Kamis, 14 Januari 2010

PROSEDUR NEKROPSI UNGGAS

Prosedur nekropsi / otopsi :

  1. Sebelum hewan dietanasi, dipelajari terlebih dahulu diagnosis secara klinis (menurut pemeriksa sebelumnya / keterangan dari pemilik) dan dilakukan diagnosis sementara yang paling sesuai.
  2. Jika unggas masih dalam keadaan hidup, diperiksa terlebih dahulu tubuh bagian luar dan diamati gejala klinis tertentu. Diperiksa secara teliti adanya parasit eksternal pada bulu dan kulit. Diamati warna pial dan cuping telinga. Diperhatikan pula terhadap kemungkinan adanya diare, leleran dari paru, nares dan mata serta kemungkinan adanya kebengkakan dan perubahan warna daerah facial.
  3. Unggas yang masih dalam kondisi hidup dapat dibunuh (eutanasi) dengan cara mematahkan leher pada persendian atlanto-occipitalis, emboli udara kedalam jantung.
  4. Bangkai hendaknya dibasahi dengan air terlebih dahulu untuk menghindari bulu tidak berterbangan, karena hal tersebut dapat menyebabkan pencemaran.
  5. Bangkai dibaringkan pada bagian dorsal dan dibuat suatu irisan pada kulit di bagian medial paha dan abdomen pada kedua sisi tubuh. Paha ditarik ke bagian lateral dan diteruskan irisan dengan pisau sampai persendian coxo femoralis. Irislah kulit pada bagian medial dari kaki / paha dan periksa otot dan persendian pada daerah tersebut.
  6. Buat irisan melintang pada kulit daerah abdomen, lalu kulit ditarik ke bagian anterior dan irisan tersebut diteruskan ke daerah thorax sampai mandibula. Irisan pada kulit juga diteruskan ke bagian posterior di daerah abdomen.
  7. Perhatikan warna, kualitas, dan derajat dehidrasi dari jaringan sub-kutan dan otot-otot dada.
  8. Buat irisan pada otot di daerah brachialis (kiri dan kanan) untuk memeriksa nervus dan plexus brachialis.
  9. Buat irisan melintang pada dinding peritoneum, di daerah ujung sternum (procesus xyphoideus) ke arah lateral. Di buat juga suatu irisan longitudinal di daerah abdomen melalui linea mediana ke arah posterior sampai daerah kloaka. Cara ini akan membuka cavum abdominalis.
  10. Buat suatu irisan longitudinal melalui m. pectoralis pada kedua sisi sternum sepanjang persendian kostokondral semua costae mulai dari posterior ke anterior. Pada bagian anterior, irisan pada kedua sisi thorax harus bertemu pada daerah rongga dada, setelah memotong tulang choracoid dan clavicula. Cara ini akan membuka rongga dada.
  11. Periksa kantung udara di daerah abdominalis dan thorakalis. Periksa juga letak berbagai organ di dalam cavum thorax dan abdominalis sesuai posisinya tanpa menyentuh organ tersebut. Jika akan mengambil sampel untuk isolasi bakteri, jamur, virus harus dilakukan secara aseptis.
  12. Perhatikan kemungkinan terhadap adanya cairan, eksudat, transudat atau darah di dalam rongga perut dan rongga dada.
  13. Saluran pencernaan dapat dikeluarkan dengan memotong oesophagus pada bagian proksimal proventrikulus. Tarik seluruh saluran pencernaan ke arah posterior dengan memotong mesenterium sampai pada daerah kloaka. Periksa bursa fabrisius terhadap abnormalitas tertentu.
  14. Hepar, lien dikelurkan dan dilakukan pemeriksaan.
  15. Buat irisan secara longitudinal pada proventrikulus, ventrikulus, intestinum tenue, coecum, colon dan cloaka. Periksa terhadap kemungkinan adanya lesi dan penyakit.
  16. Saluran reproduksi dikeluarkan dan oviduct di iris secara longitudinal kemudian periksa ovarium yang meliputi stroma dan folikelnya.
  17. Periksa ureter dan ren pada posisinya. Organ tersebut dikeluarkan untuk dilakukan pemeriksaan yang lebih lanjut.
  18. Nervus dan plexus ischiadichus di periksa setelah otot abductor pada bagian medial paha dipisahkan.
  19. Bangkai di balik hingga kepala menghadap operator.
  20. Dibuat irisan pada sisi kiri sudut mulut, diteruskan ke pharynx, oesophagus dan ingluvies. Periksa terhadap adanya abnormalitas pada organ tersebut.
  21. Periksa glandula thyroidea dan parathyroidea di daerah trachea.
  22. Iris secara longitudinal melalui larynx, trachea, bronkus sampai ke pulmo. Organ tersebur dapat dikeluarkan secara bersamaan setelah pulmo diangkat dari perlekatannya. Pemeriksaan pulmo terhadap ukuran, warna, konsistensi bidang irisan dan uji apung.
  23. Pemeriksaan jantung terhadap keadaan perikardium, ukuran, warna dan apek cordis. Jantung diperiksa dengan membuat irisan longitudinal melalui atrium dan ventrikel kiri dan kanan atau irisan melintang di daerah ventrikel.
  24. Paruh dipotong bagian atas secara melintang di daerah dekat mata sehingga cavum nasi dan sinus infraorbitalis dapat diperiksa terhadap adanya cairan.
  25. Semua persendian diperiksa dengan membuat irisan pada kulit diantara kaput dan sulkus persendian. Pemeriksaan tendo, khususnya tendo gastrocnemius dan tendo flexor digitalis.
  26. Untuk memeriksa otak, kulit dan tulang leher di daerah persendian diiris sehingga foramen magnum dan medulla oblongata kelihatan. Otak dapat dikeluarkan sebagai berikut : kulit di daerah kepala dibuka, kemudian dibuat irisan dengan gunting dari foramen magnum ke arah os frontalis yang membentuk sudut 40 pada kedua sisi tulang tengkorak. Selanjutnya dibuat irisan melintang yang menghubungkan kedua sudut mata luar. Melalui irisan tersebut tengkorak dibuka. Setelah tengkorak terbuka, meninges di iris, kemudian bulbus olfactorius, nervi cranialis dipotong sambil mengeluarkan seluruh bagian otak. Hypofisis cerebri yang masih terlekat pada tulang tengkorak dikeluarkan dengan mengiris durameter yang mengelilingi sella tursica. Sinus paranasales dan sinus lainnya diperiksa dengan membuat suatu potongan melalui garis median hidung.

Prosedur Histopatologi :

Untuk pemeriksaan histopatologi, organ yang dicurigai mengalami perubahan patologi dan diduga dapat membantu dalam meneguhkan diagnosa yaitu proventrikulus, duodenum, bursa fabrisius, paru-paru, hati, ren dan otak diamati kemudian dipotong dengan ukuran sekitar 3 x 2 x 2 cm dan disimpan didalam botol yang berisi larutan formalin 10%. Usahakan untuk mengambil jaringan dari daerah yang abnormal dan normal secara bersama-sama. Tahap berikutnya adalah pemotongan organ untuk pembuatan histopat. Organ dipotong dengan ukuran 2 - 3 mm kemudian dimasukkan ke dalam petrydisck. Hasilnya diamati dibawah mikroskop terhadap perubahan yang tampak dari setiap organ. Semua perubahan patologik yang ditemukan dicatat, diagnosa sementara / post mortem dibuat disertai penanganan kasus secara cep

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar