Selasa, 05 Januari 2010

PEMILIHAN BIBIT sapi dan kambing

Keberhasilan suatu usaha peternakan dipengaruhi oleh tiga (3) faktor, yaitu; genetic (bibit), environment (lingkungan) dan management (pemeliharaan). Bibit menjadi syarat utama keberhasilan peternakan karena meskipun lingkungan dan pemeliharaannya sangat baik tetapi apabila bibitnya jelek maka produktivitas tidak akan optimal.

Tipe ternak yang dipelihara untuk tujuan penghasil daging berbeda dengan penghasil susu atau pekerja. Ternak tipe pedaging memiliki sifat – sifat antara lain bentuk tubuh persegi empat, besar, pertumbuhan cepat dan efisiensi pakan tinggi. Ternak tipe perah memiliki ciri – ciri antara lain bentuk tubih seperti baji (luas ke belakang), ambing berkembang baik, efisiensi pakan untuk produksi susu baik, sifatnya jinak. Ternak tipe kerja mempunyai ciri – ciri antara lain bentuk tubuh besar, kuat, perototan kuat, gerakan lincah, sifatnya tenang dan patuh.

Pemilihan bibit harus dilakukan secara hati – hati dan teliti. Bibit sapi yang akan dipelihara harus disesuaikan dengan tujuan usaha peternakan yang akan dilaksanakan. (pemeliharaan). Bibit untuk penggemukan akan berbeda dengan bibit untuk pembesaran atau indukan. Beberapa ras sapi yang terkenal sebagai ternak pedaging antara lain simmental, limousin, brahman, black angus, ongole, sapi bali. Ras sapi yang terkenal sebagai sapi perah misalnya Friesian Holstein (FH), Guernsey, Grati dan ras sapi yang terkenal sebagai ternak kerja antara lain Ongole, Peranakan ongole (PO), sapi bali dan sapi madura.

Pemilihan bibit untuk penggemukan sebaiknya dipilih sapi jantan yang telah berumur 1 – 1.5 tahun dengan ciri – ciri fisik yang baik dan sehat. Pedet jantan dibawah 1 tahun dapat dipilih bila memenuhi syarat – syarat fisik. Perhatikan bibit yang akan dipilih, lihatlah dari depan, samping kanan – kiri dan dari belakang. Pedet/sapi yang sehat matanya bersih dan bersinar, gerakan lincah, aktif bergerak, nafsu makan dan minum baik, kulit mulus dan rambut tidak rontok/botak. Bentuk tubuh proporsional, tidak terlalu kurus atau terlalu gemuk, temperamen jinak, anggota tubuh lengkap, ekor normal, testikel/buah zakar normal (2 buah) dan lebih disukai yang memiliki tanduk. Bila perlu lakukan perabaan pada anggota tubuh tertentu untuk memastikan tidak terdapat kelainan fisik.

Karakteristik beberapa ras unggul

  1. Sapi Simental

Sapi keturunan Bos taurus ini mempunyai warna coklat muda – coklat kemerahan berpadu warna putih pada keempat kaki dan muka. Rambut di kepala tumbuh lebih panjang dan keriting. Bentuk tubuh gilig memanjang dengan kaki yang tegap dan dada yang besar. Leher besar dan bulat tanpa punuk. Berat dewasa sapi betina rata – rata dapat mencapai 700 kg dan jantan dapat mencapai 900 kg bahkan bisa mencapai diatas 1000 kg (1 ton). Sapi ini sekarangmenjadi primadona peternak sapi di Indonesia.


sapi Simmental

  1. Sapi Limousin

Sapi keturunan Bos taurus, yang asli Perancis ini penampilannya tidak kalah dibanding Simmental. Sapi berwarna coklat merah mulus dan di bagian kepala tumbuh agak panjang. Mata awas, kaki tegap dan dada besar. Bentuk tubuh memanjang, bagian perut agak mengecil tetapi paha dan pinggul cukup besar, penuh daging dan sangat padat. Berat badan betina dewasa dapat mencapai 650 kg dan jantan dewasa rata – rata 850 kg


sapi Limousin

  1. Sapi Friesian Holstein

Sapi keturunan Bos taurus ini merupakan sapi penghasil susu yang unggul (type perah). Sapi dengan warna putih belang hitam ini temperapennya jinak, bentuk tubuh persegi dan badan tegap. Betina dewasa dapat mencapai berat 450 kg dan jantan dewasa dapat mencapai 900 kg. Di Indonesia sapi impor ini dijadikan sapi perah. Keturunan sapi jantan FH murni dengan sapi lokal disebut Peranakan FH (PFH). Sapi PFH jantan juga potensial untuk penggemukan karena tingkat pertumbuhan yang relative bagus.


sapi FH

  1. Sapi Brangus

Sapi asal Eropa ini berwarna hitam legam polos baik jantan maupun betina tidak memiliki tanduk. Berat badan betina dewasa dapat mencapai 500 kg dan jantan dewasa dapat menncapai 800 kg. Di Indonesia sapi ini kurang disukai karena warnanya seperti kerbau dan tidak bertanduk sehingga terkesan kurang gagah.


sapi Brangus

  1. Sapi Brahman

Sapi keturunan Bos indicus yang berasal dari India ini memiliki warna putih keabu – abuan, mempunyai punuk yang besar dan kulit longgar dengan banyak lipatan di daerah leher dan perut. Gelambir di bawah rahang dan leher cukup besar, tanduk besar, tumpul dan telinga menggantung. Berat badan sapi betina dapat mencapai 500 kg dan jantan dapat mencapai 750 kg. Di Jawa sapi ini dikenal dengan nama sapi benggala dan karena daya tahan tubuhnya sangat kuat sering digunakan sebagai sapi pekerja.


sapi Brahman

  1. Sapi Ongole

Sapi keturunan Bos indicus yang berasal dari India ini sudah lama ada di Indonesia dan berkembang baik di Pulau Sumba sehingga populer disebut Sumba Ongole. Persilangan sapi Ongole jantan murni dengan sapi betina Jawa menghasilkan keturunan yang disebut sapi Peranakan Ongole (PO). Sapi dengan warna putih kusam sampai kehitam – hitaman ini mempunyai kulit yang berwarna kuning. Ciri – ciri fisik sapi Ongole antara lain punuk tidak begitu besar, kulit longgar dengan banyak lipatan di leher dan perut, telinga panjang menggantung. Temperamen jinak, mata besar, tanduk jantan pendek amper tak terlihat tetapi pada betina tanduk tumbuh lebih panjang. Berat badan sapi betina rata – rata dapat mencapai 350 – 400 kg dan jantan dapat mencapai 600 kg.


sapi Ongole

  1. Sapi Bali

Sapi keturunan Bos sondaicus (banteng) ini dijinakkan dan dikembangkan di Pulau Bali. Warna betina dan jantan muda coklat merah dengan keempat kaki dan pantat berwarna putih. Jantan dewasa berwarna hitam dengan keempat kaki dan pantat berwarna putih. Tanduk tumbuh baik pada jantan maupun betina. Berat badan betina dapat mencapai 400 kg dan jantan dapat mencapai 800 kg. Sapi ini tumbuh baik dengan perawatan yang sederhana dan salah satu sapi dengan persentase karkas yang tinggi sehingga potensial dijadikan sapi potong.


sapi bali

  1. Sapi Madura

Sapi keturunan Bos sondaicus dan Bos indicus ini memiliki ciri warisan kedua golongan sapi tersebut. Keturunan yang sudah memiliki karakteristik seragam dan spesifik ini disebut sapi madura. Punuk kecil diwarisi dari Bos indicus dan warna coklat atau merah bata diwarisi dari Bos sondaicus. Tanduk tumbuh baik melengkung ke depan. Berat badan betina dewasa dapat mencapai 350 kg dan jantan dapat mencapai 550 kg.


sapi madura

  1. Kambing Kacang

Kambing ini merupakan kambing lokal Indonesia yang tersebar luas terutama di jawa. Kambing ini memiliki daya adaptasi yan g tinggi terhadap oakan berkualitas rendah dan lingkungan ekstrem. Betina dewasa memiliki berat rata – rata 20 kg dan jantan dewasa rata – rata 25 kg. dengan persentase karkas 44 – 51 % kambing kacang merupakan pedaging paling potensial dan paling banyak dipotong di Indonesia.


kambing kacang

  1. Kambing Peranakan Etawah (PE)

Kambing PE termasuk type perah/penghasil susu tetapi jantan dan persilangannya dengan kambing kacang banyak dijadikan kambing potong. Kambing ini kurang cocok dibudidayakan di wilayah cuacanya ekstrem dan terlalu panas. Betina dewasa dapat mencapai berat 45 kg dan jantan dewasa dapat mencapai 90 kg. Dengan perawatan yang baik kambing ini dapat menghasilkan air susu sampai 2 per hari.


kambing PE

  1. Domba

Beberapa jenis domba yang terkenal di Indonesia antara lain domba merica (lokal), domba garut, domba ekor gemuk (gibas), domba merino, domba dorset dan domba dormer. Domba sebenarnya adalah ternak penghasil wool, tetapi di Indonesia banyak dijadikan hewan potong terutama karena dagingnya yang relatif lebih halus dan tidak berbau prengus. Domba lokal dan domba garut jantan memiliki tanduk dan domba jenis lainnya jantan maupun betinanya tidak bertanduk. Domba Garut lebih popular sebagai domba adu dan klangenan.


domba

Penentuan Umur Bibit

Penentuan umur ternak dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pada peternakan yang dikelola secara intensif, semua data kelahiran dan nomor ternak tercatat dalam recording sehingga untuk mengetahui umur ternak tinggal membuka catatan. Pada ternak yang tidak dicatat penentuan umur dapat dilakukan melalui cincin tanduk dan gigi seri.

Penentuan umur menggunakan cincin tanduk hanya dapat dilakukan pada sapi betina bertanduk dengan interval beranak normal. Umur sapi dihitung berdasarkan jumlah cincin tanduk ditambah 2,5. Penentuan umur berdasarkan rumus gigi lebih akurat dibanding metode cincin tanduk dan dapat diterapkan pada hewan jantan maupun betina. Gigi seri sapi terdapat 4 pasang dan pergantian gigi seri susu serta tingkat keausan gigi dijadikan parameter umur ternak.

Contoh ;

Sapi Kambing/Domba

1 tahun <>

1,5 – 2 tahun 1 – 2 tahun

2 – 2,5 tahun 2 – 2,5 tahun

3 – 3,5 tahun 3 tahun

4 tahun 4 tahun

tua > 4 tahun tua > 4 tahun

Dengan mengetahui ciri – ciri dan parameter fisik serta umur diharapkan peternak dapat memilih ternak yang sesuai dengan tujuan pemeliharaan ternak yang akan dicapai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar