Kamis, 14 Januari 2010

Fisiologi dan Gastrotomi pada anjing

Fisiologi Anjing

Temperatur

Temperatur tubuh internal diukur dengan mengukur rektal menggunakan termometer. Suhu tubuh menunjukkan adanya variasi sepanjang hari dan dapat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti penyakit, status hormonal dan aktivitas hewan. Produksi panas dapat meningkat bilamana terjadi peningkatan aktivitas otot dan metabolisme dibawah pengaruh hormon seperti hormon tiroid dan katekolamin. Temperatur tubuh terendah ditemukan pada waktu pagi, sedikit meningkat pada tengah hari dan suhu tertinggi ditemukan pada sore hari. Peningkatan temperatur tubuh secara fisiologis dapat terjadi setelah makan, setelah kerja keras, pada hari melahirkan (kecuali anjing, biasanya temperatur tubuhnya subnormal), pada temperatur atmosfer yang tinggi dan bilamana hewan mengalami aksitasi. Pada hewan sehat yang mengalami latihan berat suhu yang meningkat akan segera kembali lagi kebatasan normal dalam waktu 10-20 menit, sedang pada hewan yang sakit latihan akan mengakibatkan peningkatan suhu tubuh yang lebih besar dan diikuti penurunan temperatur yang lambat (Widiyono, 2001). Temperatur normal anjing 37,8 – 39,5 0C (Surono dkk, 2003).

Pulsus

Arteri yang dapat digunakan untuk memeriksa pulsus anjing adalah arteri yang terletak dibawah kulit. Anjing dan kucing, pulsus dapat diraba pada arteria femoralis pada paha bagian dalam. Pada umumnya hewan muda, kecil, bunting dan betina memiliki frekuensi yang lebih besar dibanding hewan tua, besar, jantan dan tidak bunting. Pulsus meningkat dapat terjadi secara fisiologis pada saat bekerja, gerak dan terkejut akibat adanya simpatikotoni. Pada keadaan patologis, pulsus meningkat dapat ditemukan pada kasus demam, keracunan, anemia serta penyakit jantung. Sedangkan frekuensi pulsus yang menurun dapat terjadi pada kasus penurunan aktivitas jantung (Widiyono, 2001). Frekuensi pulsus normal anjing 76-148 kali/menit (Surono dkk, 2003).

Nafas

Secara fisiologis frekuensi nafas dapat dipengaruhi oleh umur, stimuli, kerja. Bila terjadi hecheln yakni bernafas pendek, dangkal dengan lidah terjulur maka frekuensi nafas tidak dapat dihitung dan dievaluasi. Frekuensi nafas yang meningkat terjadi pada keadaan stress, kerja, demam dan adanya rasa sakit. Sebaliknya juga dapat terjadi penurunan frekuensi nafas pada depresi kepekaan pusat nafas pada kasus seperti peningkatan tekanan dalam otak, hilang kesadaran, uremia dan tekanan oksigen yang meningkat (Widiyono, 2001). Frekuensi nafas normal anjing 24-42 kali/menit (Surono dkk, 2003).

Tekanan Darah

Tekanan darah hampir selalu diukur dalam millimeter air raksa (mmHg) karena manometer air raksa telah digunakan sebagai referensi standar untuk mengukur tekanan darah sepanjang sejarah fisiologis. Sebenarnya tekanan darah berarti tenaga yang digunakan oleh darah terhadap setiap satuan daerah dari dinding pembuluh tersebut. Jika tekanan dalam suatu pembuluh 50 mmHg, ini berarti tenaga yang digunakan tersebut akan cukup untuk mendorong suatu kolom air raksa tersebut sampai setinggi 50 mm (Guyton, 1976).

Tekanan darah dapat juga ditentukan sebagai tekanan terhadap pembuluh darah yang disebabkan oleh pemompaan jantung pada aliran darah ke seluruh tubuh (Anonim a, 2007). Tekanan darah terbagi menjadi menjadi 3 unsur yaitu sistole, diastole, dan rata-rata tekanan arterial. Bebarapa indikasi dari pengukuran tekanan darah yaitu adanya kecenderungan pada pasien yang mengalami abnormalitas cardiovaskular (shock, penyakit jantung, sindrom keradangan sistemik ataupun sindrom disfungsi multipel organ), pasien mengalami perubahan status klinik, saat pasien teranestesi, saat pasien dilakukan ventilisasi mekanik, serta jika pasien dengan penyakit primer yang berhubungan dengan hipertensi seperti gagal ginjal kronis, hiperthyroidsm, hiperadrenocorticism atau Cushing’s syndrome (Battaglia, 2007).

Pembuluh darah yang menyalurkan darah ke seluruh tubuh disebut arteries, sedangkan yang membawa darah yang telah terpakai kembali ke jantung disebut veins. Arteri bersifat kuat dan elastis, sehingga dapat menahan tekanan darah yang dipompa ke dalamnya. Arteri bercabang-cabang sampai pada pembuluh yang sangat halus dan kuat dindingnya, berperan sangat penting di dalam mengatur tekanan darah. Naik dan turunnya gelembung tekanan darah seirama dengan pemompaan jantung untuk mengalirkan darah di pembuluh arteri (Anonim b, 2008).

Tekanan darah awal yang dihasilkan oleh kontraksi ventrikel jantung dinamakan sistole, dan menurun sampai pada tekanan terendah yaitu saat jantung tidak memompa (relaksasi) ini disebut diastole. Tekanan yang ditimbulkan oleh dinding arteri akan digunakan untuk mempertahankan tekanan diastole dalam arteri dan akan mengalirkan darah ke kapiler saat ventrikel relaksasi (Frandson, 2003). Nilai sistole normal anjing dengan rata-rata 110-160 mmHg sedangkan nilai diastole normal anjing dengan rata-rata 50-100 mmHg. Dalam keadaan hipertensi nilai tekanan diatas 170/110 mmHg, jika tekanannya terlalu tinggi, bisa merobek pembuluh darah dan menyebabkan perdarahan di dalam otak (stroke hemoragic). Sedangkan dalam keadaan hipotensi nilai tekanan dibawah 90/50 mmHg, jika tekanannya terlalu rendah, maka darah tidak dapat memberikan oksigen dan zat makanan yang cukup untuk sel dan tidak dapat membuang limbah yang dihasilkan sebagaimana mestinya (Anonim a, 2007) (Anonim c, 2008).

Tekanan darah akan berubah-ubah tergantung pada aktivitas tubuh. Biasanya tekanan darah terendah terjadi saat tidur dan tertinggi jika terangsang maupun stress. Tekanan darah yang selalu berubah dapat menyulitkan pengukuran yang tepat, sehingga perlu diadakan pengukuran berkali-kali. Pengukuran yang tidak tenang dapat meningkatkan tekanan darah sesaat, maka pengukuran pada saat ini tidak dapat dijadikan acuan (Anonim b, 2008).

Anatomi dan Fisiologi Gastrium

Saluran pencernaan makanan pada anjing terdiri dari rongga mulut (cavum oris), kerongkongan (oesophagus), lambung (gastrium), usus halus (intestinum), usus besar (colon), rectum dan terakhir adalah anus. Di dalam saluran tersebut, setiap makanan yang masuk akan mengalami proses pencernakan makanan, baik secara mekanik maupun kimiawi. Lambung merupakan bagian dari sistem saluran pencernaan makanan, berupa saluran yang mengalami dilatasi/ pelebaran hingga membentuk kantong dan terdapat di dalam rongga abdomen sebelah kiri. Di dalam lambung, makanan yang masuk akan ditampung selama beberapa jam dan mengalami proses pencernaan secara mekanik melalui gerakan peristaltik lambung dan secara kimiawi melalui enzim-enzim dalam lambung seperti rennin, pepsin, dan HCl, sehingga ketika makanan sampai di usus telah dalam bentuk yang halus dan telah terpecah atas partikel yang lebih kecil sehingga akan mudah untuk diserap (Frandson, 1986).

Gastrium anjing terletak pada sisi kiri abdomen di belakang hepar. Posisinya bervariasi tergantung jumlah ingesta. Secara anatomis lambung anjing terletak pada sisi kiri rongga abdomen bagian depan dan di belakang hepar, membentang dari vertebrae thorakalis ke-9 sampai vertebrae lumbalis yang pertama. Lambung yang kosong akan sulit dipalpasi karena tertutup oleh hepar dan archus cranioventral serta intestinum pada bagian belakangnya. Kurvatura mayor lambung (greater kurvature) terletak pada bagian dorsal, pada sisi kiri intestinum dan permukaan ventral serta kaudalnya terletak pada intercostalis ke-11 dan ke-12. Kebutuhan darah dilambung disuplai oleh arteria coeliaca, yaitu pembuluh darah cabang dari aorta yang keluar dari crura diaphragmatika. Sampai pada bagian pertengahan terbagi menjadi 3, yaitu arteri hepatica, arteri gastrika dan arteri splenika yang kesemuanya mensuplai nutrisi dari lambung (Archibald, 1974).

Gastrium merupakan saluran pencernaan yang dapat paling besar mengalami dilatasi, juga merupakan suatu organ muskuloglandular yang terletak antara esophagus dan usus halus. Arteri yang menginervasi gastrium adalah a. gastrika sinister dan dekter yang berjalan sepanjang kurvatura minor dan arteri gastroepiploika sinister dan dekster yang berjalan sepanjang kurvatura mayor. Gastrium diinervasi syaraf parasimpatis oleh nervus vagus dan syaraf simpatis oleh pleksus siliaka (Miller et all., 1969). Di dalam lambung, makanan yang masuk akan ditampung selama beberapa jam dan mengalami proses pencernaan secara mekanik melalui gerakan peristaltik lambung dan secara kimiawi melalui enzim-enzim dalam lambung seperti rennin, pepsin, dan HCl, sehingga ketika makanan sampai di usus telah dalam bentuk yang halus dan telah terpecah atas partikel yang lebih kecil sehingga akan mudah untuk diserap (Frandson, 1986).

Pada keadaan normal, pengosongan lambung dimulai 5 sampai 10 menit setelah makan, ingesta dapat mencapai usus halus dalam waktu 15 menit. Lambung akan kosong dalam waktu 3 sampai 7 jam. Kecepatan pengosongan lambung dipengaruhi juga oleh keadaan fisik, kuantitas dan konsistensi dari makanan. Makanan semi cair segera dapat dikosongkan dalam waktu 3 sampai 4 jam, makanan yang tidak dimasak dapat dikosongkan dalam waktu 4 sampai 7 jam dan makanan padat dapat bertahan sampai 10 jam lebih (Archibald, 1974).

Secara mikroanatomis gastrium merupakan organ dengan dinding organ yang tersusun atas 4 lapisan sel, yaitu (dari dalam keluar) lapisan mukosa gastrium, lapisan submukosa, lapisan muskularis, dan lapisan serosa. Lapisan mukosa gastrium terdiri dari lamina epithelial, lamina propria (mengandung serabut kolagen, sel lemak, dan serabut syaraf submukosa). Tunika muskularis mempunyai 3 lapisan, yaitu lapisan dalam yang mengulir, lapisan tengah yang melingkar dan lapisan luar yang longitudinal. Pleksus mientrikus terdapat diantara lapisan tengah dan lapisan luar. Tunika serosa terdiri dari mesotel yang membalut lapisan jaringan ikat longgar yang disebut subserosa (Dellman and Brown, 1992).

Gastrotomi

Gastrotomi adalah operasi membuka gastrium atau dinding lambung yang dilakukan untuk mengambil benda asing, inspeksi mukosa gastrium terhadap kemungkinan ulcer, neoplasma atau hipertropi dan untuk mengambil spesimen biopsi. Sebelum prosedur pembedahan harus dilakukan pemeriksaan lengkap traktus gastrointestinalis, baik pemeriksaan fisik maupun radiologi, selain itu juga harus dilakukan evaluasi keseimbangan fluid dan elektrolit yang harus dikoreksi sebelum operasi (Bojrab, 1998).

Tehnik Operasi

Dalam pelaksanaan operasi gastrotomi untuk mengatasi kasus benda asing dan mengambil benda asing tersebut dari dalam lambung dapat dilakukan dengan berbagai macam tehnik yang berbeda. Perbedaan tehnik pembedahan ini meliputi perbedaan tehnik membuka rongga abdomen (laparotomi), perbedaan tempat incisi pada organ gastrium dan yang terakhir adalah perbedaan tehnik jahitan yang digunakan untuk menutup incisi pada gastrium.

Menurut Archibald (1974), bentuk irisan untuk membuka rongga abdomen ada beberapa macam irisan yang dapat dilakukan, antara lain median incision, paramedian incision, perrektus incision, pararektus incision, tranversus incision. Median incision adalah irisan yang dilakukan tepat pada linea alba, sedangkan paramedian incision adalah irisan yang dibuat 0,5-1,0 cm pada bagian lateral dan parallel dengan midline. Perrektus incision adalah irisan yang dibuat pada muskulus rektus abdomen yang terletak pada bagian lateral midline sedangkan pararektus incision adalah irisan yang dibuat pada bagian lateral muskulus rektus abdomen pada bagian kranial atau kaudal umbilicus. Transversal incision adalah irisan yang dilakukan melintang serabut otot terutama adalah muskulus rektus abdominis, irisan dapat dibuat unilateral atau bilateral. Menurut Shuttleworth dan Smythe (1960), irisan pada dinding abdomen yang akan mempermudah manipulasi pengambilan benda asing adalah irisan parakostae. Irisan pada daerah ini dilakukan kira-kira 0,5 inci dari archus costae terakhir dan 1,0 inci disebelah kiri daerah midline, dengan irisan dibuat sepanjang 3 sampai 4 inci . Sedangkan menurut Meyer dan Lacroix (1975), irisan dinding abdomen yang paling baik dilakukan untuk mengeluarkan lambung atau untuk mengambil benda asing dari dalam lambung adalah incisi pada daerah cranial midline, karena akan dapat menghindari pendarahan dan kerusakan jaringan.

Selain perbedaan tehnik incisi dinding lambung, perbedaan metode juga ada dalam incisi dinding gastrium untuk mengeluarkan benda asing dari dalam lambung tersebut. Menurut Archibald (1974), tehnik incisi membuka lambung yaitu incisi dilakukan pada permukaan visceral (daerah kurvatura mayor) atau incisi pada permukaan parietal (daerah kurvatura minor). Irisan pada kurvatura minor akan lebih sulit dilakukan karena tertutup oleh bursa omentum, sedangkan pada kurvatura mayor irisan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan jarang terjadi kecelakaan operasi. Menurut Fossum (2002), incisi pada gastrium dilakukan pada daerah yang sedikit pembuluh darahnya pada ventral gastrium, antara kurvatura minor dan kurvatura mayor.

Perbedaan tehnik penanganan yang lain adalah pada cara penutupan luka operasi pada dinding lambung. Menurut Archibald (1974), dinding lambung ditutup dengan dua model jahitan yaitu dengan model jahitan connel menerus dan dengan jahitan lambert. Menurut Fossum (2002), dinding lambung ditutup dengan dua lapis jahitan inverting, pertama dengan menggunakan model cushing atau sederhana menerus yang terdiri dari lapisan serosa, muskularis dan submukosa, kemudian diikuti dengan jahitan lambert atau cushing hanya pada lapisan serosa dan muskularisnya saja, dengan menggunakan benang yang diserap 2-0 atau 3-0 seperti polydioxanone dan polyglyconate.

Premedikasi

Premedikasi merupakan substansi yang terdiri dari sedativa atau transquilizer dan substansi antikolinergik (Kumar, 1997). Premedikasi diberikan dengan tujuan untuk meniadakan kegelisahan, hewan menjadi lebih tenang dan terkendali (Sarjana dan Kusumawati, 2004). Memudahkan dalam melakukan anastesi, menurunkan jumlah dosis anastesi yang diberikan, mengurangi kemungkinan terjadinya shock, memperlancar injeksi, mengurangi hipersalivasi, bradikardia dan muntah selama atau sesudah anastesi serta untuk menghindari hal-hal yang berakibat fatal bagi hewan pada saat maupun sesudah operasi (Brander et al., 1991; Kumar, 1997). Premedikasi diberikan kurang lebih 15 menit sampai 1 jam sebelum pemberian anastesi umum atau lokal. Obat-obatan tersebut diberikan secara intramuskuler, subcutan, atau intravena (Sarjana dan Kusumawati, 2004).

Atropin sulfat

Atropin sulfat merupakan antikolinergik yang paling sering digunakan. Obat-obat golongan ini disebut juga anti muskarinik atau parasimpatolitik. Mekanisme kerjanya pada umumnya menghambat pada tempat yang disarafi oleh serabut postganglion kolinergik, dimana asetilkolin sebagai neuro transmitor. Atropin digunakan sebagai premedikasi anastesi dengan tujuan utama untuk menekan produksi air liur dan sekresi jalan nafas dan juga mencegah reflek yang menimbulkan gangguan jantung atau mencegah timbulnya bradikardia. Meskipun demikian pemberian atropin berpengaruh pada susunan syaraf pusat yang kemudian merangsang medula oblongata, pada mata menimbulkan midriasis, mengurangi sekret hidung, mulut, faring dan bronkus (Sardjana dan Kusumawati, 2004). Pada sistem kardiovaskuler atropin berpengaruh terhadap jantung yang bersifat menghambat peristaltik lambung dan usus (Brander et all, 1991).

Keuntungan antikolinergik sebagai premedikasi adalah menurunkan sekresi saliva, menurunkan motilitas intestinal, menurunkan keasaman cairan gastrium, menghambat bradikardi oleh stimulasi vagal, menurunkan motilitas intestinal. Dan menyebabkan bronkodilatasi (Boothe, 2001). Sedangkan kerugiannya adalah peningkatan kecepatan metabolisme, peningkatan denyut jantung, dapat menyebabkan bradikardia atau takikardia dan dilatasi pupil (Lane dan Cooper, 2003).

Atropin sulfat bersifat reversibel dan pada pemberiannya dapat dimetabolisir oleh semua spesies (Brander et al, 1991. Dosis yang dianjurkan untuk anjing dan kucing adalah 0,022-0,044 mg/kg BB (Plumb, 1998). Atropin sulfat dapat diberikan secara subcutan, intramuskuler atau intravena. Pemberian secara intravena digunakan apabila ingin berefek cepat (Lumb and Jones, 1984).

Anestesi Umum

Anastesi menurut arti kata ialah hilangnya kesadaran dan rasa sakit. Anastesi umum adalah suatu keadaan tidak sadar akibat intoksikasi susunan syaraf pusat yang bersifat reversibel, sehingga sensitivitas terhadap stimulus yang berasal dari luar menurun, dan respon motorik terstimulasi akan berkurang (Hall, 1977).

Istilah anestesi dikemukakan pertama kali oleh O.W. Holmes yang artinya tidak ada rasa sakit. Anesthesia dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi lokal yang menghilangkan rasa sakit tanpa menhilangkan kesadaran dan anestesi umum yang menyebabkan hilangnya rasa sakit dan hilangnya kesadaran. Mekanisme terjadinya anesthesia belum jelas meskipun dalam bidang fisiologi susunan syaraf pusat dan perifer terdapat kemajuan hebat, maka timbul berbagai teori berdasarkan sifat obat anestesi , seperti penurunan transmisi sinaps, penurunan konsumsi oksigen dan penurunan aktifitas listrik SSP (Ganiswara, 1995).

Menurut Ganiswara (1995), stadium anastesi umum dibagi menjadi empat tingkatan sebagai berikut :

a. Stadium I (Analgesia)

Stadium ini dimulai dari saat pemberian zat anastetik sampai hilangnya kesadaran. Pada stadium ini penderita masih dapat mengikuti perintah dan rasa sakit hilang (analgesia). Pada stadium ini dapat dilakukan tindakan pembedahan ringan seperti cabut gigi, biopsi kelenjar dan sebagainya.

b. Stadium II (Delirium/Eksitasi)

Stadium ini dimulai dari hilangnya kesadaran sampai permulaan stadium pembedahan. Pada stadium ini terlihat jelas adanya eksitasi dan gerakan yang tidak menurut kehendak, berteriak, pernafasan tidak teratur, kadang-kadang apnea dan hipernea, hal ini terutama terjadi karena adanya hambatan pada pusat hambatan. Pada stadium ini dapat terjadi kematian, karena itu stadium harus cepat dilewati.

c. Stadium III (Pembedahan)

Stadium III dimulai dengan teraturnya pernafasan sampai pernafasan spontan hilang. Tanda yang harus dikenal adalah pernafasan yang tidak teratur pada stadium II menghilang, pernafasan menjadi spontan dan teratur oleh karena tidak ada pengaruh psikis, sedangkan pengontrolan kehendak hilang; reflek kelopak mata dan konjungtiva hilang; gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak merupakan tanda spesifik untuk permulaan stadium III. Stadium III dibedakan dalam empat tingkatan, yaitu :

- Tingkat 1

Pernafasan teratur, spontan, terjadi gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak, miosis, pernafasan dada dan perut seimbang, belum tercapai relaksasi otot lurik yang sempurna.

- Tingkat 2

Pernafasan teratur tetapi kurang dalam dibandingkan tingkat I, bola mata tidak bergerak, pupil mulai melebar relaksasi otot sedang, refleks laring hilang sehingga dapat dikerjakan intubasi.

- Tingkat 3

Pernafasan perut lebih nyata daripada pernafasan dada karena otot interkostal mulai mengalami paralisis, relaksasi otot lurik sempurna, pupil lebih lebar tetapi belum maksimal.

- Tingkat 4

Pernafasan perut sempurna karena kelumpuhan otot interkostal sempurna, tekanan darah mulai menurun, pupil sangat lebar dan refleks cahaya hilang.

Bila stadium III tingkat 4 sudah tercapai, harus hati-hati jangan sampai penderita masuk dalam stadium IV. Untuk mengenal keadaan ini, harus diperhatikan sifat dan dalamnya pernafasan, lebar pupil dibandingkan dengan keadaaan normal, dan mulai menurunnya tekanan darah.

d. Stadium IV (Paralisis Medula Oblongata)

Stadium ini dimulai dengan melemahnya pernafasan perut dibanding stadium III tingkat 4, tekanan darah tidak dapat diukur karena kolaps pembuluh darah, berhentinya denyut jantung dan dapat disusul kematian. Pada stadium ini kelumpuhan pernafasan tidak dapat diatasi dengan pernafasan buatan.

Dalamnya anastesia ditentukan berdasarkan jenis rangsangan rasa sakit, derajat kesadaran, relaksasi otot dan sebagainya. Perangsangan rasa sakit dibagi atas 3 derajat kekuatan, yaitu: kuat, yang terjadi sewaktu pemotongan kulit, manipulasi peritoneum, kornea, mukosa urethra terutama bila ada peradangan; sedang, yang terjadi sewaktu manipulasi fasia, otot dan jaringan lemak; ringan, yang terjadi sewaktu pemotongan dan menjahit usus, serta memotong otak (Ganiswara, 1995).

Sedangkan menurut Hall (1977) dan Brander et al. (1991) stadium anastesi dibedakan menjadi stadium analgesi dimana hewan masih sadar, stadium ekspirasi involunter dimana hewan mulai kehilangan kesadaran, stadium operasi yang ditandai dengan respirasi yang reguler dan relaksasi muskulus dan stadium ke 4 yaitu stadium overdosis atau paralisis medula.

Ketamin Hydrochloride (Ketamin HCl)

Ketamin HCl merupakan agen anastesi dissosiatif yang digunakan pada manusia dan dunia veteriner. Ketamin merupakan produk anastesi paling aman untuk anjing kecil dan kucing. Ketamin mempunyai sifat analgesik, anastetik dan kataleptik dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistem somatik, tetapi lemah untuk sistem viseral. Kurang dapat merelaksasi otot, bahkan kadang-kadang tonusnya sedikit meninggi dan pasien masih dapat merespon adanya perintah (Brander et al., 1991; Ganiswara, 1995).

Ketamin HCl ini merupakan larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar dan relatif aman (batas keamanan lebar). Ketamin mempunyai sifat analgesik, anastetik dan kataleptik dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistem somatik, tetapi lemah untuk sistem visceral. Tidak menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan kadang-kadang tonusnya sedikit meninggi (Kumar, 1997). Ketamin HCL (ketalar,vetalar) adalah dl-2-(0-klorofenil)-2-9metilamino) sikloheksan HCL. Konsentrasi efektifnya 10, 50, dan 100 mg/ml dan cocok untuk injeksi secara intra muskuler atau inta vena. Pemberian anastesi secara intra vena sering digunakan untuk mendapatkan induksi anastesi yang cepat, yang kemudian dipertahankan dengan obat inhalasi yang tersedia (Mycek, 2001).

Ketamin bersifat lipofilik, dan dengan cepat akan didistribusikan ke seluruh organ yang mempunyai banyak vaskularisasi, termasuk otak. Selanjutnya akan didistribusikan kembali kejaringan bersama metabolisme hati, urin, dan sekresi empedu (Katzung, 1998). Ketamin akan memasuki sirkulasi ke otak, namun pada saat bersamaan seperti halnya barbiturat, diredistribusikan ke organ dan jaringan lain (Mycek, 2001). Dosis yang dianjurkan untuk anjing dan kucing adalah 10-20 mg/kg BB secara intramuskuler (Kumar, 1997). Ketika digunakan sebagai obat tunggal, ketamin tidak menghasilkan relaksasi muskulus skeletal yang baik, dan dapat mencapai recovery dengan segara dan biasanya dapat menyebabkan konvulsi pada anjing dan terkadang kucing. Untuk menghindari efek tersebut, banyak dokter hewan yang menggunakan ketamin bersama-sama dengan diazepam, acepromazin, xylazine thiobarbiturat atau anastesi inhalasi (Lumb and Jones, 1984).

Xylazin

Nama lain xylasine adalah 2(2,6-dimethylphenylamino)-4H-5,6-dyhidro-1,3-thiazine-hydrocloride). Merupakan sedative non narkotik yang poten dan analgesik serta merupakan relaksan muskulus yang baik. Efek sedativa dan analgesia bekerja mendepres system saraf pusat dan relaksasi muskulus karena terhambatnya transmisi intraneural dari impuls pada sistem saraf pusat (Lumb dan Jones, 1984).

Xylasine diklasifikasikan sebagai analgesika juga mirip sedativa, namun bukan neuroleptik atau transquilizer. Xylasine menghambat efek adrenergik dan kolinergik neuron sehingga terjadi analgesia dan sedasi, efek samping yang bisa terjadi pada anjing yaitu muntah. Dosis untuk anjing adalah 1-2 mg/kg BB diberikan secara intramuskuler (Kumar, 1997).

Perawatan Postoperasi

Hewan tidak diberi makan dan minum setelah operasi, kebutuhan cairan diberikan secara intravena. Minum dapat diberikan 24 jam setelah operasi, pemberian minum ini pada dasarnya ketika pemberian cairan secara parenteral sudah tidak diberikan lagi. Diet makanan lunak diberikan jika air yang diberikan sebelumnya tidak dimuntahkan. Selanjutnya konsistensi makanan ditingkatkan secara bertahap. Tetapi jika terjadi muntah pemberian makanan dihentikan dan untuk mengontrol muntah dapat diberikan metoclopramide dengan dosis 0,2-0,4 mg/kg setiap 8 jam. Makanan kembali diberikan jika muntah sudah terkontrol (Bojrab, 1998).

Komplikasi Operasi

Komplikasi gastrotomi adalah hemoragi, infeksi dan problem-problem yang dihadapi sehubungan dengan anestesi dan shock. Hemoragi biasanya merupakan akibat dari kelalaian atau ligasi yang tidak sempurna. Hemoragi sekunder dan adanya shock merupakan komplikasi yang mungkin terjadi setelah penutupan luka. Infeksi adalah yang tidak umum jika operasi dilakukan dibawah kondisi yang aseptis (Archibald, 1974).

Antiseptika dan Desinfektansia

Alkohol 70 %

Alkohol merupakan antiseptik umum, pelarut yang baik dan disinfektan, jika diaplikasikan secara lokal pada jaringan alkohol mempunyai efek sebagai anti bakteri dan germisid yang kuat (Brander, 1991).Alkohol sebagai antiseptika banyak dipakai dalam persiapan operasi dan persiapan penyuntikan, sedang alkohol sebagai desinfektansia banyak dipakai untuk mencuci alat-alat kedokteran dan sterilisasi sebelum pengambilan bahan-bahan secara aseptis. Alkohol sering digunakan bersama antiseptik lain, sehingga daya membunuh bakterinya menjadi lebih kuat. Sediaan alkohol meliputi etyl alkohol 70-95%, isopropyl alkohol 70-95%, dan campuran alkohol 205 dengan cloramin 3% (subronto dan Tjahayati, 2001).

Iodin (Povidone Iodine)

Iodine merupakan germisidal yang bekerja dengan cepat, bakteri terbunuh dalam waktu 1 menit, dan spora bakteri akan terbunuh setelah 15 menit. Iodine juga dapat untuk mengobati luka, serta melawan infeksi jamur dan parasit (subronto, 2001). Sediaan iodine yang banyak digunakan adalah yodium tincture dan larutan lugol. Kedua larutan ini apabila terkena luka akan menyebabkan rasa perih, dapat merusak alat-alat kedokteran karena sufatnya yang korosif, serta meninggalkan bekas warna pada jaringan (Subronto dan tjahayati, 2001).

Selain untuk disinfeksi yodium juga dipakai untuk mengobati luka serta melawan infeksi jamur dan parasit. Kemampuan yodium dalam menembus dinding sel sangat tinggi dan karena adanya gangguan metabolisme di dalam protoplasma kuman akan mati. Larutan tersebut apabila mengenai luka akan menyebakan rasa perih dan warna pada jaringan (Brander,1991).

Penstrep

Penstrep merupakan obat campuran antara penicillin dan streptomisin sehingga dapat diharapkan daya kerjanya berspektrum luas. Penicillin bekerja dengan menghambat kerja enzim transpeptidase pada pembentukan dinding sel bakteri sehingga hanya efektif pada bakteri gram positif. Sedangkan streptomisin bekerja dengan menghambat sintesa protein bakteri langsung pada ribosom sub unit 30 S dan mengganggu penerjemahan kode genetik sehingga efektif terhadap bakteri gram negatif (Brander,1991).

Pengobatan

Amphicillin

Ampicillin merupakan prototip aminopenisillin berspektrum luas, tetapi aktivitasnya terhadap kokus gram positif kurang daripada penicillin G. semua penicillin golongan ini dirusak oleh betalaktamase yang diproduksi oleh kuman gram positif maupun gram negatif. Mekanisme kerjanya obat langsung bergabung dengan penicillin binding protein pada kuman, sehingga terjadi hambatan sintesis dinding sel kuman karena proses transpeptidasi antar rantai peptidoglikan terganggu, kemudian terjadi aktivasi enzim proteolitik pada dinding sel (Ganiswara, 1995).

Ampicillin diabsorbsi dengan baik pada saluran gastrointestinal. Pemberian peroral mencapai puncak konsentrasi serum dalam jangka waktu 2 jam. Didistribusikan keseluruh tubuh meskipun hanya sebagian kecil yang masuk kecairan cerebrospinal dan dalam konsentrasi tinggi terdapat dalam hati dan ginjal (Brander,1991). Dosis pemberian ampicillin secara peroral untuk anjing 10-20 mg/kg BB dan secara parenteral diberikan 5-10 mg/BB (Kirk dan Bistner, 1985).

Infus Ringer’s Dextrose 5 %

Merupakan larutan Ringer berupa larutan jernih, tidak berwarna, steril dan bebas pirogen yang terdiri dari glukosa anhidrat (50g/l) sebagai sumber energi dan tekanan osmotik darah dan organ-organ dalam tubuh, KCL (0,3 g) yaitu berupa garam untuk mengatasi hipokalsemia dan hipokloremia, CaCL2 (0.48 g) yaitu garam penting untuk menjaga fungsi syaraf dan otot. Indikasi sebagai pengganti cairan elektrolit dan sumber kalori, sebagai penambah volume darah pada keadaan shock, dehidrasi dan perdarahan, serta untuk mengatasi alkalosis dan asidosis (menormalkan PH darah) (Kirk dan Bistner, 1985).

Ringer’s dektrose adalah cairan pengganti yang berisi glukosa. Kandungan kalori larutan tersebut adalah 0,17 kcal/ml. pemberian infus larutan ringers dektrose dilakukan secara intravena. Ringer’s dektrose digunakan pada kasus dehidrasi, kehilangan cairan, shock, edema subkutan, gangguan saluran pencernaan dan obstruksi intestinum (Kirk dan Bistner, 1985).

Bioplasenton

Bioplasenton jelly merupakan obat luar dengan kandungan ekstrak plasenta 10 %, neomycin sulfat 0,5 % dan jelly sampai 100 %. Bioplasenton merupakan ekstrak plasenta yang mengandung biogenik stimulator yang menstimulus proses metaboisme sel berupa peningkatan konsumsi O2 pada sel-sel hepar, percepatan regenerasi sel dan kesembuhan luka. Neomycin sulfat adalah antibiotik topikal dengan potensi melawan bakteri gram positif dan negatif , tidak dirusak oleh eksudat atau dengan produk metabolisme bakteri (Brander,1991).

Kombinasi dari bioplasenton dan neomycin sulfat menyebabkan kesembuhan luka yang cepat, penggunaan 4-6 kali sehari dioleskan merata pada kulit yang terbakar, ulcer kronis kesembuhan lambat, jaringan granulasi, ulcer dekubitus, eksim pyoderma, impetigo dan furunkulosis (Brander,1991).

Luka dan Kesembuhan Luka

Luka dapat didefinisikan sebagai kerusakan jaringan pada jaringan tubuh yang menderita kehilangan kesinambungan. Luka biasanya disebabkan karena trauma yang berasal dari luar tubuh baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja (Robbins, 1984).

Pada operasi ini dilakukan incisi, dan ini merupakan luka baru atau luka iris. Luka iris adalah luka yang disebabkan oleh benda tajam, tepi luka berbatas jelas dan halus, dan kerusakan yang ditimbulkan bersifat ringan. Luka ini paling sering ditemukan pada luka operasi dengan harapan kesembuhan primer (Archibald, 1965).

Tahapan kesembuhan luka menurut Fossum (2000) yaitu :

1. Fase peradangan (Inflamatory phase)

Fase ini diawali dengan adanya perdarahan yang membersihkan dan memenuhi bagian kulit yang terluka segera setelah terjadi trauma. Pembuluh-pembuluh darah akan menyempit selama kurang lebih 5-10 menit untuk membatasi hemoragi namun kemudian berdilatasi dan melepaskan fibrinofen dan elemen penjendalan (clotting elemen) ke daerah luka. Transudat fibrin dan plasma akan memenuhi daerah luka, menyumbat pembuluh limfe, menlokalisasi radang dan melekatkan tepi luka. Mediator peradangan misal histamin dan serotonin akan dilepaskan segera setelah luka terbentuk. Fase ini berlangsung selama 2-3 hari dan bertahan sampai kurang lebih 5 hari.

2. Fase debrikasi (debriment phase)

Fase ini ditandai dengan adanya infiltrasi dan neutrofil dan monosit ke daerah luka. Peristiwa ini terjadi kurang lebih 6-12 jam setelah terjadinya luka. Infiltrasi netrofil dan monosit akan menginisiasi debrikasi. Monosit akan berubah menjadi makrofag pada daerah luka kurang lebih setelah 24-48 jam. Makrofag akan menyingkirkan jaringan nekrotik, bakteri dan material asing. Limfosit akan menyususl tertarik pada daerah luka setelah netrofil dan makrofag.

3. Fase perbaikan (Repair phase)

Fase ini biasa terjadi 3-5 hari setelah luka terjadi. Ada beberapa proses yang terlibat dalam fase ini :

a. Fibroblas dan collagen

Fibroblas akan bermigrasi menuju daerah yang mengalami luka setelah fase peradangan terlewati (2-3 hari). Fibroblas akan menginvasi luka untuk mensintesis dan mendeposit collagen, elastin dan proteoglican yang akan mengalami maturasi membentuk jaringan fibrous. Setelah 5 hari regangan pada daerah sekitar luka menyebabkan fibroblast, fibrin dan pembuluh kapiler untuk terposisi parallel dengan tepi luka. Jumlah dari collagen mencapai jumlah maksimum setelah 2-3 minggu.

b. Jaringan granulasi (Granulation tissue)

Jaringan granulasi akan mengisi dan melindungi luka dengan jalan menciptakan barier terhadap infeksi. Jaringan ini juga menciptakan lapisan dasar untuk terjadinya migrasi epitel dan merupakan sumber dari sel-sel fibroblast khusus yang dinamakan myofibroblast.

c. Epitelialisasi

Proses epitelialisasi dimulai dalam waktu 24-48 jam pada luka dengan tepi luka teraposisi dengan baik. Pada luka yang terbuka, proses dimulai setelah lapisan jaringan granulasi terbentuk, biasanya setelah 4-5 hari. Pada awalnya lapisan epitel yang terbentuk hanya 1 lapis sel (one cell layer) yang rapuh. Lapisan ini akan menebal dengan terbentuknya lapisan-lapisan baru.

d. Kontraksi luka (wounds contraction)

Kontraksi luka akan memperkecil besar luka dimana proses ini terjadi melalui kontraksi dari myofibroblast yang terdapat pada jaringan granulasi. Proses ini terjadi bersamaan dengan terbentuknya jaringan granulasi dan epitelialisasi. Secara umum luka akan mengecil sebesar 0,6-0,7 mm per hari. Proses ini akan terhambat oleh adanya fiksasi luka, inelastisitas atau adanya tarikan pada luka. Proses ini juga terhambat jika perkembangan myofibroblast berkurang, pemberian obat antiinflamasi steroid, obat antimicrotubular dan pemberian musculo relaxan lokal. Proses ini akan berhenti setelah tepi luka bertemu, adanya regangan yang berlebihan atau tidak tersedia cukup myofibroblast.

4. Fase Maturasi (Maturation Phase)

Fase ini berlangsung setelah jumlah collagen yang cukup telah terdeposit pada daerah luka. Proses ini berlangsung setelah 17-20 hari setelah luka terbentuk dan dapat berlanjut sampai beberapa tahun.

Proses kesembuhan luka primer

Kesembuhan primer akan dapat terjadi apabila luka yang masih baru, luka yang diperbarui, luka yang dalam keadaan aseptik, luka yang tidak mengalami perdarahan lagi, tepi luka teriris licin dan dipertemukan dengan jahitan atau cara lain, suplai darah pada dinding luka cukup bagus, tidak ada jaringan mati pada tepi luka. Apabila terjadi kelukaan, darah akan mengalir dari pembuluh darah yang terpotong ke tempat luka, darah kemudian menjendal. Dalam beberapa jam, bekuan darah pada luka akan kehilangan cairan sehingga bagian dari permukaan luka menjadi dehidrasi dan terbentuklah keropeng (scab) yang berfungsi melindungi luka. Bersamaan dengan reaksi tersebut, permeabilitas kapiler dari pembuluh darah yang terganggu akibat adanya luka permeabilitasnya menjadi meningkat dan segera terjadi eksudasi dalam waktu 12 jam yang berisi RBC, leukosit polimorfonuklear, makrofag dan fibrin mengisi luka. Selanjutnya, sel-sel kolagen yang terdapat pada luka akan membengkak dan mengalami hialinisasi, sehingga pada daerah luka akan terasa bengkak dan sakit.

Jumlah sel polimorfonuklear akan meningkat pada waktu 24 jam dan bergerak ke arah bekuan fibrin. Epedermis di bagian tepi luka akan menebal akibat aktivitas mitosis sel-sel basal, diikuti dengan fragmentasi pada 48 jam (Robbins, 1984). Pada 25-72 jam aktivitas makrofag akan meningkat sehingga jaringan mati di daerah luka sedikit demi sedikit akan dibuang. Makrofag berperan dalam merangsang fase kesembuhan berikutnya dengan menarik fibroblas untuk mengadakan proloferasi dan mensintesis kolagen yang berfungsi menjembatani kedua tepi luka. Peningkatan fibroblast terjadi pada hari ke 3-5 dan menempatkan dirinya dalam posisi tegak lurus pada arah irisan luka. Proses kesembuhan luka secara primer berlangsung cukup singkat, dan hasilnya terjadi kesembuhan seperti semula, baik keadaan fisik maupun fungsinya (Heinze, 1974)

Kesembuhan luka primer merupakan kesembuhan luka alami dan jaringan yang menderita sembuh sempurna tanpa menimbulkan gangguan fungsi dan anatomi, sedangkan kesembuhan sekunder terjadi bila kesembuhan primer tidak tercapai karena ulserasi, abses, atau sebab lainnya (Robbins, 1984).

Proses kesembuhan luka sekunder

Mekanismenya mirip dengan kesembuhan primer, namun merupakan proses kesembuhan yang lama dan melibatkan terbentuknya jaringan granulasi. Proses kesembuhan ini dimulai dengan melibatkan fibroblas dan sel-sel endotelial yang tumbuh memanjang. Sel endotelial berkembang membentuk tabung-tabung dan terbentuk oleh interaksi jaringan granulasi dan sel epitelial yang akan mengalami pematangan dalam waktu yang lama (Hainze, 1974).

Faktor yang mempengaruhi kesembuhan luka

Kesembuhan luka dipengaruhi oleh faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal meliputi adanya gangguan vaskularisasi, inervasi syaraf, trauma jaringan, hematome, lama operasi, adanya infeksi sekunder, benda asing, dan aposisi luka yang kurang akurat. Faktor umum meliputi adanya defisiensi pakan, dehidrasi, gangguan keseimbangan hormon, adanya penyakit hati, ginjal dan jantung. Faktor sistemik meliputi adanya defisiansi protein, vitamin A, C, B komplek, D, K, kegemukan, faktor genetik, anemia, leukopenia, dan umur (archibald, 1965).

Hewan tua berpengaruh pada kesembuhan luka, hal ini karena bersamaan dengan penyakit tua dan juga kelemahan fisik. Kurangnya pemberian pakan dan konsentrasi serum protein 1,5 – 2 g/dl juga akan menghambat proses kesembuhan luka. Penyakit hati akan mempengaruhi pembekuan darah. Hipoadenokortism menghambat kesembuhan luka karena akibat dari sirkulasi glukokortikoid. Uremia yang kejadianya 5 hari pada kelukaan dapat mengganggu kesembuhan dengan merubah sistem enzim,jalur biokemikal, dan metabolisme seluler. Kegemukan adalah faktor resiko kejadian infeksi yang paling tinggi pada luka pasca operasi. Pada luka yang basah akan memicu untuk mendapat sel dan pertahanan dari dalam, adanya harapan untuk mempercepat kesembuhan luka. Perkembangan kesembuhan akibat dari infeksi tergantung dari derajat trauma, material dari luar terlihat. Eksudat dari luka akan berakibat jaringan terpisah dan memperlambat kesembuhan. Kesembuhan tergantung dari supplay darah dimana darah membawa oksigen dan metabolik substrat ke sel (Fossum, 2002).

Terapi beberapa obat akan menghambat kesembuhan luka, terutama antikortikostreroid pada semua tahapan kesembuhan luka dan meningkatkan terjadinya infeksi. Vitamin A dan anabolik steroid akan berefek kortikosteroid pada kesembuhan luka. Pemberian aspirin akan menghambat kesembuhan luka. Dan beberapa obat kemoterapi (clopaspamide, metnotrexate, doxorobicin) juga akan meghambat kesembuhan luka. Terapi radiasi memiliki efek yang sangat merugikan yang besar terhadap kesembuhan luka dan tergantung pada dosis yang diberikan. Obat kemoterapi dan terapi radiasi sebaiknya dihindari 2 minggu setelah pembedahan. Sedangkan vitamin A, vitamin E, dan Aloe vera dapat memicu kesembuhan luka selain itu luka juga harus sering dibersihkan agar terlindung dari kontaminasi serta dipasang perban yang kering, perban akan melindungi luka dengan cara melawan bakteri exogenous dan mensuport luka dan pada waktu awal setelah operasi. Kesembuhan dari jahitan luka juga didukung dengan adanya nutrisi yang cukup. Analgesik dan antibiotik juga diperlukan setelah operasi dilakukan. (Fossum, 2002).

MATERI DAN METODE

MATERI

Operasi gastrotomi ini dilakukan di bagian Bedah dan Radiologi, Rumah Sakit Hewan Universitas Gadjah Mada. Bahan-bahan yang digunakan dalam operasi ini adalah anjing betina lokal berumur 5 bulan, air sabun, larutan PK, alkohol 70 %, iodin tincture, NaCl fisiologis, atropin sulfat 0,025 %, ketamin HCl 10 %, xylazin 2 %, larutan penicillin-streptomisin, infus RD 5 %, injeksi ampicillin 10 %, dan salep bioplasenton/isodine.

Alat-alat yang digunakan pada operasi ini adalah handle scalpel dan blade (pisau), gunting lurus dan bengkok, needle holder, pinset chirurgis, pinset anatomis, seperangkat hemostatik forcep, allis forceps, duk klem, duk steril, jarum berujung bulat atau segitiga, intestinal forceps, tensimeter, benang cutgut chromic 3.0/4.0, benang katun, tampon steril dan kapas.

METODE

Persiapan operasi

1. Persiapan Meja dan Alat Operasi

Meja operasi disterilisasi dengan cara dilap dengan lap basah, lalu dikeringkan. Kemudian disemprot dengan spiritus lalu dibakar. Alat–alat operasi dalam keadaan steril diletakkan di meja khusus secara berurutan dan rapi di dekat meja operasi.

2. Persiapan Hewan

Sebelum operasi dilakukan pemeriksaan terhadap hewan, baik pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium (darah, urine) dan bila perlu dilakukan roentgen.

Sebelum dioperasi hewan harus dipuasakan makan minimal 12 jam dan puasa minum minimal 6 jam dengan tujuan pengosongan lambung supaya tidak mendesak diaphragma selama operasi sehingga tidak terjadi muntah. Setelah itu sebelum dilakukan premedikasi dan anestesi pada hewan dilakukan pengukuran tekanan darah. Bagian yang akan diincisi yaitu daerah linea alba dicukur rambutnya dengan silet tajam searah rebah rambut dengan terlebih dahulu dibasahi dengan air sabun. Daerah yang sudah dicukur kemudian dibasuh dengan air, diolesi alkohol secara sirkuler dari sentral ke perifer. Setelah itu dioleskan Iodium tincture dengan cara yang sama.

3. Persiapan Operator dan Co-operator

Operator dan co-operator membersihkan tangan dan celah kuku, tangan dicuci dari ujung jari sampai siku dengan sabun dan disikat, setelah itu tangan dibilas dengan air yang mengalir dan akan lebih baik jika memakai air hangat. Tangan dicuci dengan alkohol 70 % dan dibiarkan kering sendiri. Setelah itu tangan dianggap steril dan tidak boleh memegang apapun. Tangan harus dalam posisi terangkat. Pencucian dapat dilakukan dengan larutan PK. Operator dan co-operator memakai jas operasi, masker (penutup mulut, hidung), peci operasi dan sarung tangan steril. Cincin, jam tangan, gelang dan asesoris lain yang mengganggu harus dilepas.

4. Premedikasi dan Anestesi

Premedikasi yang digunakan adalah Atropin sulfat 0,025 % dengan dosis 0,04 mg/kg BB yang diberikan secara subkutan. Pemberian premedikasi ini bertujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya shock, menghambat syaraf parasimpatik sehingga menurunkan sekresi saliva dan kelenjar saluran pernafasan, mencegah aritmia dengan menambah denyut jantung, menghambat peristaltik dan sekresi usus sehingga tidak terjadi muntah.

Anestesi umum diberikan setelah 15 menit pemberian premedikasi. Anestesi umum yang digunakan adalah kombinasi dari Ketamin HCl 10 % dengan dosis 10 mg/kg BB dan Xylazin 2 % dengan dosis 2 mg/kg BB yang diberikan secara intramuskuler

Pelaksanaan operasi

Selama operasi berlangsung dilakukan monitoring tekanan darah, suhu tubuh dan nafas setiap 10 menit. Hewan diletakkan dalam posisi rebah dorsal dengan keempat kaki diikatkan pada meja operasi dengan bantuan tali untuk mempertahankan posisi. Daerah linea alba diolesi alkohol secara sirkuler dari arah sentral ke perifer dan ditunggu 2 menit sebelum dilakukan pengolesan iodium tincture dengan cara yang sama. Duk dipasang pada bagian bawah tubuh hewan, kemudian kiri, atas dan yang terakhir bagian kanan hewan dan dipertahankan posisi duk dengan duk klem. Irisan pada dinding abdomen dilakukan lewat cranial midline mulai dari kartilago xyphoideus atau sedikit ke belakang sampai umbilicus, panjang incisi sekitar 8-10 cm (disesuaikan dengan tubuh hewan). Tepi irisan difiksasi dengan allis forceps. Sebelum dilakukan irisan pada linea alba, muskulus yang terletak pada kanan kiri garis median dijepit dengan allis forceps kemudian dengan menggunakan gunting atau scalpel dibuat irisan kecil pada linea alba.

Dengan menggunakan gunting dan tangan sebagai pemandu (supaya tidak menggunting organ visceral) irisan pada linea alba diperpanjang secukupnya. Tepi irisan dikuakkan dengan allis forceps sampai rongga abdomen terbuka. Incisi gastrium dilakukan antara kurvatura mayor dan kurvatura minor kemudian dicari daerah yang pembuluh darahnya minimal. Benda asing dikeluarkan untuk mencegah terjadinya kontaminasi cavum peritonium. Rongga abdomen dimasuki larutan antibiotik (penstrep) untuk mencegah kontaminasi dan infeksi mikroorganisme juga menjaga jaringan dari kondisi dehidrasi. Dinding gastrium ditutup dengan dua lapis jahitan menggunakan benang catgut chromic dan jarum berujung bulat. Jahitan pertama dengan model sederhana tunggal atau menerus (dari dalam ke luar : tunika mukosa, tunika muskularis, tunika serosa) dan jahitan kedua dengan model Lambert (dilakukan hanya pada tunika muskularis dan tunika serosa tanpa mengenai tunika mukosa untuk mencegah kebocoran). Gastrium dikembalikan ke posisi semula, setelah reposisi dianjurkan untuk memberikan antibiotik ke dalam cavum peritonium.

Dinding abdomen dijahit berturut-turut dari dalam ke luar yaitu peritoneum dan muskulus dengan menggunakan benang catgut chromic atau katun, pola sederhana tunggal. Subcutan dijahit dengan menggunakan pola sederhana menerus dengan memakai benang catgut plain. Sedang kulit dijahit dengan jahitan sederhana tunggal dengan memakai benang katun. Tempat jahitan diberi salep Bioplasenton/Isodine.

Perawatan pasca operasi

Segera setelah penutupan dinding abdomen dilakukan penyuntikan Ampicillin 10 % dengan dosis 10-20 mg/kg BB secara intramuskuler untuk menghindari adanya infeksi sekunder. Selama hewan masih teranastesi, dilakukan infus RD 5 % untuk mengganti cairan yang hilang dan untuk koreksi keseimbangan elektrolit secara intravena. Luka bekas operasi diolesi salep bioplasenton. Selain itu juga dilakukan monitoring terhadap denyut jantung, pernafasan dan temperatur tubuh. Untuk mencegah keadaan hipotermi dapat dilakukan dengan menggunakan lampu penghangat, selimut atau infus yang dihangatkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar