Kamis, 14 Januari 2010

Koksidiosis pada Kucing/anjing

Dari belasan spesies protozoa yang mungkin menginfeksi anjing dan kucing, hanya beberapa yang dipandang perlu diuraikan. Seringkali gejala yang ditimbulkan oleh infeksi protozoa demikian, hingga bebas dari pengamatan, dan tidak diperhitungkan di dalam penentuan diagnosis. Mungkin hal tersebut disebabkan oleh jumlah parasit yang tidak begitu banyak, atau memang patogenitas parasit yang demikian rendahnya. Untuk menentukan apakah suatu penyakit disebabkan oleh protozoa sangat ditentukan oleh tersedianya spesimen pemeriksaan yang berupa tinja dan/atau darah. Bahkan tersedianya bahan pemeriksaan tersebut juga tidak selalu dapat membantu dalam menegakkan diagnosis penyakit yang disebabkan protozoa. Kesulitan lain adalah tidak dapat segera ditentukannya penyebab penyakit protozoa karena hampir-hampir penyakit-penyakit tersebut tidak memiliki gejala yang bersifat patognomonik.

Penyakit oleh protozoa yang termasuk agak sering ditemukan pada anjing dan kucing di dalam praktek adalah koksidiosis.

Etiologi

Koksidiosis pada anjing dapat dialami oleh kucing dengan mudah, begitu pula sebaliknya. Penyakit ini disebabkan oleh koksidia. Dua genus dari parasit ini yang sering ditemukan/menginfeksi anjing dan kucing adalah Eimeria dan Isospora. Parasit yang termasuk dalam genus Isospora memang dapat menyerang anjing dan kucing secara bergantian atau bersama-sama sedangkan genus Eimeria spp walaupun terkadang ditemukan namun tidak bersifat parasitik pada anjing ataupun kucing.

Kebanyakan koksidia merupakan parasit intraseluler dari alat pencernaan, tetapi beberapa terdapat pada tempat lain seperti hati dan ginjal. Setiap jenis koksidia terdapat pada lokasi yang khas dan terdapat dalam saluran pencernaan dari induk semang tipe yang khas pula. Lokasi mereka dalam sel induk semang juga khas.

Genus Eimeria. Ookista dari anggota genus ini berisi empat sporokista, masing-masing dengan sporozoit setelah matang. Terdapat lebih dari 700 nama jenis yang telah diketahui, kebanyakan pada mamalia dan unggas, tetapi beberapa pada vertebrata lain dan sedikit pada invertebrata. Kebanyakan jenis tidak patogen, dan mungkin tidak ada satupun yang patogen secara alami, tetapi akibat konsentrasi induk semang pada pembiakan tunggal yang dibuat oleh manusia (misalnya anak sapi atau domba dalam padang gembalaan atau ayam dalam kandang) membuat beberapa jenis coccidia tersebut menjadi patogen. Koksidiosis, jika terjadi, merupakan penyakit diare atau disentri. Sebagian besar hewan-hewan dewasa lebih kebal, tetapi mereka dapat mengeluarkan ookista dan merupakan sumber infeksi bagi hewan muda.

Genus Isospora. Genus ini sangat mirip dengan Eimeria, tetapi ookistanya mengandung dua sporokista, masing-masing dengan empat sporozoit. Terdapat sekitar 100 nama jenis isospora yang telah diketahui, kebanyakan pada usus. Isospora terutama terdapat pada karnivora, primata, dan burung-burung passer, sedangkan Eimeria umumnya pada rodensia, ruminansia, dan burung-burung peliharaan. Siklus hidup dan efek patogenitasnya sama. Penelitian yang baru menunjukkan bahwa anjing dan kucing keduanya mempunyai Isospora yang kebanyakan berbeda jenisnya.


Spesies koksidia yang sudah diketahui dapat menginfeksi anjing dan kucing meliputi Eimeria canis, E. felina, E. cati, Isospora canis, I. bigemina, I. rivolta dan I. felis. Untuk mengenali berbagai spesies tersebut dapat dilakukan dengan memeriksa oosista yang menyangkut bentuk, sifat dinding, ada tidaknya mikropil, warna dan ukurannya. Pada umumnya infeksi protozoa di atas, kecuali I. bigemina, tidak menyebabkan gangguan berarti bagi anjing dan kucing. Apabila kondisi hewan sedang menurun dan kondisi lingkungan tidak baik, anjing maupun kucing dapat mengalami gangguan serius oleh infeksi proto­zoa tersebut.

Pada saat ini diakui bahwa anjing mempunyai empat jenis Isospora dan enam Sarcocystis, sementara itu kucing mempunyai dua Isospora yang semuanya berbeda.

Isospora canis sangat umum pada anjing, ditemukah pada 6%-24% dari anjing yang diamati. Isospora ini terdapat pada usus halus dan besar. la tidak dapat ditularkan kepada kucing. Ookistanya clips yang lebar hingga hampir berbentuk telur, 32-42 x 27-33 mikron, tanpa mikropil, granula kutub, atau residu, tetapi dengan gumpalan padat yang melekat di dalam dinding ookista pada ujung yang lebar. Sporokista 18-24 x 15-18 mikron. Jumlah generasi aseksual tidak diketahui. Gamon terdapat pada sel epitel dan jaringan ikat subepitel. Periode prepaten 10 hari dan periode paten sekiter 4 minggu. /. canis bersifat sedikit patogen sampai sedang, menyebabkan diare dan beberapa perdarahan pada usus halus.

Isospora ohioensis terdapat pada sekitar 21% anjing di Amerika Serikat. la terdapat pada posterior usus halus dan jarang pada sekum dan kolon; semua stadium terletak pada sepertiga distal vili, kebanyak-an dalam sel epitel lamina propria dan kadang-kadang dalam sel epitel. Jenis ini dahulu dikatakan sebagai / rivolta pada anjing sampai diketahui bahwa ia tidak dapat ditularkan pada kucing ookista clips sampai bentuk telur, halus, dinding tidak berwarna sampai kuning pucat, 20-27 x 15-24 mikron, tanpa mikropil, granula kutub, maupui residu. Pada preparat yang sudah lama dinding ookista rusak di sekeliling sporokista sehingga terbentuk pasangan bentuk halter. Sedikitnya terdapat dua generasi aseksual meron; mereka berukuran 17-24 x 12-15 mikron dan mengandung 4-24 merozoit. Gamon agak kecil, mikrogamon 13 x 9 mikron dan mengandung 50-70 mikrogamet biflagela. Sporulasi membutuhkan 1 hari pada 25°C. Periode prepaten 6 hari dan periode paten 13-23 hari.

Bentuk lain, I. burrowsi, juga dilaporkan terdapat pada anjing. Ookista berukuran 17-22 x 16-19 mikron dan sporokista 12-16 x 8-11 mikron. Relatif sedikit yang diketahui tentang parasit ini. Kemungkinan dapat dikelirukan dengan I. ohioensis.

Isospora bahiensis terdapat (jarang pada saat sekarang) pada usus kecil anjing. Ooksita yang tidak bersporulasi agak menyerupai bola (kadang-kadang seperti bola) dan sangat pucat, dengan dinding halus dan tidak berwarna. Mereka berukuran 12-14 x 10-12 mikron, dan tanpa mikropil. Ookista yang bersporulasi mempunyai granula kutub tetapi tidak terdapat residu, granula kutub menghilang dalam beberapa hari. Sporosista berbentuk elips lebar, tanpa badan stieda dengan ukuran 7-9 x 5-7 mikron. Di sini terdapat residu sporosista tetapi tidak ada residu oosista. Stadium endogen terdapat dalam sel epitel vili usus halus. I. bahiensis cukup patogen pada anjing dan menyebabkan diare atau disentri.

Isospora felis terdapat pada usus kecil dari sekitar sepertiga kucing di Amerika Serikat. la juga terdapat pada singa, puma, dan felidae lain. Anjing tidak dapat terinfeksi. Ookista bentuk telur 38-51 x 27-39 mikron, dengan dinding yang halus, kuning pucat sampai coklat pucat. Biasanya tanpa granula kutub dan tanpa mikropil atau residu. Sprokista 20-26 x 17-22 mikron. Stadium endogen terdapat di dalam sel epitel vili bagian distel ileum dan kadang-kadang, duodenum dan jejunum, terdapat tiga generasi aseksual. Meron generasi pertama 11-30 x 10-23 mikron, dan memproduksi 16-17 merozoit berbentuk pisang. Merozoit ini membentuk meron generasi kedua yang memproduksi 2-10 mero­zoit. Meron generasi kedua berubah menjadi meron generasi ketiga, dan masing-masing memproduksi 36-70 atau lebih meron generasi ketiga ketika masih di dalam "kista" meron generasi kedua. Merozoit generasi ketiga masuk ke dalam sel induk semang dan membentuk gamon. Periode prepaten 7-8 hari dan periode paten 10-11 hari. Jenis ini agak atau sangat patogen.

Isospora rivolta terdapat pada usus kecil dan kadang-kadang sekum dan kolon kucing. la tidak dapat ditularkan pada anjing. Ookista mirip dengan ookista I. ohioensis pada anjing; mereka berukuran 21-28 x 18-23 mikron; sporokista 14-16 x 10-13 mikron. Rupa-rupanya I. rivolta agak patogen.


Daur hidup Isospora

Isospora mempunyai siklus hidup yang langsung dan tidak mempunyai induk semang antara. Isospora ditularkan dari satu hewan ke hewan lainnya dengan ditelannya oosista, dan oosistanya bersporulasi di luar tubuh induk semang, merozoit dan oosista dihasilkan di dalam sel-sel usus. Isospora adalah penghuni umum di kandang-kandang anjing/kucing dan dapat menginfeksi hewan lain yang dibawa ke dokter hewan untuk pemeriksaan kesehatan.

Siklus hidup dari semua anggota Isospora adalah sama dan dapat diperlihatkan oleh Isospora bigemina. Oosista I. bigemina dapat ditemukan dan langsung dapat dilihat baik di dalam preparat natif atau dengan cara flotasi. Oosista tersebut berwarna merah muda, berbentuk ovoid dan berukuran (18 - 20 u.) x (14 - 16 n), memiliki dinding tipis tanpa mikropil. Di dalam tinja yang baru dikeluarkan oosista tidak bersporulasi. Dalam waktu 4 hari terjadi sporulasi. Seluruh perkembangan isospora terjadi di dalam usus halus. Pada infeksi akut isospora berkembang di dalam sel-sel epitel, dengan sizon (schizont) yang berisi 8 merosoit, stadia gametosit dan oosista. Pada infeksi kronis sizon ditemukan di jaringan sub-epitel. Sizon akan menghasilkan 12 merozoit. dan stadium seksual terdapat di dalam jaringan subepitel maupun jaringan epitel. Oosista dari infeksi akut tidak bersporula, akan tetapi bila terbentuk di dalam jaringan subepitel oosista lepas dari tubuh dalam keadaan bersporula. Periode prepaten infeksi berlangsung 6-7 hari, dan dalam 4 minggu tidak ada lagi pembentukan oosista.

Kucing paling banyak mengalami koksidiosis oleh Isospora felis dan Isospora rivolta. Daur hidup kedua isospora sangat mirip dengan I. bigemina. Infeksi kedua organisme tersebut dipermudah bila kondisi lingkungan kucing kurang memenuhi syarat misalnya karena over-crowding dengan sanitasi yang jelek.

Patogenesis

Hewan muda yang terinfeksi memperlihatkan gejala serius sementara hewan tua hanya bertindak sebagai carrier. Pada anak anjing dan kucing gejala diare terlihat 3 hari pascainfeksi, dan darah di dalam tinja mulai tampak pada hari ke 4 - 6. Radang usus kataral segera berubah menjadi radang usus hemorrhagik, dengan tinja yang bercampur darah segar. Penderita segera mengalami dehidrasi, ane­mia, kurus, lemah, dan akhirnya mati. Apabila anak anjing dan kucing dapat mengatasi fase akut maka perdarahan usus berhenti dan tinjanya kemudian bercampur lendir, dan dalam waktu 7-10 hari anak anjing/kucing mengalami kesembuhan klinis.

Perlu dicatat bahwa infeksi koksidia bersifat membatasi diri sendiri. Setiap jenis koksidia memiliki jumlah generasi aseksual yang terbatas, sesudah itu terjadi tahap perkembangan seksual dan infeksi kemudian menghilang. Reinfeksi dapat terjadi tetapi kekebalan yang kuat sudah terbentuk sehingga jika terjadi tidak berat. Pembatasan infeksi ini dipengaruhi oleh keadaan, umur, kekebalan induk semang dan ukuran dosis infeksi.

Pada pemeriksaan pascamati usus halus dipenuhi massa yang bercampur lendir dan darah, dinding usus menebal dan pada mukosa tampak perdarahan titik (petechiae) maupun perdarahan petechial disertai ulserasi di berbagai permukaan usus halus terutama pada bagian distal.

Kekebalan

Infeksi tunggal dengan Isospora dapat menghasilkan kekebalan yang sangat mantap terhadap infeksi ulang, tetapi hanya sedikit yang diketahui tentang kekebalan terhadap koksidia usus lain. Rupa-rupanya hanya terdapat sedikit kekebalan umur, tetapi hewan yang lebih tua seringkali resisten karena infeksi terdahulu dan merupakan sumber infeksi bagi hewan muda (carier). Infeksi kongenital paling sering terjadi dan fetus atau hewan yang baru lahir paling serius terkena, sedangkan induknya jarang menunjukkan tanda-tanda penyakit itu sendiri. Infeksi menye­babkan timbulnya kekebalan dengan derajat tertentu.

Diagnosis

Diagnosis didasarkan pada gejala klinis serta ditemukannya oosista dalam jumlah besar di dalam tinja. Infeksi Isospora dapat didiagnosis secara pasti dengan menemukan meron dalam kerokan dinding usus disertai adanya diare. Dengan ditemukannya ookista semata-mata di dalam tinja tidak dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa ada koksidiosis, kecuali dalam jumlah yang besar karena hewan terinfeksi yang masih sehat dapat mengeluarkan sejumlah ookista. Selain itu, tidak adanya ookista di dalam tinja tidak berarti bahwa tidak ada koksidia, karena koksidia ini sudah dapat menyebabkan diare sebelum mereka mempunyai cukup waktu untuk menghasilkan ookista.

Gejala klinis hewan yang menderita koksidiosis antara lain adalah diare yang terkadang bercampur darah, kekurusan, dihidrasi dan gejala lain yang menyertai gangguan penyerapan nutrisi seperti kerontokan rambut atau rambut kusam dan kelemahan umum. Faktor predisposisi yang berpengaruh antara lain adalah stress, jumlah hewan terinfeksi yang terdapat pada daerah sekitar dan kurangnya kebersihan lingkungan.

Deferensial diagnosis dari koksidiosis adalah enteritis karena infeksi virus atau parasit intestinal lainnya.

Pencegahan dan Pengendalian

Kebersihan merupakan tindakan paling penting untuk mencegah infeksi parasit pada anjing dan kucing. Tinja harus dibuang dari jalan-jalan, kandang dan halaman untuk latihan anjing tiap-tiap hari secara teratur. Bila mungkin semua itu harus berlantai beton. Kandang dan sebagainya harus diatur sedemikian rupa sehingga tiap-tiap bagian terkena sinar matahari langsung meskipun hanya sebentar, karena sinar matahari akan membunuh telur, larva, atau ookista bila semua itu tidak tertutup oleh debu, tinja atau tumbuh-tumbuhan pelindung. Pakan dan minum dicegah terkontaminasi dari tinja. Hewan tidak diberikan pakan yang mentah dan dicegah agar tidak berburu tikus atau hewan kecil lainnya yang dapat bertindak sebagai jalan masuknya infeksi. Lakukan pengendalian terhadap insekta sebagai vektor penyakit. Jalan-jalan yang dilewati hewan dapat diberi uap atau udara panas secara merata, biasanya diperlukan waktu 1-1,3 jam untuk menghapushamakan 10 meter persegi dengan semprotan udara panas 225°C sampai 250°C. Zat-zat kimia juga dapat dipergunakan untuk menghancurkan larva dan telur, tetapi tidak dianjurkan.

Terapi

Meskipun hasilnya kurang memuaskan sediaan sulfa gabungan dapat dicoba. Obat ormetoprim sulfadimetoxin dengan dosis 27,5 mg/kg, diberikan per os, sekali sehari. Tribrisen dengan dosis 15 - 30 mg/kg, diberikan per os, 2 kali sehari. Tortrazuril, dosis 7 mg/kg, diberikan 2-5 hari. Dosis obat-obat tersebut berlaku untuk anjing dan kucing. Obat sulfa yang memiliki spektrum terbatas dalam membunuh berbagai stadia koksidia sebaiknya diberikan dalam waktu 10-12 hari.

Terapi pada kucing mungkin kurang diperlukan karena kemampuan kucing dalam mengeliminasi infeksi secara spontan (self curing). Pemberian albendazole dapat juga dilakukan untuk terapi pengobatan terhadap Isospora dengan dosis 25 mg/kg secara per oral dua kali sehari selama dua hari berturut-turut.


RIWAYAT KASUS

Pada tanggal 3 Mei 2002 telah dilakukan pemeriksaan klinis terhadap seekor kucing lokal yang bernama “kang” dengan umur 9 bulan dan berat badan 5 kg. Pemilik ibu Anus dengan alamat rumah jalan Karangjati, Sleman, Yogyakarta.

Anamnesa

Dari anamnesa yang dilakukan diketahui bahwa nafsu makan dan minum kucing turun sejak tiga hari sebelum dilakukan pemeriksaan, kucing menderita diare dan pernah mengeluarkan cacing pita melalui anus, kucing pernah diberi obat cacing sebanyak dua kali pemberian dua minggu yang lalu, bulu rontok dan berdiri. Kucing dipelihara tidak dikandangkan dan sering keluar rumah. Keadaan lingkungan sekitar rumah kurang bersih (banyak sampah). Populasi 2 ekor. Pakan yang selalu diberikan adalah nasi pindang.

Pemeriksaan Klinis

Hasil pemeriksaan umum menunjukkan kondisi tubuh kucing sedang dan ekspresi muka waspada, agresif dan mengalami salivasi. Frekuensi nafas 42x/menit, frekuensi pulsus 92x/menit dan temperatur tubuh 39,6 derajat celcius. Kondisi kulit dan rambut turgor kulit bagus tetapi rambut rontok, selaput lendir berwarna merah terang (hiperemia), kelenjar-kelenjar limfe tidak mengalami pembengkaan. Tipe pernafasan thoracoabdominal, sistole diastole jantung dapat dibedakan, CRT (Capillary Refill Time) kurang dari 2 detik. Susunan alat kelamin dan perkencingan di palpasi tidak ada rasa sakit, reflek pupil dan palpebra bagus, sistem saraf dan anggota gerak dalam kondisi normal. Pada pemeriksaan alat pencernaan, palpasi pada abdomen tidak ada rasa sakit, pada anus terdapat feses kering.

Diagnosa dan Prognosa

Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan tersebut kucing "belang" didiagnosa menderita alopesia dan koksidiosis dengan prognosa fausta.

Rencana Pengobatan

Pengobatan melalui injeksi yang diberikan antara lain vitamin A, D dan E 0,4 cc secara intra muskuler, Delladryl 0,4 cc secara intra muskuler. Pemberian obat jalan antara lain Cotrimoxazole tablet yang dibuat menjadi pulveres sebanyak 12 bungkus yang diberikan dua kali sehari sebanyak satu bungkus setiap pemberian sehingga lama pemberian adalah enam hari dan vitamin B komplex tablet sebanyak lima tablet yang diberikan sekali sehari sebanyak satu tablet setiap pemberian sehingga lama pemberian adalah lima hari.

Pemeriksaan Laboratorium

Sampel feses diperoleh secara per-rektal dengan konsistensi lembek berair berwarna cokelat muda. Feses diperiksa secara laboratoris dengan metode natif dan sentrifuse. Pada pemeriksaan secara natif tidak ditemukan adanya telur cacing, sedangkan pada pemeriksaan secara sentrifuse ditemukan adanya oosista.

Sampel darah diperoleh dari vena cephalica. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan hasil nilai hematokrit 42%, hemoglobin 14,8 g/dl, eritrosit 11,16 juta/mm3, leukosit 17200 sel/mm3, Neutrofil segmented 67%, monosit 1%, eosinofil 10%, bilirubin total 7,8 g% dan globulin 100 mg%.

PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan klinis, diagnosa sementara kucing “belang” tersebut adalah alopesia dan koksidiosis. Pada saat dilakukan pemeriksaan kucing tersebut sangat mudah stress dan agresif akibatnya nafasnya frekuen, hal ini bisa juga disebabkan karena perjalanan dan kucing kepanasan. Pulsus 92x/menit tergolong normal (92-150x/menit). Sedangkan temperatur 39,60 C dari normalnya (37,6-39,4)0 C sedikit berada di atas batas atas temperatur normal. Turgor kulit bagus dan CRT kurang dari 2 detik, yang menandakan bahwa tidak terjadi dehidrasi. Dehidrasi dapat diketahui salah satunya yaitu dari turgor kulit, dimana kulit akan kembali pada posisi semula dalam waktu yang lama. Rambut mengalami banyak kerontokan. Kerontokan rambut ini dapat terjadi karena faktor nutrisi misalnya defisiensi vitamin atau dapat pula disebabkan adanya parasit, yang mana parasit tersebut mengambil nutrisi dari hospes tersebut. Konjungtiva mata berwarna agak merah yang menandakan hiperemi. Normalnya konjungtiva mata pada kucing adalah pucat.

Kejadian diare pada kucing dapat terjadi karena alergi makanan, radang usus besar (Lympocytic-plasmacytic colitis), gangguan fungsi organ pencernaan atau adanya infeksi parasit/mikroorganisme. Kehilangan cairan dan elektrolit merupakan akibat dari diare yang perlu diwaspadai. Air, sodium, chloride, bicarbonat dan potassium merupakan unsur-unsur utama yang hilang dari tubuh. Kehilangan air, sodium dan chloride akan menyebabkan dehidrasi. Kehilangan bicarbonat akan menimbulkan asidosis metabolik, sedangkan kehilangan potassium akan menyebabkan kelemahan dan penurunan nafsu makan.

Diare merupakan peningkatan frekuensi pengeluaran feses yang mengandung air melebihi normal.

Mekanisme terjadinya diare dapat dibedakan dalam beberapa tipe :

1. Perubahan motilitas usus

Perubahan motilitas usus dapat terjadi sebagai akibat adanya radang usus, sehingga usus (terutama usus besar) tidak mampu menahan laju isi usus dan terjadi diare.

2. Sekresi aktif

Sekresi aktif dapat disebabkan karena kerusakan usus atau karena penyakit sistemik seperti congestive heart failure ataupun hepatic congestion. Kedua penyakit tersebut menyebabkan peningkatan tekanan hidrolik pada vena mesenterica sehingga mendorong keluarnya cairan ke lumen usus.

3. Sekresi pasif / peningkatan osmolalitas

Peningkatan osmolalitas dapat disebabkan oleh maldigesti akibat kekurangan enzim pancreatik, garam empedu ataupun enzim disakaridase. Kekurangan enzim-enzim tersebut akan menyebabkan karbohidrat, lemak, protein tidak terabsorbsi dengan baik. Pakan yang tidak terabsorbsi tersebut akan diubah menjadi asam laktat dan asam lemak volatil oleh bakteri di kolon. Ini akan menyebabkan penurunan pH (asam) dan peningkatan osmolalitas, yang akhirnya menimbulkan watery diare.

4. Peningkatan permeabilitas (exudatif)

Peningkatan permeabilitas dapat disebabkan karena adanya toxin bakteri yang menyerang sel epitel gastrointestinal. Rusaknya epitel akan menyebabkan aktivasi enzim adenylcyclase yang akan mengkatalis perubahan ATP menjadi cyclic AMP. Cyclic AMP ini akan meningkatkan permeabilitas sel.

Pemeriksaan laboratorik dilakukan terhadap sampel feses dan darah. Pemeriksaan feses dengan metode natif tidak ditemukan adanya telur cacing tetapi dengan metode sentrifuse ditemukan adanya oosista.

Koksidiosis pada anjing dapat dialami oleh kucing dengan mudah, begitu pula sebaliknya. Penyakit ini disebabkan oleh koksidia. Dua genus dari parasit ini yang sering ditemukan/menginfeksi anjing dan kucing adalah Eimeria dan Isospora. Parasit yang termasuk dalam genus Isospora memang dapat menyerang anjing dan kucing secara bergantian atau bersama-sama sedangkan genus Eimeria spp walaupun terkadang ditemukan namun tidak bersifat parasitik pada anjing ataupun kucing.

Spesies koksidia yang sudah diketahui dapat menginfeksi kucing meliputi E. felina, E. cati, I. rivolta dan I. felis. Untuk mengenali berbagai spesies tersebut dapat dilakukan dengan memeriksa oosista yang menyangkut bentuk, sifat dinding, ada tidaknya mikropil, warna dan ukurannya. Pada umumnya infeksi protozoa di atas, kecuali I. bigemina, tidak menyebabkan gangguan berarti bagi anjing dan kucing. Apabila kondisi hewan sedang menurun dan kondisi lingkungan tidak baik, anjing maupun kucing dapat mengalami gangguan serius oleh infeksi proto­zoa tersebut.

Hewan muda yang terinfeksi memperlihatkan gejala serius sementara hewan tua hanya bertindak sebagai carrier. Pada anak anjing dan kucing gejala diare terlihat 3 hari pascainfeksi, dan darah di dalam tinja mulai tampak pada hari ke 4 - 6. Radang usus kataral segera berubah menjadi radang usus hemorrhagik, dengan tinja yang bercampur darah segar. Penderita segera mengalami dehidrasi, ane­mia, kurus, lemah, dan akhirnya mati. Apabila anak anjing dan kucing dapat mengatasi fase akut maka perdarahan usus berhenti dan tinjanya kemudian bercampur lendir, dan dalam waktu 7-10 hari anak anjing/kucing mengalami kesembuhan klinis.

Pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah eritrosit 11,16 jt/mm3 dibandingkan normal 5,50-10 jt/mm3, peningkatan kadar Hb 14,8 g/dl dibandingkan normal 8-14 g/dl, sedangkan nilai PCV 42% adalah normal (24-45%). Hal ini berarti tidak ada indikasi adanya anemia, anemia merupakan penurunan jumlah eritrosit, Hb, atau keduanya dari batasan normalnya dalam sirkulasi darah. Sedangkan peningkatan eritrosit disebut polisitemia. Polisitemia dibedakan menjadi polisitemia sejati dan polisitemia relatif. Polisitemia sejati atau absolut dapat disebabkan karena polisitemia vera, yaitu penyakit yang menciri dengan naiknya total eritrosit sehubungan dengan meningkatnya volume total darah. Selain itu juga dapat terjadi karena hypoxia stimulated erythropoesis misalnya ketika hewan ditempatkan pada tempat yang tinggi dapat menyebabkan polisitemia sedang, penyakit-penyakit yang ada interferensi dengan proses oxygenasi, penyakit jantung kongenital, insufisiensi sirkulasi. Sedang polisitemia relatif dapat disebabkan karena hewan shock, kurang minum, muntah, diare sehingga terjadi hemokonsentrasi. Pada kasus ini kenaikan eritrosit kemungkinan disebabkan karena kucing tersebut mengalami diare sehingga kehilangan cairan tubuh dan elektrolit akibatnya terjadi dehidrasi dan hemokonsentrasi. Namun dilihat dari jumlah PCV yang normal kemungkinan hanya terjadi dehidrasi ringan. Jumlah leukosit 17.200 sel/mm3 adalah normal (8-25 ribu/mm3), jumlah neutrofil segmented 67% adalah normal (35-75%), jumlah limfosit 22% adalah normal (20-55%), jumlah monosit 1% adalah normal (1-4%) dan jumlah eosinofil 10% adalah normal (2-12%). Dari hasil penghitungan jumlah luekosit yang normal mengindikasikan bahwa tidak ada proses keradangan pada tubuh kucing. Walaupun demikian seringkali gejala yang ditimbulkan oleh infeksi protozoa bebas dari pengamatan, dan tidak diperhitungkan di dalam penentuan diagnosis. Mungkin hal tersebut disebabkan oleh jumlah parasit yang tidak begitu banyak, atau memang patogenitas parasit yang demikian rendahnya. Untuk menentukan apakah suatu penyakit disebabkan oleh protozoa sangat ditentukan oleh tersedianya spesimen pemeriksaan yang berupa tinja dan/atau darah. Bahkan tersedianya bahan pemeriksaan tersebut juga tidak selalu dapat membantu dalam menegakkan diagnosis penyakit yang disebabkan protozoa. Kesulitan lain adalah tidak dapat segera ditentukannya penyebab penyakit protozoa karena hampir-hampir penyakit-penyakit tersebut tidak memiliki gejala yang bersifat patognomonik.

Diagnosis terhadap koksidiosis didasarkan pada gejala klinis serta ditemukannya oosista dalam jumlah besar di dalam tinja. Infeksi Isospora dapat didiagnosis secara pasti dengan menemukan meron dalam kerokan dinding usus disertai adanya diare. Dengan ditemukannya ookista semata-mata di dalam tinja tidak dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa ada koksidiosis, kecuali dalam jumlah yang besar karena hewan terinfeksi yang masih sehat dapat mengeluarkan sejumlah ookista. Selain itu, tidak adanya ookista di dalam tinja tidak berarti bahwa tidak ada koksidia, karena koksidia ini sudah dapat menyebabkan diare sebelum mereka mempunyai cukup waktu untuk menghasilkan ookista.

Gejala klinis hewan yang menderita koksidiosis antara lain adalah diare yang terkadang bercampur darah, kekurusan, dihidrasi dan gejala lain yang menyertai gangguan penyerapan nutrisi seperti kerontokan rambut atau rambut kusam dan kelemahan umum. Faktor predisposisi yang berpengaruh antara lain adalah stress, jumlah hewan terinfeksi yang terdapat pada daerah sekitar dan kurangnya kebersihan lingkungan.

Pengobatan dilakukan dengan pemberian vitamin A, D dan E 0,4 cc secara intra muskuler, Delladryl 0,4 cc secara intra muskuler. Pemberian obat jalan antara lain Cotrimoxazole tablet yang dibuat menjadi pulveres sebanyak 12 bungkus yang diberikan dua kali sehari sebanyak satu bungkus setiap pemberian sehingga lama pemberian adalah enam hari dan vitamin B komplex tablet sebanyak lima tablet yang diberikan sekali sehari sebanyak satu tablet setiap pemberian sehingga lama pemberian adalah lima hari. Pemberian antihistamin dengan Delladryl yang berisikan Diphenhydramini hydrochloridum, merupakan antihistamin golongan etanolamin. Efek kerja obat ini adalah menghambat kerja histamin H1, sehingga terjadi penurunan permeabilitas pembuluh darah, penghambatan kontraksi otot polos, penurunan sekresi mukus, menghambat bronkokonstriksi, mengatasi mual dan muntah akibat radang. Sebagai antibiotik dan koksidiosid diberikan Cotrimoxazole tablet yang dibentuk menjadi pulveres, yang mengandung trimetoprim 80 mg dan sulfametoxazole 400 mg. Cotrimoxazole merupakan kombinasi trimetoprim dan sulfametoxsazole dengan perbandingan 1:5 yang memberikan efek bakterisidal dan bakteriostatik dengan spektrum luas. Sulfonamid bersifat bakteriostatik yang menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul asam folat dan trimetoprim bersifat bakteriosidal yang menghambat terjadinya reaksi reduksi dari dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat. Tetrahidrofolat ini penting untuk reaksi-reaksi pemindahan satu atom C, seperti pembentukan basa purin dan asam-asam nukleat yang sangat esensial untuk mikroorganisme. Sediaan sulfa (sulfametoxazole) seperti yang terdapat dalam Cotrimoxazole dapat digunakan untuk pengobatan terhadap koksidiosis. Obat sulfa yang memiliki spektrum terbatas dapat membunuh berbagai stadia koksidia sebaiknya diberikan dalam waktu 10-12 hari. Pada praktikum pemberian sediaan sulfa (sulfametoxazole) hanya diberikan selama 6 hari didasarkan pada gejala klinis koksidiosis yang ringan dan hasil pemeriksaan darah yang tidak menunjukkan adanya proses keradangan/infeksi.

Injeksi vitamin A, D dan E diberikan untuk mencegah defisiensi vitamin A, D, E yang ditandai dengan problem rambut kusam dan rontok. Kerontokan rambut ini dapat terjadi karena faktor nutrisi misalnya defisiensi vitamin atau dapat pula disebabkan adanya parasit pada saluran pencernaan seperti koksidia dimana parasit tersebut mengambil nutrisi dari hospes sehingga menyebabkan hospes mengalami defisiensi nutrisi. Secara per oral diberikan vitamin B komplex sebagai tambahan vitamin yang berguna untuk meningkatkan metabolisme tubuh yang maksimal. Pemberian vitamin ini adalah untuk menambah nafsu makan dan menambah daya tahan tubuh terhadap penyakit serta menambah kekuatan badan terutama sesudah sembuh dari sakit.

Observasi dilakukan selama beberapa hari setelah pemeriksaan klinis dan pengobatan untuk mengetahui perkembangan penyakit. Selama kucing dirawat oleh klien, pemberian obat masih dilanjutkan dengan pemberian Cotrimoxasole dua kali sehari dan vitamin B komplex satu kali sehari. Tidak dilakukan penggantian pakan dan perlakuan selama pemberian obat jalan. Pada hari kelima kucing dikontrol dan dari keterangan pemilik diare sudah berhenti dan feses kembali keras. Kondisi kucing saat itu sudah membaik, nafsu makan minum bagus, tidak diare, tetapi rambut masih rontok.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pengamatan dan pemeriksaan lapangan, penyebab kucing mengalami koksidiosis kemungkinan karena cara pemeliharaan kucing yang kurang baik dimana kucing dibiarkan berkeliaran di luar rumah dengan lingkungan sekitar yang kurang bersih sehingga dapat menyebarkan oosista yang dapat menginfeksi kucing. Untuk itu perlu dilakukan perubahan cara pemeliharaan dimana kucing hanya dipelihara di dalam rumah sehingga dapat memudahkan kontrol untuk mencegah kucing terinfeksi koksidia. Disamping itu perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mengetahui kondisi kesehatan kucing agar kucing peliharaan tetap terjaga kesehatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Aiello, S.E., 2000, The Merck Veterinary Manual, Edisi kedelapan, Merck & CO, Inc, New York, USA.

Anonim, 2006, Idexx Labarotories Veterinary Pharmacy Reference v2.6.B7. http://www.vpronline.com.

Ganiswara, S.G., 2003, Farmakologi dan Terapi, Edisi keempat, Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Hariono, B., 2005. Hematologi Veteriner, Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Levina ,N.D., 1994, Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner, Diterjemahkan oleh Gatut Ashadi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Mitruka, B.M. dan Rawnsley, 1981, Clinical Biochemical and Hematological Reference Value in Normal Experimental Animal and Normal Humans. 2nd Ed, Year Book Medical Publisher, Chicago.

Rossoff, I. S., 1994, Handbook of Veterinary Druges and Chemical,. Edisi kedua, Pharmatox Publishing Company, Illinois, USA

Subronto, 2003, Ilmu Penyakit Ternak, Edisi pertama, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Subronto, 2006, Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Subronto dan Tjahajati, I. 2004. Ilmu Penyakit Ternak, Edisi kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tilley, L.P. dan Smith, F.W.K., The 5-minute Veterinary Consult, Lippincott Williams & Wilkins, Baltimore, Maryland.


3 komentar:

  1. tolong saya dong...kucing saya ketabrak mobil ga tau juga sih apa yang kena yang jelas dia ga bisa jalan sekarang...dan dari anusnya mengeluarkan lendir bening...gimana cara mengobatinya setidaknya lendirnya bisa hilang. oya juga pada bagian anusnya bengkak banget apa yang terjadi ya..tolong kucing saya dong pleas T.T

    BalasHapus
  2. gak bisa jalan itu bisa karena ada fraktur atau retak atau patah pada bagian tulang kaki atau dislokasi pada tulang kaki..harus segera di bawa ke dokter hewan atau rumah sakit hewan untuk cek rogsen dan terapi selanjunyya..
    untuk masalah lendir yang keluar dari anus,,pastikan itu bener dari anus atau vulva,,kalo vulva mungkin kucing anda dalam masa estrus . kalo dari anus berarti ada infeksi. bawa ke dokter hewan untuk diagnosa dan terapi.

    BalasHapus
  3. Salam, kucing saya tiba tiba nggak bisa jalan, dan saat ini tidak mau makan, saat bab kotorannya bercampur lendir dan saat ini karena nggak mau makan saat bab hanya lendir aja, mohon pencerahan

    BalasHapus