Rabu, 06 Januari 2010

Distemper anjing

Nama lain penyakit ini adalah “Febris catarrahalis et infectiosa canum”.

Pada kulit di bagian perut/lipatan paha terlihat ruam luar yakni berisi gelembung-gelembung nanah.Ruum luar/exanthema berarti dermatitis pada penyakit menular.

PENYEBAB PENYAKIT

Virus ini termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae.Virus ini mempunyai ukuran yang besar.Diameternya 150-300 milimikron dengan nukleocapsid simetris dan terbungkus lipoprotein.Virus distemper terdiri atas 6 struktur protein yaitu Nucloeprotein(N) dan 2 enzim (P dan L) pada nucleocapsidnya,juga membran protein (M)di sebelah dalam dan 2 protein lagi (H dan F) pada bungkus lipoprotein sebelah luar.Hemaglutinasi H-Protein hanya terjadi pada virus measle tetapi tidak pada virus morbili lain.

Virus distemper dibumgkus oleh “negative sense single stranded RNA and RNA polymerase”.Bungkus ini mudah dihancurkan olehpelarut lemak yang menjadikan virus menjadi tidak menular lagi.

SIFAT VIRUS DISTEMPER

Hanya terdapat 1 serotipe virus tetapi galur beragam virulensinya.Pertumbuhan virus dalm biakkan sel dari anjing,kera dan manusia atau pada telur ayam berembrio mungkin hanya terjadi setelah terjadi adaptasi.Virus menjadi tidak aktif dengan temperatur 37°c dan dalam beberapa jam pada temperatur kamar.Desinfektan dengan mudah dapat merusak infektivitas virus.

PATOGENESIS

Penularan virus lewat udara menyebabkan infeksi ke dalam sel makrofag alat pernapasan.Virus mula-mula akan berkembang didalam kelenjar getah bening .Dalam 3-6 hari setelah infeksi virus distemper suhu badan akan meninggi dan inferon virus mulai terdapar didalam peredaran darah.Pada minggu ke-2 dan ke-3 pasca infeksi,anjing mulai membentuk zat kebal baik numoral maupun seluler untuk merespon infeksi dan kalau mampu memnagatasi CDV anjing tersebut sembuh tanpa mampu menunjukkan gejala klinik.Apabila kalah maka akan memperlihatkan penyalit akut atau sub-akut.

Pada anjing yang tidak mampu memepertahankan diri pada fase awal,maka limfosit dan makrofag yang terinfeksi akan membawa virus ke permukaan epiteldari alat-alat pencernaan,alat pernapasan dan saluranurogenital sampai ke susunan syaraf pusat (CNS).

Strain virus yang mampu menginfeksi secara akut dan fatal secara jelas kelihatan merusak bahan abu(grey matter) dari CNS yang menyebabkan kerusakan neuronal.Strain virus yang menyebabkan infeksi lebih lamban akan menyerang bahan putih (white matter) dari CNS dan menimbulkan demylinisasi.Resolusi strain virus yang bersifat demikian dapat terjadi 2-3 bulan.Gejala-gejala CNS dapat timbul pada anjing yang sebelumnya tidak memperlihatkan penyakit ini.

Pada kejadian dimana respon humoral atua seluler lambat,virus dapat hilang dari jaringan limfe dan permukaan epitel,akan tetapi dapat berada didalam CNS,mata dan tracak.

GEJALA KLINIK

Gejala klinik penyakit ini sangat bervariasi baik dalam durasinya ataupun dalam keseriusannya. Gejala dpt terjadi berat atau ringan tanpa atau dengan memperlihatkan gejala-gejala CNS. Mortalitas dapat mencapai 50 %.

Trelihat pada hari ke 3-6 pasca infeksi akan timbul pireksia yang akan berjalan beberapa hari atau timbulnya bersifat berselang (intermittent) yg disertai pengeluaran ingus encer yang kemudian mjd kental dari hidung dan mata, terlihat depresi dan anoreksia.Sejakawal infeksi akan terjadi limfopenia.Gejala-gejala gastrointestinal dan respirasi akan mengikutinya disertai terjadinya infeksi sekunder oleh bakteria.Meski demikian 50 % anjing yang menderita infeksi virus distemper mungkin sekali hanya akan memperlihatkan gejala-gejala subklinik.

Pada beberapa penderita akan memperlihatkan gejala CNS dan diikuti gejala penyakit sistemik.Tergantung pada strain virus, maka gejala-gejala dpt menunjukkan akut atau subakut.Kerusakan pada bahan abuCNS akan memperlihatkan gejala seizure, myoklonik dan depresi.Tanda-tanda meningeal dari hiperesthesia dan kekakuan leher dapat pula terlihat.

REAKSI IMUNITAS

Pada minggu pertama pasca infeksi selalu diikuti timbulnya limfopenia dan imunosupresi. Infeksi karena CDV akan berlangsung menyebabkan kerusakan pada sel T dan sel B, dan terjadinya nekrosis dalam jaringan limfoid.

Anjing yang berhasil sembuh dg cepat dan hanya menunjukkan gejala-gejala ringan akan memberikan respons imunitas humoral dan seluler.Anti body yang berintikan protein dapat ditemukan 6-8 hari pasca infeksi dg pemeriksaan cara elisa atau cara presipitasi.

DIAGNOSIS

a.Hematologi

Dalam keadaan akut limfopenia dan thrombositopenia dapat ditemukan dan monosit bertambah.disamping itu jumlah IgG dan IgA berkurang sedangkan level IgM masih normal.Pada keadaan subakut atau kronis jumlah imunoglobulin tsb masih normal.

b. Imunofluoresensi atau imunositokhemistri.

Pada keadaan akut antigen virus atau badan inklusi dpt terlihat di dlm sel darah putih dan preparat sentuh dari konjunktiva atau vagina, aspirasi bronkhial, sedimen urine, dan cairan serebrospinal.Partikel-paretikel virus dlm feses dapat terlihat melalui mikroskop elektron.Pada keadaan sub-akut dan kronis tes tersebut dapat berhasil negatif, tetapi kenegatifan ini tidak dapat dijadikan pegangan.

ISOLOSI VIRUS

Dalam spesimen bahan-bahan tersebut di atas dapat pula di coba untuk mengisolasi virusnya dg metode imunoflueresen,virus distemper yg virulen tdk langsung menginfeksi lapisan epitelium atau sel-sel fibroblas. Virus akan berkembang di dlm sel makrofag, dalam makrofag 3-4 hari pasca inokulasi menunjukkan bahwa virus distemper berkembang.Antigen virus di dalam sel-sel dapat didemonstrasikan dg imunofluresensi atau imunositokhemistri 4-6 hari pasca inokulasi.Dengan menggunakan antibody monoklonal tikus dalam tes tidak langsung akan mencegah kkemungkinan reaksi non spesifik oleh antibody poliklonal.Mencoba mengisolasi virus dari sampel yang diambil dari anjing penderita distemper dalam keadaan subakut atau kronis biasanya tidak berhasil.

PENCEGAHAN

Pencegahan terbaik untuk mengatasi penyakit distemper adalah pemeriksaan gizi yang baik dan benar (balance diets), kontrol terhadap adanya parasit dan vaksinasi dg menggunakan vaksin aktif (hidup) dapat memberikan imunitas ygcukup dan berdurasi lama asalkan produser penggunaan tersebut dipatuhi.

Vaksinasi yg tidak cukup diberikan apalagi dg vaksin asal embrio ayam tidak akan memberikan proteksi yang cukup. Adanya intervensi oleh penyakit lainya, misalnya parvo-virus. Yang menyebabkan vaksinasi hanya memberikan proteksi yang rendah baik durasinya mauoun level antibodynya.

Macam vaksin yang dapat di berikan :

· Vaksin Hidup

· Vaksin Inaktif

· Vaksin Heterotipik

Jadwal Pemberian Vaksin :

· Pada umur 6-8 minggu diberikan vaksin aktif kombinasi MVCDV atau vaksin CDV titer tinggi.

· 2x lagi vaksin ulangan atau tambahan yang diberikan setalah 3-4 minggu kemudian.

· Vaksinasi ulangan tahunan perlu dilakukan karena tiap bulan titer antibody akan menurun.

· Anak Anjing yg tidak mendapat kolostrum susu ibu jangan divaksinasi dg vaksin hidup fatal bagi mereka yang tidak mempunyai perlindungan awal.

PENGAWASAN

Sangat penting melakukan isolasi anjing penderita CDV karena virus akan dikeluarkan lewat ekskresi tubuh ketika dlm fase akut penyakit ini dan ternyata kontak lamgsung dg anjing penderita rupanya merupakan jalan utama penyebaran CDV.Anjing yg terkena infeksi CDV sub akut dan menunjukan gejala ensefalitis dapat menularkan CDVnya terutama pada anjing yg rawan. CDV yang sudah berada di luar tubuh penderita mudah dihancurkan dg bahan disinfektan yang biasa dipakai dirumah tangga karena pembungkus virus mudah dihancurkan ketika ada diluar tubuh.

Apek Kesehatan Masyarakat.

Beberapa tahun yang lalu diduga bahwa CDV dapat menyebabkan Multiple Sclerosis (MS) pada manusia.Spekulasi ono timbul dari pengamatan epidemiologik bhawa penderita MS sebenarnya kontak dengan anjing penderita CDV. Dalam penelitian pada tahun-tahun berikutnya dugaanitu ternyata tidak benar. Disamping itu ketika vaksin hidup secara luas digunakansebagai imunisasi pada anjing-anjing,maka kejadian infeksi CDV sangat bekurang tetapi penderita MS tetap saja tinggi. Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah penyebaran virus measle (MV) dari anjing yang diberikan vaksin hidup rekombinan. Hal ini kemungkinan terjadinya mutasi virus avirulen untuk manusia. Oleh para peneliti dilaporkan bahwa dugaan initidak didukung oleh penemuan ilmiah berdasarkan bahwa perkembangan sangat terbatas hanya didalam jaringan limfoid saja. Disamping itu anjing yang telah divaksinasi dengan vaksin hidup tidak lagi mengeluarkan virus vaksin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar