Kamis, 14 Januari 2010

Swollen Head Syndrome (Sindroma Kepala Bengkak)

Swollen head syndrome (SDS) adalah suatu penyakit menular yang menyerang alat pernapasan unggas terutama ditemukan pada ayam pedaging (broiler) berumur 4-6 minggu. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi gabungan antara Coronavirus, Escherichia coli dan Pneumovirus serta Staphylococcus. E. coli bertindak sebagai infeksi sekunder. Penyakit ini pada mulanya ditemukan di Afrika Selatan, tetapi sekarang diketahui telah berjangkit di berbagai negara. SHS disebut juga Avian Pneumovirus yang disebabkan oleh Pneumovirus single stranded yang berukuran 80-200 nm RNA virus. Pneumovirus termasuk subfamily Pneumovirinae dan family Paramyxoviridae.

GEJALA KLINIS

Unggas yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala bersin diikuti oleh kemerah-merahan dan pembengkakan kelenjar lakrimalis. Kebengkakan juga terjadi pada tepi mata yang melanjut ke kepala dan menurun sampai gelambir bawah dalam waktu 24-36 jam. Unggas yang terserang penyakit ini biasanya menggaruk mukanya dengan kaki. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu 5-10 hari. Virus yang sama dapat menyerang ayam dewasa dan mengakibatkan penurunan produksi telur.

PERUBAHAN PASCAMATI

Unggas yang terserang mengalami perdarahan titik dan bendung pada selaput lendir sekat rongga hidung. Apabila kulit bagian muka dibuka, akan terlihat busung dan bernanah.

DIAGNOSIS

Kepastian diagnosis didasarkan pada gejala klinis dan mengidentifikasi virus Corona dari sekat hidung. Gejala klinis dapat dikacaukan oleh Newcastle disease (ND) dan snot. Untuk pemeriksaan laboratorium sebaiknya dikirimkan ayam sakit yang masih hidup.

KEJADIAN DI INDONESIA

Akhir-akhir ini, penyakit ditemukan pada ayam broiler terutama di Jawa yang mengakibatkan angka kematian dan kesakitan cukup tinggi.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi melalui tetes mata, tetapi vaksin ini belum tersedia di Indonesia. Pengobatan dapat dilakukan dengan preparat sulfa, nitrofuran atau oksitetrasiklin untuk menurunkan kejadian infeksi.

Ayam penderita dapat dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi. Sisa pemotongan harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dibakar. Lesi bagian kepala yang sudah melanjut harus dibuang dan dimusnahkan.

Egg Drop Syndrome (Kerabang Telur Lembek)

Egg drop syndrome (EDS) adalah suatu penyakit ayam yang disebabkan oleh kelompok Adenovirus. Ayam yang terserang oleh penyakit ini akan mengalami penurunan produksi telur, kerabang telur lembek atau tidak membentuk kerabang, sementara ayamnya sendiri terlihat sehat. Penyakit ini biasanya dijumpai pada ayam petelur (layer) yang sedang dalam puncak produksi. Pada mulanya penyakit ini dilaporkan pada tahun 1976 dan sekarang telah tersebar luas di dunia.

PATOGENESIS

Penularan terjadi dari induk melalui telur dan virus tinggal tersembunyi sampai ayam muda tumbuh menjadi dewasa. Penularan dapat pula terjadi secara lambat antar hewan dalam kelompok, antara lain melalui tinja, serpihan saliva (ludah), jarum suntik, dll. Masa inkubasi antara 7-9 hari.

GEJALA KLINIS

Gejala pertama ditandai oleh hilangnya warna kerabang telur pada ayam yang telurnya berwarna, kemudian secara cepat diikuti oleh keluarnya telur dengan kerabang lunak atau tanpa kerabang. Telur tanpa kerabang tidak mudah untuk ditemukan karena ayam censderung untuk memakannya. Terjadi penurunan produksi yang bervariasi antara 0-40 %. Adakalanya juga terjadi diare.

PERUBAHAN PASCA MATI

Secara makroskopik, perubahan jaringan tidak dapat dikenali dengan jelas, kecuali adanya peradangan ringan pada uterus. Limfa sedikit membesar dengan bagian bintik putihnya sedikit membesar, uterus menjadi kendur dan terdapat oedema (bengkak berisi cairan) pada jaringan subserosanya, lipatan-lipatan uterus membengkak dan oedema terselaputi oedema berwarna buram, kadang-kadang ditemukan materi perkapuran berwarna kekuningan di antara lipatan mukosa uterus, serta pengecilan ringan pada calon kuning telur.

DIAGNOSIS

Turunnya produksi telur pada unggas yang baru dalam puncak produksi dan secara klinis nampak sehat adalah indikasi menderita penyakit ini. Diagnosis laboratoris dengan mengirimkan potongan organ reproduksi dalam formalin 10 % untuk pemeriksaan histopatologis dan serum untuk deteksi zat kebal.

KEJADIAN DI INDONESIA

Penyakit ini telah tersebar di berbagai tempat di Indonesia termasuk Jawa, Sumatra, Sulawesi, Bali dan pulau lainnya.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN

Pengobatan yang efektif sampai saat ini belum ada. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengusahakan galur ayam yang bebas dari EDS, dan bila terjadi infeksi perlu dihindarkan pencemaran ke kelompok lain. Vaksin biasanya dibuat dari aktivasi kombinasi Newcastle Disease virus, LaSota strain, Infectious Bronchitis virus, Massachusetts serotype dan Egg Drop Syndrome virus, strain 127. Vaksin ini selain merupakan booster untuk ND dan IB, vaksin ini juga digunakan untuk mencegah terjadinya Egg Drop Syndrom pada ayam layer. Vaksinasi ini dilakukan dengan melakukan injeksi intramuskuler pada dada. Ayam yang terserang EDS dapat dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi. Sisa pemotongan harus dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar. Telurnya dapat dikonsumsi dan diperdagangkan setelah direbus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar