Kamis, 14 Januari 2010

PEMERIKSAAN UNGGAS

Melakukan pemeriksaan secara patologik dengan / tanpa bantuan pemeriksaan laboratorium lainnya (mikrobiologik, parasitologik, patologi klinik, nutrisi) untuk mendapatkan penyebab kematian, gangguan pertumbuhan ataupun gangguan produksiseekro / sekelompok unggas, sehingga dapat diambil tindakan tertentu sesuai dengan kesimpulan yang diperoleh.

Anamnesa

Sebelum melakukan nekropsi (seksi, bedah bangkai, otopsi, pemeriksaan pasca mati ) hendaklah dilakukan anamnesa yang lengkap dan teliti meliputi :

  1. Nama dan alamat pemilik
  2. Lokasi peternakan (ketinggian, sumber air, temperatur, kelembaban, jarak dari peternakan lainnya, jarak dari pemukiman)
  3. Jenis/ strain unggas ; umur ; tujuan pemeliharaan pedaging, petelur, pembibitan, hias, aduan ; populasi seluruhnya
  4. Jumlah unggas yang sakit, mati dan lamanya proses penyakit. Perkembangan penyakit dari hari ke hari perlu diketahui
  5. Gejala klinik yang tampak dan kecepatan penyebaran penyakit
  6. Program vaksinasi dan tindakan pengobatan / penanganan yang telah dilakukan
  7. Data laboratorium lainnya, misalnya hasil titer HI darah terhadap ND, pemeriksaan mikrobiologik, parasitologik, nutrisi, toksikologi
  8. Diagnosa sementara dan waktu kematian unggas
  9. Dokter hewan / ahli lain yang pernah menangani kasus tersebut
  10. Manajemen yang dipraktekkan didalam peternakan tertentu, meliputi sistem perkandangan, sumber dan cara pemberian pakan, air minum, pengaturan tenaga kerja

Tempat Seksi

Jika tidak dilakukan di laboratorium, harus dipilih tempat yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Jauh dari hewan-hewan lainnya dan jauh dari gudang makanan, gudang obat dan tempat penampungan produksi ternak
  2. Mudah dibersihkan dan di disinfeksi
  3. Dekat dengantempat hewan tersebut akan dibakar atau dikubur

Cara-cara membunuh unggas

Untuk mendapatkan informasi yang cukup dalam melakukan nekropsi, maka disamping hewan yang mati dibutuhkan pula hewan sakit dari kelompok lainnya sejumlah 3-5 ekor. Hewan-hewan tersebut haruslah dibunuh dengan cara-cara yang lazim sebagai berikut :

  1. Mematahkan tulang leher antara atlas dan os cervicalis
  2. Emboli udara ke dalam jantung. Cara ini dilakukan dengan terlebih dahulu mencabut/ membersihkan bulu di daerah dada sebelah kiri; kemudian ditarik garis bantu dari carina sternum kearah columna vertebralis; diatas perpotongan garis ini dengan garis putih dan pembuluh darah yang sejajar dengan garis putih tersebut adalah tempat untuk melakukan emboli. Pada anak ayam kecil / unggas kecil lainnya, emboli dapat dilakukan melalui pintu rongga dada
  3. Bordizzo forceps untuk mematahkan leher unggas ukuran besar, misalnya kalkun
  4. Listrik (jarang)

Perlengkapan Seksi

Untuk melakukan seksi diperlukan alat-alat sebagai berikut :

  1. Gunting (biasa dan khusus untuk tulang)
  2. Pisau dan skalpel
  3. Pinset
  4. Alat suntik dan jarum berbagai ukuran
  5. Tabung (vakum, tabung berisi EDTA)

Perlengkapan lain yang dibutuhkan adalah tabung untuk menampung darah (vakum, tabung berisi EDTA); gelas obyek dan penutupnya; container dengan formalin 10% untuk menampung contoh jaringan; yang berisi label menurut nomer protokol patologi serta tanggal pengambilan material; container kosong; kantong plastik; vial; cawan petri.

Persiapan pada Operator

Operator harus mengenakan jas laboratorium, sarung tangan dan sepatu untuk menghindari penularan berbagai mikroorganisme ataupun toksin dari hewan kepada operator. Untuk unggas yang diduga menderita penyakit menular hendaklah operator menggunakan masker penutup hidung dan mulut.

Pemeriksaan Bagian Luar Bangkai dan Jaringan Tubuh

Sebelum melakukan nekropsi, perhatikan keadaan umum bangkai, status gizi, kulit, bulu, leleran dari liang-liang tubuh, adanya tumor / bentukan abnormal lainnya, keadaan mata, pial, balung, cuping telinga, keadaan daerah kloaka (kotor, berdarah, luka).

  1. Pemeriksaan berbagai jaringan dapat dilakukan sebagai berikut :
  2. Perhatikan besar, warna, konsistensi, bidang irisan dan lakukan pemeriksaan khusus untuk organ-organ tertentu, misalnya uji apung untuk pulmo.
  3. Jika terdapat eksudat / transudat catat volume, warna, sifat / viskositas dan bau
  4. Jika terdapat tumor, abses, cyst, noduli, papulae, vesiculae harus dicantumkan ukuran, warna, sifat, konsistensi dan lokasi

Untuk keperluan pemeriksaan histopatologik, contoh jaringan yang dicurigai mengalami perubahan patologik dipotong dengan pisau yang tajam dengan ukuran sekitar 3 x 2 x 2 cm, kemudian dimasukkan ke dalam formalin 10%. Usahakan untuk mengambil jaringan dari daerah yang abnormal dan normal secara bersama-sama.

  1. Pemeriksaan lambung dan usus: amati keadaan serosa, lumen dan isinya, mukosa, penggantung dan pembuluh darah
  2. Pemeriksaan hepar dan lien : perhatikan besar, warna, konsistensi dan bidang irisan. Irislah jaringan selebar ½ - 1 cm dan amati kemungkinan abnormalitas yang timbul.
  3. Pemeriksaan pulmo : esophagus, pharynx, larynx dan trachea dibuka sampai percabangan bronchus yang masuk ke pulmo. Supaya diteliti pula glandula tyroidea dan parathyroidea. Perhatikan warna, besar, konsistensi dan uji apung. Irislah pulmo menjadi bagian-bagian kecil selebar 2 – 1 cm dan periksalah kemungkinan abnormalitas yang ada.
  4. Pemeriksaan cor : perhatikan keadaan umum jantung (warna, ukuran, apex cordis); kemudian gunting pericardnya dengan memegang bagian apex cordis. Jika terdapat hydropericard, catatlah jumlah, sifat dan warnanya. Buatlah irisan yang sejajar septum atrioventriculare pada bagian apex cordis.
  5. Bangkai diputar sehingga kepala menghadap operator. Dengan gunting yang dimasukkan kedalam mulut, sudut mulut bagian kiri digunting dan diteruskan ke esophagus dan ingluvies.
  6. Pharynx, larynx dan trachea dibuka sampai ke percabangan bronchus yang masuk ke dalam pulmo. Keluarkan alat – alat dalam rongga dada dan periksa seperti biasanya
  7. Potonglah ujung paruh secara melintang di daerah nares, kemudian periksalah sinus-sinus terhadap kemungkinan adanya eksudat atau cairan lainnya
  8. Keluarkan otak dengan membuka tulang tengkorak seperti barikut ini :

Kulit didaerah kepala dilepas, kemudian buatlah irisan melintang dibelakang foramen magnum sehingga terlihat medulla spinalisnya (tanpa melepas kepala dari leher). Buatlah irisan dengan gunting tulang / gunting yang kuat melalui foramen magnum kearah os frontalis (membentuk sudut sekitar 40 ยบ dengan garis horizontal ) pada kedua sisi tulang tengkorak. Kemudian buatlah irisan melintang yang menghubungkan kedua sudut mata luar. Bukalah tulang tengkorak melalui irisan-irisan tersebut. Setelah tulang tengkorak dibuka, irislah meningesnya, kemudian keluarkanlah otak dan medulla spinalisnya.

Catat semua perubahan patologik yang ditemukan dan tulislah pada buku nekropsi yang sudah disediakan sebelunya. Buatlah diagnosa sementara / diagnosa post mortem, berikut komentar untuk penanganan kasus secara cepat.

Bahan-bahan unutk pemeriksaan laboratorium hendaklah dikirim sesuai dengan arah pemeriksaan yang ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar