Kamis, 14 Januari 2010

ANEMIA

Hematopoiesis, merupakan suatu produksi dari sel-sel stem (induk) yang non defesiensi menjadi eritrosit, platelet dan leukosit yang bersirkulasi. Perangkat hematopoietik terutama berada di sumsum tulang dan memerlukan pasokan nutrisi seperti zat besi, vitamin B12, dan folic acid serta adanya faktor-faktor pertumbuhan hematopoietik, protein – protein yang mengatur penyebaran dan defesiensi sel-sel hematopoietik. Pasokan yang tidak cukup dari nutrisi-nutrisi tersebut akan mengakibatkan defesiensi sel-sel darah yang fungsional, salah satunya dapat terjadi anemia.

Pengertian Anemia

Anemia ( bahasa Yunani An = tanpa ; enemia = darah ) adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin atau jumlah sel-sel darah yang fungsional menurun sehingga tubuh akan mengalami hipoksia sebagai akibat kemampuan kapasitas pengangkutan oksigen dari darah kurang. Anemia bukan merupakan diagnosa akhir dari suatu penyakit akan tetapi selalu merupakan salah satu gejala dari sesuatu penyakit misalnya anemia defisiensi besi selalu terjadi akibat dari pendarahan kronis mungkin disebabkan karnoma colon atau ankilostomiasis dan lain-lain. Pada hewan piaraan jarang bersifat primer sering bersifat sekunder (Supandiman, 1993).


Anemia dapat terjadi karena pembentukan darah yang kurang memadai karena gizi yang tidak baik, gangguan sintesis hemoglobin termasuk defisiensi zat besi, Cu, vitamin, dan asam amino di dalam makanan. Anemia dapat pula disebabkan oleh hilangnya darah karena pendarahan dari luka atau karena parasit seperti cacing perut ataupun kutu. Penyebab lainnya adalah kurangnya sekresi faktor instrinsik dari perut, faktor ini memungkinkan dapat berlangsungnya penyerapan vitamin B12. Anemia juga dapat terjadi apabila sel-sel darah mengalami hemolisis yang lebih cepat dibandingkan dengan pembentukannya yang baru atau apabila sel-sel darah merah tidak berhasil menjadi masak secara normal (Frandson, 1996)

Manifestasi gejala dan keluhan akan anemia tergantung dari beberapa faktor yaitu penurunan kapasitas daya angkut oksigen dari darah serta kecepatan dari penurunannya, Derajat serta kecepatan perubahan dari volume darah, Penyakit dasar penyebab anemianya, dan Kapasitas kompensasi sistem kardiopulmonal. Oleh karena itu rendahnya kadar hemoglobin dari seseorang penderita anemia bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan ada atau tidak adanya keluhan dan gejala anemia.

Anemia berpengaruh besar terhadap sistem vaskuler. Karena jika kapasitas mengangkut oksigen berkurang juga dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi sel darah merah berarti viskositas darah juga menurun, karenanya aliran darah menjadi cepat. Hipoksia terjadi pada tingkat jaringan yang merangsang jantung untuk memompa lebih cepat untuk mencoba memberikan oksigen lebih banyak. Jantung akan mengalami stres karena bekerja lebih berat. Apabila hewan itu bekerja atau melakukan latihan fisik yang keras, jantung tak mampu mensuplai oksigen yang cukup kepada jaringan dan efisiensi jantung pun menurun sehingga dapat menimbulkan gangguan jantung yang akut. Konsentrasi hemoglobin diukur dalam gram per 100 ml darah. Konsentrasi hemoglobin yang normal kira-kira 11 pada domba, 13,5 pada anjing, 12 pada sapi dan babi, dan 12,5 pada kuda (Frandson, 1996).

Apabila turunnya kadar hemoglobin terjadi secara lambat laun kemudian akan tejadi kompensasi dari sistem kardiopulmonal sehingga kadar hemoglobin yang tidak terlalu rendah biasanya tidak menimbulkan keluhan. Apabila penurunan kadar hemoglobin terjadi secara cepat seperti terjadi akibat suatu perdarahan mendadak, keluhan bisa terjadi mendadak berupa suatu hipotensi tergantung besar ringannya perdarahan yang terjadi. Penurunan kadar hemoglobin secara cepat akibat destruksi eritrosit (hemolisis) selain keluhan kardiopulmonal akan disertai dengan tanda-tanda hemolisis seperti ikterus, hemoglobinemia, hemoglobinuria dan lain-lain.

Pada anemia kronis maka konsentrasi pigmen pengangkut oksigen dalam darah lebih menentukan dalam hal korelasi dengan penyesuaian oleh sistem kardiovaskuler daripada tingginya deposit jumlah sel daerah atau kadar hemoglobin dalam sirkulasi. Jumlah oksigen yang dilepaskan dalam jaringan tergantung dari konsentrasi hemoglobin, prosentase kejenuhan hemoglobin oleh oksigen, kurve disosiasi Hb-O2 dan tekanan oksigen jaringan. Dalam keadaan hemoglobin yang rendah untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen maka akan terjadi peningkatan denyut jantung. Peningkatan dan pelepasan oksigen oleh hemoglobin sangat tergantung dari konsentrasi 2-3 difosfogliserida (2-3 DP6). Afinitas oksigen pada hemoglobin berkurang apabila kadar 2-3 DP6 meninggi. Pada anemia kronis 2-3 DP6 meninggi.



Gejala klinis Anemia

Gejala klinis anemia bervariasi tergantung pada etiologi, derajat dan kecepatan timbulnya. Penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung, paru-paru akan mempengaruhi keparahan gejala-gejala. Anemia tersebut akan menampakkan gejala seperti terlihat terhadap kulit dan selaput lendir yaitu mukosa terlihat pucat, lemah, dispnea, anoreksia, oedema, nafsu makan turun, gastrointestinal mengalami kelukaan, tachycardia dan polypnea (bernafas cepat) terutama setelah kerja, peka terhadap dingin, pada pemeriksaan auskultasi terdengar bising jantung karena viskositas darah menurun dan turbulence meningkat, jika sepertiga volume darah hilang maka hewan akan syok, terlihat ikterus (jika ada hemolisa darah), hemoglobinuria, hemoragi dan demam. Gejala kurang jelas jika kejadiannya pelan-pelan sehingga hewan lama-kelamaan dapat beradaptasi.

Tipe Anemia

  1. Anemia regeneratif

Diagnosa ini ke arah adanya perdarahan atau destruksi eritrosit, jika cukup waktu untuk respon regeneratif (2-3 hari), Pemeriksaan sumsum tulang jarang dilakukan biasanya adanya erythropoietic hyperplasia, Respon regeneratif pada saat proses kesembuhan dari anemia non regeneratif dapat dilihat pada pemeriksaan hemogram secara berturut-turut.


  1. Anemia non regeneratif

Diagnosa terhadap gangguan sumsum tulang, pemeriksaan sumsum tulang diwajibkan untuk menguatkan diagnosa dan klasifikasi anemianya, Pada perdarahan akut atau perakut atau kasus hemolisis pada hewan yang mengalami gangguan sumsum tulang akan terlihat tanda-tanda non regeneratif terlihat setelah 2-3 hari kemudian.

evaluasi lab

Pertama-tama akan diperoleh hasil pemeriksaan kadar hemoglobin yang rendah. Dalam menilai rendahnya kadar hemoglobin perlu diperhatikan keadaan hidrasi dari pasien. Dalam keadaan hidremia maka kadar Hb yang rendah bukan karena anemia akan tetapi karena hemodilusi (anemia spuria).

Evaluasi laboratorium didasarkan pada Hb, Hematokrit (Hct), jumlah retikulosit, volume erythocyt rata-rata (MCV = Mean Corpuskular Volume), dan pemeriksaan preparat usap (hapusan) darah tepi.

  1. Hemoglobin dan Hematokrit

Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen. Pada sebagian hewan tidak bertulang belakang atau invertebrta yang berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan-hewan bertulang belakang atau vertebrata termasuk kuda. Zat besi dalam bentuk Fe2+ dalam hemoglobin memberikan warna merah pada darah. Dalam keadaan normal 100 ml darah mengandung 15 gram hemoglobin yang mampu mengangkut 0,03 gram oksigen.

Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Hct) berfungsi untuk estimasi masa eritrosit, namun interpretasi Hb dan Hct harus memperhitungkan status volume pasien. Segera setelah kehilangan darah akut, Hb akan normal normal karena mekanisme kompensasi tidak akan punya waktu untuk mengembalikan volume plasma menjadi normal. Pada kebuntingan Hb rendah meskipun massa eritrosit normal karena volume plasma yang bertambah akan mengencerkan Hb.

  1. Jumlah retikulosit

Jumlah retikulosit mencerminkan kecepatan produksi eritrosit merupakan indikator bagi respon sumsum tulang terhadap anemia. Jumlah retikulosit biasannya dilaporkan sebagai jumlah retikulosit untuk setiap 100 eritrosit. Indeks retikulosit (IR) mencerminkan keparahan anemia yang sesungguhnya serta merupakan ukuran kemampuan sumsum tulang memberikan respon IR yang lebih dari 2-3% menunjukkan respon yang memadai dan nilai yang kurang dari ini menunjukkan bahwa terdapat unsur hypoproliferatif pada anemia.

  1. Volume Erythrocyt Rata-rata

Cara mengevaluasi eritrosit yaitu dengan Jumlah total eritrosit atau pocked Cell Volume (PCV), kadar Hb, Mean Corpuscular Volume( MCV), Mean Corpuskular Hemoglobin (MCH) dan Mean Corpuskular Hemoglobin Concentration (MCHC). Jumlah total eritrosit atau pocked Cell Volume (PCV) cara ini paling mudah dan tepat, dan diingat tingkat dehidrasinya. Mean Corpuscular Volume( MCV) adalah ukuran rata-rata eritrosit dan digunakan dalam klasifikasi anemia. MCV yang kecil berarti ukuran sel darah merahnya lebih kecil daripada ukuran normal. Biasanya hal ini disebabkan karena defisiensi zat besi dalam tubuh serta kejadian pada penyakit kronis. Sedangkan nilai MCV biasanya akan meningkat pada keadaan kekurangan asam folat, defisiensi vitamin B12, dan defisiensi kobalt

PCV merupakan perbandingan antara volume eritrosit darah dan komponen darah yang lain. Volume eritrosit di dalam darah berbanding langsung terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin dalam sirkulasi darah. Nilai PCV merupakan petunjuk dari daya pengikat oksigen oleh darah dan bermanfaat bagi suatu diagnosis diantaranya untuk menetukan MCV dan MCHC.

  1. Pemeriksaan preparat usap atau hapusan darah tepi

Pemeriksaan ini bersifat menentukan dalam penilaian pasien anemia. Morfologi eritrosit paling baik di nilai pada bagian hapusan di mana eritrosit yang satu tepat bersentuhan dengan eritrosit yang lain. Pemeriksaan penunjang lain seperti analisis urin, pemeriksaan feses dan pemeriksaan biokimia lain penting untuk menegakkan diagnosa dari anemia.


  1. Pemeriksaan khusus

Pemeriksaan khusus untuk menegakkan diagnosa sebaiknya dilakukan sebelum pemberian transfusi darah.


Diagnosa

Anemia bukan merupakan diagnosa dari suatu penyakit. Anemia merupakan salah satu gejala dari penyakit. Oleh karena itu apabila pasien menderita anemia maka kita harus menentukan etiologi dari anemianya. Anemia dapat diklasifikasikan berdasarkan morfologi dan etiologi. Indeks retikulosit menentukan anemia tersebut akan dalam kalsifikasi yang mana, dan MCV serta Pemeriksaan preparat usap atau hapusan darah tepi dapat membantu lebih lanjut dalam penegakan diagnosis. Anemia dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor seperti perdarahan gastrointestinal, defisiensi gizi, dan penyakit hati.

Klasifikasi Anemia

Klasifikasi Anemia dibagi menjadi 2 yaitu berdasarkan :

  1. Morfologi
    1. Normositik – normokromik
    2. Makrositik – normokromik


    1. Makrositik – hipokromik
    2. Mikrositik – hipokromik

Untuk klasifikasi anemia berdasarkan morfologinya dibutuhkan perhitungan MCV, MCH dan MCHC.

Penghitungan MCV

PCV (%) X 10

MCV =

Eritrosit (juta/mm3)

Penghitungan MCH

Hb (g/dl) X 10

MCH =

Eritrosit (juta/mm3)

Penghitungan MCHC

Hb (g/dl) X 100

MCHC =

PCV (%)

  1. Etiologi

Berdasarkan etiologi anemia dibagi menjadi 4 kategori :

    1. Anemia Perdarahan ( Blood Loss Anemia )

Anemia perdarahan terjadi keadaan Perdarahan Akut seperti trauma, operasi pembedahan, defek-defek koagulasi yang parah seperti perdarahan akut pada keracunan sweet clover dan warfarin. Perdarahan kronis biasanya mikrositik hipokromik (kekurangan elemen-elemen untuk pembentukan atau sintesis hemoglobin) dengan ciri-ciri yaitu mikrosit meningkat jumlahnya, penurunan kadar Hb, peningkatan jumlah retikulosit dan eritrosit berinti sehingga adanya peningkatan proses eritrogenesis. Penyebabnya yaitu infestasi parasit seperti cacing kait, cacing perut, coccidia, cacing bungkul dan cacing hati. Parasit eksternal yaitu kutu dan pinjal.



Perdarahan kronik (pada kasus cacingan) → karena lesi-lesi gastointestinal → menyebabkan gastritis, ulserasi traktus digestivus dan enteritis → Sehingga akan kehilangan darah secara kronis.

Pemeriksaan laboratorik untuk hemoragi akut dan subakut menciri yaitu terlihat gambaran normocytic, eritrosit berinti terlihta pada pemeriksaan darah perifer dalam waktu 72-96 jam. Pendarahan perakut pada rongga abdominal dan rongga dada. Sifat regenerasi perdarahan akut biasanya berjalan progresif dengan jumlah eritrosit kembali normal dalam waktu 4-5 minggu. Anemia ini termasuk Normositik – normokromik

    1. Peningkatan Destruksi eritrosit atau penurunan lifespan eritrosit.

Berhubungan dengan proses destruksi besar-besaran atau pendeknya lifespan eritrosit oleh berbagai penyakit.

Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik adalah keadaan dimana masa hidup eritrosit memendek. Anemia hemolitik termasuk dalam kelompok kelainan dimana didapatkan ketahanan atau umur eritrosit berkurang baik episodik maupun kontinyu. Sumsum tulang memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi eritrosit sampai delapan kali lipat sebagai respon penurunan ketahanan eritrosit. Retikulositosis merupakan penanda adanya hemolisis karena pada kelainan hemolitik terjadi respon sumsum tulang berupa peningkatan produksi eritrosit.

Kelainan anemia hemolitik secara umum diklasifikasikan berdasarkan faktor intrinsik dan faktor eksternal. Defek faktor intrinsik terjadi dalam seluruh komponen eritrosit meliputi membran, sistem enzim, herediter dan hemoglobin. Sedangkan defek faktor eksternal merupakan anemia hemolitik imun. Termasuk dalam makrositik – normokromik

Anemia Pernisiosa

Anemia Pernisiosa atau disebut Anemia karena defisiensi Vitamin B12 adalah anemia sebagai akibat dari berkurangnya faktor intrinsik didalam lambung. Faktor intrinsik adalah suatu faktor yang diperlukan untuk penyerapan vitamin B 12 dalam usus. Setelah ditelan dilambung vitamin B12 terikat dengan faktor intrinsik yaitu protein yang disekresikan sel pariental lambung. Terdapat ikatan kobalamin protein yang lain.(disebut faktor –R) yang berkompetisi dengan faktor intrinsik sedangkan ikatan vitamin B12 dengan faktor – R tersebut tidak dapat diabsobsi. Komplek vitamin B12, faktor intrinsik bergerak melalui usus halus dan diabsobsi dalam ileum terminal oleh sel dengan reseptor spesifik pada komplek tersebut. Hasil absobsi dibawa melalui plasma dan disimpan di hepar. Vitamin B12 mempunyai peranan yang esensial untuk sintesa asam nukleus dan mempunyai hubungan erat gan metabolisme asam folat dan asam folanat uracil, thymidin dan asam askorbat.

Gejala yang dapat ditimbulkan yaitu terjadi perubahan pada sel mucosa, glositis, gangguan gastrointestinal seperti anoreksia dan daire. Ciri khas dari defisiensi vitamin B12 yaitu anemia megaloblastik. Pemeriksaan yang penting dan untuk menentukan dioagnostik anemia pernisiosa adalah pemeriksaan Schilling test yaitu untuk memastikan bahwa penderita tidak dapat mengabsorpsi vitamin B12 karena terdapat kekurangan faktor intrinsik.

Anemia Karena Defisiensi Asam Folat

Gejala klinisnya sama seperti anemia karena defesiensi vitamin B 12 yaitu adanya anemia megaloblastik dan perubahan megaloblastik pada mukosa. Tetapi pada defesiensi asam folat tidak terdapat abnormalitas neurologis. Diagnosis banding yaitu Anemia megalobastik pada defisiensi asam folat dibedakan dengan yang terjadi pada defesiensi vitamin B12, dengan adanya kadar vitamin B12 serum yang normal dan penurunan kadar asam folat eritrosit atau serum.


    1. Depresi Sumsum Tulang

Anemia Aplastik

Anemia aplastik adalah suatu keadaan dimana jaringan sumsum tulang digantikan oleh jaringan lemak. Sehingga terjadi pensitopenia (anemia, leukemia, dan tronositopenia). Gejala yang timbul yaitu suhu tubuh naik, pucat dan terjadi oedem. Pengurangan elemen lekopoisis menyebabkan granulositpenia yang akan menyebabkan penderita menjadi peka terhadap infeksi sehingga mengakibatkan infeksi baik bersifat lokal maupun sistemik. Trombositopenia dapat mengakibatkan pendarahan dikulit, selaput lendir ataupun pendarahan di organ-organ. Pada anemia aplastik tidak akan ditemukan pembesaran kelenjar getah bening, dan tidak ada hepatosplenomegali.


Masa kesembuhan dari pendarahan besar yaitu pendarahan karena traumatik atau defek-defek koagulasi dan destruksi secara masif dengan immune mediated anaemia, infeksi hemoprotozoa, toksisitas obat dan anemia kongenital pada anjing. Termasuk anemia makrositik – hipokromik

    1. Defesiensi nutrisi

Anemia Defesiensi Fe

Anemia defesiensi besi (Fe) adalah anemia yang sekunder terhadap kekurangan Fe yang tersedia untuk sintesa hemoglobin. Oleh karena Fe merupakan bagian dari molekul hemoglobin maka dengan berkurangnya Fe, sintesa hemoglobin berkurang dan kadar hemoglobin akan berkurang. Apabila cadangan Fe telah habis akan terlihat pengurangan Fe pada epitel seperti pada rambut, kuku, kulit dan selaput lendir gastrointestinal. Sebab terjadinya anemia defesiensi besi (Fe) adalah pendarahan khususnya pendarahan gastrointestinal. Gejala anemia defisiensi Fe yaitu pucat pada selaput lendir. Takikardia, palpitasi, dan disfagia.

Defisiensi besi (Fe) yang berat akan menimbulkan apusan darah tepi yang aneh (bizzare) dengan sel yang sangat hipokromik, sel target, sel berbentuk hipokromik, dan dalam jumlah sedikit ditemukan eritrosit berinti. Biasanya jumlah platelet normal pada defisiensi besi yang ringan tapi akan meningkat pada kasus yang lebih berat. Defek-defek dalam kebutuhan dan penyimpangan Fe seperti defisiensi Cu dan keracunan molybdenum dan defesiensi vitamin B6. Anemia ini termasuk dalam anemia mikrositik – hipokromik


Anemia Pada Penyakit Kronis

Anemia Pada Penyakit Kronis berhubungan dengan terjadinya anemia ringan atau sedang. Penyebab yang sering terjadi yaitu infeksi atau inflamasi kronis, kanker, gangguan autoimun dan infeksi-infeksi kronis yang biasanya timbul beberapa bulan setelah penyakit tersebut mulai menyerang.


Ketahanan eritrosit secara perlahan berkurang dan sumsum tulang gagal melakukan kompensasi melalui peningkatan produksi eritrosit. Kegagalan untuk meningkatkan eritrosit terutama disebabkan oleh pemecahan besi dalam sistem retikuloendotelial. Penurunan eritropotin jarang terjadi pada kasus penting dalam penurunan produksi eritrosit. Sebagian besar kasus tidak memerlukan terapi tetapi pada beberapa kasus transfusi eritrosit diperlukan untuk anemia yang simptomatik.

Terapi

Terapi yang dilakukan harus ditujukan terhadap etiologi dari anemianya. Dalam keadaan hipoksi berat sering dilakukan tindakan suportif dengan pemberian transfusi darah atau komponen darah.


Terapi anemia memerlukan identifikasi penyebabnya untuk mengeliminasi sumber darah dan menambah cadangan besi yang memerlukan pemberian besi secara oral atau parental, pemasukan yang normal melalui makanan hanya akan cukup untuk menggantikan zat besi yang hilang setiap hari. Untuk terapi anemia dapat digunakan fero sulfat atau sulfat ferrous, diphenhydramin, pemberian asam folat seperti vitamin C, dan pemberian vitamin B12 secara parenteral.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar