Rabu, 06 Januari 2010

NILA MERAH (Oreochromis sp)

Ø NILA MERAH (Oreochromis sp)

· Taksonomi

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Class : Osteicththyes

Subclass : Acanthopterigii

Ordo : Percomorphy

Subordo : Percaidae

Famili : Cichildae

Genus : Oreochormis

Species : Oreochormis sp

· Merupakan persilangan antara O. Mossambica (mujair)/O. nilotica dengan O. hornorum, O. aures/O. zillii. Bentuk tubuh pipih dan berwarna kemerah – merahan atau kuning keputih – putihan. Termasuk ikan yang mengeram telurnya dalam mulut (2 minggu). Ikan nila memijah sepanjang tahun, dan bila induknya baik, maka akan memijah 1,5 bulan sekali.

· Ikan nila merah dewasa pada umur 5 – 6 bulan, mencapai berat badan 400 – 600 gram. Ciri dari ikan nila merah jantan ialah sisik besar, alat kelamin berupa tonjolan agak meruncing, warnanya cenderung lebih gelap dan rahang bawah melebar. Sedangkan ikan nila merah betina memiliki lubang genital di dekat lubang anus, warna lebih pucat, bentuk hidung dan rahang runcing.

· Ikan nila bersifat omnivora dan hidup di air tawar/payau, agak kuat terhadap kekurangan oksigen, pH 4,5 – 11 dan memijah sepanjang tahun dan bila induknya baik maka akan memijah 1,5 bulan sekali. Dapat pula beradaptasi pada air dengan kadar garam tinggi walaupun tidak dapat berkembang biak. Ikan nila merah masih dapat berkembang dengan baik pada kadar garam 35 %.

· Keadaan suhu air yang optmal untuk nila erah adalah 25 – 28 derajat celcius. Perubahan suhu yang terlalu tinggi dapat mengganggu kelangsungan hidup nila merah. Kehidupan nila merah mulai terganggu pada suhu dibawah 14 derajat celcius atau diatas 38 derajat celcius. Nila merah akan mati pada perairan dengan suhu dibawah 6 derajat celcius atau diatas 42 derajat celcius.

(Lane, 1963)

· Penyakit pada ikan nila merah :

1. VHS (Viral Hemorrhagic Septicaemia)

Penyebab : Virus RNA, Rhabdovirus

Gejala : Tubuh tampak gelap, perdarahan pada mata, sirip pektoral, insang tampak pucat, hemorragargi pada jaringan lemak, usus, swimblader, otot, kematian mencapai 50%

Penularan : Melalui air dari ikan carier, stress, terlalu padat, suhu air naik.

Pengendalian : Notreatmen, karantina, dan vaksinasi

2. IPN (Infectious Pancreatic Necrosis)

Penyebab : Birnavirus

Gejala : Erosi mukosa usus, nafsu makan turun, nekrosis pada pankreas mortalitas mencapai 20%

Penularan : Vertikel dan horisontal (feses, urine), air dan peralatan.

Pencegahan : 90% ikan yang tahan hidup menjadi karier, desinfeksi, vaksinasi.

Pengendalian : Notreat, desinfeksi alat dengan klorine (200 mg/1 selama 1 jam) air ditretment dengan ozone/UV.

3. Penyakit Bakterial Furunkolosis

Penyebab : Aeromonas salmonicida

Spesies ikan yang terserang : Salmonida, terutama yang hidup didaerah atlantik dan ikan air tawar dan ikan air laut.

Penularan : Kontak dengan ikan sakit, air yang tercemar, alat perlengkapan tambak dan melalui telur yang terinfeksi. sebagai faktor prediposisi adalah temperatur air yang tinggi, kadar oksigen yang rendah dan tambak yang sangat padat.

Gejala : Ikan berwarna lebih gelap, anoreksia, berkumpul disekitar saluran pembuangan dari kolam

Pencegahan : Cegah kontaminasi air, keluarkan semua ikan yang terinfeksi.

Pengendalian : Pemberian antibiotika/antibakteri

4. RSD (Red Sore Disease)

Penyebab : Aeromonas hydrophila

Spesies ikan yang terserang : Beberapa jenis ikan air tawar

Penularan : Kontak dengan ikan sakit, air yang tercemar bakteri tersebut, dapat pula melalui ektoparasit.

Gejala : Adanya daerah hemorrhagik yang merah pada permukaan tubuh dan dasar sirip, terlihat adanya asitesis

Pencegahan : Perbaikan sanitasi lingkungan, terutama pengurangan polutan organik dan penyesuaian temperatur.

Pengendalian : Pemberian antibiotik secara parental (oleh karena nafsu makan dan minum hilang)

5. Pseudomoniasis

Penyebab : Pseudomonas fluorescens

Spesies ikan yang terserang : Terutama ikan air tawar dan kadang – kadang ikan air laut

Penularan : Kontak dengan ikan sakit/lingkungan yang tercemar.

Gejala : Perdarahan pada kulit, yang diikuti oleh angka kematian yang tinggi, kongasti dan pendarahan daerah visceral, kasus kronis terlihat adanya peritonitis fibrinosa, ascites

Pencegahan : Perbaikan sanitasi lingkungan, kualitas air dan kurangi kepadatan ikan.

Pengendalian : Pemberian antibiotika (misalnya oksitetrasiklin) per oral ataupun per injeksi (infra peritoneal) misalnya kanamisi

6. Vibrosis

Penyebab : Vibrio anuillarum

Penularan : Ikan carier dalam lingkungan tambak, penuaran secara tidak langsung melalui invertebrata yang hidup di lingkungan tambak, kontak dengan ikan sakit/lingkungan yang tercemar.

Gejala : Anoreksia, kulit akan berwarna gelap diikuti oleh kematian mendadak, ulserasi, exophtalamus, asites ataupun tanpa gejala sama sekali pada infeksi kronis adanya lesi granulomatosa kulit, insang pucat, peritoneum, bagian visceralis dan parietalis mengalami adhesi fibrinosa

Pencegahan : Vaksinasi dan seleksi ginetik

Pengendalian : Pembrian antibiotika.

7. Tubercolosis

Penyebab : Mycrobacterium marinum dan Mycrobacterium fortutum.

Spesies ikan yang terserang : Semua spesies dapat terserang (ikan air laut dan ikan air tawar)

Penularan : Mengkonsumsi ikan sakit atau air/bahan yang tercampur oleh ikan sakit, secara vertikel terutama pada spesies avovivivarous. Kulit yang luka dapat memudahkan masuknya baktei , bersifat zoonosis.

Gejala : Emasiasi, ulserasi, sirip busuk, warna kulit yang gelap, Deformitas dan exopthalmus

Pencegahan : Cegah pemberian pakan yang tercemar oleh ikan sakit, ikan sakit harus dimusnahkan dan peralatan harus di sterilisasi.

Pengendalian : Diobati dengan antibiotika.

8. Argulosis

Etiologi: kutu/argulus

Gejala : bercak coklat kekuningan pada ikan

Pengendalian: mengambil kutu, menetesi ikan dengan garam pekat, pengapuran kolam, penyemprotan kolam dengan insektisida 1 mg/m3 air selama 24 jam.

9. Lernaeosis

Etiologi: Lernea Trilapial

Gejala: adanya tonjolan pada bagian kulit ikan

Pengendalian: pengeringan dan pengapuran kolam sebelum dilakukan perbenihan, pemasangan filter kolam, diberi insektisida Agrothasian Abu Logus dosis 0,5-1/m3 air 24 jam.

10. Ichtyopthirius

Etiologi: protozoa

Gejala: bintik putih hingga abu-abu pada kulit

Pengendalian: sanitasi lingkungan, disinfeksi kolam dengan larutan pekat 50 mg/m3 (1 g + 2,5 cc formalin/m3 air) 24 jam.

11. Rayxobolus

Etiologi: protozoa Myxobolus exigulus atau M. Natablis

Gejala: bintik putih atau bisul pada kulit

Pengendalian: pemusnahan bangkai ikan, penyaringan dan pengapuran kolam, pemasangan filter pada saluran air.

12. Dermatomycosis

Etiologi: cendawan Saprogica parasitica

Gejala: adanya rambut (kumpulan benang seperti kapas) berwarna putih kelabu.

Pengendalian: hindari luka mekanis pada ikan. Jika terdapat luka mekanis pada ikan dan telur, rendam dalam larutan Malachite Green 60 gram/m3 selama 10-20 detik.

(Budi Susanto)


Ø Metode :

1. Handling dan Restrain

Handling

Ikan dipegang pada daerah kepala (depan) dengan menggunakan tangan kanan.

Bagian ekor (belakang) dipegang dengan tangan kiri

2. Penimbangan (Berat Badan)

Handling

Taruh ikan diatas timbangan

Catat hasil timbangan

3. Sexing

Handling

Bedakan antara ikan jantan dan betina menggunakan beberapa keterangan sebagai berikut

JANTAN

BETINA

1. Warna badan lebih gelap

1. Warna badan lebih cerah

2. Saat memijah tepi sirip merah cerah

2. Gerakan lebih lamban

3. Alat kelamin berupa tonjolan dan apabila diurut mengeluarkan sperma

3. Perut lebih besar

4. Tulang rahang melebar kebelakang

4. Perlakuan dan Penyuntikan

· Perlakuan Oral (P.O) :

Handling

Kanul dimasukan ke dalam cavum oris

Kanul dimasukan sampai ke daerah esophagus

Bahan perlakuan disuntikkan secara perlahan.

· Prosedur Penyuntikan :

a. Sub Cutan (S.C)

Handling

Suntikan bahan perlakuan (larutan giemza) ke daerah longgar pinnae pectorales

b. Intra Muscular (I.M)

Handling

Suntikan bahan perlakuan (larutan giemza) ke daerah musculus epaxial dan musculus hepaxial

c. Intra Peritonial (I.P)

Handling

Suntikan bahan percobaan (larutan giemza) di daerah abdomen, diantara pinnae abdominalis (bagian kulit yang longgar)

Lakukan secara perlahan

5. Pengambilan Darah

a. Aorta Descendens

Handling

masukan jarum didaerah belakang dari langit – langit mulut mengarah ke caudal hinngga ujung jarum habis masuk ke dalam, tarik spet secara perlahan maka darah akan keluar

b. Arteri Caudalis

Handling

masukan jarum didaerah pinna caudalis sampai menembus tulang vertebrae dan melukai tulang tersebut, tarik spet secara perlahan maka darah akan keluar

c. Intra Cardiaca (I.C)

Handling

Lakukan anastesi terlebih dahulu

Suntikan jarum didada sebelah kiri antara costae ke 3 atau 4 dan rasakan denyut jantungnya.

Ambil darah secara perlahan

6. Anastesi

Teteskan minyak cengkeh sebanyak 3 tetes kedalam 1 liter air.

Masukan ikan kedalam air tersebut

Tunggu beberapa saat hingga ikan lemas

7. Euthanasi

Teteskan minyak cengkeh sebanyak 3 tetes kedalam 1 liter air.

Masukan ikan kedalam air tersebut

Tunggu beberapa saat hingga ikan mati

8. Nekropsi

Ikan yang sudah di euthanasi di rebahkan ventral

Ruang abdomen dibuka dengan pemotongan menyerupai parabola

Lakukan pengambilan organ

Potong organ dengan ukuran 1cm x 1 cm

Masukan organ yang telah dipotong kedalam formalin 10%

A. HASIL PRAKTIKUM

1. Handling dan Restrain

Berhasil dilakukan

2. Penimbangan (Berat Badan)

BB Ikan = I: 60 gram, II: 70 gram, III: 60 gram

3. Sexing

Jenis Kelamin Ikan = (Jantan)

4. Penyuntikan

Ø I.M

Menggunakan spet kecil (tubercullin) berisi cairan giemza pada M. Epaxial dan M. Hepaxial

Ø I.P

Menggunakan spet kecil (tuberculin) berisi cairan giemza pada daerah belakang pinna analis

5. Pengambilan Darah

Ø Aorta Descendens

Tidak berhasil dilakukan

Ø Arteri Caudalis

Berhasil dilakukan

Ø Jantung (I.C)

Tidak berhasil dilakukan

6. Anastesi

Ø Minyak Cengkeh

Berhasil dilakukan.

7. Euthanasi

Ø Anastesi Berlebih

Berhasil dilakukan, menggunakan minyak cengkeh di campur dengan air (3 tetes : 1 liter), masukkan ikan dan tunggu hingga ikan mati

8. Nekropsi

Ø Anatomi kasar

Setelah di nekropsi, semua jaringan/organ terlihat normal

B. PEMBAHASAN

1. Handling dan Restrain

Handling

Memegang bagian kepala ikan dari arah cranial dengan tujuan menghindari sirip ikan yang tajam. Kemudian diletakkan pada gabus/ spons yang telah diberi sedikit celah ditengahnya dan dibasahi.

2. Penimbangan (Berat Badan)

Bertujuan untuk menentukan dosis obat dan pemberian pakan

Berat badan ikan = I: 60 gram, II: 70 gram, III: 60 gram (Belum Dewasa)

Berat badan ikan nila merah dewasa normal = 400 – 600 gram

3. Sexing

Jenis Kelamin Ikan = (JantanKarena terdapat tonjolan di urogenitalnya dan setelah diurut keluar sperma. Jika ikan tersebut betina maka tidak akan dijumpai tonjolan di urogenitalnya dan setelah diurut tidak keluar sperma

4. Penyuntikan

· I.M

Menggunakan spet kecil (tubercullin) berisi cairan giemza pada M. epaxial (di atas linea lateralis) dan M. hepaxial (di bawah linea lateralis).

· I.P

Menggunakan spet kecil (tuberculin) berisi cairan giemza pada daerah abomen, diantara pinnae abdominalis (bagian kulit yang longgar)

5. Pengambilan Darah

· Aorta Descendens

Tidak berhasil dilakukan di daerah belakang dari langit – langit mulut (palatum) mengarah ke caudal hingga jarum habis masuk ke dalam kemudian ambil darahnya

· Arteri Caudalis

Berhasil dilakukan di daerah belakang dari pinna analis mengarah ke vertebrae, bila jarum sudah bertemu dengan vertebrae gerakkan jarum agar arteri sobek sedikit kemudian ambil darahnya

· Jantung (I.C)

Tidak berhasil dilakukan di tengah antara kedua sirip depan (pinnae pectorales) mengarah ke dorsal, tetapi jangan terlalu dalam agar tidak salah menusuk organ vital lainnya kemudian ambil darahnya. Pengambilan darah melalui jantung harus menggunakan prosedur anastesi telebih dahulu

6. Anastesi

· Minyak cengkeh

Berhasil dilakukan. Menggunakan minyak cengkeh dengan dicampur air. Perbandingan antara komposisi minyak cengkeh dan air ialah 3 tetes : 1 liter. Ikan kemudian dimasukkan dalam campuran tersebut hingga ikan lemas (mengapung)

7. Euthanasi

· Anastesi berlebih

Berahasil dilakukan, menggunakan minyak cengkeh dengan dicampur air. Perbandingan antara komposisi minyak cengkeh dan air ialah 3 tetes : 1 liter.

8. Nekropsi

· Anatomi kasar

Setelah di nekropsi, semua jaringan/organ terlihat normal

C. KESIMPULAN

· Praktikan dapat menghandling ikan dengan benar

· Ikan berjenis kelamin jantan. Karena terdapat tonjolan di urogenitalnya dan setelah diurut keluar sperma

· Berat badan ikan nila merah= = I: 60 gram, II: 70 gram, III: 60 gram , yaitu masih tergolong belum memenuhi standar atau belum dewasa. Standar berat badan nila merah dewasa normal 400 – 600 gram

· Penimbangan berat badan bertujuan untuk menentukan dosis obat dan pemberian pakan

· Pada intinya, anastesi menggunakan minyak cengkeh harus dengan pengawasan yang ketat. Anastesi yang terlalu lama (berlebih) dapat menyebabkan kematian

· Praktikan dapat melakukan anastesi dan nekropsi dengan benar

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, Eddy. 1999.Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Yogyakarta: Kanisius.

Faris, Edmond J. ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­___. The Care and Breeding of Laboratory Animals. New York: John Wiley & Sons Inc.

Heryadi, Dedy. 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta:Kanisius.

Lingga, Pinus. Ikan Hias Air Tawar. IKAPI: Penebar Swadaya.

Petter, W. Lane. 1963. Animals for Research. London: Academic Press.

Santoso, Budi. ___. Budidaya Ikan Nila. Yogyakarta: Kanisius.

Siregar, Abbas. ___. Nila Merah, Pembenihan dan Pembesaran Secara Intensif. Yogyakarta: Kanisius.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar