Kamis, 14 Januari 2010

Arthropoda

Dari bermacam jenis binatang serangga, jumlah spesies yang termasuk phylum Arthropoda mempunyai sekitar 700.000-800.000 spesies telah di identifikasi. Jenis yang kedua adalah Arachnida yang mempunyai 50.000-60.000 spesies dan Crustacea ada sekitar 30.000 spesies. Parasit yang termasuk dalam golongan insecta ini adalah sangat penting dalam penelitian bidang ecologi, agriculture, medical dan ekonomi.

Arthropoda mempunyai cuticula yang mengandung chitine dan hampir semua bentuk cuticula adalah eksoskeleton yang berfungsi untuk pelindung alat dalam yang lunak, tempat melekat otot, penerus rangsang dari luar dan mengatur penguapan cairan tubuh.. Tubuhnya beruas-ruas terdiri dari kepala, dada dan perut. Pada bagian kepala ditemukan sepasang antena sebagai indra peraba, mandibula yang berfungsi untuk menggigit dan sepasang mata. Bagian dada (thorax) ditemukan kaki dan sayap, sedangkan bagian perutnya beruas-ruas. Dalam proses pertumbuhannya menjadi dewasa, arthropoda selalu melepaskan kulit atau kutikulanya dan diganti dengan kulit baru. Proses tersebut dinamakan “moulting” atau ecdysis, dimana secara fisiologis proses tersebut dikontrol oleh hormon. Pada proses pertumbuhan dari larva menjadi dewasa serangga mengalami perubahan bentuk, proses ini disebut metamorfosis. Dimana proses metamorfosis tersebut ada yang sempurna :telur—larva—pupa—dewasa, dengan bentuk muda dan dewasanya berbeda. Sedangkan yang tidak sempurna: telur—larva—nymfa—dewasa, dimana bentuk muda dan dewasa hampir sama.

Berdasarkan kepentingan secara medis, arthropoda dibagi dalam beberapa golongan yaitu:

1) Serangga penular penyakit (vektor, hospes intermedier)

2) Serangga sendiri menyebabkan penyakit (berparasit)

3) Serangga mengeluarkan toksin menyebabkan toksisitas

4) Serangga menyebabkan alergi

5) Serangga yang menyebabkan rasa jijik dan takut (entomofobia)

Cara penularan penyakit oleh insekta ini dapat secara mekanik yaitu terbawa pada bagian luar tubuh insekta (misalnya kaki atau badan). Sedangkan penularan secara biologik dilakukan setelah serangga menghisap agen penyakit dari tubuh hospes masuk kedalam tubuh serangga. Penularan biologik ini ada dua bentuk yaitu:

1) Agen penyakit dapat memperbanyak diri dalam tubuh serangga disebut “siklikopropagative” (Plasmodium, Trypanosoma dsb.).

2) Agen penyakit hanya berubah menjadi larva infektif dalam tubuh serangga disebut “siklikodevelopmental” (wucheria, onchocerca).

Dari penggolongan secara medis tersebut beberpa serangga dapat berparasit dan dapat juga menularkan penyakit, sehingga dalam pembahasan disini diuraikan menurut ordo, famili dan genusnya. Klasifikasi dari serangga tersebut terlihat seperti dibawah ini:

Ordo

Famili

Genus

Spesies

Vektor/parasit

1. Diptera

Simuliidae

Simulium

S.damnosum

Onchocerca

Psychodidae

Sub fam: Phlebotominae

Phlebotomus

Phlebotomus sp

P. papatasi

P. sergenti

Lutzomia verucorum

Leishmania

Bartonella

Penyakit virus

Ceratopogonidae

Culicoides

C. variipens

Virus blu tongue

Culicidae

Culex

C. tarsalis

C. pipiens

C.tritaenorinchus

Penyk. Tidur

filariasis

Jap.encephal.

Aedes

A. aegypti

Yelow fever

Dengue

Sub fam:

Anophelinae

Anopheles

A.quadrimaculatus

dsb

Malaria

Sub ordo:

Brachyera

Tabanidae

Chrysops

Chrysops sp

Loa loa

Muscidae

Musca

M. domestica

bacteri

spora jamur

telur cacing

cysta protozoa

Glossina

G. palpalis

G. fuscipes

G. tachinoides

Trypanosomiasis

2. Acari

sub ordo:

metastigmata

Ixodidae

(caplak keras)

Ixodes

I.Pacificus

I.Holocyclus

Paralysis

Haemophysalis

H.cordeilus

Dermacentor

D. andersoni

D.occidentalis

paralysis

virus

Amblyoma

A.americanum

A.cayenense

Tularemia

Rhipicephalus

R.apendiculatus

Boopphilus

B.microplus

Babesia

Argasidae

(caplak lunak)

Ornithodoros

O.hermisi

O.savignyi

Relapsing vefer

Gatal

Otobius

O.megnini

Gatal

Argas

A.persicus

Sub ordo:

Prostigmata

Demodicidae

Demodex

D.foliculorum

D.brevis

Kutu rambut

Astigmata

Psoroptidae

Chorioptes

C.bovis

Sarcoptidae

Sarcoptes

S.scabei

Zoonosis,gatal

3. Mallophaga

(kutu;lice)

Sub fam:

Amblycera

-

Nemacanthus

Menopon

N.galinus

M.galinae

Anoplura

-

Pediculus

Phthirus

Ped.humanus

Pht.pubis

tuma

tuma rambut

4. Hemiptera

(bug)

Reduviidae

Reduvius

R.personatus

Tryp.cruzi

Triatominae

Triatoma

T.infestans

Tryp.cruzi

5. Shiponoptera

(fleas; pinjal)

Pulicidae

Pulex

P. irritans

Plague

P. simulans

Yusticia pestis

Tungidae

Tunga

T.penetrans

Gatal sangat

Ordo:Diptera (The flies)

Ordo diptera adalah insekta yang paling penting pada bidang medis, dimana setiap tahunnya secara langsung dapat menyebabkan kematian pada jutaan penduduk dunia. Bermacam-macam jenis insekta ini dapat menyebabkan berbagai penyakit, baik sebagai vektor maupun bersifat patogenik sebagai parasit itu sendiri.

Yang termasuk dalam klas insekta ini terdiri dari 4 famili yaitu Simuliidae, Psychodidae, Ceratopogonidae dan Culicidae. Culicidae mempunyai 2 sub famili yaitu Culicinae dan Anophelinae. Spesies dalam genus Culex merupakan vektor dari beberapa penyakit protozoa, cacing dan virus, sedangkan genus Aedes sebagai vektor penyakit vrus yang terenal yaitu demam berdarah (dengue) dan yelow vefer. Disamping itu spesies yang termasuk dalam genus Anopheles adalah vektor penyakit malaria.

*) Genus simulium

Beberpa spesies insekta dalam genus simulium adalah vektor penyakit. Nyamuk ini sering disebut “black flies”, walaupun beberapa spesies berwarna abu-abu.

Daur hidup

Larva berkembang baik hanya pada air yang mengalir dan cukup akan kebutuhan oksigen. Nyamuk betina bertelur sekitar 200-800 butir diletakkan diatas permukaan air dan dengan cepat tenggelam. Begitu menetas, larva berputar-putar pada suatu benda dibawah permukaan air dan menempel pada benda tersebut dengan menggunakan penghisap pada bagian posterior perutnya. Larva memakan protozoa air, algae dan organisme kecil yang terbawa air. Larva dapat berputar-putar dan berpindah tempat melekat pada batu karang atau kayu dipinggir arus air.

Sebelum menjadi pupa larva berputar dan membentuk pupa disekitar tubuhnya. Setelah moulting, pupa terlihat diam dan bernafas melalui insang. Dalam waktu beberapa hari sampai 3-4 minggu, insekta muda merangkak keluar dan menjadi dewasa.

Beberapa spesies seperti Simulium damnosum dapat menjadi vektor Onchocerca volvulus.

*) Genus Phlebotomus dan lutzomia

Spesies yang termasuk genus ini tidak berkembang biak pada daerah perairan (dalam air), tetapi perlu tempat yang gelap dan basah dengan kelembaban yang tinggi dan terdapat organisme kecil disekitarnya sehingga dapat memakannya. Kondisi tersebut biasanya terdapat pada lubang kecil, lubang pohon, dibawah kayu atau daun yang rontog dan sebagainya. Telur diletakkan pada lokasi tersebut dan menetas menjadi larva kecil putih yang memakan bahan organik disekitarnya selama sekitar 2-10 minggu sebelum menjadi pupa dan pupa berkembang dalam waktu 10 hari.

Genus Phlebotomus merupakan vektor penyakit Leishmaniasis. Lutzomia sebagai vektor bakteri Bartonella baciliformis, penyabab penyakit demam di daerah Amerika Selatan. Phlebotomus papatasi dan P. sergenti penyebab demam “papatasi” dan “demam 3 hari”.

*)Genus Culex

Beberpa spesies nyamuk dalam genus culex adalah sangat penting dalam vektor beberapa penyakit tetrutama penyakit asal virus.

Daur hidup

Nyamuk mengalami metamorfosa secara sempurna dari telur, larva, pupa dan dewasa. Dari larva sampai pupa berkembang di dalam air. Telur diletakkan secara sendiri-sendiri diatas air atau diatas tanah. Telur akan menetas dengan cepat, kecuali yang diletakkan diatas tanah, yang kemudian akan aterbawa arus air pada waktu hujan. Pada beberapa kasus telur tersebut dapat bertahan sampai 4 tahun.

Larva nyamuk disebut jentik (wigglers). Larva tersebut biasanya menggantung dibawah permukaan air dan bernafas dengan siphon atau tabung udara. Sebagian besar jentik nyamuk adalah “filter feeder” atau memakan mikro organisme lainnya dalam air, sebagaian larva memakan jenis larva insekta lainnya termasuk jentik nyamuk itu sendiri.

Jentik kemudian berubah menjadi pupa atau kepompong (tumbler). Pupa tersebut terlihat aktif dan dilengkapi sepasang tabung pernafasan dibagian dadanya yang dapat menguak permukaan air untuk mengambil nafas. Bilamana ia terusik pupa dapat berenang cepat masuk kedalam air. Masa pupa ini relatif singkat, biasanya hanya 2-3 hari. Bila sudah berkembang kulit bagian thorax akan terpisah dan bentuk nyamuk nyamuk dewasa akan keluar dan terbang menjauh. Nyamuk dewasa betina dapat tahan hidup selama 4-5 bulan, terutama pada periode hibernasi (musim dingin). Pada musim panas (kemarau) adalah merupakan masa aktif dan nyamuk betina hanya hidup selama 2 minggu. Nyamuk jantan hanya hidup sekitar 1 minggu, tetapi pada kondisi optimal (cukup makan dan kelembaban), mereka dapat hidup selama lebih dari 1 bulan.

1) Spesies Culex tarsalis

Spesies nyamuk ini berkembang baik dalam air yang cukup sinar matahari. Warnanya hitam dengan belang putih pada kaki dan proboscis. Culex tarsalis suka menghisap darah orang ataupun mamalia lainnya sehingga dapat menjadi vektor virus penyabab “encephalitis” dapat menyerang kuda dan manusia dan cukup berbahaya pada anak, kadang juga dapat menyebabkan “sleeping sicknes” karena virus.

2) Spesies Culex pipiens

Spesies nyamuk ini distribusinya cukup luas, berwarna coklat dan berkembang baik dilingkungan sekitar manusia, karena dapat bertelur disembarang genangan air. Nyamuk masuk kerumah diwaktu malam dan menggigit orang. Culex pipiens merupakan vektor penyakit filaria dan dirofilaria (Wucheria bancrofti dan Dirofilaria immitis). Dapat juga sebagai vektor virus yaitu arbovirus encephalitis.

Perilaku nyamuk dan epidemiologi filarisis

Di Indonesia spesies nyamuk mansoni, culex dan Anopheles telah dilaporkan sebagai vektor filariasis. Culex quinquefasciatus menempati perindukan di air keruh dan kotor dekat rumah dan nyamuk dewasa menggigit di malam hari. C. annulirostris tempat perindukannya di sawah, daerah pantai dan rawa berair payau atau tawar dan banyak lumut. Perilaku nyamuk ini sangat membutuhkan penyebaran filariasis di daerah endemik. Nyamuk dinyatakan sebagai vektor filaria bila:

a) Presentase spesies nyamuk liar yang mengandung larva tinggi (dengan pembedahan)

b) Sifat nyamuk yang menggigit orang pada malam hari dapat meningkatkan jumlah infeksi

c) Umur nyamuk lebih panjang, sehingga larva filaria dapat berkembang menjadi infektif dalam tubuh nyamuk

d) Dominasi spesies nyamuk vektor yang tinggi dalam daerah endemik

e) Mudah tersedianya tempat perindukan nyamuk vektor di lokasi endemik.

Sedangkan pemberantasan filariasis dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

a) Pengobatan penderita filariasis

b) Pengendalian vektor

c) Mencegah gigitan vektor

d) Memberikan informasi dan pendidikan pada masyarakat mengenai filariasis dan penularannya.

3) Spesies: Culex tritaenorinchus

Adalah merupakan nyamuk penting sebagai vektor penyakit “Japanes encephalitis. Penyakit “Japanes B encephalitis” telah dilaporkan di Asia Tenggara yaitu Filipina, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Singapor. Di Indonesia, secara pasti belum pernah dilaporkan tetapi penyakit meningitis (radang selaput otak) banyak terjadi pada anak sampai umur 12 tahun, penyakit tersebut secara pasti belum diketahui penyebabnya, tetapi sangat diduga bahwa penyakit tersebut adalah “Japanes B encephalitis”. Disamping itu nyamuk Culex tritaeniorinchus yang diduga sebagai vektor penyakit “Japanes B encephalitis” banyak ditemukan di Jkarta.

Gejala klinis dari penyakit ini adalah: demam, sakit kepala, mual, muntah, lemas, malaise, mental disorientasi dan koma, yang akhirnya terjadi kematian dalam waktu beberpa hari.

Ada dua spesies vektor yang ditemukan di Indonesia yaitu Culex tritaenorinchus & C. gelidus. Dimana habitat dari nyamuk tersebut ialah rawa atau sawah dan empang dekat sawah. Nyamuk tersebut menghisap darah manusia, hewan ruminansia dan unggas.

*) Genus Aedes

Beberapa spesies Aedes seperti Aedes aegypti adalah “tree hole breeder” yaitu berbiak pada llubang pohon atau wadah yang kecil yang tergenang air. Spesies lain seperti A. triseratus, A. hendersoni, banyak ditemukan di Rocky montain Ameria. Di Indonesia ditemukan spesies A. aegypti dan A. albopictus yang berbiak pada genangan air bersih.

Banyak spesies Aedes merupakan vektor penyakit virus. Di Amerika bagian Selatan A. aegypti menyebabkan penyakit “yellow fever mosquito”. Warna nyamuknya cukup menarik dengan warna hitam dan garis putih pada bagian perut dan akinya. Aedes aegypti berasal dari Afrika dan tersebar keseluruh dunia pada jaman perbudakan. Aedes aegypti dapat menyebabkan banyak kasus epidemi penyakit “yellow fever” pada abad ke 18 di Amerika Selatan.

Penyakit demam berdarah

Virus dengue merupakan penyakit yang disebut demam berdarah (Dengue Haemoragik Fever/DHF). Ada 4 serotype virus dengue ini yang tidak dapat dibedakan berdasarkan gejalanya pada penderita. Pada kasus murni DHF, penderita mengalami demam, sakit kepala yang sangat, sakit pada persendian dan otot, lemah dan akan dapat sembuh kembali dengan cepat.

Komplikasi haemoragik dapat terjadi terutama pada anak-anak bangsa Asia umur 3-6 tahun. Kondisi ini bervariasi dimulai dari bintik-bintik merah pada kulit sampai terjadi perdarahan pada paru-paru, saluran pencernaan dan pada kulit. Bila tidak segera dirawat dirumah sakit, angka kematian sangat tinggi. Tetapi bila dapat segera tertolong dan dirawat dirumah sakit kematin hanya mencapai 7%.

Perilaku nyamuk dan epidemiologi penyakit

Nyamuk betina menggigit menghisap darah manusia pada waktu siang hari baik didalam rumah ataupun diluar rumah. Waktu menggigit mencapai puncaknya pada waktu 8-10 pagi dan jam 3-5 sore. Nyamuk beristirahat dengan cara hinggap pada lokasi yang gelap, semak-semak, tanaman rendah, benda yang digantung (baju, kopiah, srung dan sebagainya). Umur nyamuk dewasa sekitar 10 hari dengan jarak terbang rendah (40 m).

Epidemiologi virus DHF hampir di seluruh Indonesia, terutama daerah padat penduduk, dimana nyamuk Aedes aegypti ditemukan. Tetapi nyamuk juga ditemukan di daerah pedesaan di daerah sekitar kota pelabuhan.

Pengendalian spesies nyamuk dilakukan dengan beberapa cara:

1) Perlindungan untuk mencegah gigitan nyamuk (kawat kasa, kelambu, repellent dan sebagainya)

2) Membuang/mengubur benda-benda yang berpotensi untuk genangan air sehingga mencegah nyamuk berbiak.

3) Mengganti air dan membersihkan bak penampungan air secara teratur seminggu sekali

4) Pemberian abate dalam tempat penampungan air

5) Melakukan pengasapan dengan malathion 2 kali selang 10 hari pada daerah wabah DHF.

6) Memberikan informasi dan pendidikan serta ceramah mengenai kebersihan lingkungan pada masyarakat.

*) Genus anopheles

Nyamuk betina bertelur sampai ribuan butir diatas permukaan air. Telur harus selalu kontak dengan air supaya dapat menetas dan biasanya menetas dalam waktu 2-6 hari. Larva berkembang dalam waktu 2 minggu dan membentuk pupa selam 3 hari. Perkembangan dari telur sampai dewasa memakan waktu 3 minggu-1 bulan.

Perilaku nyamuk anopheles dan epidemiologi malaria

Nyamuk Anopheles mulai mencari makan dengan menghisap darah sejak senja harti sampai pagi dini hari. Mampu terbang sampai jarak 0,5-3 Km, dapat dipengaruhi oleh transportasi dan kencangnya angin. Telah banyak diteliti mengenai habitat perindukan nyamuk anopheles di Indonesia dan ditemukan sekitar 17 spesies nyamuk anopheles. Tempat perindukannya terdapat di genangan air sawah, muara sungai, saluran irigasi, rawa, mata air, sumur dan sebagainya (Lihat buku parasitologi Kedokteran, hal 225)

Nyamuk dapat dinyatakan sebagai vektor malaria bila ditemukan sporozoit malaria dalam kelenjar air liur nyamuk anopheles. Dalam menentukan apakah nyamuk dapat dianggap sebagai vektor malaria adalah:

1) Kebiasaan nyamuk yang menghisap darah orang,

2) Lama hidup nyamuk dewasa lebih dari 10 hari

3) Dominasi populasi nyamuk genus anopheles dalam suatu daerah lebih dari genus lainnya

4) Dalam percobaan laboratorium menunjukkan perkembangan spesies plasmodium mencapai stadium sporozoit

Prevalensi (kejadian penyakit) malaria di suatu daerah kadang berbeda dengan daerah lainnya. Misalnya di daerah Cilacap banyak terjadi kasus malaria pada musim kemarau, sedangkan Jawa Barat kasus malaria banyak terjadi pada musim hujan. Pada musim kemarau di Cilacap Anopheles sondaicus menempati perindukan di muara sungai. Sedangkan di Jawa Barat Anopheles aconitus menempati perindukan di persawahan pada musim hujan.

Pemberantasan malaria dengan jalan pengobatan dan pencegahan terus diupayakan dengan cara:

1) Pengobatan terhadap penderita malaria

2) Mencegah supaya tidak digigit vektor nyamuk anopheles dengan memasang kasa, kelambu dan menggunakan repellent

3) Memberikan penyuluhan dan pendidikan mengenai sanitasi lingkungan dan kesehatan atas bahayanya serangan malaria ini dengan memusnahakan tempat perindukan nyamuk.

Sub ordo: Brachyera

Yang termasuk dalam subordo ini secara morfologi adalah lalat (flies). Yang penting dalam subordo ini ialah termasuk Famili Tabanidae dengan genus Chrysops dan muscidae dengan genus Musca dan Glossina

1. Genus Chrysops

Biasanya ukuran tubuhnya kecil daengan bercak coklat pada sayapnya, suara terbangnya cukup halus dan hampir tidak terdengar sehingga ia dapat menggigit manusia tanpa diketahui. Dilihat kepentingannya dalam bidang medis ada 2 yaitu:

1) Sangat mengganggu karena gigitannya dan menghisap darah.

2) Menularkan penyakit secara mekanik dan biologik

Karena ukuran mulutnya yang relatif besar, gigitan lalat ini akan terasa sangat sakit. Untungnya kebanyakan orang tidak menunjukkan reaksi alergik, walaupun gigitan tersebut sangat membekas. Gangguan dari lalat ini cukup mengakibatkan pengaruh serius terutama di daerah rekreasi dan pekerja pemotong kayu di hutan sehingga dapat menurunkan produktifitas kerja mereka.

Cacing mata Loa loa, ditularkan oleh vektor lalat chrysops ini. Dimana ada dua strain filaria yaitu pada monyet dan pada manusia. Pada manusia ditularkan oleh Chrysops silacus dan C. dimidiatus.

2. Genus Musca

Yang termasuk genus musca ini hidupnya bersifat “Synanthrophic”, Yaitu hidup selalu dekat dengan orang. Lalat berterbangan bebas masuk kedalam rumah dengan memakan, minum apa yang dikonsumsi orang. Ukurnnya bervariasi dan yang kecil sampai besar dengan warna abu abu buram dan sisik sisik serta bagian mulutnya berkembang dengan baik.

Musca domestica atau sering disebut lalat rumah adalah sangat penting dalam bidang ilmu kedokteran. Warna abu-abu dengan panjang 6 – 9 mm dengan empat garis gelap membujur pada bagian atas thoraxnya. Distribusinya sangat luas dan cosmopolitan dan juga bergantung pada kebersihan lingkungan keluarga dirumah. Lalat rumah berbiak pada semua bentuk limbah organik, lalat memilih tempat yang kotor, bahan-bahan busuk, buah yang busuk dan sayuran yang basi. Sampah adalah merupakan tempat yang disenangi, sehingga sampah membusuk di daerah tropik akan banyak ditemukan larva lalat ini.

Pada kondisi optimum, telur berkembang menjadi dewasa dalam waktu 10 hari. Satu lalat betina dapat bertelur 120-150 butir pada setiap tempat, sekitar 6 tempat dalam waktu singkat. Lalat rumah merupakan pembawa penyakit yang sangat efisien karena:

a) tubuhnya mudah ditempeli bakteri, spora dan telur cacing pada bagian mulut dan 6 kakinya yang lengket, sehingga mudah menyebarkan agen penyakit

b) Ia suka hinggap pada makanan dan excreta manusia dan berjalan-jalan diatas makanan peralatan (sendok, garpu dan sebagainya). Tidak hanya meninggalkan bakteri saja, tetapi juga mengeluarkan kotoran pada setiap tempat tempat yang dihinggapinya. Telur cacing, cysta protozoa dan bakteri akan dapat tertelan masuk kedalam tubuh manusia.

c) Karena hidupnya yang dekat dengan manusia dan mempunyai kemampuan terbang yang kuat dan cepat, lalat rumah dapat bergerak cepat baik di dalam maupun diluar rumah. Hal tersebut menyebabkan lalat rumah sangat ideal untuk menularkan penyakit secara mekanik.

Jumlah penyakit yang ditularkan lalat rumah sangat banyak antara lain:

- Hampir semua infeksi saluran pencernanan seperti: Typus, kholera, polio, hepatitis, shigelosis, salmonellosis dan dysentri

- Juga penyakit seperti: lepra, anthrax, trachoma, tuberculosis, ascariasis dan sebagainya.

3. Genus: Glossina

Lalat yang termasuk genus ini disebut lalat “Tse tse” dari Afrika bagian Selatan Sahara. Walaupun sampai sekarang hidupnya terbatas pada daerah tersebut, mereka pernah ditemukan di Oigocen daerah Colorado Amerika.

Ukuran lalat panjangnya 7,5-14 mm berwarana abu abu kecoklatan. Bilamana istirahat sayapnya menutup berbentuk gunting. Lalat betina dan jantan keduanya menghisap darah mamalia baik hewan maupun manusia.

Lalat Tse tse bersifat pupiparous, yaitu mengeluarkan larva yang sudah berkembang pada setiap periode, dengan memproduksi 8-20 larva. Pada waktu masih dalam oviduct larva memakan sekresi dari kelenjar susu yang khusus. Larva diletakkan pada tempat yang bebas, tanah yang kering dan biasanya terlindung. Larva mempunyai alat gerak dan segera menggali tanah mengubur diri sekitar beberapa cm dari permukaan tanah. Lalat dewasa keluar setelah 2-4 minggu.

Ada sekitar 22 spesies yang sudah diidentifikasi, tetapi 3 spesies yang mampu menularkan trypanosoma. Ada 6 spesies yang penting dalam bidang medis yaitu: Glossina palpalis, G. fascipes, G. tachinoides, G. morsitans, G. Swynnertoni dan G. pallidipes. Pada 3 spesies pertama merupakan vektor Trypanosoma b. gambienses (penyakit tidur) dan 3 spesies terakhir merupakan vektor T.b. rhodesiense.

Ordo: Acari (tick dan mites / caplak dan tungau)

*) Caplak

Perannya sebagai parasit adalah sebagai agen penyakit dan juga sebagai vektor. Pathogenesis dari caplak ini ada beberapa yaitu:

1) Anemia: terjadi pada infeksi berat

2) Dermatosis: Terjadi peradangan, pembengkakan, ulcerasi dan gatal. Reaksi tubuh sering terjadi karena bila caplak yang menggigit diambil, ternyata bagian mulutnya masih tertinggal menempel di kulit, slaiva dan infeksi sekunder oleh bakteri akan terjadi.

3) Praralysis: Kondisi ini disebut “tick paralysis”, sering terjadi pada orang, anjing, kucing, sapi dan sebagainya. Pada saat caplak menggigit didaerah dekat kepala. Paralysis ini disebabkan oleh sekresi toksik dari caplak dan apabila caplak diambil maka cepat dapat sembuh kembali.

4) Otoacariasis: Bila caplak masuk kedalam lubang telinga akan menyebabkan iritasi serius, kadang disertai infeksi sekunder.

5) Infeksi: Caplak sebagai pembawa agen penyakit virus, bakteri ricketsia, spirokaeta, protozoa dan filaria.

Biologi:

Caplak mengalami 4 fase dalam daur hidupnya yaitu: telur-larva-nympa- dan dewasa. Perubahan tersebut memerlukan waktu 6 minggu sampai 3 tahun. Caplak jantan memproduksi spermatophore yang diletakkan pada operculum genital dari betinanya. Makan darah biasanya diperlukan untuk memproduksi telurnya. Caplak yang mengandung banyak telur jatuh ketanah dan mengeluarkan telurnya pada tanah dan humus (berlumut). Telur menetas masing-masing caplak memproduksi 100-18000 larva yang berkaki 6 merangkak mencari hospes dan kemudian moulting menjadi caplak berkaki 8 dan tinggal pada hospes tersebut. Caplak ada yang hinggap pada satu hospes saja, ada yang dua hospes dan ada yang banyak hospes, sehingga hal tersebutlah yang dapat menularkan penyakit.

Famili: Ixodidae (caplak keras)

Genus Ixodes

Ada beberapa spesies yang termasuk genus Ixodes ini. Di Amerika Serikat bagian Tengah, Ixodes scapularis menggigit beberapa hospes yaitu anjing dan manusia. Bila menggigit manusia menyebabkan reaksi kesakitan yang sangat pada bekas gigitan. Ixodes pacificus , ditemuka sepanjang pantai Barat California, Oregon dan Washington, menyerang kijang, sapi dan manusia. Ixodes holocyclus , penyebab “tick paralysis” yang terbesar di Australia (kebanyakan pada sapi). Kasus yang banyak terjadi di Eropa dan Asia karena caplak (“tick-borne”) adalah kasus encephalitis yang disebabkan oleh I. Ricinus, I. Persulcatus dan I. Pavlovskyi.

Genus: Dermacentor

Dermacentor andersoni, Menjadi agen dan vektor dari beberapa penyakit yang menyerang orang yaitu: tick paralysis, virus encephalitis, tularemia dan sebagainya. Dermacentor variabilis disebut juga “American dog tick”, biasanya menyerang anjing tetapi dapat menyerang mamalia lain termasuk orang. Bila digifit dapat menyebabkan paralysis pada anjing dan manusia dan menularkan tularemia.

Genus: Amblyoma

Amblyoma americanum, banyak menyerang hewan dan manusia dan sebagai vektor “Rochky Mountain spotted fever” dan Tularemia.

Famili: Aragasidae (caplak lunak)

Jarang menyerang manusia.

*) Tungau (mites)

Famili: Demodicidae

Parasit yang termasuk kelompok ini dalah sangat kecil panjangnya antara 100-400 um. Spesies Demodex hidup dalam folikel rambut dan glandula sebacea (kelenjar keringat) dari mamalia. Pada manusia ada dua spesies yaitu Demodex folliculorum, yang hidup pada folikel rambut dan D. brevis, yang hidup dalam glandula sebacea. Keduanya ditemukan terutama didaerah muka sekitar hidung dan mata, semua daur hidupnya terjadi pada satu lokasi. Tungau ini dapat berpenetrasi kedalam kulit dan masuk ke organ internal sehingga menimbulkan respon garanulomatous.

Kejadian tungau menyerang orang cukup tinggi, dari 20% pada orang sekitar usia 20 tahun atau kurang, sampai 100%. Infeksi biasanya bersifat benigna (jinak), walaupun kadang terjadi rontognya alis mata atau kulit mengalami granuloma. Diduga tungau ini juga berperan pada terjadinya “acne” (jerawat) yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

Genus: Sarcoptes

Spesies yang penting dari genus ini adalah Sarcoptes scabei, Sehingga sering disebut scabies. Scabies kawin dalam kulit hospes, dimana scabies jantan kawin dengan scabies betina muda. Scabies betina muda bergerak cepat dalam kulit dan sangat mudah menular ke hospes lainnya. Scabies jantan tidak menggali lubang dalam kulit tetapi tinggal dipermukaan bersama dengan periode nympanya. Scabies betina tinggal didalam lapisan tanduk kulit dan tinggal dalam lubang/lorong kulit tersebut sekitar 2 bulan. Bergerak dengan melubangi lorong kulit dengan memakan sel kulit dan cairan lymfe dan kemudaian bertelur. Telur menetas dalam waktu 3-8 hari dan nympa bergerak sepanjang lorong kulit.

Dalam lorong tersebut scabies mengeluarkan excreta dan secreta sehingga menimbulkan gatal-gatal pada penderita. Biasanya orang tidak memperhatikan rasa gatal tersebut dan baru sadar bila stadium sudah berlanjut, sehingga terbentuk vesikula dan kerak pada kulit. Biasanya lokasi yang diserang adalah diantara jari, bagian dada, bahu, penis, lutut dan siku. Bila digaruk akan menyebabkan perdarahan sehingga timbulnya infeksi sekunder. Penularan terjadi karena kontak dengan penderita dan hewan yang sakit.

Ordo: Anoplura (tuma/kutu)

Dalam ordo ini yang paling penting dalam bidang medis adalah spesies Pediculus humanus dan Phthirus pubis, dimana P. humanus lebih benting.

Genus: Pediculus

Ada 2 sub spesies dari Pediculus humanus, yaitu Pediculus humanus humanus dan Pedculus humanus capitis. Dimana kedua sub spesies ini sulit dibedakan secara morfologi dan kebanyakan orang menyebutnya sebagai penyebab “dandruf Ada dua sub spesies lain yaitu P. humanus corporis dan P. humanus vestimenti, tetapi keduanya tidak begitu penting.

Walaupun sulit dibedakan secara morfologi kedua sub spesies ini debedakan menurut daerah infestasinya yaitu : yang menyerang badan adalah P.humanus humanus dan yang menyerang kepala adalah P.humanus capitis. Keduanya dapat kawin silang, tetapi anaknya bersifat infertil.

Kutu badan( P. humanus humanus)

Diperkirakan kutu badan adalah kutu kepala yang turun kebawah. Kutu badan berukuran jantan 2-3mm dan betina 2-3 mm, banyak terdapat didaerah dingin, sedagkan di daerah tropis kebanyakan kutu kepala. Kutu badan adalah merupakan vektor penyakit tiphus yang hanya terjadi di daerah dingin, karena kutu badan adalah satu-satunya vektor. Tetapi kutu kepala dapat merupakan hospes cadangan untuk organisme tiphus dan berpotensi untuk menularkannya. Kutu badan adalah kutu yang “aneh” karena hidupnya pada baju (di daerah dingin orang memakai baju rangkap lebih dari 2 dan lama tidak dicuci karena orang jarang berkeringat), apabila hawa dingin maka dia bergerak ke tubuh hospes, jadi biasanya kutu ini tinggal di pakaian lapis pertama.

Telur kutu badan diletakkan pada serat baju dan menetas sekitar 1 minggu kemudian, segera membentuk nynpa dan akan menjadi dewasa bila dekat dengan badan hospes. Apabila baju tidak dipakai beberapa hari maka kutu akan mati.

Kutu Kepala (P. humanus capitis)

Kutu kepala cenderung lebih kecil dari kutu badan, dengan ukuran 1-1,5 mm yang jantan dan yang betina 1,8-2,0 mm. Ukuran telur 0,8x0,3 mm, dimana telur ini melekat pada rambut. Biasanya kutu ini menyerang bagian belakang leher dan belakang telinga. Mereka mudah ditularkan dengan bersinggungan kepala, walaupun dalam kondisi rambut yang bersih. Kasus ini sering terjadi diantara anak sekolah dan infestasi yang berat terjadi pada kondisi yang padat (anak sekolah berkumpul) dan sanitasi yang kurang baik.

Secara umum infestasi kutu (kepala/badan) bukan suatu penyakit yang menakutkan, tetapi gigitan kutu ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, timbul papula kecil merah dan dapat berkembang menajadi timbulnya eksudat. Terjadi rasa gatal (pruritus) dan menyebabkan kerak yang akan berkembang menjadi dermatitis dan terjadi infeksi sekunder. Gejala terjadi berhari-hari bergantung pada kepekaan individu. Bilamana kutu kepala tidak diobati, rambut akan lengket satu dengan lainnya (gimbal) karena eksudat, jamur akan tumbuh dan berbau tidak enak. Kondisi tersebut dinamakan “plica polonica”, dimana sejumlah besar kutu ditemukan dibawah rambut yang laengket tersebut.

Phthirus pubis

Kutu ini sering ditemukan pada lipatan lengan, paha dan jarang pada kumis, jenggot, bulu mata dan alis. Phthrus tidak seaktif Pediculus, tetapi keduanya sering ditemukan bagian mulutnya masuk kedalam kulit. Gigitannya menyebabkan rasa gatal, tetapi untungnya tidak menularkan penyakit.

Penularan sering terjadi pada waktu hubungan kelamin, tetapi dengan cara kontak juga dapat ditularkan. Telur juga diletakkan pada rambut dan daur hidupnya berjalan selama 1 bulan. Kutu betina bertelur hanya sekitar 30 butir selama hidupnya.

Kutu/tuma sebagai vektor penyakit pada manusia.

Pediculus humanus humanus, adalah spesies penting yang menyebabkan penyakit pada manusia terutama di daerah dingin yaitu: Epidemic (louse borne) typhus, trench fever dan relapsing fever.

Ordo: Hemiptera (bug)

Famili: Reduviidae

Genus: Reduvius

Spesies yang termasuk genus ini adalah Reduvius personatus, biasanya tidak menggigit oeang, tetapi bila terpaksa, misalnya dipegang dia menggigit dan gigitannya terasa sakit sekali.

Sub famili: Triatominae

Genus: Triatoma

Spesies yang termasuk genus ini yang penting adalah Triatoma infestans dan Triatoma dimidiata. Triatoma bersifat “Synanthropic”, sehingga merupakan vektor potensiil dari parasit protozoa Trypanosoma cruzi. Insekta ini biasanya hidup dan bersembunyi dalam lubang-lubang di dalam rumah yaitu pada dinding yang retak, lubang dalam rumah atau atap rumah. Konstruksi rumah yang tidak bagus adalah faktor epidemiologi penyakit yang dibawa oleh serangga ini.

Jumlah Triatoma dalam rumah dapat berkurang bilamana tempat persembunyiannya dihilangkan yaitu dengan jalan memperbaiki konstruksi rumah.

Ordo: siphonoptera (fleas/pinjal)

Kebanyakan spesies pinjal adalah ahli dalam melompat. Xenopsylla cheopis, dapat melompat lebih dari 100X panjang tubuhnya. Seperti halnya Anoplura dan Hemiptera, pinjal menghisap darah dengan menancapkan bagian mulutnya dalam kulit hospes.

Bentuk larva sedikit berbeda dengan dewasanya. Walaupun betina dewasa bertelur dalam tubuh hospes, tetapi telurnya tidak lengket, sehingga ia mudah terjatuh dari tubuh hospes. Telurnya relatif besar (0,5 mm), sehingga mencukupi untuk persediaan nutrisi larvanya. Pada kondisi yang baik telur menetas dalam waktu 2-21 hari. Larvanya berumur sekitar 4-15 hari, kemudian membentuk pupa yang berumur sekitar 1 minggu, yang kemudian menjadi dewasa.

Pinjal bukanlah hospes spesifik, sehingga ia dapat berganti-ganti hospes (misalnya: pinjal anjing, pinjal kucing, pinjal tikus dan dapat menjadi pinjal orang).

Famili: Pulicidae

Genus: Pulex

Yang penting dari genus ini ialah Pulex irritans, disebut juga “human flea” atau pinjal orang. Pulex irritans dikenal sebagai pinjal pada beberapa hospes yaitu: babi, anjing, anjing liar dan sebagainya.

Pulex irritans, dapat menularkan penyakit “plague” dimana hospes yang paling disukai dari spesies ini adalah anjing yang peka terhadap “plague”, dan hal ini adalah penting dalam hubungannya dengan masalah Kesehatan masyarakat.

Famili: tungidae

Genus Tunga

Yang paling penting adalah Tunga penetrans, asalnya dari Amerika Tengah dan Selatan dan India Barat, kemudian menyebar ke Afrika sampai ke India. Tunga penetrans menyerang orang dan mamalia lainnya dan juga babi. Tunga betina dapat berpenetrasi kedalam kulit terutama daerah pangkal kuku jari tangan dan pada kaki diantara jari kaki. Tunga jantan tidak berpenetrasi, setelah berkopulasi tunga betina menembus kulit sepanjang 1 mm, kemudian bertelur. Setelah telur menetas, biasanya larva keluar melalui apertura dan berkembang diatas tanah. Hadirnya tunga betina dalam kulit menyebabkan rasa sakit dan gatal diikuti dengan peradangan sehingga terjadi infeksi sekunder. Infeksi sekunder dapat terjadi sehingga menyebabkan penyakit tetanus dan ganggren.

Pinjal sebagai vektor penyakit

Penyakit plague:

Juga disebut penyakit pes yang disebabkan oleh bakteri Yersiana pestis (dulu: Pasteurella pestis). Ada 3 type plague taitu: “bubanic, Primary pneumonic dan primary septicemic”.

Penyakit murine typhus

Penyakit ini disebut juga “Flea borne typhus” disebabkan oleh Ricketsia typhi Penyakit ini ditularkan oleh pinjal tikus Xenopsylla cheopis.

Myxomatosis

Disebabkan oleh virus myxoma.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar