Kamis, 14 Januari 2010

Kutu Burung DAN Haemoproteus columbae

Kutu Burung

Kutu burung termasuk jenis hama yang cepat sekali berkembang biak. Kutu burung hidup dan tinggal pada bulu dan sisik merpati. Kutu burung menggigit dan menghisap darah sehingga merpati merasakan gatal-gatal yang luar biasa. Serangan kutu menyebabkan merpati tidak tenang, tidak dapat tidur, stress dan nafsu makan menurun sehingga merpati menjadi lesu dan dapat mengakibatkan kelemahan umum. Infestasi yang parah dapat menyebabkan penurunan produksi telur. Kutu biasanya makan ketombe kering, bulu, atau kulit yang mengelupas. Jumlah kutu yang cukup banyak dapat menyebabkan kelukaan pada kulit merpati. Luka tersebut akan makin bertambah besar karena merpati akan mematuk kulitnya sendiri sehingga banyak bulu yang rontok (Rachmanto, 2001). Unggas biasanya menjadi hospes beberapa jenis kutu pada waktu yang bersamaan. Kutu dari spesies unggas tertentu dapat ditemukan pada jenis unggas yang lain melalui kontak fisik secara langsung (Tabbu, 2002).

Kutu pada burung merpati termasuk dalam ordo Mallophaga. Kutu tersebut tersifat oleh adanya mandibula yang tergolong jenis penggigit, yang terletak di bagian ventral kepala, metamorfosis tidak sempurna, tidak mempunyai sayap, tubuh pipih di bagian dorso-ventral, dan adanya antenna pendek yang mempunyai 3-5 segmen. Mallophaga mempunyai kepala lebar (paling sedikit sama lebar dengan toraks) dan mandibula yang mengeras dan berpigmen. Kutu mempunyai 3 bagian tubuh yang berbeda yaitu kepala, toraks (dada) dan perut. Insecta mempunyai 3 pasang kaki yang melekat pada toraks, 2 cakar dan kepala berbentuk bulat. Mulut yang mempunyai gigi terletak pada bagian ventral kepala (Tabbu, 2002).

Diagnosis didasarkan atas adanya kutu yang berwarna kecokelat-cokelatan pada kulit atau bulu. Panjang kutu pada unggas peliharaan bervariasi dari 1-6 mm. Kutu biasanya menghabiskan seluruh waktu hidupnya pada hospes. Telur akan melekat pada bulu dan biasanya bergerombol, membutuhkan waktu 4-7 hari untuk menetas. Waktu yang dibutuhkan sejak menetas sampai menjadi dewasa sekitar 4-6 minggu. Waktu hidup normal kutu dapat mencapai beberapa bulan, namun di luar tubuh hospes, kutu hanya dapat hidup selama 5-6 hari (Tabbu, 2002).

Pengendalian kutu burung dapat dilakukan dengan cara memandikan merpati yang airnya dibubuhi bubuk sodium klorida atau menaburkan bubuk di bawah bulu-bulu merpati. Kutu burung dapat juga dikendalikan dengan cara memandikan merpati menggunakan air daun sirih selama 3 hari berturut-turut (Rachmanto, 2001).

Menopon gallinae

Termasuk dalam sub ordo Amblycera. Memiliki palpus maksilaris, antena terletak pada celah di ventro-lateral kepala dengan 4 sendi, antena hanya tampak sedikit dari sisi kepala atau bahkan tidak kelihatan. Cenderung tidak memiliki hospes spesifik (Anonimusc, 2005).

Columbicola columbae

Termasuk dalam sub ordo Ischocera. Tidak memiliki palpus maksilaris. Antena tampak mencolok pada sisi kepala. Sebagian besar spesies memiliki hospes spesifik (Anonimusc, 2005).

Haemoproteus columbae

Haemoproteus columbae merupakan parasit intrasel, protozoa, parasit hemotropic yang menginfeksi sel darah merah burung. Merpati merupakan hospes definitive dari Haemoproteus columbae. Hospes perantaranya adalah lalat Hippoboscid dan nyamuk Cullicoides. Merpati terinfeksi oleh gigitan hospes perantara. Sporozoit masuk ke dalam darah dan masuk ke dalam sel endothelial pada pembuluh darah. Di dalam sel endotel terjadi reproduksi aseksual. Schizonts terbentuk di dalam sel endotel. Schizonts membelah menjadi cytomere. Cytomere akan berkembang dan menyebabkan hipertrofi pada sel hospes. Sel endotel akan rusak dan melepaskan cytomere yang kemudian akan terakumulasi pada kapiler dan melepaskan merozoite. Merozoit masuk ke dalam eritrosit dan dewasa menjadi gametosit (mikrogamont dan makrogamet) setelah 25-30 hari. Hipobosca dan Culicoides menghisap darah yang mengandung mikrogamont dan makrogamet. Di dalam lambung serangga, mikrogamont mengalami exflageliate menjadi 4 atau lebih microgamet yang kemudian akan membuahi makrogamet dan menghasilkan zygote. Zygote akan bergerak ke dinding dan membentuk oosista. Oosista menjadi dewasa dan berkembang menjadi sporozoit yang akan masuk ke dalam rongga tubuh dan akan melewati glandula salivary masuk ke dalam hospes baru lewat gigitan serangga (Anonimd, 2007).

Merpati yang terinfeksi umumnya tidak menunjukkan gejala klinis. Infeksi yang berat dapat menyebabkan kegelisahan, anemia dan pembesaran pada tembolok. Diagnosa diteguhkan dengan menemukan gametosit dalam apusan darah perifer. Gametosit berbentuk seperti halter mengelilingi inti eritrosit. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat anti malaria seperti Quinine. Primaquinethis tidak dapat menyembuhkan tetapi hanya menekan infeksi dan meringankan gejala. Chloroquine yang dikombinasikan dengan triple-sulfa dapat memberikan kesembuhan. Pencegahan dapat dilakukan dengan menekan populasi vektor (Weisman, 2007).

3 komentar: