten umumnya ditujukan kepada pengobatan penyebab gangguan pada endometrium dan penghancuran korpus luteumnya, misalnya dengan sediaan prostaglandin. Pemberian prostaglandin akan mampu memecah korpus luteum dan mengembalikan siklus reproduksi sapi penderita.

4. Penanganan Fenomena Reproduks Sapi Brahman Cross

Berdasarkan temuan mengenai status reproduksi sapi Brahman-Cross dengan segala permasalahannya penulis mengajukan saran untuk perbaikan efisiensi reproduksinya sebagai berikut:

1. Mitos bahwa sapi Brahman Cross akan sulit bunting kembali setelah beranak adalah tidak benar. Penulis sudah berulangkali membuktikan bahwa manajemen yang salah merupakan penyebab kegagalan kebuntingan pada sapi Brahman Cross, utamanya adalah pakan, sitem perkandangan dan pengamatan birahi.

  1. Kandang lepas, tanpa ditambat, atau adanya tempat umbaran untuk exercise merupakan kaharusan bagi sapi Brahman Cross.
  2. Pakan yang mencukupi kualitas dan kuantitasnya, untuk mempertahankan SKT optimum untuk reproduksi (3,0-3,5), di samping pemberian obat cacing berspektrum luas untuk mengatasi cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang (Paramphistomiasis), paling tidak 2 kali setahun.
  3. Pemeriksaan khusus infertilitas untuk identifikasi permasalahan individual sapi Brahman-Cross yang bermasalah. Perlu ditentukan apakah sapi hanya mengalami birahi tenang, anestrus atau infertilitas bentuk lain.
  4. Penanganan infertilitas metabolik dan nutrisi, dengan perbaikan pakan dan perbaikan skor kondisi tubuh.
  5. Ditentukan prognosa apakah masih bisa diperbaiki atau tidak. Penanganan hanya dilakukan pada kasus yang dianggap masih bisa diperbaiki.
  6. Penanganan khusus reproduksi tergantung pada masing-masing masalah individu.
  7. Pada sapi Brahman-Cross yang ternyata hanya mengalami birahi tenang, penanganan dilakukan sebagai berikut:
    1. Perbaikan kondisi tubuh, usahakan kondisi fisik (body condition score = BCS, skor kondisi tubuh = SKT) optimum untuk reproduksi, yaitu sekitar 3,0 dari suatu cara penilaian kondisi tubuh antara 1 (kekurusan) dan 5 (kegemukan). Perbaikan kondisi tubuh dapat lebih cepat dibantu dengan perbaikan pemberian pakan, pemberian roboransia dan obat cacing.
    2. Intensifikasi pengamatan birahi individu sapi. Penanganan yang lebih sering, terutama pada waktu malam hari. Pengamatan birahi akan lebih mudah bila dimungkinkan untuk menjadikan sejumlah sapi-sapi betina yang berdekatan dalam satu kandang lepas besar atau dalam satu padangan untuk dilakukan inseminasi buatan atau kawin pejantan.
    3. Aplikasi induksi birahi dan ovulasi dengan mempertimbangkan perhitungan ekonomis, dengan sediaan progestagen, prostaglandin, maupun kombinasi dengan gonadotropin-releasing hormone. Induksi birahi dan ovulasi hanya pada sapi yang mengalami gangguan subestrus dan kondisi fisiknya sudah membaik, sudah mencapai skor sekitar 3,0.

5. Penanganan Klinis kasus anestrus karena hipofungsi ovaria, yang merupakan kasus infertilitas terbesar pada sapi Brahman, juga mirip dengan penanganan birahi tenang,

a. Perbaikan kondisi fisik (SKT), sampai mencapai skor sekitar 3,0.

b. Penanganan dengan sediaan progestagen atau gonadotropin-releasing

hormone (GnRH).

6. Penanganan klinis kasus repeat breeding (kawin berulang), antara lain:

a. Inseminasi ganda, dua kali masing-masing satu dosis dengan selang 12 jam, terutama pada kasus yang terkait dengan ovulasi tertunda.

b. Infusi intra uterin antibiotika, misal penicillin kristal 1 juta unit dan streptomycin 1 gram, atau yodium povidone 2% 100 – 250 ml, terutama untuk kasus endometritis subklinis.

7. Beberapa metode untuk induksi birahi dan ovulasi pada sapi Brahman-Cross

yang mengalami birahi tenang dan hipofungsi ovaria, antara lain dapat

disebutkan :

a. Penggunaan CIDR (controlled internal drug release), implant berisi progesterone, diiserasikan intravagina dan dibiarkan selama 9-12 hari. Insemiansi buatan dilakukan pada 72 dan 96 jam setelah pengambilan implant.

b. Metode Ovsynch (sinkronisasi ovulasi) dengan menggunakan 250 mcg Gonadorelin (GnRH) disuntikkan intramuskuler pada hari ke 0, diikuti 15 mg Luprostiol (prostaglandin) pada hari ke 7, dan akhirnya 250 mcg Gonadorelin pada hari ke 8, inseminasi buatan tanpa melihat gejala birahi dilakukan pada hari ke 9.

  1. Kasus prolapsus vagina dan serviks maupun prolapsus uteri dan kasus distokia pada sapi Brahman Cross dapat dihindari dengan mempertahankan SKT antara 3,0-3,5 pada saat bunting, serta diberi cukup banyak exercise pada tempat umbaran. Penambahan mineral, termasuk mikromineral, penting diberikan harian untuk mencegah terjadinya abnormalitas reproduksi lebih jauh.

5. Kesimpulan

Sapi Brahman Cross (BX) merupakan sapi potong dengan darah Brahman dominan. Sapi ini merupakan tipe sapi potong yang tahan panas, tahan caplak, tahan kutu dan tahan kekeringan. Sifat sapi Brahman Cross sebagai hewan dengan reproduksi lambat (slow breeder), sulit dideteksi birahinya membuat pelaksanaan IB pada sapi banyak menjumpai kegagalan. Budidaya sapi ini dengan sistem peternakan intensif tradisional akan menimbulkan fenomena reproduksi, terutama berupa infertilitas nutrisi yang dimanifestasikan dengan birahi tenang, anestrus dan kawin berulang. Fenomena reproduksi pada sapi Brahman-Cross tersebut dapat dieliminasi dengan perbaikan manajemen peternakan, peningkatan pakan serta manajemen reproduksinya.

6. Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada kolega Han S atas bantuan dalam penyiapan dan penyusunan bahan manuskrip, hingga makalah ini dapat terselesaikan.

7. Referensi

Britt, J.S. and Gaska, J. (1998). Comparison of two estrus synchronization programs in a large, confinement-housed beef herd. JAVMA 212:210-212

Gunawan; Abubakar; Tri Pambudi, G; Karim, K; Nista, D; Purwadi, A.dan Putro, P. P. 2008. Petunjuk Pemeliharaan Sapi Brahman Cross. BPTU Sapi Dwiguna dan Ayam Sembawa. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian.

Putro, P.P. (1992). Performans reproduksi sapi Brahman-Cross asal Australia di beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur and Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Monitoring, tidak dipublikasi.

Putro, P.P. (1993). Induksi birahi and Ovulasi pada sapi Brahman-Cross yang mengalami anestrus and subestrus. Fakultas Kedokteran Hewan UGM Yogyakarta.

Putro, P. P. 2006. Gangguan Reproduksi pada Sapi Brahman Cross. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.

Putro, P. P. 2008. Sapi Brahman Cross, Reproduksi dan Permasalahannya. Bagian Reproduksi dan Kebidanan FKH UGM Yogyakarta.

Youngquist, R.S. (1997). Therigenology in Large Animals. W.B. Saunders Co., London. Pp 80-88

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar