Kamis, 14 Januari 2010

INFECTIOUS LARYNGOTRACHEITIS (ILT)

Infectious laryngotracheitis (ILT, LT) merupakan suatu penyakit viral pada ayam yang dapat bersifat akut ataupun ringan, yang tersifat oleh adanya kesulitan bernafas (bernafas dengan mulut sambil menjulurkan leher) dan adanya eksudat bercampur darah yang berasal dari trakea dan keluar melalui hidung ataupun mulut.

Penyakit ini mempunyai arti ekonomik yang penting sehubungan dengan adanya ILT bentuk ganas yang menyebabkan mortalitas yang tinggi dan penurunan produksi telur.

  1. Kejadian penyakit

Sejak dilaporkan pertama kali pada tahun 1924, penyakit ini telah menyebar ke berbagai negara penghasil unggas di dunia, meliputi USA, Amerika Latin, Australia, dan Asia. Di Indonesia penyakit ini telah ditemukan pada berbagai peternakan ayam khususnya petelur di berbagai daerah meliputi Jawa, Sumatra, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara.

Penyakit ini kerapkali ditemukan pada berbagai daerah yang padat peternakan ayam dan biasanya merupakan masalah pada suatu daerah endemik atau pada suatu lokasi tertentu. Ayam yang sembuh akan bertindak sebagai carrier sehingga peternakan yang terkena akan tetap tercemar setelah terjadi kasus. Pada berbagai peternakan di jawa, ILT sulit untuk diberantas terutama pada daerah yang padat ternak ayam. Hospes primer virus ILT adalah ayam dari segala umur walaupun ayam dara sampai dewasa (umur 14 minggu ke atas) lebih sensitif dari ayam yang lebih muda. Di samping ayam, burug merak juga sensitif terhadap virus ILT. Kejadian ILT terutama ditemukan pada ayam petelur, walaupun kasus ILT kadang – kadang ditemukan juga pada ayam pedaging. Hal ini memberikan petunjuk tentang kemampuan virus ILT untuk beradaptasi pada ayam yang lebih muda. Daerah – daerah yang padat peternakan ayam pedaging merupakan daerah yang rawan terhadap infeksi virus ILT ganas. Pada daerah endemik ayam dewasa kerap kali kebal terhadap virus tersebut, sedangkan pada anak ayam penyakit ini jarang ditemukan ataupun hanya bersifat ringan.

Penyakit ini dapat diperberat oleh adanya infeksi dengan agen penyakit lainya, misalnya virus Newcastle disease (ND), virus infectious bronchitis (IB), virus fowl pox, Haemophilus paragallinarum dan Mycoplasma gallisepticum. Defisiensi vitamin A dan kadar amoniak yang tinggi dalam kandang akan mendukung timbulnya ILT yang berat. Faktor – faktor lain yang mendukung timbulnya ILT adalah virulensi virus ILT dalam vaksin live yang masih tinggi sehingga kerap kali menimbulkan reaksi pasca – vaksinasi yang berat. Adanya umur yang berbeda dalam suatu lokasi yang melakukan vaksinasi ILT secara heterogen dan status carrier dari ayam yang pernah terserang ILT yang lama sehingga merupakan sumber infeksi yang sulit dihilangkan.

  1. Etiologi

Infectious laryngotracheitis disebabkan oleh herpesvirus grup A yang termasuk famili herpesviridae, subfamili Alphaherpesvirinae. Uji netralisasi virus (VN) dan immunofluorescence menunjukkan bahwa struktur antigenik dari berbagai isolat virus ILT bersifat homogenus, namun dengan analisis endonuklease restriksi terdapat perbedaan dalam profil DNA. Belakangan ini beberapa peniliti melaporkan adanya variasi antigenik yang bersifat minor dari berbagai galur virus ILT. Virulensi virus ILT asal lapangan perlu dibedakan dengan virus ILT dalam vaksin aktif oleh karena kenyataanya beberapa galur vaksin dapat menimbulkan reaksi pasca vaksinasi yang mirip dengan vaksin alami. Berbagai metod etelah dikembangkan untuk membedakan galur virus vaksin ILT dan virus ILT asal lapangan, misalnya menggunakan indeks mortalitas pada telur ayam bertunas, analisis endonuklease restriksi dan klon fragmen DNA. Virus ILT dapat dikembangkan di dalam telur ayam bertunas, kultur jaringan yang berasal dari hati dan ginjal, embrio ayam dan ginjal ayam. Virus ILT sensitif terhadap agen lipolitik, panas dan berbagai jenis desinfektan.

Virus ini akan inaktif dalam waktu 10 – 15 menit, pada temperatur 55 0 C dan akan mati dalam waktu 48 jam pada temperatur 35 0 C, jika disimpan dalam kaldu. Virus ILT dalam trakea dari karkas ayam akan mati dalam waktu 44 jam pada temperatur 37 0 C dan dalam waktu 10 hari pada temperatur 13 – 23 0 C. di dalam selaput khorio allantois virus ini akan mati dalam waktu 5 jam pada temperatur 25 0 C. larutan 3 % kresol atau 1 % soda akan menginaktivasi virus ILT kurang dari 1 menit.

Sehubungan dengan sifat – sifat virus tersebut, maka pada dasarnya virus tersebut tidak bertahan lama diluar tubuh ayam, namun ketahanan virus tersebut dalam tubuh ayam yang bertindak sebagai carrier merupakan faktor penting yang menyebabkan kasus ILT dapat ditularkan secara periodik dalam satu peternakan atau daerah.

  1. Cara penularan

Virus ILT terutama ditemukan dalam eksudat yang berasal dari hidung, oropharynk, trachea dan mungkin juga konjungtiva. Pintu masuk virus ILT yang alami adalah melalui saluran pernapasan bagian atas dan okular. Infeksi melalui oral dapat juga terjadi, walaupun rute infeksi seperti ini juga membutuhkan suatu kontak dengan epitel kavum nasi setelah menelan bahan yang mengandung virus tersebut.

Penularan virus ILT lebih cepat jika sumber penyakit berasal dari ayam yang terinveksi secara akut dibandingkan dengan ayam yang bertindak sebagai carrier dalam penyakit ini. Penularan penyakit dapat terjadi secara langsung melalui kontak secara langsung dengan ayam sakit, jaringan ayam sakit, carrier ataupun karkas yang mengandung virus ILT. Penularan tersebut dapat juga terjadi secara tidak langsung melalui kandang ayam yang terserang ILT, alat atau perlengkapan peternakan, makanan atau minuman, pekerja atau kendaraan yang tercemar ILT. Vaksin ILT aktif yang dilemahkan kerap kali merupakan sumber penularan penyakit ini. Leleran dari hidung atau ekspektoran dari mulut dapat mencemari udara dan masuk ke saluran pernapasan bagian atas lalu diikuti oleh replikasi virus yang intensif. Beberapa peneliti melaporkan bahwa virus ILT yang bersifat infeksius biasanya ditemukan dalam jaringan trakea dan leleran tubuh dalam waktu 6 – 8 hari pasca infeksi. Bukti tentang adanya fase viremia selama dan setelah periode tersebut belum diketahui secara pasti. Penyebaran virus ILT di luar trakea terjadi melalui ganglion trigeminus dalam waktu 4 – 7 hari setelah lesi trakea terlihat pada 40 % ayam yang diinfeksi dengan virus ILT viruen. Aktivasi kembali virus ILT yang laten dari ganglion trigeminus dapat ditemukan dalam waktu 15 bulan setelah kelompok ayam yang mengalami infeksi laten tersebut divaksinasi terhadap ILT. Ekskresi kembali virus ILT dari kelompok ayam yang terinfeksi secara laten dapat juga terjadi setelah stres, misalnya akibat pindah kandang dan pada fase produksi awal. Gambaran utama infeksi saluran pernapasana oleh ILT yang bersifat persisten tidak tampak secara klinis. Tingkat terjadinya carrier setelah letupan suatu kasus ILT adalah sekitar 2% - 50 % selama periode 16 bulan.

Penularan melalui telur yang tercemar virus ILT pada bagian luar maupun dalam tidak terjadi oleh karena embrio yang terinfeksi virus ini telah mati sebelum menetas.

Ayam yang sembuh dari infeksi virus ILT atau ayam yang divaksinasi dengan vaksin ILT aktif dapat mengalami infeksi laten atau menjadi carrier. Dalam hal ini ayam yang kelihatan sehat dapat mengeluarkan virus ILT secara periodik dalam jangka waktu yang lama ; mungkin selama beberapa tahun. Intensitas ekskresi virus ILT dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor stres, misalnya transportasi pada ayam, stres sosial atau awal produksi telur. Ayam sakit yang bertahan hidup akan mengeluarkan virus ILT dalam jumlah yang banyak dan merupakan sumber penularan penyakit yang sangat penting, terutama pada stadium awal dari infeksi ketika tingkat replikasi virus masih tinggi sekali. Jika ayam – ayam tersebut dicampur dengan ayam lain yang sensitif, maka penularan peyakit akan terjadi dengan mudah.

  1. Gejala klinik

Pada infeksi awal gejala klinik biasanya terlihat dalam waktu 6 – 12 hari. Infeksi buatan melalui trakea hanya membutuhkan waktu yang lebih singkat, yaitu sekitar 2 – 4 hari. Manifestasi klinik dari ILT daat terbentuk berat ataupun ringan.

1. bentuk berat

bentuk ini disebut juga bentuk akut atau epizootik. Ayam yang sakit akan menunjukkan kesulitan bernafas (dispnoea) disertai oleh suara ngorok akan serak, batuk ; sumbatan pada trakea akibat adanya eksudat tertentu akan menyebabkan ayam bernafas dengan mulut terbuka sambil menjulurkan leher (seolah – olah dalm posisi ” memanggil”). Pada sejumlah ayam dapat ditemukan adanya leleran kental bercampur darah dari hidung atau mulut dan kemerahana konjungtiva yang disertai oleh adanya cairan berbusa pada mata. Pada ayam yang mengalami gangguan pernapasan yang berat, dapat diamati adanya sianosis di daerah fasial dan balung. Lama proses penyakit pada ILT bentuk akut biasanya 7 – 14 hari. Kematian dapat disebabkan oleh asphyxia akibat sumbatan pada trakea dan biasanya terjadi dalam waktu 3 – 4 hari. Ayam – ayam yang lain akan menunjukkan gangguan pernapasan yang makin parah dalam waktu 2 – 3 minggu. Bentuk akut dari penyakit ini menyebar secara cepat diantara ayam yang peka. Morbidititas dapat mencapai 90 % - 100 % sedang mortalitas bervariasi dari 5 % - 70 % (biasanya sekitar 10 % - 20 %).

Pada ayam petelur yang dipelihara pada flok yang terdiri atas umur yang bervariasi dapat ditemukan adanya suatu pola infeksi yang disebut siklus ILT. Keadaan ini dapat digambarkan sebagai berikut : pada awal infeksi, virus ILT hanya menginfeksi sebagian besar ayam dalam flok sedangkan sisanya akan terinfeksi dalam waktu 10 – 12 hari berikutnya. Ayam yang sembuh biasanya menjadi carrier.

Ayam yang terserang virus ILT dapat juga tidak menunjukkan gejala klinik tertentu biasanya disebut bentuk asimptomatik. Bentuk ini kerapkali tidak teramati. Beberapa peneliti juga melaporkan adaya ILT bentuk perakut, yang ditandai oleh adanya kemtian yang mendadak tanpa didahului oleh gejala tertentu atau hanya menunjukkan gangguan pernapasan mendadak yang disertai oleh batuk yang parah dan keluarnya mukusa dan eksudat bercampur darah dan bekuan darah dari hidung atau mulut. Gejala ini akan diikuti oleh kematian dalam waktu 1 – 3 hari.

Resistensi dari ayam yang peka terhadap virus ILT akan menghilang setelah terjadi infeksi alami ataupun setelah divaksinasi. Lama kekebalan terhadap infeksi alami dapat mencapai satu tahun atau lebih. Kekebalan yang berlangsung lama mungkin dapat dihubungkan dengan adanya infeksi subklinik yang terjadi dalam suatu kelompok ayam akibat adanya carrier yang bersifat endemik atau akibat adanya infeksi virus ILT dari sumber yang lain. Lamanya kekebalan yang timbul akibat vaksinasi terhadap ILT bervariasi. Kekebalan terhadap ILT dapat diamati dalam waktu 8 – 15 minggu pasca – vaksinasi, walaupun pada umumnya kekebalan dalam suatu kelompok ayam dapat ditemukan sekitar 15 – 20 minggu pasca – vaksinasi.

“ILT” bentuk berat (Severe Form) http://www.canadianpoultry.ca/ilt.htm

· batuk berat

· exudat berdarah

· kekakuan leher

· kematian tinggi mencapai (50 – 70) %, biasanya (10 – 20 )%

· bertahan sampai 2 – 6 minggu. Tidak seperti penyakit respirasi yang lain.


2. bentuk ringan

bentuk ini disebut juga enzootk yang ditandai oleh adanya kelesuan, mata berair, gangguan pernapasan yang ringan ( batuk ringan dan menggelengkan kepala), konjungtiva kemerahan, kebengkakan sinus infraorbitalis, leleran dari hidung yang terus – menerus dan penurunan produksi telur.

“ILT” bentuk ringan (Mild Form)

· Konjungtivitis

· Pembengkakan sinus

· Kerusakan rongga hidung

· Berkurangnya produktifitas pada layer dan broiler

http://www.canadianpoultry.ca/ilt.htm

  1. Perubahan patologik

1. Perubahan Makroskopik

Perubahan makroskopik bervariasi menurut derajad keparahan dari penyakit. Lesi yang terlihat biasanya terbatas pada saluran pernapasan bagian atas, terutama trakea.

Bentuk berat ditandai oleh adanya eksudat kaseus, selaput difterik, mukus dan perdarahan didalam trakea, yang kerap kali menyumbat daerah laring dan syring. Trakea kerap kali sangat kongestif dan sianotik.

Bentuk ringan ditandai oleh adanya mukus yang berlebihan dengan / tanpa sejumlah kecil eksudat difteritik didalam trakea. Lubang hidung biasanya mengalami keradangan dan berisi eksudat kaseus. Terlihat juga adanya konjungtivitis. Kadang – kadang ditemukan adanya eksudat kaseus dan difteritik didalam jaringan orofaring. Lesi ini dapat dikelirukan dengan Fowl pox dan difisiensi vitamin A.

Paru dan kantong udara jarang terkena ; paru dapat mengalami kongesti dan kantung udara dapat menebal dan tertutup oleh eksudat kaseus. Bentuk perakut ditandai oleh adanya perdarahan dan bekuan darah didalam trakea (pada bagian tertentu atau seluruhnya); dapat juga trakea hanya terisi oleh mukus yang ternoda oleh darah ; bronki primer dapat juga menunjukkan lesi yang sama dengan trakea.

2. Perubahan Mikroskopik

Perubahan mikroskopik bervariasi sesuai dengan stadium dari penyakit. Pada stadium awal akan ditemukan adanya kebengkakan sel, diikuti oleh adnya silia dan edema selular. Setelah 2 – 3 hari akan terlihat adanya infiltrasi limfosit, heterofil dan sel plasma di dalam mukosa dan submukosa. Selanjutnya akan diikuti oleh nekrosis epitel dan hemorrhagik. Jika proses penyakit melanjut maka infiltrasi sel radang akan makin ekstensif. Lesi yang karakteristik untuk ILT adalah pembentukan benda inklusi intranuklear, yang hanya dapat diamati selama beberapa hari sebelum terjadi deskuamasi epitel. Perubahan tersebut sangat parah pada trakea dan laring.

http://www.myoops.org/cocw/tufts/courses/13/Calendar.htm

  1. Diagnosis

Pada bentuk akut, diagnosis ILT dapat didasarkan atas riwayat kasus, gejala klinik dan perubahan patologik yang tersifat untuk penyakit ini. Pada ILT bentuk ringan gejala klinis dan perubahan patologik biasanya mirip dengan penyakit pernapasan lainnya sehingga diagnosis perlu didasarkan atas isolasi dan identifikasi virus.

Isolasi virus dapat dilakukan pada telur ayam bertunas, kutur jaringan dan secara in vivo pada ayam yang peka melalui trakea dan sinus infraorbitalis.

Pemeriksaan serologik yang meliputi uji VN, enzyme – linked immunosorbent assay (ELISA),fluorescence antibody , agar gel presipitat (AGP).

Penyakit ini mirip dengan penyakit pernapasan lainnya seperti fowl pox bentuk basah dan infectious coryza.

  1. Penanggulangan

1. pengobatan

Pemberian antibiotik / antibakteri hanya bertujuan mengobati infeksi sekunder oleh karena bakteri. Disamping itu, perlu juga dilakukan rehabilitasi pada jaringan yang rusak dengan pemberian multivitamin. Sanitasi / desinfeksi perl ditingkatkan untuk mencegah meluasnya infeksi pada kandang atau flok lainya.

Jika diagnosis ILT diperoleh pada stadium awal dari kasus maka vaksinasi pada ayam yang belum terinfeksi mungkin dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi virus ILT.

2. pengendalian dan pencegahan

Pengamanan biologis yang ketat dan pelaksanaan aspek manajemen lainnya secara optimal diperlukan untuk menghilangkan faktor pendukung sumber infeksi virus ILT.

Tindakan pencegahan perlu dilakukan dengan jalan sanitasi / desinfeksi yang ketat .(Charles rangga tabbu : 202 – 211)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar